1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Rabu, 24 April 2013

Hai kawan............ Mengapa kau tertidur?


Bukankah kau mahasiswa!
Maha dari segala maha di Dunia
Maha inovatif, maha penggerak dan pendobrak


Lantas mengapa kau meremajakan sukma dalam buaian kapuk?
terpejam disaat roda kehidupan siap menggilas.

Hei kawan.......
Dimana tatapan elang tajammu?
Dimana taring dan cakar pertahananmu?
Aungan serta pekikan suaramu yang menggetarkan dunia!

Apakah kau bungkam?
Hanya karena zaman yang katanya Era demokrasi,
Terpaku tak berkutik dalam kungkungan kerangkeng
Diam disumpal kebijaksanaan yang menyimpang

kita mahasiswa, bukan keledai yang dikebiri
kita mahasiswa, bukan kerbau yang di cocok hidungnya
"kebebasan yang terarah itulah jiwa kita"
pernahkah kau berfikir demikian!

kawan, rakyat sekarang bertanya pada kita........
kapan mahasiswa menjadi sosok dewa dalam bangsa?..........

kapan?................Kapan?....................Kapan?

Senin, 22 April 2013

Do’a Anak Jalanan


Judul            : Do'a Anak Jalanan
Penulis         : Ma'mun Affany (Penulis kehormatan di Balik 
                      Kerudung)
Tebal           : 13X19Cm, 160 Hal
Harga          : Rp. 30.000 (Beredar di Gramedia Awal Juni)
Info Pre Order     : 085747777728 (HANYA SMS)
    

 Berlatar wilayah Jakarta di tahun 2008, novel ini menghadirkan tiga tokoh utama. Dina, Adib, dan Cindy. Dina sosok paling besar berusia sekitar lima belas tahun, sedangkan Adib kelas enam SD, dan Cindy kelas satu SD. Ketiganya layaknya kakak beradik namun disatukan bukan berdasarkan satu ibu atau satu ayah, tapi sebatas karena disatukan oleh preman yang setiap hari memeras uang dari keringat mereka dengan mengamen di jalan raya dengan berjuang hadapi kerasnya kehidupan jalanan.

      Mereka sadar bahwa hidup di jalan raya tidaklah pantas, mengamenpun seringkali sebatas alasan untuk dengan halus meminta uang walaupun suara mereka layak sebagai penyanyi panggung. Mereka bertiga bersikeras untuk merasakan pendidikan di tengah-tengah kungkungan preman, jika ketahuan mereka harus bersiap untuk dipukul, ditendang, disiksa, bahkan mungkin dibunuh. Tapi mereka tetap ingin sekolah karena mereka ingin keluar dari kehidupan jalanan.

    Yang menarik dari novel ini adalah kepiawaian dalam menarik emosi pembaca untuk merasakan perjuangan setiap tokohnya. Dina sebagai anak paling tua penuh tanggung jawab menjaga adiknya, semua dikorbankan untuk adik-adiknya. Semua patut dicontoh, bahkan semangat para tokoh-tokohnya layak menjadi motivasi hingga tanpa sadar kita akan menyadari betapa beruntung kehidupan yang kita miliki.

      Novel ini tidak begitu tebal, namun gaya cerita yang fokus menjadikan pembaca bersiap-siap habiskan waktu dalam sekali duduk. Bahkan tanpa terasa diujung episode pembaca akan merasa iba hingga tiba-tiba air mata hendak menetes merasakan betapa keras perjuangan tiga anak yang harus hidup berkalang nyawa. Novel yang rencananya akan terbit pada April ini layak untuk menjadi bacaan di sela-sela waktu anda, terutama bagi anda yang berniat mencari cermin sebagai penyemangat dalam hidup, dan sebagai penyadaran bahwa betapa beruntung orang-orang yang sudah bisa mengenyam pendidikan di sekolahnya. 



