1. Islamic Philosopher

Philosophy - Education - Pesantren - Psychology - Leadership - Journal.

2. My Books

Biography - Novel - Poetry - Motivation and Reflection - Contemporary Scientific - Compilation and Collective - Da'wah - Philosophy - Textbook

3. Podcasts

ku.isikata - Nilai Pengembara

4. Professor

Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. and Prof. Dr. Irwan Haryono Sirait, M.Pd.

5. Writerpreneur

Real Writer - Writer's home school - Research home school - Poetry house school - Autism home school - Build an international library - Trillionaire

Rabu, 26 Januari 2022

Tips Meresensi Buku Yang Baik & Benar


 Pengertiannya:

Secara bebas Aku simpulkan bahwa meresensi buku adalah seni bagaimana membaca buku dengan lebih teliti dan kritis. Kemudian menuliskan hasil bacaannya dengan bahasa yang membangun, lugas, singkat, padat dan bermutu. Yang dibaca bisa berupa buku, novel atau catatan tertulis seperti surat kabar, majalah dan lain sebagainya, tetap saja dalam mendeskripsikannya harus dengan baik dan menarik.

 

Manfaat & Tujuan Dari Resensi Buku:

Dalam hal memberikan manfaat atau mendapatkan manfaat, dari setiap resensi ada 3 pihak yang saling diuntungkan:

a.     Sisi Penulis Buku

1.     Senang karena bukunya diminati pembaca, sampai-sampai bukunya diulas kembali dari sudut pandang pembaca.

2.     Membantu menyemangati penulis agar terus produktif melahirkan karya baru.

3.     Merasa terbantu untuk mempopulerkan karya barunya di banyak kalangan pembaca di berbagai media sosial online maupun offline.

 

b.      Sisi Peresensi/Resensator Buku

1.     Dari setiap buku yang dibaca peresensi/resensator dapat menambah wawasan keilmuannya secara otomatis, juga bisa mengetahui latar belakang penulisan karya tersebut sampai pada mengetahui alasan mengapa karya tersebut dibuat.

2.     Bebas mengeluarkan pendapatnya tentang apapun; mengenai buku yang barusan tuntas ia nikmati. Baik itu berupa kritikan ataupun saran.

3.     Mengembangkan kreativitas peresensi dalam setiap gaya penulisan resensinya di beragam buku yang memiliki aneka genre yang berbeda. 

 

c.     Sisi Pembaca Resensi

1.     Pembaca mendapatkan gambaran isi buku secara ringkas yang akan dibaca sebelum memilikinya.

2.     Lewat kelebihan dan kekurangan buku yang diresensi, pembaca bisa dengan lapang menimbang hingga memutuskan dengan yakin bahwa buku ini adalah buku yang dibutuhkan untuk dibeli;  jika untuk pribadi, maka usai dibaca menjadi koleksi. Jika cocok buat orang lain, akan dibeli dan dihadiahkan untuknya.

3.     Selalu dapat membaca ulasan isi buku-buku terbaru,  di setiap tahun, bulan, bahkan setiap minggunya.  


Kalau pembaca berminat juga ingin mencoba meresensi seluruh buku, majalah, novel, koran atau apa saja yang barusan dibaca, disini kucoba tuliskan tahapan penting yang mesti tercantum di dalam tulisan kamu, menjadikan tulisanmu enak dibaca orang lain. Dan hal ini aku mengistilahkannya “bangunan rumah resensi”


Bagunan rumah resensi:

Sama seperti sub judul di atas, ibaratkan rumah, resensi tidak akan terbangun jika tidak ada komponen-komponen dasar yang menopang hingga terbangunlah rumah yang utuh. Agar dapat menjadi sebuah rumah resensi yang sempurna. Sedikitnya ada 9 hal penting yang ingin kusajikan bagi teman-teman pembaca:


1.     Cari buku yang kamu suka membacanya. Untuk suka, dengan cara mencari buku yang kamu butuhkan untuk supleman akalmu dan vitamin hati dan jiwamu.

2.     Setelah dapat buku yang kamu butuhkan, kemudian bacalah bukunya senyaman mungkin dan senikmat mungkin. 

3.     Di sela-sela itu, bisa mulai mengumpulkan data identitas buku yang akan diresensi. Biasanya terdiri dari judul buku, penulis/pengarang buku, penerbitnya, cetakan ke berapa, tempat penerbit, tahun terbitnya, ketebalan bukunya, ukurannya, dan terakhir resensatornya/nama peresensinya. Butuh contoh? Clik link ini ya kawan-kawan J

4.     Setelah kepala dipenuhi isi buku dan mulai bercampur dengan pendapat pribadi maka selanjutnya, buatlah judul resensi semenarik mungkin agar membuat pembaca penasaran. Judul yang unik, menarik, biasanya yang dapat merangkum keseluruhan isi resensi buku tersebut.

5.     Buatlah kalimat pembuka sesempurna yang kamu bisa; guna mengikat pembaca bahwa buku ini sesuai ekspektasinya sehingga membuatnya penasaran untuk membaca paragraf selanjutnya. (hal ini biasanya menjadi patokan banyak pembaca). Caranya dimulai dengan mengungkapkan kesan terhadap buku. Bisa juga dengan memaparkan keunikan buku, dan lain sebagainya.

6.     Dari sisi konten/isi resensi, hadirkanlah sebuah informasi yang berbobot agar pembaca mengetahui garis besar isi buku yang diulas. Biasanya berisi sinopsis dari cover belakang buku, ulasan singkat isi buku, melampirkan petikan isi buku (secukupnya), menerangkan kelebihan dan kekurangan buku, penilaian secara tata bahasa, sampai kepada kritikan dari kesalahan cetakan buku, cover dan tata letak dalam bukunya (jika ada). Bahkan jika berkesempatan mendiskusikan isi buku tersebut dengan penulisnya langsung, itu menjadi nilai plus yang sangat luar biasa.

7.     Memberikan satu pesan dan kesan dari hasil bacaan kamu, agar menjadi wawasan, dan ilmu buat orang lain, dari tulisan singkatmu ini.

8.     Buatlah kesimpulan menurut versimu tentang buku ini. Dan terakhir

9.     Tutuplah resensimu dengan penutup yang mengugah jiwa pembaca untuk segera membaca bukunya. Jika sudah punya, menjadi segera ingin membacanya; namun jika belum punya, segera ingin membelinya via online atau langsung ke Gramedia terdekat, atau juga bisa mengunjungi toko-toko buku kesayangannya.



Q & A  seputar resensi.

