KETELADANAN KYAI DAN GURU

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

NILAI-NILAI KEDISIPLINAN

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

GAGASAN KEMAJUAN UMAT

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

HIKMAH DAN KEBERKAHAN

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

AKHBAR AHWAL SEPUTAR PESANTREN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Senin, 21 November 2016

Resep Ajaib Menulis Novel

Kiranya boleh saya katakan bahwa dalam setiap karya tulis memang selalu ada perbedaan aliran, gaya penulisan,  bahasa serta daftar isinya dan lain sebagainya. Lain dari pada itu selalu ada satu hal yang menjadi kekhasan antara satu buku dengan buku yang lain. Maka jangan takut rugi untuk membaca buku ini, atau buku apapun itu, karena walaupun inti pembahasan adalah menulis, tapi selalu  ada perbedaan yang menjadikan buku itu berbeda, sehingga dapat dirasa apakah buku itu sesuai dengan persi kita atau tidak. Sama halnya seperti ‘tidur’, inti tujuannya adalah ‘istirahat’, tapi untuk mencapai kenyamanan dalam istirahat, orang-orang mencari beraneka ragam macam cara; ada yang dengan menghidupkan music instrument, ada yang menutup tubuhnya dengan selimut, ada yang mematikan lampu kamar sehingga kamar menjadi  gelap gulita, dan ada juga yang meminum obat tidur baru bisa tertidur pulas. Kira-kira begitu jugalah menulis, selalu ada cara berbeda dalam memilih buku untuk membangkitkan semangat dan mengasah kemampuan kita agar dapat memahami tata cara penulisan yang sesuai dengan persi kita. yaa… begitulah kira-kira menurut saya.

            Kalau diatas sebagai sebuah ‘mukoddimah’ maka disini saya ingin memperkenalkan buku baru yang juga baru muncul dan menyapa para pembaca Juni 2013 kemarin; terutama menyapa mereka yang teramat sangat lekat dengan bacaan karya novel bang Ma’mun Affany. Kali ini beliau menghadirkan sebuah buku panduan menulis, berjudul “Resep Ajaib Menulis Novel”.  ‘Bukan berawal dari sebuah teori hingga terbitnya buku ini akan tetapi berawal dari karya jadilah teori ini’ agaknya kalimat ini yang tepat mengamini pengakuan penulis sendiri yang berkeinginan menulis buku panduan menulis novel bagi para pembaca aktifnya yang juga ingin berkarya seperti sang penulis novel.

Sebuah penggalan kata di awal lembaran buku, tampil sebagai kata pembuka: “Saya menulis novel bukan karena keturunan, atau juga bakat. Saya menulis justru mulai dari keinginan kuat untuk bisa membuat cerpen hingga kemudian bertanya pada teman-teman yang sudah sering menulis agar selanjutnya bisa mengajarkan kepada saya tentang seluk beluknya, namun justru kemudian saya kecemplung dengan sendirinya dalam dunia menulis novel. Oleh sebab itu lagi-lagi secara teoritis saya banyak kelemahan” sebuah ungkapan kejujuran dari seorang penulis membuat pembaca terkagum.

Kalau penulis mendeklarasikan kelemahannya dalam teori, saya juga ingin mengatakan saya tak lebih dari seorang pembaca biasa yang juga lemah dalam analisis hanya sebagai apresiasi suka cita, yang membuat saya ingin berbagi kepada calon pembaca lain, atau bahkan calon penulis novel yang belum jadi, atau hampir ingin jadi, tinggal merampungkan beberapa sub, chapter atau tinggal proses editing tulisan. Saya kira buku ini akan sangat bermanfaat, jika dapat di share kepada banyak peminat dan pembaca novel yang produktif, terlebih kepada mereka yang haus akan karya.

Hampir setiap saya menerangkan tentang sebuah buku, saya selalu tidak bosan mengulang-ulang untuk mengatakan, “Bukan promosi yang menjadi landasan saya menulis catatan ini, hanya sebagai apresiasi atas sebuah karya tulis yang bagus dan layak di share kepada pembaca yang lain itulah yang mendasarinya. Itu saja, sederhana saya kira.”

