Sabtu, 28 September 2019

Aku Merasa Rugi Ilmu

Kerugian yang paling merugi saat ini adalah kerugian ilmu. Dan yang membuat kerugian itu semakin mengalami tekanan ketika diri terpengaruh dengan orang lain. Disana sebenar-benarnya penyesalan dan kerugian. Seyogyanya berpikir bahwa  “Kuliahku bukan karena orang lain. kuliahku untuk konsumsiku, untuk konsumsi akalku, sebagai bekalku terjun di masyarakat luas nanti.” Bukan karena dosennya tidak hadir sebagian makanya aku tidak hadir, bukan karena teman banyak yang izin membuat semangatku surut dan tidak pasang lagi, bahkan ekstrimnya harus berfikir seandainyapun dosennya tidak hadir semuanya, semangatku harus tetap hadir, dan harus selalu siap untuk  belajar, sebab hakikat kuliah bukan karena orang lain, namun karena memang ingin kuliah.

Meskipun kuliah tidak harus tatap muka dan duduk di dalam kelas, tapi interaksi ilmu bersama guru langsung, bagiku sangat penting dan itulah hakikat ilmu yang bersanad menurutku.

Ada penyesalan dalam hati ketika dengan sengaja mengorbankan tidak masuk kuliah hanya karena ingin memberi pelajaran kepada orang lain. Seharusnya Aku sadar filosofi lilin, seharusnya aku ingat filosofi pensil, berkorbanlah tapi jangan jadi korban, namun disini aku menjalani keduanya. Seandainya aku ingat, pasti tidak keputusan ini yang Aku ambil. Astaghfirullahal’azim..

Mulanya sudah termindset di kepala untuk mengikuti perkuliahan di setiap hari sabtu. Namun sepanjang sore sampai malam terdengar kabar ketidakhadiran dosen, konfirmasi dosen yang belum ada, segala info ketidak pastian tersebar dan lain sebagainya via WA. Seketika membuat pikiran dan hati berbolak balik, bimbang mengikuti perkuliahanlah ujungnya. Instink malas mulai melogikakan jarak tempuh kuliah, otak bisnis mulai memikirkan untung rugi tenaga yang dikeluarkan, perasaan baperpun mulai terusik dengan beberapa kasus yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, membuat akal pendek mengambil keputusan untuk tidak hadir perkuliahan.

Mulailah alasan beranak pinak hingga ke cucu, menghasilkan pilihan yang beraneka ragam. Ada alasan penugasan, tugas dadakan, acara penyambutan tamu, menguji ujian, dan alasan kesibukan lainnya, walaupun itu benar-benar sedang dihadapi pasti ada yang prioritas yang harus di kedepankan seharusnya.


Pelajaran yang ku petik dari kejadian hari ini adalah: Ternyata tidak hadir kuliah dengan tanpa alasan syar’i sungguh penyesalan yang nyata.
Cukup kali ini adalah kali pertama dan terakhir mejalani pengalaman keilmuan yang menyedihkan ini. Kedepannya harus berpikir 1000 kali lipat untuk meninggalkan perkuliahan. Terbayang wajah para kakek Alm hamka dan Alm. Habibie melirikku, mengisyaratkan untuk tidak mengulanginya kembali. Samar-samar pesan mereka kembali tergiang bahwa “Kita ini terlahir dari bangsa baik, terbesarkan untuk menjadi bangsa besar, memiliki pikiran besar, dan bercita-cita tinggi menjulang ke angkasa."

Untuk itu, semangat juang dan usahaku harus lebih besar dari apa yang telah di contohkan kakek-kakekku. Sebab sadar tidak sadar, mau tidak mau, Aku yang sekarang adalah miniatur bagaimana Aku dimasa akan datang. Maka buatlah miniatur kejayaan bukan miniatur kebobrokan.

Sabtu, 28 September 2019


0 komentar :

Posting Komentar