1.     Ada berapakah jenis resensi?

JB: Secara garis besar terbagi menjadi dua macam. Pertama resensi informatif-evaluatif dan kedua resensi Kritis dengn menerangkan landasan teori dan metodologinya.

2.     Apa perbedaan mendasar antara resensi dan review?

JB: Resensi sebagaimana yang kujelaskan di atas, sedangkan review biasanya upaya mengkritisi suatu penelitian/penampilan yang sedang dilakukan/dipertunjukkan dengan ketentuan tema tertentu secara khusus, baik itu dalam bentuk hard file maupun soft file. 

3.     Apakah saya bisa menulis resensi dan bagaimana caranya?

JB: Ya Anda pasti bisa, tanpa ragu kukatakan Anda mampu dan pasti bisa! Titik (.) tidak ada koma. Caranya: Ikuti saja arahan di atas dan percayalah pada dirimu sendiri bahwasannya kamu bisa. Selamat mencoba. J

Senin, 24 Januari 2022

Pendidikan Adalah Mantra Masa Depan

Banyak kasus dikatakan bahwa pendidikan adalah politik tertinggi dalam suatu negara, selain itu pendidikan juga dibeberapa tempat menjadi faktor pembeda  dalam proses pengklasifikasian masyrakat, antara masyarakat terdidik dan terlatih. Di mana masyarakat terdidik lebih tinggi derajatnya dari pada terlatih, sebab pola pendidikan menggunakan akal dan rasa untuk membentuknya sedangkan terlatih lebih mendominasi tenaga dan kekuatan untuk membiasakannya. Selain itu juga, banyak kasus di lapangan orang berpendidikan dianggap lebih siap dan mampu diterjunkan ke lahan perjuangan dari pada orang yang sama sekali tidak ada pendidikannya. Namun tidak mesti demikian sebenarnya yang terjadi di lapangan, terkadang kebalikannya juga malah yang terjadi. Namun pada intinya pendidikan saat ini menjadi tolak ukur akan keberlangsungan kemajuan atau kemerosotan dalam sumber daya mansuia di dalam suatu negara. 

Dalam proses pendidikan langsung di keluarga misalnya. Bermula dari tujuan bekeluarga untuk menjaga diri, menyempurnakan ibadah, dan mengikuti sunnah nabi menyempurnakan ajaran agama, maka seterusnya akan berpikir untuk meneruskan garis keturunan dengan memiliki anak, dan berubah status menjadi orang tua. Membesarkan anaknya tidak lain adalah untuk menciptakan generasi terdidik. Upayanya Bergam macam.

 

Dalam usia perkembangan, pedidikan fisik mulai dilatih. Dari mulai berbalik badan,  mengangkat leher dan kepala, bertahan lama dalam tengkurap (berbalik badan), kemudian mengesot, setelahnya merangkat, merambat, dan selanjutnya berdiri, berlari, dan disisipi itu, ada juga yang telah mahir berbicara, ada juga yang masih terbata-bata, semua itu adalah bagian dalam pendidikan fisik, namun yang lebih besar dari itu adalah pendidikan ruhani, yang akan ditampilkan seiring perkembangan otaknya yang semakin berkembang, dan dirinya yang telah mulai bisa memahami terhadap semua yang diajarkan, biasanya hal mula-mula yang ditanamkan adalah  adab, sopan santun, cara berbahasa, cara bersikap, cara berdo’a, menghafalkan do’a-do’a ringan, dan lain sebagainya. itu semua adalah pendidikan dini dalam dunia masyarakat terkecil. Yaitu pendidikan, jasmani, ruhani, aqli dan qalbi dengan upaya menciptakan gerasi unggul sedari ini, sedini mungkin.

 

Kemudian memasuki dunia pendidikan sekolah dasar, selanjutnya memasuki pola pendidikan madrasah tsanawiyah, madrasah Aliah, yang dalam proses yang lebih spesifik dalam bidang agama adalah pendidikan KMI Pesantren, sedang pesantren itu berdasarkan sistemnya sendiri secara garis besar pembagiannya ada 2 macam, pesantren bersistem salafiah dan bersistem  Modern. Telepas dari dua sistem yang berbeda dalam pelaksanaannya, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu keduanya berokuskan pada hal yang paling prioritas, yaitu mencetak generasi bangsa yang islami, tarbawi dan adabi. Untuk menghidupkan minimal 3 hal tersebut, diperlukan pola  pendidikan matang itu sendiri, diantaranya: Dibutuhkan banyak instrument di dalamnya; guru, murid, sarana-prasarana, dan seterusnya.  Sedang dari proses penanaman karakternya berjalan selama 24 jam sedemikian rupa. Di dalamnya banyak nilai yang perlu guru tanamkan pada muridnya, sehingga terciptalah anak dididik yang siap dididik, organisasi-oraganisasi yang siap terjun dalam pola pendidikan secara menyeluruh, dalam jiwa murid/santri yang siap hidup dan menghidupkan kebaikan dan kebermanfaat dalam masyarakatnya.

 

Mantra keyakinan bahwa apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang dirasakan di pesantren keseluruhannya adalah bagian terpadu dalam pendidikan. Menjadi mantra ampuh pencegah dari pada ketakutan, keraguan sehingga yang tercipta adalah keterpaduan dan keajaiban, untuk menciptakan pola pendidikan luar biasa untuk masa depan.

 

Baru sampai sini dulu catatan kita, semoga nanti bisa melanjutkan pola pendidikan di dunia kampus. Dunia baru yang memberikan banyak dinamika ideologi, pola pengkajian lintas pemikiran, dengan beragam kekayaan literasi yang tak terhingga. Begitu luasnya lautan, lebih luas lagi ilmu yang dibicarakan oleh para mahasiswa pencinta ilmu dan pendidikan, untuk itu. Di lain sesi nampaknya perlu kita bahas tentang luar biasanya dunia pendidikan ini di ranah mahasiswa. 

 

Terima kasih kakak, sudah membaca sejauh ini,

Semoga harinya cerah, dan sehat selalu ya.

Minggu, 23 Januari 2022

Kamu Berbohong?



Judul Buku : Bohong Di Dunia

Penulis       : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit     : Gema Insani

Cetakan     : Kedua, Syawwal 1438 H/ Juli 2017 M

Tebal : xvi + 128 hlm; 18,3 cm

ISBN           : 978-602-250-383-5

Resensator : Irwan Haryono S., S.Fil.I

 

**

“Orang yang berani berkata terus terang adalah orang yang mendidik jiwanya untuk merdeka. Orang yang berani menerima perkataan orang yang berterus terang adalah orang yang membimbing jiwanya kepada kemerdekaan. Oleh sebab itu, kebenaran adalah kemerdekaan.” [HAMKA]

**

 

 

Sebelum mengulas mendalam tentang judul ini, mari kita cari tahu dulu apakah yang dimasudkan dengan bohong itu sendiri?

