Sabtu, 01 Desember 2018

Sirait Pulang Kampung

Pulang kampung itu nikmat tak terkira. Dikala semangat diri redup - distrum kembali oleh orang tua. ketika semangat Juang menurun kembali di pompa oleh sanak-saudara. Bercerita masa kecil hingga tukar pikiran menyambut masa depån. Kemajuan mereka menjadi tolak ukur bersama, bahwa kita juga harus berhasil bersama meski dengan bidang yang berbeda. Berguna dengan sekian skill yang ada. Bukankah begitu tujuan hidup kita? Bukankah menyebar manfaat di Bumi Allah ini goal dari kehidupan sebenarnya?

Nikmatnya pulang kampung ketika mampu berbagi keceriaan, mendermakan sebagian rizki, menjenguk sesama dan memperkuat ukhuwah.

Terkadang orang yang jauh di rantau, lama meninggalkan kampung halaman lupa akan niat awal keberangkatan. Hiruk pikuk persaingan melupakan nilai dari kejujuran dan ketulusan, dinamka persaingan melupakan identitas diri yang sebenarnya, untuk itu pulang kampung penting sebagai 'tajdid ruh'.


Rasakan perasaan haru anak kecil saat berlari ke arah Ibu, mengadu atas masalahnya. Tataplah gadis tanggung menangis di pangkuan Ibu seraya bercurah hati pada sang bunda, tétang perasaan yang berkecamuk di pikirannya. Perhatikanlah remaja muda ketika menjumpai ayah, memohon do'a seraya menunggu nasehat berharga sebagai pompaan semangat demi perjuangan yang lebih prima. Adakah ketulusan di sana? Jika ada, itu satu dari sekian banyak defenisi tulus yang kaya akan makna.

Tanah ini tanah batak, Tanah ini tanah kelahiranmu, di bumi ini kamu dibesarkan, setelah dewasa besarkan jugalah kampungmu, binalah wargamu dan rawatlah orang lemah diantara mereka. Jangan seperti kacang lupa akan kulitnya, jangan juga seperti ilalang yang lupa akan tanahnya. Kamu adalah adalah sosok yang tak lupa asal dan muasal diri 'Insya Allah'.

Semangat Putra Tanah air tidak mengenal waktu, kinerja putra bangsa tidak sekedar lisan saja, pergerakan anak negeri tak kenal harı tanpa visi dan misi.

Selama kaki masih berpijak di bumi, di situ juga ladang amal di gali.

Selama nafasmu masih berhembus, semangat tak boleh mati. Selama nyawa masih bersanding dengan jasad upaya tidak boleh surut. Harus terus berinovasi! Kembangkan daya, upaya dan inovasi menuju improvisasi. Yakinlah... Jika mampu berimprovisasi, cita-citamu bukan mimpi.

Kamu adalah apa yang kamu perjuangkan harı ini!

Waktumu sempit, kesempatanmu sedikit. Jika suatu saat kamu merasa sempit, ingatlah kampung halaman, pulangkan pikiranmu sejenak, ingat tujuan perjuangan awal, jangan pulang jika tidak berhasil tapi pulanglah jika keberhasilanmu mampu menginspirasi.

by: Irhas El Fata

0 komentar :

Posting Komentar