Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI SANTRI

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

CATATAN PINGGIR

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Showing posts with label Buku Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Buku Filsafat. Show all posts

Sunday, January 30, 2022

Pembacaan Awal Buku Prolegomena Prof. Naquib Al-Attas

**

Judul Buku      : Prolegomena To The Metaphysics Of Islam

Penulis             : Syed Muhammad Naquib Al-Attas

Penerbit          : International Institute Of Islamic Thought And Civilization (ISTAC)

Tempat            : Kuala Lumpur, Malaysia.

Cetakan           : pertama, 5 September 1995/ 9 Rabi al-Akhir 1416

Tebal               : 358 hlm

ISBN                : 983-99002-3-4

Genre              : Philosophy Book

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

 

**

 

This is a very important book. No book of its kind, in profundity as well as magnitude of scope and comprehensive grasp of modern intellectual challenges facing the contemporary Muslim World. Appeared in the last century. The book deals with the fundamental question of the nature of “worldview” according to Islam, a question that has never really been raised in our time. The author proposes that the nature of the worldview of Islam is not merely the mind’s view of the physical world and of man’s historical, social, political, and cultural involvement in it, as has been misunderstood in the minds of secular, contemporary Muslim scholars generally, and particularly those preoccupied with the social and political sciences, but it should bear upon the Muslims ideas about “change”, “development”, and “Progress”.

 

Buku ini bertuliskan bahasa Inggris, untuk memahaminya butuh waktu sedikit lebih lama dari membaca tulisan ringan seperti biasa kita nikmati, dan tantangannya adalah buku ini bertuliskan bahasa Inggris. Jika tujuannya memahami buku ini sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggrisnya maka buku ini adalah pilihan yang tepat, namun jika tujuannya untuk mengetahui isinya, yah.. begitulah, harus memiliki usaha ekstra untuk bisa memahaminya, menantang bukan?

 

Secara bebas kita coba artikan kalimat berbahasa Inggris di atas yang itu di ambil dari synopsis di cover belakan buku prolegomena. Kira-kira beginilah artinya:

 

Ini adalah buku yang sangat penting. Tidak ada buku sejenis, dalam kedalaman serta cakupan dan pemahaman yang komprehensif tentang tantangan intelektual modern yang dihadapi Dunia Muslim kontemporer. Muncul di abad terakhir. Buku ini membahas pertanyaan mendasar tentang sifat "pandangan dunia" menurut Islam, sebuah pertanyaan yang belum pernah benar-benar diangkat di zaman kita. Penulis mengusulkan bahwa sifat pandangan dunia Islam bukan hanya pandangan pikiran tentang dunia fisik dan keterlibatan sejarah, sosial, politik, dan budaya manusia di dalamnya, seperti yang telah disalahpahami di benak para sarjana Muslim sekuler dan kontemporer pada umumnya. , dan khususnya mereka yang disibukkan dengan ilmu-ilmu sosial dan politik, tetapi itu harus mengandung ide-ide Muslim tentang "perubahan", "pembangunan", dan "Kemajuan".

 

 Dari penjelasan di atas, sedikit jelas arah pembahasan buku ini, harapannya setelah membaca buku ini, kita menjadi lebih paham betul apa sebenarnya tantangan-tantangan yang harus dihadapi kedepan, sebab dunia selalu berubah, sekecil apapun itu harus dipersiapkan dengan sangat matang, sebab perubahan adalah sunnatullah, maka tidak ada yang tidak berubah, kecuai perubahan itu sendiri, selamat berubah, selamat membaca, semoga bermanfaat.

 

 

Sunday, May 30, 2021

The Magic




***

Pertama sekali melihat buku ini, rasa penasaran mulai muncul, sejenak berdiri di depan raknya, dan mulai membuka halaman asal, dan kemudian membaca isinya, .... "Jawaban dari misteri yang tak terpecahkan selama berabad-abad ini terdapat dalam satu kata yang tersembunyi: SYUKUR"...[p. 5] dan ternyata buku ini berbeda dengan buku yang lainnya, merasa ingin mengetahui lebih dalam lagi isinya maka terbelilah buku ini, demikian petikan singkat tentang isi bukunya:

*** 

 

Buku ini semacam buku pelatihan yang dibuat untuk harian. Buku ajaib yang bisa langsung dipraktekkan perharinya. Maka untuk itu dalam daftar isi dibuat hari pertama hingga hari ke dua puluh delapan, dimana masing-masing hari ada penjelasan judul yang mewakili isinya. Berikut judul-judul perharinya: Menghitung karunia, Batu Ajaib, Relasi Ajaib, Uang Ajaib, Bekerja Dengan Ajaib, Cara Ajaib Untuk Keluar Dari Negativitas, Bahan Pangan Yang Ajaib, Magnet Uang, Serbuk Ajaib Untuk Setiap Orang, Pagi Yang Ajaib, Orang-Orang Ajaib Yang Menciptakan Perbedaan, Mewujudkan Semua Impian, Memiliki Hari Yang Ajaib, Menyembuhkan Relasi Secara Ajaib, Keajaiban Dan Mukjizat Dalam Kesehatan, Cek Ajaib, Daftar Tugas Ajaib, Langkah Ajaib, Keajaiban Jantung, Hasil Yang Luar Biasa, Di Depan Mata, Udara Ajaib Yang Kita Hirup, Tongkat Ajaib, Isyarat Ajaib, Dengan Ajaib Mengubah Kesalahan Menjadi Karunia, Cermin Ajaib, Mengingat Keajaiban.

 

***

“Mereka yang tidak percaya pada keajaiban, tidak akan pernah menemukannya.” 

Ronald Dahl (1916-1990) Penulis. 

Anda Percaya Pada Keajaiban? []

.

“Saat kita mengungkapkan rasa syukur kita, kita tidak boleh lupa bahwa penghargaan tertinggi bukanlah pada kata-kata, tetapi bagaimana menerapkannya dalam hidup.”

 John F. Kennedy (1917-1963) Presiden Amerika Serikat ke-35 [p. 21]

.

“Ketika Aku mulai menghitung karunia yang kuterima, seluruh hidupku berubah.” 

Willie Nelson (lahir 1933) Penyanyi – Penulis Lagu. [p. 31]

.

“Renungkan karunia-karuniamu saat kini yang banyak dimiliki oleh setiap orang; bukan kemalangan masa lalu yang tidak banyak dimiliki oleh semua orang.” 

