Jumat, 15 Januari 2021

Hidup Hanya Soal Menjalani


Setiap kepala memiliki logika, setiap logika memiliki polanya, dan sebaik-baik pola jika semuanya kembali kepada Allah swt semata. Ada hal menarik terkait hidup. Berseliweran suara konten kreator menjelaskan tentang hidup, bisnis, pengembangan, produktivitas dan kemajuan manusia. Hampir semuanya mengerucut pada 9 inti pokok, hampir selalu diulang-ulang diperdengarkan bahwa kita harus meluruskan niat, ikhtiar yang serius, pahami sumber uang masuk dan keluar sera pastikan alurnya halal, perbaiki ibadah shalat, sedekah subuh, shalawat, selanjutnya banyak-banyak istighfar, ikhlas, sabar dan tawakkal kepada Allah swt. 

 

Merasa butuh tambahan referensi, mulai kubrowsing berbagai kajian di youtube, beragam sumber kajian keislaman kusimak baik-baik penjelasannya. Dari kajian serius sampai kajian yang ada candanya, dan ternyata sepakat menyimpulkan hal yang sama seperti halnya poin tersebut di atas. Dari sana, aku juga semakin yakin pada ungkapan: “Jika manusia hanya mengejar dunia, maka Allah hanya akan memberikan dunia yang dicarinya. Namun jika akhirat yang dikejar, Allah bukan hanya memberikan akhirat, tapi juga dunia beserta isi-isinya.”  So, pembaca ingin memilih yang mana?

 

Meskipun tidak mendalam kajiannya, tapi izinkan saya sekedar menceritakan kembali tentang apa yang telah saya dengarkan dari kajian-kajian lalu, tidak lain sebagai pengingat bagi saya pribadi, berharap jika suatu saat nanti lalai, lupa, dan khilaf, cepat-cept tersadar akan esensi hidup yang sebenarnya dan dapat terbuka hati untuk Kembali lagi ke jalan yang semestinya. Wallahu musta’aan.

 

Sedikitnya ada 9 point penting, berikut poinnya:

 

1. Niat, tidak banyak yang dibahas dari sini, analogi sederhananya analogi niat pangkas, jika kita niat ingin potong rambut di tempat yang nyaman. Pasti telah kita siapkan anggaran untuk membayarnya yang mungkin harganya lebih mahal, dengan fasilitas tempat yang baik, full ac, pelayanan terbaik. Meski lokasinya jauh dari tempat tinggal, tetap akan dicari dan dikejar, itulah namanya kalau sudah niat. Nah, begitulah kira-kira mengejar ridho dan rahmat Allah itu, meskipun sulit, jalan menempuh tujuannya terjal, tapi karena sudah niat, pasti akan ditempuh. Sehingga hilanglah kata mustahil, terbitlah kemungkinan dan kepastian. Apa memang benar begitukah pembaca?

 

2. Ikhtiar, beberapa inisiator UMKM (usaka mikro kecil menengah), selalu mengulang kata bahwa manusia hanya mampu berikhtiar dan berprasangka baik pada Allah swt, manusia tidak boleh mengejar sukses, sebab hasil bukan kita yang menentukan tapi Allah swt, jadi urusan sukses adalah kehendak Allah bukan kehendak manusia, tapi jangan ragukan kuasa Allah, Dialah yang maha adil dari seluruh apa yang ada di jagad raya ini. Tugas kita cukup sederhana, hanya bekerja maksimal, bekerja habis-habisan, dengan cara halal, sumbernya halal dan diperuntukkan yang halal. Allah maha kaya, dan tidak sulit bagi Allah untuk mengkayakan hambanya, jika Allah berkehendak, jadi, maka jadilah.

 

 

3. Pahami sumber uang masuk dan keluar, pastikan alurnya halal. Tidak sekali kata-kata ini diperdengarkan ditelingaku, entah itu adalah sebuah sinyal hidayah, atau intuisi yang terus mengingatkanku agar selalu dapat bersikap lurus pada aktifitas hidup di dunia. Apapun itu bentuknya, setiap yang kita kerjakan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya,  jangan lupa bahwa pertanggungjawaban hamba pada Allah itu besar. Ingat-ingat kembali fasilitas oksigen dari Allah. Apakah ini gratis? Atau ini berbayar dengan ketaatan? Mari kita diskusikan.


 Maka dengan Batasan hidup yang benar-benar terbatas kudu hati-hati melangkah. Sebab banyak pertanyan yang harus kita persiapkan untuk dijawab nantinya. Hidup di masa muda, dihabiskan untuk apa? Memiliki harta, didapatkan dari mana dan dibelanjakan ke mana? Jabatan digunakan untuk apa? Apakah benar-benar amanah atau khianat dalam kepemimpinannya? Dan lain sebagainya terkait hak dan kewajiban. 

