Iklan Multipleks Baru

Monday, February 19, 2024

Pengalaman Nyantri Berarti: 3 Bekal Dari Rumah Harus Dimiliki Sebelum Mendaftarkan Anak Ke Pondok Pesantren

 3 Bekal Dari Rumah Harus Dimiliki Sebelum Mendaftarkan Anak Ke Pondok Pesantren

 


Menjadi santri adalah proses pendewasaan anak dalam usia yang relative muda. Dalam usia yang masih bisa bermanja dengan orang tua, namun demi pendidikan yang lebih baik, biasanya orang tua rela untuk membebaskan anak untuk belajar menuntut ilmu dengan sistem asrama, 24 jam pendidikan di dalam pondok pesantren. 

 

Dalam putaran waktu tersebut mereka bergaul dengan temannya, belajar dengan gurunya, berolahraga dengan klub-klub olah raga yang dipilihnya, sampaipun latihan dan pelatihan kecakapan lainnya yang mengajarkan mereka arti kemajuan dan kemandirian. Oleh karena proses berbeda sudah pasti hasilnya juga berbeda, dan Insya Allah mengarah kepada pribadi yang bermental kuat dan berakhlak mulia.

 

Untuk itu agar anak kita, tidak terkejut begitu masuk ke pondok pesantren, ada baiknya untuk mengajarkan anak 3 hal beriut ini, sebelum orang tua mendaftarkan mereka ke pondok pesantren. Berikut adalah:

 

1.     Tanamkan Kepada Mereka Mandiri Dalam Aktivitas Harian.

 

Banyak hal yang akan anak-anak lakukan dengan cara mandiri nantinya sewaktu di pesantren. Dari mulai memakai baju sendiri, mencuci baju sendiri, menjemur bajunya, menstrikanya, hingga sampai menyusunnya secara rapi dalam lemarinya kembali. 

 

Selain dari itu mandiri yang lain juga dalam hal masuk kelas, dia juga harus terbiasa menyusun roster pelajarannya sendiri di malam hari, agar besok paginya tidak terburu-buru.

 

Jika di rumah makan biasa diambilkan, maka kalau ibu bapak berniat memasukkan anaknya ke pesantren, harus mulai mengajarkan mereka agar mandiri dalam mengambil nasinya, terbiasa mencuci piringnya, hingga meletakkan kembali ke atas rak piring, hal ini simple namun sangat berarti bagi anak dalam usia tumbuh, untuk membiasakan habit yang baik bagi dirinya.

 

2.     Ajarkan Anak Cara Beradaptasi Dengan Cepat.

 

Jika anak belum terbiasa ditinggal oleh orang tua, maka bolehlah sesekali orang tua mulai meninggalkan anaknya untuk bermalam di kampung, ditinggal bermalam dengan kakek neneknya, dengan sengaja orang tua pulang ke rumahnya. Tega tidak tega tetap mesti dicoba, ini demi kebaikan buah hati yang kita harapkan mandiri diusia dewasanya nanti.

 

Hal ini terlihat remeh bagi mereka yang telah terbiasa, namun betapa sulit bagi mereka yang belum pernah menitipkan anaknya tanpa didampingi kehadiran mereka.

 

Positifnya, hal ini dapat melatih anak untuk menjaga sikap agar tetap sopan, walaupun tidak ada orang tua disampingnya, selain itu juga, mereka akan mulai terbiasa untuk bisa beradaptasi dengan baik di rumah neneknya, atau di rumah pamannya, atau di rumah sepupunya yang lainnya. Dalam proses pendidikan adaptasi ini menjadi penting.

 

Sisi Positifnya yang lain, hal ini dapat membiasakan anak untuk hidup tanpa orang tua di sisinya, bukan menegasikan peran orang tua, justru ini adalah pendidikan real orang tua pada anaknya, sebab anak dilatih beradaptasi sejak dini. Merupakan tujuan pendidikan untuk sang anak.

 

Orang tua yang baik pasti selalu memikirkan, mempersiapkan, dan mengantarkan si anak untuk zamannya nanti. Walaupun itu juga masih misteri, bagaimana bentuk, warna dan bauhnya, semua masih menerka-nerka bisa jadi lebih sulit dari zaman ini, atau bisa jadi lebih baik dari zaman ini. Tapi persiapan itu tidak ada salahnya dimatangkan sejak dini.

 

3.     Latih Anak Agar Mampu Menyelesaikan Masalahnya Sendiri Dan Sabar Untuk Terus Bertahan.

 

Kesuksesan pendidikan anak di pesantren tidak hanya proses pendidikan orang tua saja, tidak karena faktor anak yang mandiri saja, tidak karena dana yang mencukupi saja, tidak sesederhana hal ini. 

 

Pendidikan pola pesantren, berasrama 24 jam itu tidak sesederhana itu, namun kompleks, jika anaknya betah dan kuat menahan rindu, belum tentu dengan orang tuanya, akhirnya ditarik keluar dari pesantren.

 

Anaknya kuat dan betah di pesantren, orang tuanya kuat secara mental dan materi, tapi sayang nenek, kakeknya tidak kuat menahan rindu pada sang cucu, dengan berat hati, banyak pertimbangan sana-sini, akhirnya sang anak terpaksa tidak bisa lanjut.

 

Anak betah, orang tua bahagia, kakek nenek ridho, tapi ternyata fisik anaknya yang lemah, mudah terserang sakit, mudah sakit-sakitan, dengan bersedih hati terpaksa harus menariknya pulang ke rumah.

 

Maka dalam hal ini yang harus mampu menyelesaikan masalahnya dan sabar untuk terus bertahan tidak hanya anak, namun juga orang tua, bahkan kakek dan nenek juga. Semuanya saling bersinergi menjaga, saling do’a mendo’akan, semoga semuanya baik.

 

Satu gubahan pesan dari KH. Hasan Abdullah Sahal. “Wahai Bapak-Ibu... Para calon wali murid... Calon orang tua santri dan santriwati... Lebih baik Bapak-Ibu menangis sekarang, melepaskan anakmu jauh untuk belajar menuntut ilmu agama, dari pada kamu menangis nanti, karena anakmu menjauh dari agama.”

 

Semoga catatan singat ini dapat sedikit membantu, dan menginspirasi.

Terima Kasih Teman-teman pembaca yang sudah membaca hingga sejauh ini.

Jazakumullah khoir. 

Wal ‘afwu minkum..

Wassalamu’alaikum wr wb.

0 comments :

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi dan berkomentar bijak di situs ini.

Subscribe Us

Dalam Feed


*PENGALAMAN NYANTRI: Menikmati Setiap Detik Proses Kelak Menjadi Pengalaman Beresensi