1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Rabu, 31 Desember 2014

Happy Birthday Ummie

 photo 6f0fd63c-cc9f-4ebb-9374-5a7270b72479_zpsbf782d6d.jpg

(31 Desember 2014)

  Selamat Ulang Tahun Ibuku. Kami do’akan semoga ibu sehat selalu, panjang umur, murah rizki. dan yang paling penting kami slalu sayang ibu. Walaupun tidak bisa merayakannya langsung. Tapi doa akan selalu hadir dan ada di sisimu ibu. Karena kami tidak akan pernah lupa tanggal dan hari kelahiranmu ibuku.

  Ibu... Selamat Ulang tahun ya... Tidak mampu mata bertatap langsung, tubuh bertemu memeluk, bibir mencium tanganmu, tapi sejatinya kami ada untuk selalu menyanyangimu. Dari kejauhan kami selalu merindukanmu ibu. Terimakasih untuk semua kasih sayang dan segenap perhatianmu selama ini.

  Sanah Hilwah Ummie... Kami di sini ingin memberikan hadiah berbentuk fisik, tapi kami sadar saat ini kami belum mampu, dan sebaik-baik hadiah yang kami punya, dan tulus untuk ibu dan ayah adalah “Doa”. Kami do’akan semoga Ibu dan Ayah selalu sehat di sana. Panjang umurnya, dan  selalu dalam keberkahan serta rahmat Allah. Aamiin ya Rabbal’alamiin... Besar impian kami “Semoga suatu saat nanti kita dapat berkumpul dan merayakan hari-hari bersejarah ini bersama.” Aamiin ya Rabb..

  Happy Birthday My Mother. Sedikitpun kami tak pernah lupa akan nasehatmu sehari-hari.  Buah hati mengucapkan terimakasih telah menjadi ibu yang perhatian kepada kami selama ini. Tidak ada yang mampu memberikan hal yang sangat ibu inginkan selain pemberian dari Allah SWT yang Maha tinggi. Maka kami berdo’a semoga keinginan, do’a, dan harapan ibu terkabul keseluruhannya tanpa di tunda, Aamiin.

  Happy Birthday My Mother. Dengan penuh harap dan kerendahan hati kami mohon do’akanlah agar lapang jalan kami. Agar lurus pandangan kami. Agar fokus tujuan kami. Agar murah rizki kami. Agar kami bisa membuatmu bahagia; mulai saat ini dan hingga akhir hayat kami. Aamiin ya Rabbie.

  Ibu…. Selamat Ulang Tahun ya bu.  Saat ini hanyalah do’a hal terbesar dan paling berharga yang kami punya untuk ibu. Tanpa mengurangi bakti, hormat, sayang kami untuk ibu. Kami ingin mengucapkan selamat Ulang tahun sekali lagi untu ibu… Happy Birhday, Sanah Hilwah, Selamat Ulang Tahun Semoga Panjang Umur ibuI Love You.


Ditulis. Selasa, 30 Desember 2014. 05.06WIB.

Senin, 22 Desember 2014

Al-‘Alaq Mengajarkan Ilmu pada Masyarakat.

 photo 37b075b1-e986-4889-895c-fba1227018fe_zps76eb800c.jpg
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Dr. Ratib an-Nabulsi mengatakan bahwa di dalam bahasa Arab jika sebuah kata kerja dalam suatu kalimat tidak memiliki objek, maka kata kerja itu bermakna mutlak. Artinya, objek membaca di sini bisa sangat luas maknanya. Jika dihubungkan dengan ayat diatas, maka pengertian membaca disini bisa berarti membaca kitab Allah, penjelasan Rasulullah, atau alam semesta ciptaan Allah. Sebagai contoh seperti seorang turis membaca peta untuk mengetahui jalan; seorang nelayan membaca bintang mencoba memahami cuaca atau musim; seorang politisi menganalisis pesan, dari pidato kePresidenan atau bahkan seorang dokter membaca tekanan darah untuk mengetahui penyakit pasien. Semua aktifitas tersebutlah cara dan upaya manusia membaca untuk mendapatkan ilmu. Sebagaimana Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah menyebutkan pengertian ilmu adalah  Sampainya makna ke dalam jiwa atau sampainya jiwa pada makna. Namun sayangnya, ilmu ini belum banyak dipraktekkan umat muslim alih-alih dijadikan tradisi Barat.