 

Berbohong atau berdusta adalah berkata tidak jujur atau tidak berdasarkan fakta sebenarnya. Orang yang berbohong akan melontarkan kata-kata yang tidak benar, perkataannya sudah pasti tidak sesuai atau berlawanan dengan fakta dan realitas. 

 

Jika bohong itu adalah tradisi anak muda, mungkin hampir setiap hari remaja ibu pertiwi mempraktikkan tradisi ini, sebab kita adalah bangsa yang taat akan budaya dan tradisi leluhur nenek moyang. Akan tetapi nyatanya tidak. Hal ini bukan identitas remaja Indonesia, bukan juga tradisi leluhur, apalagi menjadi warisan turun temurun bangsa. Ajaran terpenting dari bangsa ini. Adalah ajaran bekerja keras, berjuang keras, kuat silaturrahim dan membumikan kejujuran dari seluruh lapisan masyarakat, dimulai dari tradisi jujur pada lingkungan keluarga internal, keluarga di lingkungan, hingga menjadi tradisi dari satu negara. Untuk itu bohong bukan tradisi kita, bohong adalah penyakit yang harus diberantas habis hingga keakar-akarnya, namun jika itu berat, maka sebelum membumi hanguskan kebohongan dari dunia fana ini, hilangkan terlebih dahulu bohong dalam dirimu sendiri, selanjutnya biarkan bohong dunia akan hilang dengan sendirinya karena lewat jujurmu; lewat kejujuran saudaramu yang lebih mendominasi populasi dunia ini yang datang dari dasar hati masing-masing diri.

 

Bercerita tradisi bangsa, ternyata dibelahan dunia sisi lain, kebohongan ini menjadi sebuah tradisi; di belahan dunia barat, ada satu kebiasaan senda gurau atau canda yang telah lazim di Benua  Eropa dan menjalar kepada bangsa kita agaknya, yaitu kebohongan atau dusta 1 April. Begitu mereka menyebutnya. Orang Inggris menamakannya “April Fool”, orang Prancis “Poisson d’avril” orang Jerman menamai “Der Aprilnarr”. Pada setiap tanggal 1 (satu) April, biasanya surat-surat kabar menerbitkan atau menyiarkan kabar berita yang ganjil dan bohong, tetapi bohong yang tidak merusak. Pada 1 (satu) April 1846, surat kabar The Evening Star di London memberitakan bahwa di kebun percobaan akan diadakan satu pertunjukkan keledai yang baru didatangkan dari benua Afrika. Datanglah orang berduyun-duyun ke tempat itu hendak menontonya. Namun, tidak ada seekor keledaipun yang muncul. Ternyata, orang-orang yang datang menonton “acara” itulah yang jadi “keledai” nya. Menjadi tontonan orang lain karena lupa serta dikerjai bahwa hari itu adalah 1 (satu) April,“April Fool”.

 

Disisi yang sama, plato di dalam bukunya yang terkenal, Republik, Plato mengatakan pada suatu masa, bohong tidak lagi merupakan perbuatan tercela, alasan Plato: “… Kata-kata bohong (dusta kadang-kadang ada juga manfaatnya dan tidak tercela, misalnya ketika berhadapan dengan musuh, pada waktu teman kita sangat marah, atau ketika seseorang sedang tertekan karena kesalahan pendapatnya sendiri, hingga nyaris jatuh ke dalam suatu perbuatan yang sia-sia. Maka, perbuatan bohong pada waktu itu menjadi berguna, seakan-akan seperti obat dan penangkal. Demikian juga dengan cerita-cerita dongeng yang kita bicarakans sekarang, oleh karena kita tahu hakikat zaman yang telah lampau itu, kita menggambarkan dusta seolah-olah hampir mirip dengan kebenaran.”

 

Lain plato lain pula dengan Aristoteles, menurutnya orang yang mengatakan kebenaran (jujur) yang sejati ialah yang berkata benar dan meninggalkan dusta, bukan karena mengharapkan keuntungan, tetapi dia cinta kebenaran dan merasa puas telah berkata benar. Sebaliknya, dia menjauhi dusta karena memang hatinya benci dengan dusta, dan tidak mengharapkan keuntungan apa-apa. Dalam hal ini Aristo membagi dusta menjadi beberapa tingkat, ada yang sangat berbahaya dan ada yang kurang bahaya. Kalau kita berdusta karena ingin martabat tinggi atau karena ingin masyhur (popular), maka “dicampur” sedikit dengan dusta, tidak mengapa. Begitu pendapat beliau. Namun, jika dusta digunakan untuk mengejar harta, inilah dusta yang paling buruk dan hina.

 

Lain dari kedua tokoh filsuf di atas, Nabi Muhammad saw sebagai rasul dalam agama Islam menjelaskan bahwa maksud hadirnya agama Islam sebagai penyempurna adalah untuk menimbulkan keteguhan jiwa manusia, keteguhan menimbulkan kejujuran dan tidak mengenal bohong. Sebab bohong adalah hasil dari jiwa yang lemah. Allah swt berfirman dalam surat Al-Ahzaab:70 yang artinya:

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

 

Dalam surat At-Taubah: 119 Allah kembali berfirman yang berarti:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”

 

Dan terakhir firman Allah swt dalam surat an-Nahl: 105, yang artinya:

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong.”

 

Berdasarkan isi dari ketiga ayat itu, bahwa hidup yang dianjurkan oleh Islam adalah hidup yang mempunyai kepercayaan (iman) kepada Allah. Iman menimbulkan takwa, yaitu memelihara jiwa dari pengaruh-pengaruh perbuatan jahat yang akan menjatuhkan martabat manusia. Iman juga menjaga manusia agar senantiasa berhubungan dengan Allah swt. 

Keduanya, iman dan takwa akan rusak dan binasa apabila seseorang telah berani berdusta. Ditegaskan kembali bahwa dusta hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah.

