1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Kamis, 21 November 2013

Resep Ajaib Menulis Novel

Kiranya boleh saya katakan bahwa dalam setiap karya tulis memang selalu ada perbedaan aliran, gaya penulisan,  bahasa serta daftar isinya dan lain sebagainya. Lain dari pada itu selalu ada satu hal yang menjadi kekhasan antara satu buku dengan buku yang lain. Maka jangan takut rugi untuk membaca buku ini, atau buku apapun itu, karena walaupun inti pembahasan adalah menulis, tapi selalu  ada perbedaan yang menjadikan buku itu berbeda, sehingga dapat dirasa apakah buku itu sesuai dengan persi kita atau tidak. Sama halnya seperti ‘tidur’, inti tujuannya adalah ‘istirahat’, tapi untuk mencapai kenyamanan dalam istirahat, orang-orang mencari beraneka ragam macam cara; ada yang dengan menghidupkan music instrument, ada yang menutup tubuhnya dengan selimut, ada yang mematikan lampu kamar sehingga kamar menjadi  gelap gulita, dan ada juga yang meminum obat tidur baru bisa tertidur pulas. Kira-kira begitu jugalah menulis, selalu ada cara berbeda dalam memilih buku untuk membangkitkan semangat dan mengasah kemampuan kita agar dapat memahami tata cara penulisan yang sesuai dengan persi kita. yaa… begitulah kira-kira menurut saya.

            Kalau diatas sebagai sebuah ‘mukoddimah’ maka disini saya ingin memperkenalkan buku baru yang juga baru muncul dan menyapa para pembaca Juni 2013 kemarin; terutama menyapa mereka yang teramat sangat lekat dengan bacaan karya novel bang Ma’mun Affany. Kali ini beliau menghadirkan sebuah buku panduan menulis, berjudul “Resep Ajaib Menulis Novel”.  ‘Bukan berawal dari sebuah teori hingga terbitnya buku ini akan tetapi berawal dari karya jadilah teori ini’ agaknya kalimat ini yang tepat mengamini pengakuan penulis sendiri yang berkeinginan menulis buku panduan menulis novel bagi para pembaca aktifnya yang juga ingin berkarya seperti sang penulis novel.

Sebuah penggalan kata di awal lembaran buku, tampil sebagai kata pembuka: “Saya menulis novel bukan karena keturunan, atau juga bakat. Saya menulis justru mulai dari keinginan kuat untuk bisa membuat cerpen hingga kemudian bertanya pada teman-teman yang sudah sering menulis agar selanjutnya bisa mengajarkan kepada saya tentang seluk beluknya, namun justru kemudian saya kecemplung dengan sendirinya dalam dunia menulis novel. Oleh sebab itu lagi-lagi secara teoritis saya banyak kelemahan” sebuah ungkapan kejujuran dari seorang penulis membuat pembaca terkagum.

Kalau penulis mendeklarasikan kelemahannya dalam teori, saya juga ingin mengatakan saya tak lebih dari seorang pembaca biasa yang juga lemah dalam analisis hanya sebagai apresiasi suka cita, yang membuat saya ingin berbagi kepada calon pembaca lain, atau bahkan calon penulis novel yang belum jadi, atau hampir ingin jadi, tinggal merampungkan beberapa sub, chapter atau tinggal proses editing tulisan. Saya kira buku ini akan sangat bermanfaat, jika dapat di share kepada banyak peminat dan pembaca novel yang produktif, terlebih kepada mereka yang haus akan karya.

Hampir setiap saya menerangkan tentang sebuah buku, saya selalu tidak bosan mengulang-ulang untuk mengatakan, “Bukan promosi yang menjadi landasan saya menulis catatan ini, hanya sebagai apresiasi atas sebuah karya tulis yang bagus dan layak di share kepada pembaca yang lain itulah yang mendasarinya. Itu saja, sederhana saya kira.”