Dapatkan ulasan lengkapnya di http://affany.net/novel-terbaru/



Senin, 15 April 2013

Tetapkan Pilihanmu!


Dalam sebuah kesempatan kita selalu di hadapkan pada banyak pilihan. Apakah itu memilih yang baik dari yang buruk tapi nikmat; memilih yang perhatian dari pada yang acuh tapi kaya, atau memilih yang cantik dari pada yang jelek tapi kuat agamanya. Beribu pilihan selalu saja berseliweran dan pasti akan tetap terus berputar selama nyawa masih ada di jasad fana dunia.

Siapakah kita? Itu lah calon kita. Orang-orang sering berkata demikian, dari mulai orang tua, para dosen, mahasiswa pasca, Doktoral, mayoritas sepakat dengan ultimatum ini, seraya menyejukkan hati dengan mengimbangi  dalam sebuah pesan hangat. “Yakinilah, bahwa ketika kalian bersedia memperbaiki diri kalian. Maka yang baik jugalah yang akan kalian dapatkan.”

Dr. Dihyatun Masqon, M.A -Direktur II CIOS- Dalam tatap muka kemaren malam, ahad, 14/04 pada acara Dialog Interaktif antara mahasiswa ISID dengan USIM,  bertema “yang muda yang berkarya” mengatakan bahwa: “Anda Mahal, maka dari itu jagalah diri Anda, kalau Anda semuanya ingin mendapatkan istri yang baik, you have to start from now! Do’akan hal ini selalu di rumah Allah, bawa do’a ini kemana saja, sampai bila ke Makkah.

Begitu ungkapan singkat beliau menyinggung tentang jodoh, sampai akhirnya beliau mengatakan “saya sendiri tidak menyangka bisa mendapatkan istri yang luar biasa cintanya pada saya."

Bagaimana caranya? Cukup mudah untuk mendapatakannya. Hanya tinggal menjaga diri semaksimal mungkin. Agar benar-benar bisa tetap terjaga. Dalam hal ini : Buk Rosyhda Diana- Dosen ISID (istri Ust Dihyatun Masqon). Berpesan kepada kaum lelaki khususnya: “Wanita itu sebelum menikah, dia menomersatukan orang tuanya, akan tetapi setelah menikah maka dia menomer satukan suaminya. Maka dari itu untuk para calon suami/ calon imam. Matangkanlah diri kalian dalam segi keilmiahan, keilmuan, pergaulan, dan ibadah. Tanamkan sikap dan sifat ingin terus berproses maju.  Saya harus lebih baik dari guru-guru saya, saya harus lebih baik dari dosen-dosen saya. Dan terakhir Jangan bosan-bosan jadi orang baik, dan kita harus menjadi yang terbaik.”

Dua kalimat penuh makna dari pasangan dua sejoli diatas aku rasa cukup untuk menjadikan kita begitu berharga dan sadar akan makna dan tujuan hidup di Dunia. Menjadikan kita selalu ingat bahwa ada saja sebab dibalik akibat dan selalu ada hasil di balik dari pada proses. Maka dengan tujuan jelas untuk mendapatkan kebenaran dan kefokusan dari pada inti tujuan, di butuhkan keistiqomahan untuk tetap berjalan dalam jalan tuhan yang telah disyariatkan, semoga kita mendapatkan perlindungan, karunia serta rahmat Allah SWT yang melimpah dari-NYA. Amin.

Jika dalam hati bertanya dimana pilihan itu berada dan kapan pilihan itu tampak benar-benar ada, kayaknya hanya ada satu jawabannya. Tanyakan langsung dengan sang pencipta seluruh makhluk dan seisinya serta mintalah dari-NYA. Sebab Dialah yang menjaga hati dan raga calon penuntun hati dan penyejuk jiwa yang cocok buat kita. Ilallaahi Nufawwidul amro, ilallah ataghfirullah, ilallah natubu..

Minggu, 14 April 2013

Ilmu dan Amal selalu beriringan.