 

Buku saku ini mengulas ringkas, namun mendalam tentang Bohong. Di antara 11 daftar isinya adalah: 1. Bohong (Bohong dan benar, bohong diam dan bohong samar, bohong dalam perbuatan, bohong dan serba-serbi bentuknya). 2. Terus Terang (Bohong menumbangkan masyarakat, khianat, senda gurau, benar lebih tenang, basa-basi, sunnah nabi). 3. Agama Menyikapi Bohong (Agama Yahudi, Agama Nasrani, Agama Islam, beberapa bimbingan Nabi Muhammad saw, pintu kekayaan batin). 4. Bohong yang Diperbolehkan(Antara terus terang dan bohong, bagaimana jika terjadi? Pandangan Islam, Kata-kata yang disamarkan, cerita gembira, teka-teki, dongong, April fool (April mop) pandangan plato), 5. Bohong dalam Ilmu Jiwa(anak-anak dan kebenaran, apa penyebab anak-anak berbohong, bohong karena takut, bohong yang disengaja). 6. Pendapat Aristoteles. 7. Pendapat J.J. Rousseau (Pembagian bohong, penyebab anak-anak berdusta, kesalaahn guru). 8. Pendapat Granville Standley Hall (sayang dan benci, karena mementingkan diri sendiri, dusta keberanian, dusta penyakit, dusta karena sombong), 9. Penelitian Ferriani. 10. Penutupdan 11. Filsafat Bohong.

 

Tertarik saya ingin membacanya lebih lanjut seusai membaca sinopsis judul ini, pada kalimat: “Berbohong atau dusta adalah berkata tidak jujur atau tidak berdasarkan fakta sebenarnya. Orang yang berbohong akan melontarkan kata-kata yang tidak benar, perkataannya sudah pasti tidak sesuai atau berlawanan dengan fakta dan realitas.”

 

Dalam bukunya ini Prof. Dr. Hamka mengupas dan mengkaji secara detail bahasan tentang kebohongan. Pembahasan ulasannya mengulas-kaji bohong dari perspektif Islam. Beliau juga membahasnya dari sudut pandang ahli ilmu kejiwaan, seperti Aristoteles, J.J. Rousseau, Stanley Hall, dan lainnya sebagaimana terangkum pada bait di atas; dimana intisari fenomenalnya adalah: “Sikap kejujuran dan keberanian mempertahankan kebenaran adalah intisari dari jiwa yang merdeka. Sementara itu, kebohongan atau kemunafikan adalah gejala dari jiwa budak!” (HAMKA)

 

Pada halaman akhir, sebelum mengakhiri isi buku ini beliau menuliskan pesan bahwa: “Bohong satu kali adalah laksana nila setitik dimasukkan ke dalam susu sebelanga. Bohong satu kali kerap menjatuhkan harga seseorang di hadapan sesama manusia untuk selama-lamanya. Jujur dan benar adalah sifat semula jadi mansuia. Setara hati yang asli adalah jujur dan tidak mau berhohong.

 

Waallahu a’alam.


Terima Kasih sudah mau membaca hingga sejauh ini.

 

Ahad, 23 Januari 2022

Medan. Sumut. Indonesia

 

Sabtu, 22 Januari 2022

Lahirnya Orang Besar



Orang besar tidak akan pernah lahir tanpa landansan filosif hidup yang kuat. Jika mengira orang besar adalah orang yang tiba-tiba mendadak tenar, mendadak viral atau terlahir sebagai orang yang ditakdirkan untuk menjadi orang besar; tidak demikian adanya. Sebab semua yang terjadi itu tidak lain adalah tumpukan dari hal-hal kecil, terbentuk lewat pengulangan-pengulangan kecil yang berulang, dan ini sudah merupakan suatu keniscayaan, tidak akan pernah usai sampai kapanpun, itulah yang biasa orang sebut dengan sebutan sebuah proses.

 

Orang besar yang sesungguhnya sudah tidak lagi mengejar ketenaran atau kegemilangan namun yang ia kejar adalah kebermanfaatan. Dia dapat merasakan nikmatnya kenyamanan dan kebahagiaan ketika dapat melakukan kebermanfaat buat orang lain. Sehingga membuatnya konsisten, sebab dia yakin yang dilakukannya adalah hal yang benar. Maka hidupnya selalu ada di waktu dan tempat dia hidup; selalu dapat mengartikan waktu sekarang dalam kebermanfaatan hari ini, selalu sadar dalam setiap langkah untuk kemajuan hari ini dan keputusan yang diambil tidak berkepanjangan dalam bentuk pengandaian dan pengandaian akan masa depan, sebab masa yang terbaik adalah saat ini, masa depan akan terbentuk sesuai bagaimana diri hari ini.

 

Dalam kamus orang besar tidak ada kata ‘andai’ yang ada kata ‘istimewa’. Dalam kamusnya hari ini adalah hari baru yang harus ada perubahan ke arah lebih baik, hari ini adalah anugrah harus berusaha semaksimal yang diri bisa, harus menjadi sosok yang luar biasa, tidak terlalu jauh berandai, tapi berpikir keras untuk merealisasikan mimpi yang telah dibangunnya sungguh-sungguh, mereka percaya bahkan yakin atas apa yang mereka pikirkan, dan berusaha untuk meraihnya. Sedaya upaya tenaga yang mampu dilakukannya.

 

Sampai di sini aku paham sekarang. Mengapa kita diharuskan meninggalkan pengandaian, dan beralih untuk melakukan yang terbaik. Dalam rumus Islam, hari ini harus lebih baik dari hari yang kemarin agar termasuk orang-orang beruntung, sebab jika hari ini sama seperti hari kemarin sama seperti orang merugi, dan sangat ironis jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, bisa tergolong orang yang terlaknat. Untuk itu solusinya adalah kembalilah kepada realita kehidupan. Ada proses yang harus dilewati, ada duka yang harus dirasakan, ada kesedihan yang harus diderita, ada keputusasaan yang terkadang datang menghampiri, itu semua adalah bagian untuk terbentuknya rasa bangga dan kebagiaan bagi diri sendiri, suatu saat nanti.

 

Sebab realita saat ini detik ini adalah miliki kita, namun kedepannya adalah milik sang kuasa, dan masa lalu adalah masa yang telah jauh berlalu, tidak mampu mengembalikannya, walau barang sedetikpun. Namun untuk satu keinginan yang luar biasa di masa depan, itu bukan pengandaian, namun itu bagian dari intuisi yang harus diwujudkan, karena mungkin tidak banyak orang yang terpikir untuk itu, maka realisasikanlah agar kamu menjadi salah satu dari yang terabadikan namanya dengan keringatmu.

