KETELADANAN KYAI DAN GURU

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

NILAI-NILAI KEDISIPLINAN

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

GAGASAN KEMAJUAN UMAT

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

HIKMAH DAN KEBERKAHAN

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

AKHBAR AHWAL SEPUTAR PESANTREN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Jumat, 18 November 2022

Apa Saja Ujian di Pesantren Selain Ujian Lisan?

 


    Di pesantren ujian itu banyak, bisa kapan saja, di mana saja, dan dalam hal apa saja. Maka pertanyaan apa saja ujian di pesantren selain ujian lisan, mestilah berujung pada penjelasan sangat panjang yang tak ada ujungnya.  Pastinya keberhasilan dari apa saja, ujian selain ujian lisan yang terdapat di pesantren menjadi bekal seorang santri dan santriwati untuk dapat bersikap proporsional pada permasalahan-permasalahan kehidupan, Maka tak heran jebolan pesantren, terlihat tidak gerusah-gerusuh bila melewati permasalahan demi permasalahan, cobaan demi cobaan yang silih berganti. Sebab sebelumnya mereka telah lulus uji.

 

    Untuk menjawab pertanyaan dari soal di atas tentang apa saja ujian di pesantren selain ujian lisan, nampaknya perlu di ‘break down’ ke dalam beberapa contoh. 

 

    Pertama, sebut saja ujian keberanian, di pesantren keberanian selalu diuji dengan beragam metode. Persis seperti ingin mengetes kemampuan dari ketahanan suatu barang, agar supaya mendapatkan standar nasional atau internasional harus lulus uji tes berkali-kali. Nah untuk keberanian, santri juga dilatih agar mampu membangkitkan keberaniannya dan memupuknya agar bisa tumbuh subur, apa medianya? Banyak. Bisa lewat berbicara di depan ratusan teman-temannya, bisa lewat keberanian mereka tampil dalam pidato bahasa asing di depan ribuan santri dan santriwati. Hebatnya lagi, bukan saja berbahasa Indonesia, namun juga bahasa Arab dan Inggris. Bukankah hal ini sudah cukup menyatakan bahwa mereka telah lulus uji dari materi keberanian?


Berorasi di depan umum, mengutarakan ide-idenya, adalah aktifitas luar biasa yang nyaris tidak semua orang miliki,  untuk itu, satu bekal calon pemimpin sudah diboyongnya sekaligus oleh santri pesantren, pertama keberanian kedua kemampuan berorasi berapi-api, berani, lugas, lantang dan tak kenal takut. Inilah yang menjadikan alumni pesantren itu barang langka, di tengah-tengah kebutuhan umat agaknya.

 

    Kedua, ada ujian kesabaran, di saat yang lain sudah mulai bersedia menghadapi ujian lisan, seorang santri masih kebingungan menghafal yang tidak masuk-masuk dari kemarin, maka sabarlah dan teruslah belajar; teman-teman yang lain sudah pada dikunjungi orang tuanya, lah seorang santri masih belum bisa dimudifin juga untuk bulan ini, maka sabarlah. Teman-teman yang lain dapat menghadapi ujian dengan keadaan sehat, beberapa santri lainnya kebetulan sakit, maka sabarlah. Yang lain menjalani pendidikan tanpa memikirkan permasalahan keluarganya, lah beberapa santri harus berbagi pikiran, memikirkan masalah di rumah dan kewajiban belajarnya di pesantren, maka bersabarlah. Di saat yang lain memiliki buku pelajaran yang lengkap, alat tulis yang lengkap, bahkan dilengkapi dengan uang jajan yang cukup, sedangkan setengah dari jumlah santri boro-boro uang jajan, untuk membeli buku pelajaran yang dihilangkannya karena keteledorannya kemarin saja sulit, butuh menunggu pergantian bulan ke bulan depan, mengganti bukunya dengan jatah uang tabungannya di awal bulan depan, maka bersabarlah. Nah ujian kesabarannya banyak bukan? Santri dituntut belajar bersabar sejak dini, dalam dinamika kehidupan 24 jam di pondok, membuatnya harus bertahan dalam kondisi yang tidak semuanya sama. tidak semuanya serupa. 


    Do'a dan harapannya pun, mudah-mudahan setumbuhnya ia menjadi remaja nanti, dewasanya nanti, dapat menjadi sosok bijaksana yang arif dan sabar saat menghadapi masalah dan memutuskan putusan. Bukan sesuka hati mengikuti hawa nafsunya, tapi dengan pertimbangan maslahah dan solusi berlandaskan kitab suci dan hadist nabi.