Setelah saya tuntaskan membaca buku berukuran 11 x 18 cm mini  ini, saya temukan sebuah kekhususan pembahasan, dan ini yang menjadi poin perhatian pokok bagi saya. Banyak buku tentang kepenulisan menulis rangkaian penjelasan secara keseluruhan, baik itu tentang cara menulis esai, cerpen, novel, hasil wawancara, menulis ilmiah, dan lain sebagainya, mungkin itu di nilai bagus karena bernilai ekonomis dan praktis ‘all in one’ (semua ada dalam satu buku); mungkin ini yang menjadi nilai tambah buat buku-buku penulisan pada umumnya, sekaligus menjadi kelemahan dari buku mini ini; tapi  sayangnya bukan itu intinya. Pokok pembahasan yang lebih mendalam, lebih mengerucut, gamblang, dan juga lebih spesifik itulah yang sebenarnya bernutrisi tinggi untuk penulis yang ingin paham secara lebih ‘usuli’ (mendasar); ditambah lagi adanya contoh praktisi dalam setiap step dan tahapannya. Sehingga tidak melulu menjelaskan teori, akan tetapi pembaca serasa hanyut di bawa contoh yang selaras dengan teori, membuat kepala mengangguk sendiri. Tidak percaya! Silahkan coba di baca! J

Buku mungil ini hanya meramu tentang resep-resep menulis novel dari A-Z, tidak membahas karya tulis ilmiah atau cerpen, atau esai  dll. Cukup membahas novel, novel dan novel. Bocoran sedikit dari daftar isi buku ini: “Arti Menulis” bisa di baca di halaman. 1, “Kunci Sukses Penulis” di hal. 9, “Nutrisi Penulis” hal. 13, “Bagaimana Genre Novelku?” hal. 17, “Kendala Pertama” hal. 24, “Kaidah Dalam Menulis Novel” hal 21, “Menentukan Ide Cerita” hal. 35, “Menyusun Krangka Cerita” hal. 46, “Mengadakan Konflik” hal. 59, “Melatih Imajinasi” hal. 78, “Berlatih Adegan Tersulit” hal. 89, “Mulailah Menulis Novel sekarang” hal. 95, “Pembagian dan Fungsi Bab” hal. 103,  “Judul Novel Bukan Sebatas Judul” hal. 115, “Mencari Editor Palsu” hal 127, “Beberapa Penerbit Penerima Novel” hal. 146, begitulah sekilas beberapa dari daftar isi yang ada dalam buku ini.  

            Selanjutnya bagi pembaca selamat membaca, selamat menulis, dan selamat mencoba, karena dengan mencoba karya itu ada, jika tidak ingin mencoba jangan pernah berharap timbul sebuah karya.

Sama-sama  kita selalu berdo’a “Semoga karya terbaik kita segera muncul di permukaan, setelah sebelumnya tertidur panjang dalam buaian angan  dan impian.” Akhir kata dari saya,  “Selamat BERKARYA.” 


Resensi

Judul                    : Resep Ajaib Menulis Novel
Penulis                 : Ma’mun Affany
Cet, thn               : Pertama, 2013, 11 x 18 cm
Halaman              : 163 Halaman
Penerbit              : Affany

Jumat, 04 November 2016

9. Kau & Aku Berbatas Arah


Mentari di ujung laut sana orange keemasan cinta
Awan putih diatasnya melindungi dengan kekuatan tersisa
Putih menghilang, biru lenyap; berganti awan hitam kelam
Dalam sandaran batas dunia ku termenung berusaha menyelam.

Ku berdiri miring tak kokoh tegak diatas muara tebing tertinggi
Dingin hembusan angin menyibak jilbabku; membuka lembaran kisah ini
Bukan tak perduli membuatku berbalik arah, tapi dingin ini membuatku tak bisa bertahan lama
Dalam kehampaan hati tanpa sandaran aku hampir rebah menatap kehidupan fana.

Termenung membuai indah kenangan setengah lusin tahun yang lalu
Bayangan indah timbul-tenggelam, kisah lama terungkap terpendam
Di atas perahu yang berhenti di tengah samudra, Aku merindu
Semua tawa-canda-manis; tegur-sapa-ayu; marah-kesal-pedas, tenggelam dimakan karam.

