1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Kamis, 21 Januari 2021

Failosophy (a handbook for when things go wrong)


 


Contents

Introduction (p. 1)

What Is Failure? (p. 13)

“Mistakes are, after all, the foundations of truth and if a man does not know what a thing is, it is at least an increase in knowledge if he knows what is not” (Carl Jungs, Psychoanalyst)

 

The seven Failure Principles (p. 19)

 

“You don’t have to the best, just try your best” Mabel, Pop star

 

“The difference between hope and despair is a different way of relling a story from the same facts” Alain De Botton, Philosopher

 


Book title                    : Failosophy (a handbook for when things fo wrong)

Author                         : Elizabeth Day

Publisher                     : Great Britain, 4 th Estate

Thick                            : 148 pages

Price                            : £ 10 (Rp. 184.000,-) 

Reviewer                     : Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I
store                            : Periplus


1. Failure just is (p. 21)

“The fact of worrying about whether it’s all going wrong is pointless. What is should be about is just thinking, “Well, all I can do is the best I can do, in the way I think is the best way, and we’ll see what happens at the end”…

 

Failure is part of the process of getting where you need to be”

- Andy Mcnab, Author and Former Sas Soldier-

 

2. You are not your worst thoughts (p. 31)

“I think every human being has the inalienable right to live and decide what rules work for them” -James Frey, Author-

 

3. Almost everyone feels they’ve failed at their twenties (p. 43)

“I failed many times, massively, in my twenties. Constantly” -Samin Nosrat, Television Chef-

 

“Your twenties is about finding your identity and finding out who you are. For me, I had no clue who I was really. I thought I did. I thought I knew everything about me, but I knew nothing” -Jamie Laing, Entrepreneur and Reality TV Star-

 

4. break-ups are not a tragedy (p. 57)

“Let everything happen to you Beauty and terror Just keep going No feeling is final” -Rainer Maria Rilke, Poet-

 

5. Failure is data acquisition (p. 67)

“Thought failure, if you’re honest and you see where you’ve failed, how you’ve failed, then every time you get a bit stronger” -Gina Miller, Campaigner-

 

6. There is no such thing as a future you (p. 77)

“It’s nice to have plans, but even a plan C,D, and E sometimes doesn’t cover the unexpected. So being open to the opportunities that can come, and to roll with them, is really important” -Meera Syal, Actor, Comedian, Playwright and author-

 

7. Being open about our vulnerabilities is the source of true strength (p. 89)

“It’s OK to say that you’re not OK. And by doing that, it alleviates that pressure and you can actually be you a little bit more” -Dame Kelly Holmes, Olympic Gold Medallist-

 


 

Conclusion or What does failure teach you about success? (p. 119)

 

“Failure continuously teaches us who we are.

It is nothing to be scared of.

Failure has been the making of me.

It might just be the making of you too.”

 

‘Most failures can teach us something meaningful about ourselves if we choose to listen’

Rabu, 20 Januari 2021

UNIDA Gontor Adalah Gus Hamid Fahmy Zarkasyi

UNIDA Gontor Adalah Gus Hamid Fahmy Zarkasyi                               

Edisi 2.

Bercerita pengalaman 2014

 

Jeda dari masa belajar ke mengajar, dan dari mengajar ke belajar kembali adalah jeda ideal menurut pengalamanku. Proses refresh otak memberikan penyegaran baru terhadap tradisi pembelajaran dan keilmuan apalagi kajian. Selalu ada hal baru yang bisa ditawarkan. 

 

Saat itu, saat dinyatakan diri ini alumni Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Angkatan ke-18 tepat di tahun 2009 lalu, di tahun yang sama juga mendapatkan kesempatan mengabdikan diri di pondok tercinta kurang lebih 1 tahun. Usai itu cuti 4 tahun menempuh pendidikan strata 1 di UNIDA Gontor dan kemudian kembali lagi ke pangkuan pondok tercinta. Tanya rasa, sudah sangat berbeda, tanya ilmu dan pengetahuan, masih terus menggali dan terus berproses untuk terus bertumbuh. 

 

Saya adalah Irwan Haryono Sirait, alumni Fakultas Ushuluddin, Prodi Aqidah Filsafat kampus yang saat itu dikenal ISID (Institut Studi Islam Darussalam) Gontor, saya ingat sekali saat kami sedang sibuk menulis skripsi di bulan Ramadhan di tahun 2014, saat itu juga izin universitas turun, dan alhamdulillah pada 17 Ramadhan 1435H bertepatan dengan 15 Juli 2014 sah lah ISID berubah nama menjadi UNIDA, kami adalah generasi ISID semester akhir yang menyaksikan momentum itu, alhamdulillah.

 

Unida memiliki sistem menarik yang diterapkan dengan pola hidup dinamis, agamis, dan inovatif sistematis, bagaimana tidak, di saat beberapa perguruan tinggi menerapkan sistem asrama hanya di semester 1 dan 2, tapi disini dari s1, hingga S2 tinggal di dalam pondok dengan sistem asrama full 24 jam. Fasilitas yang paling nyata adalah kesempatan bertemu dosen saat shalat berjamaah di masjid, sebab dosen 24 jam berada di pondok. Perpustakaan S1 dan perpusatakan S2 CIOS (Centre of Islamic and Sccidental Studies) yang buka 24 jam. Teman kajian yang berada di samping kamar, tinggal ketuk, keluar si teman jadilah diskusi depan teras kamar. Pola kajian keilmuan subuh di surau seminggu 2 kali, setiap hari senin dan kamis, yang telah berjalan mahasiswa s2 bertindak sebagai pemateri, mengkaji sesuai kajian yang ada dan mahasiswa s1 sebagai peserta, yang bebas bertanya sesukanya tentang materi yang telah tersaji.

 

Bercerita mahasiswa, bercerita unida seperti berbicara pertumbuhan diri. Kamu kok bisa besar makan apa selama ini? Nasi jawab kita, lah kamu kok lancar berbicara bahasa Indonesia, belajar dimana selama ini? Indonesia jawabnya, mau tahu di belahan bumi Indonesia bagian mana yang mewajibkan skripsi mahasiswanya bertuliskan bahasa Arab dan dan Inggris?

“Hemmm….. Emang dimana?”

Heheheh….. (tertawa sambil senyum simpul).


