KETELADANAN KYAI DAN GURU

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

NILAI-NILAI KEDISIPLINAN

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

GAGASAN KEMAJUAN UMAT

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

HIKMAH DAN KEBERKAHAN

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

AKHBAR AHWAL SEPUTAR PESANTREN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Minggu, 25 September 2022

“Perfect” Kata Ideal yang Tidak Ideal Dalam Pendidikan Pesantren

Dunia dan Manusia 

Sebagaimana halnya dunia yang memiliki banyak fungsi, manusia juga demikian. Dunia pada satu waktu menjadi tempat bernaung manusia, di waktu lain juga sebagai  tempat ekosistem alam berlangsung, di lain posisi juga sebagai satu buah planet dalam tatasurya yang memiliki tanggungjawab tertentu; satu waktu menjadi dunianya manusia, satu waktu menjadi tempat tinggal semua makhluk yang ada di dalamnya, baik itu hewan ataupun tumbuh-tumbuhan yang terus tumbuh dan makhluk yang lain yang juga berkembang terus melewati perubahan zaman. 

 

Manusia juga demikian, memiliki multi fungsi. Pada satu posisi dia sebagai seorang hamba, dia sebagai khalifah di keluarga, dia sebagai orang tua bagi anak-anaknya, dia sebagai anggota atau ketua dalam tempat kerja, atau dia sebagai guru bagi anak didiknya, atau bahkan dia menjadi sosok kyai dari pondoknya;  dari hal-hal tersebut, cukup untuk mengatakan bahwasannya hidup dan bertumbuh adalah pilihan terbaik dalam menghadapi ragam posisi manusia itu sendiri.


Andakah Manusia Perfect Itu?

 

Beralih kepada manusia, akankah manusia bisa perfect di dalam semua bidang yang dia lakukan? Bisakah ia maksimal dalam semua fitrah yang dia miliki sebagai seorang makhluk? Sebab fakta yang sering terjadi di lapangan. Jika seseorang sangat konsen di tempat kerjanya, maka keluarga akan tertinggal. Jika fokus mengurus keluarga, pekerjaan akan terkesampingkan. Jika lebih intens pada profesi bisa jadi pekerjaan dan keluarga terbengkalai di waktu yang bersamaan. Semuanya tidak bisa maksimal, maka bagaimana caranya? Caranya adalah selesaikanlah satu persatu, hingga tuntas satu persatu. 

 

Apapun yang dilakukan seseorang, tidak mesti perfect di awal, sebagai contoh dalam menulis buku, tidak mesti harus sempurna baru diterbitkan, akan tetapi cukup setelah penulis merasa naskahnya sudah cukup untuk diterbitkan, maka berusalah untuk menerbitkannya. Setelah semuanya selesai, baru masuk fase kedua, merevisi yang sudah diselesaikan di awal tadi. 

 

Bagi Anda yang perfectsionis, selalu berfikir tentang kesempurnaan, tidak ingin melakukan kecuali nilainya sempurna tanpa cacat, menurut kaca mata pribadi penulis, sesekali jangan terbebani dengan pola kerja seperti ini, sebab inilah solusi agar Anda bisa adil dalam setiap bidang yang membutuhkan posisi Anda ada disana. Jika dibutuhkan menjadi seorang ayah, Anda bisa memberikan waktu untuk keluarga. Jika dijadikan sosok guru Anda dapat hadir di depan santri sebagai seorang guru. Ketika diminta pulang kampung, Anda bisa pulang kampung mengunjungi orang tua Anda. Sehingga pada akhirnya tentang perfect adalah tentang bagaimana upaya ekstra Anda, untuk melanjutkan perjuangan secara bertahap dan konsisten (Istiqomah), bukan tentang perfect atau tidak perfect itu sendiri.