Bayangan indah kehidupan hilang berganti indah senyum khas milikmu
Ku lemparkan fokus pandang; ternyata hanya awan putih bergumpal menyusun diri
Lamunan setiap malam terus terulang; kekokohanku nyaris hilang di telan kasih padamu
Mengharap kau ada disini, sama saja berharap matahari terbit di malam hari.

Mengerti akan rindu; kukira mengerti akan rasa dan perasaan
Hanya sekedar kenangan tidak cukup untuk mewakilkan keduanya bersamaan.

Diamku mengawetkan rasa; membuka hati untuk terbang bebas
Hinggap bertengger bagi pemburu hati yang berhasil menjeratnya.

Langkahku lurus! Meski terjal bebatuan; inilah jalanku
Pandanganku tak menoleh, meski kenangan terus bergentayangan bersiteru
Kunci hati ku buang di tengah samudera ini
Hingga kelak seorang datang membawa kunci seri dari Ilahi …ialah BIDADARI.

Lembaran putih ku raih; inilah kisah baruku
Menutup hati, mata dan telinga; inilah cara terbaikku
Kutitipkan hati kepada sang Ilahi Rabby khusus tentang kisah ini
Berharap hati terhias kembali dengan cinta PRIA titisan Ilahi.

ISID-Ponorogo-
Selasa, 29 Oktober 2013
09.58 WIB

Selasa, 18 Oktober 2016

SATU JODOH DUA ISTIKHARAH


         Kemarin, Senin siang, 17/10/16. 13.30, kiriman buku ini sampai di pos tempat kerjaku. Ku ambil bukunya, tanpa membuang waktu ku buka lembaran awal, setelah ku baca prolog di belakang kulit buku ini pastinya. Hari ini, Selasa, 18/10/16. 10.15wib, ku tuliskan catatan kecil tuk berbagi kepada teman yang kiranya belum sempat membacanya.

       Kelihaian bang Ma’mun menjadikan pembaca betah menghabiskan buku hanya dalam satu kali duduk itu tidak bohong. hal yang sama selalu ku nikmati dari awal membaca novel-novelnya. Hingga detik ini tidak ada satu novelpun yang luput dari pembacaanku terkait karya bang. Ma’mun Affany.

            Awal melihat judul “Satu Jodoh Dua Istikharah” fitrah rasanya akalku berfikir kalau tidak pria, ya wanita yang beristikharah untuk mendapatkan keyakinan satu dari dua pilihan. Namun apa yang ku terka ternyata berbeda setelah selesai membaca. Tidak hanya keajaiban shalat yang di ceritakan di dalamnya tapi lebih kepada hakikat langkah nyata yang dilakukan setelah shalat istikharah yaitu ‘amaliah’ keyakinan. Sejauh yang ku tahu Ishtikharah bukan memilih satu dari dua kebimbangan, tapi memperkuat pilihan yang telah diyakini; bermohon  pilihan yang diambil  mendapatkan keridhaan  Allah swt, untuk hidup di dunia hingga akhirat nantiya.

Bercerita latar Surabaya serasa sangat tak asing bagiku, Surabaya, Gubeng, Bungurasih, adalah tempat yang selalu aku lewati ketika awal keberangkatan dari kota Batak Medan menuju kota Jawa Surabaya untuk bertolak ke Ponorogo. Kental aroma kota sangat tergambar, hiruk pikuk kehidupan kota dengan sekian gemerlapnya juga tak lupa. Aku serasa kembali ke Surabaya ketika membaca novel ini, serasa kembali mengunjungi taman bungkul, hingga ke lamongan,  melewati seluruh ruas jalanan kota bahari.

