Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI DAN GURU

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

GAGASAN KEMAJUAN UMAT

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Wednesday, February 21, 2024

Mentalitas Guru Sejati. (Catatan Inspirasi Film: “Vaathi”)_Ringkasan Movie

 Mentalitas Guru Sejati. (Catatan Inspirasi Film: “Vaathi”)_Value Nyantri Ringkasan Movie

 

Tak ada salahnya sesekali seorang guru rihlah dengan film-film yang dapat menginspirasinya. Salah satunya film “Vaathi” drama pendidikan India, menggambarkan sosok guru yang memiliki mentalitas guru. Bukan guru mentalitas kerupuk, bukan guru mentalitas profit, atau guru mentalitas pembohong, tidak.

 

Durasi filmnya lumayan panjang, sekitar 2 jam 14 menit 13 detik. Merupakan waktu yang panjang jika dilihat sekilas, tapi begitu cepat ketika dilihat alur demi alur ceritanya, 2 jam menjadi seperti 20 menit saja.

 

Untuk filmnya, kami sarankan untuk menontonnya langsung, dan untuk kilasannya atau petikan poin-poin pembelajaran darinya, sudah kami rekap di catatan di bawah ini, semoga tidak jauh panggang dari api.

 

Highlight Poin-Poin Pesan moral dalam film “Vaathi” ini. Dengan gubahan kata yang disesuaikan dengan panggilan lokal.

 

  • Guru bukan profesi guru adalah tanggungjawab.
  • Ada waktu tertentu, seorang guru akan merasa tidak pantas menjadi guru, merasa tidak cocok menjadi guru, ingin berpindah profesi mencari pekerjaan lainnya, disebabkan terpaan, cobaan, halang-rintang dan kesulitan demi kesulitan yang dihadapi. Namun percayalah, ketika guru lebih kuat dari masalahnya, dia akan menjadi tak terkalahkan. Mungkin dikalahkan dalam pandangan kasat mata politik, namun hakikatnya dimenangkan dan benar-benar juara.
  • Dunia pendidikan itu bukan hal-ahwal, barang, tempat, atau barang dagang yang diperjual belikan, dia adalah “inner beauty” (keelokan batin/hati seseorang).
  • Menjadi guru bukanlah pilihan yang keliru, para guru hanya butuh sedikit dikuatkan dan didukung dengan upaya giatmu belajar.
  • Akan ada pihak-pihak yang memperjualbelikan dunia pendidikan, akan ada yang membisniskan dunia pendidikan, jika itu terjadi dihadapanmu, tetaplah bergerak dengan visi dan misi awalmu menjadi guru. Kuatkanlah pijakan kakimu. Pilihan dan putusanmu sudah benar.
  • Sadarlah wahai guru, kamu hadir untuk memberikan manfaat untuk orang banyak, bukan untuk dirimu sendiri. Nilai luhur, kebijaksanaan, dan keadilan, perlu diajarkan darimu. Contohkan itu, kamu akan dikenang seumur hidup santri-santrimu.
  • Guru tidak butuh nama, nama itu dibutuhkan bagi mereka yang berkepentingan. Guru hanya butuh keseriusan santrinya untuk belajar, keberhasilan santri itu cukup sebagai hadiah terbaik untuk seorang guru.
  • Jangan anggap guru hanya berhadapan dengan satu permasalahan untuk mempertahankan idealismenya, tidak… sekali-kali tidak, guru dihadapkan teramat banyak pilihan, membuatnya harus berfikir keras untuk mengambil keputusan.
  • Keputusan seorang guru, selalu dilandasi dengan kebutuhan santrinya. Jika ada guru yang tidak memikirkan kebutuhan santrinya, yang dipikirkan hanyalah keuntungan, maka itu bukan guru, itu adalah ‘profit maker’.
  • Guru kaya ilmu, duduk dan berdiskusilah dengannya, ilmumu pasti bertambah.
  • Memiliki kebijaksanakan, kebaikan, kejujuran dan ketulusan itulah idealnya sifat guru.
  • Keputusan untuk fokus menjadi guru, memaksa dia tidak multi talenta dalam pekerjaan selain mengajar, tapi ilmu yang diajarkan mengakar.
  • Orang yang mengejar pendidikan, pada awalnya tidak akan bernilai apa-apa, sebab dia belum jadi siapa-siapa, tapi begitu ia berhasil menunjukkan kemampuan ilmunya, bayarannya mahal, bahkan bisa menutupi hutang yang ada, bukan saja hutang sekolah, hutang keluarga dari lahir juga dibisa dibayar lunas seketika.
  • Gunakankanlah egonya untuk keberuntunganmu ke depan, biarkan yang berkepentingan mendapat nama, kamu mendapatkan ilmu dan biarkan gurumu mendapatkan ketulusan perjuangan dan keberhasilan dari usahamu.
  • Saat ini kamu adalah santri, belajarlah sungguh-sungguh, kelak, gunakan kepintaranmu untuk mengratiskan pendidikan terkhusus bagi orang-orang miskin.