 

Jadi, orang istimewa adalah orang yang dapat mewujudkan apa yang ada di dirinya, meskipun orang lain belum paham maksudnya, itulah tugasnya, sebab bagiku orang istimewa adalah orang yang mendahului pemikiran orang-orang di zamannya. Ketika ia mampu mendemokan apa yang ada dalam pikirannya untuk bisa diterima orang lain, bahkan masuk dalam pola pikir orang lain; sehingga yang lainnya juga mampu mengikutinya. Dan pada saat itu, dia bukanlah orang terkekang, sebab ia mengikuti hati nuraninya, dia adalah orang paling besar yang pernah ada dilahirkan di dunia.

 

Jumat, 21 Januari 2022

Alasan Pentingnya Kegagalan Dalam Hidup


ilustrasi photo diambil dari feed instagram @memberilebih

Mau tidak mau, kamu akan gagal di beberapa titik dalam hidupmu, jika itu terjadi nanti maka terimalah itu. Kamu akan kalah, kamu akan mempermalukan dirimu sendiri, dan pada posisi tersebut kamu tetap tidak boleh berhenti, Kamu tidak boleh  mundur. Alasannya ada pepatah eropa bilang: “you hang around the barbershop long enough sooner or later, you’re going to get a haircut” Jika kamu sering berkeliaran di tempat potong rambut, cepat atau lambat, kamu akan potong rambu. Jadi jika kamu terus mencoba dan terus mencoba lambat laun kamu pasti akan berhasil dan mencapai targetmu juga.

Untuk itu ada satu pertanyaan ampuh, apakah kamu memiliki nyali untuk gagal? “If you don’t fail, you are not even trying.” Jika kamu tidak pernah gagal, berarti kamu tidak pernah mencoba. Maka dari itu Untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah kamu miliki, kamu harus melakukan sesuatu yagn belum pernah kamu lakukan. “To get something you never had, you have to do something you never did.”

 

Lakukan yang terbaik yang belum pernah kamu lakukan, maka tunggulah keajaiban. Kamu telah berinvestasi banyak untuk pendidikan, dan orang-orang berinvestasi untukmu jangan lupa itu. 

 

Kamu dengan apa yang ada dalam dirimu, kamu anggap adalah hal yang biasa, tapi bagi dunia bakatmu itu dibutuhkan. Dan akan selalu seperti itu. Dan dunia yang dimaksudkan itu adalah kamu anak muda. Kamu bisa memberikan segalanya; apakah itu bakatmu, waktumu, do’amu, atau hartamu, keluarkan itu semua untuk dunia ini dan orang-orang di dalamnya, sebab kamu tidak akan pernah melihatnya ada disampingmu saat kau meninggalkan dunia, biarkan semua yang kau tinggalkan ada materi yang sifatnya keduniaan, sedangkan yang kamu bawa adalah do’a dan ridho mereka, menjadi temanmu saat kau sendiri tiada seorangpun yang menemani.

 

Apa yang akan kamu lakukan dengan yang kamu miiki?

What are you going to do with what you have?

 

Ada yang punya kesabaran, kebaikan, ketulusan, kepintaran, uang, bakat, dengan itu semua, coba tanyakan pada dirimu, apa yang akan kamu lakukan dengan apa yang kamu miliki?

 

Terkadang, bertanya pada diri sendiri dengan penuh kesadaran, adalah cara terbaik untuk mengetahui kemana arah hidupmu. “So you will catch a break, and I did catch a break.” Jadi kamu akan mendapatkan kesempatan, dan aku mendapatkan keberuntungan karena telah mengingatkan”

Kamis, 20 Januari 2022

Tukang Mop



Lucu melihatnya

Tua tapi lupa akan usia

Bisanya berkata tanpa otak yang sempurna

 

Tidak memikirkan solusi

Tapi justifikasi lewat teori

Mencari-cari pembuktian tetapi tiada arti

 

Hai orang tua harapan anak-anak besar padamu

Anggap mereka anak kandungmu jangan cambuk kakinya jika tak tahu

Bimbing hidupnya jangan dicederai lewat buli kata sengaja dungu

 

Tega kau mop anak remaja

Berani kau dengan anak yang baru tambah usia

Tak tahukah kau, nanti mereka jadi pemimpinmu saat kau tua renta

 

Hentikan mopmu tukan mop yang tirani

Berikan saja mopmu pada teman sekerja jika kau berani

Kau pengecut, jangan kau buktikan itu lewat kebodohanmu tai.

 

20 Januari 2022

Rabu, 19 Januari 2022

Kamu Adalah Subjek Dalam Pendidikan

 


Yang dididik oleh Raudhah adalah subjek bukan objek. Dan KAMU adalah SUBJEK dalam pendidikan. Seyogyanya subjek itu harus memberikan perubahan. Dengan alasan itulah kamu diturunkan langsung ke rayon-rayon, ke organinasi-organisasi, bahkan terjun dalam setiap kegiatan pondok, dengan tujuan menguasai permasalahan. Sebab kamu adalah orang penting, dididik untuk menjadi calon pendidik dan pemimpin masa depan, dididik untuk menjadi singa-singa jantan bukan kambing; dididik untuk mengaum bukan mengembek.

 

Dalam satu pepatah berbunyai “seorang pendidik sudah pasti seorang pemimpin, tapi seorang pemimpin belum tentu seorang pendidik” maka mendidik santri/santriwati adalah suatu kesungguhan, mengorbankan lebih dari 60 kelas ditiketkan, karena ini adalah kegiatan sakral, ini adalah puncak pembekalan penting bagi santri dan santri/wati akhir. Maka mendidiknyapun dengan penuh kesungguhan. Agar kelak menjadi seorang pendidik yang benar-benar tahu cara mendidik.

Mendidikmu agar menjadi seorang pendidik, sama halnya mendidik rangkap, seni kepemimpinan ada didalamnya, osean keislaman menjadi dasarnya, wawasan pengajaran dan pendidikan kaya amsilahnya, maka dari itu jangan salah niat, jangan salah kaprah, orientasinya adalah apa yang dapat kamu sedekahkan kepada masyarakatmu.

 

Jika uang yang kamu miliki maka sedekahkanlah itu di masyarakat; jika ilmu yang kamu miliki, maka sedekahkanlah itu di masyarakatmu; jika amal (kekuatan/tenaga) yang kamu miliki maka kerahkanlah itu sebagai ladang sedekahmu. Dengan semangat bersedekah itulah bekal kepemimpinan sebenarnya yang pondok ajarkan kepadamu.