Tidak penasaran mau tahu lebih lanjutkah?

UNIDA Gontor ada di Ponorogo, jangan lupa ya. 

 

 


Emang kamu berjabat tangan dengan siapa itu?

 

Beliau adalah Assoc. Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil di zamanku menjadi mahasiswa 2010-2104 lalu, beliau adalah PUREK III ISID, namun saat ini beliau adalah Rektor UNIDA Gontor. 

 

Banyak hal yang kami dapatkan dari beliau, hal yang sangat kami ingat, beliau adalah dosen yang sangat dinamis cara berpikirnya, sistematis dalam berbicara, dan bernas jika ingin memberikan kuliah, ditambah dengan sengenap pengalamannya di negara poundsterling membuat kami; mahasiswanya terkesima dengan kecerdasan beliau.

 

Saat memberikan arahan, bimbingan dan nasehat, tidak muluk yang beliau sampaikan, semuanya seirama antara kata dan dunia nyata, seakan gambaran dunia itu benar-benar seperti yang beliau sampaikan. 

 

Saat beretorika, beliau sangat tahu kondisi kami yang tak tahan lama duduk mendengar ceramah serius, selalu ada saja jok-jok ringan pemecah suasa membuat kami tak terasa berjam-jam mendengarkan kuliah.

 

Apa saja karya beliau? 

 

Bercerita karya yang kami ingin tanyakan Kembali, apa arti karya menurut Anda? Jika karya adalah semua tulisan yang terpublikasikan, link di bawah ini jawabannya.

https://scholar.google.com/citations?hl=id&authuser=1&user=m-8GUUAAAAAJ

 

Jika karya adalah bentukan organisasi: Mungkin bisa melihat-lihat profil PKU (Program Kaderisasi Ulama) Gontor, INSITS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), MIUMI (Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia), beliau menjabat sebagai apa di sana.


Jika karya adalah kiprah, karya ilmiah, mengisi seminar, menjadi pembicara, atau apalah itu menurut Anda, saya hanya bisa menjawab, stop. Jangan bertanya lagi, silahkan berkunjung ke kampus tengah sawah UNIDA Gontor, kan Anda temui jawaban karya menurut versinya Anda, dan kelak kalau sudah ketemu jawabannya, tolong kabarin saya tentang arti karya yang Anda maksudkan ya.

 

Banyak kesan lain yang sangat luar biasa seputar beliau, senang pernah menimba ilmu di UNIDA. Jazakumullah khoir ustadzi. 

 

Lumut, Rabu, 20 Januari 2021

Minggu, 17 Januari 2021

Salam Sukses Bapak Pangkostrad

  

Edisi 1. 
Bercerita Pengalaman 2016

 

Pada saat itu Aku diamanahkan menjadi bagian Sekretaris Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Medan, tepatnya pada tahun 2015 hingga 2018. Banyak hal yang kudapatkan selama mengemban amanah itu di sana. Ilmu birokrasi, pengalaman ngeblog di website, keberanian menyapa guru-guru senior, kecapakan mengatur timing kerja, cara meyambut tamu menurut skala prioritas, seni berbincang saat menemani tamu, menjemput dan mengantar tamu PP Bandara Kualanamu – Medan; Medan- Bandara Kualanamu. Menjadi ‘tour guide’ saat menemani rombongan study tour dari lembaga lain/pesantren lain dan masih banyak lagi pengalaman mengesankan lainnya.

 


Diantara pengalaman yang banyak itu, selalu yang aku syukuri dapat berkenalan dan bertemu dengan tamu-tamu penting dengan jarak yang sangat dekat. Salah satunya pernah menemani Bapak Letnan Jenderal TNI Edy Rahmayadi Pangkostrad (Panglima Komando Cadangan Strategi Angkatan Darat) berkeliling pondok. Pada kesempatan emas itu, alhamdulillah sekali lagi saya berkesempatan mengabadikannya dalam beberapa kali jepretan dan inilah jepretan terbaik yang berhasil diabadikan.

 

Kok bisa bertemu dengan beliau?


Ceritanya saat itu sedang Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy di Pesantren dan beliau hadir sebagai tamu kehormatan sekaligus Inspektur Upacara dilapangan hijau pesantren. Hal yang menakjubkan tanpa disangka-sangka, selesai sambutannya beliau turun dari podium dan berjalan cepat ke tengah lapangan seraya menyalami komandan upacara, sontak seluruh hadirin terkejut dan mengikuti derap langkah laju beliau, dalam perjumpaan singkat itu beliau membisikkan kata-kata pada santri yang beruntung itu, apa kata-katanya, beliau dan santri akhir itulah yang tahu. Momen itupun diabadikan tukang jepret, dalam beberapa jepretan kameranya seingatku.

 

Usai pertemuan di lapangan beliau diajak berjalan mengelilingi Pesantren, mengitari sekeliling pondok dari pojok lapangan hingga bagian terdepan pesantren, kebetulan di sana ada bangunan yang sedang masa pengerjaan Gedung Al-Jihad Namanya dirobohkan bangunan kayunya ingin dipermanenkan, Pada saat melihat itu beliau berdiri dan melihat Gedung al-Jihad yang sedang dibangun, dengan ringannya beliau langsung bersedekah semen sekian sak, dan beberapa kalimat singat lainnya yang memiliki efek panjang untuk tabungan ibadahnya, sebagai bekal menuju akhirat nantinya.

 

Sebenarnya ceritanya Panjang, kesannya juga ada,.. Tapi sisanya cukup menjadi konsumsi pribadilah kayaknya.


Syukron teman-teman. Ini ceritaku, mana ceritamu?

 

Salam traveler

 

#traveler #dokumentasi2016 #pangkostrad #bongkar-bongkarfilelama

 

Sabtu, 16 Januari 2021

Ajaran Kiai Gontor (Resensi)


 Ajaran Kiai Gontor (Resensi)

By: Irwan Haryono Sirait

 

“Rindu.”

Apakah ini kata kerja? Atau ini kata benda? Atau ini kata sifat? Tolong bantu aku memaknai kata ini.