 


Poin Pentingnya

 

Pada akhirnya jika manusia dalam hal ini pemimpin, berjalan dengan mengikuti ritme kewajibannya yang lebih diutamakan, lalu mengerjakan yang sunnah, kemudian menuntaskan yang mubah, maka tidak akan ada rasa gundah, dalam hatinya, sebab secara fitrah, hati kecil Anda mampu membedakan bagaimana bobot kerja yang harus diletakkan pada posisi  kewajiban, sunnah dan mubah. Jangan membohongi diri Anda sendiri lagi. Cukup katakan: "Ya Saya sadar, dan kini Saya insaf dan ingin memperbaikinya lagi."

 

Perfect adalah kata Ideal yang tidak ideal bagi pesantren. Sebab inti dari bekerja adalah pergerakan yang terus simultan dan tak pernah henti. Dalam bekerja, cobalah hal baru, terus berekplorasi, kolaborasi dan tetap saling berdiskusi; jangan takut untuk berbuat, tidak mesti perfect, tapi harus istiqomah dan tuntas. 

 

Keistiqomahan dengan sendirinya akan mengenalkan siapa sosokmu, bidangmu dan fokusmu. Lebih jauh, masyarakat akan mengenal kepribadianmu. Sedangkan kerja tuntas adalah akhir yang harus dikerjakan, sebab tidak ada amalan yang baik tanpa penuntasan. 

 

“…. Walakin Saddidu, bukan Syaddidu! Bi syin,” tetapi tepat-tepatkanlah. Apa itu tepat-tepatkanlah, di sinilah ada beberapa penafsiran yaitu menepatkan niat kita lillah, menetapkan bahwa apa saja yang kita kerjakan lillah, di sinilah letak arti istiqomah. Ujar KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA dalam Bekal Untuk Pemimpin Pengalaman Memimpin Gontor.

 

Maka bagi siapapun yang beristiqomah, sesungguhnya tidak ada kekhawatiran dan ketakutan dalam menghadapi hidup ini, karena Allah swt telah memberikan kabar gembira dengan surga yang dijanjikan.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian meraka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjiakan Allah kepadamu” (QS. Fussilat: 30)

 

Wallahua’lam.

 

Sumber Inspirasi Dari:

Abdullah Syukri Zarkasyi, Bekal Untuk Pemimpin Pengalaman Memimpin Gontor, Kedua (Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jatim: Trimurti Press, 2011).

Jumat, 23 September 2022

Jajal Awakmu; Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Ada dua kata ampuh dalam dunia pendidikan yang mesti dimaknai dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh salah pengertian yaitu memaknai arti ujian dan belajar. Jika ujian dimaknai sebagai akhir dari proses belajar, maka setelah ujian tidak ada belajar lagi, namun jika ujian dimaknai sebagai proses yang terdapat di dalam prosesi belajar, maka ujian itu tidak memberikan efek selain mengetahui batas kemampuan, tahu atas kadar diri, agar kelak bisa evaluasi mandiri, untuk itu mesti benar pemahamannya dulu, barulah ujian bisa menjadi hasil yang mampu bergerak menggerakkan, berjalan menjalankan, berkiprah memberikan pencerahan.

 

Ada hal menarik dibalik kata ujian ini, salah satunya adalah semangat mengetahui kemampuan diri, dan proses belajar yang tak henti, dalam istilah pondok pesantren modern sering didengungkan dalam 2 ucapan sakral, yang hadir sebagai dzikir. “Jajal awakmu” dan “ping sewu”. Sebuah falsafah esensial yang memiliki arti mendalam, terutama bagi seluruh civitas akademik, baik ia sebagai murid, santri, santriwati, mahasiswa, mahasantri, mahasantriwati, karyawan, guru, dosen bahkan kyainya pun sendiri, tetap harus mempraktekkan dua kata istimewa ini. Sebab dengan kalimat sederhana ini pondok pesantren mampu menjadi sumber inspirasi dalam dinamika kehidupan pesantren. Ibaratkan sedang mengisi teka-teki silang, dua kalimat inilah jawaban yang benar-benar bisa mengisi kolom yang kosong, dua kolom yang menjadi penyempurna untuk menjawab seluruh teka-teki yang disajikan. 