Setelah saya tuntaskan membaca buku berukuran 11 x 18 cm mini  ini, saya temukan sebuah kekhususan pembahasan, dan ini yang menjadi poin perhatian pokok bagi saya. Banyak buku tentang kepenulisan menulis rangkaian penjelasan secara keseluruhan, baik itu tentang cara menulis esai, cerpen, novel, hasil wawancara, menulis ilmiah, dan lain sebagainya, mungkin itu di nilai bagus karena bernilai ekonomis dan praktis ‘all in one’ (semua ada dalam satu buku); mungkin ini yang menjadi nilai tambah buat buku-buku penulisan pada umumnya, sekaligus menjadi kelemahan dari buku mini ini; tapi  sayangnya bukan itu intinya. Pokok pembahasan yang lebih mendalam, lebih mengerucut, gamblang, dan juga lebih spesifik itulah yang sebenarnya bernutrisi tinggi untuk penulis yang ingin paham secara lebih ‘usuli’ (mendasar); ditambah lagi adanya contoh praktisi dalam setiap step dan tahapannya. Sehingga tidak melulu menjelaskan teori, akan tetapi pembaca serasa hanyut di bawa contoh yang selaras dengan teori, membuat kepala mengangguk sendiri. Tidak percaya! Silahkan coba di baca! J

Buku mungil ini hanya meramu tentang resep-resep menulis novel dari A-Z, tidak membahas karya tulis ilmiah atau cerpen, atau esai  dll. Cukup membahas novel, novel dan novel. Bocoran sedikit dari daftar isi buku ini: “Arti Menulis” bisa di baca di halaman. 1, “Kunci Sukses Penulis” di hal. 9, “Nutrisi Penulis” hal. 13, “Bagaimana Genre Novelku?” hal. 17, “Kendala Pertama” hal. 24, “Kaidah Dalam Menulis Novel” hal 21, “Menentukan Ide Cerita” hal. 35, “Menyusun Krangka Cerita” hal. 46, “Mengadakan Konflik” hal. 59, “Melatih Imajinasi” hal. 78, “Berlatih Adegan Tersulit” hal. 89, “Mulailah Menulis Novel sekarang” hal. 95, “Pembagian dan Fungsi Bab” hal. 103,  “Judul Novel Bukan Sebatas Judul” hal. 115, “Mencari Editor Palsu” hal 127, “Beberapa Penerbit Penerima Novel” hal. 146, begitulah sekilas beberapa dari daftar isi yang ada dalam buku ini.  

            Selanjutnya bagi pembaca selamat membaca, selamat menulis, dan selamat mencoba, karena dengan mencoba karya itu ada, jika tidak ingin mencoba jangan pernah berharap timbul sebuah karya.

Sama-sama  kita selalu berdo’a “Semoga karya terbaik kita segera muncul di permukaan, setelah sebelumnya tertidur panjang dalam buaian angan  dan impian.” Akhir kata dari saya,  “Selamat BERKARYA.” 


Resensi

Judul                    : Resep Ajaib Menulis Novel
Penulis                 : Ma’mun Affany
Cet, thn               : Pertama, 2013, 11 x 18 cm
Halaman              : 163 Halaman
Penerbit              : Affany

Senin, 04 November 2013

Kau & Aku Berbatas Arah


Mentari di ujung laut sana orange keemasan cinta
Awan putih diatasnya melindungi dengan kekuatan tersisa
Putih menghilang, biru lenyap; berganti awan hitam kelam
Dalam sandaran batas dunia ku termenung berusaha menyelam.

Ku berdiri miring tak kokoh tegak diatas muara tebing tertinggi
Dingin hembusan angin menyibak jilbabku; membuka lembaran kisah ini
Bukan tak perduli membuatku berbalik arah, tapi dingin ini membuatku tak bisa bertahan lama
Dalam kehampaan hati tanpa sandaran aku hampir rebah menatap kehidupan fana.

Termenung membuai indah kenangan setengah lusin tahun yang lalu
Bayangan indah timbul-tenggelam, kisah lama terungkap terpendam
Di atas perahu yang berhenti di tengah samudra, Aku merindu
Semua tawa-canda-manis; tegur-sapa-ayu; marah-kesal-pedas, tenggelam dimakan karam.

Bayangan indah kehidupan hilang berganti indah senyum khas milikmu
Ku lemparkan fokus pandang; ternyata hanya awan putih bergumpal menyusun diri
Lamunan setiap malam terus terulang; kekokohanku nyaris hilang di telan kasih padamu
Mengharap kau ada disini, sama saja berharap matahari terbit di malam hari.

Mengerti akan rindu; kukira mengerti akan rasa dan perasaan
Hanya sekedar kenangan tidak cukup untuk mewakilkan keduanya bersamaan.