 

 

4. Perbaiki ibadah shalat. Orang yang tidak makan, tidak akan pernah merasa nikmatnya kenyang; sebaliknya, hanya orang yang dahaga yang akan merasa nikmatnya tegukan air pertamanya di tenggorokannya. Nah, begitu jugalah dengan shalat menurutku, indahnya tidak untuk dituliskan tapi untuk dirasakan sendiri. Lebih terasa jika langsung dilaksanakan orangnya.  Bukan saya yang akan menjelaskan, tapi pengalaman spiritual pribadi Adalah yang akan memberikan pencerahan dalam diri dan kelapangan dalam hati.

 

5. Sedekah subuh, hal ini belum terlau familiar bagi saya pribadi, belum pernah menerapkannya juga, namun sejauh ini masih meyakini bahwa yang namanya orang bersedakah, pasti akan berkah rizkinya, serta dimudahkan urusan orangnya. Jika teman-teman pembaca punya pengalaman dalam hal ini, mungkin bisa berbagi di kolom komentar, saya pasti akan sangat senang sekali. J

 

6. Shalawat: ……

 

7. Banyak-banyak istighfar: ……

 

8. Ikhlas & Sabar: …..

 

9. Tawakkal: ……

 

Pada point ke 6, 7, 8, dan 9 kiranya teman-teman ada pengalaman pribadi yang bisa dishare? 

 

Sejauh yang Aku pahami belajar dari pengalaman orang lain lebih terasa dekat dari sekedar teori. Sebab, hampir mayoritas muslim/ah telah mengetahui bahwasannya jika kita bershalawat kepada Baginda Rasulullah saw maka akan terasa mudah dalam segala urusan, hingga kelak akan mendapatkan syafaat dari Rasulullah bi iznillah. 

 

Selanjutnya kita juga mengetahui bahwa tiada manusia yang hidup di dunia ini tanpa dosa. Aku yakin tidak ada satu orangpun yang suci di bumi Allah ini, semuanya punya dosa, terkecuali beberapa sosok yang dikehendaki Allah untuk terjaga dari lalai dan maksiat. Maka dengan istighfar (permohonan ampunan) yang tulus ikhlas kepada Allah, semoga dapat menghapuskan dosa kita dan menggantikannya dengan pelipat gandaan pahala, karena telah tobat dengan sebenar-benar tobat lillahi ta’ala. 

 

Terakhir ikhlas, sabar dan tawakkal, hal ini bukan persoalan lisan tapi persoalan rasa. Biasanya terbentuk dari respon pribadi terhadap fenomena yang terjadi. Direspon dengan hati, dipikirkan oleh kepala, hingga terakhir diucapkan melalui lisan, dan ketika ungkapan itu keluar, dapatlah diketahui kadar positif atau negative hatinya, namun ironinya, hal ini akan menjadi pola pikir, yang akan menciptakan mindset baru pada diri seseorang, maka agar semuanya baik mulailah merespon fenomena dengan rasa yang positif, mudah-mudahan hidup menjadi positif. 

 

Pada akhirnya arti kata ikhlas, sabar dan tawakal sangat terpulang pada diri personl manusia.  Sesuai dengan versi dan kadarnya masing-masing. Jika ditanya apa standarnya ikhlas, sabar dan tawakkalnya? 

 

Secara subjektif diri ini menjawab jika telah berikhtiar, ikhlaskan lanjutannya, tawakkalkan (pasrahkan) hasil akhirnya, dengan bersiap sabar; jika hasil tidak sesuai angan, dan harus bersyukur jika hasil sesuai harapan dan impian.  

 

Allah yang maha adil, tahu mana yang baik, terbaik, buruk dan terburuk bagi hambanya, dan yakinilah bahwa Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk hambanya. Pada esensinya kukira kita sepakat “Hidup hanya soal Menjalani”.

 

* Mohon maaf jika pembahasaan diri, selalu berganti-ganti, terkadang aku dan terkadang saya, sebab diri pribadi hanya mengikuti alur emosi dalam tulisan, ketika kata “saya” tepat dipakai, maka akan dipakai. Dan ketika harus membahasakan sebagai “Aku” maka memang sedang enaknya begitu. 

 

Tuk segala kekurangan dan kesalahan, kepada pembaca saya memohon maaf, kepada Allah saya memohon ampun. 

 

Wassalamu’alaikum wr wb.

 

_____________
_________________

 

Jum’at, 15-01-2021

Lumut, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara

 

 

0 komentar :

Posting Komentar