Charles Dickens (1812-1870) – Penulis.

.

“Bila Anda melakukan suatu kegiatan, suatu seni, suatu disiplin, suatu keterampilan-lakukanlah dan doronglah sejauh mungkin, doronglah lebih jauh dari sebelumnya, doronglah sampai ke tepian yang paling liar, maka Anda mendorongnya ke dalam realisme keajaiban.”

Tom Robbins (Lahir 1936) – Penulis. [p. 73]

.

“Ketika Anda bangun di pagi hari, pikirkan betapa beruntungnya Anda untuk bisa hidup, berpikir, menikmati, dan mencintai”

Marcus Aurelius (121-180) – Kaisar Romawi. [p. 121]

.

“Imajinasi adalah karpet ajaib yang sesungguhnya” 

Norman Vincent Peale (1898-1993) – Penulis. [135]

.

“Niat yang dipadatkan ke dalam kata-kata akan membungkus daya ajaib.” 

Deepak Chopra (Lahir 1946)- Dokter dan Penulis. [p. 145]

.

“Mukjizat tidak berlawanan dengan alam, tetapi hanya berlawanan dengan apa yang kita ketahui tentang alam.”

Santo Agustinus (354-430) -Teolog dan Uskup Katolik [p. 163]

.

“Dunia ini penuh dengan hal-hal ajaib yang menanti kecerdikan kita tumbuh lebih tajam”

Eden Phillpotts (1862-1960) Novelis Dan Penyair.

.

“Seratus kali setiap hari saya mengingatkan diri bahwa kehidupan di dalam dan di luar diriku bergantung pada kerja keras orang lain, yang masih hidup atau yang sudah mati, dan bahwa saya harus menuang energi yang sama seperti yang telah dan masih saya terima.”

Albert Einstein (1879-1955)-Fisikawan Pemenang Hadiah Nobel. [p. 193]

.

“Hidup penuh permainan… Kita perlu bermain sehingga kita dapat menemukan Kembali keajaiban di sekitar kita.”

Flora Colao (Lahir 1954) – Penulis dan Terapis.

.

“Inilah yang perlu Anda lakukan dengan keajaiban. Anda harus tahu bahwa ia masih ada di sana, di sekitar kita, atau ia akan tetap tidak kasat mata bagi Anda.”

Charles De Lint (Lahir 1951) – Penulis Dan Musisi Lagu Rakyat Celt.

.

“Mengucap syukur itu sopan dan menyenangkan, menerapkan syukur itu murah hati dan terhormat, tetapi menghidupi syukur itu menyentuh surga.”

Johannes A. Gaertner (1912-1996)-Profesor, Teolog, Penyair. [p.267]

.

Syukur Adalah Jawaban: Syukur adalah penyembuh untuk relasi yang putus atau sulit, untuk kurangnya kesehatan atau uang, dan untuk ketidakbahagiaan. Syukur menghapus ketakutan, cemas, duka dan depresi, dan mendatangkan kebahagiaan, kejelasan, kesabaran, keramahan, belas kasih, pengertian, dan kedamaian pikiran. Syukur mendatangkan jalan keluar masalah, dan peluang serta cara untuk mewujudkan impian Anda.

.

Membawa Syukur bersama Anda: Bawalah syukur ke mana pun Anda pergi. Masukkan keajaiban syukur ke dalam gairah, pertemuan, tindakan, dan situasi hidup Anda agar semua impian Anda mewujud. Di masa depan, jika hidup menghadirkan situasi yang sulit kepada Anda dan Anda pikir Anda tidak mempunyai kendali atasnya, dan Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan, dari pada menjadi cemas atau takut, berpalinglah kepada keajaiban syukur dan bersyukurlah atas segala sesuatu yang lain di dalam hidup Anda. Ketika Anda dengan sengaja dan sadar berterima kasih atas kebaikan di dalam hidup Anda, situasi di sekitar tantangan Anda akan berubah secara ajaib.

 

“Sungguh, kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insaan [76]: 3)

 

Ucapkan kata-kata ajaib, terima kasih. Ucapkan dengan suara keras, teriakkan dari puncak atap, bisikkan kepada diri sendiri, katakan di dalam benak atau rasakan di dalam hari, tetapi mulai sekarang, ke mana pun Anda pergi, bawalah syukur dan daya ajaibnya bersama Anda. 

Untuk memiliki hidup ajaib yang penuh dengan kelimpahan dan kebahagiaan, jawabannya ada di bibir Anda, di dalam hati Anda, siap serta menanti Anda memunculkan keajaiban!


***


Judul Buku      : The Magic

Penulis            : Rhonda Byrne

Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal               : 280 Hlm

Cetakan           : kelima belas: Januari 2021

Resensator      : Irwan Haryono Sirait.

Harga              : Rp. 108.000,-


 

 


Thursday, January 21, 2021

Failosophy (a handbook for when things go wrong)


 


Contents

Introduction (p. 1)

What Is Failure? (p. 13)

“Mistakes are, after all, the foundations of truth and if a man does not know what a thing is, it is at least an increase in knowledge if he knows what is not” (Carl Jungs, Psychoanalyst)

 

The seven Failure Principles (p. 19)

 

“You don’t have to the best, just try your best” Mabel, Pop star

 

“The difference between hope and despair is a different way of relling a story from the same facts” Alain De Botton, Philosopher

 


Book title                    : Failosophy (a handbook for when things fo wrong)

Author                         : Elizabeth Day

Publisher                     : Great Britain, 4 th Estate

Thick                            : 148 pages

Price                            : £ 10 (Rp. 184.000,-) 

Reviewer                     : Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I
store                            : Periplus


1. Failure just is (p. 21)

“The fact of worrying about whether it’s all going wrong is pointless. What is should be about is just thinking, “Well, all I can do is the best I can do, in the way I think is the best way, and we’ll see what happens at the end”…

 

Failure is part of the process of getting where you need to be”

- Andy Mcnab, Author and Former Sas Soldier-

 

2. You are not your worst thoughts (p. 31)

“I think every human being has the inalienable right to live and decide what rules work for them” -James Frey, Author-

 

3. Almost everyone feels they’ve failed at their twenties (p. 43)

“I failed many times, massively, in my twenties. Constantly” -Samin Nosrat, Television Chef-

 

“Your twenties is about finding your identity and finding out who you are. For me, I had no clue who I was really. I thought I did. I thought I knew everything about me, but I knew nothing” -Jamie Laing, Entrepreneur and Reality TV Star-