Seperti halnya kerinduan yang tak dapat diobati kecuali dengan pertemuan. Tersiksa batin menahan Hasrat perjumpaan. Sangat rindu diri ini, ingin bertemu dengannya, sosok orang tua, guru, uswah dan panutan sepanjang masa, ingin berjumpa wajah dan bertanya tentang hal ahwal dunia, ingin bertukar pikiran tentang menanggapi hal perihal dinamika dunia, ingin meminta nasehat, wejangan dan arahan agar tetap kokoh pijakan kaki ini, agar tidak goyah pendirian hati, agar tetap menjadi manusia dilingkungan manusia, tidak tersesat di jalan domba, tidak salah arah masuk hutan belantara dihuni serigala dan rubah, tidak juga berputar-putar dalam dunia sehingga tak berhasil menemukan jalan lurus menuju syurga. Na'uzubillah.

 

Iri rasanya melihat mereka yang sempat bertemu dengan kyai-kyai trimurti, semangat mereka berbeda dengan semangat yang lainnya, pola kerjanya berbeda dengan pola kerja yang lainnya, apakah yang ditanamkan kyai dulu, hingga nilai hidup begitu terhujam disanubari anak didiknya? Apakah karena kata-katanya yang berapi yang telah terpatri? Atau orasi yang menggelegar yang terus dalam mengakar? Atau keikhlasan mereka yang tak pernah surut walau badai menyerang permukaan, walau gersang mengeringkan daratan? Apapun itu aku iri dengan mereka yang sempat berjumpa dengan panutannya para panutan, ialah kyai trimurti ‘wallahu yarham’. Andai ada kesempatan bertemu, pertanyaan inilah yang ingin kudengar langsung jawabannya dari beliau semua.

 

Ku susuri mencari jejak rinduku, ku kumpulkan semua tulisan yang tersisa untuk mengobati iriku, sampai pada satu titik rindu dan iri, mengantarkanku pada satu titik pengetahuan baru tentang mereka yang sangat luar biasa. Detik ini, “Aku adalah murid mereka” ikrarku saat ini dan untuk kedepannya.

 

Sebuah buku bersampulkan kyai Haji Imam Zarkasyi telah ada digenggamanku, sebuah buku luar biasa yang memberikan arti hidup seharusnya. Dirangkum dalam 72 wejangan, dibuka dengan prolog dan dilanjutkan dengan penjelasan spesifik ke dalam 11 bab.

 

BAB. I 

JANGAN BERKECIL HATI, SONGSONGLAH MASA DEPANMU (p. 1)

“Yang paling utama, jangan kecil hati menghadapi masa depanmu, meskipun kamu akan menghadapi cobaan dan ujian yang berat. Ingatlah bahwa masa depanmu masih cerah.” 

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. II 

LURUSKAN NIAT, BELAJARLAH MENGUASAI DIRI (p. 15)

“Kepintaran itu tidak ada hubungannya dengan kekayaan, maka belajarlah bukan untuk kekayaan tetapi “Lillahi Ta’ala” (Hanya untuk Allah), “Li I’laai kalimatillah” (Untuk menegakkan kalimat Allah).”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. III

JANGAN BERPIKIR SELAMANYA JADI PEGAWAI (p. 35)

“Kalau menjadi buruh, masa depannya gelap, suram, dan itu adalah penyakit.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. IV

HIDUP ITU BISA DI MANA SAJA, BERKARYALAH (p. 63)

“Sesungguhnya semua amal itu harus sampai selesai. Jika suatu perbuatan itu belum selesai, maka artinya dia itu belum beramal.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB.V

BEKALI DIRI DENGAN MENTAL JUJUR (p. 91)

“Kamu pulang ke masyarakat harus bermental, bersikap, dan berpikir jujur.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB.VI

LAWAN KEMALASANMU, JANGAN BERGANTUNG KEPADA UANG (p. 99)

“Yang paling berbahaya ialah orang yang tidak mau bekerja, tetapi ingin mendapat uang.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB.VII

 DUNIA USAHA ITU LUAS, JADILAH PENGUSAHA YANG BERSIH (p. 125)

“Cara menutupi kebutuhan hidup dengan usaha, bukan dengan cara naik pangkat.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. VIII

TATALAH NIAT DALAM MENCARI REZEKI (p. 141)

“Kalau kamu mencari rezeki. Jangan sampai niatmu salah. Niat mencari rezeki adalah mencari alat untuk berdakwah. Rezeki bukan untuk mengumpulkan kekayaan. Cari rezeki sekadar untuk hidup. Jika niat mencari rezeki untuk ibadah dan dakwah, maka pasti Allah akan memberi.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB.IX

MENJADI PEDAGANG DENGAN SERIBU OTAK (p. 153)

“Berdagang dapat dilakukan tanpa modal yang penting terorganisir dengan baik.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. X

MEMULAI USAHA, MENCARI KUNCI HIDUP (p. 167)

Niatlah di dalam “rihlah” (economic study tour): “Saya akan mencoba dan membuat seperti itu bahkan lebih.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. XI

 UNTUK APA HARGA BENDAMU? (p. 191)

“Kekayaan harta jangan jadi tujuan, jadilah pemuda pejuang yang punya rasa bertanggungjawab kepada umatnya, bangsanya, keluarganya.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

Apa yang saya tuliskan diatas adalah quote yang terdapat di awal bab dari masing-masing judul besar, masih terdapat banyak pesan-pesan, nasehat-nasehat, dan wejangan beliau yang jauh lebih menembus sanubari. Maka bukalah hati benar-benar, kosongkan sikap gelas penuh, agar ilmu baru dari kyai berkah di hidupmu.

 

Judul buku ini Ajaran kiai Gontor. Kata “Ajaran” di sini dipakai penyusun buku ini, untuk menyebut hal yang lebih spesifik, yaitu filosofi, idealisme, tuntunan, serta wejangan tentang kemandirian dan kewiraswastaan yang diajarkan oleh pak Zar.

 


Judul Buku      : Ajaran Kiai Gontor (72 Wejangan Hidup KH. Imam Zarkasyi)

Penulis             : Muhammad Ridlo Zarkasyi

Penerbit          : Rene Islam

Tahun Terbit   : Oktober 2019

Tebal               : 14x21 cm, 248 Halaman

Harga              : Rp. -

Dapat dicari di : Gramedia & atau toko buku kesayangan Anda

 

Buku ini sangat cocok bagi entrepreneur muda, penggiat ekonomi zaman 4.0, santri pengusaha, dan bagi siapa-siapa saja yang rindu alunan tutur bahasa kyai dalam memberikan nasehat.