 

    Kiranya ujian keberanian dan kesabaran cukup untuk contoh singkat, menerangkan bahwa ujian di pondok pesantren itu banyak. Untuk itu proses diujinya seorang pesera didik, oleh penyelenggara pendidikan adalah bagian dari sempurnanya pendidikan itu sendiri. 

 

Kebetulan ada artikel berkaitan dengan hal ini, monggo dibaca di sini: 

Kenaikan Kelas Santri; Proses Pendidikan Lanjutan.

 

    Ujian di pesantren bersifat spesial dan sakral dengan memiliki 2 dimensi arti, yaitu dalam arti ujian ruhani dan dalam arti ujian jasadi. Dalam arti ruhani ujian berbentuk abstrak dikendalikan sepenuhnya oleh niat, hati dan pola pikir. Sedang dalam ujian jasadi itu sendiri ada 2 yaitu: Resmi atau tidak resmi. Dan yang resmi itu dipisahkan dalam dua, yaitu ujian lisan dan ujian tulisan. Sedangkan yang tidak resmi ada banyak, beragam, bahkan kehidupan seluruh santri dan santriwati selama tinggal di pesantren, itu sendiri adalah ujian yang tidak resmi yang diuji setiap saat tanpa sadar mereka. Telah diuji berkali-kali.

 

    Agak njelimet ya kayaknya, tapi kalau dibaca pelan-pelan, dan dicoba memvisualisasikannya, maka akan terlihat jelas susunan strukturnya In Sya Allah.

 

    Jika boleh menyimpulkan maka apa saja ujian di pesantren selain ujian lisan ‘syafahi’ itu? Ada banyak. Di antaranya ujian kesabaran, ujian keberanian, ujian ketangkasan, ujian kemandirian, ujian keuletan, ujian ketaatan, ujian keistiqomahan, ujian ke… dan ujian ke… yang lainnya, masih sangat panjang jika diurutkan lebih mendalam.


    Di akhir kata, ada ungkapan menarik yang sering orang-orang bilang, setiap kali mereka usai mengunjungi pesantren “Jika pernah sekali meneguk air dari pesantren, ada rasa dahaga yang tidak terlepas hingga membawanya untuk kembali meminum air pesantren itu lagi dan lagi.” Apakah itu ujian bagi mereka? Atau itu malah keberkahan dari Allah untuk mereka? Mereka kecipratan rasa rindu untuk datang lagi. ujiankah itu atau berkah kah itu? Wallahu a'alam.

 


    Semoga para pembaca terhibur dengan catatan singkat ini.

 

    Terima kasih banyak-banyak, kepada seluruh pembaca yang berbaik hati membaca hingga akhir tulisan ini. 

 

    Salam hangat dari blogger yang masih terus belajar ini. 

    Salam cinta menulis, salam ikhlas untuk berbagi.

 

Catatan ke-13 Tentang Pesantren

Oleh: Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I., M.Pd (IHS)

Medan, Jum'at, 18 November 2022, 11.45 wib 



Sabtu, 12 November 2022

Apa Itu Ujian Lisan di Pesantren?

  

  Ujian adalah satu kata yang memiliki beribu makna. Ujian bisa bermakna motivasi, bisa bermakna hukuman, bisa jadi tiket liburan, bisa jadi nikmat, bisa jadi azab, semua tergantung bagaimana yang sedang diuji berpandangan.

 

Dari sekian banyak makna di atas, lantas apa itu ujian di pesantren? 

Apa pula itu ujian lisan di pesantren?

 

    Untuk kali pertama, kita coba untuk menguraikan jawaban dari pertanyaan pertama. Ujian di pesantren memiliki makna yang sangat spesial, ujian adalah cara membaca barometer kemampuan belajar seseorang, setelah ujian di akhir akan dilihat hasilnya, dan hasil inilah yang bisa ditindaklanjuti untuk dievaluasi. “Bil imtihaani yukromul mar'u au yuhanu.” Dengan demikian makna bebasnya adalah dengan ujian membuat seseorang dihormati atau dijengkali.

 

    Untuk itu, ujian di pesantren secara prinsipil adalah bagaimana seseorang bisa konsisten belajar dan siap untuk mengevaluasi diri sendiri dalam setiap aktivitas yang telah dilakukannya secara simultan, untuk mencapai derajat "yukromu" bukan "yuhanu".