 

“Jajal awakmu” adalah istilah jawa yang berarti ujilah dirimu, cobalah dirimu, tekan dirimu, beranilah mencoba hal baru, jangan takut melakukan hal baru untuk berkiprah di masa depan, dengan segala daya dan upayamu. Begitulah jika diartikan secara bebas, mudah-mudahan tidak menghilangkan esensinya. Efek dari kata sederhana ini, akan timbul semangat dalam diri yang mampu menjadi sumber pergerakan. Ketika dihadapkan pada berbagai macam bentuk ujian, mantranya “jajal awakmu” sehingga seketika menjadi berani mencoba. Untuk persoalan hasil adalah buah dari proses, dan itu tidak jadi masalah, karena biasanya proses yang baik tidak akan jauh dari hasil yang menggembirakan. Setiap kali datang kesempatan dan peluang baru, dzikirnya dalam hati “jajal awakmu”,  akan timbul semangat menggebu, bahwa kamu mampu dan kamu bisa mencobanya. Jika telah demikian, tidak ada yang terlewatkan selain semuanya siap untuk dicoba.

 

“Ping sewu” istilah jawa yang ini berarti hingga 1000 kali, menerangkan bahwa jika diri telah berani mencoba sesuatu, maka melakukannya harus dengan sungguh-sungguh. Jika belum membuahkan hasil, maka langkah berikutnya adalah cobalah hingga “ping sewu” coba hingga 1000 kali, biasanya segala sesuatu kalau semangatnya sudah semangat 1000, maka sebelum angka 999 apapun itu, sudah menghasilkan buah yang manis yang dapat dinikmati rasanya. Semangat ping sewu ini manifestasi dari sebuah ideologi sebuah pergerakan, dan komitmen perjuangan serta konsistensi dalam menuju sebuah tujuan, yang keseluruhannya tidak dapat berjalan jika tanpa kesungguhan yang matang. Maka cobalah terus “ping sewu” seribu kali.

 

Sejatinya jika manusia masih hidup, maka ujian dan belajar adalah dua kalimat yang takkan terpisahkan seumur hidupnya, seorang profesor sekalipun masih tetap harus belajar bagaimana menciptakan profesor-profesor yang lainnya; seorang rektor terus belajar bagaimana menggerakkan kampus, mengupgrade para dosen hingga belajar dan berpikir bagaimana cara mengisi kekosongan akal dan inteligensi mahasiswanya agar bisa tumbuh dan berkembang menjadi “agent of change”; seorang kyai memikirkan dan terus belajar bagaimana mengembangkan pondok dan santri/santriwatinya; orang tua yang telah berada di puncak derajat manusia istimewa di hadapan Allah swt, tetap juga harus belajar bagaimana mengetahui pribadi anaknya, belajar bagaimana mengatasi prilaku anaknya, belajar bagaimana memahami pola pikir dan tindakan anaknya, kadang kala orang tua diuji lewat kelakuan anak yang meminta perhatian, diuji lewat perilaku anak nakal yang tidak terprediksi sama sekali, bahkan kadang juga orang tua diuji untuk bisa menjadi uswah bagi anaknya yang notabene telah tumbuh menjadi pribadi baik, konsisten, suka membantu, rajin beribadah, dan kuat agamanya, kesemuannya tidak terlepas dari belajar dan ujian.

 

Jajal awakmu; ujian untuk belajar bukan belajar untuk ujian. Dicoba ping sewu, di kerjakan ping sewu, disosialisasikan ping sewu, diistiqomahkan ping sewu, diserukan ping sewu, untuk selanjutnya bertawakkallah, biarkan rahmat Allah yang akan menolongmu di dunia dan akhirat. Tidak ada tujuan kita selain “Jannah”.


