Iklan Multipleks Baru

KETELADANAN KYAI SANTRI

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

PENGALAMAN UNIK DAN LUCU

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

CATATAN PINGGIR

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

NASEHAT, KEBIJAKSANAAN DAN REFLEKSI

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

BERARTI DAN BERKESAN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Showing posts with label Buku Kepesantrenan. Show all posts
Showing posts with label Buku Kepesantrenan. Show all posts

Thursday, September 22, 2022

Wajah Pendidikan Pesantren



 

Sebagaimana layaknya wajah, yang selalu terlihat di awal, dan diperlihatkan di depan. Maka seperti itu jugalah pendidikan pesantren. Selalu pendidikan yang dijadikan nilai jual bagi bangsa lain, seraya menjadi pembeda dari lembaga lain; sehingga diupayakan pendidikan pesantren ini, mampu menjadi pendidikan terbaik dalam membentuk generasi yang siap terjun dan berkiprah di masyarakat, agama, bangsa dan negaranya.

 

Meletakkan pendidikan sebagai wajah bagi pesantren, sama halnya menjadikannya pilar terbagunnya pesantren, baik dari sisi internal maupun kepercayaan eksternal. Di sini penulis merangkum wajah pendidikan pesantren ke dalam enam wajah esensial, yaitu: Pendidikan keikhlasan, pendidikan kesederhanaan, pendidikan kemandirian, pendidikan ukhuwah Islamiyah, pendidikan kebebasan dan pendidikan leadership.

 

Pendidikan keikhlasan, ialah pendidikan akan jiwa keikhlasan seseorang. Kyai ikhlas mendidik santrinya, dan santrinya ikhlas untuk taat pada kyainya, sehingga miliu yang tercipta adalah saling percaya, saling yakin dan saling dukung demi satu tujuan perjuangan dan pengorbanan lillah. Tanpa pendidikan keikhlasan jiwa besar untuk berbuat tanpa harap balasanpun tak akan pernah tercipta. Harapannya pola pendidikan Ikhlas ini dapat berjalan dan menjalankan sebuah tatanan pendidikan dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, bahkan proses tidurpun adalah bagian dari pendidikan keikhlasan itu sendiri. Pola hidup di dalamnya lebih dituntut untuk memberi, bersedekah, mendahulukan kewajiban dari pada menuntut hak-haknya. Maka niat berkorban dan berjuang untuk pesantren, agama, bangsa, dan negara karena Allah swt ialah hakikat kehidupan sesungguhnya.

 

Pendidikan kesederhanaan, ialah pendidikan cara hidup sederhana yang diciptakan pesantren dalam mendidik santrinya syarat akan nilai dan suasana kesederhanaan. Sederhana bukan berarti tidak mampu, miskin, melarat, papa dan tak berdaya. Justru ketika mampu untuk hidup mewah namun tetap memilih untuk sederhana ialah sebesar-besarnya jiwa orang yang bijaksana. Sebab jiwa kesederhanaan itulah yang kelak mudah diisi dengan nilai-nilai yang luhur, kekuatan jiwa, kesanggupan fisik, ketabahan hati dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Sebab di balik pola pendidikan inilah muncul sosok yang sederhana dalam penampilan namun besar jiwanya, sederhana dalam ucapan tapi konsisten dalam amalannya, sederhana dalam pola keseharian tapi sungguh-sungguh dalam perjuangannya. Semoga pedidikan ini bisa diterapkan bagi kita bersama.

 

Pendidikan kemandirian. Adalah pendidikan yang mengarah pada pendidikan mentalitas mandiri, di mana santri dan santriwati diharuskan mampu mengurus urusannya sendiri, tidak bergantung oleh siapapun dalam melakukan kewajiban dan kegiatan yang memang haus ia lakukan sendiri. Mental kemandirian ini akan membentuknya agar tidak selalu bergantung kepada orang lain. Nuraninya meyakini cukuplah Allah sebagai tempat berkeluh kesah, cukuplah Allah sebagai tempat kembali, dalam sujud panjang di atas sajadah setiap malam-malamnya.

 

Pendidikan ukhuwah islamiyah. Adalah pendidikan seni dalam merasa, dari pendidikan ini diharapkan santri dapat merasakan kesulitan temannya, sehingga dapat dibantunya. Dari pendidikan ukhuwah Islamiyah ini, secara spontan yang mampu akan membantu yang tidak mampu, yang tahu akan memberi tahu yang tidak tahu, tanpa sekalipun terucap kata meminta, sebab begitulah ukhuwah Islamiyah, mampu merasa sebelum keluh kesah terucap dalam kata dari saudaranya. Harapannya pendidikan ini, dapat terus tertanam bahkan terhujam di sanubari hingga akhir hayat santri.

 

 

Pendidikan kebebasan. Bukanlah mendidik secara bebas tanpa terarah, akan tetapi proses pendidikan kebebasan tanpa menghilangkan hal yang prinsipil sebagai seorang muslim dan mukmin. Sehingga hasil dari pola pendidikan kebebasan ini adalah bertindak sesuai petunjuk ilahi (hidayatullah). Pendidikan ini juga ditanamkan setelah seorang santri dan santriwati memiliki budi yang tinggi atau budi yang luhur nan agung, dan setelah ia berpengetahuan luas pastinya.

 

Pendidikan leadership, adalah proses pendidikan intensif dalam menyiapkan pemimpin masa depan, sebab calon pemimpin masa depan harus mampu menghadapi seluruh persoalan yang dihadapinya, dan anggotanya, baik itu materil maupun non materil. Dari dua persoalan ini, persoalan non materil itu adalah ujian yang benar-benar terasa berat, sebab harus berhadapan pada pola pikir, sikap dan prilaku manusia dalam beragam macam bentuk polanya. Untuk itu dibutuhkan pendidikan leadership yang akan memperkuat daya dorong, daya tahan, daya suai dan daya kreatif pemimpin.

 

Demikian catatan singkat, tentang enam wajah pendidikan pesantren, kiranya dapat sedikit memberikan insight baru bagi teman-teman pembaca. 

 

Terima kasih karena telah membaca hingga baris terakhir ini.

 

 

 

*Sumber Inspirasi dari: 

 

Abdullah Syukri Zarkasyi, Bekal Untuk Pemimpin Pengalaman Memimpin Gontor, Kedua (Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jatim: Trimurti Press, 2011).

 

Nur Hadi Ihsan, Muhammad Akrimul Hakim, dan Ahmad Hasan Al-Banna, Profil Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur Indonesia, Kedua (Ponorogo, Jawa Timur: Darussalam Press Pondok Modern Darussalam Gontor, 2006).

 

 

Tuesday, January 11, 2022

Bekal Utama Penulis/Jurnalis


 Dari Kitab berjudul: “Jurnalistik Ala Kiai Gontor” karya KH. Zainuddin Fananie (salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor) dalam halaman 40 beliau berpesan:

 

“Bekal utama menjadi seorang penulis atau jurnalis, selain memiliki kemauan yang keras, tekad yang bulat, lapang dada, jujur, ikhlas dan rajin, wajib pula memperluas wawasan dan menguasai berbagai bidang ilmu”

 

Sebab menurut beliau, seorang jurnalis jangan sampai menyesatkan pemikiran masyarakat yang masih belum punya pendirian dan terombang-ambing oleh informasi yang kurang akurat.

 

Karena penulis dan jurnalis menurutnya adalah pekerjaan mulia dan penting, sampai-sampai dalam pepatah arab profesi ini diungkapkan dengan ungkapan yang sangat dahsyat:

 

لَوْ نُزِّلَ الوَحْيُ عَلَى غَيْرِ الأَنْبِيَاءِ لَنُزِّلَ عَلَى أَقْلَامِ الكُتَّابِ

“Sekiranya wahyu itu dapat diturunkan kepada selain para nabi, niscaya akan diturunkan kepada para penulis.”

 

Kiranya sekelumit catatan singkat ini, dapat memberikan inspirasi bagi para penulis pemula, dan menambah semangat jihad tulis-menulis bagi para penulis kawakan, senior, maestro, sesepuh, guru dari para guru dan lain sebagainya. 


Dengan segala kerendahan ilmu kami, tak mampu kami menyebut satu persatu dari sekian ahli dengan segala kedalaman kajian keilmuannya, dan kerendahan hatinya dari para syaikh/syaikah 'allamah yang dirahmati oleh Allah swt seluruhnya kami Mohon maaf, semoga kita selalu dalam lindungan Allah swt. Aamiin

Insya Allah. Wallahu Musta’aan. Aamiin.

Wednesday, June 2, 2021

Pedoman Pendidikan Modern

 Kali ini Aku tidak meresensi, hanya menuliskan poin-poin penting yang kurasa penting untuk kubagikan kepada segenap pembaca yang kali saja sedang kebetulan membutuhkan. Selamat membaca:

“ Masyarakat atau bangsa ini berada dalam arena persaingan yang tak bisa diabaikan, dan arena kontestasi itu hanya mungkin dapat dihadapi bila semua warga bangsa menyadari kewajibannya. Dan untuk dapat menyadari kewajibannya itu dibutuhkan pendidikan.”

 

“Tujuan Pendidikan ialah membantu menunjukkan jalan kepada anak-anak, atau kepada siapa saja, yang belum dapat berjalan dan memilih jalan dengan sendirinya. Pendidik, dengan demikian, bertugas untuk menunjukkan jalan kebaikan, sehingga anak didik menjadi baik dalam segala perbuatan, perkataan dan hatinya.”

 

Bagaimana istilah modern dari buku ini? Silahkan dikupas tuntas, nikmati bukunya. Kamu akan angguk-angguk sendiri, ternyata inilah hal terlewatkan setiap hari tapi tidak disadari, bahwasannya hal kecil ini memiliki arti inti dari sebuah pendidikan jati diri itu sendiri

 

Terima kasih, selamatmenikmati buku ini.

 

Tuesday, February 2, 2021

Membaca Tesis Saudara Abdullah Sani Mengingatkanku Tentang Thawalib (part 1)

Assalamu’alaikum wr wb

Kembali merasa sangat terhormat untuk kedua kalinya, mendapatkan kesempatan membaca karya tesis saudara Abdullah Sani Ritonga, sebuah tulisan ilmiah yang telah mengantarkannya memboyong gelas masternya. Kepadanya kami ucapkan selamat, semoga ilmu Anda berkah, dan dimanapun Anda berpijak, kekokohan untuk mempertahankan kebenaran dari pada kebatilan dapat terus Anda tegakkan seraya dilindungi Allah swt, Aamiin ya Rabbal’alamin.

Sebuah tesis yang telah tercetak menjadi buku ini, telah sangat sempurna dengan diisi sambutan dari 2 orang sesepuh pesantren, sosok Dr. K.H. Rasyidin Bina, MA dan sosok Al-Mukarram Al-Ustadz Qosim Nursheha Dzulhadi, Lc., M.Ud. Sebuah sambutan luar biasa mengawali kajian ilmu, menumbuhkan semangat juang, semangat memberi manfaat dan semangat untuk terus berbuat dan berkarya. Terima kasih Al-Ustadz atas kata pengantar yang telah menggetarkan semangat pembacanya.

Poin yang ingin saya garis bawahi sebagai pengingat personal, agar kelak mudah bagi kami mencarinya ulang:

·      Menerangkan bahwa STIT-RH merupakan Lembaga Pendidikan yang telah memiliki, tagline khusus, yaitu: “Menuju lahirnya insan yang beradab.” Sungguh PR yang sangat berat yang harus dikerjakan kedepannya; ditengah maraknya sistem teknologi informasi di dunia saat ini yang telah menjamur dimana-mana. Maka tantangan dekadensi moral dan akhlak bukan lagi hanya sekedar teori tapi sudah mewabah, perlu ada edukasi cara baru agar santri/mahasantri dapat memilah-milih guru besar yang patut untuk diikutinya dari jejaring internet dan multimedia .

·      Dalam kata pengantar juga, Al-Ustadz Qosim menerangkan bahwa telah lahir ditengah-tengah bangsa Indonesia yang telah berhasil memberikan pencerahan dibalik ratusan karya fenomenalnya, siapakah beliau? Beliau adalah HAMKA akronim Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981), sosok yang dikenal sebagai sosok ensiklopedik, mempunyai integritas tinggi dalam moral dan keilmuan. 

·      Sosok HAMKA dikenal sebagai ahli dalam banyak bidang ilmu, diantaranya: Tafsir, tasawuf, figh, sejarah, filsafat, dan sastra. 

·      Sesuai dalam kata pengantar Al-Ustadz Qosim, bahwa buku yang pra-cetak ini ingin menarik benang merah antara sosok HAMKA sebagai ilmuan dan HAMKA sebagai Pendidik, sebuah catatan ilmiah yang sangat luar biasa. 

·      Catatan buku ini mengarahkan kajiannya pada tujuan pendidikannya Luqman al-Hakim yaitu penjelasan tentang Tauhid, berbakti kepada orang tua, kesadaran diri akan maut, keutamaan shalat, sabar, sikap hidup selalu tawadhu’ (tidak sombong) dan sosok yang selalu memikirkan setiap apa yang akan dikatakan, dan dikerjakan)

    Mulai memasuki prolog, dalam pikiran kami, seakan memasuki gerbang perbatasan antara kajian dunia yang penuh kefanaan, manuju kajian agama dan akhirat yang penuh tentang kebenaran dan fakta. Semoga kami bisa memahaminya dengan baik.

Mungkin sampai disini dulu tulisan singkatnya. 
Lebih spesifik tentang isi buku monggo lanjut baca di Membaca Tesis Part 2. Click link here.

Saturday, January 16, 2021

Ajaran Kiai Gontor Kepada Santrinya


 

“Rindu.”

Apakah ini kata kerja? Atau ini kata benda? Atau ini kata sifat? Tolong bantu aku memaknai kata ini.

Seperti halnya kerinduan yang tak dapat diobati kecuali dengan pertemuan. Tersiksa batin menahan Hasrat perjumpaan. Sangat rindu diri ini, ingin bertemu dengannya, sosok orang tua, guru, uswah dan panutan sepanjang masa, ingin berjumpa wajah dan bertanya tentang hal ahwal dunia, ingin bertukar pikiran tentang menanggapi hal perihal dinamika dunia, ingin meminta nasehat, wejangan dan arahan agar tetap kokoh pijakan kaki ini, agar tidak goyah pendirian hati, agar tetap menjadi manusia dilingkungan manusia, tidak tersesat di jalan domba, tidak salah arah masuk hutan belantara dihuni serigala dan rubah, tidak juga berputar-putar dalam dunia sehingga tak berhasil menemukan jalan lurus menuju syurga. Na'uzubillah.

 

Iri rasanya melihat mereka yang sempat bertemu dengan kyai-kyai trimurti, semangat mereka berbeda dengan semangat yang lainnya, pola kerjanya berbeda dengan pola kerja yang lainnya, apakah yang ditanamkan kyai dulu, hingga nilai hidup begitu terhujam disanubari anak didiknya? Apakah karena kata-katanya yang berapi yang telah terpatri? Atau orasi yang menggelegar yang terus dalam mengakar? Atau keikhlasan mereka yang tak pernah surut walau badai menyerang permukaan, walau gersang mengeringkan daratan? Apapun itu aku iri dengan mereka yang sempat berjumpa dengan panutannya para panutan, ialah kyai trimurti ‘wallahu yarham’. Andai ada kesempatan bertemu, pertanyaan inilah yang ingin kudengar langsung jawabannya dari beliau semua.

 

Ku susuri mencari jejak rinduku, ku kumpulkan semua tulisan yang tersisa untuk mengobati iriku, sampai pada satu titik rindu dan iri, mengantarkanku pada satu titik pengetahuan baru tentang mereka yang sangat luar biasa. Detik ini, “Aku adalah murid mereka” ikrarku saat ini dan untuk kedepannya.

 

Sebuah buku bersampulkan kyai Haji Imam Zarkasyi telah ada digenggamanku, sebuah buku luar biasa yang memberikan arti hidup seharusnya. Dirangkum dalam 72 wejangan, dibuka dengan prolog dan dilanjutkan dengan penjelasan spesifik ke dalam 11 bab.

 

BAB. I 

JANGAN BERKECIL HATI, SONGSONGLAH MASA DEPANMU (p. 1)

“Yang paling utama, jangan kecil hati menghadapi masa depanmu, meskipun kamu akan menghadapi cobaan dan ujian yang berat. Ingatlah bahwa masa depanmu masih cerah.” 

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. II 

LURUSKAN NIAT, BELAJARLAH MENGUASAI DIRI (p. 15)

“Kepintaran itu tidak ada hubungannya dengan kekayaan, maka belajarlah bukan untuk kekayaan tetapi “Lillahi Ta’ala” (Hanya untuk Allah), “Li I’laai kalimatillah” (Untuk menegakkan kalimat Allah).”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. III

JANGAN BERPIKIR SELAMANYA JADI PEGAWAI (p. 35)

“Kalau menjadi buruh, masa depannya gelap, suram, dan itu adalah penyakit.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. IV

HIDUP ITU BISA DI MANA SAJA, BERKARYALAH (p. 63)

“Sesungguhnya semua amal itu harus sampai selesai. Jika suatu perbuatan itu belum selesai, maka artinya dia itu belum beramal.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB.V

BEKALI DIRI DENGAN MENTAL JUJUR (p. 91)

“Kamu pulang ke masyarakat harus bermental, bersikap, dan berpikir jujur.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB.VI

LAWAN KEMALASANMU, JANGAN BERGANTUNG KEPADA UANG (p. 99)

“Yang paling berbahaya ialah orang yang tidak mau bekerja, tetapi ingin mendapat uang.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB.VII

 DUNIA USAHA ITU LUAS, JADILAH PENGUSAHA YANG BERSIH (p. 125)

“Cara menutupi kebutuhan hidup dengan usaha, bukan dengan cara naik pangkat.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. VIII

TATALAH NIAT DALAM MENCARI REZEKI (p. 141)

“Kalau kamu mencari rezeki. Jangan sampai niatmu salah. Niat mencari rezeki adalah mencari alat untuk berdakwah. Rezeki bukan untuk mengumpulkan kekayaan. Cari rezeki sekadar untuk hidup. Jika niat mencari rezeki untuk ibadah dan dakwah, maka pasti Allah akan memberi.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB.IX

MENJADI PEDAGANG DENGAN SERIBU OTAK (p. 153)

“Berdagang dapat dilakukan tanpa modal yang penting terorganisir dengan baik.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. X

MEMULAI USAHA, MENCARI KUNCI HIDUP (p. 167)

Niatlah di dalam “rihlah” (economic study tour): “Saya akan mencoba dan membuat seperti itu bahkan lebih.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

BAB. XI

 UNTUK APA HARGA BENDAMU? (p. 191)

“Kekayaan harta jangan jadi tujuan, jadilah pemuda pejuang yang punya rasa bertanggungjawab kepada umatnya, bangsanya, keluarganya.”

-KH. Imam Zarkasyi-

 

Apa yang saya tuliskan diatas adalah quote yang terdapat di awal bab dari masing-masing judul besar, masih terdapat banyak pesan-pesan, nasehat-nasehat, dan wejangan beliau yang jauh lebih menembus sanubari. Maka bukalah hati benar-benar, kosongkan sikap gelas penuh, agar ilmu baru dari kyai berkah di hidupmu.

 

Judul buku ini Ajaran kiai Gontor. Kata “Ajaran” di sini dipakai penyusun buku ini, untuk menyebut hal yang lebih spesifik, yaitu filosofi, idealisme, tuntunan, serta wejangan tentang kemandirian dan kewiraswastaan yang diajarkan oleh pak Zar.

 


Subscribe Us

Dalam Feed

*PENGALAMAN NYANTRI*

*PENGALAMAN NYANTRI*
Pengalaman Nyantri Menghadirkan Ruang Refleksi Kehidupan, Ketenangan, dan Pemikiran Dari Sudut Pandang Santri Akademisi.