Falsafatuna: Mengaji Filsafat Hingga Akhir Hayat
Tradisi keilmuan adalah tradisi santri sebagai bangsa yang besar. Mental dibentuk dan ditempah dari para tokoh-tokoh terkemuka Indonesia, menelurkan generasi-generasi yang gemar membaca, gemar berdiskusi, gemar bersahut-sahutan ilmu hingga terbentuklah gagasan ilmu dan peradaban, sebagai pasak pondasi sebuah kemajuan dan peradaban dalam mengkonstruksi negeri dan bangsa yang maju.
Dalam filsafat tidak cukup hanya membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah, akan tetapi juga mampu memperbaiki yang salah dan membimbingnya ke jalan yang benar, itulah inti dari sebuah kajian yang kelak melahirkan perabadan akhlak, untuk terciptanya “Baldatun Toyyibah Wa Rabun Ghofur” manifestasi tatanan struktur terbaik dari potret bangsa yang berfikir.
A. Tradisi Keilmuan
Dari balik rak-rak perpustakaan, ada diskusi ringan memberikan nuansa hikmat dan lezat. Mengkonsuminya seperti coklat yang manis, bait demi baik pemikiran para tokoh filsuf terlahap tak terasa, kajian tokoh Barat masuk di dalamnya, tokoh Yunani ada di dalamnya, tokoh Islam kental dibahas berulang-ulang, hingga pada akhirnya mengerucut di antara mereka semua, pertanyaan filosofis mendasar mempertanyaan keberadaan diri yang ‘baru terasa ada’.
“Siapakah saya? Apakah saya makhluk yang berfikir? Pemikiran apa yang bisa saya berikan? Teori apa yang bisa saya rumuskan? Pembaharuan apa yang bisa saya cetuskan? Bersanadkah keilmuan saya? Berfootnotekah kata-kata saya?”
Seribu tanya berputar di kepala ibarat roda, Malam ini otak dipaksa begadang berputar dan bekerja mencari jawaban dari ribuan pertanyaan yang bermunculan, semoga mata bisa terlelap meski jawaban belum ditemukan di alam nyata, kali-kali saja terjawab di dalam mimpi.
Sadarilah, jika beragam pertanyaan itu timbul, tandanya kamu mulai memasuki dunia metafisika, di mana hati seketika hidup, menjalankan tugasnya sebagai hati yang berakal, hati yang berfikir, demikianlah teori rasional yang sebenarnya dalam Islam. Bukan saja otak yang berfikir tapi hati juga berfikir, keduanya memberikan keseimbangan dalam bentuk pengambilan keputusan dan kebijaksanaan. Bukti bahwa filsafat itu benar-benar hadir untuk menjadi pedoman menjalani hutan pemikiran yang semraut, menjaga diri manusia agar tetap kokoh pada pijakan keimanan yang tak tergoyahkan.
Dalam hingar-bingar, carut-marut dunia, serta dalamnya hutan pemikiran filsafat, dikerucutkan minimal ada 2 hal penting yang mesti disadari, yaitu dunia yang tampak “syahadah” ada dunia yang tidak tampak “ghoib”, biasa disebut sebagi bukti empiris dalam kajian Islam.
Dari sini kita mengerti bahwa sejatinya alat ukur manusia itu ada 3 (mata, telinga dan hati) 2 yang pertama digunakan untuk memahami dunia yang tampak ‘syahadah’ dan 1 terakhir digunakan untuk membaca dunia yang tidak tampak ‘ghoib’. Perpaduan ketiganya akan melahirkan sebuah pemikiran agung, bahwa Islam adalah pelaku empiris yang sebenarnya, yaitu “’Aalimul ghoibi Was Syahadah”.
Di tengah-tengah banyaknya teori-teori berseliweran di sana, post positivism, post truth, distrubsi dan lain hal sebagainya. Lewat kajian sederhana, ringan malam ini, Dr. Qosim Nursehaha Dzulhadi mematrikan satu pemahaman daqiq, bahwa: “Dalam Islam, agama itu adalah pembangun peradaban; berbading terbalik dengan Barat yang memandang agama itu sebagai bagian dari peradaban.”
B. Langkah Awal Memahami Filsafat
Banyak catatan-catatan penting yang dapat menjadi catatan kaki dari perbincangan sederhana malam ini, sedikitnya ada 3 hal penting yang mesti digali lagi dalam kajian-kajian berikutnya, dikaji lebih mendalam, untuk sebuah pemahaman yang lebih mendetail lagi.
Sebagai pembuka, setidaknya kita mengulang kaji tentang filsafat umum, dalam hal ini dikerucutkan ke dalam 3 serangkai, yaitu: Filsafat Ilmu, Filsafat Barat dan Filsafat Islam. Di mana pembagiannya adalah sebagai berikut:
NO | FILSAFAT ILMU | FILSAFAT BARAT | FILSAFAT ISLAM |
1 | Ontologi | Metafisika | Ilmu Kalam |
2 | Epistemologi | Epistemologi | Ushul Fiqh |
3 | Aksiologi | Etika | Tasawuf |
4 |
| Logika |
|
5 |
| Filsafat Politik |
|
6 |
| Estetika |
|
7 |
| Filsafat Manusia |
|
8 |
| Filsafat Ilmu |
|
9 |
| Filsafat Agama |
|
10 |
| Bahasa & Makna |
|
Indahnya dalam setiap tradisi ilmu itu ada katib, sinonimnya adalah dokumentasi, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, agar kita tidak lupa semboyan: “Nahnu Qoum Naqrou, wanaktubu, wa nakhtubu”; kita adalah generasi yang gemar membaca-mendengar-berdiskusi, gemar menulis dan gemar berorasi.”
C. Harapan dan Impian
Hasil yang sangat diidam-idamkan dari kajian ini ialah lahirnya sebuah catatan ringan untuk menyederhanakan filsafat dalam 100 halaman. Buku saku yang jika itu dimiliki semua pembaca awam, atau orang yang ingin mengerti filsafat sedari awal, hasilnya dapat memudahkannya memahami secara garis besar di awal, sebab telah memahami muqoddimah awal ilmunya.
D. Penutup
Demikian pencerahan kajian malam hari ini; karena ini masih awal mula, maka harapannya sejak hari Ahad, 10 Mei 2026 ini, diharapkan ada kajian lanjutan yang membahas lebih dalam terkait pembahasan filsafat ini.
Terima kasih untuk panitia, atas dedikasinya hingga terlaksananya kajian ini.
Salam semangat untuk segenap mahasiswa yang dahaga ilmu pengetahuan dan lapar wawasan global yang bernash bersejarah.
Semoga kita selalu bertemu dalam kajian yang serupa di lain kesempatan.
Medan, Ahad, 10 Mei 2026. 23.30 wib.