Salah satu contoh kasus, kaum Yahudi. Mereka adalah kaum yang paling tinggi minat bacanya.  Menurut majalah Reform Jewish, 70% orang Yahudi Amerika membelanjakan uangnya untuk membeli buku hardcover, 39 % membeli 1-5 judul buku, 9 % membeli 6-9 judul buku, dan 17 % membeli lebih dari 10 judul buku pertahun. (penjelasan lebih lengkap lihat K.H. Toto Tasmara, “YAHUDI, Mengapa Mereka Berprestasi” hal. 120)

Kebiasaan membaca ini hanya dapat dikalahkan oleh orang-orang Jepang yang sama gilanya dalam membaca buku. Orang Jepang diperkirakan melahap buku bacaan rata-rata 12 buku dan 35 majalah setiap tahun, dan tentu saja mereka pun makhluk yang keranjingan membaca surat kabar. Orang jepang belanja buku hampir mencapai 1 triliun yen bahkan lebih pertahunnya. Seiring demikian, K.H. Toto Tasmara seakan memprediksi masa depan, bahwa  dari tradisi ini muncullah hukum universal yang berlaku umum, yaitu:

“Siapa yang gemar membaca, mereka mendapatkan informasi.
Siapa yang mendapatkan informasi, mereka mendapatkan pengetahuan.
Siapa yang menguasai pengetahuan, mereka menguasai teknologi.
Dan siapa yang menguasai informasi, pengetahuan, dan teknologi.
Maka bersiaplah untuk jadi ‘raja dunia!’
Dan itu semua diawali dengan satu kata perintah,
“Bacalah (Iqro’)!
Kita gemar MENGHAFAL dan MENGUCAPKANnya sementara bangsa lain gemar MELAKSANAKAN dan MEMBUKTIKANnya.”


Untaian kata diatas mengungkapkan kelalaian dan kelemahan kita selama ini. Karena MEMBACA Barat bisa sukses. Lantas bagaimana dengan ‘kita’? “Bukankah Membaca”Iqro” adalah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada kita lewat nabi Muhammad! “Mari kita bangkit dan mengejar ketertinggalan.” Wallau’alam.


Senin, 01 Desember 2014

Al-Hikam (Ibnu Atha’illah Al- Iskandari)

Al-Hikam Ibnu Athai'llah Al-Iskandari photo al-hikamIbnuAthaillahAl-Iskandari_zps86421c60.jpg
Al Hikam adalah salah satu buku turos (kitab klasik) yang merupakan hasil dari tulisan yang di lahirkan oleh imam sufi besar abad ke-7 yang juga dikenal sebagai seorang da’i (penceramah) ulung, kiai tarekat, ahli hadits, dan ahli fikih mazhab maliki. Abu Al-Fadl Ibnu Athaillah Al-Iskandari, begitulah nama lengkapnya.

AL HIKAM, Kitab Tawauf Sepanjang Masa  TERLENGKAP YANG PERNAH DI TERBITKAN ini merupakan hasil kumpulan dari pada ulasan Ibnu Atha’illah yang di bagi menjadi 5 sub bagian. Pada setiap isi buku ini memiliki keterangan dan penjelasan masing-masing. Terhitung mulai pengantar penerbit, prolog, dilanjutkan dengan bab awal yang bertuliskan “Buku Pertama”, bagian kedua bertuliskan “Buku ke dua” di bagian ketiga bertuliskan “Surat-Surat Ibnu Atha’illah untuk sahabat-sahabatnya” di bagian keempat bertuliskan “Doa-Doa Ibnu Atha’illah” dan di bagian terakhir bertuliskan “Teks Arab Al Hikam Ibnu Atha’illah” dan kesemuaannya megandung ulasan singkat padat dan jelas dari Syeikh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalwati (seorang Grand Syeikh Universitas Al-Azhar Mesir dan Mufti Mazhab Syafi’i) dalam penjelasannya beliau selalu meruntutkan logika berfikirnya secara argumentatif sistematik (meminjam istilah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi M.A M.Phil)  sehingga buku yang terlihat tebal diawal tidak menjadikannya angker karena ketebalannya, akan tetapi menjadi ringan dengan konten isi yang begitu familiar untuk di cerna, tulisan dalam buku ini tidak lebih dari sebuah kata mutiara yang di jelaskan satu persatu menurut kelasifikasinya masing-masing.

Sama halnya dengan buku La Tahzan (jangan bersedih) karya Aidh bin Abdullah al-Qarni yang dalam penjelasan bukunya, beliau juga sering mengawali tulisannya dengan sebuah kata bijak, puisi, hadits ataupun potongan dari ayat suci al-Qur’an yang kemudian di jelaskan secara lebih gamblang lagi dengan bahasa beliau sendiri yang secara konseptual dan kontekstual sangat sesuai dengan zaman kita saat ini.