Diamku mengawetkan rasa; membuka hati untuk terbang bebas
Hinggap bertengger bagi pemburu hati yang berhasil menjeratnya.

Langkahku lurus! Meski terjal bebatuan; inilah jalanku
Pandanganku tak menoleh, meski kenangan terus bergentayangan bersiteru
Kunci hati ku buang di tengah samudera ini
Hingga kelak seorang datang membawa kunci seri dari Ilahi …ialah BIDADARI.

Lembaran putih ku raih; inilah kisah baruku
Menutup hati, mata dan telinga; inilah cara terbaikku
Kutitipkan hati kepada sang Ilahi Rabby khusus tentang kisah ini
Berharap hati terhias kembali dengan cinta PRIA titisan Ilahi.

ISID-Ponorogo-
Selasa, 29 Oktober 2013
09.58 WIB

Jumat, 14 Juni 2013

Konsep Dasar Ilmu Pendidikan


Setiap orang pada dasarnya pernah mengalami pendidikan, tetapi tidak setiap orang mengerti makna kata pendidikan, pendidik, dan mendidik. Ada dua istilah yang dapat mengarahkan pada pemahaman, yakni kata paedagogie dan paedagogiek. Paedagogie bermakna pendidikan, sedangkan Paedagogiek berarti ilmu pendidikan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika paedagogik (Pedagogics) atau ilmu mendidik adalah suatu tatanan sistematis tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan bagi anak atau untuk anak sampai ia mencapai kedewasaan (Sukardjo, 2009:7)

Merujuk pada konsep secara bahasa (lughawiyah) tentang pendidikan, pendidik dan mendidik tersebut, dapat disederhanakan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi bawaan; baik jamani maupaun rohani untuk memperoleh hasil dan prestasi, sehingga ia dapat mencapai kedewasaan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan masyarakat, di dalamnya terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan dan mengembangkan hidupnya.

          Pendidikan adalah suatu jalinan atau hubungan antar sesama manusia dengan tujuan tertentu, sebagaimana yang dipaparkan pada pembahasan tetang pengertian pendidikan sebelumnya. Senada dengan itu, pendidikan lebih menekankan pada faktor input, proses dan output sebagai bagian yang sangat penting dalam satuan pendidikan. Untuk menjalankan sistem pendidikan secara utuh, Coombs menuturkan bahwa ada 12 komponen utama dalam pendidikan. Beberapa komponen tersebut: tujuan dan prioritas, pelajar atau peserta, manajemen, struktur dan jadwal waktu, isi bahan belajar, guru dan pelaksana, alat bantu belajar, fasilitas, teknologi, pengawasan mutu, penelitian dan biaya pendidikan.

Satu hal miris ketika teknologi bak air terjun; deras mengalir mengikuti alurnya, akan tetapi tidak berimbang dengan pendidikan yang cendrung stagnan. Tertinggal jauh dibelakang garis ‘start’. Tampak masih di sibukkan dengan pola pendidikan tradisional.

Permasalahan tersebut telah lama menjadi bahan pengamatan para pengarang buku ini yang akhirnya mendorong mereka semakin cepat menuntaskan antologi pembahasan teoritis dan empiris terhadap pendidikan yang terhimpun dalam buku yang berjudul Konsep Dasar Ilmu Pendidikan ini yang saat ini telah dapat dinikmati segenap pembaca.

Titik fokus kajian buku ini sejalan dengan upaya dalam mengatasi permasalahan pendidikan yang cenderung menurun  kualitasnya. Melalui buku ini akan memberikan bekal pengetahuan tentang pentingnya pendidikan dalam kehidupan manusia di era globalilsasi.

Fenomena pendidikan yang cenderung menurun kualitasnya ini sering dijumpai; terutama pada jenjang pendidikan menengah, dimana ada sebagian guru kurang mau memahami latar belakang siswa dan kurang usaha untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya keterkaitan ketiga lingkungan pendidikan (Keluarga, sekolah, dan Masyarakat) dalam perkembangan kecerdasan manusia secara komprehensif.

Terlepas dari pertanyaan siapakah Anda, saya kira kita semua ikut serta berperan aktif dalam memajukan dunia pendidikan. Dimana sebagai langkah awal seyogyanya mengatahui konsep dasar ilmu pendidikan, yang bisa ditemukan dalam buku ini.

