1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Rabu, 31 Desember 2014

Happy Birthday Ummie

 photo 6f0fd63c-cc9f-4ebb-9374-5a7270b72479_zpsbf782d6d.jpg

(31 Desember 2014)

  Selamat Ulang Tahun Ibuku. Kami do’akan semoga ibu sehat selalu, panjang umur, murah rizki. dan yang paling penting kami slalu sayang ibu. Walaupun tidak bisa merayakannya langsung. Tapi doa akan selalu hadir dan ada di sisimu ibu. Karena kami tidak akan pernah lupa tanggal dan hari kelahiranmu ibuku.

  Ibu... Selamat Ulang tahun ya... Tidak mampu mata bertatap langsung, tubuh bertemu memeluk, bibir mencium tanganmu, tapi sejatinya kami ada untuk selalu menyanyangimu. Dari kejauhan kami selalu merindukanmu ibu. Terimakasih untuk semua kasih sayang dan segenap perhatianmu selama ini.

  Sanah Hilwah Ummie... Kami di sini ingin memberikan hadiah berbentuk fisik, tapi kami sadar saat ini kami belum mampu, dan sebaik-baik hadiah yang kami punya, dan tulus untuk ibu dan ayah adalah “Doa”. Kami do’akan semoga Ibu dan Ayah selalu sehat di sana. Panjang umurnya, dan  selalu dalam keberkahan serta rahmat Allah. Aamiin ya Rabbal’alamiin... Besar impian kami “Semoga suatu saat nanti kita dapat berkumpul dan merayakan hari-hari bersejarah ini bersama.” Aamiin ya Rabb..

  Happy Birthday My Mother. Sedikitpun kami tak pernah lupa akan nasehatmu sehari-hari.  Buah hati mengucapkan terimakasih telah menjadi ibu yang perhatian kepada kami selama ini. Tidak ada yang mampu memberikan hal yang sangat ibu inginkan selain pemberian dari Allah SWT yang Maha tinggi. Maka kami berdo’a semoga keinginan, do’a, dan harapan ibu terkabul keseluruhannya tanpa di tunda, Aamiin.

  Happy Birthday My Mother. Dengan penuh harap dan kerendahan hati kami mohon do’akanlah agar lapang jalan kami. Agar lurus pandangan kami. Agar fokus tujuan kami. Agar murah rizki kami. Agar kami bisa membuatmu bahagia; mulai saat ini dan hingga akhir hayat kami. Aamiin ya Rabbie.

  Ibu…. Selamat Ulang Tahun ya bu.  Saat ini hanyalah do’a hal terbesar dan paling berharga yang kami punya untuk ibu. Tanpa mengurangi bakti, hormat, sayang kami untuk ibu. Kami ingin mengucapkan selamat Ulang tahun sekali lagi untu ibu… Happy Birhday, Sanah Hilwah, Selamat Ulang Tahun Semoga Panjang Umur ibuI Love You.


Ditulis. Selasa, 30 Desember 2014. 05.06WIB.

Senin, 22 Desember 2014

Al-‘Alaq Mengajarkan Ilmu pada Masyarakat.

 photo 37b075b1-e986-4889-895c-fba1227018fe_zps76eb800c.jpg
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Dr. Ratib an-Nabulsi mengatakan bahwa di dalam bahasa Arab jika sebuah kata kerja dalam suatu kalimat tidak memiliki objek, maka kata kerja itu bermakna mutlak. Artinya, objek membaca di sini bisa sangat luas maknanya. Jika dihubungkan dengan ayat diatas, maka pengertian membaca disini bisa berarti membaca kitab Allah, penjelasan Rasulullah, atau alam semesta ciptaan Allah. Sebagai contoh seperti seorang turis membaca peta untuk mengetahui jalan; seorang nelayan membaca bintang mencoba memahami cuaca atau musim; seorang politisi menganalisis pesan, dari pidato kePresidenan atau bahkan seorang dokter membaca tekanan darah untuk mengetahui penyakit pasien. Semua aktifitas tersebutlah cara dan upaya manusia membaca untuk mendapatkan ilmu. Sebagaimana Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah menyebutkan pengertian ilmu adalah  Sampainya makna ke dalam jiwa atau sampainya jiwa pada makna. Namun sayangnya, ilmu ini belum banyak dipraktekkan umat muslim alih-alih dijadikan tradisi Barat.