Salman, Walda, Fatimah, Tania, Ahmad, Wisam, Salim, masing-masing memiliki karateristik yang jelas untuk menduduki satu peran dan lakon di dalam novel ini. Terbayang kuatnya cinta salman membuat seluruhnya heran bukan kepalang, setianya Walda memberikan perhatian tanpa balasan, Fatimah yang terlanjur cinta mati namun tak pernah patah arang, Tania yang merasa hina setelah bertemu pria yang benar-benar cinta padanya, Wisam yang dulunya menjadikan Salman teladannya, kini berbalik roda menjadi tuan di tempat cafe yang dibangun sesuai petuah salman sebelumnya, hingga kakak kandungnya Salim, merupakan kakak yang bersedia merawat detik-detik akhir, ketika adiknya tak mampu lagi berbuat apa-apa selain terkulai lemas dan tak mampu berbuat apa-apa selain hanya pasrah menanti ajal dalam sisa umurnya.

Seandainya umat muslim diperbolehkan berandai, aku berandai memiliki wanita yang benar-benar tulus cintanya terhadap pria seperti Fatimah yang setia pada Salman. Tak kenal lelah, tak kenal putus asa, tak peduli kata-kata miring para sahabat, tak di gubris semua cibiran, hingga ajakan orang tua untuk mengakhiri hubungannya dapat diyakinkannya dengan kelembutan tutur dan caranya mempertahankan keputusan; menjaga hati yang masih bersemi cinta, dan bertanggungjawab untuk semua kesalahan yang mungkin itu bukan kesalahannya sepenuhnya. 

Sekilas terkesan berlebihan jika pembaca sampai membawa cerita ini kedalam kehidupan nyata, tapi apa daya pembaca yang terhipnotis oleh kelihaian tinta bang Ma'mun, menggores kertas, menghasilkan cerita cinta. Jikalau boleh berandai kedua kalinya aku ingin karakter Fatimah hidup di seluruh wanita Jagad Raya agar tiada pria yang putus asa. Agar tiada pria yang tak mengenal arti cinta sebenarnya. Agar pria benar-benar belajar cinta dari wanita yang penuh dengan ketulusan cinta setelah tumbuh dewasa. Hup... Maaf kalau bermimpi disiang bolong.. 

         Jikalau tidak kuberhentikan catatanku ini, aku yakin tidak akan berhenti sampai disini, mungkin akan berlanjut sebanyak halaman novel ini di tulis, bahkan mungkin lebih. Sebagai pembaca aku punya penilaian, aku punya catatan, aku punya pemikiran dan itu pasti aku bumbuhkan di dalam catatanku jika aku mengomentarinya, bukan tidak mungkin aku membuat catatan yang sama tebalnya hanya untuk mengungkapkan betapa luar biasanya buku yang barusan aku baca ini.

         Kehidupan dalam novel ini, menceritakan awal jual-beli, berawal dari tempat segala jasa di perjual belikan, bahkan tubuhpun memiliki label harga. Namun demikian, buku ini memiliki syarat hikmah membacanya dan penawar jitu bagi siapa saja yang putus asa, tenggelam karena masa lalu, pembaca sendiri baru tahu jika cinta sudah berbicara “Tidak ada kekurangan yang tidak bisa di tutupi dan tidak ada kesempurnaan yang tidak semakin menjadi-jadi” “Cinta adalah keingingan dan Jodoh adalah anugrah” kata bang Ma'mun di dalam novel ini, lantas bagaimana jika cinta berakhir jodoh sehingga menjadi anugrah walau menempuh beribu ujian dan cobaan? Intinya cinta yang di gambarkan novel ini bukan sekedar keinginan, tapi anugerah yang harus tetap disikapi dengan penuh hikmah dan kesabaran.

Akhir kata sebelum ku tutup cerita-menceritakan sekelumit dari novel ini. Menurutku Ini adalah novel Penggugah Rasa dan Cinta yang mengambil alur kisah remaja dan orang tua. Alangkah baiknya jika novel ini di konsumsi anak kuliah keatas bukan abg kebawah, sebab menurutku standar umur segitulah yang mampu membedakan mana benar-mana salah, mana penasaran mendatangkan ilmu, dan mana penasaran yang mendatangkan keingingan mencoba dan mencontoh tanpa menyaring manfaat dan mudharatnya. (Na’uzubillah).

Silahkan baca novelnya! Saran ku, sebelum lembaran novel terakhir habis, pilih tempat yang sunyi, sediakan tissu agar ia menjadi saksi ketika anda berkaca-kaca, dan ikhlaslah meninggalkan akhir episode dari kisahnya. 