Buku ini dapat menjadi buku panduan semangat yang berlandaskan nilai-nilai filosofis dalam langkah pasti setiap usahanya. Semoga kita semua dijauhkan dari pengalaman pahit orang-orang sebelum kita yang timbul sejenak dan karam selamanya. jika tidak kokoh terkadang terpaan ombak yang sedikit besar, membuat perahu terombang-ambing, rusak dan nahkodapun kebingungan. Namun jika kokoh landasannya jangankan ombak, badaipun tetap akan diterjang, sebab sudah bulat tekat, sekali layar terkembang pantang laki berbalik arah, pesan Buya Hamka dalam beberapa literasinya.

 

Akhir kata, sebagaimana yang tertulis dalam sampul belakang buku: Membaca buku ini dapat meningkatkan “mindset” hidup dan meruntuhkan “mental block” Anda - untuk menjadi pribadi yang sukses, berani, dan bermanfaat untuk umat.

 

Catatan ini saya dedikasikan bagi kamu; ya kamu mahasiswa yang tak putus asa meraih mimpi bahagianya dengan belajar. Buat kamu yang doyan belajar, ini hadiah untukmu. Buat kamu yang doyan membaca ini daging lezat siap santap. Buat kamu yang selalu rindu dan iri, aku menawarkan ramuan obat untuk itu: Baca fenomena, tulis apa yang dirasa, dan share dalam bentuk karya. Kan kau temukan penawar mujarab disana. Percayalah.

 

Good morning all 

J

 

 

Jumat, 15 Januari 2021

Hidup Hanya Soal Menjalani


Setiap kepala memiliki logika, setiap logika memiliki polanya, dan sebaik-baik pola jika semuanya kembali kepada Allah swt semata. Ada hal menarik terkait hidup. Berseliweran suara konten kreator menjelaskan tentang hidup, bisnis, pengembangan, produktivitas dan kemajuan manusia. Hampir semuanya mengerucut pada 9 inti pokok, hampir selalu diulang-ulang diperdengarkan bahwa kita harus meluruskan niat, ikhtiar yang serius, pahami sumber uang masuk dan keluar sera pastikan alurnya halal, perbaiki ibadah shalat, sedekah subuh, shalawat, selanjutnya banyak-banyak istighfar, ikhlas, sabar dan tawakkal kepada Allah swt. 

 

Merasa butuh tambahan referensi, mulai kubrowsing berbagai kajian di youtube, beragam sumber kajian keislaman kusimak baik-baik penjelasannya. Dari kajian serius sampai kajian yang ada candanya, dan ternyata sepakat menyimpulkan hal yang sama seperti halnya poin tersebut di atas. Dari sana, aku juga semakin yakin pada ungkapan: “Jika manusia hanya mengejar dunia, maka Allah hanya akan memberikan dunia yang dicarinya. Namun jika akhirat yang dikejar, Allah bukan hanya memberikan akhirat, tapi juga dunia beserta isi-isinya.”  So, pembaca ingin memilih yang mana?

 

Meskipun tidak mendalam kajiannya, tapi izinkan saya sekedar menceritakan kembali tentang apa yang telah saya dengarkan dari kajian-kajian lalu, tidak lain sebagai pengingat bagi saya pribadi, berharap jika suatu saat nanti lalai, lupa, dan khilaf, cepat-cept tersadar akan esensi hidup yang sebenarnya dan dapat terbuka hati untuk Kembali lagi ke jalan yang semestinya. Wallahu musta’aan.

 

Sedikitnya ada 9 point penting, berikut poinnya:

 

1. Niat, tidak banyak yang dibahas dari sini, analogi sederhananya analogi niat pangkas, jika kita niat ingin potong rambut di tempat yang nyaman. Pasti telah kita siapkan anggaran untuk membayarnya yang mungkin harganya lebih mahal, dengan fasilitas tempat yang baik, full ac, pelayanan terbaik. Meski lokasinya jauh dari tempat tinggal, tetap akan dicari dan dikejar, itulah namanya kalau sudah niat. Nah, begitulah kira-kira mengejar ridho dan rahmat Allah itu, meskipun sulit, jalan menempuh tujuannya terjal, tapi karena sudah niat, pasti akan ditempuh. Sehingga hilanglah kata mustahil, terbitlah kemungkinan dan kepastian. Apa memang benar begitukah pembaca?

 

2. Ikhtiar, beberapa inisiator UMKM (usaka mikro kecil menengah), selalu mengulang kata bahwa manusia hanya mampu berikhtiar dan berprasangka baik pada Allah swt, manusia tidak boleh mengejar sukses, sebab hasil bukan kita yang menentukan tapi Allah swt, jadi urusan sukses adalah kehendak Allah bukan kehendak manusia, tapi jangan ragukan kuasa Allah, Dialah yang maha adil dari seluruh apa yang ada di jagad raya ini. Tugas kita cukup sederhana, hanya bekerja maksimal, bekerja habis-habisan, dengan cara halal, sumbernya halal dan diperuntukkan yang halal. Allah maha kaya, dan tidak sulit bagi Allah untuk mengkayakan hambanya, jika Allah berkehendak, jadi, maka jadilah.

 

 

3. Pahami sumber uang masuk dan keluar, pastikan alurnya halal. Tidak sekali kata-kata ini diperdengarkan ditelingaku, entah itu adalah sebuah sinyal hidayah, atau intuisi yang terus mengingatkanku agar selalu dapat bersikap lurus pada aktifitas hidup di dunia. Apapun itu bentuknya, setiap yang kita kerjakan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya,  jangan lupa bahwa pertanggungjawaban hamba pada Allah itu besar. Ingat-ingat kembali fasilitas oksigen dari Allah. Apakah ini gratis? Atau ini berbayar dengan ketaatan? Mari kita diskusikan.


 Maka dengan Batasan hidup yang benar-benar terbatas kudu hati-hati melangkah. Sebab banyak pertanyan yang harus kita persiapkan untuk dijawab nantinya. Hidup di masa muda, dihabiskan untuk apa? Memiliki harta, didapatkan dari mana dan dibelanjakan ke mana? Jabatan digunakan untuk apa? Apakah benar-benar amanah atau khianat dalam kepemimpinannya? Dan lain sebagainya terkait hak dan kewajiban. 