Salah satu contoh kasus, kaum Yahudi. Mereka adalah kaum yang paling tinggi minat bacanya.  Menurut majalah Reform Jewish, 70% orang Yahudi Amerika membelanjakan uangnya untuk membeli buku hardcover, 39 % membeli 1-5 judul buku, 9 % membeli 6-9 judul buku, dan 17 % membeli lebih dari 10 judul buku pertahun. (penjelasan lebih lengkap lihat K.H. Toto Tasmara, “YAHUDI, Mengapa Mereka Berprestasi” hal. 120)

Kebiasaan membaca ini hanya dapat dikalahkan oleh orang-orang Jepang yang sama gilanya dalam membaca buku. Orang Jepang diperkirakan melahap buku bacaan rata-rata 12 buku dan 35 majalah setiap tahun, dan tentu saja mereka pun makhluk yang keranjingan membaca surat kabar. Orang jepang belanja buku hampir mencapai 1 triliun yen bahkan lebih pertahunnya. Seiring demikian, K.H. Toto Tasmara seakan memprediksi masa depan, bahwa  dari tradisi ini muncullah hukum universal yang berlaku umum, yaitu:

“Siapa yang gemar membaca, mereka mendapatkan informasi.
Siapa yang mendapatkan informasi, mereka mendapatkan pengetahuan.
Siapa yang menguasai pengetahuan, mereka menguasai teknologi.
Dan siapa yang menguasai informasi, pengetahuan, dan teknologi.
Maka bersiaplah untuk jadi ‘raja dunia!’
Dan itu semua diawali dengan satu kata perintah,
“Bacalah (Iqro’)!
Kita gemar MENGHAFAL dan MENGUCAPKANnya sementara bangsa lain gemar MELAKSANAKAN dan MEMBUKTIKANnya.”


Untaian kata diatas mengungkapkan kelalaian dan kelemahan kita selama ini. Karena MEMBACA Barat bisa sukses. Lantas bagaimana dengan ‘kita’? “Bukankah Membaca”Iqro” adalah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada kita lewat nabi Muhammad! “Mari kita bangkit dan mengejar ketertinggalan.” Wallau’alam.


Senin, 01 Desember 2014

Al-Hikam (Ibnu Atha’illah Al- Iskandari)

Al-Hikam Ibnu Athai'llah Al-Iskandari photo al-hikamIbnuAthaillahAl-Iskandari_zps86421c60.jpg
Al Hikam adalah salah satu buku turos (kitab klasik) yang merupakan hasil dari tulisan yang di lahirkan oleh imam sufi besar abad ke-7 yang juga dikenal sebagai seorang da’i (penceramah) ulung, kiai tarekat, ahli hadits, dan ahli fikih mazhab maliki. Abu Al-Fadl Ibnu Athaillah Al-Iskandari, begitulah nama lengkapnya.

AL HIKAM, Kitab Tawauf Sepanjang Masa  TERLENGKAP YANG PERNAH DI TERBITKAN ini merupakan hasil kumpulan dari pada ulasan Ibnu Atha’illah yang di bagi menjadi 5 sub bagian. Pada setiap isi buku ini memiliki keterangan dan penjelasan masing-masing. Terhitung mulai pengantar penerbit, prolog, dilanjutkan dengan bab awal yang bertuliskan “Buku Pertama”, bagian kedua bertuliskan “Buku ke dua” di bagian ketiga bertuliskan “Surat-Surat Ibnu Atha’illah untuk sahabat-sahabatnya” di bagian keempat bertuliskan “Doa-Doa Ibnu Atha’illah” dan di bagian terakhir bertuliskan “Teks Arab Al Hikam Ibnu Atha’illah” dan kesemuaannya megandung ulasan singkat padat dan jelas dari Syeikh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalwati (seorang Grand Syeikh Universitas Al-Azhar Mesir dan Mufti Mazhab Syafi’i) dalam penjelasannya beliau selalu meruntutkan logika berfikirnya secara argumentatif sistematik (meminjam istilah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi M.A M.Phil)  sehingga buku yang terlihat tebal diawal tidak menjadikannya angker karena ketebalannya, akan tetapi menjadi ringan dengan konten isi yang begitu familiar untuk di cerna, tulisan dalam buku ini tidak lebih dari sebuah kata mutiara yang di jelaskan satu persatu menurut kelasifikasinya masing-masing.

