Senin, 17 Januari 2022

Tergelincir Sekali; Mati Sekali Itu Juga

Buku ini singkat, novel yang selesai jika dibaca setengah jam sampai satu jam, memiliki alur cerita searah yang cukup singkat, tidak terlalu berliku, mendeskripsikan satu permasalahan, selesai; dan timbul masalah selesai; muncul masalah selesai; walaupun singkat tidak melupakan sisi khas dari penulis karangan ini, yang melatar belakangi khas adat dan mengangkat tema tentang peran pendidikan para pemuda saat ini. 

 

Digambarkan sosok pemuda yang memiliki pendidikan tinggi dianggap tidak pantas mengerjakan pekerjaan kasar seperti bertani atau berdagang keliling. Menjadi gurupun haruslah dengan gaji tinggi.

 

Alur ceritanya ringkas, berawal dari sosok Syamsiar yang usai menyelesaikan pendidikan tinggi agamanya lalu pulang ke Kampung halaman, kemudian tersohor dengan kelayakan keilmuannya, menjadi bunga mekar, diperebutkan oleh pemuda-pemuda pilihan dari berbagai kalangan, sosok saudagar mampir menghampiri, perawakan tua yang hendak memperistri lagi tak urung menawarkan diri, silih berganti orang yang ingin mempersuntingnya. Sehingga pada akhirnya Syamsiar jatuh hati pada seorang pria muda nan pekerja keras, berakhir dengan mendirikan rumah tangga bersama sosok pria yang menjadi idamannya sesuai seperti kisah romansa yang dibacanya dari buku-buku yang didapatkannya dari temannya semasa menuntut ilmu di Padang. 

 

Aktivitas barunya adalah mengkhatamkan buku-buku belum tuntas dibacanya, karena asyik dengan buku-buku romantis yang selalu ia konsumsi, Syamsiar mempunyai pendirian yang sudah teguh, yaitu pendirian cinta.

 

Syamsiar tidak akan menikah kalau tidak dengan lelaki yang dicintainya, ia tidak mau menikah paksa, ia tidak mau bersuami tua, tua bangka, dan ia tidak mau poligami! Kalau ia akan menikah, hendaklah laki-laki itu cinta kepadanya. Kalau tidak begitu, menurut Syamsiar, nikah itu palsu, menikah yang tidak berarti.

 

Sementara pada halaman 22 – 23 dalam buku ini divisualisasikan sosok Hasan si pria yang selepas diploma berkhitmah di dusun kecil di pedalaman Aceh, hingga sampai satu ketika ia ingin pulang kampung untuk menghidupkan kampungnya sendiri. Meskipun mamaknya mengajaknya lebih baik menurutkan ia pergi menggalas dan berniaga, ia tidak mau lagi. Ia hendak tinggal di kampung saja mendidik anak-anak kampungnya menurut pengalaman dan penderitananya. 

 

Diaturnya anak-anak itu kira-kira 20 orang, siang diajarnya bersawah dan berladang, malam diajarnya menulis dan membaca, diberinya pula pengajaran agama. Ia berkeyakinan, kalau anak-anak itu lepas dari didikannya kelak, dapat menjadi orang alim, hendaklah menjadi orang alim yang mampu mencari sesuap nasi dengan tenaga sendiri.

 

 Mula-mula pekerjaan itu menjadi tertawan dari kawan-kawannya yang bersekolah agama, yang pulang sekali-sekali ke kampung, tetapi tidak dipedulikannya. Namun, lama-kelamaan orang kampungpun sayang kepadanya, anak-anak itu pun bertambah juga banyaknya. Ia hidupkan sistem pondok dalam pendidikannya dengan dimodernkannya. Diajarkannya anak-anak itu hidup sederhana karena dahulu ia telah salah dengan keroyalannya. Karena itu ia insaf dan memperbaiki kesalahannya.

 

Singkat cerita, bertemulah antara Syamsiar dan Hasan, dalam suatu majelis, tetiba melihat sosok hasan, orang tua Syamsiar pun jatuh hati padanya, setelah dicari tahu tentang statusnya ternyata Hasan pun seorang bujang yang sendiri pula, bertambah rasa ingin mereka menjadikannya mantu, merupakan suami buat putrinya itu. Hingga akhirnya bekeluargalah mereka berdua.

 

Namun bekeluarga bukan sekedar hidup berdua, akan tetapi bekeluarga adalah melintasi lautan dengan skoci kecil, awalnya mungkin hanya berani mengayuh ditepian pantai karena takut akan ombak dilautan lepas, namun apa daya dan upaya ketika diri terpaksa harus bertahan dengan kemampuan sekoci di tengah lautan, karena terbawa angin kencang ketika badai, boro-boro bertahan barang berahun-tahun, belum genap setahun sudah karam di tengah lautan, telah bocor sekoci yang di paku sedari awal saat mendirikan bendera kehidupan.

 

Dalam buku ini “Angkatan Baru”, Buya Hamka menyoroti tingkah polah pemuda yang seusai pendidikan tidak malah terjun di masyarakat untuk kebermanfaatan bagi orang banyak, malah mengurung diri di bilik kamar, sambil menikmati masa muda menurut versinya selama ia hidup di perantauan jauh di mata. Padahal realita teori dan konsep yang diterima di bangku kuliah aplikasinya adalah di lapangan, begitulah seharusnya.

 

Saban hari kerap kali orang-orang bertanya pada Buya hamka “Kejadiankah cerita ini wahai Tuan Hamka?”jawabnya: “Tentu saja hikayat-hikayat ini semua kejadian, kejadian di masyarakat. kampungnya terjadi adalah di dalam masyarakat, kotanya ialah penghidupan, bahannya diambil dari renungan, penderitaan dan keluhan orang-orang.” Sebuah kisah yang diambil dari kisah nyata dengan taburan bumbu seni sastra, menjadikannya gurih untuk dilahap seketika seusai plastik baru mulai dibuka.