 

Berevolusilah menjadi sosok yang dermawan, berinteraksilah dengan lingkungan, seraplah ilmu disana, sebab jika sekedar teori sebentar lagi teori itu akan kami cukupkan untukmu, namun untuk praktek, kamu harus belajar dari awal lagi, banyak hal yang belum kamu ketahui, maka belajarlah lagi, banyak hal yang perlu kamu jelajahi maka jangan berhenti disini, sedikit yang kamu lakukan namun istiqomah jauh lebih baik dari pada banyak namun hanya sekali saja. Maka sedekahkanlah yang kamu miliki, sebesar yang kamu mampu secara berkala, semoga kamu beruntung.

 

*Nasehat Pembukaan Amaliyah Tadris di Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Rabu, 19 Januari 2022 oleh Ust. Miftakhuddin, MM. disarikan oleh Ust. Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I

 

 

 

Selasa, 18 Januari 2022

Berjanjilah Jika Kamu Mampu Menepatinya!


Dalam hidup selain iman hal selanjutnya yang perlu dipegang dan benar-benar dijaga adalah janji. Banyak hal yang merubah seorang miskin menjadi kaya tiba-tiba karena tepat janji, dan begitu juga kebalikannya, banyak petinggi, hebat, kaya seketika tidak berdaya karena tidak menepati janji.  

Menganalisis bebas, mungkin karena menepati janji, adalah bagian dari nilai yang ditanamkan nabi, siddiq, amanah, fathonah, tabligh. Tapi jauh dari pada itu perihal menepati janji adalah menyenangkan hati yang diberikan janji, dan mengingkarinya adalah sebab menyakiti hati orang lain.

 

Berjanji jika merasa mampu melaksanakannya namun jika tidak mampu menepatinya, jangan coba-coba mengatakannya; jangan coba-coba berjanji jika tidak berkeinginan mewujudkannya; tidak usah diucapkan, sebab dalam pengucapannya selalu ada saja yang berharap; berjanjilah jika itu mendekati pasti kamu lakukan, dan itu pun jangan lupa sematkan nama Allah swt di sana “Insya Allah” atas izin Allah, sebab beberapa kali seseorang berjanji, beberapa kali sebab tidak menepatinya melainkan karena lupa, dan tidak seorang mu’minpun lupa kecuali karena mereka dikelabui ‘syaithan’ atau disebabkan ‘ma’siat’ yang dilakukannya sendiri.

 

Untuk itu berjanjilah jika memang itu dibutuhkan, berjanjilah dengan nama Allah dalam setiap ucapanmu, dan dan terakhir kalinya, berjanjilah jika itu benar-benar secara jasmani dan rohani kamu bisa melakukannya, jika tidak, jangan coba-coba berjanji, sebab menghianati janji tergolong pada lingkaran orang munafik, dan tempat kembali di akhiratnya nanti adalah neraka, dan akan di azab di dasar kerak neraka. Na’uzubillah,.. Wallahu’aalam. 

 

Senin, 17 Januari 2022

Tergelincir Sekali; Mati Sekali Itu Juga

Buku ini singkat, novel yang selesai jika dibaca setengah jam sampai satu jam, memiliki alur cerita searah yang cukup singkat, tidak terlalu berliku, mendeskripsikan satu permasalahan, selesai; dan timbul masalah selesai; muncul masalah selesai; walaupun singkat tidak melupakan sisi khas dari penulis karangan ini, yang melatar belakangi khas adat dan mengangkat tema tentang peran pendidikan para pemuda saat ini. 

 

Digambarkan sosok pemuda yang memiliki pendidikan tinggi dianggap tidak pantas mengerjakan pekerjaan kasar seperti bertani atau berdagang keliling. Menjadi gurupun haruslah dengan gaji tinggi.

 

Alur ceritanya ringkas, berawal dari sosok Syamsiar yang usai menyelesaikan pendidikan tinggi agamanya lalu pulang ke Kampung halaman, kemudian tersohor dengan kelayakan keilmuannya, menjadi bunga mekar, diperebutkan oleh pemuda-pemuda pilihan dari berbagai kalangan, sosok saudagar mampir menghampiri, perawakan tua yang hendak memperistri lagi tak urung menawarkan diri, silih berganti orang yang ingin mempersuntingnya. Sehingga pada akhirnya Syamsiar jatuh hati pada seorang pria muda nan pekerja keras, berakhir dengan mendirikan rumah tangga bersama sosok pria yang menjadi idamannya sesuai seperti kisah romansa yang dibacanya dari buku-buku yang didapatkannya dari temannya semasa menuntut ilmu di Padang. 

 

Aktivitas barunya adalah mengkhatamkan buku-buku belum tuntas dibacanya, karena asyik dengan buku-buku romantis yang selalu ia konsumsi, Syamsiar mempunyai pendirian yang sudah teguh, yaitu pendirian cinta.

 

Syamsiar tidak akan menikah kalau tidak dengan lelaki yang dicintainya, ia tidak mau menikah paksa, ia tidak mau bersuami tua, tua bangka, dan ia tidak mau poligami! Kalau ia akan menikah, hendaklah laki-laki itu cinta kepadanya. Kalau tidak begitu, menurut Syamsiar, nikah itu palsu, menikah yang tidak berarti.

 

Sementara pada halaman 22 – 23 dalam buku ini divisualisasikan sosok Hasan si pria yang selepas diploma berkhitmah di dusun kecil di pedalaman Aceh, hingga sampai satu ketika ia ingin pulang kampung untuk menghidupkan kampungnya sendiri. Meskipun mamaknya mengajaknya lebih baik menurutkan ia pergi menggalas dan berniaga, ia tidak mau lagi. Ia hendak tinggal di kampung saja mendidik anak-anak kampungnya menurut pengalaman dan penderitananya. 

 

Diaturnya anak-anak itu kira-kira 20 orang, siang diajarnya bersawah dan berladang, malam diajarnya menulis dan membaca, diberinya pula pengajaran agama. Ia berkeyakinan, kalau anak-anak itu lepas dari didikannya kelak, dapat menjadi orang alim, hendaklah menjadi orang alim yang mampu mencari sesuap nasi dengan tenaga sendiri.

 

 Mula-mula pekerjaan itu menjadi tertawan dari kawan-kawannya yang bersekolah agama, yang pulang sekali-sekali ke kampung, tetapi tidak dipedulikannya. Namun, lama-kelamaan orang kampungpun sayang kepadanya, anak-anak itu pun bertambah juga banyaknya. Ia hidupkan sistem pondok dalam pendidikannya dengan dimodernkannya. Diajarkannya anak-anak itu hidup sederhana karena dahulu ia telah salah dengan keroyalannya. Karena itu ia insaf dan memperbaiki kesalahannya.