Buku Konsep Dasar Ilmu Pendidikan ini adalah sebuah buku yang menawarkan tatanan menarik pendidikan yang kemudian mengorganisasikan segala hal agar sesuai dan cocok terhadap perkembangan dunia ini dan juga perbendaharaan pendidikan yang memang seyogyanya harus di lestarikan dan dikembangkan dengan penuh perhatian dan penuh sikap mental positif.

Buku ini benar-benar manyajikan keilmuan dalam kajian yang lebih mendalam tentang sebuah dasar. Buku ini menganggap bahwa dasar adalah hal urgen yang harus di tumbuh kembangkan, sehingga tercipta sosok baru perubah dan pembela pendidikan tanpa bingung bagaimana disiplin awal dari konsep yang seharusnya bertindak didalamnya.

          Dalam pembagiannya, buku ini di bagi menjadi 9 Bagian. Bagian 1: Hakikat Manusia Dalam Pendidikan. Bagian 2: Konsep Dasar Pendidikan. Bagian 3: Fungsi Dan Peranan Lembaga Pendidikan. Bagian 4: Pendidikan Sebagai Proses Pematangan manusia. Bagian 5: Aliran-Aliran Pendidikan. Bagian 6: Sistem pendidikan Nasional. Bagian 7: Pendidikan Sebagai Proses Pembudayaan. Bagian 8: Pendidikan Karakter. Bagian 9: Pembiayaan Pendidikan dan diujung dari ulasan diberikan Lampiran-lampiran tentang UUD RI tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Indonesia.

          Buku Konsep Dasar Pendidikan yang diterbitkan bulan Januari 2013 ini, hadir dalam wajah baru, walaupun  ia sebagai dasar bagi pemula namun pembagian sub-sub judul dan juga pembahasannya terasa lebih menjurus dan lebih merujuk pada pokok permasalahan kajian. Ditambah  lagi dengan  konsep-konsep serta jargon-jargon  yang familiar di gunakan bagi tokoh pendidikan  yang di tuliskan dalam kajian tersebut; baik secara verbal maupun tekstual.

Dalam penjelasan sub judul yang luar biasa komprehensifnya. Disini pembaca benar-benar menikmati tatanan rangkaian bahasa penulisannya; sehingga setiap kali membaca tidak terasa sudah berada di halaman terbawah pada setiap lembar barunya. Maka agar lebih baik lagi; jika penjelasan yang sungguh sangat memikat ini sedikit di tambah dengan bukti-bukti emprisis  dan data-data penelitian terbaru bertujuan agar buku ini tersaji lebih memukau lagi.

Demikian resensi singkat yang bisa saya tulis untuk menjelaskan beberapa dari sekian banyak kelebihan buku ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.


Judul           : Konsep Dasar Ilmu Pendidikan

Pengarang   : Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd; Prof. Dr. Jafar Ahiri, M.Pd; Pendais Haq, S.Ag., M.Pd.

Penerbit      : Alfabeta Bandung

Cetakan      : Januari 2013

Tebal          : 208 Halaman, 16X24cm

Peresensi     : Irwan Haryono S / AFI 6



Kamis, 13 Juni 2013

Dampak Modernisasi terhadap Dunia Pendidikan di Indonesia

Oleh: Irwan Haryono S/ AFI 6
Mahasiswa Kampus SIMAN Institut Studi Islam Darussalam (ISID)



Menurut bahasa pendidikan itu diartikan menjadi banyak macam: diantarnya sebagai perbaikan diri, penciptaan sosok yang beradab, pembiasaan untuk berakhlak mulia bagi setiap orang, ada juga sebagai penyuci dan penjernihan, dan masih banyak lagi pengertian pendidikan itu sendiri jika boleh kita runut lebih panjang lagi.

            Jika di awal pendidikan sebagai fokus awal maka disini mencoba membongkar apa makna dari modernisasi itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Modernisasi” adalah Proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntunan masa kini; pemodrenan. Sedangkan menurut wikipedia; “Modernisasi” dalam ilmu sosial merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju, berkembang, dan makmur.

