1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Senin, 25 Juni 2012

Perbaikilah Ibadah Maka Jalan Kehidupan Akan Membaik


Disusun untuk memenuhi tugas pada materi Komunikasi Dakwah
yang diampu oleh As-Sayyid Ust. H Ahmad Suharto, S.Ag

(Oleh: Irwan Haryono S (31.2.2.8353)
Mahasiswa Institut Studi Islam Darussalam [ISID] Siman. Fakultas: Ushuluddin. Prodi: Aqidah Filsafat / 4



بســـم اللــه الرحمـــن االرحيـــــم
إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه 
وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً، أما بعد 
     
      Pada kesempatan yang sangat berbahagia ini, saya ingin meyampaikan tentang apa yang saya ketahui bertujuan saling berbagi bersama dan semoga menjadi berkah adanya.

       Adapun materi dakwah yang ingin saya sampaikan pada kesempatan kali ini adalah: “Perbaikilah Ibadah Maka Jalan Kehidupan Akan Membaik” suatu bukti nyata kehidupan yang saya dapatkan ketika ingin menuliskan hal ini, suatu ketika pernah saya mengalami kehidupan galau sepanjang hari dan bahkan kegalauan ini bertahan berhari-hari sampai terkumpul menjadi seminggu, beriringan dengan kegalauan ini ada sebuah sms pendek masuk ke inbox HP saya, bunyinya demikian: “ketika Anda merasa benar-benar jauh dari amalan hati, sehingga menghitamkan hati dan juga melalaikan diri Anda. Maka lakukanlah 4 hal; yang pertama, perbanyaklah dzikir, yang kedua shalatlah anda tepat pada waktunya, ketiga memintalah kepada Allah untuk di bukakan hati Anda dan yang terakhir kalau memang belum juga terkabul maka bangunlah ditengah malam ketika sebagian besar orang-orang tertidur dalam waktu sepertiga malam” satu sms yang sangat indah menurutku, sangat sesuai  dengan situasi diri yang memang sedang benar-benar membutuhkannya.

      Dalam kesempatan kali ini saya akan mencoba mengulas tentang sms diatas dalam pandangan Islam yang saya tahu,

      Pertama: Perbanyaklah Berdzikir.

      Selaku seorang hamba maka sudah sepantasnya dan seharusnya berdzikir menjadi sebuah amalan yang benar-benar harus kita hadiahkan kepada sang pemilik Arsy al’Aziim Allah SWT, dalam berdzikir kita menghadirkan suasana hening yang benar-benar mendukung kita untuk dapat bermuhasabah tentang kesalahan-kesalahan kita yang telah lalu. Sambil bermuhasabah kita terus mengucapkan “Kalimah Tayyibah" karena dengan berdzikir ini jugalah hati kita bisa menjadi tenang  dan tentram.

(الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ) (الرعد:28)

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka mejadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Surah: Ar-Ra’d[13]: 28)

      Kedua: Shalatlah Anda tepat pada waktunya

      Dalam pengklasifikasian waktu, sebenarnya umat muslim amat sangat dimudahkan dengan adanya shalat 5 waktu yang bermula pada waktunya masing-masing. Dalam hal kesehatan juga sering diungkapkan dalam beberapa workshop dan seminar-seminar bahwa; jika kita shalat pada waktunya dapat memperlancar sirkulasi metabolisme tubuh, sehingga menghadirkan rasa fresh pada  jasmani dan rohani kita, dan jika kita telisik ulang shalat ini sudah semestinya menjadi hal pokok yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dengan siapapun dan dengan apapun sebab ini sudah menjadi harga mati yang tidak bisa di nego lagi. Shalat itu adalah tiang agama, mengokohkan iman dan menjebatani rahmat dari Allah SWT sebab shalat juga “Tanha ‘anil fahsya i walmunkar” menjaga dari perbutan keji dan mungkiar. Dalam hal ini saya pernah membaca sebuah catatan dari blog ini : http://fiesh.blogspot.com/2010/08/hikmah-sholat-tepat-waktu.html yang didalamnya menceritakan tentang sebuah kisah nyata, serta lebih mengajarkan kita bagaimana seharusnya kita meletakkan dan memposisikan shalat itu seharusnya. Berikut kisahnya:


Jumat lalu, ketika saya menghadiri jumatan di masjid kampus UGM, ada sebuah cerita simple tapi nyata yang sedikit menarik untuk diceritakan kembali. ceritanya begini:
Pada suatu masa ada seorang sarjana yang sudah dua tahun mencari kerja. karena tidak dapat kerja akhirnya dia menemui seorang ustadz. Dia meminta bantuan ustadz tersebut agar cepat dapat kerja.  Sang ustadz lalu bertanya, bukan lulusan universitas mana, atau jurusan mana dia kuliah dahulu, tapi sang ustadz bertanya  "Bagaimanakah shalatmu?". Jujur saja sang sarjana berkata bahwa ia shalat hanya sekedarnya saja, belum bagus-bagus amat.  lalu sang ustadz meminta waktu sejenak.  Setelah itu sang ustadz keluar dari kamarnya dengan membawa sepucuk surat.  Beliau berkata kepada sarjana tersebut "Perbaikilah shalatmu, lalu jangan buka surat  ini sebelum kamu sampai di rumah ".

Dengan tergesa-gesa sarjana ini langsung menuju rumahnya dan membuka surat tersebut dan membaca isinya. Surat tersebut berisi:

“Hai sarjana, perbaikilah shalatmu. Shalatlah di awal waktu, dan jangan melakukannya kecuali engkau lakukan di masjid, lalu jangan engkau lakukan di masjid kecuali dengan berjamaah, dan jangan engkau lakukan kecuali engkau mendapat takbiratul ihram pertama, kemudian jangan melakukan rangkaian tersebut kecuali engkau awali dan akhiri dengan shalat sunnah. kemudian lakukan rangkaian ini selama tujuh hari kemudian temui saya.

Nb: Jika Anda sudah membaca surat ini tetapi tidak melakukannya maka akan saya sumpahi anda melarat seumur hidup!”

Karena takut akan sumpah sang ustadz, maka sarjana ini langsung melakukan saran yang ditulis di dalam surat tersebut. namun baru dua hari sarjana ini sudah kembali menemui sang ustadz.  Sang ustadz merasa terheran-heran bukankah saya suruh tujuh hari baru kembali? Batinnya. Kemudian sang ustadz bertanya "kenapa engkau sudah kembali?" Sang sarjana menjawab sambil menangis "Ternyata Allah baik sekali wahai ustadz, saya baru melakukannya dua hari, Allah telah memberi saya pekerjaan" 

Demikianlah kisah yang saya dapat dari khatib jumat lalu, ini merupakan pelajaran yang sangat baik bagi kaum muslimin untuk kembali menertibkan shalatnya.  dan juga ini merupakan kisah yang inspiratif bagi para pengangguran yang belum mendapatkan pekerjaan.  cobalah saran kisah di atas, dan rasakan manfaatnya

      Ketiga: Mintalah kepada Allah untuk di bukakan hati Anda.

    Siapa yang tahu hati orang? Siapa yang bisa membaca hati orang  jika si pemilik hati tidak mengungkapkan hatinya sendiri pada orang lain. Dalam sebuah lirik lagu yang sangat familiar berbunyi seperti ini; “pagi beriman siang lupa lagi, sore beriman malam amnesia” menggambarkan sebuah hati yang selalu susah ditebak, bahasa yang sering di gunakan adalah mengatakan bahwa “al-Imanu yazdad wa yangkus” iman selalu bertambah dan berkurang. Inginnya apa dan bagaimana nantinya, tiada yang tahu.