 

Singkat cerita, bertemulah antara Syamsiar dan Hasan, dalam suatu majelis, tetiba melihat sosok hasan, orang tua Syamsiar pun jatuh hati padanya, setelah dicari tahu tentang statusnya ternyata Hasan pun seorang bujang yang sendiri pula, bertambah rasa ingin mereka menjadikannya mantu, merupakan suami buat putrinya itu. Hingga akhirnya bekeluargalah mereka berdua.

 

Namun bekeluarga bukan sekedar hidup berdua, akan tetapi bekeluarga adalah melintasi lautan dengan skoci kecil, awalnya mungkin hanya berani mengayuh ditepian pantai karena takut akan ombak dilautan lepas, namun apa daya dan upaya ketika diri terpaksa harus bertahan dengan kemampuan sekoci di tengah lautan, karena terbawa angin kencang ketika badai, boro-boro bertahan barang berahun-tahun, belum genap setahun sudah karam di tengah lautan, telah bocor sekoci yang di paku sedari awal saat mendirikan bendera kehidupan.

 

Dalam buku ini “Angkatan Baru”, Buya Hamka menyoroti tingkah polah pemuda yang seusai pendidikan tidak malah terjun di masyarakat untuk kebermanfaatan bagi orang banyak, malah mengurung diri di bilik kamar, sambil menikmati masa muda menurut versinya selama ia hidup di perantauan jauh di mata. Padahal realita teori dan konsep yang diterima di bangku kuliah aplikasinya adalah di lapangan, begitulah seharusnya.

 

Saban hari kerap kali orang-orang bertanya pada Buya hamka “Kejadiankah cerita ini wahai Tuan Hamka?”jawabnya: “Tentu saja hikayat-hikayat ini semua kejadian, kejadian di masyarakat. kampungnya terjadi adalah di dalam masyarakat, kotanya ialah penghidupan, bahannya diambil dari renungan, penderitaan dan keluhan orang-orang.” Sebuah kisah yang diambil dari kisah nyata dengan taburan bumbu seni sastra, menjadikannya gurih untuk dilahap seketika seusai plastik baru mulai dibuka.

 

Tidak banyak sosok yang menjadi peran dalam novel mini ini, ada Syamsiar dengan latar belakang kampungnya, dan Hasan dengan latar belakang prinsipnya, pekerjaannya, dan sedikit tentang latar belakang kehidupan di masyarakatnya. Selebihnya adalah tambahan yang memperindah cerita dengan sedikit gelomban polemik yang dibuat seakan hikayat ini benar-benar terjadi depan mata, namun menurut saya, buku ini tak ubahnya kepada curhatan hati seseorang yang kemudian dibukukan menjadi sebuah catatan singkat, yang barusan saja telah saya lahap habis dari cover judul hingga ke cover belakang buku.

 

Selain tentang pendidikan, dan sosok yang usai dalam pendidikan tingginya dan pulang kampung dalam novel mini ini, juga Buya Hamka menjelaskan tentang kehidupan berumah tangga yang harus menyeimbangkan antara keharmonisan keluarga dan juga harus tetap eksis dalam gelanggang penghidupan, jika tidak maka lambat laun ilmu diri tidak diakui orang, hingga pada akhirnya kita akan hilang dari ingatan orang seperti ditelan Bumi.

 

Selain dari pada itu, juga betapa tersiratnya pesan buku ini tentang kehidupan berkeluarga mesti diramu 100% dari kedua belah pihak, antara suami dan istri. Tidak boleh ada orang ketiga, sebab peribaratan Hasan seperti tinggal di dalam sangkar yang terbuat dari emas, meskipun emas, tapi tetap sangkar juga namanya, dan burungnya tetap terkurung. 

“Jangan saya diberi minum kehidupan, kalau akan dicampurkan dengan kehinaan. Namun, berilah saya setegak air kematian, asal di dalamnya cukup kemuliaan. Neraka dengan kemuliaan lebih Aku sukai menderitanya, dari pada syurga dengan kehinaan.”

 

Sebuah ungkapan khas, tatanan bahasa bersajak, berbalut sastra dan emosi, inilah yang menjadikan sastra Buya Hamka berbeda dengan lainnya, bahasa halusnya indah mewarnai tulisan dalam setiap bait yang dibuat. Hanya saya merasa di novel ini, lebih sedikit ungkapan bergaya sastranya, tidak sebanyak di Tenggelamya Kapal van der wijck, atau di beberapa karya sastra lainnya dari karya beliau. Padahal sebagai pembaca aku menunggu untaian kata yang bernas, bersahut-sahutan seperti pantun, namun dengan bahasa puitis lagi agamis, logis dan cerdas, itu nampaknya kurang dalam catatan ini.

 

Namun tak berhenti disana saja, muatan buku ini tatap banyak mengandung pesan moral, sebagai penulis resensi tidak sopan kiranya jika saya utarakan keseluruhan tanpa meninggalkan sensasi beberapa keseruan bagi pembaca yang ingin menikmati langsung alur novel mini ini, maka sebagai stimulus pembaca untuk kembali membaca karya bagus ini, ada untaian kata penuh penyesalan dari seorang syamsiar untuk adik-adiknya dikampung, gadi-gadis yang pulang libur sebab hari raya, dan beberapa teman seperjuangannya yang belum menikah, sambil menangis, di dalam sedu-sedannya itu ia berkata: “Wahai adik-adikku, siapakah agaknya yang akan sempat menerangkan kepadamu bahwa hidupmu terancam bahaya besar, yaitu gelombang dan topan masyarakat yang akan kau masuki. Gerbang penghidupan indah kelihatan dari luar, tetapi setelah dimasuki ke dalam, kenyataannya bahwa ia pahit semata-mata.”

 

Jika untaian kata di atas cukup untuk membuat penasaran, mari segera membacanya, tidak butuh waktu lama, buat Anda, saya yakin hanya butuh 15 hingga 30 menit, kalau sambil santai hingga 1 jam, selesai buku ini dilahap dari kulit depan hingga kulit belakang, selamat membaca, selamat bersastra ria. Terima kasih Sudah mau membaca hingga sejauh ini.