*Sumber Inspirasi dari:

Ahmad Suharto, Senarai Kearifan Gontory Kata Bijak Para Perintis dan Masyayikh Gontor, 1 ed. (Yogyakarta: YPPWP Guru Muslich, 2016).

Kamis, 22 September 2022

Wajah Pendidikan Pesantren


 

Sebagaimana layaknya wajah, yang selalu terlihat di awal, dan diperlihatkan di depan. Maka seperti itu jugalah pendidikan pesantren. Selalu pendidikan yang dijadikan nilai jual bagi bangsa lain, seraya menjadi pembeda dari lembaga lain; sehingga diupayakan pendidikan pesantren ini, mampu menjadi pendidikan terbaik dalam membentuk generasi yang siap terjun dan berkiprah di masyarakat, agama, bangsa dan negaranya.

 

Meletakkan pendidikan sebagai wajah bagi pesantren, sama halnya menjadikannya pilar terbagunnya pesantren, baik dari sisi internal maupun kepercayaan eksternal. Di sini penulis merangkum wajah pendidikan pesantren ke dalam enam wajah esensial, yaitu: Pendidikan keikhlasan, pendidikan kesederhanaan, pendidikan kemandirian, pendidikan ukhuwah Islamiyah, pendidikan kebebasan dan pendidikan leadership.

 

Pendidikan keikhlasan, ialah pendidikan akan jiwa keikhlasan seseorang. Kyai ikhlas mendidik santrinya, dan santrinya ikhlas untuk taat pada kyainya, sehingga miliu yang tercipta adalah saling percaya, saling yakin dan saling dukung demi satu tujuan perjuangan dan pengorbanan lillah. Tanpa pendidikan keikhlasan jiwa besar untuk berbuat tanpa harap balasanpun tak akan pernah tercipta. Harapannya pola pendidikan Ikhlas ini dapat berjalan dan menjalankan sebuah tatanan pendidikan dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, bahkan proses tidurpun adalah bagian dari pendidikan keikhlasan itu sendiri. Pola hidup di dalamnya lebih dituntut untuk memberi, bersedekah, mendahulukan kewajiban dari pada menuntut hak-haknya. Maka niat berkorban dan berjuang untuk pesantren, agama, bangsa, dan negara karena Allah swt ialah hakikat kehidupan sesungguhnya.

 

Pendidikan kesederhanaan, ialah pendidikan cara hidup sederhana yang diciptakan pesantren dalam mendidik santrinya syarat akan nilai dan suasana kesederhanaan. Sederhana bukan berarti tidak mampu, miskin, melarat, papa dan tak berdaya. Justru ketika mampu untuk hidup mewah namun tetap memilih untuk sederhana ialah sebesar-besarnya jiwa orang yang bijaksana. Sebab jiwa kesederhanaan itulah yang kelak mudah diisi dengan nilai-nilai yang luhur, kekuatan jiwa, kesanggupan fisik, ketabahan hati dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Sebab di balik pola pendidikan inilah muncul sosok yang sederhana dalam penampilan namun besar jiwanya, sederhana dalam ucapan tapi konsisten dalam amalannya, sederhana dalam pola keseharian tapi sungguh-sungguh dalam perjuangannya. Semoga pedidikan ini bisa diterapkan bagi kita bersama.

 

Pendidikan kemandirian. Adalah pendidikan yang mengarah pada pendidikan mentalitas mandiri, di mana santri dan santriwati diharuskan mampu mengurus urusannya sendiri, tidak bergantung oleh siapapun dalam melakukan kewajiban dan kegiatan yang memang haus ia lakukan sendiri. Mental kemandirian ini akan membentuknya agar tidak selalu bergantung kepada orang lain. Nuraninya meyakini cukuplah Allah sebagai tempat berkeluh kesah, cukuplah Allah sebagai tempat kembali, dalam sujud panjang di atas sajadah setiap malam-malamnya.