 

4. break-ups are not a tragedy (p. 57)

“Let everything happen to you Beauty and terror Just keep going No feeling is final” -Rainer Maria Rilke, Poet-

 

5. Failure is data acquisition (p. 67)

“Thought failure, if you’re honest and you see where you’ve failed, how you’ve failed, then every time you get a bit stronger” -Gina Miller, Campaigner-

 

6. There is no such thing as a future you (p. 77)

“It’s nice to have plans, but even a plan C,D, and E sometimes doesn’t cover the unexpected. So being open to the opportunities that can come, and to roll with them, is really important” -Meera Syal, Actor, Comedian, Playwright and author-

 

7. Being open about our vulnerabilities is the source of true strength (p. 89)

“It’s OK to say that you’re not OK. And by doing that, it alleviates that pressure and you can actually be you a little bit more” -Dame Kelly Holmes, Olympic Gold Medallist-

 


 

Conclusion or What does failure teach you about success? (p. 119)

 

“Failure continuously teaches us who we are.

It is nothing to be scared of.

Failure has been the making of me.

It might just be the making of you too.”

 

‘Most failures can teach us something meaningful about ourselves if we choose to listen’

Saturday, April 14, 2018

Ilmu dan Amal selalu beriringan.


“ Al-ghazali mengatakan bahwa nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya”.

      Ada dua perkara yang saling mengisi dan tidak dapat dipisahkan, yaitu ilmu dan amal, ilmu berperan sebagai pemimpin, sedangkan amal sebagai bawahannya. Ada pula yang mengibaratkan ilmu laksana pohon, dan amal adalah buahnya. Ilmu tanpa amal tidak berguna, tapi amal tanpa ilmu hanya akan sia-sia.

لَوْ كَا نَ لِلْعِلْمْ مِنْ دُوْنِ التُقَى شَرَفُ*
لَكَانَ اَشْرَفُ خَلْقِ اللهِ اِبْلِيْسُ*

Seandainya ilmu tanpa takwa suatu bentuk kemuliaan 
tentulah makhluk yang paling mulia adalah iblis.

Yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu dharuri’ yaitu ilmu yang berisikan perintah dan larangan Allah SWT. Oleh karena itu waspadalah terhadap ilmu yang dimiliki tapi tidak diamalkan, karena Allah berkata mengenai hal ini:

      “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim.” (Al-Jumu’ah: 5)

Bayangkanlah! Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya diibaratkan Allah SWT seperti keledai yang punggungnya penuh dengan buku-buku. Ia sama sekali tidak dapat mengambil manfaat dari yang dibawanya itu.
**
      Maka dari itu Akal tidak dapat dikatakan berfungsi sebagai akal dengan sebenar-benarnya jika sipemiliknya tidak memikirkan hal-hal yang layak dan yang tidak layak dilakukan.

      Orang telah diberi pertolongan oleh Allah dalam mengendalikan akal dan hawa nafsunya, kehidupannya akan sukses dan selamat. Insya Allah, surga adalah tempat kembalinya. Sebaliknya, bila seseorang telah diperbudak hawa nafsunya hingga akal sehatnya sudah tidak jalan lagi, maka kelak ia akan hidup di tempat yang hina, yaitu neraka hawiyah. Wal ‘iyadzu billah!

Sumber dari buku yang berjudul:

Judul : Kepada Anakku Dekati Tuhanmu
Penulis : Abu Hamid Al-Ghazali
Penerbit   : Mathba'ah Al-Ma'arif, Baghdad 1968
Penerjemah : A. Mudjab Mahali
Penerbit         : Gema Insani


Friday, January 2, 2015

Gender dan Demokrasi

Buku seri Demokrasi ini diterbitkan oleh program sekolah demokrasi yang diselenggarakan atas kerjasama public Policy Analysis and Community Development Studies (PLaCID’s) Averroes dan komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID). Bertujuan untuk membantu masyarakat menemukan jati dirinya secara otonom dengan memberikan bantuan pemahaman atas segala problema yang terjadi dalam bingkai social-budaya. Selain itu untuk memberikan dasar-dasar pemahaman yang kritis dan untuk membangun wacana yang mandiri di dalam masyarakat agar mereka bisa mengelola segenap persoalannya sendiri tanpa ada intervensi atau campur tangan secara paksa dari pihak-pihak lain.

            Setelah dibuka dengan kata pengantar dari Heri Setiono sebagai Koordinator Program Sekolah Demokrasi, ia menyatakan buku ini sebagai bagian dari upaya untuk membangun wacana kritis rakyat dalam hal interaksi penting antara perjuangan gender dengan gerakan demokrasi. Kemudian di jelaskan dalam hal yang sama dengan Dr. Umi Sumbulah, M.Ag. dengan cara menjelaskan Konsep Dasar dan Perbedaan antara Seks dan Gender, Variasi Makna Gender, Bentuk-Bentuk Ketidakadilan Gender, dan beberapa sub judul lainnya, yang akhir kata pengantarnya beliau menyampaikan bahwa dengan berkembangnya masyarakat, peran-peran yang dijalani oleh perempuan dan laki-laki tidak lagi hanya ditentukan oleh kebudayaan, tetapi juga oleh ideologi yang dominan pada suatu masa dan oleh faktor-faktor sosial, politik dan bahkan juga ekomoni.

            Buku yang dijadikan satu tema ini, bisa dikatakan juga Bunga Rampai, karena pada tiap bagiannya memiliki seorang penulis sendiri yang menjelaskan secara lebih mendetail. Dibagian pertama dari buku ini tersaji tulisannya Happy Budi Febriansih berjudul “Isu Gender Dan Demokrasi”. Bagian kedua, tentang “Pengarusutamaan Gender Dalam Perspektif Pembangunan Nasional” oleh Childa Maulina. Bagian ke 3, M. Miftah  Wahyudi menjelaskan tentang “Gender dan Pendalaman Demokrasi Multikultural”. Bagian 4, Siti Nurhidayati menjelasakan tentang “KDRT dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia Perempuan dan Kekerasan Di Indonesia”. Bagian 5, Zulvina Nurida Anom memberikan prosentase berkaitan tentang “Anggaran Responsif Gender Di Kabupaten Malang”
           
            Ketika membaca kata pengantar tampak bahwa tulisannya teramat sangat menyodorkan sisi perbedaan-perbedaan antara lelaki perempuan. Baik itu dalam hal sosial, budaya, bahkan antara fitrah penciptaan laki-laki dan perempuan itu sendiri. Terkesan memberikan fakta bahwa wanita teramat sangat tertindas dari segala aspek, padahal tidak demikian jika kita tinjau dari sisi agama, betapa mulianya wanita dalam pandangan agama Islam dan juga betapa tingginya derajat pria di gambarkan di sana sebagai sosok yang bertanggungjawab memperhatankan hidup keluarganya.