 

 

Kami merasa catatan ini mewakili hanya segelintir, dan dari satu sudut pandang, kiranya teman-teman yang lainnya memiliki pandangan berbeda dapat saling share informasi bersama di kolom komentar ya.

 

Teman-teman yang baik.

Terima kasih sudah membaca sejauh ini 

Semoga berkah dalam segala urusannya. 

Terima kasih
Jazakumullah khoir

Wassalammu’alaikum wr wb.

Tuesday, February 20, 2024

Sekali Meminum Air Pondok, Rindu Untuk Kembali: Pengalaman Nyantri Berkesan

 Sekali Meminum Air Pondok, Rindu Untuk Kembali: Pengalaman Nyantri Berkesan

 


 

Pengalaman menjadi calon santri, menjadi santri, menjadi alumni bahkan menjadi guru bagi santri adalah pengalaman bernilai yang tak terhingga. Seperti lomba marathon, masih dengan orang yang sama namun berlari dalam rute yang selalu berbeda rasa walau di tempat yang sama. Walaupun kalender kegiatan bersifat tetap namun SDM yang dididik selalu saja baru, jadi tidak ada kata pengulangan, yang ada keistiqomahan untuk membangun negeri. 

 


Calon Santri Baru

 

Dirunut sejak awal menjadi calon santri merasa harap-harap cemas apakah bisa diterima atau tidak, jika diterima orang tua pasti senang, jika tidak diterima agaknya orang tua bersedih, dan aku tak ingin orang tua sedih. Begitulah dulu waktu masih calon santri. Sesimple itu berpikirnya, meskipun tak begitu paham apa maksud dan tujuan dimasukkan ke pesantren. Kalkulasi kasar keinginan: 80 persen keinginan orang tua, 10 keinginanku karena mengikuti kepada kakak dan saudara yang duluan menjadi santri pondok pesantren, sedangkan 10 persen lagi takdir Allah memudahkan jalan.

 

Setelah pengumuman eh ternyata lulus menjadi santri pesantren. Detik itu juga aku merasa bahagia, dan di detik yang sama, ada sekian urutan tanya yang terus tak henti-henti berputar di kepala, mudah-mudahan ini adalah jalan yang terbaik, mudah-mudahan tidak akan terjadi apa-apa. Sekali lagi sesimpel itu berfikirnya.

 

Menjadi Santri

 

Menjadi santri ternyata dinamikanya begitu dinamis, pergerakannya haroki, tidak pernah berhenti, maka benar kata-kata abang kakak senior menasehatiku sebelum masuk pesantren, di sini ukhuwah islamiyahnya kuat, ke mana-mana ada yang nemani, tidak pernah sendiri, sampai ketika terbangun malam ingin ke kamar mandi juga ternyata tidak sendiri, ada saja yang juga terbangun. Jadi jangan takut tidak memiliki teman ya.

 

 

Menjadi Alumni

Menjadi alumni dan guru nampaknya menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan, karena KMI bersistemkan ‘Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah’, (Kuliah Menjadi Guru), maka barometer kesuksesan santri adalah ketika tamat dari pesantren mampu menjadi guru. Dan guru itu juga beragam bentuknya. Tidak mesti menjadi guru di pesantren, tidak mesti menjadi guru di sekolah-sekolah, sebab guru adalah karakter yang sudah tertanam dalam jiwa santri. 