“ Al-ghazali mengatakan bahwa nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya”.

      Ada dua perkara yang saling mengisi dan tidak dapat dipisahkan, yaitu ilmu dan amal, ilmu berperan sebagai pemimpin, sedangkan amal sebagai bawahannya. Ada pula yang mengibaratkan ilmu laksana pohon, dan amal adalah buahnya. Ilmu tanpa amal tidak berguna, tapi amal tanpa ilmu hanya akan sia-sia.

لَوْ كَا نَ لِلْعِلْمْ مِنْ دُوْنِ التُقَى شَرَفُ*
لَكَانَ اَشْرَفُ خَلْقِ اللهِ اِبْلِيْسُ*

Seandainya ilmu tanpa takwa suatu bentuk kemuliaan 
tentulah makhluk yang paling mulia adalah iblis.

Yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu dharuri’ yaitu ilmu yang berisikan perintah dan larangan Allah SWT. Oleh karena itu waspadalah terhadap ilmu yang dimiliki tapi tidak diamalkan, karena Allah berkata mengenai hal ini:

      “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (Al-Jumu’ah: 5)

Bayangkanlah! Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya diibaratkan Allah SWT seperti keledai yang punggungnya penuh dengan buku-buku. Ia sama sekali tidak dapat mengambil manfaat dari yang dibawanya itu.
**
      Maka dari itu Akal tidak dapat dikatakan berfungsi sebagai akal dengan sebenar-benarnya jika sipemiliknya tidak memikirkan hal-hal yang layak dan yang tidak layak dilakukan.

      Orang telah diberi pertolongan oleh Allah dalam mengendalikan akal dan hawa nafsunya, kehidupannya akan sukses dan selamat. Insya Allah, surga adalah tempat kembalinya. Sebaliknya, bila seseorang telah diperbudak hawa nafsunya hingga akal sehatnya sudah tidak jalan lagi, maka kelak ia akan hidup di tempat yang hina, yaitu neraka hawiyah. Wal ‘iyadzu billah!

Sumber dari buku yang berjudul:

Judul : Kepada Anakku Dekati Tuhanmu
Penulis : Abu Hamid Al-Ghazali
Penerbit   : Mathba'ah Al-Ma'arif, Baghdad 1968
Penerjemah : A. Mudjab Mahali
Penerbit         : Gema Insani


Selasa, 09 April 2013

Menulis dengan CINTA

“Aku cinta kamu tanpa aku sendiri tahu alasan aku mencintaimu.” Sebagian orang mengatakan itulah makna cinta yang sesungguhnya. Dimana seseorang tidak mampu menjelaskan tentang alasan mengapa dia harus mencintai, sebab jika ia mampu memberikan alasan bukan cinta namanya, akan tetapi rasa suka yang penuh cita dan pertimbangan.

Begitu jugalah seharusnya menyikapi bakat dalam tulisan. Dalam dunia kepenulisan cinta menulis itu adalah modal utama yang harus di mantapkan dalam hati; karena setelah demikian; kemahiran menulis, penambahan kosa kata, penertiban basic kepenulisan. Semuanya seakan akrab mengalir, bagai air terjun yang terjun bebas tanpa menghiraukan keadaan. “Terserah orang mau bilang apa, anggap saja dunia ini milik kita yang lain Cuma numpang” begitulah rasa yang timbul ketika kita mulai memasuki dunia kepenulisan kita. Tidak percaya? Silahkan di coba!

Lalu sekarang, Bisa dibayangkan bagaimana jika Anda memiliki dunia sendiri? Bukan main luar biasa nikmatnya bukan? Anda tidak hanya dapat bersenang-senang tapi juga dapat menata dan mengaturnya sesuka hati Anda. Untuk itu dalam tulisan ini aku mengibaratkan menulis bagiku adalah ibarat:

Menulis ibarat aku menuangkan kembali apa yang aku lihat semasa liburanku.