 Jadi, modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas yang merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik. Diungkapkan pula modernisasi merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang saat ini serta dapat dirasakan dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, dari kotametropolitan sampai ke desa-desa terpencil.

            Dalam masa perkembangan dunia yang begitu pesat ini, setiap ada teori, maka konsep dan isi selalu datang untuk mengitarinya. Hingga pada akhirnya. Dampaklah yang timbul, sebagai hasil dari pada aktualisasi nyatanya. Tinggal lagi apakah berdampak positif atau negatif.

            Bercerita tentang dampak: dapat di bagi menjadi dua macam. Yaitu dampak positif dan dampak negatif. Pada dampak positif yang dilahirkan disini pendidikan menjadi lebih komprehensif, lebih mudah di akses, sarana dan prasarana lebih memadai, teknologi sungguh sangat membantu dalam perkembangan inteligensi, pembaharuan dan kemajuan pada ranah yang lebih menjurus lagi. Seperti halnya: kesulitan mencari wawasan tambahan diluar bangku sekolah. Kalau dulu harus pergi ke toko buku; baru bisa mengakses buku-buku penambah gizi serta vitamin buat akal-pikiran, dan kini internet hadir dengan wajah baru yang lebih ramah lagi. Sedang untuk mempermudah membaca dan membawanya kemana saja; teknologi berperan aktif dibelakangnya. Dengan demikian buku-buku, pdf, makalah, artikel, dapat dipergunakan semaunya, kapan saja dan dimana saja, kali ini peran teknologi sungguh teramat sangat membantu.  Hanya tinggal membawa satu tablet/i phone/i pad, maka semuanya dapat teratasi, semua ini adalah wujud positif dari modernisasi dan masih banyak contoh-contoh komunikatif lainnya.

            Jika kita coba fokuskan pada dampak negatifnya, juga akan kita dapatkan bukti otentik yang luar biasa mendalam tentang itu semua. Biasanya disebutkan bahwa dampak dari modernisasi ini berujuk pada 3 sisi dalam kehidupan manusia yang berorientasi pada Style of life (‘jasad’) dalam hal : Fasion, motor. Thinking (‘al’aql’) dalam hal: pola pikir, action, sudut pandang, cara bergaul. dan Faith (‘Ar-ruh’) dalam hal: keimanan, dan kepercayaan yang luar biasa tentang suatu kehebatan.

            Dalam Style: Berapa banyak anak didik termakan/menjadi korban pada modernisasi style tanpa tahu akan eksistensi dari dirinya sebenarnya. Bukankah pelajar berkewajiban belajar bukan berfoya-foya, dan bukan pula fokus pada style: baju yang selalu trendy, motor, mobil, yang begitu menarik dan elegan, gadget, Hp dan elektronik lainnya yang membutuhkan biaya yang tidak murah untuk mengikuti perkembangannya.

Dalam Thinking: Pola pikir dalam kajian filsafat menjadi salah satu ranah utama dan kesehatan perbuatannya. Sebab apa yang di pikirkan itu selalu diaktualisasikan dalam gerak-gerik. Maka jangan heran jika terjadi kekerasan di jalan, tindak-tanduk asusila pada anak dibawah umur, pembunuhan, pencurian, rampok dan lain sebagainya. Semua ini bisa terjadi banyak disebabkan oleh pola pikir yang tidak sesuai dengan koridor kebenaran. Dengan segala bentuk modusnya; manusia terus mengaktualisasikan ide dan gagasannya. Hal yang patut untuk pertama kali di waspadai adalah pola pikir kita. Sebab, hal ini juga merupakan dampak modernisasi yang telah mencuci otak manusia sehingga jauh dari nilai-nilai dan norma-norma yang luhur.

Dalam Faith: Keimanan. Hal ini merupakan hal yang lebih fatal dampaknya jika salah di pahami dan di mengerti seiring perjalanan waktu dan zaman modern yang selalu terus berlari mengejar mimpi; apa itu mimpinya? Kita tidak tahu; berharap bukan bermimpi untuk menghancurkan agama, kepercayaan dan keyakinan di dalam diri manusia beragama, Islam pada khususnya. Sebab “ruh / jiwa keimanan”, sifat dan sikap beragama yang metafisislah yang membuat dunia ini tampak lebih berwarna dari warnanya yang biasa.