 

Maka dalam hal apapun ia selalu bermentalkan guru, sabar untuk mengajarkan ilmu dan hal baru, selalu perhatian pada siapa saja yang belum tahu dan paham, semangat untuk selalu berbagi pengetahuan, semangat untuk saling mengedukasi. Pada intinya dalam profesi apapun nantinya santri bekerja, sejatinya mereka semuanya adalah guru. 


 

Setitik Rindu

 

Ada hal yang unik yang rasanya dialami oleh para santri. Ketika masih calon santri, ingin diterima menjadi santri, agar lega tidak was-was. Ketika diterima ingin cepat-cepat menjadi alumni, agar bisa bebas tanpa diikat dengan disiplin yang ketat. Ketika sudah menjadi alumni eh, ada perasaan ingin menjadi santri kembali, agar waktunya lebih tertata, ibadahnya lebih terjaga, sebab seburuk-buruk pelanggaran di pesantren masih lebih kecil dibandingkan pelanggaran di dunia luar. Setitik rindu selalu tersimpan untuk pondok tercinta. Tidak berlebihan jika ada ungkapan berbunyi “sekali santri meneguk air pondok, sedetik itu juga dia akan merindu untuk kembali lagi.”

 

Sekali meminum air pondok, ada berjuta rindu untuk kembali, ada kenangan pertemanan dari kecil hingga dewasa, ada perputaran orang yang silih berganti, ada nasehat yang terus diulang-ulang berkali-kali, ada kuliah umum yang terus tak henti-henti untuk mengingatkan santri, ada kebersamaan kepanitiaan yang menciptakan momentum persahabatan akrab dan kuat, semakin kokoh setelah melalui cobaan, kritikan, evaluasi panjang dari proses pendidikannya.

 

Seteguk air terminum, dahaga hilang rindupun semakin tak tertahan, banyak rindu yang tersimpan, termanifestasi lewat rekomendasi ajakan untuk teman-teman, saudara seiman. Siapapun yang mencari pondok pesantren untuk anaknya, pondokku dulu nyantri, itulah salah satu yang menjadi solusi.

 

Yah demikianlah rasanya pernah tinggal di pondok, banyak kisah yang dilalui.


Untuk menceritakannya, butuh berjuta detik mengingatnya kembali, butuh berjuta hari untuk menuangkan memorinya dalam tulisan kembali.

 

Terima kasih teman-teman yang baik hati.

Sudah membaca hingga sejauh ini.

 

Semoga ada manfaatnya.

 

Wassalammu’alaikum wr. wb.



 

 

Monday, February 19, 2024

Pengalaman Nyantri Berarti: 3 Bekal Dari Rumah Harus Dimiliki Sebelum Mendaftarkan Anak Ke Pondok Pesantren

 3 Bekal Dari Rumah Harus Dimiliki Sebelum Mendaftarkan Anak Ke Pondok Pesantren

 


Menjadi santri adalah proses pendewasaan anak dalam usia yang relative muda. Dalam usia yang masih bisa bermanja dengan orang tua, namun demi pendidikan yang lebih baik, biasanya orang tua rela untuk membebaskan anak untuk belajar menuntut ilmu dengan sistem asrama, 24 jam pendidikan di dalam pondok pesantren. 

 

Dalam putaran waktu tersebut mereka bergaul dengan temannya, belajar dengan gurunya, berolahraga dengan klub-klub olah raga yang dipilihnya, sampaipun latihan dan pelatihan kecakapan lainnya yang mengajarkan mereka arti kemajuan dan kemandirian. Oleh karena proses berbeda sudah pasti hasilnya juga berbeda, dan Insya Allah mengarah kepada pribadi yang bermental kuat dan berakhlak mulia.

 

Untuk itu agar anak kita, tidak terkejut begitu masuk ke pondok pesantren, ada baiknya untuk mengajarkan anak 3 hal beriut ini, sebelum orang tua mendaftarkan mereka ke pondok pesantren. Berikut adalah:

 

1.     Tanamkan Kepada Mereka Mandiri Dalam Aktivitas Harian.

 

Banyak hal yang akan anak-anak lakukan dengan cara mandiri nantinya sewaktu di pesantren. Dari mulai memakai baju sendiri, mencuci baju sendiri, menjemur bajunya, menstrikanya, hingga sampai menyusunnya secara rapi dalam lemarinya kembali. 