Mungkin ada sebagian kelompok masih bertanya siapa sebenarnya Ibnu Athaillah itu? Mengapa kata-katanya dapat menjadi ulasan menarik sehingga dapat di cetak dalam buku setebal ini? Dan apa sih sebenarnya isi kandungan isinya? Untuk menjawab keraguan ini semua.  Maka, berikut adalah petikan isi yang ada di dalam buku ini, kerap dapat mendeskripsikan bagaimana bentuk isi buku tersebut:

Dalam hal berteman Ibnu Atha’illah pernah bertutur kepada murid-muridnya (Lih. Hal. 70 )
Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik di matamu karena persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk dari pada dirimu.
Artinya, BERTEMAN dengan orang yang kualitas kebaikannnya berada di bawahmu amat berbahaya karena bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kau bangga dengan amalmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kau rela hati dan selalu melihat kebaikan-kebaikanmu. Itu adalah pangkal segala keburukan.
Boleh saja kau berteman dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu.
Disini Ibnu Atha’illah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang-orang ‘arif terbagi menjadi dua: pertemanan yang didasari keinginan dan pertemanan yang mengharap berkah.
Pertemanan yang didasari keinginan ialah pertemanan yang harus memenuhi syarat-syaratnya. Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan syeikh atau gurunya seperti seonggok mayat di tangan para pemandi mayat.
Adapun pertemanan untuk mengharap berkah ialah pertemanan yang tujuannya masuk ke satu kaum dan berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Disini tidak perlu ada syarat-syarat pertemanan. Yang paling penting adalah bagaiman ia berpegang pada batasan-batasan syara’. Diharapkan dari pertemanannya dengan kaum itu, ia akan mendapatkan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yang telah mereka raih. 
Dalam catatan yang lainnya Ibnu Atha’illah juga menerangkan zikir sebagai jalan terdekat menuju Allah. (Lih. Hal. 74)
Janganlah kau meninggalkan  zikir (mengingat Allah) hanya karena ketidak hadiran hatimu di hadapan Allah saat berzikir! Kalalainmu dari zikir kepada-Nya lebih buruk dari pada kelalaianmu di saat berzikir kepada-Nya. Semoga Allah berkenan mengangkatmu dari zikir yang disertai kelalaian menuju zikir yang disertai kesadaran; dari zikir yang disertai kesadaran menuju zikir yang disertai hadirnya hati menuju zikir yang mengabaikan selain yang diingat (Allah). “Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar,”
 (QS. Ibrahim[14]: 20)
 –Ibnu Atha’illah al-Iskandari-



