PHILOSOPHY

"Wonder is the feeling of the philosopher, and philosophy begins in wonder." [Plato]

KEPESANTRENAN

"Knowledge is an ocean without bound or shore; the seeker of knowledge is the diver in seas. Though his life be a thousand years, never will he become weary of seeking."

CHANCE TO MEET

Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. and Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I., M.Pd

MY BOOKS

Try to Read

ABOUT ME

Hasil adalah kumpulan dari kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas,tanpa mengenal lelah

Minggu, 15 Desember 2019

Aku Belajar Tentang Mental dan Sikap

Mungkin di dalam hati ada berbagai perasaan kerugian jika di nilai dari sudut materi. Tapi tidak jika di telisik dari sudut ruhhiah. Dari sudut materi, Aku merugi tidak dapat Melihat tempat yang paling Indah di kota Sibolga ini, tidak Melihat Pantai dan Pulau yang sangat indah, padahal aku sangat cinta dengan segenap pulau, dan pantainya itu, tapi dari sisi ruhhiah, aku sedang belajar menggambil keputusan sesuai dengan keinginan hatiku, dan aku berusaha kokoh dengan keputusanku. 

Mungkin sekilas Aku merugi dengan kesempatan yang hilang ini, tapi lebih dari pada itu aku beruntung, aku berhasil melewati ujian komitmen, aku bisa mempertahankan tekadku meskipun ujiannya dengan hal yang sangat Aku sukai, meskipun ujiannya terhadap apa yang aku cintai, semoga kedepannya Aku bisa menjadi diriku sendiri bukan orang lain.


Dengan tidak perginya aku, Aku mulai menjadi diriku sendiri, namun sebaliknya dengan perginya aku, aku masih tetap menjadi orang lain, menjadi orang yang mengikuti kehendak orang lain, orang yang terus mengikuti keputusan dan kebijaksanaan orang lain, dan Aku mau bebas dari itu semua, aku adalah aku, aku yang mengatur diriku sendiri, selama tidak menyalahi aturan dan syariat, Aku adalah Aku.

Jumat, 15 November 2019

Khutbah Jum'at; Sodaqoh Jariah


KHUTBAH PERTAMA


أَيُّهَا الحَاضِرُونَ الكِرَامُ


All praise be to Allah SWT, the merciful and the beneficent one who creates the world to the all mankind.

Sholawat and salam be upon to our prophet Muhammad SAW who saved the human life from destruction in the safety, that’s the right path of Allah.

In this chance I would like to explain you about sadaqah Jariyah, do you know sadaqah jariyah?
أَيُّهَا الحَاضِرُونَ الكِرَامُ
Sadaqah Jariyah means a continuous, flowing and ongoing charity. It is one of the most rewarding acts we can do in our lives as the benefits of giving this type of charity can be reaped in this lifetime and long after we have passed.

 Allah (swt) guarantees to record these continuous acts of charity in the following verse:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ١٢


 “Indeed, it is We who bring the dead to life and record what they have put forth and what they left behind, and all things We have accounted for in a clear register.” (Qur’an, Yasin: 12)

The following famous Hadith gives us the good news that even after our death, Sadaqah Jariyah continues to benefit us:


On the authority of Abu Hurairah (ra) that the Messenger of Allah (saw) said, ‘When a person dies, his deeds come to an end except for three: Sadaqah Jariyah (a continuous charity), or knowledge from which benefit is gained, or a righteous child who prays for him’. (HR. Muslim)

To put it simply, they both count as ‘Sadaqah’ (voluntary charity). However, ‘Sadaqah’ on its own will benefit the recipient on a single occasion and will count as one good deed for the giver. ‘Sadaqah Jariyah’ will benefit the recipients more than once and that good deed will continue rewarding you even after your death.

For example, giving someone something to eat is a Sadaqah and will benefit that person in that moment; whereas building a well where people can regularly draw water is a Sadaqah Jariyah and will benefit people for generations to come and in turn will continue benefiting you in this life and the next in sha’ Allah.

Such as example taken from a true story about The Caliph UTHMAN BIN AFFAN AND THE WELL.

When the Muslim migrated to Madina there was severe shortage  of water which troubled the Sahabah (RA). There was only one sweet water well (known as the well of Rauma) owned by a Jew who used to charge astronomical amounts of money for his water.

Sayyidina Rasul-ullah (Sallallaho Alaihe Wassallam) promised house in paradise for the one who buys this well and dedicates it to the believers for their water needs. Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) went to the Jew and offered to purchase his well which he declined.

Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) persisted in his offer and paid enormous money for half of the well. It is mentioned that he (RA) paid somewhere around 20,000 Dirhams for half of the well which is enormous even by today’s standards. (20,000 dirhams is valued at seven hundred and sixty million thousand rupiahs Rp. 760,000,000,-) Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) then made an agreement to have the well to him for one day while the Jew had the other day, on his day Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) gave out free water to anybody.

Nobody came to fill on the day of the Jew so he eventually sold his half share due to lack of business.

Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) dedicated the well for free water and it continues to pump water even to this day.

Over 1400+ years due to abundant water the area around the well become fertile and developed a garden of high quality dates with as many as 1550 trees during the Ottoman rule of Madina. The entire area was endowed to Muslims by Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA) and he never took a penny while the profits keep growing and growing.

The Accounts (today) are kept in a Bank Account in Madina even today of all the profits in the name of Sayyidina Uthman Ibn Affan (RA).

Saudi Government has decided to build a Hotel with this money and the yearly earning are estimated to be 50 million Saudi Riyals. Half of the profits will be spent on the poor while the other half (of the profits) will be deposited back into the Account.

Truly a very inspiring story, because of the sincerity of the caliph helping Muslims, getting rewarded goodness by Allah swt until now.