 

Selain dari itu mandiri yang lain juga dalam hal masuk kelas, dia juga harus terbiasa menyusun roster pelajarannya sendiri di malam hari, agar besok paginya tidak terburu-buru.

 

Jika di rumah makan biasa diambilkan, maka kalau ibu bapak berniat memasukkan anaknya ke pesantren, harus mulai mengajarkan mereka agar mandiri dalam mengambil nasinya, terbiasa mencuci piringnya, hingga meletakkan kembali ke atas rak piring, hal ini simple namun sangat berarti bagi anak dalam usia tumbuh, untuk membiasakan habit yang baik bagi dirinya.

 

2.     Ajarkan Anak Cara Beradaptasi Dengan Cepat.

 

Jika anak belum terbiasa ditinggal oleh orang tua, maka bolehlah sesekali orang tua mulai meninggalkan anaknya untuk bermalam di kampung, ditinggal bermalam dengan kakek neneknya, dengan sengaja orang tua pulang ke rumahnya. Tega tidak tega tetap mesti dicoba, ini demi kebaikan buah hati yang kita harapkan mandiri diusia dewasanya nanti.

 

Hal ini terlihat remeh bagi mereka yang telah terbiasa, namun betapa sulit bagi mereka yang belum pernah menitipkan anaknya tanpa didampingi kehadiran mereka.

 

Positifnya, hal ini dapat melatih anak untuk menjaga sikap agar tetap sopan, walaupun tidak ada orang tua disampingnya, selain itu juga, mereka akan mulai terbiasa untuk bisa beradaptasi dengan baik di rumah neneknya, atau di rumah pamannya, atau di rumah sepupunya yang lainnya. Dalam proses pendidikan adaptasi ini menjadi penting.

 

Sisi Positifnya yang lain, hal ini dapat membiasakan anak untuk hidup tanpa orang tua di sisinya, bukan menegasikan peran orang tua, justru ini adalah pendidikan real orang tua pada anaknya, sebab anak dilatih beradaptasi sejak dini. Merupakan tujuan pendidikan untuk sang anak.

 

Orang tua yang baik pasti selalu memikirkan, mempersiapkan, dan mengantarkan si anak untuk zamannya nanti. Walaupun itu juga masih misteri, bagaimana bentuk, warna dan bauhnya, semua masih menerka-nerka bisa jadi lebih sulit dari zaman ini, atau bisa jadi lebih baik dari zaman ini. Tapi persiapan itu tidak ada salahnya dimatangkan sejak dini.

 

3.     Latih Anak Agar Mampu Menyelesaikan Masalahnya Sendiri Dan Sabar Untuk Terus Bertahan.

 

Kesuksesan pendidikan anak di pesantren tidak hanya proses pendidikan orang tua saja, tidak karena faktor anak yang mandiri saja, tidak karena dana yang mencukupi saja, tidak sesederhana hal ini. 

 

Pendidikan pola pesantren, berasrama 24 jam itu tidak sesederhana itu, namun kompleks, jika anaknya betah dan kuat menahan rindu, belum tentu dengan orang tuanya, akhirnya ditarik keluar dari pesantren.

 

Anaknya kuat dan betah di pesantren, orang tuanya kuat secara mental dan materi, tapi sayang nenek, kakeknya tidak kuat menahan rindu pada sang cucu, dengan berat hati, banyak pertimbangan sana-sini, akhirnya sang anak terpaksa tidak bisa lanjut.

 

Anak betah, orang tua bahagia, kakek nenek ridho, tapi ternyata fisik anaknya yang lemah, mudah terserang sakit, mudah sakit-sakitan, dengan bersedih hati terpaksa harus menariknya pulang ke rumah.

 

Maka dalam hal ini yang harus mampu menyelesaikan masalahnya dan sabar untuk terus bertahan tidak hanya anak, namun juga orang tua, bahkan kakek dan nenek juga. Semuanya saling bersinergi menjaga, saling do’a mendo’akan, semoga semuanya baik.