Sama halnya dengan buku La Tahzan (jangan bersedih) karya Aidh bin Abdullah al-Qarni yang dalam penjelasan bukunya, beliau juga sering mengawali tulisannya dengan sebuah kata bijak, puisi, hadits ataupun potongan dari ayat suci al-Qur’an yang kemudian di jelaskan secara lebih gamblang lagi dengan bahasa beliau sendiri yang secara konseptual dan kontekstual sangat sesuai dengan zaman kita saat ini.

Mungkin ada sebagian kelompok masih bertanya siapa sebenarnya Ibnu Athaillah itu? Mengapa kata-katanya dapat menjadi ulasan menarik sehingga dapat di cetak dalam buku setebal ini? Dan apa sih sebenarnya isi kandungan isinya? Untuk menjawab keraguan ini semua.  Maka, berikut adalah petikan isi yang ada di dalam buku ini, kerap dapat mendeskripsikan bagaimana bentuk isi buku tersebut:

Dalam hal berteman Ibnu Atha’illah pernah bertutur kepada murid-muridnya (Lih. Hal. 70 )
Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik di matamu karena persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk dari pada dirimu.
Artinya, BERTEMAN dengan orang yang kualitas kebaikannnya berada di bawahmu amat berbahaya karena bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kau bangga dengan amalmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kau rela hati dan selalu melihat kebaikan-kebaikanmu. Itu adalah pangkal segala keburukan.
Boleh saja kau berteman dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu.
Disini Ibnu Atha’illah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang-orang ‘arif terbagi menjadi dua: pertemanan yang didasari keinginan dan pertemanan yang mengharap berkah.
Pertemanan yang didasari keinginan ialah pertemanan yang harus memenuhi syarat-syaratnya. Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan syeikh atau gurunya seperti seonggok mayat di tangan para pemandi mayat.
Adapun pertemanan untuk mengharap berkah ialah pertemanan yang tujuannya masuk ke satu kaum dan berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Disini tidak perlu ada syarat-syarat pertemanan. Yang paling penting adalah bagaiman ia berpegang pada batasan-batasan syara’. Diharapkan dari pertemanannya dengan kaum itu, ia akan mendapatkan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yang telah mereka raih. 
Dalam catatan yang lainnya Ibnu Atha’illah juga menerangkan zikir sebagai jalan terdekat menuju Allah. (Lih. Hal. 74)
Janganlah kau meninggalkan  zikir (mengingat Allah) hanya karena ketidak hadiran hatimu di hadapan Allah saat berzikir! Kalalainmu dari zikir kepada-Nya lebih buruk dari pada kelalaianmu di saat berzikir kepada-Nya. Semoga Allah berkenan mengangkatmu dari zikir yang disertai kelalaian menuju zikir yang disertai kesadaran; dari zikir yang disertai kesadaran menuju zikir yang disertai hadirnya hati menuju zikir yang mengabaikan selain yang diingat (Allah). “Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar,”
 (QS. Ibrahim[14]: 20)
 –Ibnu Atha’illah al-Iskandari-