    Sedangkan untuk santri dan santriwati, makna ujian di pesantren adalah proses membaca peta langkah kedewasaan dan kemajuan intelektual mereka. Dari sisi muatan materi pendewasaan lebih padat dari anak seusianya di luar dari lembaga pondok. Faktanya di samping belajar tentang ilmu pengetahuan baru, juga belajar mengevaluasi adabnya, disela-sela itu mental dan karakter kemandirian juga dilatih agar semakin kokoh. Fenomenanya pagi mereka bisa betah di pesantren, siang masih tertawa dan bercanda tawa dengan teman-temannya, sore asik olah raga, maghrib tiba-tiba kangen rumah, dan malam menelpon orang tua bilang tidak betah, dan ingin pulang. Itulah kira-kira ujian di pesantren bagi santri maupun santriwati. Dinamika perubahan emosional yang cepat, sering menguji mereka sebelum waktu ujian resmi itu sendiri dimulai.


Ada juga artikel saya tentang ujian, kiranya para pembaca ingin membacanya, boleh klik link berikut:

Jajal Awakmu; Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian.

 

Apa itu ujian lisan di pesantren?

 

    Ujian lisan di pesantren adalah kemampuan seorang anak mempertahankan seluruh kemampuan intelektual dan mental beraninya di depan gurunya. Sedangkan bagi guru ujian lisan adalah ujian keikhlasan guru mengecek kemampuan anak didiknya secara verbal, harapannya guru tahu sampai mana kesiapan anak didik untuk menghadapi ujian tulis dan juga tahu sampai di mana letak kekurangan anak didiknya sebagai bahan evaluasi ke depannya. Dari proses ujian lisan ini, dengan serta merta anak yang diuji akan mendapatkan hasil evaluasi dari gurunya, terkhusus dari wali kelasnya. Untuk selanjutnya perubahan arah lebih baiklah yang dicita-citakan.

Menurut guruku, Ust. Zulfikri, dalam orasi ilmiahnya dihadapan seluruh guru-guru, memamparkan tentang ujian lisan, ada banyak titik penting yang disodorkannya, ringan-ringan pembahasannya, tapi perlu banyak penekanan, sebab karena ringan terkadang bisa begitu cepat terbang dibawa angin, jadi perlu ada penekanan agar yang mau terbang, kembali terpatri di atas permukaan Bumi. Syukur-syukur masuk di akal, terngiang di telinga, dan tertanam dalam hati nurani. 

    Ungkap beliau bahwa: "Ujian lisan bagi santri itu adalah cara santri mengekspresikan keilmuan, skill dan pola komunikasinya, diharapkan dalam aktivitas ini pendidikan mental ini dapat dijadikan bekal awal menghadapi orang lain dalam ujian serupa seperti ini nantinya. Selain dari pada itu, ujian lisan di pesantren juga sebagai gambaran perkiraan bentuk-bentuk soal yang akan diujikan ketika ujian ‘tahriri’ (ujian tulis) nantinya."

 

    Lain bagi santri lain juga bagi guru, sedang ujian lisan di pesantren bagi para guru adalah "Bagaimana sikap guru dalam menjaga wibawa ujian masih tetap terjaga, kemampuan guru menahan kesabaran ketika menghadapi keadaan santri yang beraneka ragam, jika pintar anaknya. 'Alhamdulillah' ucap guru sambil bersyukur dalam hatinya. Jika agak lambat anaknya, "ya Allah mudahkanlah anakku ini memahami pelajarannya, lembutkanlah hatinya untuk konsisten belajar, dan kuatkanlah ingatannya dalam menghafal pelajaran, semoga Allah meridhoi setiap langkah perjuangannya." seyogyanya do’a guru untuk murid dalam hatinya."

 

    Tergambar jelas masa-masa ketika melihat anak yang begitu awal masuk ruang ujian dan  sudah "style silent" (diam tanpa sepatah katapun selain hanya senyum), gurupun harus lebih banyak berujar, bertanya, berpetuah bijak, berikhlas ria, berbicara tanpa ada balasan kata, beretorika mesti pada akhirnya tak mengerti apakah anak memahami soalnya atau tidak, tapi anggukan dan senyuman positifnya cukup untuk meyakini bahwa dia paham.

Bisa baca juga artikel lainnya: Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

 

    Dari celotehan ini, kiranya pertanyaan apa itu ujian lisan di pesantren, bisa terjawab dengan baik, jika belum terjawab juga, nampaknya bisa sambil minum 2 "Raudhah Water Cup" dengan 3 kue mika, bisa menjadikan diskusi tentang ini bertahan 3 jam ke depan. :) 

 

Terima kasih buat para pembaca yang berbaik hati membaca hingga akhir tulisan ini. 

 

Salam hangat dari penguji yang menguji lisan dari awal sendiri sampai akhir. 