        Maka dalam misteri hati yang selalu terbolak balik tersebut amat sangat dibutuhkan kekonsistenan kita untuk selalu berdo’a dan meminta kepada Allah agar selalu di rahmatin dengan Hidayah-Nya, dan di tolong dengan i’nayah-Nya. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

      keempat: kalau memang belum juga terkabul maka bangunlah di tengah malam ketika sebagian besar orang-orang tertidur dalam waktu sepertiga malam.

      Do’a yang dipanjatkan pada waktu malam, Insya Allah akan dikabulkan oleh Allah. Sebab waktu tersebut merupakan waktu yang istimewa. Waktu sepertiga malam  merupakan waktu di mana kondisi hati manusia pada posisi tenang, bersih dan suci serta terhindar dari pikiran kotor yang berhubungan dengan urusan keduniaan. Oleh karena itu waktu tersebut merupakan waktu yang tepat untuk bermunajat kepada Allah. Mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut:

       Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Tuhan kami Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi akan turun pada tiap-tiap malam ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang akhir dengan berfirman: barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku niscaya Aku kabulkan padanya dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri, dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka ia akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari).

# الحمد لله رب العالمين #

Rabu, 20 Juni 2012

Misykat Menghilangkan kesabaranku.

“Ketika aku membaca Dualisme, rasanya sampai disini hilang kesabaranku untuk bersabar memiliki buku ini”


     Awalnya aku membaca buku misykat ini dengan meminjam dari perpustakaan Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), setiap ada kata-kata yang penting, aku selalu menuliskannya kembali ke dalam buku catatan yang telah ku sediakan. Setiap kali ada kalimat yang mengusik daya nalarku langsung ku tulis tanpa menunggu jeda untuk membaca kalimat sesudahnya, keseriusanku serasa terjun bak air terjun yang melompat bebas menyelusup pada titik poros air yang berpusara.

      Terkadang ingin rasanya jari ini mencoret atau sekedar menggarisinya dengan pensil. Tapi selalu saja ku urungkan. Dengan sangat terpaksa kembali aku bersabar sambil tetap  menulis kata-kata yang kuanggap penting. Semakin lama aku bersabar, rasanya andrenalin di otakkupun semakin kuat menyusun suatu ikatan yang terus bercabang, menyuarakan dan terus berkampanye pada ruang bawah sadarku. Sampai kapankah kau harus tetap seperti ini? Membaca sambil terganggu, (terpaksa berhenti di tengah-tengah kenyamanan membaca), padahal  arus baca militan ini sangat jarang kaudapatkan? (Suara tanya itupun semakin kuat, kuat dan kuat melengking di gendang telingaku.)

      “Untuk kali ini TIDAAAAAAAAAAAAk”, jarit logikaku bebas dari kungkungan. Teriakan animo baca yang meledak-meletup akhirnya berhasil menaklukkan sang kesabaran dari prinsipnya, terpaksa mengalah setelah melihat kesungguhan yang menggebu-gebu dari sang semangat. Pendek kata, sang-kesabaranpun memberi kesempatan kepada hasrat untuk membeli buku ini, itupun setelah sekian lama mampu bertahan dalam kesabaran. :)

      Sebuah buku segar berjudul Misykat yang di tulis oleh: As-Sayyid Dr. Hamid Fahmy Zarkayi M.A, M.Phil.  berisi tentang pengantar terhadap beberapa pemikiran yang sedang gencar-gencarnya merebak saat ini, sekaligus beberapa kritikannya. Dalam louncing pertama di Hall Gedung Robithah Gontor 1, beliau sempat bertutur: "Do'akan semoga buku Misykat yang kedua segera menyusul dimana nanti kita tidak akan berbicara tentang kritik-mengkritiki, akan tetapi lebih kepada solusi." 

sekilas menulis kembali beberapa testimoni yang tertulis di 'cover'  buku misykat ini: 