Penutupku, bagaimanapun penilaian anda setelah membaca novel ini, tokoh “Fatimah Itu Luar Biasa; Siapapun Anda Jika Anda Wanita Anda Pasti Bisa Seperti Dia Bahkan Lebih”. Dengan Penuh Keyakinan Aku bersuara

Jumat, 22 April 2016

Do’a Anak Jalanan


Judul            : Do'a Anak Jalanan
Penulis         : Ma'mun Affany (Penulis kehormatan di Balik 
                      Kerudung)
Tebal           : 13X19Cm, 160 Hal
Harga          : Rp. 30.000 (Beredar di Gramedia Awal Juni)
Info Pre Order     : 085747777728 (HANYA SMS)
    

 Berlatar wilayah Jakarta di tahun 2008, novel ini menghadirkan tiga tokoh utama. Dina, Adib, dan Cindy. Dina sosok paling besar berusia sekitar lima belas tahun, sedangkan Adib kelas enam SD, dan Cindy kelas satu SD. Ketiganya layaknya kakak beradik namun disatukan bukan berdasarkan satu ibu atau satu ayah, tapi sebatas karena disatukan oleh preman yang setiap hari memeras uang dari keringat mereka dengan mengamen di jalan raya dengan berjuang hadapi kerasnya kehidupan jalanan.

      Mereka sadar bahwa hidup di jalan raya tidaklah pantas, mengamenpun seringkali sebatas alasan untuk dengan halus meminta uang walaupun suara mereka layak sebagai penyanyi panggung. Mereka bertiga bersikeras untuk merasakan pendidikan di tengah-tengah kungkungan preman, jika ketahuan mereka harus bersiap untuk dipukul, ditendang, disiksa, bahkan mungkin dibunuh. Tapi mereka tetap ingin sekolah karena mereka ingin keluar dari kehidupan jalanan.

    Yang menarik dari novel ini adalah kepiawaian dalam menarik emosi pembaca untuk merasakan perjuangan setiap tokohnya. Dina sebagai anak paling tua penuh tanggung jawab menjaga adiknya, semua dikorbankan untuk adik-adiknya. Semua patut dicontoh, bahkan semangat para tokoh-tokohnya layak menjadi motivasi hingga tanpa sadar kita akan menyadari betapa beruntung kehidupan yang kita miliki.

      Novel ini tidak begitu tebal, namun gaya cerita yang fokus menjadikan pembaca bersiap-siap habiskan waktu dalam sekali duduk. Bahkan tanpa terasa diujung episode pembaca akan merasa iba hingga tiba-tiba air mata hendak menetes merasakan betapa keras perjuangan tiga anak yang harus hidup berkalang nyawa. Novel yang rencananya akan terbit pada April ini layak untuk menjadi bacaan di sela-sela waktu anda, terutama bagi anda yang berniat mencari cermin sebagai penyemangat dalam hidup, dan sebagai penyadaran bahwa betapa beruntung orang-orang yang sudah bisa mengenyam pendidikan di sekolahnya. 



Dapatkan ulasan lengkapnya di http://affany.net/novel-terbaru/



Kamis, 25 Februari 2016

Darunnajah Melahirkan Bibit Kreatif, Setelah Pelatihan Optimalisasi Website Antar Pondok Se-Indonesia

Penutupan dan sekaligus prosesi pemberian sertifikat dan berfoto bersama Dr.KH. Sofwan Manaf, M.Si (Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darunnajah). Jakarta, 22-24 Februari 2016.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan: bahwa tidak ada sesuatu yang instan, segala sesuatu butuh proses, maka jangan pernah berhenti untuk berporses. berikut beberapa petikan dari sambutan beliau:

"Ada fenomena perkembangan lembaga akselerasi dengan website socmed dan teknologi. Di pesantren ada sistem rolling personalia, bagus. Hanya  saja kemampuan harus dibangun lagi. Solusinya: Biarkan ahlinya tetap, tapi dia harus kaderisasi terus menciptakan ahli-ahli lainnya."

"Ketua organisasi harus memiliki tim yang baik yang selalu memberi masukan positif dan mengingatkan."