            Dari kajian buku ini, tampak beberapa hal hilang, kurang banyak menjelaskan tentang kesamaan dan keserasian yang harus di paparkan dari itu semua, terutama dari sisi syariat agama, maka untuk pembaca pemula di sarankan untuk membaca pengantar buku tentang pengertian gender, sejarahnya dan juga kajian feminisme sebelum membaca buku ini, bertujuan agar dapat seimbang untuk menilai satu permasalahan berdasarkan pondasi yang jelas. Tidak baru mendapatkan pengertian gender disini.  


Judul buku    : GENDER dan DEMOKRASI
Penyunting      : Saiful Arif
Pengarang       : Happy Budi Febriasih
Penerbit           : Malang, Averroes Press
Cetakan           : Pertama, Januari 2008

Tebal               : 113 Hlm, 14x21 cm

*Sumber Foto: http://www.simpuldemokrasi.com/wp-content/uploads/simpuldemokrasi/cover-buku-sekolah-demokrasi/8.jpg

FEMINISME DAN FUNDAMENTALISME ISLAM


Dalam buku ini Moghissi menolak pendapat yang menyatakan bahwa dengan bercadar perempuan mendapat perlindungan dari hasrat seksual laki-laki. Di samping itu ia juga mengemukakan tentang kritisismenya terhadap fundamentalisme dan posmodernisme sekaligus. Posmodernisme dan fundamentalisme, bukanlah jalan terbaik untuk memecah kebekuan. Lalu, buku ini memberikan perspektif bagaimana kebekuan itu supaya mencair. Sehingga upaya membangun dan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan kaum perempuan menjadi lempang.
Buku ini mengemukakan 3 poin yaitu. Pertama adalah soal pandangan Moghissi terhadap fenomena anti orientalisme –poskolonialisme akibat pengaruh Edward Said di dalam kajian Islam dan gender di negara-negar Timur Tengah, (tak terkecuali hal ini juga merambah Indonesia). Kedua, pandangan Kritis Moghissi atas persoalan fundamentalisme Islam yang menurutnya mendapat supportive thingking dari posmodernisme. Ketiga adalah pandangan Moghissi mengenai feminis Islam, mengulas tentang kemungkinan-kemungkinan dan batasan-batasan feminisme Islam.
Ide penulisan tentang feminisme dan fundamentalisme Islam ini muncul oleh kegelisahan yang dialaminya selama beberapa tahun sejak dia menyaksikan dan mendengarkan perbedabatan-perdebatan akademis seputar tema feminisme dan fundamentalisme Islam. Salah satu gugatan Haideh Moghissi yang dipahat kuat dalam pengantar buku ini, adalah:
 “Selama berabad-abad lamanya, seksualitas dan tingkah laku perempuan menarik perhatian laki-laki (Muslim); kepentingan-kepentingan dan tulisan-tulisan dari laki-laki telah membatasi kehidupan perempuan dan partisipasi penuh mereka dari urusan –urusan publik….”

 Pada kajian sederhana buku ini tidak salah kiranya Haideh Moghissi curhat tentang apa yang ia rasakan sebagai penduduk  asli yang disuruh hengkang. Seorang perempuan Iran yang harus meninggalkan hak dasarnya untuk hidup (right to live and life) di negerinya sendiri beralasan karena hak dasar yang dimikikinya dianggap bertentangan dengan misi syari’ah Islam. Disini yang perlu diluruskan adalah bagaimana dasar yang dia inginkan, dan bagaimana dasar yang di syariatkan dalam Islam. Sebab dari penjelasan di buku ini, jelas tergambar hal yang biasa natural dan disayariatkan dalam Islam seperti seorang istri tinggal di rumah menjaga rumah, harta suami dan anak menjadi permasalahan bagi mereka, bagaiamana ceritanya, jika terjadi begini lantas Islam yang disalahkan bukankah ini penyimpangan yang harus di luruskan maknanya.
Oleh sebab itu buku ini tidak layak sebagai rujukan, hanya cocok sebagai bacaan ringan mengetahui curhatan seorang wanita yang mengharapkan keadilan dan kesamaan menurutnya sendiri. Boleh jadi baginya ini masalah besar karena menyangkut tentnag perasaan dan kesedihan yang mendalam. Dan butuh sambungan tangan hangat sebagai pembelaan. Namun bagi kita ini hanyalah hal biasa. Sebelum membaca buku ini saran kami, mari buka mata terlebih dahulu untuk menangkap sisi yang janggal dari penjelasan nya yang mengkritisi syariat Islam yang telah sangat indah mengatur agama kita. Jangan serta merta menerima.

Sebab tampaknya kaca mata yang digunakan untuk melihat ini tampaknya kaca mata hitam, ditambah pisaunya pisau tumpul untuk menganalisis permasalahan secara lebih mendalam.


Judul buku    : FEMINISME DAN FUNDAMENTALISME ISLAM
Pengarang       : Haideh Moghissi
Penerbit           : Yogyakarta: LKIS
Cetakan           : Pertama, Januari 2005

Tebal               : 288 Hlm, 14,5x21 cm

*Sumber Foto: https://ecs3.tokopedia.net/newimg/cache/300/product-1/2014/10/1/201801/201801_9be0cf46-4948-11e4-9231-38b74908a8c2.jpg