 

 

4. Perbaiki ibadah shalat. Orang yang tidak makan, tidak akan pernah merasa nikmatnya kenyang; sebaliknya, hanya orang yang dahaga yang akan merasa nikmatnya tegukan air pertamanya di tenggorokannya. Nah, begitu jugalah dengan shalat menurutku, indahnya tidak untuk dituliskan tapi untuk dirasakan sendiri. Lebih terasa jika langsung dilaksanakan orangnya.  Bukan saya yang akan menjelaskan, tapi pengalaman spiritual pribadi Adalah yang akan memberikan pencerahan dalam diri dan kelapangan dalam hati.

 

5. Sedekah subuh, hal ini belum terlau familiar bagi saya pribadi, belum pernah menerapkannya juga, namun sejauh ini masih meyakini bahwa yang namanya orang bersedakah, pasti akan berkah rizkinya, serta dimudahkan urusan orangnya. Jika teman-teman pembaca punya pengalaman dalam hal ini, mungkin bisa berbagi di kolom komentar, saya pasti akan sangat senang sekali. J

 

6. Shalawat: ……

 

7. Banyak-banyak istighfar: ……

 

8. Ikhlas & Sabar: …..

 

9. Tawakkal: ……

 

Pada point ke 6, 7, 8, dan 9 kiranya teman-teman ada pengalaman pribadi yang bisa dishare? 

 

Sejauh yang Aku pahami belajar dari pengalaman orang lain lebih terasa dekat dari sekedar teori. Sebab, hampir mayoritas muslim/ah telah mengetahui bahwasannya jika kita bershalawat kepada Baginda Rasulullah saw maka akan terasa mudah dalam segala urusan, hingga kelak akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah bi iznillah. 

 

Selanjutnya kita juga mengetahui bahwa tiada manusia yang hidup di dunia ini tanpa dosa. Aku yakin tidak ada satu orangpun yang suci di bumi Allah ini, semuanya punya dosa, terkecuali beberapa sosok yang dikehendaki Allah untuk terjaga dari lalai dan maksiat. Maka dengan istighfar (permohonan ampunan) yang tulus ikhlas kepada Allah, semoga dapat menghapuskan dosa kita dan menggantikannya dengan pelipat gandaan pahala, karena telah tobat dengan sebenar-benar tobat lillahi ta’ala. 

 

Terakhir ikhlas, sabar dan tawakkal, hal ini bukan persoalan lisan tapi persoalan rasa. Biasanya terbentuk dari respon pribadi terhadap fenomena yang terjadi. Direspon dengan hati, dipikirkan oleh kepala, hingga terakhir diucapkan melalui lisan, dan ketika ungkapan itu keluar, dapatlah diketahui kadar positif atau negative hatinya, namun ironinya, hal ini akan menjadi pola pikir, yang akan menciptakan mindset baru pada diri seseorang, maka agar semuanya baik mulailah merespon fenomena dengan rasa yang positif, mudah-mudahan hidup menjadi positif. 

 

Pada akhirnya arti kata ikhlas, sabar dan tawakal sangat terpulang pada diri personl manusia.  Sesuai dengan versi dan kadarnya masing-masing. Jika ditanya apa standarnya ikhlas, sabar dan tawakkalnya? 

 

Secara subjektif diri ini menjawab jika telah berikhtiar, ikhlaskan lanjutannya, tawakkalkan (pasrahkan) hasil akhirnya, dengan bersiap sabar; jika hasil tidak sesuai angan, dan harus bersyukur jika hasil sesuai harapan dan impian.  

 

Allah yang maha adil, tahu mana yang baik, terbaik, buruk dan terburuk bagi hambanya, dan yakinilah bahwa Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk hambanya. Pada esensinya kukira kita sepakat “Hidup hanya soal Menjalani”.

 

* Mohon maaf jika pembahasaan diri, selalu berganti-ganti, terkadang aku dan terkadang saya, sebab diri pribadi hanya mengikuti alur emosi dalam tulisan, ketika kata “saya” tepat dipakai, maka akan dipakai. Dan ketika harus membahasakan sebagai “Aku” maka memang sedang enaknya begitu. 

 

Tuk segala kekurangan dan kesalahan, kepada pembaca saya memohon maaf, kepada Allah saya memohon ampun. 

 

Wassalamu’alaikum wr wb.

 

_____________
_________________

 

Jum’at, 15-01-2021

Lumut, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

 

 

Minggu, 10 Januari 2021

Murni Dari Hati

 Apakah hasil keputusan dari kemurnian hati dapat berubah-ubah?

Apakah ungkapan dari jiwa terdalamnya manusia dapat konsisten memegang kata?

Jika nuranimu mengikuti dalam setiap langkahmu, akankah kamu menjadi berbeda dari yang biasa?

.

.

Saat ini aku belum bisa menjawab 3 pertanyaan di atas, jika kawan seluruhnya memiliki jawaban, boleh bagi saya yang belum terlalu paham memaknai kehidupan dan perjuangan.

.

 .

Hari ini aku terpecut dengan ungkapan blak-blakan dari seorang sahabat, dia bilang “ucapanmu tidak murni,jika senang kamu bilang senang tapi bukan dari hati, jika suka kamu bilang suka tapi tidak dari hati, jika mengungkapkan sesuatu dari hati sekalipun bukan dari inti hati terdalam. Kamu berkutat selalu diluar, melakukan segala sesuatu tanpa ketulusan hati.”

 

Sebuah ungkapan sederhana terngiang di kepalaku berjam-jam, membuat otakku berputar lama mencari jawaban terhadap diri sendiri, apakah ini benar ataukan itu salah, apakah aku sekejam itu, atau aku yang tidak sadar akan hal itu, sampai catatan ini kutuliskan aku juga masih bertanya-tanya benarkah yang dia ucapkan itu?