"Lokasi pesantren, ada yang di kota dan ada yang di daerah. Akses berbeda. Internet mampu menembus batas tempat dan waktu, borderless. Informasi dan komunikasi terjadi langsung, realtime."

"Pelatihan website dan media sosial amat sangat penting untuk kalangan pesantren, terlebih lagi yang di daerah."


Website adalah rumah kita di dunia maya, didalamnya terjadi banyak interaksi dan transfer informasi. Media sosial adalah media untuk mempublikasikan konten kita ke masyarakat luas.

Demikian sambutan Pimpinan Darunnajah kepada 43 peserta utusan dari 43 pondok pesantren se-Indonesia. Mengajarkan para pesertanya agar dapat terus aktif, kreatif dan inovatif. Sebab hanya mereka yang kreatiflah yang mampu menghadapi hiruk-pikuk dan dinamika kehidupan sosial bermasayarakat di masa akan datang. 

Selasa, 05 Januari 2016

Cita-Cita Terbesarku Ingin Menjadi Lelaki Sholeh Hingga Ku Mati.

    Tak tahu mengapa; kok kelihatannya  indah sekali hidup memperhatikan orang sholeh.  ku pandangi gerak-gerik mereka, santai tapi bersahaja, damai tutur katanya, indah prilakunya, indah perkataannya, tentram melihat pakaiannya, dan kuyakini inilah pancaran keimanan mereka.

    Apakah masih ada pintu untuk gerbang menjadi sosok yang sholeh? kalau masih ada, bolehkah aku izin memasukinya? 

    Kilas balik kehidupan, dalam kurun waktu 24 tahun ini, ntah apa saja yang telah ku lakukan, sekian dosa; ringan ku kerjakan, mungkin karena ku belum tahu imbas/ ganjaran dari perbuatanku. Sebagian kesalahan sengaja ku kerjakan karena menganggap azab Allah tidak akan pernah turun padaku, sebab Allah pasti sayang padaku. Terkadang sikap PDku terlalu berlebih disaat maksiatku jalani, padahal itu kesalahan terbesar yang seharusnya aku malu mengerjakannya.

    Mundur kebelakang, memuhasabahi kehidupanku. terkadang senyum ini indah untuk menatap masa depan tapi kecut melihat masa lalu kelam-gelap yang tersimpan dalam kenangan. Tapi cukuplah yang ada di masa lalu, hanya untuk memoriam masa lalu, sedang masa depan adalah masa untukku berpacu semakin ke depan.

    Tak banyak inginku, tak banyak cita-citaku, rasanya hati ini tak sanggup menahan kerinduan. Hati ini benar-benar rindu pada sosok keshalehan. Jika gerbang masuk shaleh masih terbuka izinkanlah hambamu yang kecil ini memasukinya ya Allah. hamba ini merindukan lindungan Engkau yang hakiki, hamba ini mendambakan pengajaran ilmu langsung dari Engkau ya Ilahi Rabbi, tidak ada keraguan hamba untuk Islammu Ya Allah. Uhibbullah Rabbal'alamiin.

    Ya Allah, Ya Rabbi, cita-cita terbesarku, ingin menjadi lelaki sholeh hingga Engkau memanggilku. Hingga Akhir hayatku di dunia ku ingin slalu menghambakan diri pada Engkau ya Allah. Ridhoilah hamba tuk selalu berjalan di jalanmu, mudahkanlah diri hamba tuk selalu taat padamu, sayangilah hamba sebagaimana Engkau menyayangi orang-orang shaleh sebelumnya, Ya Allah janganlah Engkau timpakan cobaan yang hamba tak mampu menerimanya dan janganlah engkau azab hamba dan keluarga hamba dengan sesuatu yang membuat kufur atas nikmat Engkau, mudahkanlah jalan kami untuk meniti syurgamu, mudahkanlah fokus kami untuk mengejar rahmat dan ridhomu, kepada Allah swt, hamba berserah diri, kepada Allah hamba memohon pertolongan, dan kepada Allahlah hamba pasrahkan hidup mati hamba.

Rumah- Medan Sunggal-, Selasa, 05 Januari 2016.