            Dari sekian panjang pemaparan dampak positif dan negatif modernitas pendidikan di Indonesia. Perlu adanya rekonstruksi baru dari sikap mental menghadapinya agar pada saatnya nanti dapat meluruskan kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sebagai dampak modernisasi, yang pada intinya bermaksud memperkaya khazanah dan informasi serta memberikan fasilitas yang teramat sangat luar biasa mudahnya.

            Sedang tujuan dari pendidikan tidak terlepas dari 4 hal utama, yaitu sebagai perbaikan diri, penciptaan sosok yang beradab, pembiasaan berakhlak/ bersifat dan sikap karimah, pencerahan dan peningkatan diri menjadi lebih bersih (suci) dan semakin mulia.

            Inilah panduan dasar yang semestinya di pertimbangkan sebelum benar-benar terjun di dunia pendidikan pada era Modernitas yang mewabah meluas seperti ini.

            Untuk itu, solusi yang paling tepat dalam menghadapi dari pada dampak modernisasi terhadap dunia pendidikan di Indonesia ini adalah: menyadari bahwa pendidikan itu akan selalu berubah-ubah mengikuti zaman, untuk itu perlunya persiapan yang lebih intens terhadap Sumber Daya Manusia (SDM)nya dan selalu akan tetap mengatakan bahwa pendidikan adalah hal tertinggi yang harus di pertahankan; sedang mengikuti modernisasi adalah wujud kondisional yang juga harus eksis, setelah kemampuan pemahaman kita benar-benar mendalam tentang itu. Sebab jika modernisasi tidak dibangun diatas landasan pendidikan. Ditakutkan manusia akan goyah dengan perkembangan zaman yang melaju begitu cepat ini, serta ditakutkan juga manusia terbawa arus; tidak dapat menghentikan tingginya amukan badai yang menerpa.

Hingga pada akhirnya perlu juga kita pahami bahwa manusia itu, adalah makhluk konsumtif; tidak akan pernah puas. Selalu ada saja keinginan baru dari waktu ke waktu. Jika satu keinginan sudah di penuhi dan terpenuhi. Akan meminta dan mencari keinginan-keinginan yang baru lagi. Sama seperti “Theory of Hierarchy of Need” (Teori tingkatan kebutuhan) yang selalu disuarakan Abraham Maslow. Jadi hanya perlu: Jaga hasrat dan keinginan agar lebih teratur lagi.

            Dan lagi, untuk mencari solusi dasar dari permasalahan yang mendalam ini dibutuhkan klasifikasi yang begitu sangat matang antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Dimana harus lebih mengutamakan prioritas dari yang biasa dan paling urgen dari yang tidak penting, sehingga tercipta suasana baru yang lebih efektif dan efisien.

            Demikian pandangan saya tentang permasalahan ini semoga bermanfaat dan lebih berguna di masa yang akan datang.


Ilmu.....


Ilmu

Kaulah satu hal abstrak yang ku cari.....

Aku merindukan belaian kerajinanmu....
Aku merindukan sebuah predikat kepintaranmu....
Aku menunggumu, bahkan tak sabar rasanya.....

Kau bagai permata....
Berkilau di tumpukan lumpur yang terperosok.......
Kau bagai pelita.......
Di tengah kegelapan Sains yang mencekam.......

Tidak mudah untuk mendapatkanmu....
Memilikimu, Membelaimu, bahkan menjadikanmu pendampingku.....

ILMU, satu pertanyaan yang aku ajukan!!!
Mengapa engkau enggan untuk singgah barang sebentar di setiap ingatanku???...
Mengikat dalam setiap pengulanganku......
Menyirami dalam setiap kegersangan otak dan hatiku.....

Aku mencarimu....Aku mengkaismu.....
Aku merindukanmu dalam setiap hari-hariku....
Hidupku kosong tanpa isi.....
Bagai BATOK, tanpa air dan degan....

Ilmu....
Tegakah kau mengacuhkanku!!!!!!?????.....
Seorang pelajar yang menunggu kesediaanmu....
untuk sudi kiranya hadir dalam aliran darah ini.....


Berilah aku kunci.....
Agar aku bisa membuka dalam setiap ruang rahasiamu.....
Agar aku bisa bermain di hamparanmu yang luas...
Agar aku bisa menjerit, melafalkan bait-bait dirimu.....