 

Pendidikan ukhuwah islamiyah. Adalah pendidikan seni dalam merasa, dari pendidikan ini diharapkan santri dapat merasakan kesulitan temannya, sehingga dapat dibantunya. Dari pendidikan ukhuwah Islamiyah ini, secara spontan yang mampu akan membantu yang tidak mampu, yang tahu akan memberi tahu yang tidak tahu, tanpa sekalipun terucap kata meminta, sebab begitulah ukhuwah Islamiyah, mampu merasa sebelum keluh kesah terucap dalam kata dari saudaranya. Harapannya pendidikan ini, dapat terus tertanam bahkan terhujam di sanubari hingga akhir hayat santri.

 

 

Pendidikan kebebasan. Bukanlah mendidik secara bebas tanpa terarah, akan tetapi proses pendidikan kebebasan tanpa menghilangkan hal yang prinsipil sebagai seorang muslim dan mukmin. Sehingga hasil dari pola pendidikan kebebasan ini adalah bertindak sesuai petunjuk ilahi (hidayatullah). Pendidikan ini juga ditanamkan setelah seorang santri dan santriwati memiliki budi yang tinggi atau budi yang luhur nan agung, dan setelah ia berpengetahuan luas pastinya.

 

Pendidikan leadership, adalah proses pendidikan intensif dalam menyiapkan pemimpin masa depan, sebab calon pemimpin masa depan harus mampu menghadapi seluruh persoalan yang dihadapinya, dan anggotanya, baik itu materil maupun non materil. Dari dua persoalan ini, persoalan non materil itu adalah ujian yang benar-benar terasa berat, sebab harus berhadapan pada pola pikir, sikap dan prilaku manusia dalam beragam macam bentuk polanya. Untuk itu dibutuhkan pendidikan leadership yang akan memperkuat daya dorong, daya tahan, daya suai dan daya kreatif pemimpin.

 

Demikian catatan singkat, tentang enam wajah pendidikan pesantren, kiranya dapat sedikit memberikan insight baru bagi teman-teman pembaca. 

 

Terima kasih karena telah membaca hingga baris terakhir ini.

 

 

 

*Sumber Inspirasi dari: 

 

Abdullah Syukri Zarkasyi, Bekal Untuk Pemimpin Pengalaman Memimpin Gontor, Kedua (Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jatim: Trimurti Press, 2011).

 

Nur Hadi Ihsan, Muhammad Akrimul Hakim, dan Ahmad Hasan Al-Banna, Profil Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur Indonesia, Kedua (Ponorogo, Jawa Timur: Darussalam Press Pondok Modern Darussalam Gontor, 2006).

 

 

Senin, 19 September 2022

4 Olahan Prioritas Pesantren Membentuk Value Santri Terbaik.

 

Ada banyak tujuan orang tua memasukkan anaknya ke pesantren. Ada sekian banyak keinginan, harapan, impian, dan cita-cita luhur yang masing-masing mungkin berekspektasi lebih besar dari fakta sebenarnya. Berharap anaknya menjadi pribadi yang baik, berharap anaknya menjadi sosok tokoh yang memiliki banyak ilmu, bahkan menjadi ilmuan dan ulama yang keduanya saling bersinergi dalam satu kesatuan yang terkumpul dari anak yang telah dimasukkan di dalamnya, begitulah kira-kira harapan orang tua, berharap terbaik untuk gerasi penyambung nama dari keturuanannya yang baik.

 

Meyikapi dari harapan dan impian ini, pesantren memetakan pembentukan karakter santrinya dalam 4 kategori olahan dasar, yaitu olah dzkir, olah pikir, olah raga, olah rasa. Masing-masing memiliki goalnya tersendiri.