 


Lama aku bersendiri diri untuk mengulang kembali katanya, lama kususuri ulang perjalanan Panjang yang telah berlalu, lama ku memutar ulang disket yang telah usang, sampai pada titik tertentu aku mengiyakan ucapan di atas. Ternyata terlalu lama hatiku tertutup untuk kata “kemurnian hati”. Hilangnya kata ini membuatku tak sadar selama ini terombang-ambing dalam pintalan benang yang tak seirama dengan kata hati. Selama ini berjalan sesuai kata, ku kira sudah benar, tapi nyatanya tidak sampai menentramkan hati, karena seharusnya kata, perbuatan dan hati semuanya harus satu garis lurus menciptakan sinergi yang tak terputus.

 

Hari ini, detik ini mulai aku belajar Kembali mengenali setiap ungkapan yang akan dilaksanakan, jika itu ungkapan hati dan bisa direalisasikan akan kurealisasikan dengan kemurnian dan ketulusan. Sebab hanya keputusan dengan penuh hati dan perwujudan perlu hati-hatianlah yang melahirkan satu wajah baru terbaik dalam setiap visi dan misi syarat kental akan esensi nilai kehidupan.

 

Akhir kata, terima kasih sahabat yang telah mengatakan sebenar-benarnya, terkadang kesadaran akan terbentuk di waktu yang tepat, di saat yang tepat, dengan kata-kata dan ungkapan yang tepat pula. Sahabat… Dari tulisan ini ku memulai untuk belajar Kembali agar dapat melakukan sesuatu sesuai dengan kemurnian hati. 

 

Sekali lagi terima kasih.

_____________
_________________

Ahad, 10-01-2021

Lumut, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

Sabtu, 02 Januari 2021

PENGHASILAN JUTAAN DARI MENULIS (Resensi part 2)

 back to part 1: click here 


PENGHASILAN JUTAAN DARI MENULIS (Resensi part 2)


Bab. 4. Pemasaran Sistem Nekat. (h. 65)

“Pesan dan nilai-nilai harus mengikuti idealisme seorang penulis, tapi persoalan serta cara menyampaikan harus mengikuti idealisme pembaca”

 

Bab. 5. Pembicara Tanpa Gelar. (h. 81)

“Buku yang bagus selalu mengundang tanda tanya lebih dari pembaca kepada penulis. Tanda tanya itu bisa berupa isi yang lebih dalam, proses di baliknya, dan sudah tentu orang ingin tahu siapa penulis yang bisa melahirkan karya yang indah dalam sudut pandang pembaca.”

 

Bab. 6. Penghasilan Penulis. (h. 93)

            Sub: Jadi Reviewer. (h. 100)

·      Kuncinya sebagai reviewer harus memiliki pengetahuan tentang dunia yang menjadi objek reviewnya. 

 

Bab. 7. Untung Ada Internet. (h. 104)

Sub: Pemesanan Langsung. (h. 110)

·      Ibu bang Ma’mun pernah berpesan, jangan remehkan uang seratus rupiah, karena satu juta belum lengkap jika kurang seratus rupiah.

 

Sub: Pentingnya Mbah Google. (h. 115)

·      Selepas mencetak buku, bang Ma’mun menyediakan porsi untuk membagikan karyanya secara gratis, kepada pembaca yang memiliki blog. Biasanya berkisar lima sampai sepuluh eksemplar. Dari mereka lah selanjutnya buku akan muncul menjadi pembahasan hangat di mesin pencari. Paling tidak mereka pasti mencantumkan bahwa penulisnya Ma’mun Affany. Ketika diketik di Google Ma’mun Affany, novel yang direview akan terlihat. (Dan nampaknya Aku salah satu dari yang dijelaskan ini, hehehehe :) )

 


Bab. 8. Investasi Penulis. (h. 123)

Sub: Akumulasi 7 Buku. (h. 139)

·      Pembahasan ini mulai membahas pembahasan menarik tentang logika pendapatan, sungguh sangat luar biasa hitungannya, logis dalam kepala awam ini. Jika pembaca ingin tahu isinya bisa membaca buku tersebut pada halaman 139 hingga 140. Pada intinya hal yang paling indah dari dunia tulis-menulis buku adalah income passive yang didapatkan. Silahkan cari buku ini, jika Anda penasaran.

 

Bab. 9. Bermain Website. (h. 141)

            Sub: Mengelola Webiste Sembari Nulis Buku (h. 142)

·      Tujuan kedua menulis adalah bisa sebagai tempat mendapatkan tambahan kepingan rezeki. Tapi jangan lupa tujuan pertamanya adalah untuk portofolio kita, blog tetap akan menjadi penyebab pendapatan meski tidak langsung.

·      Yang paling utama bukanlah websitenya, tapi bagaimana cara kita memeliharanya dengan isi tulisan-tulisan berkualitas.

·      Penulis buku ini menggunakan website berbayar pertahun sebesar Rp. 500.000,- murah jika dibandingkan dengan efek domino yang disebabkan oleh kegiatan blogging tersebut. 

·      Bisa jadi orang ingin tahu lebih dalam tentang Anda sebagai penulis, ketika tertangkap website kita, maka mereka seperti kita jamu di rumah kita sendiri tapi di dunia maya.

 

Sub: Fokus Tema Tertentu (h. 144)

·      Kalau kita merasa tidak punya banyak ide, maka tulislah tentang sesuatu yang kita sukai, satu tema saja. Jangan banyak-banyak. Dunia internet menyukai sesuatu yang fokus. 

 

Sub: Konsep Itu Lebih Penting (h. 155)

·      Di internet rumusnya sederhana, semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita akan mendapatkan imbal balik. Imbal balik tidak selalu berupa uang, tidak hanya iklan dari google adsense, tapi bisa beragam hal lainnya, yang itu sifatnya keajaiban.

·      Yang terpenting dalam membuat website adalah konsep yang matang. Dan eksekusi segera lan istiqomah.

 

 

 

Bab. 10. Dunia Informasi, Dunia Penulis. (h. 157)

            Sub: Semua Bidang Butuh Penulis (h. 158)

·      Bisa dikatakan tulisan akan mengalikan nilai dari profesi. Contoh, profesi guru bernilai 10, ketika guru itu bisa menulis, maka nilainya dikali 10. Alhasil akumulatifnya 100. Begitu pula dengan para pimpinan perusahaan. Mungkin nilainya 9, namun ketika dikalikan 10, maka dia bernilai 90. Menulis mengalikan sebuah profesi menjadi nilai tinggi.