Dalam hal memahami do’a buku ini juga menjelaskannya secara gamblang, dengan megutip kata-kata Ibnu Atha’illah berjudul “Penolakan Bisa Jadi adalah Pemberian” (Lih. Hal. 131)
“Ketika Dia memberimu, Dia mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasanya-Nya. Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan mendatanganimu lewat kelembutan-Nya.”
–Ibnu Atha’illah al-Iskandari –
KETIKA MEMBERIMU, Allah menampakkan sifat-sifat kebaikan-Nya, berupa kemuliaan, kemurahan, kebaikan, kelembutan, kasih sayang, dan sebagainya. Ketika Dia menolak memberimu, Dia menampakkan sifat-sifat kuasa-Nya yang mengandung keperkasaan, keunggulan, paksaan, kesombongan, kekerasan, dan ketidakbutuhan-Nya. Dalam dua kondisi itu, Allah mendekatimu dan menghadapimu untuk mengenali-Nya.
Kita pun demikian. Bila ingin dikenal orang lain, kita bisa memberi pemberian kepada orang itu, bisa juga menyiksanya. Kedua cara tersebut menjadi sebab kita di kenal oleh orang lain.
Maka pahamilah, dengan kedia cara itu, Allah mendekatimu. Karena pengetahuanmu tentang sifat-sifat kebaikan dan kuasa-Nya merupakan karunia dan kasih sayang terbesar Allah untukmu. Oleh sebab itu, kau harus mensyukurinya.
Kesimpulannya, yang di tuntut dari para hamba adalah agar mereka mengenali  Tuhannya melalui sifat-sifat dan nama-nama baik-Nya. Tak ada jalan lain untuk mengenali-Nya, Kecuali Allah sendiri yang mengenalkan diri-Nya kepada mereka.
Caranya, bisa dengan menurunkan musibah-musibah dan cobaan-cobaan-Nya, bisa pula dengan menganugerahkan pemberian-pemberian-Nya yang sesuai atau berbeda dengan keinginan mereka. Siapa yang mengenal tuhannya dengan baik, ia tidak akan terlena oleh kepentingan diri sendiri. Ia tidak akan membedakan antara pemberian dan penolakan Allah karena masing-masing merupakan jalan yang membawanya menuju makrifat tentang sifat Allah, baik itu yang berhubungan dengan sifat-sifat baik-Nya maupun  dengan sifat-sifat kuasa-Nya.
Buku ini sejatinya adalah buku pemikiran yang tidak semua isinya dapat di nikmati dengan begitu mudah, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dapat di pahami bagi semua kalangan asalkan membacanya tidak cukup hanya sekali akan tetapi berulang kali agar dapat menemukan inti titik point pentingnya. Jika dipraktekkan demikian, tidak berlebihan rasanya jika diibaratkan makanan ringan yang benar-benar sangat renyah untuk dikunyah, bukan karena buku ini tebal terkesan angker, bukan karena penerbitnya, turos maka buku ini harus di baca layaknya kitab-kitab Turos (kitab kuning-Arab gundul yang tidak memiliki harakat/barisnya) yang harus memakai qowaid (tata bahasa) nahwu dan shorof[1] Yang karenanya buku ini bagaikan banker nasehat tanpa menggurui, pusat media untuk mengingatkan tanpa memakai kekerasan tapi dengan kepiawan sarah dari Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi  Al-Khalwati menjadikan kata-kata Ibnu Atha’illah Al-Iskandari  jauh lebih hidup, dan terasa nilai tersiratnya, sungguh sangat berpotensi, menghanyutkan pembaca untuk terus melanjutkan bacaannya lembar demi lembar hingga tuntaslah semua halamannya.
Di penghujung sebagai penutup resensi ini Ibnu Athaillah dalam buku ini juga menjelaskan bahwa “rahasia jiwa” menurut kaum sufi ialah keadaan hati, bukan mata hati. Perjalanan menuju Allah dalam pandangan mereka adalah salah satunya; menjaga diri dari syahwat, dan amarah bissuk. Oleh sebab, itu mereka memperbanyak berdzikir kepada Allah dengan upaya agar dapat fokus pada sifat-sifat terpuji, biasanya sifat ini tidak tumbuh kecuali dari banyaknya berzikir.




Judul               : Al-Hikam (Ibnu Atha’illah Al-Iskandari)
Penyusun         : Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi Al-
                          Khalwati
Penerbit           : Turos Pustaka           
Cetakan           : Pertama, Maret 2012
Tebal               : 558 hal; 15,5 X 24 cm
Resensator       : Irwan Haryono S




[1] Nahwu: secara bahasa (arab) berarti: Ilmu yang mempelajari tentang asal usul kalimat arab  yang di dalamnya mengandung i’rob dan bina’. Berfungsi sebagai Sebuah tanda baca, qoidah dalam memahami tulisan yang bercetak Arab, yang karenanya kita mampu memahai artinya sesuai dengan arti makna yang sebenarnya, seab jika salah saja dalam harakat/baris dalam bahasa arab, itu dapat menyebabkan perbedaan arti dan maksud dari makna sebenarnya. Sedangkan Shorof: secara bahasa (arab), berarti : Ilmu yang mempelajari tentang asal usul kalimat arab  yang di dalamnya tidak terkandung i’rob dan bina’. Berfungsi sebagai alat untuk memahami arti dari sebuah kata, yang selalu berubah-ubah bentuknya dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lainnya dengan beberapa pergeseran bentuk menjadikannya terkadang sebagai subjek, prediket, objek, atau pun keterangan dan lain sebagainya.

Minggu, 30 November 2014

Tiupan Ruh Semangat tuk Dunia.

Jend. Ir. Arif Rahman Hakim, M.S. M.D photo JendArifRahmanHakim_zpsa3770ce3.jpgKuliah Umum Tentang
Wawasan kebangsaan & bela Negara
Di Universitas Darussalam
Jum’at, 28 November 2014

Jum’at, 28 November 2014, kembali wajah UNIDA Gontor berseri-seri dengan kedatangan tamu agung Bpk. Jend. Ir. Arif Rahman Hakim, MS. MD, guna bersilaturrahmi, sekaligus memberikan kuliah umum tentang Wawasan kebangsaan & Bela Negara.“Beliau bukan orang lain, baliau adalah bagian dari kita, karena ketika di pakistan kita juga pernah menginap di penginapan militer dipakistan sana. Dulu beliau tidak seseram sekarang” sambil tersenyum Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. memberi sambutan.