Menulis ibarat aku bernostalgia kembali menatap nanar sedih, dan gemilang senang kisahku.

Menulis ibarat singgah dan duduk di tepi pantai; memiliki keindahan pemandangan, kesejukan angin laut, keindahan samudra sepanjang mata memandang.

Menulis ibarat berjalan di perjalanan panjang, selalu dimulai dengan semangat penuh perjuangan; berakhir dengan ilmu dan pengetahuan.

Menulis ibarat mendapatkan rasa syukur dan puas tanpa harus menyakiti orang lain melainkan mengetuk pintu semangat dalam diri.

Menulis ibarat menonton film kesukaan, hanya menuangkan betapa gembiranya diri ini bisa menontonnya berulang-ulang. Betapa tak terkiranya kepuasan ketika dapat menggoreskan tintanya berulang-ulang.

Menulis ibarat membaca surat cinta yang terus akan di kenang dan disimpan tak dibiarkan terpendam dalam tumpukan debu dan usang.

Menulis ibarat kepuasan menerima hadiah yang itu merupakan hasil tabungan kita pribadi.

Sampai kini tintaku juga tidak akan pernah habis menghilangkan bagaimana rasa dan juga fillingku akan menulis sebab menulis dan membaca sudah menjadi bagian dalam hidupku yang tak mudah untuk aku lupakan dan aku buang begitu saja.

Minggu, 07 April 2013

Kesan Menulisku dengan Bang Ma'mun Affany



Kursus Penulisan berasama Bang. Ma’mun Affany.

Mahasiswa Insitut Studi Islam Darussalam
Sumatera Utara –Medan-
Ahad, 07 April 2013
     Assalammu’alaikum... teman-teman calon penulis bangsa, sebelumnya ku perkenalkan diriku dulu ya, namaku Irwan Haryono Sirat, akrab di panggil irwan. Aku tidak mengira mengapa akhirnya jalan untuk menempuh impianku semakin jelas dan terang; meskipun terjalani dalam step yang lambat, tapi bagiku luar biasa hebatnya, sampai ketika aku bertemu dengan bang Ma’mun Affany (penulis novel: ‘Kehormatan dibalik kerudung’), dalam banyak kesempatan aku dan teman-teman sering berjumpa dengan beliau, dalam forum tidak begitu resmi sering tercipta dialog cair seputar penulisan. ya... mungkin bagi beliau terkesan biasa dengan pertanyaan-pertanyaan general yang memang sangat umum dipertanyakan setiap pemula dalam dunia kepenulisan. Dari mulai apakah ada cita-cita ingin jadi penulis sebelumnya? apakah menulis novel itu sulit? Bagaimana cara mendapatkan inspirasinya? Dan beberapa pertanyaan remeh lainnya...  mungkin bagi beliau pertanyaan tersebut tidak lebih dari hal biasa yang sering terulang,  tapi berbanding terbalik dengan kami yang menganggap itu dialog berharga yang tak kan pernah terlupakan. Sangat luar biasa bagi kami yang animo menulisnya sedang menggebu-gebu. Sampai aku merasa ada keanehan dalam diriku, biasanya selalu merasa bosen ketika mendengar penjelasan yang sama dan berulang-ulang tapi ntah mengapa tidak untuk yang satu ini, (mungkin terkesan berlebihan tapi sejujurnyalah yang ku katakan dalam tulisan ini), sama sekali tidak pernah bosan mendengar penjelasan beliau meskipun berulang-ulang; Penjelasan beliau bak magnet, yang memiliki dua kutub; beliau di kutub utara dan aku dikutub selatan, sehingga saling tarik-menarik. Menjadikan proses tulis-menulispun terasa mudah dan nikmat untuk di konsumsi tidak sekedar hari itu, besoknya bahkan lusa, rasa keingainan untuk menulis juga belum bisa pudar dari ingatan. Aku rasa memang dunia kepenulisan itu tidak ada habisnya untuk di perbincangkan.