      "Spektakuler! Kolom Misykat Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi di Jurnal Islamia Republika selama 3 tahun (2009-2012) menjadi kolom yang paling banyak di baca orang. Berciri khas: lugas, cerdas dan bernas. Buku kumpulan Misykat ini membuktikan, Dr. Hamid saat ini merupakan salah satu dari sederet kolumnis terbaik di Indonesia. Selamat membaca!"(testimoni dari Dr. Adian Husaini, selaku Ketua Program Studi Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldung. Bogor)

      Selain itu, Dr. Syamsuddin Arif (Dosen International Islamic University Malaysia) juga berkomentar : "Paduan dari nalar yang tajam dengan ketulusan hati dan tutur yang jernih telah membuat buku ini bernas dan 'gurih'. Bon Lecture!"
                                                                                                 
 ISID Siman, 24/02/2012
                                                                                                                          10.20 WIB

Debat Antar Kampus Cabang


Debat Tiga Bahasa
Membuka Cakrawala Ilmu dan Bahasa
Oleh:Irwan Haryono S (Mahasiswa ISID GONTOR Siman)


Bismillahirrohmanirrohim.....
Kamis - jum’at 31-1/06, Institut Studi Islam Darussalam (ISID) siman terlihat ramai dengan suasana benner yang tertempel di setiap sudut kampus, salah satunya tepat di depan gapura terpampang tulisan “Debat Interaktif Tiga Bahasa Institut Studi Islam Darussalam Gontor, bertema: Membuka Cakrawa Dengan Ilmu dan Bahasa.”  Itulah nama acara sekaligus tema yang mengantarkan suasanan pada hari kamis dan jum’a terlihat begitu ramai dan meriah. Dalam pertandingan debat tersebut, ISID Siman, dimana notabene menjadi kampus pusat, turut mengundang; seluruh mahasiswa kampus ISID diseluruh cabang dari jawa timur hingga jawa tengah. Mencakup kampus ISID Robithoh (mlarak), kampus ISID Gontor Putra 3(Kediri),  Kampus ISID Gontor Putra 6 (Magelang), kampus ISID Gontor Putri 1 (Ngawi), kampus ISID Gontor Putri 2 (Ngawi), dan kampus ISID Gontor Putri 3(karangbanyu), semuanya hadir dengan membawa kontingen masing-masing, terdiri dari 3 regu; bahasa Inggri, Arab dan Indonesia dengan kuota setiap regu 3 orang. 
Pembagian hadiah yang diberikan
oleh ust. Badrun Shahir kepada para finalis debat

                Acara debat kali ini adalah sebuah refleksi aktif melihat animo mahasiswa/i ISID pada lomba debat Olimpiade Ekonomi Syariah akhir bulan April kemarin, sehingga untuk menyikapi hal ini diadakanlah acara debat interaktif dalam skala yang lebih luas lagi, sampai mengundang seluruh kampus ISID cabang dengan tidak dibatasi kategori fakultas dan semester. Acara debat yang di buka oleh Al-Ustadz  Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi M.A. M.Phil. kamis sore tersebut dibagi menjadi empat babak, yaitu; babak penyisihan 1, semi final, hingga berakhir di final. Dalam perjalanan singkat selama 2 hari; maka keluarlah hasil pemenang lomba debat. Tersebut denga Bahasa Indonesia: Juara 1 dari kampus Pusat Siman, juara 2 dari kampus putra gontor 6. Bahasa Inggris:  Juara 1 dari kampus Robithoh, juara 2 dari kampus gontor putri 1. Bahasa Arab:  Juara 1 dari kampus gontor putri 1 dan juara 2 dari kampus gontor putra 3.