Sungguh suatu kesyukuran bagi kita, sekaligus kebanggaan bagi kita ini, dengan berubahnya ISID ke UNIDA, berbagai tamu terus datang ke Kampus ini. wakil menteri luar negeri: Bapak. Denopati Jalal. KEDUBES Swiss: Bapak. Djoko Susilo, dan sekarang ini Bapak Jend. Ir. Arif Rahman Hakim, MS. MD.

Hal yang sangat kita apresiasi disini, bahwa “tidak banyak jenderal2 yang mau membawa keislamannya. Dan beliaulah salah seorang jenderal yang mau menghidupkan dakwah keislaman. Aktifitas beliau selalu dibarengi dengan dakwah; dan angkatan juga bebas berdakwah. Istilahnya kalau Abri yang ngomong kan tidak dicurigai, sedangkan jika yang ngomong kita, seringnya dicurigai.”

Mohon do’anya juga bapak. Mudah-mudahan dengan pengalamnan kami yang masih pemula ini, dapat terus mengembangkan kampus UNIDA ini.
Dan kemudian acara dibuka dengan bacaan “Basmalah”.

Acara yang diikuti hampir 200 peserta itu, tampak begitu berwarna lewat retorika heroic dan super energik dari bapak. Arif Rahman. Guyonannya di sela-sela waktu “siapa yang tidak mengenal dan tak pernah mendengar Gontor, Jangankan manusia, malaikatpun jika ditanya akan bisa menjawab, apa Gontor itu? Dimana itu? Pasti ada Malaikat yang kesasar patroli kesini, apalagi yang kesasar ke Gontor Putri sana”. Seketika suasana hening terpecahkan dengan sedikit tawa dari para peserta.

“Sebagai seorang yang berkecimpung langsung di lapangan. Beliau benar-benar telah mampu mengatasi masa, dan mengetahui bagaimana psikologi masa. Terbukti dari mahasiswa yang hadir nyaris tidak ada yang tidur,.. sebab beliau bicaranya sambil berjalan-jalan mengelilingi hadirin.” Terang hary singkat. Selaku peserta yang duduk terdepan.

Diantara pesan beliau yang terngiang adalah. “Takutlah kepada Allah, maka apa-apa selain Allah akan takut kepadamu. Tapi Jika kau takut dengan selain Allah. Maka yang orang-orang akan menghinakanmu. Selain itu juga beliau mengungkapkan bahwa “betapa takutnya negara-negara asing pada Indonesia kita dulu. Seandainya para tentara musuh berbaris panjang sampai buntut pasukan masih di China, kitapun tidak gentar, kita juga pasti bisa menang. Mengapa? Karena mereka(musuh) meyakini melawan rakyat muslim Indonesia sama dengan berperang melawan Tuhan, dan itu adalah proyek mustahil. Kehebatannya lagi. Mati bagi muslim "dicari" dan "dirindukan". Sedangkan mereka mencari hidup; takut mati. Udah tidak akan pernah ketemu itu. Muslim semakin dekat dengan peperangan semakin mencium wanginya syurga, dan bahkan semakin menjadi kerinduan ingin berjumpa dengan rabbNya”

Jika kita telah menjalankan perintah Allah, dan mengikuti ajaran Rasulullah, inilah yang disebut takwa dengan Allah. Dan kalau sudah demikian. Maka ketika kalian melihat. Mata yang digunakan untuk melihat itu ada campur tangan Allah. Ketika berbicara, disana ada campur tangan Allah. Ketika melangkah, bergerak, berjalan, bekerja, berjuang semuanya ada campur tangan Allah, dan kalau sudah demikian Allah pasti ridho’ dengan kalian. Insya Allah.

Saat ini yang saya harapkan adalah pengakuan dari kalian-kalian semua. Katakan ketika 100 tahun ulang tahun Indonesia. Saya ada di sana, apakah kalian siap?” “siap” jawaban peserta pasti yang menggetarkan suasana hall perkumpulan ketika itu. Kalian itu pantas untuk memimpin. Kenapa? Karena kalian bersama Allah. 2045 (31 tahun lagi waktu kalian untuk memimpin) jika sekarang umur kalian 20an, maka kalian lah tipe ideal pemimpin masa depan. Insya Allah.
katakan: "Laa ilaha illallah." Kamu punya syurga,... Mengapa kamu tidak mengajak orang lain? Ini tugasmu

Kehebatan Pemimpin Muslim adalah ketika Malam ia menangis, seperti tawon menraung-raung; takut karena dosa. Kalau Siang seperti Srigala. Walaupun musuh masuk kedalam lubang, maka akan digali sampai sedalam-dalamnya. Sampai dapat. Dan satu juga kesulitan bagi musuh untuk mengincar dan menyerang pemimpin muslim adalah sebab pemimpin dan rakyat sama persis. Cara berpakaian, bagiaman hidup dan perilaku kesehariannya benar-benar serupa. Sehingga teramat sangat sulit di bedakan. Demikianlah pemimpin yang Rahmatan lil alamain, salah satu juga cirinya. "Siap di tugaskan untuk memimpin dunia."