Menanggapi animo masyarakat kampus yang bersistemkan asrama membuat interaksi kami semakin mudah, beliau tinggal di bagian depan kampus tepat di asrama pascasarjana ISID (tahun 2012 kemaren), sedang kami tinggal di Rusunnawa belakang kampus (hingga detik ini), terlihat begitu banyak yang berminat dan merasa haus imajinasi, dengan segala kerendahan, selayaknya seorang murid yang notabene selalu meminta, maka dengan harap cemas kami menjumpai beliau dan mencoba berkomunikasi dengan selapang-lapangnya dan seluas-luasnya, kami tak dapat menutup-nutupi keinginan kami dengan bahasa lebih indah lagi; agar beliau menangkap pesan tersirat yang kami verbalkan, kami juga belum banyak tau gudang kosa kata  indah untuk menyampaikan maksud tanpa harus terucap jelas bunyinya, sampai akhirnya tercetuslah keinginan untuk mengikuti kursus menulis dengan beliau. Teramat terkejutnya kami ketika beliau menjawab “oke ana siap”, jawaban santai sambil menganggukkan wajahnya, tidak tampak keragu-raguan beliau menerima kami sebagai muridnya.

Sampai akhirnya kami diangkat secara informal, dalam arti kata; sah, menurut kesepakatan, tanpa harus mengundang Rektor untuk memberikan sambutan sebagai pembukaan kursus. Dengan forum yang begitu mahasiswa ini; selalu kondisional, kami tetap dihadapkan pada satu konsekuensi awal yang harus kami matangkan sabagai i’tiqod di permulaan, yaitu dengan mengingat pesan beliau: “Belajar menulis jangan setengah-setengah; dalam artian fokus, dan pertahankan kontiniunitas/ keistiqomahan”, sebab dalam kursus penulisan itu kami diajarkan bahwa segala sesuatu itu harus berawal dan diawali dengan usaha dan proses, tidak ada sesuatu yang INSTAN ‘sim salabim abra kadabra’, “Ingat selalu ada proses” begitulah kalimat yang sering diulang-ulang beliau.

Berikutlah konsekuensi yang harus kami sanggupi, dan kami rasa itu hal yang teramat sangat tidak memberatkan, tapi ternyata seleksi alam itu selalu ada; diawal sebagian banyak masih bertahan dengan segenap keistiqomahan, mulai  pertengahan masa kursus, hanya yang benar-benar bertekad bulatlah yang tersisa. Hingga akhirnya beberapa orang sajalah yang dapat mencicipi manis hasil didikan seorang novelis produktif yang telah melahirkan 5 novel legendaris tersebut. Diantara mayoritas komentar yang beredar dan berhasil ku tulis, beginilah bunyinya: “Cerita dan alur yang luar biasa, beliau selalu menghadirkan nuansa baru dalam alur cerita, tidak ada kesamaan antara novel satu dengan novel yang lainnya, notabene kesemuaannya membahas tentang cinta. Hebatnya  lagi obat  dan ramuan yang digunakan untuk menyelesaikan klimaks permasalahan terasa begitu unik, maka tidak berlebihan kiranya aku menyebutnya: ‘ solusi bombastis’.”

Dalam kursus kepenulisan tersebut setelah pertemuan pertama sebagai perkenalan: kami diminta menuliskan sebuah tulisan tentang gambaran/ view/pemandangan, atau apa saja yang bisa kami lihat dan rasakan dan mencoba untuk menuangkannya dalam sebuah tulisan, sehingga si pembaca dapat menikmati pemandangan tersebut sama seperti yang kita lihat bahkan lebih indah lagi, pastinya dengan gudang kosa kata kita yang melimpah ruah. Proses ini berjalan cukup lama, ada sekitar 2 minggu kami melakoni hal ini; tanpa tahu apa maksud asli dari ini semua, selain hanya sekedar mendeskripsikan view. Setiap pukul 07:00 WIB pagi, kami harus meletakkan kertas hasil tulisan kami di meja depan perpustakaan pasca ISID, yang telah sengaja disediakan di atas meja tersebut dua kardus kecil bertuliskan “Today”  dan “Yesterday”; setiap tulisan yang masuk di hari pertama di masukkan di kardus ‘today’  dan jika telah masuk di hari setelah nya maka kertas yang tadi di pindahkan di kardus yang satu lagi, makanya kami di suruh melampirkan tanggal, dan nama di ujung atas kertas, tidak banyak tulisan yang kami buat hanya berkisar setengah, sampai satu halaman doank.