Thursday, January 1, 2015

DOMINASI MASKULIN

       
Dominasi Maskulin adalah sebuah analisis etnografi terhadap pembagian kerja berbasis gender yang berlaku dalam masyarakat Qubail yang merepresentasikan tradisi budaya Mediterania. Dalam buku ini, Pierre Bourdieu menawarkan instrumen untuk mengungkap struktur simbolik dari pemahaman bawah sadar androsentris yang bersemayam di alam pikiran kaum laki-laki maupun perempuan di masyakarat kita. Bourdieu menganalisis dominasi maskuin sebagai wujud paradigmatik dari kekerasan simbolik, semacam kekerasan yang tak kasat mata, halus namun pervasif yang sering kali mendapat persetujuan dari pihak yang akan dikuasai. Untuk dapat memahami wujud dari dominasi maskulin ini, Bourdieu melakukan suatu studi sejarah mengenai dehistorisasi melalui lembaga-lembaga sosial seperti keluarga, sekolah, gereja maupun negara yang mengabadikan kuasa laki-laki yang arbitrer.
Buku ini terbagi menjadi 3 bab bahasan, pada bab pertama, Gambaran Besar. Menjelaskan Konstruksi Sosial Tubuh, Inkorporasi Dominasi, Kekerasan Simbolik, Perempuan dalam Ekonomi Harta Simbolik, Virilitas dan Kekerasan.  Bab kedua, Anamnesis Tentang Konstanta-Konstanta Yang Tersembunyu. Meliputi tentang Maskulinitas sebagai Kebangsawanan, Menjadi Feminin sebagai Menjadi Dilihat, Visi Feminin tentang Visi Maskulin. Bab ketiga, Keajengan dan Perubahan. Merupakan pendalaman tentang Kerja Historis Dehistorisasi, Faktor-Faktor Perubahan, Ekonomi Harta Simbolik dan Strategi-Strategi Reproduksi serta Kekuatan Struktur.
            Buku yang berjudul dominasi Maskulin ini adalah hasil terjemahan, karena berbeda bahasa, permasalahan memahami buku ini menjadi kompleks. Permasalahan bahasa menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Dari tata bahasa, penggunaan bahasa, pengkaitan istilah dan juga logika berfikir untuk menjelaskan inti pemikiran buku ini serasa masih ‘jelimet’ sehingga sulit untuk dipahami dalam waktu yang relatif singkat, dibutuhkan ketelitian dan kesabaran untuk meneliti apa maksud dari makna setiap kalimatnya, hal ini disebabkan begitu banyaknya ide yang dimasukkan kedalam satu paragraf.

Menurut kami, buku ini tidak cocok dibaca bagi kalangan awam yang baru memasuki pemahaman akan dunia feminisme. Sebab istilah yang digunakan di dalamnya bukan istilah familiar yang biasa di dengar, akan tetapi istilah asing, yang butuh membuka kamus untuk mengetahui maksud istilah tersebut, bertujuan agar akurat informasi dan pemahaman yang di dapatkan. 


Judul Terjemahan    : DOMINASI MASKULIN
Judul Asli                    : La Domination Masculine
Pengarang                   : Pierre Bourdieu
Penerjemah                  : Stephanus Aswar Herwinarko
Penerbit                       : Yogyakarta: Jalasutra
Cetakan                       : Pertama, Juli 2010
Tebal                           : 180 Hlm, 14x21 cm

Sumber Foto: https://s4.bukalapak.com/system/images/3/9/0/0/2/3/4/medium/Dominasi_Maskulin_-_JLS.JPG

Dinamika Kehidupan Keagaman Di Era Reformasi

Buku ini merupakan laporan lengkap hasil kegiatan penelitian pembimbingan yang telah dilaksanakan dalam tahun anggaran 2009.

Buku ini menyajikan hasil penelitian peserta bimbingan penelitian sehingga hasilnya cukup variatif, karena masing-masing peneliti memilih obyek studi dengan berbagai pertimbangan masing-masing. Hasil penelitian yang dihimpun dalam buku ini adalah seagai berikut:

1.      Hubungan LSM-pemerintah, dimana dalam posisinya masing-masing telah cukup berperan dalam upaya pemeliharaan kerukunan umat beragama di Indonesia.

2.      Komunitas Betawi mampu mempertahankan tradisi agamanya, karena semua tradisi itu dikemas dalam bentuk kegiatan keagamaan sebagai bagian dari kepercayaan dan ajaran agama yang harus diamalkan.

3.      Dan keragaman dalam pandangan aktivitas dan tokoh musim di Depok terkait dengan pemahaman tentang HAM, kebebasan beragama dan berkepercayaan. Ada informan yang berpandangna ingklusif dan ada pula yang eksklusif. Informan yang berpandangan inklusif menerima gagasan universal HAM termasuk ketnentuan kebebasan beragama atau bekepercayaan. HAM. Tidak perlu dipandang sebagai konsep yang bertentangan dengan Islam. Informan yang berpandang eksklusif menggunakan alasan teologis dan historis. Secara teologis Islam meiliki sumber autentik yang dapat dijadikan legitimasi penerimaan umat Islam terhadap HAM, yakni al-Quran. Empat, lima dan seterusnya dapat di baca pada pengantar.

Demikian semoga buku ini bermanfaat untuk kepentingan penelitian di kemudian hari dan dapat menambah wawasan bagi para pembaca umumnya, dan khususnya dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi kebijakan pemerintah. Instansi terkait dalam pembinaan kehidupan beragama dan berdemokrasi di negeri ini.  


Judul buku    :Dinamika Kehidupan Keagaman Di Era Reformasi
Pengarang       : Abd. A’la
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Lima, 2013
Tebal               : 158 Hlm, 14,5x21 cm

* Sumber Foto: http://simbi.kemenag.go.id/pustaka/index.php/pustaka-islami/lainnya/115-damaikan-kehidupan-keagamaan-di-era-reformasi

Agama Tanpa Penganut


   Seandainya dikatakan, sebagian besar umat beragama saa ini sudah meninggalkan agamanya, nyaris dipastikan atau kemungkinan besar mereka, kendati tidak semuanya, akan marah besar. Seara sepintas pernyataan semacam itu bisa dianggap provokatif. Namiun jika milhat realitas yang ada, kita akan menyaksikan sesautau yang bisa membenarkan ungkapan tersbut. Hal ini dapat dilacak dari keberadaan umat beragama yang menjalani kehdiupan merkea alam beragam paradoks. Misalnya dalam perspektif Islam, umat Islam merupakan wkail Tuhan di alam dunia ini yang dibenri amanah untuk “memakmurkan” kehidupan. Merkea ditugaskan mengelola dan mengolah alam, memabngun, serta melestarikan kehidupan menuju kesejahteraan paripurna, dan holistik bagi segenap penghuninya. Dalam perspektif yang lebih luas, semua penganut ama berdasrkan jaaran agama masing-masing,  d untut untuk melabihkan jaran agmaa mereka yang pada prinsipnya bersifat moral. Moralitas luhur harus menjadi pijakan kokoh merkea dalam merajut dan mengmebangkan kehiudpan dalam semua aspeknya.