Tapi tidak kesepian karena peserta ujian yang datang silih berganti, memberikan nuansa keseruan sendiri.


***

Catatan Apa Itu Ujian Lisan di Pesantren?

Oleh: Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I., M.Pd

Sabtu, 12 November 2022


Jumat, 11 November 2022

Tere Liye Membongkar Rahasia Menulisnya; Santri Merangkumkannya.

 


 

Jika menulis mengejar harta, mengejar kaya apakah boleh? Boleh saja mengapa tidak. Jika menulis mengejar terkenal, apakah boleh? Boleh saja mengapa tidak. Namun saya tidak yakin kalian akan memiliki amunisi yang cukup banyak untuk bisa tetap konsisten menulis jika motivasinya itu.

 

Ada sebuah analogi menarik, Bang Tere menceritakan kisah seekor pipit, penyu dan sebuah pohon kelapa, hidup di permukiman kecil di pinggir pantai parangtritis, begitulah kira-kira; singkat cerita, perhari itu mereka berpisah dalam kurun waktu cukup lama, setelah 3 tahun mereka bertemu lagi di tempat yang sama, maka berceritalah masing-masing dari mereka.

 

Si pipit bercerita aku sudah terbang ke sana ke sini, dan dari atas ku perhatikan seluruh keindahan alam di atas bumi, ada Gedung-gedung pencakar langit, hijaunya hutan, lautan, sungai dan keindahan dunia yang lainnya dapat ku saksikan dari atas. Waw cerita yang sangat menarik. (ucap penyu dan pohon kelapa sambil mendengarkan). Selanjutnya kedua, Penyupun bercerita yang sama, dia menceritakan keindahan dasar laut, keindahan lautan berbeda selat, ternyata lautan lebih luas dari daratan, ternyata lautan berbeda suhu dinginnya di setiap musim, dia pernah mendapati musim panas, musim semi, musim dingin sekalipun, seluruhnya sangat luar biasa. (semua yang mendengarkan ceritanya pun terkagum). Dan terakhir pohon kelapa ditanya kemana saja 3 tahun terakhir, maka jawabannya tidak ada, dia hanya disitu saja. 

 

Disini letak keadilan itu ada. Mengapa adil? Karena pohon kelapa yang tidak kemana-mana itu; qodarullah memiliki buah yang luar biasa lebat, begitu matang sudah saatnya dipanen dia jatuh, di bibir pantai, lambat laun terbawa ombak, terdampar di tengah lautan dan berhenti di daratan China, Afrika, Hindia, Jepang, Kanada, Australia, Inggris, bisa jadi kelapa yang tumbuh di sana adalah berasal dari kelapa tua di sini. (sambut penyu dan pipit saat melihat pepohonan ketika mereka mengelilingi dunia).

Dari kisah singkat di atas, yang ingin digarisbawahi adalah adanya sudut pandang yang berbeda dari sisi penulis, seyogyanya berfikir layaknya sudut pandang pohon kelapa. Bahwa walaupun tidak kemana-mana, namun karyanya bisa kemana-mana. Walaupun dia tidak dapat hadir di banyak tempat, tapi karyanya dapat merubah banyak orang. Cukup dengan memberikan inspirasi, dapat menjadikan kita lebih berarti di mata orang lain. Maka perlu ditanamkan pemahaman bahwa menjadi penulis itu pada hakikatnya adalah aktifitas mencemplungkan 1 (satu) demi satu buah kebaikan. Dan semoga kebaikan itu bisa dibawa dan disebar luas sebagaimana kelapa dibawa ombak berkeliling dunia.

 

Begitulah kira-kira keterangan Bang Tere Liye yang dia sampaikan dalam rekaman youtube dengan chanel bijak tv yang barusan saja saya tonton, dengan judul: Tere Liye II Motivasi Tere Liye Menulis II Bijak TV berikut linknya, slilahkan diklik: Tere Liye Membongkar Rahasia Menulisnya.


Selain itu ada juga tulisan saya yang mungkin bisa teman-teman kunjungi di link berikut: Saatnya Menulis Sekarang! Bukan Besok Tapi Sekarang. 


Atau bisa juga mengunjungi link tulisan saya selanjutnya yang berjudul: Tulislah Buku yang Kamu Sendiri Suka Membacanya.  Inspirasi dari buku mas Ahmad Rifa'i Rif'an. 


Sampai di sini, sejenak saya tertegun dan terdiam, rasa-rasanya, cukup kisah dan penutup tadi menjadi akhir dari tulisan ini. Terima kasih bang Tere sudah berbagi dan menginspirasi. Jazakumullah khoir.