Setelah proses penggodokan awal selesai, kami pun akhirnya merasakan ada perbedaan yang tejadi di diri kami, rasanya memang seakan kepiawan dalam kepenulisan agak sedikit bertambah, terutama dalam kosa kata dan kemahiran mendeskripsikan pemandangan. Pada pertemuan ke duanya, kami di berikan motivasi tentang kepenulisan. Pertemuan ketiga, empat dan selanjutnya; kami banyak belajar tentang perbedaan penulis produktif dengan penulis best seller, tentang pemetaan kepenulisan, cara mengembangkan imajinasi dan masih banyak lagi yang ku rasa akan lebih ‘luwes’ lagi jika penjelasannya berasal dari beliau langsung.

Dari sekolah ini, aku mendapatkan hakikat sebenar-benarnya pembelajaran. Jika selama ini aku belajar hanya mengikuti petuah guru, ultimatum orang tua, atau materi buta dari para dosen, tapi dalam kepenulisan ini aku merasa dewasa dengan kapasitasku sebagai remaja/pelajar/mahasiswa, disini aku diajak berfikir kritis, realistis dan sistematis, tidak muluk-muluk menganggap bahwa dunia ini selalu tersenyum ramah kepada kita, tetapi sebaliknya, dunia ini kejam bagi siapa saja yang tidak ingin berusaha. Maka berbahagialah mereka yang dapat menghargai waktu dan fokus terhadap tujuan mereka.

Kursus dengan bang Ma’mun Affany sejauh yang aku rasakan, tidak sekedar hanya mengajarkan tentang kepenulisan, tapi lebih kepada mental seorang penulis, yang aku rasa itulah yang sangat melekat erat di diriku ini. Meskipun kini beliau telah berdomisili di Bandung,  teramat sangat jauh dari Bumi Ponorogo; salah satu kampung terpencil di daerah jawa timur; tapi sungguh dengan sangat jujur ku katakan bahwa mental penulis itulah yang sebenarnya kubutuhkan, jika hanya sekedar sebuah iming-iming kemanisan, hampir di setiap lembaga selalu mengedepankan itu, tapi menyembunyikan kepahitan yang ada di baliknya. Disini semuanya di buka dengan begitu transparan ‘open management’, susah-payahnya apa? Sukarnya bagaimana? dan juga mentok kehabisan imajinasi itu harus bagaimana?..... karena diawal sudah di jelaskan tentang kepahitan; sehingga dalam perjalanan nyatanya, alhamdulillah kami dapat menyesuaikan diri. Adapun jika mendapat profit dari sana, itu bukan menjadi fokus utama, tidak lebih dari serpihan angin sepooi mengeringkan keringat peluh yang telah begitu deras bercucuran.  Jadi, sekali lagi ku katakan bahwa di kursus ini, aku mendapatkan pola pikir kritis, realistis dan sistematis, dan yang teramat sangat penting aku berhasil mendapatkan ruh kepenulisannya. Itulah hal terbesar  yang mesti aku syukuri dan kepada Allah SWT segala puji bagi-Nya yang telah mempertemukanku dengan sosok penulis produktif seperti bang Ma’mun Affany yang tanpa disangka sebelumnya.  Wa’Allahu ‘alam bishoab...
trims....