   Menyikapi tuntutan agama tersbut, mereka tampaknya menyanggupi untuk melaksnakannya yang diejawantahkan melalui ritual dan seremonial keagamaan yang meka laksanakn dari saat ke saat. Namun pada sisi ini paradoks itu mulai muncul. Mereka tekun menjalankan ritual dan setemonial keagamaan, tapi pada saat yang sama merkea juga rajin melakukan hal-hal yang berntentangan dnegan etika dan moral. Sebagian merkea melakukan kebeatan yang pertentangannya mungkin “hanya” smar dan tipis dengan nilai-nilai agama; dan sebagaian yagn lain justru menebarkan munkarat yang secara tegas berdiri di ametral dengna etik dan akhlak agama. Pada umumnya, tidnakan=-tndakan amoral itu berada lama tataran ranah publik, atau bersifat dosa sosial.
 
   Keterkelupasan keberagamaan dari nilai meoral agama tersebut tmapka jelas ketika gama sekadar dijadikan alat legitimasi untuk kepentingan subyektif yang sempit dan pragmatis. Politik merupakan ranah yang begitu sering memerulukan gama untuk dibiaskan menjadi pembenar bagi syahwat-syahwat kekuasaan yang mengeram di balik politik tersebut. Kondisi ini terpapar secara kasat mata dari sikap dan perilaku (maoritas?) kaum politisi yang menggunakan simbol-simbol agama untuk sekadar meraih atau memperteguh kekuasaan bagi mereka dan kelompoknya. Seiring itu, dengan penggunaan atribut-atribut keagamaan itu, mereka melakukan othering terhadap sainagan mereka, baik yang seagama, apalagi yang berbeda agama. Dalam kondisi ini, tuduhan dan fitnah yang tentunya berseberangan dengan nilai agama apaun, bahkan dengan nilai kemanusiaan universal menjadi menyatu dengan simbol agama yang mereka gunakan. Ironisnya, kendati eralitas menunjukkan kesia-siaan memperalat agama dalam dunia politik, para politisi, penguasa atau lainnya tidak jera-jera, bahkan kian menguat dari saat ke saat, untuk melakukannya. Manakala mereka berkuasa,, mereka terus menggerogoti nilai-nilai agama. Mereka tetap membiarkan –implisit atau eksplisit- perilaku bejar yang mengotori keidupan , dari koerupsi, ketidak-adilan, hingga konflik-berdarah. Bhakan bisa-bisa merkea termasuk pelaku atau punyai kaitan dengan perilaku biadab itu.

   Dalam konteks itu, buku yang berasal dari kumpulan tulisan ini dipubliksikan dan dihadirkan keruang publik. Melalui pembacaan yang kritis, karya ini diharapkan dapat memberikan ruang yang cukup ntuk mendiskusikan hal-hal yang terkati dnegan keberagamaan yang teransformatif; keberagamaan yang dapat menyebarkan dan membumikan nilai-nilai luhur agama.

Judul buku    :Agama Tanpa Penganut
Pengarang       : Abd. A’la
Penerbit           : Kanisius
Cetakan           : Lima, 2013
Tebal               : 158 Hlm, 14,5x21 cm

*Sumber Foto: http://www.kanisiusmedia.com/uploads/cover/2/072093-2.jpg
                                       

Tuhan Menurut Abraham Maslow

 photo 658b5d86-20f1-49e6-adc5-9c73323ef375_zpsf5744aaa.jpg
Pendahuluan
            Permasalahan ketuhanan merupakan permasalahan besar yang muncul sejak manusia mulai menggunakan nalar berfikirnya secara mendalam.[1] Dikatakan permasalahan besar dikarenakan banyak dari kalangan filosof dan teolog yang memiliki perhatian dan perbedaan pandangan secara signifikan. Perbincangannya-pun merupakan diskusi yang usianya seumur keberadaan manusia. Diduga kuat pada diri manusia memang memiliki bakat ber-Tuhan dan potensi untuk beragama (sensus religious).[2]
            Di dunia Barat yang mayoritas Kristen, setelah masa pencerahan (renaissance) yang ditandai dengan bangkitanya rasionalisme dan empirisme, bermunculan para pendobrak bahkan penghujat Tuhan. Di antara tokoh tersebut adalah Abraham Maslow1908-1970).[3]
            Alasan pemilihan Filsafat Abraham Maslow sebagai tema tulisan ini adalah ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak tentang Abraham Maslow dan pemikirannya. Terutama adalah untuk mengetahui tentang sejarah kehidupan  Maslow. Bagaimana dia dapat memiliki pemikiran-pemikiran yang menolak filosof-filosof sebelum dirinya dan mengapa dia memliki penolakan yang seakan radikal terhadap Tuhan. Makalah yang sederhana ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut diatas, dengan maksud agar nantinya dapat diketahui bagaimana pemikiran Maslow yang berakhir pada kesimpulan bahwa manusia adalah sama dengan tuhan apabila telah sampai pada pengalaman puncak.

Sekilas Biografi Abraham Maslow
Tokoh dengan nama lengkap Abraham Harold Maslow, lahir pada tanggal 1 April 1908 di Brooklyn, New York, sebagai anak sulung dari tujuh orang bersaudara. Kedua orangtuanya adalah penganut Yahudi tidak berpendidikan yang berimigrasi dari Rusia. Karena sangat berharap anak-anaknya berhasil di dunia baru, kedua orangtuanya memaksa Maslow dan saudara-saudaranya belajar keras agar meraih keberhasilan di bidang akademik. Tidak heran jika semasa kanak-kanak dan remaja, Maslow menjadi anak penyendiri dan menghabiskan hari-harinya dengan buku.
Demi menuruti keinginan orangtuanya, pertama-tama Maslow belajar hukum di City College of New York (CCNY). Setelah tiga semester belajar di sana, dia pindah ke Cornell lalu kembali ke CCNY. Dia menikahi sepupunya, Bertha Goodman, dan pernikahan ini bertentangan dengan keinginan orangtuanya. Maslow dan Bertha dikaruniai dua orang puteri.
Dia dan Bertha kemudian pindah ke Wisconsin agar bisa masuk ke University of Wisconsin. Di sinilah ketertarikannya pada bidang psikologis mulai tumbuh, sehingga perjalanan akademisnya berubah secara dramatis. Setahun setelah lulus, dia kembali ke New York untuk bekerja dengan E. L. Thorndike di Coolumbia dimana dia melakukan penelitian tentang seksualitas manusia.
Dia mulai mengajar full time di Brooklyn College. Dalam periode inilah dia bergaul dengan beberapa pemikir Eropa yang berimigrasi ke AS, khususnya ke Brooklyn, akibat perang yang berkecamuk di sana. Di antara pemikir tersebut adalah Adler, Fromm, Horney dan psikolog-psikolog Gestalt dan Freudian.
Tahun 1951, Maslow menjabat ketua departemen psikologi di Brandels selama 10 tahun. Di sinilah dia bertemu dengan Kurt dan mulai menulis karya-karya teoretisnya sendiri. Di sini, dia juga mulai mengembangkan konsep psikologi humanistik – konsep yang baginya jauh lebih penting ketimbang usaha-usaha teoretisnya.
Dia menghabiskan masa pensiunnya di California, sampai akhirnya dia mengalami serangan jantung dan meninggal pada tanggal 8 Juni 1970.[4]