Anggota ISID SIMAN el ANDCIS berpose bersama bapak2 Dosen tercinta
Peserta delegasi kampus Gontor 3 Kediri (Daarul Ma'rifat)
“ Acara debat kali ini adalah acara yang benar-benar sangat amazing, fantastik, bombastik and very spekta-spektakuler” tutur Rusdi rasyid (Mahasiswa Gontor 6) dalam menyampaikan kesan dan pesannya.

Selain itu,  Sulthon Assyam Karimoh Al-Masyhida, juga berkomentar: “Acara yang sangat luar biasa, seharusnya acara seperti ini diadakan dan dilaksanakan setiap tahunnya, bagi orang seperti saya, seperti kami yang dari  kediri Gontor 3 Darul Ma’rifat, mahasiswa sekaligus harus menjadi guru, setiap pagi hingga pagi lagi kami di tuntut untuk trus memberi  dan memberi. Padahal disisi lain kami mengakui bahwa untuk memberi kami perlu masukan yang akan terus memberikan nilai kepada pemberian-pemberian kami, dan masukan-masukan seperti ini sangat jarang kami rasakan, acara seperti ini bisa menjadi pelarian kami, yang paling penting bukan sekedar input ilmi akan tetapi input motifasi dan inspirasi kami.”

Delegasi dari kampus Mantingan Putri dalam menghadiri undangan debat
Selain itu Ziana Nur Hida, salah seorang peserta debat dari Kampus ISID Gontor Putri 1, juga berkomentar: TIDAK MUDAH MELANGKAHKAN KAKI KELUAR DARI PONDOK PUTRI MENUJU KE SINI, perjuangan dan kesulitan yang kami temukan tidak lah seberapa, akhirnya dengan kehendak Allahlah kami benar-benar bisa menginjakkan kaki disini. Suatu acara yang sangat spektakuler dengan melibatkan seluruh fakultas: Syari’ah, Ushuluddin dan Tarbiyah, menandakan bahwasannya kita satu, hal ini juga salah satu dari pemersatu dari pada tujuan mahasiswa/i ISID. Dengan melihat karakteristik dari mahasiswa dan mahasiswi ISID, saya optimis bahwa mahasiswa dan mahasiswi ISID, terlahir untuk melewati beberapa tingkatan yang kelak insya Allah pasti bakal sukses. marilah saling mendo’kan untuk terus sukses dan berprestasi lii’lai kalimatillah ALLAHU AKBAR”


Di penghujung acara setelah pembagian hadiah  al-Ustadz Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi M.A.M.Phil. (PUREK III), berdiri diatas podium ditengah-tengah para hadirin untuk memberikan sambutan sekaligus menutup acara tersebut, dengan kata-kata: “Ada masukan dari peserta debat agar menjadikan ini kegiatan tahunan, kalau perlu kegiatan ini kita adakan setiap semester. Ini merupakan satu latihan kepemimpinan juga termasuk latihan bagaimana Anda menjual ide, ide itu akan dapat di terima jika Anda memiliki argumentasi yang kuat. Dan yang namanya ide, sangat luar biasa luasnya, sekarang ini diatas(Hall Wisma lt.2) lagi perang ide, bicara undang-undang kita bicara undang-undang, bicara pasal-pasal kita bicara pasal-pasal. Kemudian dalam soal bisnis, kalau nanti ada yang mau berkecimpung di dunia bisnis meyakinkan klien supaya dia membeli produk Anda ataupun berinfestasi itu pakai argumen.  Argumentasi yang bagus, tidak emosional, bisa di terima, apalagi di tambah do’a, hah itu pasti berhasil.