 

**

Judul Buku      : Angkatan baru

Penulis             : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit            : Gema Insani

Cetakan          : pertama, Rabi’ul Akhir 1437 H/ Januari 2016 M

Tebal                 : x + 90 hlm; 18,3 cm

ISBN                 : 978-602-250-293-7

Resensator       : Irwan Haryono S., S.Fil.I

 

**

Senin, 17 Januari 2022

Medan, Sumut, Indonesia 

 

Minggu, 16 Januari 2022

Jangan Keluhkan yang Itu Rutinitas


Dalam banyak kasus mengeluh hadir sebagai satu keharusan. Padahal itu adalah kebiasaan buruk yang seharusnya dihilangkan. Terkhusus mengeluh dalam hal rutinitas. Jika rutinitas harian selalu dikeluhkan maka hasilnya tidak ada hari tanpa keluhan, dan maka tiada hari yang ringan, semua hari mendadak menjadi berat, sebab hari demi hari isinya adalah keluhan. Maka cara untuk mengobatinya adalah ringankan hidupmu, kurangi keluhanmu, jalani saja yang di depan dengan sikap apa adanya.
 

 

Setiap kali merasa terbebani menjalani sesuatu jangan salahkan orang lain, salahkan diri sendiri. Mengapa otak menerjemahkan seperti itu sehingga sakit kepalamu. Merasa hari-hari berat, jangan salahkan hari salahkan pola pikirmu mengapa menyetting hari dengan gambaran yang begitu sangat menyedihkan, padahal hari ini dan hari kemarin adalah selalu hari yang baru, setiap yang baru pada dasarnya tidak pernah usang. Merasa tak terima dengan keadaan, penyesalan, kesedihan, kekecewaan, sekali lagi jangan salahkan orang lain, salahkan diri sendiri, sebab perasaan itu hadir dari diri sendiri, maka diri sendirilah yang membuat itu terbentuk hingga terjadi. Pada intinya yang membuat hidup itu berat dan terbebani adalah pola pikir kita sendiri.

 

Hidup hanya menunggu perputaran waktu dan pergantian hari. Jika telah sampai pada masanya semua yang terjadi akan terjadi, semua yang gemilang akan cemerlang, semua yang redup akan kehabisan cahayanya. Semuanya ada dan hadir pada saat dan waktu yang tepat. Tidak usah berharap yang belum waktunya, tidak mungkin anak ayam dapat bertelur, meskipun kamu berharap setiap hari. Lain cerita jika anak ayam tersebut telah berubah menjadi induk ayam, maka tidak usah ditunggu pada saatnya ia akan bertelur, maka untuk itu setiap saat ada masanya, tunggu masa itu datang, sebelum masa itu datang persiapkan saja dirimu matang-matang. 

 

Kapan lagi mewujudkan impian jika tidak saat ini. Tidak bisa mengejar impian karena alasan kepadatan rutinitas dan aktivitas, itu dulu. Jika kemarin alasannya terbentur waktu dan tidak ada  motivasi, maka akankah saat ini masih dengan alasan yang sama dan serupa? Hallo segera sadarkan dirimu dari mimpi panjangmu, tanggal, bulan dan tahun hari ini tak sama dengan yang kemarin, mengapa kamu masih sama menanggapi impianmu dengan cara yang kemarin, sadarlah dan mulailah untuk berubah, langkah awalnya adalah ubah pola pikirmu,.. dari sana kamu mulai merangkak maju, meskipun lambat tapi kamu tetap pada jalurmu, lambat laun ada banyak yang melintas yang mungkin mengenalimu, dan memberi tumpangan untuk kemajuanmu. Syaratnya kamu dulu berjalan pada rute yang benar. 

 

Maka untuk itu, ambil putusan yang menjadikan hidupmu lebih ringan, jangan bebani ia dengan pikiran buruk yang merusak pikiranmu lagi. Ada banyak hal yang harus kamu lakukan, ada banyak hal yang harus kamu perbuat, ada banyak hal yang harus kamu perjuangkan. Maka secara seimbang ada banyak hal juga yang harus kamu korbankan. Berhati-hatilah, sehatlah dan tetaplah fokus pada tujuan dan impianmu. Ingat kamu sedang berjuang, dan perjuanganmu tidak boleh pulang tanpa keberhasilan. Camkan itu baik-baik kawan!

 

Ahad, 16 Januari 2022

Medan, Sumut, Indonesia

Sabtu, 15 Januari 2022

Lelah Aku Menunda

Penundaan membawaku dalam satu penyesalan. Menunda pekerjaan menyesal di akhir kemudian. Penundaan sekali, dua kali, ketiga kali pada akhirnya pekerjaan menumpuk, menunda menulis menyesal karena tidak konsisten padahal telah diniatkan sedari awal, menunda membaca menyesal padahal membaca itu satu pil penenang diri yang mujarab, menunda meresensi, menunda itu, menunda ini, semua penundaan membuat diri semakin menyesal, agar tak menyesal mulailah harimu saat ini tanpa kata penundaan. 

Biasanyaanya penundaan itu karena rasa malas. Tidak begitu dominan awalnya, namun karena dibiarkan sejenak, ia pun membelah diri seperti sel, beranak pinak semakin banyak, seketika malas mendominasi dalam pikiran, sehingga mempengaruhi gerak tubuh untuk mengamini pikiran, pada akhirnya benar-benar malas menjadi realita kehidupan seharian. Namun sebenarnya hal ini bisa dikawal sedari awal, bisa diperbaiki sedari pagi, dapat dikuasai selama diri masih sadar setiap kemasalasan akan berakhir penyesalan tiada henti.

 

Pada intinya penundaan adalah sahabat akrab kemalasan, jika berteman akrab dengan penundaan awas hati-hati malas juga menjadi teman akrab secara otomatis, untuk itu perlu agaknya mengingat selalu tujuan hidup, dan motivasi awal mengapa melakukan hal ini dan hal itu, dan sadarkan dirimu betul, sudah berapa jauh langkahmu saat ini meninggalkan langkah awal keberangkatan, haruskah langkah berikutnya terhapus karena penundaan sesaat dan kemasalasan yang berkepanjangan. 

 

Sudahi penundaan, sudahi kemalasan, mereka berdua teman lama yang telah berteman akrab denganmu di masa lalu, namun demi masa depanmu mereka telah ikhlas melepaskanmu, dan jangan kecewakan mereka, sebab penundaan dan kemasalahan sendiri sayup-sayup dari kejauhan menunggu kabar keberhasilanmu, jangan kecewakan pengorbanan mereka yang telah merelakanmu tidak lagi menjadi teman akrab mereka.

 

Selamat memulai pagi hari yang cerah. 

Semoga hari-harimu menyenangkan J

 

Sabtu, 15 Januari 2022

Medan, Sumut, Indoensia.