 

Satu gubahan pesan dari KH. Hasan Abdullah Sahal. “Wahai Bapak-Ibu... Para calon wali murid... Calon orang tua santri dan santriwati... Lebih baik Bapak-Ibu menangis sekarang, melepaskan anakmu jauh untuk belajar menuntut ilmu agama, dari pada kamu menangis nanti, karena anakmu menjauh dari agama.”

 

Semoga catatan singat ini dapat sedikit membantu, dan menginspirasi.

Terima Kasih Teman-teman pembaca yang sudah membaca hingga sejauh ini.

Jazakumullah khoir. 

Wal ‘afwu minkum..

Wassalamu’alaikum wr wb.

Sunday, February 18, 2024

Pengalaman Nyantri Berkesan: Pertemuan Santri Dengan Abang Stempel

 Pertemuan Santri Dengan Abang Stempel

 


Suatu sore santri mendatangi sebuah toko stampel, sambil menunggu stampel selesai dibuat, abang stampel bertanya: 

“Bang, stampel apa ini?” santri menjawab:

“Stampel untuk salah satu kegiatan yang aku pimpin dari organisasiku bang”

“Ada duitnya dari sini bang?” Tanya si abang stempel lagi.

“Kalau untuk kegiatan ini ada, tapi kalau untuk pribadiku nggak ada bang.” Jawab santri.

 

“Terus, kalau nggak ada duitnya, ngapain dikerjakan bang?” Tanya abang stampel dengan wajah heran.

 

“Karena kegiatan ini adalah ideku, dan kebetulan disetujui, jadi aku wujudkanlah bang.” Jawab santri santai.

 

“Bang kita tinggal di Indonesia bang, ide tidak dihargai, lain kalau abang keluar negeri sana, ide dihargai dan dianggap.” Timpal abang stampel sambil menatapku dengan tatapan wajah semakin keheranan.

 

“Oo begitu ya” Jawab santri pendek.

 

“Iya bang, saranku baik abang kerjakan yang menghasilkan duit” Nasehat abang stampel. 

 

“Kenapa gitu bang?” Tanya santri penasaran alasannya.

 

“Kasihan badan abang, mengerjakan sesuatu yang tak ada duitnya. Baik abang kerjakan sesuatu untuk keluarga abang, kasihan kan keluarga, abang menghabiskan waktu tapi tidak menghasilkan.” Jawabnya dengan penuh yakin, akan realitas di lapangan yang menurutnya mengharuskan pelakunya berpikir realistis.

 

**

Perbincangan masih berlanjut panjang, tapi kita hentikan sampai di sini ya, untuk mengambil hikmahnya.

**

 

Ada hal yang sangat menusuk pikiranku, ini bukan sekedar pertemuan yang kebetulan. Rasanya ini adalah pertemuan yang telah ditakdirkan dan juga obrolan yang mesti dibicarakan, karena memang itu bagian dari pembahasan jika realistis menjadi temanya. Oleh karenanya aku tertarik untuk menuliskannya dalam catatan kali ini.

 

Ada 5 poin penting yang aku garis bawahi dalam perbincangan singkat tersebut:

 

Pertama: Di luar sana, manusia beragam macam bentuknya.

 

Banyak orang idealis, banyak orang realistis, banyak orang opurtunis, banyak orang sinis, banyak ‘orang mukhlis’ (ikhlas), dan lain sebagainya, pandai-pandailah membawa diri, semoga tidak terjerumus di dalam satu pergaulan saja dan lalu fanatik. Sehingga membutakan mata untuk memandang mana benar, mana salah. Mana baik dan mana yang buruk.

 

Pertemuan kemarin membuat aku tersadar bahwa pola pikir manusia memang tidak bisa dipaksakan, semua apa yang ada disekelilingnya mendasari dari sifat dan sikapnya dalam prilaku kesehariannya.

 

 

Kedua: Realistis menjadi warna saat ini.