And the last There are numerous types of Sadaqah Jariyah but in the following hadith seven are mentioned:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ


By name on the authority of Abu Hurairah (ra) who said, ‘the Prophet (saw) said, “Indeed, the rewards of his actions and good deeds that will reach a believer after his death are: [1] knowledge which he taught and spread; [2] a righteous child whom he leaves behind; [3] a copy of the Qur’an that he leaves as a legacy; [4] or a masjid that he built; [5] or a house that he built for wayfarers; [6] a canal that he dug; [7] or charity that he gave from his wealth in his good health and life. [These deeds] will reach him after his death”’. (Ibn Majah)

That is all what I can convey in this time. Thank you very much for your attention.             I hope you get success and prosperity. May Almighty God bless this meeting and guide us in realizing Islamic doctrine for the Muslim and others who want to accept the light as well. May Allah SWT make us worthy being his servant. Amin. 

اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلطَّاعَاتِ فِي هذَا الْيَوْمِ الْعَظِيْمِ وَاسْتَجِبْ دُعَاءَنَا بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ  يآأَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.








KHUTBAH KEDUA


Semua yang Ananda kami lakukan di Pesantren ini telah terhitung badah Insyaa Allah. 
Semua yang Ananda kami lakukan di pesantren ini tidak terlepas dari ibadah-ibadah jariah yang pahalanya sungguh sangat luar biasa di sisi Allah swt.

Diantara pahala yang terus khatib jelaskan adalah pahala amal jariah, belajar dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat dan serta menjadi anak yang sholeh yang membuat orang tua bangga telah melahirkanmu dan membsarkanmu serta melihat perumbuhan dan perkembanganmu menjadi anak yang berguna.



Pertama, Sedekah Jariah.
Merupakan sedekah yang pahalanya tidak terbatas masa. Lintas usia, tua-muda bisa bersedekah jariah, lintas alam ilahiah, di dunia beribadah di akhir tetap terkirim pahalanya.

Contohlah Khalifah Ustman Bin Affan yang telah mewakafkan sumur kepada umat muslim, hingga kini sumur tersebut masih bisa diambil manfaatnya, dapat mengairi perkebunan kurma, hasil uangnya di simpan di bank, dibangungkan hotel, hasil darinya sebagian di gunakan membantu orang miskin yang membutuhkan dan setengahnya lagi di depositkan di bank atas nama khalifah Ustman Bin Affan r.a.

Mencontoh hal tersebut, saat ini sedekah jariah nyata, ada di depan mata adalah upaya perluasan tanah pesantren sebagai lahan dakwah. Manfaatnya untuk umat Islam di seluruh dunia, tujuannya mengharap ridho Allah semata. Maka jadilah salah seorang yang pahalanya tetap mengalir walau dirimu telah tiada.

Namun Jika belum mampu mengeluarkan materi dalam dakwah, luangkanlah waktu untuk memotivasi sesama sebab dengan orang lain mendermakan harta di jalan Allah swt, kamu juga mendapatkan pahala sebesar pahala orang yang bederma tanpa mengurangi pahalanya.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه


“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Selanjutnya, sungguh-sungguhlah dalam berlajar,agar ilmumu bermanfaat di masyarakat, sebab tujuan Ananda kami didik di sini dengan harapan besar menjadi insan kamil. Manusia sempurna, manusia yang menjadi buah bibir masyarakat langit atas kesolehannya; menjadi rebutan manusia di bumi karena keilmuannya, sehingga tidak ada yang keluar darimu, selain manfaat di dunia dan akhirat semata. 

Menjadikan sepanjang orientasi berfikirmu adalah akhirat sebab jika dunia yang kamu kejar tidak akan ada habisnya, namun jika akhirat menjadi tujuanmu maka dunia akan mengikutinya. 

Maka misi utamamu hidup di dunia ini adalah bagaimana dapat menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan sebanyak-banyaknya.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ»


Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. [HR. Ahmad; Tirmidzi; dan al-Hâkim. Dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, 3/313, no. 3363, Maktabul Ma’arif, cet. 1, th 1421 H / 2000 M]


Dan terakhir jangan lupa do’akan orangtuamu dalam setiap sujud dan shalatmu.Tidak ada hal berharga dari pada keshalehanmu, tidak ada yang paling membahagiakan orang tuamu selain ketaatanmu, dan do’amu untuk mereka, Allah telah berjanji dalam Al-Qur’an, Surah gafir, yang berbunyi: 

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ٦٠


Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir : 60).

Selain dari pada itu dalam hadis rasul menguatkan, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Maha Pemalu. Maha Dermawan. Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Maka jangan lupa do’akanlah orang tuamu, mereka butuh do’a tulus dan ikhlas dari anak-anak yang sholeh sepertimu.

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan keberkahan bagi kita dalam mengisi dan mengoptimalkan amalan-amalan baik pada hari Jumat yang mulia ini.


فَاعْلَمُوْا أنّ الله َأمَرَكُمْ بِأمْرٍ بَدَأ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَ ثَنىَّ بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ عَزَّ مَنْ قَائِلِ إِنَّ الله َوَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلى النّبِي يَأيّهَا الّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى نَبِيَّنَا مُحَمَّد و عَلَى آلِهِ وَ صَحَابَتِهِ وَ مَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَ اسْتَنَّ بِسُنّتِهِ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ. ثُمَّ اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَ عُمَر و عُثْمَان و علي و على بَقِيّةِ الصَّحَابَة وَ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ عَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ اْلمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الأمْوَات.

اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَ المُسْلِمِيْن وَ أهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِيْن وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أعْدَاءَ الدِّيْن
اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِك

اللّهمَّ إِنَّا نَسْألَُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَ العَفَافَ وَالغِنَى وَحُسْنَ الخَاتِمَةِ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لنَاَ وَلِوَالِدِيْنَا وَ ارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

ربَّناَ هَبْ لَنَا مِنْ أزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ أعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلمُتّقِيْنَ إِمَامًا

ربَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أنْتَ الْوَهَّاب

رَبَّناَ آتِنَا فِي الدُّنياَ حَسَنَةً وَ فِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَ الإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى و يَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اسْألُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Rabu, 23 Oktober 2019

Tidak Ada Kata Tua Dalam Diskusi Ilmu Pengetahuan

Dalam belajar Aku suka ungkapan “Tidak ada kata tua dalam diskusi ilmu pengetahuan”, sebuah bius semangat yang selalu dapat menyuntik semangat untuk terus bangkit, maju dan berkembang. Merupakan solusi bagi diri yang cinta akan karya tanpa memandang usia, cinta akan ilmu dan hal baru tanpa ingat akan Batasan waktu semata, disaat kesukaan di kerjakan tanpa melihat batasan disanalah awal keberhasilan, hampir para ahli di bidangnya selalu mengatakan demikian.

Sebagai landasan filosofis kecintaan belajar timbul mana kala teringat kata-kata Imam Ali “Man ‘Afara Nafsahu Faqod Arofa Rabbahu” ungkapan sederhana mengajarkan bahwa jati dirilah kunci utama mengenal zat Allah, mengenal ciptaan Allah agar mencapai takjub akan kuasa-Nya, mengenal seluruh kehendak dan Ridha Allah lewat setiap kejadian yang terjadi setiap harinya. Pada Akhirnya tertata iman dengan keyakinan bahwa Allah itu ESA dengan segala ciptaan dan kuasanya sedang kita lemah, tak mampu berbuat apa-apa selain atas izin Allah swt. “La Haula Wa La Kuwwata Illa Billahil’aliyyil’azim,” tidak ada daya dan upaya manusia biasa ini kecuali atas rahmat dan izin Allah swt yang maha agung maha pencipta.

Dalam hal mengenal jati diri, masing-masing kita mungkin sama dan mungkin juga berbeda, tapi disini setidaknya menjadi lahan kita untuk bertukar pengalaman untuk sama-sama belajar, dan bagiku ada 3 hal penting yang harus selalu kukerjakan sebagai upaya ikhtiar mengenal diri meraih ridho ilahi.

Pertama, Kegiatan Kampus
Dalam hal ini Aku menjadikan kampus sebagai ladang untuk bertukar fikiran dan berdiskusi dengan beragam macam teman dan dosen, dari mulai sudut pandang yang berbeda hingga tindak-tanduk perkembangan kontemporer yang semuanya juga berbeda. Pada intinya disini aku belajar bagaimana, meluapkan ide, gagasan, visi-misi, belajar berfikir dan berlogika hingga akhirnya belajar bagaimana menulis karya tulis ilmiah dengan baik dan benar

Kedua, Kegiatan Pesantren.
Disamping kuliah, pesantren adalah rumahku. Selayaknya rumah yang selalu dirawat, dibersihkan, disapu, dan di perindah. Begitu jugalah pesantrenku ini. Pesantren masih perlu untuk terus di bantu, dibela dan diperjuangkan. 

Makna membantunya harus terus berikhlas ria meluangkan waktu dan mengeluarkan tenaga demi kejayaan Islam yang berawal dari pola didik pesantren. Selanjutnya arti di bela di sini pesantren memiliki jati diri yang tidak biasa, dia unik, dia berkilau, dia tinggi, untuk itu semua selalu ada saja yang iri, maka dari itu jagalah ia dari hati-hati yang busuk lagi merugikan. Terakhir adalah diperjuangkan, jika hidup tidak untuk berjuang, untuk apalagi hidup kita? Dimanapun kamu berada di sanalah lahan perjuanganmu menanamkan islam yang harus diutamakan. Untuk itu jika saat ini pesantren tempatmu, maka jadikanlah ia lahan tuk Perjuanganmu yang tak henti. “Untuk itu aku pribadi memilih mengajarkan bahasa Arab, bahasa Inggris, keterampilan Jurnalistik dan Kajian Filosofis di Pesantren ini, 4 keahlianku yang ku gunakan sebagai wadah perjuanganku.”

Ketiga, Kegiatan Harian.
Bertahun-tahun kita hidup selalu di mulai dengan satu hari setiap pergantian bulan ke matahari. Sama halnya dengan kejayaan yang harus di mulai dari langkah pertama, sama dengan perantauan yang harus di mulai dengan ke-nekat-an yang terukur atau bahkan nekat yang 100% tanpa perhitungan tanpa ukuran. Apapun itu kegiatan hariannya, pasti berbuah keberhasilan yang sangat luar biasa jika dilakukan dengan penuh keistiqomahan. Bagiku sendiri dalam keseharian menulis adalah kegiatan wajibku, meskipun terkadang berebutan dan pekerjaan lain dan rasa malas yang terkadang hadir tanpa di undang, heheheh…. Sampai hari ini, alhamduillahnya kegiatan ini dapat terus berjalan, semoga dapat menjadi tradisi dan kebiasaan yang baik. Aamiin.

Keempat, Kegiatan Masa Depan. 
Tidak terlalu banyak masa depan yang dirancang, sebab perancangan terlalu panjang terkadang menyulitkan diri untuk memulainya dari mana. Untuk itu saya cuma punya 9 rencana sederhana ke depan. Rencana menikah, menstabilkan ekonomi, berkarya tanpa henti, melanjutkan kuliah doktoral dan guru besar LN, menjadi orang bermanfaat di masyarakat sebagaimana profesi sebagai ustadz/guru, ahli di bidang bahasa Arab dan Inggris, Penulis produktif, Dosen yang berwawasan luas dan serta memiliki cita rasa hobi musik yang tinggi agar dapat menarik pemuda untuk terus aktif berinovasi.


Kelima, Kegiatan bermanfaat. 
Aku tidak Tahu Persis bagaimana mau membreakdown rangkaian kegiatan yang bermanfaat. Sebab kesemuaannya memiliki kelebihan dan keluasan sendiri dalam memahami konsep dan memberikan perubahan. Yang terpenting yang aku pahami bermanfaat itu mana kala kita mampu membantu orang lain dengan kualitas tuntas yang membuat mereka tersenyum, menangis sehingga tidak mampu berkata apa-apa kecuali tangis yang berlinang sebagai bentuk pengganti kata-kata yang Sudah tidak mampu dirangkai untuk mengucapkan kata lain dari pada terima kasih.

Dari catatan singkat ini, Aku kembali merefleksikan diri bahwa makhluk lemah yang penuh dengan kekurangan dan kealfaan ini, kelak akan menjadi sosok yang luar biasa, jika ia terus belajar, tapi jika tidak, dia bukanlah siapa-siapa.


Akan ada masanya pemikiran kita dipertimbangkan, keputusan kita di cintai dan setiap tindakan kita mendapat dukungan. Meskipun itu sukar, tapi bukan berarti tidak mungkinkan? Tidak ada yang abadi di bumi ini, semuanya silih berganti, sebagaimana dengan awan tebal yang menutupi bulan dan Matahari. Pada akhirnya dia juga akan menghilang sehingga pancaran cahaya menjadi lebih dominan. Orang yang belajar, sama seperti orang yang mengejar cahaya impian, … Ingatkah kamu, Impianmu adalah Dorongan Terhebat yang kamu miliki? Jangan pernah menggap remeh itu!

Senin, 21 Oktober 2019

'Ghirah' Cemburu Karena Allah

Judul Buku: 'ghirah' Cemburu Karena Allah

Penulis: Prof. Dr. HAMKA

Penerbit: Gema Insani, Depok

Cetakan: Ketiga, Rabi’ul Akhir 1438H/Desember 2016 M

Tebal: 154 hlm; 18,3 cm

Resensator: Irwan Haryono S., S.Fil.I


"Hilangnya 'ghirah' agama pada diri seorang Muslim adalah awal dari hilangnya Islam dari dirinya, dan hilangnya Islam dari seorang Muslim adalah awal hilangnya Islam dari masyarakat dan bangsa"


Membahas tentang ''ghirah'' serasa kesadaran diri, dan jiwa yang lemah ini sedang babak belur di hujami kata-kata buya. Terbayang sosok tangguh buya hamka sejak tahun 1982 silam menasehati tanpa henti. Beliau telah mengingatkan berulang-ulang akan pentingnya menjaga 'ghirah', dan lebih hebatnya lagi, apa yang beliau katakan 36 tahun yang silam serasa masih segar, bahkan seakan nasehat kemarin sore yang masih hangat terdengar di telinga menyikapi fenomena negeri yang terjadi belakangan ini
Lebih jelas mari kita perhatikan bagaimana buya hamka mengartikan 'ghirah' demi menanamkan nilai-nilai keislaman yang sangat kental untuk masa depan bangsa Indonesia terkhusus umat muslim.
'Ghirah' atau cemburu ada dua macam, yakni terhadap perempuan dan agama. Jika adik perempuanmu diganggu orang lain, lalu orang itu kamu pukul, pertanda padamu masih ada 'ghirah'. Dan jika agamamu, nabimu, dan kitab suci al-Qur'anmu di hina, dilecehkan, direndahkan, dan disepelekan sedangkan kamu hanya berdiam diri saja, jelaslah 'ghirah' telah hilang dari dirimu.
Jika 'ghirah' atau siri dalam bahas Orang bugis, Makssar, Mandar dan Toraja tidak dimiliki lagi oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah di jajah oleh asing dalam segala sisi. Jika 'ghirah' telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan tiga lapis. Sebab kehilangan 'ghirah' sama dengan mati!
Keras beliau memberikan himbauan, bukan hanya pada umat muslim namun juga 'mewanti-wanti' (baca: diperingatkan berkali-kali) pada bangsa Indonesia agar berhati-hati dalam melangkah jika tidak ada ghirah di dalam dada, sebab langkah tanpa rasa cemburu yang positif, di takutkan langkah lunglai tanpa arah, jauh tertinggal dari semangat leluhur bangsa Indonesia yang kokoh, siap dengan lantang menyuarakan kemerdekaan berkobar semangatnya dan terpatri erat nilai ilahi dalam hatinya.
Samar-samar dari ujung surau seakan terdengar suara beliau memberi petuah kembali, menceritakan bagaimana 'ghirah' itu dimaknai sebagai syaraf, rasa malu, nyawa dan harga diri. Sampai keluar satu ungkapan hebat dalam pribahasa pemuda minangkabau: "Arang tercoreng di Kening. Malu tergaris di Muka", (Kalau rasa malu menimpa diri, tidak ada penebusnya kecuali nyawa.
Begitu dahsyatnya orang tua minang mendidik putra-putrinya sebagai generasi minang yang kental akan jati diri. Selain itu juga di antara pesan yang sering di ulang-ulang kepada anak-anaknya adalah agar menjaga syarat dan menghidupkan 'ghirah'. Kembali  Pesan orang tua minang pada anak lelakinya "Jaga adikmu. Ingatlah, semua yang memakai kutang dan berambut panjang adalah saudaramu dan ibumu." Pesan leluhur yang harus selalu diingatkan pada pemuda kampungnya untuk menjaga saudara seadat sekampung setanah air, dapat dilihat di awal buku ini tepatnya di halaman 4 pada paragraf kedua.
Bila setiap jiwa memiliki 'ghirah' demi menjaga muruah pada diri, keluarga, agama, serta bangsa dan negara; negeri kita pasti akan aman dari pengaruh luar yang menginginkan negeri ini bobrok dan jauh dari pembodohan masal yang menginginkan negeri tetap terbelakang, untuk itu pembentengan diri yang kuat dengan nilai-nilai Islam itulah salah satu solusinya.
Untuk itu walaupun istilah 'ghirah' terlahir dari konsep Islam namun dalam pengaplikasiannya 'ghirah' bukan hanya milik orang Islam yang sering di cap fanatik oleh bangsa Barat namun 'ghirah' atau Syarah (Arab) juga milik setiap jiwa manusia, bahkan masing-masing daerah atau negara memiliki istilah sendiri untuk menyebutnya, sebab dalam ghirah terkandung visi dan misi untuk menjaga muruah pada diri, keluarga, agama dan negaranya. 
Bukankah 'Ghirah' juga milik Mahatma Gandhi yang terkenal dengan berpemahaman luas dan berperikemanusiaan tinggi, sampai ia bersedia melakukan apa saja untuk mencegah adik Yawaharlal Nehru, Viyay Lakshmi Pandit, dan Anaknya, Motial Gahndhi, Keluar dari Agama Hindu.
Untuk itu ghirah yang terangkum dalam buku saku ini, di tulis secara global untuk seluruh masayarakat yang dihatinya terdapat semangat perjuangan mempertahankan harga diri, negara tumpah tanah air, namun secara spesifik menanmkan nilai-nilai perjuangan kaum muslimin yang sesungguhnya.
Sebagai pendalaman materi dan perluasan wawasan kiranya, pembaca dapat menghabiskan bacaraan buku mini ini, sebab hadirnya kini ibarat obor di tengah malam yang gelap, petunjuk jalan di tengah-tengah negara yang tak tahu arah, dan penasehat bijak di antara hoax dan berita bohong yang beterbangan liar di angkasa ibu pertiwi.
Secara ringkas kami sampaikan bawah buku ini di susun dalam 8 sub. Judul Pertama: 'ghirah' (cemburu). Kedua: Cemburu Karena Agama. Ketiga: Cemburu dan Pribadi. Keempat: 'Ghirah' pada Gandhi. kelima: Al-Ghazwul Fikri. keenam: Untuk kita pikirkan bersama. Ketujuh: Siri, dan terakhir kedelapan: Pandangan Islam terhadap Siri.


