Selasa, 22 Januari 2019

Terima Kasih Telah Merindu


Rindu ungkapan bebas yang setiap orang berhak untuk mengatakan, mengungkapkan bahkan sampai menyembunyikannya. Mana yang paling membuatmu nyaman silahkan rasakan dan jalankan.

Selama hidupmu menginginkan sesuatu yang belum ada pada dirimu tanpa usaha terpadumu, semuanya akan menjadi berat, namun tidak demikian hasilnya jika kamu menikmatinya. Sampai pekerjaan yang paling tidak mungkin sekalipun akan menjadi sangat mungkin, dan Insya Allah akan kamu dapatkan jika totalitas menjadi sikapmu saat menjalani proses tanpa hitungan waktu.

Sebagai contoh, selalu menghabiskan waktu dengan menunggu terasa lebih panjang, dari pada menjalani waktu tanpa menunggu; selalu menghitung-hitung energi dalam bekerja, menjadikannya berat dari pada menjalani pekerjaan tanpa hitungan dan pekalian untung rugi. Semuanya akan terlihat dan tergambar persis sebagaimana yang kamu rasa.

RINDU, lima huruf yang memiliki mantra luar biasa dalam ikatan dan kemesraan,.. Rindu pada Allah swt akan mendorongmu giat dalam ibadah lillah, rindu pada nabi akan menjadikan shalawat padanya setiap waktu tanpa henti, sedang rindu pada ciptaan Allah, seorang makhluk ciptaan Allah, biasanya akan berujung pada 2 kemungkinan, apakah itu akan abadi selamanya, atau hanya seperti udara, sepoi sesaat, hilang sedetik kemudian. Begitulah rindu yang saat ini kupahami.

Ada 5 turunan dari kata rindu yang ku tafsirkan sendiri:

Pertama: Rasa, merupakan irama terkecil dalam hati yang slalu hadir seiring bergantinya waktu, bisa setiap tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, bahkan detik, tergantung bagaimana rasa yang di pupuk, di rawat dan di jaga bagi setiap individunya. Tidaklah berbeda antara rasa dan suara jika keduanya dapat di utarakan, namun sayangnya sering kali salah satu tidak transparan.

Kedua: Indah, bukankah karena hal itu indah menjadi susah untuk dilupakan? atau karena itu terlalu menyedihkan sehingga sulit untuk di hilangkan? Walaupun itu moment sejenak, walaupun bertemu juga hanya sekedar, walaupun tidak menghabiskan waktu seharian, mingguan dan bulanan, namun kenangan waktu pendek tersebut menggelembung menjadi satu kenangan sulit untuk dilupakan, selalu tersimpan dalam, sangat dalam dan begitu dalam.

Ketiga: Nostalgia, apa hal yang paling membuat diri menjadi seorang lembut hatinya, kuat semangatnya, dan pantang menyerah mottonya? salah satunya dengan sering nostalgia,… Bernostalgialah terhadap sesuatu yang mengubahmu ke arah yang lebih baik, ambil hikmah dari setiap tragedi, ambil pelajaran dari setiap kejadian, dan sigaplah ambil peran untuk masa depan, sebab nostalgiamu akan berujung pada satu tindakan, jika kamu bisa menjadikannya pelajaran yang sangat berarti.

Keempat: Dorongan, apakah selain rindu ada hal lain yang mampu mendorong seseorang melakukan sesuatu? Akankah keinginan berjumpa sekali menyebabkan ingin bertemu lagi? Dan setelah berjumpa sekian kali masih bersisa semangat ingin berjumpa lagi? Jika demikian, berhati-hatilah, periksakan hatimu,.. Di takutkan hatimu telah menyukai salah satu ciptaan sang ilahi rabbi,.. Jaga hatimu, semoga dorongan itu selalu suci

Kelima: Umpama, bukan perjumpaan itu yang membuat hatimu bergetar, tapi perjumpaan dipikiranmu yang membuat dirimu tak karuan, jika nanti bertemu harus bagaimana… Kalau sudah duduk ingin bercerita apa… Jika sudah berjalan bersama apakah harus diam atau memulai membuka bicara… Jika nanti tidak sesuai rencana apakah ini akan menjadi perjumpaan terakhir… Umpama ini perjumpaan terakhir akankah hal ini menjadi suka atau duka… Begitulah umpama meniupkan nyawa kehidupan, seakan kita hidup dimana-mana, seakan-akan kita hidup dalam berjuta rasa, dan seakan-akan kehidupan kitalah yang paling memliki sensasi luar biasa.


Umpama pertemuan itu terjadi apakah rindu itu akan berhenti? atau malah sebaliknya? kalau sudah demikian mana yang lebih mendominasi, apakah kegembiraan atau kesedihan? Umpama berjumpa kembali akankah pelukanmu lebih hangat dari sang mentari pagi? Ataukah angan itu terbakar dengan teriknya sang mentari tengah hari? 

Pada intinya, “waktu dan rindu belum bertepi, terima kasih telah merindu.”
.
.
.
.

Irhas el Fata
Lumut, TAPTENG - SUMUT - INDONESIA

Selasa, 22 Januari 2019. 21.35 wib

0 komentar :

Posting Komentar