 

Olah Dzikir, adalah kemampuan santri dalam mengolah hati dan jiwa terus diasah untuk semakin peka dan kuat berkeyakinan. Peka berguna baginya untuk menimbang rasa, telah jauhnya hati dari siraman rohani, saatnya kembali, kemudian bersiap membersihkan diri dan pikiran agar terus dapat menjadi pribadi yang terbesersihkan setiap harinya. Adapun kuat berkeyakinan menjadikannya pribadi yang tak lekang oleh waktu dan zaman, namanya ibadah, tetap harus ditegakkan, sebab itu adalah wujud dari keshalehan seorang hamba pada tuhannya.

 

 


Olah Pikir, jika akal pikiran adalah menjadi panduan kecerdasan. Maka santri memiliki aktifitas akal yang cenderung terstimulus lebih sering setiap harinya. Pagi seusai shalat subuh pemberian kosa kata bahasa asing (Arab-Inggris) dengan suara lantang menghilangkan kantuk yang melanda, sebagai wujud semangat ‘man jadda waja’ di pagi hari. Sebuah aktifitas semangat yang tak akan di dapat di manapun selain di pondok pesantren.

 

Olah Raga, jika Kesehatan tubuh selalu diberitakan dengan harus makan teratur, tidur teratur, olah raga rutin dan cakupan gizi yang teratur, maka santri pesantren telah melakukan itu jauh sebelum himbauan itu ada. Hidupnya telah teratur, terjadwal dalam 24 jam, olah raga tidak usah ditanya, belum datang waktu olah raga terjadwal saja mereka sudah olah raga. Tak heran karena keaktifannya, para santri memperagakan permainan badminton di kelas ketika jam istirahat, memisalkan pertandingan tenis meja di atas meja yang ditumpuk rata, bahkan permainan takraw juga di pertontonkan di ruang kelas sebagai wujud sejat jasmani yang nyata.

 

 

Olah Rasa adalah terkait tentang seni dan olah hati, jika berbicara seni, ada banyak hal yang dapat dinikmati dari sisi tersembunyi dari para santri, seni kaligrafi, seni lukisan, seni panggung aktraktif, seni bela diri, seni lompat indah, seni senam, yang dari kesemuaan seni tersebut melahirkan banyak varian keajaiban. Dari seni mereka berdakwah, menampilkan karya memukau untuk bisa dinikmati jiwa, sehingga konstribusi dari olah rasa telah memperkaya sudut pandang bahwa seni adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri santri.

 

Maka empat olahan prioritas pesantren di atas, diharapkan mampu membentuk value santri terbaik. Dengan label santri sholeh karena olah dzikir, santri cerdas karena olah pikir, santri sehat karena olah raga, santri kreaktif karena seni, pada akhirnya karena Allah swt lah santri menjadi pribadi terbaik dengan nilai yang ditanamkan pada dirinya.

 

Senin, 19 September 2022

 

Sabtu, 17 September 2022

Value Pesantren


 


Pesantren Values sengaja kami pilih menjadi judul blog ini, bertujuan memberikan informasi seputar values (nilai-nilai) kehidupan yang ditanamkan pada lembaga pendidikan pesantren kepada santrinya.

 

Salah satu yang sangat ditekankan pada santrinya adalah aktivitas membaca dan menulis; agaknya terinspirasi dari isi kandungan QS. Al-'Alaq dan QS. Al-Qalam. Keduanya memiliki tafsiran menarik, sehingga mengispirasi kami untuk menggali lebih dalam lagi terkait nilai dari setiap aktifitas yang dilaksanakan santri di dalam pesantrennya.

 

Kembali lagi kepada kata membaca dan menulis. Bagi kami upaya untuk membaca tidak sebatas membaca saja, tapi membaca hingga mendapatkan hikmah dan upaya menulis tidak sekedar menulis saja, tapi menulis hingga meninggalkan jariah hasanah.

 

Akhir kata, besar harapan kami, setiap dari catatan kami bermanfaat, dan mengispirasi teman-teman pembaca.

 

Terima kasih semua.

 

Sabtu, 17 September 2022