Sesungguhnya Allah telah mendatangkan orang-orang hebat tidak ada lain selain hanya membawa kepada dakwah. Nabi-nabi mengajak kita bahagia di Dunia dan Akhirat
dan datangnya saya kesini tidak lebih baik dari kalian jika berbicara dalam hal agama, maka dari itu disini kita bertukar pikiran.

            Demikianlah kuliah singkat bersama beliau. Ibarat cabe rawit. Kecil-kecil tapi pedes. kalau yang ini. Walaupun singkat tapi tes-tes-tes. (lansung ke inti). Sangat luar biasa

Sabtu, 29 November 2014

HP Tiba-tiba


Cerita awalnya lagi iseng dengan teman mau lihat-lihat laptop, spesifikasinya, dll. Setelah berselanjar lama di Dunia Maya. Akhirnya, terkumpullah beberapa klasifikasi laptop terbaik yang sesuai dengan kantong yang terbatas.

Nah setelah itu barulah iseng coba lihat hp, awalnya tertarik dengan Himax Polymer Li, dengan segala upaya kami telpon Jatimcell, berkunjung ke web resmi himexnya, ke bhineka, sampai akhirnya pergi ke artomoro ponorogo. Karena memang lokasi itu yang terdekat dari kampus.  Singkat cerita, begitu sampai di toko.

Perbincangan antara aku, temanku dengan penjaga tokopun tercipta.  Yang kami bahas tidak jauh dari “hp bagus dengan harga yang murah”. Dan akhirnya dia menunjukkan Evercoss Elevate Y a66a, dengan sekian jauh perbedaan dari hp pertama, dan selisih harga relative sedikit, tidak terlalu banyak. Aku meminta waktu sedikit untuk diskusi.  Setelah selesai. Akhirnya bulat keputusanku untuk membeli “Elevate Y tipe A66A” dengan taksasi harga asli di internet 2,7. Lalu kemudian harganya turun menjadi 1,7. Dan ternyata masih turun 200rb lagi, menjadi RP.  1.500.000. Awalnya pengen beli himax polymer li
kok tiba-tiba putar balik menjadi evercoss elevate. Yah begitulah adanya.

Mungkin teman-teman banyak yang memandang sebelah mata, hape dengan merek ini. Tapi sebelum itu terjadi aku ingin memberikan data-data elevate tipe a66a ini.

Komponennya: layar IPS 5 Inci resolusi HD 720x1280 pixel. Layar ini dilapisi Rhino Screen. Yaitu layar kategori Hard. Glass level 7 (skala 1-10) menjadi tahan akan goresan dan benturan tanpa harus memakai screen protector. Ketahannya mencapai level Gorilla Glass 2. Layar menggunakan One Glass Solution (OGS) dan full lamination yang menyatukan layar visual. Screen dengan panel touch screen sehingga layar jadi lebih tipis.

Adapun prosesornya yaitu Media Tek Quad-core kecepatan 1,3GHZ. Dengan RAM 1GB dan memori internal 8 GB. Kamera belakang 13 mp (auto-focus), kamera depan 5MP, baterai 1800mAh.


Satu semboyan yang sangat asik untuk di dengar adalah. “See The Inside”  lihat dan fokuslah pada spesifikasi sebelum memastikan ingin membeli smartphone. Karena brand juga terkadang tidak menjamin. Wallahu’alam.