Pandangan Tentang Ketuhanan.
            Barat kesulitan untuk mendefenisikan apa Tuhan itu. Keimanan Barat hanya berdasarkan kepada keyakinan buta yang harus di terima begitu saja. Ada yang berpedoman kepada Tertulian yang mengatakan “credo quia absurdum”, atau “saya percaya karena dogma agama tidak masuk akal”.[5]
            Dalam bentuk yang lain orang di tuntut untuk mempercayai wahyu yang kemudian menjadi tahu akan apa yang diyakini. Sayangnya, wahyu tersebut tidak bernuansa pengetahuan, tidak epistemologis. Wahyu tidak dapat berirama dengan akal. Sedangkan akal dipaksa untuk mempercayai berbagai hal yang tidak masuk akal dalam wahyu. Pandangan seperti ini diyakini merujuk kepada St. Anselmus yang mengatakan “credo ut Inteligam”, atau saya percaya karena saya paham.[6]

            Pandangan yang kedua ini masih memberikan ruang bagi akal manusia untuk berkreasi. Akal masih bisa menganalisa berbagai realitas demi mencapai kebenaran. Tapi akhirnya, tetap harus bersesuaian dengan dogma agama, meskipun tidak masuk akal.
Jika kedua pandangan tadi sama-sama dipakai untuk mendefenisikan Tuhan, maka hasilnya adalah Tuhan yang belum tentu memuaskan manusia, karena hanya berlandaskan atas wahyu yang tidak epistemologis. akhirnya, manusia kesulitan dalam mendefiniskan konsepsi Tuhan.
Kesulitan dalam mendefenisikan Tuhan juga dialami oleh Maslow. Menurutnya, definisi Tuhan yang di utarakan oleh para teolog cenderung menafikan konsepsi manusia akibat mengalami Tuhan. Ada kejanggalan dalam konsepsi Tuhannya, yang terlihat dalam asumsinya dalam membuat definisi tersebut. Dia mengingikan agar defenisi itu juga dapat merangkul orang-orang atheis yang tidak percaya Tuhan secara transenden-esoteris. Karena itu, Maslow mengatakan:
“Jika Tuhan di defenisikan dengan “ada dengan sendirinya”, atau “prinsip integrasi alam” atau “keseluruhan segala sesuatu”, atau “kebermaknaan kosmos” maka apalagi yang akan di tolak oleh atheis? Mereka akan menyetujui bahwa Tuhan adalah “Prinsip integrasi” atau ‘prinsip harmoni’.[7]
Dalam bagian lain, Maslow mengatakan:
Pada akhirnya, “Tuhan” menjadi keputusan yang arbitrer dan pengikutsertaan secara individual yang ditentukan dengan sejarah, ketersingkapan dan mitos seseorang yang semuanya di dapat secara individual… yang menjadi perhatian kita adalah situasi sekarang ini, seperti yang ada pada ajaran Budha tentang “perhatian tertinggi” dan pandangan Paul Tillich tentang “dimensi kedalaman” itu lebih menghubungkan para agamawan kepada orang-orang agnostic ketimbang orang beragama lainnya yang memandang agama sebagai kebiasaan dan adat dan memahaminya secara konvensonal, superficial…[8]
            Melalui penjelasan ini, jelaslah sudah bahwa Tuhan dalam pandangan Abraham Maslow adalah yang ada dengan sendirinya, atau prinsip integrasi di alam ini, atau cakupan ‘segala sesuatu’, atau Tuhan sebagai kebermaknaan kosmos yang inti dari semuanya adalah prinsip keharmonisan. Nampaknya Maslow –berdasarkan perkataannya di atas setuju dengan pandangan yang terakhir. Jadi tuhan dalam pandangannya bukan ‘yang sakral’ yang ada pada level transenden esoteris sekaligus imanaen yang kehadirannya dapat diraskan pada level eksoteris, karena –nantinya – dia tidak terjangkau oleh manusia, menjadi terpisah dengan keduniaan dan kekinian dan bahkan bisa menjadi musuh manusia.
Pandangan ketuhanan yang demikian di dasari oleh dominannya subyektifitas kemanusiaan yang menafikan sisi kemanusiaan sebagai ketidak berartian di mata Tuhan. Manusia di pandang yang paling unggul, bahkan ukuran segalanya, hingga akhirnya mencoba mengukur Tuhan sebatas prinsip keharmonisan. Cara pandang seperti ini memang biasa diutarakan oleh para humanis yang cenderung sekuler.
Definisi Maslow tentang Tuhan cenderung menjadi bagian dari sekularisasi.[9] Dia mengatakan: Jika tuhan berada diluar alam dunia dan manusia maka akan terpisah dari yang profane dan sekuler dan tidak ada apa-apa untuk dilakukan dengan mereka dan bahkan bisa menjadi musuh mereka.[10]
Salah satu gambaran Tuhan yang disebutnya sebagai prinsip harmoni tadi terlihat dalam implikasi pengalaman puncak yang menurutnya adalah jalan menuju keilahian. Melalui pengalaman puncak, seseorang bisa mencapai derajat keilahian, atau menjadi Tuhan. Bagi Maslow, Pengalaman Puncak bisa menjadikan seseorang “The gods who can contemplate and encompass the whole of being”, sebab sifat orang yang mengalami pengalaman puncak memiliki kesamaan dengan sifat Tuhan yang tidak memiliki kebutuhan, atau kehendak, tidak ada kekurangan, kelemahan senantiasa dalam kesenangan, dan tidak memiliki motifasi. Dia mengatakan “kita harus ingat bahwa tuhan-tuhan itu tidak memiliki kebutuhan atau keinginan, tidak ada kekurangan, kelemahan dan selalu senang dalam berbagai hal”. Jika seperti itu maka Maslow meyakini kemampuan manusia menjadi Tuhan yang secara eksistensial tidak mungkin, karena apabila manusia menjadi Tuhan maka akan ada yang menyamai Tuhan.

Penutup
Tuhan dalam pandangan Maslow adalah yang ada dengan sendirinya, atau Tuhan sebagai kebermaknaan kosmos yang inti dan semuanya adalah prinsip keharmonisan. Salah satu gambaran Tuhan yang disebutnya sebagai prinsip harmoni tadi terlihat dalam implikasi pengalaman puncak yang menurutnya adalah jalan menuju keilahian. Melalui pengalaman puncak, seseorang bisa mencapai derajat keilahian, atau menjadi Tuhan.[11]



             






DAFTAR PUSTAKA

A Loen, Arnold. 1967. Secularization: Science Without God?. London: SCM Press.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1985. Islam, Secularism, and The Philosophy of The Future. London: Mansell Publishing Limited.
_______. 1993. Islam and Secularism. Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC.
_______. 1993. Prolegomena to The Metaphysic of Islam: an Exposition of The Fundamental Elements of The Worldview of Islam. Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC.
_______. 1998. The Religions of Islam: Course lecture. Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC.
_______. 2001. Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC.
Boeree, George. 1997. Personality Theories: An Introduction. Psychology Department Shippensburg University.
Ghilab, Muhammad. 1947. Muskilat al-Uluhiyyah. Kairo: Darul Ihya al-Kutub al ‘Arabiyyah.
Keane, John. 2000. The Limits of Secularism, dalam John L Esposito and Azzam Tamimi, Islam and Secularism in the Middle East. London: Hurst & Company.
 Madhofir, Ali. 2001. Kamus Filsuf Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Marx, Karl. Friedrich Engels. 1957.  On Religion. Moscow: Foreign languages Publishing house.
Maslow, Abraham Harold. 1976. Religions, Values and Peak Experiences. New York: Penguin Books.
Nasr, Sayyed Hossein. Knowledge and The Sacred: The Gifford Lectures. Edinburgh University Press.
Wach, Joachim. 1958. The comparative Study Of Religion. New York: Columbia University Press.



[1] Muhammad Ghilab, Muskilat al-Uluhiyyah, (Kairo: Darul Ihya al-Kutub al ‘Arabiyyah, 1947), cet. Ke-2, p. 13
[2] Joachim Wach, The comparative Study Of Religion (New York: Columbia University Press, 1958), p. 39
[3] Ali Madhofir, Kamus Filsuf Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), cet, I, p. 352
[4] George Boeree, Personality Theories: An Introduction, (Psychology Department Shippensburg University, 1997). P. 55
[5] Karl Marx, Friedrich Engels, On Religion. (Moscow: Foreign languages Publishing house, 1957), p. 24
[6] Sayyed Hossein Nasr, Knowledge and The Sacred: The Gifford Lectures, (Edinburgh University Press), p. 36

  [7] Abraham Harold Maslow, Religions, Values and Peak Experiences, (New York: Penguin Books, 1976), p. 44-45. Dalam penjelasan lain, dia mengatakan: “…that leading theologians, and sophisticated people in general, define their god, not as a person, but as a force, a principle, a gestalt-quality of the whole of Being, an integrating power that espresses the unity and therefore the meaningfulness of the cosmos? The “dimension of depth,” etc. lihat p. 55
  [8] Ibid, p. 56

  [9] Arnold A Loen mendefenisikan sekularisasi sebagai proses hstoris yang menghilangkan peran Tuhan dari dunia. Sekularisasi mengembnalikan ke3sadaran manusia untuk mempertanyakan apa dan siapa Tuhan itu. Karna tidak terpecakan maka manusia mempercayai kepda fakta bahwa searang ini dunia berada tnapa Tuhan. Lihat:Arnold A Loen, Secularization: Science Without God?, (London: SCM Press, 1967), p. 7, 27. Proses ini membebaskan dunia dari pemahaman keagamaan, mengesampingkan padnagnan hidup dan penghancuran mitos-mitos supranatural dan symbol-simbol sacral. Di dalam proses ini terkandung proses peniadaan kesakralan pada nilai dan alam, dan juga desakralisasi politik. Lhat: syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC, 1993), p. 12-20. Lihat Juga: Syed Muhammad Naquib ak-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC, 2001), p. 196-198. Lihat juga syed Muhammad Naquib al-Attas, The Religions of Islam: Course lecture, (Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC, 1998), p. 133-134. Lihat juga syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to The Metaphysic of Islam: an Exposition of The Fundamental Elements of The Worldview of Islam, (Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC, 1993), p. 21-26. Lihat juga Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam, Secularism, and The Philosophy of The Future. (London: Mansell Publishing Limited, 1985), p. 14-17. Proses sejarah ini juga di pengaruhi oleh pengalaman keagamaan yang individual dan hanya berhubungan dengan apa yang bisa dilakukan dalam kesendirian seseorang berdasarkan demokrasi proses ini menawarkan pemahaman agama secara demokratis yang hingga saat ini gagal untuk menghasilkan pemahaman agama yang demokratis karena selama proses pemahaman ini masih berlandaskan demokrasi maka selama itu juga masih bertentangan. Lihat John Keane, The Limits of Secularism, dalam John L Esposito and Azzam Tamimi, Islam and Secularism in the Middle East, (London: Hurst & Company, 2000), p. 31-32.           
[10] Religions, Values, and Peak Experiences: p. 14-15
[11] Abraham Harold Maslow, Religions, Values and Peak Experiences, (New York: Penguin Books, 1976), p. 64

Subscribe Us

Dalam Feed

*PENGALAMAN NYANTRI*

*PENGALAMAN NYANTRI*
Pengalaman Nyantri Menghadirkan Ruang Refleksi Kehidupan, Ketenangan, dan Pemikiran Dari Sudut Pandang Santri Akademisi.