Selasa, 02 Februari 2021

Membaca Tesis Saudara Abdullah Sani Mengingatkanku Tentang Thawalib (part 1)


 Membaca Tesis Saudara Abdullah Sani Ritonga Mengingatkanku Tentang Thawalib (part 1)

Read by: Irwan Haryono S., S.Fil.I
(Mahasiswa Pascasrjana IAIN Padangsidimpuan)

Assalamu’alaikum wr wb

Kembali merasa sangat terhormat untuk kedua kalinya, mendapatkan kesempatan membaca karya tesis saudara Abdullah Sani Ritonga, sebuah tulisan ilmiah yang telah mengantarkannya memboyong gelas masternya. Kepadanya kami ucapkan selamat, semoga ilmu Anda berkah, dan dimanapun Anda berpijak, kekokohan untuk mempertahankan kebenaran dari pada kebatilan dapat terus Anda tegakkan seraya dilindungi Allah swt, Aamiin ya Rabbal’alamin.

Sebuah tesis yang telah tercetak menjadi buku ini, telah sangat sempurna dengan diisi sambutan dari 2 orang sesepuh pesantren, sosok Dr. K.H. Rasyidin Bina, MA dan sosok Al-Mukarram Al-Ustadz Qosim Nursheha Dzulhadi, Lc., M.Ud. Sebuah sambutan luar biasa mengawali kajian ilmu, menumbuhkan semangat juang, semangat memberi manfaat dan semangat untuk terus berbuat dan berkarya. Terima kasih Al-Ustadz atas kata pengantar yang telah menggetarkan semangat pembacanya.

 


Poin yang ingin saya garis bawahi sebagai pengingat personal, agar kelak mudah bagi kami mencarinya ulang:

·      Menerangkan bahwa STIT-RH merupakan Lembaga Pendidikan yang telah memiliki, tagline khusus, yaitu: “Menuju lahirnya insan yang beradab.” Sungguh PR yang sangat berat yang harus dikerjakan kedepannya; ditengah maraknya sistem teknologi informasi di dunia saat ini yang telah menjamur dimana-mana. Maka tantangan dekadensi moral dan akhlak bukan lagi hanya sekedar teori tapi sudah mewabah, perlu ada edukasi cara baru agar santri/mahasantri dapat memilah-milih guru besar yang patut untuk diikutinya dari jejaring internet dan multimedia .

·      Dalam kata pengantar juga, Al-Ustadz Qosim menerangkan bahwa telah lahir ditengah-tengah bangsa Indonesia yang telah berhasil memberikan pencerahan dibalik ratusan karya fenomenalnya, siapakah beliau? Beliau adalah HAMKA akronim Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981), sosok yang dikenal sebagai sosok ensiklopedik, mempunyai integritas tinggi dalam moral dan keilmuan. 

·      Sosok HAMKA dikenal sebagai ahli dalam banyak bidang ilmu, diantaranya: Tafsir, tasawuf, figh, sejarah, filsafat, dan sastra. 

·      Sesuai dalam kata pengantar Al-Ustadz Qosim, bahwa buku yang pra-cetak ini ingin menarik benang merah antara sosok HAMKA sebagai ilmuan dan HAMKA sebagai Pendidik, sebuah catatan ilmiah yang sangat luar biasa. 

·      Catatan buku ini mengarahkan kajiannya pada tujuan pendidikannya Luqman al-Hakim yaitu penjelasan tentang Tauhid, berbakti kepada orang tua, kesadaran diri akan maut, keutamaan shalat, sabar, sikap hidup selalu tawadhu’ (tidak sombong) dan sosok yang selalu memikirkan setiap apa yang akan dikatakan, dan dikerjakan)

    Mulai memasuki prolog, dalam pikiran kami, seakan memasuki gerbang perbatasan antara kajian dunia yang penuh kefanaan, manuju kajian agama dan akhirat yang penuh tentang kebenaran dan fakta. Semoga kami bisa memahaminya dengan baik.

Mungkin sampai disini dulu tulisan singkatnya. 
Lebih spesifik tentang isi buku monggo lanjut baca di Membaca Tesis Part 2. Click link here.

0 komentar :

Posting Komentar