Jumat, 28 November 2014

Berbelas Kasih; Proses Penyatuan Agama Pluralis

resensi compassion photo compassion_zps4b9edd0a.jpgKata bahasa Inggrisnya (copmpassionnate) sering di persamakan dengan “kasihan” dan dikaitkan dengan kebajikan sentimental yang tidak kritis: Oxford English Dictionary, misalnya, mendefenisikan “Compassionate” sebagai “Pritieous” (“memilukan”) atau “Pitiable” (“Menyedihkan”). Persepsi compassion seperti ini tidak hanya meluas, tetapi telah tertanam. Ketika Karen Amstrong memberi kuliah di Belanda baru-baru ini, dia dengan tegas menyatakan bahwa belas kasih tidak berarti merasa kasihan kepada orang lain, tapi terjemahan Belanda atas teks karen disurat kabar De Volkskrant secara konsisten menerjemahkan “compassion” sebagai “Pity”. Tapi, “Compassion” sebagian diturunkan dari parity latin dan pathin Yunani, yang berarti “menderita, menjalani atau mengalami”. Jadi, “Compassion” berarti “menanggungkan [sesuatu] bersama orang lain”, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitanannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk kedalam sudut pandanganya. Itulah sebabnya belas kash secara tepat diringkas dalam Kaidah Emas, yang meminta kita untuk melihat kedalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apa pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Belas kasih, oleh karena itu, dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip. (Lihat hal. 15)
Inti dari hidup dalam setiap agama dapat di saksikan adalah bermuara pada satu titik hati yang tentram, damai dan suka membantu. Mengingat jawaban dari guru bijak cina Konfusius (551-479 SM) ketika di tanya mana diantara ajarannya yang bisa dipraktikkan muridnya “sepanjang hari dan setiap hari” menjawab: “mungkin perkataan tentang shu (‘tenggang rasa’). Jangan pernah melakukan apa-apa kepada orang lain yang kau sendiri tidak ingin mereka lakukan untukmu.” Menurutnya ini adalah inti sari yang terdapat dalam seluruh metode spiritual yang disebutnya jalan (dao). Perbandingannya jika kita lihat dan kita saksikan bersama disana terdapat perbedaan yang luar biasa signifikan dengan pernyataan dari nabi yang meletakkan kata-kata pasti pada setiap umatnya. Jika mengikutinya akan tetap pada jalan yang lurus sedang sebaliknya jika ingkar maka tinggal menunggu waktu kehancuran. Bukankah dalam hal ini seorang muslim mempertaruhkan keimanannya dengan kata-kata pasti’. Dalam hadist, nabi pernah bersabda yang berarti: Tidak beriman seseorang, sebelum kecintaannya terhadap saudaranya seperti kecintaannya terhadap dirinya sendiri.”  
Betapa jelas namanya Islam tidak pernah mengenal kata mungkin’ tapi selalu mengenal kata jaminan “pasti”, sebab sudah terang di jelaskan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Akibatnya juga tidak sembarangan apalagi kebohongan. Akan tetapi kenyataan yang bisa dipertanggungjawabkan. “karena Allah tidak pernah ingkar janji” Maka berbahagialah mereka yang tetap teguh dalam satu ikatan suci dan selalu bertobat dari penyimpangan jalan kebenaran.
Buku ini merupakan salah satu karya Karen Amstrong selain Sejarah Tuhan (kisah 4000 tahun pencarian Tuhan dalam agama-agama manusia), dan Masa Depan Tuhan (sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme). Yang semua buku tersebut adalah hasil buah pikir Karen sendiri. Dia bukanlah seorang peneliti, tapi dia maneliti dengan begitu sangat handal. Sikap ilmuan yang berhasil membentuk dirinya sehingga dapat memaparkan kebenaran dengan begitu sangat objektif. Selalu menjaga keotentikan karya yang akan dituliskannya sehingga di cetak banyak; tanpa dia sadari karyanya menjadi buah tangan yang fenomenal; dengan serta merta dia dinobatkan sebagi penulis best seller dan juga sebagai peneliti yang tidak berat sebelah karena setiap katanya bernash memiliki bukti nyata serta rujukan langsung dari kitab suci tiap agama.
