Kamis, 08 Januari 2015

Maafkan Aku IBu


Wahai… sosok yang ketulusannya hanya mampu dibalas oleh Allah swt. Wahai wanita yang namanya diagungkan Rasulullah. Bagaimana aku hendak memanggilmu? Dengan bahasa keagungan apakah aku memberikan penghormatan padamu? Jika Allah dan Rasul saja telah memuliakanmu. Apalagi aku. Aku adalah budakmu. Perintahkanlah aku. Sepenuhnya Aku taat dan patuh terhadap titahmu ”Yang Mulia”.  Izinkanlah budak ini memanggilmu dengan panggilan “ibu”



Assalammu’alaikum wr. Wb
Bu…  Ibu, apa kabar? Sehatkan buk?
Aku disini selalu merindukan ibu. Ibulah yang selalu ku ingat. Karena ibulah aku kuat, karena ibu aku berusaha untuk tetap bertahan. Sejenak diam mengenang masa lalu:

Teringat Masa Kecil
Dahulu aku selalu mengajakmu bermain, kemana aku ingin pergi ibu harus ada disisiku. Pernah suatu kali aku bangun tidur. Melihat ibu tidak ada di sampingku, rasanya sedih sekali. Di pojokan teras rumah ku meneteskan air mata. Bertanya-tanya kemanakah ibu? Lama aku menunggu kehadirannya. Samar-samar dari lorong jalan gang rumah, ku lihat wajah ibuku. Berlariku tanpa peduli batu. Berlariku tanpa peduli sandal. Berlariku tanpa peduli pakaian. Seketika air mataku terbang terbawa angin jalanan. “ibu…..” ku peluk ibu. “aku sayang ibu….., jangan pernah tinggalkan adek sendiri ya buk” isak tangisku meledak.

Masa Remaja saat ini.
Ibu bagiku bukan hanya sekedar orang tua. Ibuku adalah segala-galanya. Ibuku adalah ratu. Ibuku adalah pelindung. Ibuku adalah bidadari pertama yang selalu mengerti aku; dalam sendu dan rinduku.
Saat ini…… Aku sudah mulai meranjak dewasa buk. Aku melihat banyak bidadari-bidadari di luar sana! Satu dari semuanya ada yang mirip ibu. Sayangnya, perhatiannya, lembutnya, baiknya, dan hampir semuanya buk. Tapi….. aku takut buk. Aku takut jika dekat dengannya, sayangku padamu akan berkurang. Meskipun engkau pernah bercerita bahwa aku, kelak akan berpisah dari orang tua untuk membangun keluarga. Ku berharap ibu tidak kesepian saat waktu itu benar-benar tiba. Karena sampai kapanpun aku tetap sayang ibu.

Terima kasih Ibu.
Ibu…. Ku tak memiliki lisan piawai dalam merangkai kata indah untuk memujimu. Tapi lisan ini bersaksi sepenuh hati akan kejujuran yang kumiliki, bahwa engkaulah pahlawanku. Benar-benar berkorban pikiran, perasaan, materi dan kekuatan demi keberhasilanku. Ribuan Terima kasih kepadamu ibu.
Ibu… ku tak memiliki uang yang cukup tuk membahagiakanmu. Engkau juga tahu, bahwa aku selalu mengusahakan itu padamu, tapi kau menolaknya. Engkau katakan: Belajar lebih utama untukmu nakku. Kuamini dan Terima Kasih Ibu.
Ibu…. Nasib adalah perjalanan waktu. Saat ini nasib sedang menguji dengan kekuranganku. Aku akan berusaha untuk mengembalikan nasib terhormat kita. Nasib manusia terpilih kita, nasib manusia yang dititahkan Sang Pencipta menjadi kholifah. Nasib manusia tercipta dalam sebaik-baik bentuk. Sedang sekarang. Bersabarlah untuk menunggu masa itu ibu. Semoga doa segera terkabul, agar bisa ku hadiahkan mahkota penghargaan untuk engkau ibuku.

Maafkanlah Aku Ibu…
Ibu…. Saat aku kecil adakah aku menyakitimu sehingga engkau merasa sakit hati?  Jika ada. Sebelum aku tiada. Maafkanlah aku. Karena aku takut engkau murka denganku; sedang aku belum sedikitpun meminta maaf padamu. Maafkanlah Aku Ibu.
Ibu…. Saat aku lahir di bumi ini. Bagaimanakah perasaanmu? Jika engkau bahagia. Pastilah aku anak yang paling bahagia di bumi ini. Mengapa tidak! Aku terlahir dengan kasih sayang yang istimewa dari kedua orang tua yang sangat luar biasa. Selalu hadir untuk menampung keluh-kesah hidupmu. Tapi jikalau  tidak! Maafkanlah aku. Sebab aku takut hidupku akan kelam selamanya. karena sejak kecil aku telah banyak menyusahkanmu. Maafkanlah Aku Ibu.
Ibu… saat aku dalam kandunganmu, apakah aku rewel, aku ‘lasak’, aku bandel?  Membuat tidur ibu tidak nyenyak? Ku tahu dari cerita orang-orang. ketika melahirkanku nafasmu sesak, gerakmu terbatas, badanpun terasa berat. Untuk itu Maafkanlah Aku Ibu.
Ibu…. Bahkan Setelah kelahiranku, tak jarang seketika selera makanmu hilang karena Aku ”puuf” sembarangan. Di malam harinya ku bangunkan kelelapan tidurmu, dengan tangisku yang menjadi-jadi. Jika kebiasaan mengganggu seperti itu, masih engkau rasakan setelah aku tumbuh besar. Maafkanlah kekhilafanku ibu.
Ibu… Meranjak remaja, adakah hal yang membuatmu terbesit menyesal melahirkanku? Jika ada, dan ternyata masih tersimpan hingga saat ini. Ku mohon maafkanlah aku.
Ibu… Adakah kata-kata yang baru kupelajari ini, lancang merobek hatimu? Jika kau tersakiti dengan kata-kataku ini, kumohon maafkanlah kesalahan lidahku ibu.
Ibu…. Ku berjalan sering arogan, ku bersikap sering congkak, ku berbicara sering meninggi, ampunkanlah jika semua ini tanpa sadar pernah ku lakukan padamu. Maafkanlah Aku Ibu.
Ibu… Terlalu banyak pengorbananmu untukku; sedangkan aku belum ada berkorban untukmu. Dari balik tetesan air mata hati ini. Ingin sekali ku meminta maaf darimu. Maafkanlah Aku Ibu.
Ibu…. Keikhlasanmu berjuang, kerja kerasmu, usahamu, butiran jagung keringatmu. Benar-benar menjadikanku malu pada diriku sendiri. Aku malu jika kelak kau tidak merasa bahagia pernah membesarkan anak seperti diriku. Maafkanlah Aku Ibu.


Bagiku setiap hari adalah hari ibu. Aku sayang Ibu. I love you Mom.

Sumber Foto: http://mukrominsaleh.blogdetik.com/files/2013/12/ee2761b6234115c384c29ee570101964_ibu.jpg

0 komentar :

Posting Komentar