Ilmu.....
Berikan aku pengayuhmu.....
Akan aku rakit perahu kecilku.....
Kan ku kayuh dengan pengayuhmu....
Tuk mengarungi samudra ilmumu......

Ilmu........
Berikan aku kancing-kancing pakaianmu....
Agar aku bisa menjahitnya.....
Agar aku bisa menyempurnakan pakaianku...
Yang selama ini aku pakai tanpa kancing.....

Ilmu.......
Berikan aku sedikit keikhlasanmu......
Agar aku mudah dalam menghafalmu dan menjagamu....

Ilmu.....
Sampaikanlah cita-citaku pada titik akhir
Sebuah cita-cita yang tak luput dari pertolongan Allah...
Yang kemudian diberikannya melalui perantaraanmu.....


Ilmu....
Hiasilah otakku dengan Sainsmu...
Indahkanlah permadaniku dengan kebijakanmu.....
Bersihkanlah hatiku dengan ruhmu.....
Sucikanlah akal pikiranku dengan siramanmu...
Hiasilah tubuh ini dengan berlian-permata....
Didiklah kelakuanku, akhlak serta sifatku dengan ketinggian derajatmu......

Kenangan Silam



Sore......

Diruang bawah sadarku aku merasa bersalah......
Diruang realita kehidupan, ternyata aku benar-benar salah....
Diantara kedua ruang aku hanya bisa diam.....

Sore........
Mendung menyelimuti keindahan alam angkasa langit......
Maghrib mulai tiba, Suasanapun terasa lebih pekat....
Diselingi azan, kurasakan hantaman keras.....
Memecah luluh lantakkan hatiku yang kian sesat....

Sore berubah maghrib.....
Azan dikumandangkan, lalu selesai tinggal bayang-bayang.....
Alunan penuh irama terasa sungguh sangat menyelusup....
Aku rindu dengan masa dulu yang kian menghilang......




Terobosan Mahasiswa


Hai kawan............ Mengapa kau tertidur?





Bukankah kau mahasiswa!
Maha dari segala maha di dunia
Maha inovatif, maha penggerak dan pendobrak


Lantas mengapa kau meremajakan sukma dalam buaian kapuk?
terpejam disaat roda kehidupan siap menggilas.


Hei kawan.......
Dimana tatapan elang tajammu?
Diaman taring dan cakar pertahananmu?
Aungan serta pekikan suaramu yang menggetarkan dunia!


Apakah kau bungkam?
Hanya karena zaman yang katanya Era demokrasi,
Terpaku tak berkutik dalam kungkungan kerangkeng
Diam disumpal kebijaksanaan yang menyimpang

Kita mahasiswa, bukan keledai yang dikebiri
Kita mahasiswa, bukan kerbau yang di cocok hidungnya 
"kebebasan yang terarah itulah jiwa kita"
pernahkah kau berfikir demikian!


kawan, rakyat sekarang bertanya pada kita........
kapan mahasiswa menjadi sosok dewa dalam bangsa?..........


kapan?................Kapan?....................Kapan?







Sinar Yang Telah Lama Hilang



Kilawanmu selalu kunantikan

Sinarmu selalu ku harapkan 
Pancaranmu selalu menghadirkan kedamaian
Kerlap-kerliplah yang membuatmu istimewa

Star……
Aku ridukanmu selalu dalam malam-malam ku di kota
Dan sekarang….
Barulah kau benar-benar teman yang setia
Dalam malam yang gelap gulita





Star….
Kau berikan cahaya putihmu padaku
Kau berikan hiasan indah pada kegelapan langit tanpa awan
Kau lengkapi semua kekurangan
Menjadi satu tatanan alam yang cemerlang

Star……
Satu pertanyaanku……
Mengapa engkau enggan tampakkan wajahmu dikota?




Kau terlihat sombong pada kami yang berada di kota
Dan kau begitu ramah pada masyarakat pedesaan
Mengapa kau berbuat demikian?


Apa karena kota telah lama menyakitimu?

Ataukah kota telah dibalut keangkuhan diri?
Atau kota telah merusak tatanan indah gugusanmu?


Beri kami penjelasan bintang!!!!
Aku…….. dan terkhusus jiwaku ini…….
Mengiginkan kau selalu ada ….

