Kamis, 13 Juni 2013

Dampak Modernisasi terhadap Dunia Pendidikan di Indonesia

Oleh: Irwan Haryono S/ AFI 6
Mahasiswa Kampus SIMAN Institut Studi Islam Darussalam (ISID)



Menurut bahasa pendidikan itu diartikan menjadi banyak macam: diantarnya sebagai perbaikan diri, penciptaan sosok yang beradab, pembiasaan untuk berakhlak mulia bagi setiap orang, ada juga sebagai penyuci dan penjernihan, dan masih banyak lagi pengertian pendidikan itu sendiri jika boleh kita runut lebih panjang lagi.

            Jika di awal pendidikan sebagai fokus awal maka disini mencoba membongkar apa makna dari modernisasi itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Modernisasi” adalah Proses pergeseran sikap dan mentalitas sebagai warga masyarakat untuk dapat hidup sesuai dengan tuntunan masa kini; pemodrenan. Sedangkan menurut wikipedia; “Modernisasi” dalam ilmu sosial merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju, berkembang, dan makmur.

 Jadi, modernisasi adalah proses pergeseran sikap dan mentalitas yang merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik. Diungkapkan pula modernisasi merupakan hasil dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang saat ini serta dapat dirasakan dan dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, dari kotametropolitan sampai ke desa-desa terpencil.

            Dalam masa perkembangan dunia yang begitu pesat ini, setiap ada teori, maka konsep dan isi selalu datang untuk mengitarinya. Hingga pada akhirnya. Dampaklah yang timbul, sebagai hasil dari pada aktualisasi nyatanya. Tinggal lagi apakah berdampak positif atau negatif.

            Bercerita tentang dampak: dapat di bagi menjadi dua macam. Yaitu dampak positif dan dampak negatif. Pada dampak positif yang dilahirkan disini pendidikan menjadi lebih komprehensif, lebih mudah di akses, sarana dan prasarana lebih memadai, teknologi sungguh sangat membantu dalam perkembangan inteligensi, pembaharuan dan kemajuan pada ranah yang lebih menjurus lagi. Seperti halnya: kesulitan mencari wawasan tambahan diluar bangku sekolah. Kalau dulu harus pergi ke toko buku; baru bisa mengakses buku-buku penambah gizi serta vitamin buat akal-pikiran, dan kini internet hadir dengan wajah baru yang lebih ramah lagi. Sedang untuk mempermudah membaca dan membawanya kemana saja; teknologi berperan aktif dibelakangnya. Dengan demikian buku-buku, pdf, makalah, artikel, dapat dipergunakan semaunya, kapan saja dan dimana saja, kali ini peran teknologi sungguh teramat sangat membantu.  Hanya tinggal membawa satu tablet/i phone/i pad, maka semuanya dapat teratasi, semua ini adalah wujud positif dari modernisasi dan masih banyak contoh-contoh komunikatif lainnya.

            Jika kita coba fokuskan pada dampak negatifnya, juga akan kita dapatkan bukti otentik yang luar biasa mendalam tentang itu semua. Biasanya disebutkan bahwa dampak dari modernisasi ini berujuk pada 3 sisi dalam kehidupan manusia yang berorientasi pada Style of life (‘jasad’) dalam hal : Fasion, motor. Thinking (‘al’aql’) dalam hal: pola pikir, action, sudut pandang, cara bergaul. dan Faith (‘Ar-ruh’) dalam hal: keimanan, dan kepercayaan yang luar biasa tentang suatu kehebatan.

            Dalam Style: Berapa banyak anak didik termakan/menjadi korban pada modernisasi style tanpa tahu akan eksistensi dari dirinya sebenarnya. Bukankah pelajar berkewajiban belajar bukan berfoya-foya, dan bukan pula fokus pada style: baju yang selalu trendy, motor, mobil, yang begitu menarik dan elegan, gadget, Hp dan elektronik lainnya yang membutuhkan biaya yang tidak murah untuk mengikuti perkembangannya.