 

“Jika tidak menghasilkan untuk apa dikerjakan”, kalimat logis singkat dan juga sangat akrab di telingaku, hampir kemana-mana aku berpijak, ketika menyinggung tentang pembahasan bab keikhlasan, selalu ditutup dengan kalimat di atas, “jika tidak menghasilkan untuk apa dikerjakan”.

 

Padahal dalam hidup ini ada dua hal yang perlu kita penuhi dan jaga. Dunia dan akhirat, dhahir dan batin, realistis dan abstrak. Boleh jadi semua yang tak nampak sekarang bekasnya, akan tampak jelas sebagai tabungan akhirat. Nantinya boleh jadi yang saat ini terlihat tidak menguntungkan padahal berupa deposito atau asuransi multiguna yang dapat diambil ketika kondisi terdesak dan dibutuhkan.

 

Ketiga: Kasihan badan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak menghasilkan.

 

Secara fisik memang iya, ada benarnya ungkapan di atas, ditambah lagi penguatan argumentasinya, di waktu yang seharusnya tubuh ini bisa mengembangkan beragam kegiatan lain; terpaksa harus meluangkan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya sukarelawan.

 

Sebuah niat benar-benar tulus, mulia ingin membantu tanpa pamrih. Bagi sebagian orang dipandang perlu dan harus memang demikian. Tapi ternilai tidak tepat guna bagi kaum realistis. Karena dasar melakukan sesuatu harus ada benefitnya. Kita beribadah juga karena mengharap surga dan takut neraka. Namun bagi sebagian yang lain mungkin berbeda lagi pandangan dan pendapatnya, sebab apapun hal yang terjadi, akan berpulang kepada kemampuan nalarnya mengolah informasi. Dengan hal tersebut, hati seseorang, akan terasa damai dan tentrem jika yang dilakukannya senada dengan apa yang dipikirkan dan diyakininya sebagai suatu kebenaran. Biasanya demikian.

 


Keempat: Kasihan harus mengorbankan keluarga untuk hal sia-sia.

 

Satu posisi memang kasihan badan karena harus mengerjakan hal baru sehingga menyita waktu bersama keluarga, kolega dan bahkan target bisnis dan pekerjaan lainnya, namun perlu diketahui bahwa yang perlu dihidupkan dari dalam diri ini tidak melulu tentang fisik, ada psikis yang juga harus peka untuk menjadikannya tetap hidup, ada hati yang sifatnya abstrak, mesti dilatih agar dhomirnya tetap berfungsi dengan baik. Patokan berfungsi atau tidaknya hati adalah ketika hatinya mampu untuk merasa simpati, empati dengan sekitarnya. Maka untuk itu upaya berpartisipasi dalam kegiatan yang sifatnya sukarelawan adalah upaya memberikan psikis dan hati makan, agar hidupnya juga sama baiknya dengan fisik.


 

Kelima: Ikhlaslah jika keikhlasakanmu diuji, berusaha luluslah dalam setiap ujian yang terus berganti-ganti.

 

Orang ikhlas akan selalu diuji dengan keikhlasannya, baik itu lewat ujian peristiwa, maupun kata-kata. Terkadang ujian berperan luar biasa menghancurkan iman di dada, semua amal yang telah dirintis sedari awal menjadi taruhannya. Akan selalu ada cobaan yang tak henti-hentinya dalam setiap tindakan manusia dan sebaik-baik santri adalah yang mampu melewati itu semua dengan predikat lulus, menjadi insan kamil.

 

Pada akhirnya menurut pengalaman kali ini, perbedaan antara kaum realistis dan abstrak adalah: Realistic menganggap semua yang pasti-pasti sajalah yang harus dikerjakan, sedangkan kaum abstrak, semua yang tak tampak, jika dikerjakan dengan ikhlas adalah sebuah kekuatan yang efeknya memperkuat atom-atom dalam diri, menciptakan energi baru yang menarik hal-hal positive lainnya untuk mendekat.

 

Yah begitulah pengalaman santri berkesan kali ini, semoga dapat menginspirasi para teman-teman pembaca.

 

Wallahu’alam.

Wal’afwu.

 

Subscribe Us

Dalam Feed


*PENGALAMAN NYANTRI: Menikmati Setiap Detik Proses Kelak Menjadi Pengalaman Beresensi