 

 

Sub: Dunia Informasi Butuh Tulisan (h. 162)

 

“Sekarang adalah masa di mana semua orang membutuhkan penulis, tapi tidak banyak yang menyadarinya dan jarang yang menggelutinya. Penulis semakin langka, semakin banyak yang mencarinya.”

 

Dari varian buku penulisan yang pernah saya lahap, inilah yang terasa cukup dilambung, cukup gizi dan cukup energi, membacanya tidak menghabiskan waktu lama, mencernanya tidak terlalu memeras otak, dan poinnya begitu mengena, sehingga terus bisa dipraktekkan seketika. 

 

Akhir kata terima kasih gurunda Ma’mun Affany, jazakumullah khoir untuk hadiahnya, semoga pahala Allah swt menjadi balasan atas keikhlasan Antum yang luar bisa,  sekali lagi Jazakumullah Khoir.

.

Kiranya pembaca penasaran membaca versi lengkapnya, monggo bisa mengontak beliau untuk urusan lebih lanjutnya. 

 

“Tulisan sumber inspirasi banyak orang, lebih menghujam di sanubari pembacanya. Siapa saja ketika sudah menjadi gula, semut pasti tahu alamatnya, akan terus berdatangan”

.

Selesai.

#

 

Jumat, 01 Januari 2021

PENGHASILAN JUTAAN DARI MENULIS (Resensi part 1)


 PENGHASILAN JUTAAN DARI MENULIS (Resensi part 1)

Oleh: Irwan Haryono Sirait

 

 

Aku tak mengerti melihat fenomena kemiskinan di mana-mana. Di negeri subur nan kaya terhampar kemelaratan di berbagai sudut kota. Pertanyaannya apakah lapangan pekerjaannya yang benar-benar telah tiada, atau Dunia yang sudah tua sehingga tidak bisa diolah? Ataukah orang-orang Dunia yang malas berfikir dan bekerja? Atau malah rakyat Dunia ini sengaja dimiskinkan tak berdaya? Sehingga menjadi kaum papa pengharap tanpa berusaha? Beragam terka-menerka mengawali sebuah tulisan dibalik layar di tengah kota. 


Pertanyaannya, benarkah ini fakta kongkrit lapangan, atau bagian fana yang tak harus diperbincangkan, sehingga miskin-kaya bukan lagi wacana tapi tersistem terencana, yang miskin akan tetap miskin yang kaya akan tetap kaya.  


(Hah… Apanya kamu ini wan, gayamu ingin membahas dunia, mengatur jadwal sendiri saja kebingungan kamu,.. husst tak usah membahas terlalu jauh… kembali ke titik fokus awal. Rensensi saja buku ini!)    


Apa iya kejauhan ya….. hehehehe Asshiap kawan. J


Padahal ingin mencoba menulis serius, tapi kok kayaknya terlalu ngelantur ya, ok siap aku mulai dari ucapan terima kasih saja kali ya.


-------------------

----------------------------


Sungguh terhormat dan tersanjung sekali rasanya mendapatkan hadiah buku dari sang guru. Tak berujung kata mengucap terima kasih tiada tara, tak terlepaskan tangan menyambut ikhlasnya pemberian, seraya lisan terus berucap syukur tak henti-hentinya, haru karena bahagia; mendapat berkah ilmu melimpah ruah di balik lembaran setiap  yang tersusun dibalik buku bersampul merah.


Dimana-mana murid yang selalu memberikan hadiah pada guru, tapi seiring pergeseran zaman nampaknya guru-guru saat ini sudah menjelma menjadi malaikat kebaikan, yang serta merta selalu menginginkan kebaikan dan ikut serta menjadikan impian anak didiknya menjadi kenyataan. 


Pada kesempatan kali ini, bang Ma’mun Affany tidak menulis novel, tidak juga mengukir bahasa indah mendeskripsikan keadaan, waktu, dan raut paras seorang hawa. Tidak-tidak sama sekali, tapi lebih kepada tulisan ringan kontemporer, tidak tahu apakah karena covid 19 maka novel sedang di lockdown juga, ataukah memang hasil ramalan bintang menunjukkan peluang terjatuh pada tulisan penghasilan. bisa jadi kebutuhan masyarakat pembaca saat ini, hanya terdapat pada hal praktis bukan imajinasi lagi? apakah ini fakta atau masih terka-terka ya, tapi kayaknya fakta, wong sosok penulis buku ini seorang dosen kok, selain jago menulis juga jago meneliti beliaunya, alumni pengamat isu-isu dan ekonomi negeri, yang kurang lebih tahu arah, perhitungan, dan tujuan pasar.


(Hahaha… sekarang menjadi ahli nujum sayanya,…  gimana ceritanya 2019 sudah bicarain covid 19 di Indonesia.... Maaf kakak, abang-abang pembaca, ngelantur lagi sayanya)


 

Sekilas inginku deskripsikan buku yang baru kudapatkan ini: 


Berjudul          : Penghasilan Jutaan Dari Menulis

Penulis            : Ma’mun Affany

Penerbit          : Kanzun Books

Tahun              : September, 2019

Tebal               : 168 hlm

Harga              :    -        (sorry I tak tahu price book ni lah, sebab saye dapat ni, free gift dari cekgu tu)…. Hemm… dah sok melayu pulak lagi ni kawan..… udah dong wan, serius donk.

 

***
ok siap, ni serius ni kali ini… J


***


Buku Penghasilan Jutaan Dari Menulis (PJDM) ini adalah buku yang terlahir dari penulis kawakan yang telah melanglang buana belasan tahun berkutat di dunia penerbitan indie, dalam waktu terhitung singkat, Bang Ma’mun Affany dapat menjual ratusan novelnya dengan sangat mudah, hingga tiba pada momentum terbaik salah satu karyanya ditayangkan dilayar lebar ibu pertiwi, sungguh sebuah prestasi yang mudah-mudahan dapat ditiru generasi penerus ini. 


Buku bersampulkan pensil yang memiliki dollar dan pounterling ini, memiliki daftar isi yang merupakan daging semua, cocok bagi mereka yang lapar, empuk bagi mereka yang mencari-cari inpirasi, terkhusus bagi penulis pemula yang mandek menulis, karena tidak tahu akhir tujuan dari tulisannya, berhenti karena tidak tahu arah sebenarnya dari pelayaran tulisan tinta di dunia kepenulisannya. Di sini bang Ma’mun mengulasnya dalam 10 Bab, di mana masing-masing babnya memiliki sub judul yang syarat penuh keakraban dalam dunia pembaca. Terasa bukan penulis yang menulis, tapi adalah pembaca yang tiba-tiba terilhami untuk menulis.


Berikut rangkuman singkat yang Aku sarikan dari sekian sub judul yang semuanya sangat-sangat bagus dikonsumsi tanpa sisa. Secara singkat dan sederhana berikut 10 bab beserta beberapa sub judul yang aku angkat dalam tulisan ini. 


Bab. 1. Mudahnya Menulis. (h. 1) 

    Sub: Mengawali Menulis (h. 2)

·      Ternyata Memulai menulis yang paling baik adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya, sesuai tujuan kita. Jika ingin menulis novel yang dibaca jangan buku-buku ilmiah tapi novel. Jika ingin melahirkan buku motivasi, maka bacalah buku-buku motivasi. Sebab pada intinya menulis adalah manifestasi dari apa yang dibaca, disamping itu juga sebagai wadah menyampaikan pesan tulus penulis.


Sub: Tulislah Yang Ada Di Dekat Kita. (h. 13)

·      Menulis yang paling mudah justru pada sesuatu yang memang sangat dekat dengan kehidupan kita. Alasannya, kita benar-benar tahu dan tidak perlu memeras imaginasi untuk membuat cerita, kita hanya butuh merangkai setiap episode yang pernah kita rasakan.

·   Bukankah hidup selalu becermin dari kehidupan orang lain, atau sejarah orang lain untuk dicontoh?


Sub: Jangan Salah Jenis Tulisan. (h. 18)

·    Fiksi basisnya lebih banyak imaginative. Meskipun ada unsur kenyataan, namun ada sisi imaginasinya.

·      Menulis fiksi mengedepankan rasa. Indah dalam berbahasa, dan menghasilkan tulisan yang enak dibaca.

·      Ketika kita menulis fiksi, bukan berarti sama sekali tidak akan bisa menulis opini. Tapi dalami terlebih dahulu satu genre sehingga benar-benar tahu bahwa menulis adalah persoalan rasa dan menyampaikan ide.

·      Kuncinya ada pada bahan bacaan awal yang menjadi nutrisi. Ingin menulis fiksi harus banyak membaca novel. Ingin menulis non fiksi, juga harus banyak membaca non fiksi. Teorinya, ada yang kita tulis sebenarnya hanyalah pantulan dari apa yang dibaca dibumbui sedikit pemikiran kita. Oleh sebab itu menulis juga seberapa kuat kita mampu membaca sebagai asupan wajib bagi para penulis.


Sub: Kesabaran Bukan Kecepatan. (h. 21)

·    Dalam beberapa hal menulis digunakan sebagai terapi kesabaran. Untuk menulis seratus halaman bisa membutuhkan seratus hari. Setiap hari menulis satu halaman, satu halaman, dan satu halaman. Istiqomah dalam menulis akan melatih jiwa sabar

·      Maka yang paling penting dalam menekuni dunia tulis-menulis, adalah adanya passion, sama seperti memperdalami seni-seni yang lainnya.

·      Menulis adalah panggilan jiwa. Filosofinya seperti mengumpulkan cahaya matahari oleh kaca pembesar. Cahaya yang tadinya menyebar dikumpulkan menjadi satu, hasilnya adalah mampu membakar kertas atau daun kering. Begitu juga ketika seseorang sudah terpanggil jiwanya. Gairah dan motivasi terkumpul menjadi energi besar yang menggerakkan untuk terus menulis.


 

Bab. 2. Kendala Menulis. (h. 23)

Sub: Menulis Di Waktu Sibuk. (h. 30)

·      Di dunia ini siapa yang tidak sibuk? Benar. Rasanya semua memiliki pekerjaannya masing-masing, namun ternyata menulis adalah persoalan bagaimana pintar meluangkan waktu dengan rutin walau sebentar.

·      Kuncinya, curilah waktu di mana orang lain belum mengambilnya. Contohnya seperti sebelum subuh. Maka polanya diatur menjadi membiasakan diri menulis sebelum subuh dan tidur lebih dini selepas Isya. Atau juga bisa mengatur waktu menulis satu jam selepas subuh, dan satu jam lagi sebelum tidur, bisa untuk membaca ataupun menulis.


Sub: Tantangan Besar Penulis. (h. 33)

·      Menulis lebih banyak lahir dari hobi yang terus memberikan bahan bakar abadi dan sulit untuk diberhentikan. Sehingga jika benar-benar menjiwai, tidak perlu banyak dukungan cukup dido’akan, anak itu akan melesat seperti pena yang menulis cerita tanpa pernah tahu di mana titiknya.


Sub: Jangan Memaksakan Terbit Lagi. (h. 35)

·      Tulisan hadir bukan sebagai pemuas nafsu penulis itu sendiri, namun untuk membahagiakan pembaca dan memberikan pesan kuat di dalamnya.

·      Menulis sifatnya adalah investasi, maka investasi itu harus ditanam dengan benih bagus agar terus tumbuh, besar, kuat, kokoh, kelak pada masanya juga akan berbuah sangat manis.

·      Jangan memaksakan diri menerbitkan karya tulis dengan kualitas di bawah standar, akibatnya nanti tidak banyak yang membaca, dan akhirnya menjalar kepada rasa putus asa penulisnya.

 

 



Bab. 3. Publikasi Tulisan. (h. 41)

Sub: Hutang Di Buku (h. 63)

· Menjelaskan ini bang Ma’mun Affany membaginya menjadi tiga bagian. Pertama paling tidak penulis memiliki modal untuk cetak tiga puluh persen. Kedua dari pre order. Jika tidak dapat tiga puluh persen, paling tidak dapat dua puluh persen dari porsi keseluruhan. Ketiga meminjam teman dengan porsi sepuluh persen hingga dua puluh persen. Dan Sebelum terakhir, jangan lupa melunasi hutang. Yang pertama harus diselesaikan adalah percetakan. Kedua teman kita. Sisanya sudah menjadi penghasilan yang kita investasikan dalam buku yang telah tercetak.

 

Read next (Resensi part 2) 

Click link here