Dalam Thinking: Pola pikir dalam kajian filsafat menjadi salah satu ranah utama dan kesehatan perbuatannya. Sebab apa yang di pikirkan itu selalu diaktualisasikan dalam gerak-gerik. Maka jangan heran jika terjadi kekerasan di jalan, tindak-tanduk asusila pada anak dibawah umur, pembunuhan, pencurian, rampok dan lain sebagainya. Semua ini bisa terjadi banyak disebabkan oleh pola pikir yang tidak sesuai dengan koridor kebenaran. Dengan segala bentuk modusnya; manusia terus mengaktualisasikan ide dan gagasannya. Hal yang patut untuk pertama kali di waspadai adalah pola pikir kita. Sebab, hal ini juga merupakan dampak modernisasi yang telah mencuci otak manusia sehingga jauh dari nilai-nilai dan norma-norma yang luhur.

Dalam Faith: Keimanan. Hal ini merupakan hal yang lebih fatal dampaknya jika salah di pahami dan di mengerti seiring perjalanan waktu dan zaman modern yang selalu terus berlari mengejar mimpi; apa itu mimpinya? Kita tidak tahu; berharap bukan bermimpi untuk menghancurkan agama, kepercayaan dan keyakinan di dalam diri manusia beragama, Islam pada khususnya. Sebab “ruh / jiwa keimanan”, sifat dan sikap beragama yang metafisislah yang membuat dunia ini tampak lebih berwarna dari warnanya yang biasa.

            Dari sekian panjang pemaparan dampak positif dan negatif modernitas pendidikan di Indonesia. Perlu adanya rekonstruksi baru dari sikap mental menghadapinya agar pada saatnya nanti dapat meluruskan kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sebagai dampak modernisasi, yang pada intinya bermaksud memperkaya khazanah dan informasi serta memberikan fasilitas yang teramat sangat luar biasa mudahnya.

            Sedang tujuan dari pendidikan tidak terlepas dari 4 hal utama, yaitu sebagai perbaikan diri, penciptaan sosok yang beradab, pembiasaan berakhlak/ bersifat dan sikap karimah, pencerahan dan peningkatan diri menjadi lebih bersih (suci) dan semakin mulia.

            Inilah panduan dasar yang semestinya di pertimbangkan sebelum benar-benar terjun di dunia pendidikan pada era Modernitas yang mewabah meluas seperti ini.

            Untuk itu, solusi yang paling tepat dalam menghadapi dari pada dampak modernisasi terhadap dunia pendidikan di Indonesia ini adalah: menyadari bahwa pendidikan itu akan selalu berubah-ubah mengikuti zaman, untuk itu perlunya persiapan yang lebih intens terhadap Sumber Daya Manusia (SDM)nya dan selalu akan tetap mengatakan bahwa pendidikan adalah hal tertinggi yang harus di pertahankan; sedang mengikuti modernisasi adalah wujud kondisional yang juga harus eksis, setelah kemampuan pemahaman kita benar-benar mendalam tentang itu. Sebab jika modernisasi tidak dibangun diatas landasan pendidikan. Ditakutkan manusia akan goyah dengan perkembangan zaman yang melaju begitu cepat ini, serta ditakutkan juga manusia terbawa arus; tidak dapat menghentikan tingginya amukan badai yang menerpa.

Hingga pada akhirnya perlu juga kita pahami bahwa manusia itu, adalah makhluk konsumtif; tidak akan pernah puas. Selalu ada saja keinginan baru dari waktu ke waktu. Jika satu keinginan sudah di penuhi dan terpenuhi. Akan meminta dan mencari keinginan-keinginan yang baru lagi. Sama seperti “Theory of Hierarchy of Need” (Teori tingkatan kebutuhan) yang selalu disuarakan Abraham Maslow. Jadi hanya perlu: Jaga hasrat dan keinginan agar lebih teratur lagi.

            Dan lagi, untuk mencari solusi dasar dari permasalahan yang mendalam ini dibutuhkan klasifikasi yang begitu sangat matang antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Dimana harus lebih mengutamakan prioritas dari yang biasa dan paling urgen dari yang tidak penting, sehingga tercipta suasana baru yang lebih efektif dan efisien.

            Demikian pandangan saya tentang permasalahan ini semoga bermanfaat dan lebih berguna di masa yang akan datang.


0 komentar :

Posting Komentar