Untuk selanjutnya kami sampaikan..... Selamat membaca 

Jumat, 11 Oktober 2019

Dunia Hobi dan Skill



Hobi dalam KBBI berarti: Kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Itulah arti yang tertulis di KBBI online, bayangkan apa jadinya jika kesenangan kita berubah menjadi ladang pendapatan? Kita senang bernyanyi dengan bernyanyi kita mendapatkan uang. Kita senang melukis, dengan lukisan kita mendapatkan penghasilan, kita senang menulis dengan tulisan kita menabung, kita cinta mengajar, kita gebar kotak-katik youtube, kita senang up to date vidio, kita senang dengan perangkat komputer, kita tergila-gila dengan bahasa pemprograman, jika semua kegemaran itu, kesengangan itu, kecintaan itu dijadikan pekerjaan utama, pekerjaan yang difokuskan, pekerjaan yang di konsistenskan, bagaimanakah jadinya?

Mari kita coba sepakat untuk menggabungkan antara hobi dan skill, jika hobi dimaknai sebagi suatu pekerjaan yang kita lakukan dengan penuh suka cita, rela, senang dan gembira, maka ada keterkaitan erat dengan skill biasanya. Yaitu sebuah dorongan yang terus memicu kita untuk bisa menjadi lebih baik, berkembang lebih aktif dalam hobi yang sudah mulai merayu simpati kita.

Adanya hobi mengundang rasa keingintahuan, begitu tahu timbul semangat untuk terjun lebih dalam, setelah terjun ternyata semakin bisa di nikmati prosesnya, ujung-ujungnya semua yang di jalani terasa sangat nikmat, sampai-sampai keluar ungkapan, “seandainya pun hobi yang di lakukan ini tidak dibayar, tidak apa-apa, sebab inilah hobi saya, dibayar atau tidak dibayar saya tetap akan melakukan ini.”. Nikmat bukan? dan akhirnya sampailah makna skill sebagai “The ability to do something well; expertise.” Kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik; sesuai keahlian.

Dengan hiruk pikuk cobaan dunia, dengan beranekaragam masalah kehidupan, dan yang lebih dekat dengan kesimpangsiuran berita dan pengalihan isu, masih inginkah kita kehilangan waktu hanya untuk itu? Terbuai dengan isu yang sangat nyata dibuat-buat, terbawa alur ombak gosib yang itu sengaja di buat pasang, termakan kabar bohong yang jelas-jelas tidak bernutrisi, akankah itu terus di konsumsi?  Tidak… Cukupkanlah… Sudah cukup membuang-buang waktu selama ini untuk itu semua.

Sekarang saatnya berfikir bagaimana hobi bisa semakin berkembang, dan kemudian memperbanyak uji coba bakat-kemampuan yang terpendam. Kelak ketika hobi sudah menjadi skill yang diakui orang banyak, nilai kita akan sebading dengan kebermanfaatan kita. 

Nanti jika sudah dapat uang, menjadi orang kaya raya, jangan lupa semakin kuat doa'anya dan berdo’alah agar hidup kita lebih berguna dan bermanfaat lagi untuk masyarakat yang lebih luas, rakyat Indonesia, negara Indonesia serta dunia dan seisinya.

Jadi fokus coretan kali ini adalah bagaimana agar kita tidak tergerus dan terbawa arus medsos dan isu-isu pengalihan, yang tersajikan bebas di sekeliling kita, tapi sebaliknya yaitu bisa menguasai berita, selektif dengan info yang diterima dan akhirnya menjadikan kita lebih sibuk dengan hobi, pengembangan skill, minat serta bakat sehingga berujung pada kebermanfaatan buat orang banyak.  

Semenarik-menariknya berbicara dunia, lebih menarik berbicara manusia, sisi positifnya tidak akan ada habis-habisnya untuk terus di bahas dan di cerna.  itu menurut saya, bagaimana menurut Anda?

Kamis, 10 Oktober 2019

Sikap


Banyak hal mendasar yang membedakan antara seseorang dengan orang lainnya; salah satunya adalah sikap. Sikap itu sendiri memiliki banyak perbedaan di lapangan. Ada yang di nilai salah dalam bersikap padahal benar, ada yang memang selalu salah dalam bersikap, ada yang yakin dengan sikapnya padahal salah dan ada juga yang ragu-ragu dalam bersikap padahal sudah tepat, terakhir ada yang begitu yakin dengan sikapnya padahal kekeliruan dan keluguan. Pada intinya bukan hanya bentuk paras seseorang faktor utama penilaian orang lain, juga bukan sekedar gaya yang membedakan kita dengan yang lainnya, jadinya apa? Sikaplah jawabannya.

Sikap egois, tidak ambil peduli, atau terlalu peduli, dan atau fokus adalah contoh sikap yang terlahir sekejap seiring permasalahan itu datang. Dan disanalah orang saling menilai satu dengan yang lainnya.

Sikap terbaik yang harus diambil ketika permasalahan itu ada dan timbul adalah dengan menghadapinya. Cara efektifnya menurutku dengan memikirkannya terlebih dahulu secara benar-benar matang, termasuklah di dalamnya keuntungan ataupun kerugiannya, sehingga pada akhirya sampailah pada pengambilan keputusan atas dasar keyakinan total. Dan itupun tidak hanya berhenti disana, masih ada komitmen mempertahankan keputusan yang harus di pegang teguh. Sebelum selesai akan timbul tambahan masalah yang jika mampu di hadapi akan berubah menjadi peluang atau malah menjadi resiko tambahan yang lebih besar. Tergantung bagaimana kita menghadapinya. Dari sanalah kamu mulai benar-benar belajar tentang sikap.

Saran saya, ketika bertemu dengan permasalahan jangan pernah menganggap itu beban dan jangan menyalahkan diri sendiri setelah mengambil keputusan, yakinlah ada sisi positif dari keputusan yang telah kamu ambil. Seminim-minimnya, kamu telah mencoba untuk menjadi dewasa, dan itu sangat positif. Jadi jangan pernah merasa bersalah untuk satu langkah baru dalam hidupmu.


Pada akhirnya, pandai-pandailah bersikap, pandai-pandailah mengevaluasi diri, terutama evaluasi diri dan kegiatan Sebelum tidur malam. Apakah kamu di jalan yang benar atau tidak seharian yang telah dilewati. Jika yakin benar, lanjutkan namun jika salah, cepat-cepatlah bertobat dan kembalilah ke jalan yang benar. Wallau’alam bisshoab

Sabtu, 28 September 2019

Aku Merasa Rugi Ilmu

Kerugian yang paling merugi saat ini adalah kerugian ilmu. Dan yang membuat kerugian itu semakin mengalami tekanan ketika diri terpengaruh dengan orang lain. Disana sebenar-benarnya penyesalan dan kerugian. Seyogyanya berpikir bahwa  “Kuliahku bukan karena orang lain. kuliahku untuk konsumsiku, untuk konsumsi akalku, sebagai bekalku terjun di masyarakat luas nanti.” Bukan karena dosennya tidak hadir sebagian makanya aku tidak hadir, bukan karena teman banyak yang izin membuat semangatku surut dan tidak pasang lagi, bahkan ekstrimnya harus berfikir seandainyapun dosennya tidak hadir semuanya, semangatku harus tetap hadir, dan harus selalu siap untuk  belajar, sebab hakikat kuliah bukan karena orang lain, namun karena memang ingin kuliah.

Meskipun kuliah tidak harus tatap muka dan duduk di dalam kelas, tapi interaksi ilmu bersama guru langsung, bagiku sangat penting dan itulah hakikat ilmu yang bersanad menurutku.

Ada penyesalan dalam hati ketika dengan sengaja mengorbankan tidak masuk kuliah hanya karena ingin memberi pelajaran kepada orang lain. Seharusnya Aku sadar filosofi lilin, seharusnya aku ingat filosofi pensil, berkorbanlah tapi jangan jadi korban, namun disini aku menjalani keduanya. Seandainya aku ingat, pasti tidak keputusan ini yang Aku ambil. Astaghfirullahal’azim..

Mulanya sudah termindset di kepala untuk mengikuti perkuliahan di setiap hari sabtu. Namun sepanjang sore sampai malam terdengar kabar ketidakhadiran dosen, konfirmasi dosen yang belum ada, segala info ketidak pastian tersebar dan lain sebagainya via WA. Seketika membuat pikiran dan hati berbolak balik, bimbang mengikuti perkuliahanlah ujungnya. Instink malas mulai melogikakan jarak tempuh kuliah, otak bisnis mulai memikirkan untung rugi tenaga yang dikeluarkan, perasaan baperpun mulai terusik dengan beberapa kasus yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, membuat akal pendek mengambil keputusan untuk tidak hadir perkuliahan.

Mulailah alasan beranak pinak hingga ke cucu, menghasilkan pilihan yang beraneka ragam. Ada alasan penugasan, tugas dadakan, acara penyambutan tamu, menguji ujian, dan alasan kesibukan lainnya, walaupun itu benar-benar sedang dihadapi pasti ada yang prioritas yang harus di kedepankan seharusnya.


Pelajaran yang ku petik dari kejadian hari ini adalah: Ternyata tidak hadir kuliah dengan tanpa alasan syar’i sungguh penyesalan yang nyata.
Cukup kali ini adalah kali pertama dan terakhir mejalani pengalaman keilmuan yang menyedihkan ini. Kedepannya harus berpikir 1000 kali lipat untuk meninggalkan perkuliahan. Terbayang wajah para kakek Alm hamka dan Alm. Habibie melirikku, mengisyaratkan untuk tidak mengulanginya kembali. Samar-samar pesan mereka kembali tergiang bahwa “Kita ini terlahir dari bangsa baik, terbesarkan untuk menjadi bangsa besar, memiliki pikiran besar, dan bercita-cita tinggi menjulang ke angkasa."

Untuk itu, semangat juang dan usahaku harus lebih besar dari apa yang telah di contohkan kakek-kakekku. Sebab sadar tidak sadar, mau tidak mau, Aku yang sekarang adalah miniatur bagaimana Aku dimasa akan datang. Maka buatlah miniatur kejayaan bukan miniatur kebobrokan.

Sabtu, 28 September 2019


Minggu, 01 September 2019

Semangat Tahun Baru Islam 1441 Hijriah Semangat Menjadi “Baik”

Pada umumnya peringatan tahun baru Hijriah selalu di rayakan dengan berbagai macam  kegiatan, baik berupa perayaan besar-besaran ataupun kecil-kecilan. Dalam lembaga biasanya diperingati  dengan upacara civitas lembaga, bisa juga dengan parade baris berbaris, ada juga dengan pawai keliling. Dalam peringatan lainnya, secara umum diadakan pameran artefak hijrah rasul, perlombaan keagamaan, dan lomba-lomba lainnya untuk memeriahkan hari tersebut, namun kali ini bukan itu yang saya maksudkan, lebih kepada semangat perubahan menjadi lebih baik, itulah titik fokus coretan ini.

Berawal dari do’a Kyai Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor) yang selalu menyelipkan bait do’a indah ketika memimpin do’a. “Ya Allah jadikanlah kami umatmu yang baik dan perbaikilah umat kami. Jadikanlah kami rakyat yang baik dan perbikilah rakyat kami. Berikanlah kami pemimpin yang baik dan perbaikiah pemimpin-pemimpin kami. Jadikanlah guru-guru Kami guru-guru yang baik dan perbaikilah guru-guru kami. Jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang baik dan perbaikilah anak-anak kami. Jadikanlah wali santri kami baik dan perbaikilah wali santri kami” Petikan do’a yang sungguh 5 tahun lamanya tidak saya dengarkan lagi, kali ini serasa beliau ada di sini, saat salah seorang ustadz di pesantren menyelipkan bait tersebut dalam do’anya usai upacara peringatan 1 Muharram 1441 H.

Yang menarik disini, yang membuat saya sadar adalah ‘matan’ (baca: Isi) dari do’a tersebut, sangat sederhana, kita meminta agar supaya ditetapkan Allah menjadi umat yang baik, pribadi yang baik dan insan yang baik,

Bagaimanakah baik itu sebenarnya?

Setelah pertanyaan ini saya layangkan mungkin setiap kita memiliki defenisi sendiri seputar kata baik. Namun dalam kaca mata saya pribadi, baik adalah ketika kita selalu ada untuk membantu orang lain dengan Penuh keikhlasan dan kesadaran tanpa harap kembali, baik itu balasan maupun ucapan terima kasih, itulah baik menurut saya. 

Berbeda pendapat saya, berbeda juga baik jika dilihat dari sudut pandang pesantren yang mengartikan orang baik adalah orang yang siap terjun ke plosok-plosok negeri, mengajarkan ilmu-ilmu agama, walau satu huruf, walau satu bait, di surau-surau terpencil, di masjid-masjid terpencil, itulah orang baik menurut pesantren sejauh yang saya tahu.

Namun pada intinya bagiku menjadi baik itu adalah upaya besar seseorang agar dapat menaiki tangga kehidupan menjadi “insan kamil” (manusia yang sempurna). Jalannya tidak mudah, upayanya juga cukup sulit, tapi selama ada keyakinan kuat lillah semoga ‘insan kamil’ bukan hanya sekedar cita-cita semata, namun dapat menjadi hal nyata pada akhirnya.

Menarik ketika mengenang samar-samar guru dulu pernah berpesan bahwa menjadi sosok manusia sempurna itu tidak mudah, banyak rintangan dan cobaan, ada yang taat Ibadah namun sombong dengan ibadahnya, mengira bahwa dengan ibadahnya itu ia bisa masuk syurga, ujung-ujungnya ibadahnya sia-sia. Oleh sebab itu, boleh jadi di dunia seseorang diangkat begitu sangat mulia namun di akhirat di anggap biasa saja, nauzubillah bila sampai di anggap hina, namun bisa jadi juga kebalikannya, di dunia di pandang hina namun di akhirat begitu sangat mulia bahkan namanya selalu di sebut-sebut oleh seluruh penduduk syurga, wallahu ‘aalam.

Sebagai penutup dari catatan ini, tidak ada harapan diri yang penuh dengan dosa ini selain dari pada perlindungan Allah swt di hari yang tak mampu seorangpun menolong orang lain selain atas izin Allah swt,. Kepada Allahlah saya memohon pertolongan, kepada Allah lah saya memohon ampunan.

