Sabtu, 12 Oktober 2019

Jurnal Perjalananku

Sabtu, 15/12/18 & Ahad, 16/12/18
.

* 20.00 wib
Dari Lumut Aku melangkah meninggalkan Pesantren dengan travel andalan Sibolga, Flores namanya, yang bikin aku senang, travel ini lambangnya lumba-lumba, mengingatkanku pada satu moment penting dalam hidupku di kala itu.

** 22.00 wib
Persinggahan pertama di rumah makan Padangsidimpuan, jalan yang sering ku lewati tapi rasanya baru kali ini Aku sadar disini ada rumah makan ini. Kecil, imut tempatnya, plus ada masmbak (1/2 mas 1/2mbak) yang lincah gemulai, rautnya pria penampilan dan gerak-geriknya kewanitaan banget, dan ampunnya lagi dia senyum-senyumin aku… wah gaswat .. Ampun ndoro. 

*** 16/12/18. 04.00 wib
Kedua kali tempat Aku berhenti di rumah makan bundo, tidak terlalu jelas letaknya di jalan apa, tapi sudah dekat Bukit Tinggi kata supirnya, begitulah yang Aku tahu.

**** 06.00wib
Aku tida di Bukit Tinggi, pertama kali dalam hidupku menyusuri jalanan penjang di waktu subuh di tempat yang asing, baru Perdana di kunjungi, tepatnya sebuah simpang lapangan parkiran bus-bus aku berjalan kaki menyusuri temaram lampu jalan yang masih terlihat jelas sisa-sisa malam.

Menuju Jam Gadang Bukit Tinggi, berjejer kursi tunggu ku lalui, unik rasanya, di tengah kota, di pinggiran jalan besar ada bangku panjang seperti di taman, tak ku temukan sisa-sisa sampah hasil keramaian, penuh hikmat ku lalai, damai melihat kota yang masih sunyi, dari jalan besar ku menaiki taman pahlawan ada patung pahlawan disana, ku turuni taman masuk ke lorong jalan lebih kecil, mencari masjid yang buka untuk menunaikan shalat subuhku, hingga akhinya ku berhenti di satu masjid “Nurul Haq” namanya. Shalat subuh disana, dan kembali ku susuri jalanan yang mulai berisi angkutan kota. 
.
.
Tampak ada sebuah tangga mengarah ke atas, tertulis di atas prasastinya “Janjang Pasanggrahan” Hanya puluhan anak tangga memang tapi lumayan pegel jugalah… Teringat baru 2 hari yang lalu usai mendaki anak tangga makam papan tinggi, tangga makam seribu, begitu juga orang-orang biasa bilang.

Sampai di ujung tangga teratas, menurut arah berdiriku ke kiri ke arah kebun Binatang dan ke kanan ke Arah Masjid Raya Bukit Tinggi,.. Perlahan ku pilih arah ke masjid, terpaku sejenak lurus tepat di depan gerbang masuknya, sambil lirih suara hatiku bergemuruh “ini nyata, sungguhan, Aku telah tiba di Bukit Tinggi” menolehku ke arah kiri, Tampak jelas Jam Gadang berdiri kokoh lebih menjulang tinggi mengalahkan bangunan tinggi di sekitarnya. 
Syukurku bukan kepalang, senangku tak terhingga, tapi gelisahku tidak kunjung reda, ku pilih memasuki masjid raya, sejenak ku sujudkan hati yang lara, berharap ketenangan pelipur lara dari sejak dhuha saat diri ini tiba, hingga hari-hari selanjutnya,..  Curahan keluh kesah, barisan ayat-ayat cinta tertumpah dan tertanam di sana, dinding shaf pertama bagian kiri masjid menjadi saksi diri pernah beri’tikaf disana. 

“Semoga perjalanan ini membuka mata hati dan mata batinku… Aamiin..” Do’aku mengawali petualanganku yang masih berlanjut hingga malam… :-)


0 komentar :

Posting Komentar