Dalam setiap malam yang kelam…..

Rabu, 12 Juni 2013

PAHLAWAN (PEMUDAKU)



Pahlawanku 

Pahlawanku............       pahlawanmu.............        pahlawan kita semua.............

Telah silam waktu berlalu
Telah lama penjajahan kita tinggalkan
Telah kita hapuskan ROMUSA kerja paksa
Tuk menyongsong satu masa kemerdekaan dunia

Jauh............   khayalku menitik kilas balik sejarah
Seakan bola mata ini menyaksikan pengorbananmu

Gemuruh tabuh kau drumkan MENGGELEGAR
Api semangatpun kau sulutkan MEMBARA

Dengan sepucuk bambu kau teriakkan “Indonesia Merdeka”
Selangkah pasti kau lumuri bambu runcing dengan darah musuh
Tapi tidak.....................
Mengapa pahlawanku ada yang gugur
Wafat sebelum menyaksikan sang merah putih berkibar
Mengapa begitu cepat..... mengapa??
Sedih membahana cair di sanubariku......

Batapa mulia suri tauladan yang kau berikan
Dan kini ....... tibalah saat kami,  generasi penerusmu
Untuk meneruskan tahta kedaulatan dan menjunjung tinggi panji-panjimu

Kami......  pemuda - pemudi Indonesia
Telah mencicipi manisnya hasil perjuanganmu
Sudah menikmati kebebasan sebuah kemerdekaan
Tanpa sedikitpun merasakan kepahitan penindasan serta dahaga perbudakan

Takkanku sia-siakan pengorbananmu wahai pahlawan
Namamu terukir dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Indonesia
Patok-patok nisan makammu menembus semangat juang kami
Untuk dapat bersemayam akhir disamping makammu “makam pahlawan”

%%%%%%%%%%%%%%%

Indonesia

Indonesia itu bagaikan masa puber sang kakek tua
Tetapi masih saja di timang oleh musuh besarnya dan Negara adi daya
Seakan Hari-harinya diasuh oleh harapan kemilau
Menit-menitnya diisi oleh mimpi indah
Seakan asa perubahan, asa perkembangan telah berada di depan mata
Tetapi
Tahta pemerintahan masih menjadi masalah utama
Perebutan, perselisihan, kecemburuan bagai bumbu yg telah meresap menjadi kehidupan
Seakan kemerdekaan adalah lorong-lorong masa lalu,
Semboyan masa lalu dan hanya pikiran orang-orang kuno yang telah berlalu
Dan pahlawan hanya sebuah gelar,
Hanyalah materi ujian disekolahan dan hanyalah kenangan yang lelap termakan waktu
Sssttttt.................
Hari-hari peringatan pun berubah menjadi hari-hari liburan
Yang penuh dengan permainan dan sarat dengan rasa dan jiwa perjuangan
........................................................

%%%%%%%%%%%%%%%

 Sejarah

Diam...............
Hei anak muda jangan bicarakan Indonesia
Kalau kamu belum tahu sejarahnya
Kata siapa Indonesia itu kakek tua di masa puber
Aku kakek tuanya memang, tapi kalau Indonesia yang dibilang kakek tua aku gak terima.....
Menangis, merintih, tersedu-sedu indonesiaku.....
Aku yang merasakan memperjuangkan Indonesia....
Tumpah darah sudah biasa.... bahkan nyawapun di pertaruhkan....
Setiap ada bayi-bayi yang lahir di tanah Indonesia
Tertanam pula jiwa-jiwa pejuang
Tanpa tersadar....
Lawan gentar.....
(Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa)
Indonesiaku yang dulu dan sekarang tetap di puja-puja bangsanya
Kalau ada yang menyerang kita, sebagai generasi muda yang membela
Karena budaya-budaya dan kultur Indonesia harus kita jaga
Ingatlah pada Jas Merah, jangan lupakan sejarah
Karena kalau bukan kita yang menjaga sejarah siapa lagi??
Karena kita sebagai generasi harapan bangsa.....
Dan kalau kita tidak menjaga sejarah, maka Indonesia kita akan hancur....................

(Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa)
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata..............
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata...........................................

(Diapresiasikan dalam malam Podjok Bebas Buah Karya Anak Muda Untuk Pahlawan Bangsa di Kintamani Park, Ponorogo)