Buku ini juga memiliki ke khasan sendiri yang dapat di nikmati oleh orang banyak. Diantaranya, saran buku rujukan untuk bacaan lebih lanjut (lihat hal 231) Buku ini tidak sekedar buku yang berani menampilkan opini yang kontropersial sehingga menjadi buah bibir banyak orang; tapi juga mengarahkan pembaca untuk menggali informasi lebih lanjut tentang arti belas kasih itu sendiri. Petikan kata yang dapat langsung kita baca “kita tidak akan pernah cukup belajar tentang belas kasih. Disini, Anda akan menemukan beberapa buku yang akan memberikan wawasan dan akan menyemangati Anda sepanjang menjalani program ini. Telisiklah sampai Anda menemukan penulis yang pendekatannya cocok dengan Anda; beberapa di antara buku-buku ini memuat bibliografi yang luas, sehingga Anda dapat menjelajahi ide-ide penulis favorit anda secara lebih mendalam dan melihat apa yang mereka baca.. Anda mungkin ingin memulai dengan mengeksplorasi mitos dan ajaran tradisi Anda sendiri, tapi akan sangat bermanfaat jika Anda juga menemukan wawasan tentang tradisi lain, yang membantu Anda untuk melihat diri Anda sendiri secara berbeda.” (Lihat hal. 231)
Sebagaimana yang tertulis di ‘cover’ buku. Compassion 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih. Adapun pembahasannya lebih mendetail terdapat pada 12 judul didalamnya. Diantaranya: Pertama, Belajar tentang Belas Kasih. Kedua, Lihatlah Dunia Anda Sendiri. Ketiga, Belas Kasih pada Diri Sendiri. Keempat, Empati. Ke lima, Perhatian Penuh. Keenam, Tindakan. Ketujuh, Betapa Sedikitnya yang Kita Ketahui. Kedelapan, Bagaimana Seharusnya Kita Berbicara kepada Sesama. Kesembilan, Kepedulian untuk Semua. Kesepuluh, Pengetahuan. Kesebelas, Pengakuan. Kedua Belas, Cintailah Musuhmu.
            Semakin dibaca lebih mendalam, ternyata 12 judul kecil dalam buku ini menggambarkan poin penting yang hampir di pastikan terdapat di seluruh agama. Dengan ilustrasi ringan ia berusaha menggambarkan teori-teorinya. begitu ringan dan menarik. Seperti halnya ilustrasi tentang kecakapan mengemudi mobil, tidak dapat dipelajari hanya dengan membaca panduan manual mobil; seorang itu harus masuk kedalam kendaraan itu dan latihan menjalankannya sampai keterampilan yang diperoleh dengan susah payah menjadi watak kedua.
            Sama halnya seseorang tidak dapat belajar berenang dengan duduk disamping kolam renang menonton yang lain melompat-lompat di dalam air; orang tersebut harus mencemplungkan diri dan belajar untuk mengapung. Jika ia tekun, ia akan mendapatkan kemampuan yang pada awalnya tampak mustahil. Sama halnya dengan belas kasih: kita bisa belajar tentang susunan saraf otak dan persyaratan tradisi kita tetapi hanya setelah dan kecuali jika, kita benar-benar mengubah perilaku kita dan belajar untuk berpikir serta bertindak terhadap orang lain sesuai dengan Kaidah Emas, barulah kita akan membuat kemajuan. (lihat hal. 34)
            Inilah satu-satunya buku kompleks tentang agama yang berhasil menjadikannya buku bermuatan fakta objektif, dan terpercaya. Ada buku semisal dengannya berjudul “Menuju Kesempurnaan Akhlak” karya Ibn Miskawaih, isinya hampir sama, memiliki pembagian-pembagian beberapa bagian, hanya saja pembagiannya disini hanya sampai enam, berorientasi pada kesempuranaan akhlak yang itu merupakan orientasi tertinggi dari bidang keilmuan dan keimanan yang dimiliki seorang muslim. Dan juga hampir sama dengan buku yang di tulis oleh’Atif Abdul ‘id berjudul “Membuat Orang Jatuh Cinta dalam 1 Detik” dalam buku ini memaparkan dan menuntun pembaca kepada cara berkomunikasi dan berinteraksi syarat saling memahami. Sehingga dapat menimbulkan rasa kecintaan terhadap sesasama, menarik simpati, dan mempengaruhi orang lain. Pada intinya walaupun mirip tapi tidak sama.
            Buku Compassion karya Karen Amstrong ini seakan menyajikan buku karya Ibn Miskawaih dan ‘Atif Abdul ‘id, secara apik bersamaan. Di kolaborasikan menjadi buku yang sangat komplit dan sistematis. Bahkan lebih komplit dengan penambahan kisah, sejarah, pemikiran, fakta dan realita yang tercantum dibuku ini.
            Mencari kelemahan buku ini, terasa sangat sulit, hampir tidak di dapatkan kekurangannya. Sangat layak dibaca untuk semua kalangan tidak terkecuali. Hanya saja satu yang sangat disayangkan mengapa buku berjudul Compassion ini hanya berakhir di halaman 247, mengapa tidak setebal “Masa Depan Tuhan” 609 halaman, atau “Sejarah Tuhan” 676 halaman. Buku ini serasa 3 kali lipat lebih tipis dibandingakan karya-karya Karen yang lainnya, untuk bahasa buku yang mudah dicerna dan di pahami. Buku ini serasa begitu sangat singkat perlu edisi kedua sebagai lanjutannya.

Akhir kata dari peresensi selamat membaca dan menikmati bukunya.


Judul Buku    : COMPASSION
(12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih)

Penulis            : Karen Armstrong
Penerbit          : PT. Mizan Pustaka
Tahun Terbit : Cet 1, Maret 2013
Tebal              : 247 hal. 15,5x23,5cm
Resensator     :Irwan Haryono S