Dalam hal memahami do’a buku ini juga menjelaskannya secara gamblang, dengan megutip kata-kata Ibnu Atha’illah berjudul “Penolakan Bisa Jadi adalah Pemberian” (Lih. Hal. 131)
“Ketika Dia memberimu, Dia mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasanya-Nya. Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan mendatanganimu lewat kelembutan-Nya.”
–Ibnu Atha’illah al-Iskandari –
KETIKA MEMBERIMU, Allah menampakkan sifat-sifat kebaikan-Nya, berupa kemuliaan, kemurahan, kebaikan, kelembutan, kasih sayang, dan sebagainya. Ketika Dia menolak memberimu, Dia menampakkan sifat-sifat kuasa-Nya yang mengandung keperkasaan, keunggulan, paksaan, kesombongan, kekerasan, dan ketidakbutuhan-Nya. Dalam dua kondisi itu, Allah mendekatimu dan menghadapimu untuk mengenali-Nya.
Kita pun demikian. Bila ingin dikenal orang lain, kita bisa memberi pemberian kepada orang itu, bisa juga menyiksanya. Kedua cara tersebut menjadi sebab kita di kenal oleh orang lain.
Maka pahamilah, dengan kedia cara itu, Allah mendekatimu. Karena pengetahuanmu tentang sifat-sifat kebaikan dan kuasa-Nya merupakan karunia dan kasih sayang terbesar Allah untukmu. Oleh sebab itu, kau harus mensyukurinya.
Kesimpulannya, yang di tuntut dari para hamba adalah agar mereka mengenali  Tuhannya melalui sifat-sifat dan nama-nama baik-Nya. Tak ada jalan lain untuk mengenali-Nya, Kecuali Allah sendiri yang mengenalkan diri-Nya kepada mereka.
Caranya, bisa dengan menurunkan musibah-musibah dan cobaan-cobaan-Nya, bisa pula dengan menganugerahkan pemberian-pemberian-Nya yang sesuai atau berbeda dengan keinginan mereka. Siapa yang mengenal tuhannya dengan baik, ia tidak akan terlena oleh kepentingan diri sendiri. Ia tidak akan membedakan antara pemberian dan penolakan Allah karena masing-masing merupakan jalan yang membawanya menuju makrifat tentang sifat Allah, baik itu yang berhubungan dengan sifat-sifat baik-Nya maupun  dengan sifat-sifat kuasa-Nya.
Buku ini sejatinya adalah buku pemikiran yang tidak semua isinya dapat di nikmati dengan begitu mudah, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dapat di pahami bagi semua kalangan asalkan membacanya tidak cukup hanya sekali akan tetapi berulang kali agar dapat menemukan inti titik point pentingnya. Jika dipraktekkan demikian, tidak berlebihan rasanya jika diibaratkan makanan ringan yang benar-benar sangat renyah untuk dikunyah, bukan karena buku ini tebal terkesan angker, bukan karena penerbitnya, turos maka buku ini harus di baca layaknya kitab-kitab Turos (kitab kuning-Arab gundul yang tidak memiliki harakat/barisnya) yang harus memakai qowaid (tata bahasa) nahwu dan shorof[1] Yang karenanya buku ini bagaikan banker nasehat tanpa menggurui, pusat media untuk mengingatkan tanpa memakai kekerasan tapi dengan kepiawan sarah dari Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi  Al-Khalwati menjadikan kata-kata Ibnu Atha’illah Al-Iskandari  jauh lebih hidup, dan terasa nilai tersiratnya, sungguh sangat berpotensi, menghanyutkan pembaca untuk terus melanjutkan bacaannya lembar demi lembar hingga tuntaslah semua halamannya.
Di penghujung sebagai penutup resensi ini Ibnu Athaillah dalam buku ini juga menjelaskan bahwa “rahasia jiwa” menurut kaum sufi ialah keadaan hati, bukan mata hati. Perjalanan menuju Allah dalam pandangan mereka adalah salah satunya; menjaga diri dari syahwat, dan amarah bissuk. Oleh sebab, itu mereka memperbanyak berdzikir kepada Allah dengan upaya agar dapat fokus pada sifat-sifat terpuji, biasanya sifat ini tidak tumbuh kecuali dari banyaknya berzikir.




Judul               : Al-Hikam (Ibnu Atha’illah Al-Iskandari)
Penyusun         : Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi Al-
                          Khalwati
Penerbit           : Turos Pustaka           
Cetakan           : Pertama, Maret 2012
Tebal               : 558 hal; 15,5 X 24 cm
Resensator       : Irwan Haryono S




[1] Nahwu: secara bahasa (arab) berarti: Ilmu yang mempelajari tentang asal usul kalimat arab  yang di dalamnya mengandung i’rob dan bina’. Berfungsi sebagai Sebuah tanda baca, qoidah dalam memahami tulisan yang bercetak Arab, yang karenanya kita mampu memahai artinya sesuai dengan arti makna yang sebenarnya, seab jika salah saja dalam harakat/baris dalam bahasa arab, itu dapat menyebabkan perbedaan arti dan maksud dari makna sebenarnya. Sedangkan Shorof: secara bahasa (arab), berarti : Ilmu yang mempelajari tentang asal usul kalimat arab  yang di dalamnya tidak terkandung i’rob dan bina’. Berfungsi sebagai alat untuk memahami arti dari sebuah kata, yang selalu berubah-ubah bentuknya dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lainnya dengan beberapa pergeseran bentuk menjadikannya terkadang sebagai subjek, prediket, objek, atau pun keterangan dan lain sebagainya.