Allahumma sholli wasallim ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Muhammad,
Innallaha wa malaa ikatahuu yusolluuna ‘alannabie ya Ayyuhal ladziina Aamanuu, shollu ‘alaihi, wasallimu taslima,

Wallau musta’aan.

Rabu, 14 Agustus 2019

Khutbah Pernikahan Kakek Hatobangon untuk cucunya

Seorang kakek tertua di kampung Lumut ini berpesan singkat, tidak panjang penyampaiannya padat muatannya, sekilas di terjamahkannya ke dalam bahasa Indonesia, namun lancarnya dengan bahasa batak mandailing,… Intinya ada 5 hal yang beliau sampaikan, yaitu: Belajar, musyawarah, rendah hati, berbakti, bertakwa,

Dengan sedikit penjelasan dari beliau:

1. Belajar

Kehidupan bekeluarga adalah seperti lembaga baru yang harus di pelajari bentuknya, isinya dan cara menjalaninya, anak-anak saya ini telah menamatkan sekolah tinggi, secara keilmuan sudah cukup dewasa, namun dalam ilmu berumah tangga harus banyak belajar dari orang lain, sebab tidak ada sekolah tinggi khusus rumah tangga, namun gurunya ada dan banyak, siapa itu guru-gurunya? Kami-kami inilah gurunya, kami-kami inilah saksi-saksinya,…bertanyalah kepada kami semoga kelak anak-anak kami langgeng, sakinah, mawaddah, warahmah.

2. Musyawarah

Banyak hal yang harus di musyawarahkan dalam berkeluarga. Sebab keputusan tidak bisa hanya dari satu pihak tapi harus keduanya, yang jika di matematikan dalam bekeluarga 1 tambah satu adalah 1 bukan 2, dalam berpedapat, satu pendapat istri, satu lagi pendapat suami, dan hasilnya tetap juga harus satu, harus ada yang mengalah harus ada yang mampu memahami sehingga hasilnya tetap satu, hasilnya tetap keutuhan bukan perpepacahan atau kesalah pahaman. Begitulah idealnya bermusyawarah dalam keluarga.

  1. Rendah Hati
Allah benci dengan orang sombong, Allah tidak melihat orang yang sombong, ada banyak itu Allah berbicara tentang sombong ini di dalam Al-Qur’an yang juga kakek rasa kalian juga sudah paham, dan tahu betul dalil-dalilnya, namun di sini kakek Hanya berusaha mengingatkan kembali yang kiranya lupa agar terus dapat di ingat.
Semasa saat ini harus rendah hati, tidak boleh sombong, tamat sekolah tinggi juga harus lebih rendah hati lagi, tidak ada apa-apanya kita dengan kesombongan. Setinggi apapun kita di dunia tetap kecil di hadadapan Allah, tetap tidak ada apa-apanya di sisi Allah.

Orang yang sombong tidak akan banyak temannya, dalam pergaulan tidak banyak yang akan membantunya.

Perlu kita pahami selalu bahwa kita ini adalah makhluk sosial, kita semua membutuhkan orang lain dalam kehidupan, sebagai contoh kecilnya, saat ini kamu anak-anakku, menikah, di persatukan membutuhkan kami, hatobangon, tokoh masyarakat, perangkat pemerintah, cekdik pandai, alim-ulama, usatadz Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah 2 untuk menyaksikan dan mendo’akanmu, dan memang beginilah layaknya kita hidup bermasyarakat, harus bergaul dan harus bisa masuk di tengah-tengahnya dengan sangat baik.

Dengan bermasyarakat kita mendapatkan banyak hal, pengalaman dan pengetahuan. Dan dengan bermasyrakat juga kita  mengetahui banyak, belajar banyak, mendapatkan apa yang tidak kita dapatkan di bangku sekolah manapun, yakinlah tak jarang dengan bermasyarakat juga, pintu rizki kita dapat terbuka.

  1. Berbakti Kepada orang tua
Tidak ada yang akan tampil muda selamanya, tidak akan ada yang tampil prima setiap saat, semuanya pasti akan berlalu. Orang tuamu yang saat ini masih terlihat muda kelak akan menjadi seperti saya, tua, kurus dan sakit-sakitan. Maka dari itu harus ingat selalu pada orang tuamu, harus berbakti selalu pada orang tuamu, sebab apa? Sebab merekalah yang membesarkanmu, berjasa penuh dalam kehidupanmu, sampai seperti ini juga kamu tidak lain hasil dari pada do’a orang tuamu. sebab memang begitulah seharusnya seorang Anak bermu’amalah pada orang tuanya.

Jangan membedakan keduanya, sebab keduanya adalah orang tua yang harus kita sayangi, kita hormati, dan kita baktikan seluruh jiwa dan raga ini.

  1. Bertakwa
Dengan muatan menikah ini anak-anak kami telah menjalankan satu dari perintah Allah dan sunnah rasulullah, secara perhitungan agama telah sempurna yang setengah, namun secara proses di butuhkan penyempurnaan di setengah sisanya, maka dari itu jangan pernah berhenti dari bertakwa pada Allah swt, bersedia menjalankan seluruh perintah Allah swt Bersama-sama dan Ikhlas meninggalkan seluruh larangan Allah tanpa terkecuali. Dengan demikian mudah-mudahan Allah selalu Ridho dan meridhoi setiap Langkah anak-anak kami.

Demikian sambutan dan nasehat si kakek dalam khutbah nikah tersebut, singkat memang, sedikit memang namun benar-benar padat dan tersesapi maknanya,… Akhir kata semoga dengan saya menuliskan sambutan si kakek di blog ini dan seterusnya di baca oleh banyak orang, semoga setiap hurufnya  bernilai pahala jariah untuk si kakek. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Lumut, 14 Agustus 2019
19.30 wib - 21.30 wib