Jumat, 02 Maret 2012

Ketika Hidup Mengajarkannku ketenangan


Dalam kediaman kuterpaku dalam duduk bisu
Pasir menjadi bebatuan kecil yang dijajaki
Gelombang air ombak keras! Kejam menghantam karang
Begitulah hidupku dipaksa keras menghadapi kekangan yang tak berkurang

Berat beban aku emban
Peluh resah keringat bercucuran
Tangis, raung, sedih berkelindan penuh harapan
Tiada kunjung tiba kejelasan kecuali ketidak tahanan ilalang

Kaki terasa kaku, bak tonggak disemen campuran
Tak ingin beranjak, karena memang tak mampu beranjak
Bukan telah rapuh, tapi telah hilang lampu penerang jiwa.
Jauh dimata, jauh jarak, tiada komunikasi selalu mendera.

Dalam keterpakuan aku membaca
Sebuah guratan Indah, pesan sang mega.
Indah, mendayu, bercak-bercak kemerahan menghadirkan tanya
Seribu soal menghampiri, kabur.....gelap,..... terbenam bersama matahari

Tiada kunjung usai
Tiada kunjung selesai
Semuanya baru dimulai
Hidup mesti banyak esai

Sekali lagi ku katakan ku terpaku dalam posisi perpaduan
Diantara pepasiran dan air laut yang saling bertemuan
Aku langsung katakan bahwa aku butuh kejelasan
Aku tidak ingin keterombang ambingan antara air dan daratan

Darat mengajarkanku kegilaan, kemunafikan, dan kearifan. Sedang
Lautan mengajarkanku ketidak pastian dan semangat pergerakan.
Mana yang harus ku pilih jika keduanya minta diagungkan !
Mana yang harus aku agungkan jika semuanya membingungkan?

Ahad. 18/12/11
Publikasi Office

0 komentar :

Posting Komentar