 

Tidak banyak sosok yang menjadi peran dalam novel mini ini, ada Syamsiar dengan latar belakang kampungnya, dan Hasan dengan latar belakang prinsipnya, pekerjaannya, dan sedikit tentang latar belakang kehidupan di masyarakatnya. Selebihnya adalah tambahan yang memperindah cerita dengan sedikit gelomban polemik yang dibuat seakan hikayat ini benar-benar terjadi depan mata, namun menurut saya, buku ini tak ubahnya kepada curhatan hati seseorang yang kemudian dibukukan menjadi sebuah catatan singkat, yang barusan saja telah saya lahap habis dari cover judul hingga ke cover belakang buku.

 

Selain tentang pendidikan, dan sosok yang usai dalam pendidikan tingginya dan pulang kampung dalam novel mini ini, juga Buya Hamka menjelaskan tentang kehidupan berumah tangga yang harus menyeimbangkan antara keharmonisan keluarga dan juga harus tetap eksis dalam gelanggang penghidupan, jika tidak maka lambat laun ilmu diri tidak diakui orang, hingga pada akhirnya kita akan hilang dari ingatan orang seperti ditelan Bumi.

 

Selain dari pada itu, juga betapa tersiratnya pesan buku ini tentang kehidupan berkeluarga mesti diramu 100% dari kedua belah pihak, antara suami dan istri. Tidak boleh ada orang ketiga, sebab peribaratan Hasan seperti tinggal di dalam sangkar yang terbuat dari emas, meskipun emas, tapi tetap sangkar juga namanya, dan burungnya tetap terkurung. 

“Jangan saya diberi minum kehidupan, kalau akan dicampurkan dengan kehinaan. Namun, berilah saya setegak air kematian, asal di dalamnya cukup kemuliaan. Neraka dengan kemuliaan lebih Aku sukai menderitanya, dari pada syurga dengan kehinaan.”

 

Sebuah ungkapan khas, tatanan bahasa bersajak, berbalut sastra dan emosi, inilah yang menjadikan sastra Buya Hamka berbeda dengan lainnya, bahasa halusnya indah mewarnai tulisan dalam setiap bait yang dibuat. Hanya saya merasa di novel ini, lebih sedikit ungkapan bergaya sastranya, tidak sebanyak di Tenggelamya Kapal van der wijck, atau di beberapa karya sastra lainnya dari karya beliau. Padahal sebagai pembaca aku menunggu untaian kata yang bernas, bersahut-sahutan seperti pantun, namun dengan bahasa puitis lagi agamis, logis dan cerdas, itu nampaknya kurang dalam catatan ini.

 

Namun tak berhenti disana saja, muatan buku ini tatap banyak mengandung pesan moral, sebagai penulis resensi tidak sopan kiranya jika saya utarakan keseluruhan tanpa meninggalkan sensasi beberapa keseruan bagi pembaca yang ingin menikmati langsung alur novel mini ini, maka sebagai stimulus pembaca untuk kembali membaca karya bagus ini, ada untaian kata penuh penyesalan dari seorang syamsiar untuk adik-adiknya dikampung, gadi-gadis yang pulang libur sebab hari raya, dan beberapa teman seperjuangannya yang belum menikah, sambil menangis, di dalam sedu-sedannya itu ia berkata: “Wahai adik-adikku, siapakah agaknya yang akan sempat menerangkan kepadamu bahwa hidupmu terancam bahaya besar, yaitu gelombang dan topan masyarakat yang akan kau masuki. Gerbang penghidupan indah kelihatan dari luar, tetapi setelah dimasuki ke dalam, kenyataannya bahwa ia pahit semata-mata.”

 

Jika untaian kata di atas cukup untuk membuat penasaran, mari segera membacanya, tidak butuh waktu lama, buat Anda, saya yakin hanya butuh 15 hingga 30 menit, kalau sambil santai hingga 1 jam, selesai buku ini dilahap dari kulit depan hingga kulit belakang, selamat membaca, selamat bersastra ria. Terima kasih Sudah mau membaca hingga sejauh ini.

 

**

Judul Buku      : Angkatan baru

Penulis             : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit            : Gema Insani

Cetakan          : pertama, Rabi’ul Akhir 1437 H/ Januari 2016 M

Tebal                 : x + 90 hlm; 18,3 cm

ISBN                 : 978-602-250-293-7

Resensator       : Irwan Haryono S., S.Fil.I

 

**

Senin, 17 Januari 2022

Medan, Sumut, Indonesia 

 

5 komentar :

  1. MasyaAllah Tabarakallah

    BalasHapus
  2. Wah, ALhmdulillah ya, ternyata udh mulai rutin lagi nulisnya,
    Semoga lancar dengan hobi yang bermanfaat ini ya,
    semoga cita-cita punya bukunya tercapai, Aamiin,
    Keep Spirit

    Boleh saran dikit,
    Judulnya memang ada koma ya,

    Tergelincir, sekali mati sekali itu juga
    Tergelincir sekali, mati sekali itu juga
    Tergelincir sekali mati, sekali itu juga

    Atau mgkn itu sudah ada di dalam cerita ya, jadi penasaran baca novelnya,
    Terima kasih,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk sarannya kak, sudah diperbaiki judulnya. Lebih tepatnya di nomor kedua, begitu maksudnya.
      .
      > Monggo diwoco, novele uuuapik kak.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus