Rabu, 03 Februari 2021

Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Refleksi Hamka atas QS. Luqman 12-19) (Membaca Tesis Part 2)


back to part 1 (click link here)

 Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Refleksi Hamka atas QS. Luqman 12-19)

(Membaca Tesis Part 2)



Judul        : Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Refleksi Hamka atas QS. Luqman 12-19)


Penulis      : Abdullah Sani Ritonga, M.Pd & Radinal Mukhtar Harahap. M.Pd


Penerbit    : Rawda Publishing


Cetakan     : Pertama, Mei 2020


Tebal         : 108 hlm


Harga        : Rp. –

 

 

Buku mungil ini kurang lebih memiliki 100 halaman, ukuran buku proporsional untuk memahami sekilas tentang Buya Hamka dalam satu sub pembahasan khusus.

 

Memang hal yang wajar Ketika membaca tentang HAMKA selalu saja mendapatkan olahan kata baru, yang menjadi informasi tentang beliau, sangat menarik bagi kami, ketika membaca keterangan bahwa HAMKA adalah anak yang dinanti-nantikan ayahnya, besar harapan beliau, Haji Rasul bin Syekh Muhammad Amrullah bin Tuanku Abdullah Saleh, terhadap HAMKA kecil dapat menjadi sosok alim ulama di masa akan datang, yang meneruskan dakwah syiar agama Islam.

 

Secara subjektif kami memandang sungguh, sangat jelas tergambar, bahwa nasab shaleh yang turun temurun itu tarik-menariknya lebih kuat. Sebab ada campur tangan Allah swt disitu, bagaimana tidak baik, jika sedari kecil Allah swt saja telah ridho dengan kelahirannya. Sampai pada saat kami menggaris bawahi bahwa kesholehan itu bisa dimohonkan kepada Allah, agar kelak dapat diturunkan kesolehan turun temurun kepada anak cucu kita semua. Semoga beliau dengan seluruh keluarga besarnya, dan kita semua dimuliakan oleh Allah swt, aamiin ya rabbal’alamiin.

 

Dalam buku ini juga tercatat sekitar 71 judul karya yang berhasil beliau gelontorkan untuk dikonsumsi, baik bagi para budayawan, agamawan, politisi sampai kepada sastrawan. Sungguh sosok yang sangat menginpirasi sampai ke seluruh lini profesi.

 

Mari para pembaca kita langsung menuju ke halaman 15, disana diterangkan dengan begitu tulus, bahwa Tafsir Al-Azhar yang telah Hamka susun adalah hikmah ilahi yang ia terima dari Allah ‘Azza Wajalla.Sembah syukur beliau kepada gusti Allah sang pemberi nikmat kecerdasan dan kepintaran untuk menangkap ayat-ayat kebesaran-Nya.

 

Gambaran sosok ulama tawadu’ yang tahu berbalas budi, baik kepada orang lain, tergambar jelas pada sosok Hamka, sungguh suri tauladan tidak hanya dalam teori namun juga dari praktek, betapa rindunya kami mendengar untaian nasehatmu.

 

Kehebatan beliau yang lainnya, diterangkan sosok Hamka yang dapat melahirkan karya masterpiece nya ini, dibalik musibah yang dialaminya, disaat 2 tahun kurang lebih beliau menjadi tahanan politik, di saat itu juga beliau mengguratkan tinta menuliskan Tafsir Al-Azhar, sampai pun sakit bukan jadi hambatan demi rampungnya karya fenomenal tersebut. Mengapa begitu besar tekadnya untuk merampungkan tafsir tersebut? Tahukah teman-teman sekalian? Jawabannya adalah dalam merampungkannya beliau termotivasi dalam empat hal, diantaranya:

 

·      Pertama, kesadaran bahwa Indonesia adalah negara yang penduduk muslimnya lebih besar jumlahnya dari pendududuk yang lain, sedangkan mereka haus akan bimbingan agama, dan haus hendak mengetahui rahasia Alquran. 


·  Kedua, kesadaran bahwa pertikaian-pertikaian mazhab tidaklah perlu untuk dikembangkan di negara Indonesia.


·      Ketiga, ingin meninggalkan sebuah pusaka yang semoga mempunyai harga untuk ditinggalkan bagi bangsa dan umat muslim Indonesia, dan terakhir


·      Keempat, hendak memenuhi rasa terima kasih beliau atas baiknya ‘husn al-zan’ Al-Azhar dan hutang budi yang mendalam padanya, yang telah memberi beliau penghargaan yang begitu tinggi, yaitu gelar doktor honouris causa.

 

Dari halaman 13 hingga halaman 38 sungguh sangat jelas, penulis menyusun informasi terkait detailnya Tafsir Al-Azhar ini, mulai dari latar belakang peulisan tafsir al-Azhar, metode penafsirannya, sumber-sumber penafsiran, corak penafsiran hingga kepada bentuk penulisannya.

 

Memasuki halaman ke 39 barulah kita memasuki pembahasan tentang Pendidikan. Diberi judul: “Refleksi Pendidikan Hamka”  dalam pembahasan ini terdapat: Pertama, Pengertian Pendidikan Akhlak, Kedua, 5 Tujuan Pendidikan (sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas sebelumya), Ketiga, Metode Pendidikan Akhlak, dapat dengan memakai metode ceramah, demonstrasi, dan keteladanan. Keempat, keterangan sumber-sumber akhlak, dimana sumber pertama adalah dari Allah swt, sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat 14.

 

Selanjutnya sebelum akhir, kami tertegun Ketika sampai pada halaman 67, ternyata kata-kata: “Moral, Budi Pekerti, Etika, Akhlak” memiliki terminologi sendiri-sendiri, tidak dapat disamaratakan. Terdapat hal paling filosofis dalam tataran nilai, sumbernya dan penetapan ukurannya secara lebih spesifik. Sebagai ilustrasi kata “Akhlak” digambarkan adalah sebagai nilai yang bersumber dari wahyu Allah swt yaitu al-Qur’an dan Sunnah. kemudian ukurannya adalah bagaimana ridho Allah swt, jadi ukuran akhlak itu ketentuannya telah baku dari Allah, tidak untuk diperdebatkan dalam ketetapannya. Sangat berbeda dari 3 kata lainnya yang hanya memiliki ukuran baik dan buruk di hadapan manusia. Sedangkan manusia sendiri adalah makhluk yang selalu berubah-ubah pendiriannya. [visual dalam bentuk tabel dapat dibaca pada halaman 67]

 

Saran:

Saran saya sebagai pembaca untuk calon pembaca adalah:

 

“Milikilah buku ini, buku yang dapat dikonsumsi oleh siapa saja dari lapisan masyarakat. Tidak terbatas usia, tua-muda bisa baca dan paham dengan sangat mudah, terlebih lagi jika Anda adalah orang tua, pengasuh pesantren, tenaga pengajar, tenaga pendidik, guru, dosen dan peneliti dalam psikologi, budi pekerti, moral, nilai diri, akhlak, dst.. Anda harus membaca buku ini. Titik.”

 

Pembahasannya singkat, lugas, sangat mudah dipahami.

 

 

Epilog buku ini sangat menusuk, benar yang dikatakan Baginda Rasulullah saw, bahwa: “Ilmu harus terus digali dan dipelajari, tanpa batasan usia, tidak boleh dilupakan apalagi ditinggalkan, agar kita tidak salah langkah dan tersesat dari hidayah dan rahmat cahaya Allah swt.”  Sebuah wasiat agung beliau yang akan kami usahakan untuk menjaga dan mengistiqomahkannya, bi’aunillah, Insya Allah. 

 

Wallau’aalam bisshoab. 

Wassalamu’alaikum wr wb.

 

0 komentar :

Posting Komentar