 Ini zamannya adalah zaman berargumentasi. Adab itu adalah ilmu. Makanya, peradaban itu dari kata-kata ‘manduba’, manduba itu adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah ilmu, jadi sebenarnya kata peradaban itu berasal dari kata-kata adab. Kalau bicara adab, adab bukan hanya akhlak, jadi manusia tidak beradab itu manusia Jahiliyyah; manusia yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, orang yang berakhlak mulia adalah orang yang beradab, tidak mungkin orang tahu berprilaku baik dan buruk kecuali dia memiliki ilmu. Prilaku baik dan buruk itu berkaitan dengan apa yang diperintahkan oleh Al-Qur’an. Perintah Al-Qur’an itu bukan satu, puluhan, ratusan, dan diantara perintah yang satu dengan yang lainnya tidak boleh bertentanga. Kalau Anda sudah bisa melaksanakan semua perintah ini sesuai dengan fitrah Anda, Anda mencapai dengan apa yang dinamakan hikmat. Anda menjadi orang yang beradab. Jadi orang yang beradab itu orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan dengan ilmu pengetahuan itu bisa meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Segala sesuatu itu bukan benda, bukan gelas diatas meja, tetapi konsep pada tempatnya. Meletakkan konsep pada tempatnya itu namanya adil, orang yang adil itu kebalikan dari orang yang dzalim, orang yang dzalim adalah orang yang meletakkan sesuatu perbuatan yang tidak layak bagi seorang mu’min, muslim kepada dirinya. Maka orang yang berbuat maksiat itu adalah orang yang ‘zolimun linafsihi’ (zolim terhadap diri sendiri) karena meletakkan sesuatu pada hati yang suci ‘wanafsun wama sawwahaa’ (betapa indahnya jiwa manusia itu kami ciptakan kok tiba-tiba dimasuki oleh jiwa syaitoniyyah, hayawaniyyah, itu namanya zolim. zolim itu tidak adil, sama juga jika Anda meletakkan duit orang lain pada kantong Anda, namanya  mencuri. Mencuri itu bukan hanya zolim kepada orang lain tapi juga zolim terhadap diri Anda sendiri, itu KONSEPnya.) 

 Saat ini dunia benar-benar sangat membutuhkan orang-orang yang dapat menguatkan idenya dengan argumentasi-argumentasi yang kuat. sebab bagus pun ide Anda jika Anda tidak mampu mempertahakannya dan menjelaskannya dengan argumentasi yang kuat itu akan percuma. Tidak akan di terima, bahkan cenderung sering kecewa. Ada beberapa trik yang bisa Anda pakai: untuk dapat menguatkan argumen anda yang pertama Anda harus PD terlebih dahulu, banyak orang pinter, banyak orang cerdas yang nilainya diatas rata-rata tapi tidak menonjol, begitu banyak orang yang pintar tapi tidak berani berbicara. Maka, percaya diri itu perlu. Kedua, perbanyaklah membaca. Sebab,  lewat membaca tanpa Anda sadari anda menyerap  argumentasi-argumentasi  yang tertulis di dalamnya yang kelak menjadi perbendaharaan di memori Anda tanpa sedikitpun disadari. Kembali lagi saya tekankan, argumentasi itu sangat penting; bagaimanapun ceritanya dan  apapun yang ingin Anda lakukan, walaupun itu bernilai baik, jika Anda tidak mampu mempertahankan dengan argumentasi yang kuat maka sangat besar kemungkinan ide, pesan dan masukan Anda akan di tolak. Maka dari itu tidak bosan-bosannya saya mengingatkan. Bahwa  Anda semua sebagai mahasiswa; hidupkanlah tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis. Ini adalah 3 komponen dasar yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mahasiswa. Anda tidak mungkin bisa menulis tanpa banyak membaca, tidak dapat berdiskusi tanpa ada bahan bacaan. Dan setelah anda paham serta menguasai pokok bahasan jika Anda tidak menuliskannya berarti sama saja dengan menyembunyikan ilmu untuk dikonsumsi diri sendiri.” Berikut sekelumit sambutan dari Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi M.A. M.Phil yang berhasil kami tangkap, dengan barakhirnya sambutan tersebut berakhirlah acara Debat Interaktif Tiga Bahasa di kampus Institut Studi Islam Darussalam (ISID) tersebut.