Selasa, 09 April 2013

Menulis dengan CINTA

“Aku cinta kamu tanpa aku sendiri tahu alasan aku mencintaimu.” Sebagian orang mengatakan itulah makna cinta yang sesungguhnya. Dimana seseorang tidak mampu menjelaskan tentang alasan mengapa dia harus mencintai, sebab jika ia mampu memberikan alasan bukan cinta namanya, akan tetapi rasa suka yang penuh cita dan pertimbangan.

Begitu jugalah seharusnya menyikapi bakat dalam tulisan. Dalam dunia kepenulisan cinta menulis itu adalah modal utama yang harus di mantapkan dalam hati; karena setelah demikian; kemahiran menulis, penambahan kosa kata, penertiban basic kepenulisan. Semuanya seakan akrab mengalir, bagai air terjun yang terjun bebas tanpa menghiraukan keadaan. “Terserah orang mau bilang apa, anggap saja dunia ini milik kita yang lain Cuma numpang” begitulah rasa yang timbul ketika kita mulai memasuki dunia kepenulisan kita. Tidak percaya? Silahkan di coba!

Lalu sekarang, Bisa dibayangkan bagaimana jika Anda memiliki dunia sendiri? Bukan main luar biasa nikmatnya bukan? Anda tidak hanya dapat bersenang-senang tapi juga dapat menata dan mengaturnya sesuka hati Anda. Untuk itu dalam tulisan ini aku mengibaratkan menulis bagiku adalah ibarat:

Menulis ibarat aku menuangkan kembali apa yang aku lihat semasa liburanku.

Menulis ibarat aku bernostalgia kembali menatap nanar sedih, dan gemilang senang kisahku.

Menulis ibarat singgah dan duduk di tepi pantai; memiliki keindahan pemandangan, kesejukan angin laut, keindahan samudra sepanjang mata memandang.

Menulis ibarat berjalan di perjalanan panjang, selalu dimulai dengan semangat penuh perjuangan; berakhir dengan ilmu dan pengetahuan.

Menulis ibarat mendapatkan rasa syukur dan puas tanpa harus menyakiti orang lain melainkan mengetuk pintu semangat dalam diri.

Menulis ibarat menonton film kesukaan, hanya menuangkan betapa gembiranya diri ini bisa menontonnya berulang-ulang. Betapa tak terkiranya kepuasan ketika dapat menggoreskan tintanya berulang-ulang.

Menulis ibarat membaca surat cinta yang terus akan di kenang dan disimpan tak dibiarkan terpendam dalam tumpukan debu dan usang.

Menulis ibarat kepuasan menerima hadiah yang itu merupakan hasil tabungan kita pribadi.

Sampai kini tintaku juga tidak akan pernah habis menghilangkan bagaimana rasa dan juga fillingku akan menulis sebab menulis dan membaca sudah menjadi bagian dalam hidupku yang tak mudah untuk aku lupakan dan aku buang begitu saja.


0 komentar :

Posting Komentar