Ini Kayuh Sampanku

Selain dari suasana, Ketenangan itu ada di dalam hati. Kesendirian adalah ketenangan jika jiwa damai. Maka selamatkanlah jiwa dan hati. Niscaya kau akan kaya Aura dan Inspirasi.

Dunia itu Bulat; Bahasa Juga Bulat

Selama bahasa yang digunakan seseorang adalah bahasa dari planet bumi. Maka kau pasti bisa menguasainya.

Menulis dengan Teori Keseimbangan

Menulis adalah keseimbangan. Ialah menyatukan antara akal, bacaan dan pemahaman.

Qur'an Hamparan Lautan Ilmu

Sejauh mata memandang itulah pemandangan. Sejauh akal membaca itulah pemahaman. Sejauh otak mengingat itulah Rahmat. Qur'an bukan sekedar baik bacaannya tapi ia adalah obat; tuntunan dan pesan. Maka Cari dan Temukanlah!

Deru Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam.Itulah musik hakiki kehidupan.

Senin, 23 Januari 2017

Sumpah Janjiku Pada Ayah & Ibunda



Lelah hilang,
Semangat tumbuh kembang
Cita-cita menjulang
Impian terbang melayang

Nafasku untuk ibunda
Usahaku untuk ayahanda
Hidup matiku untuk Allah Swt
Aku manusia lebih besar dari dunia

Fakta, Masalah dan Solusi
Faktanya aku terlahir istimewa
Masalahnya aku harus membuat orang tua, keluarga dan Negara bangga
Solusinya, kuliah luar negeri, gali potensi diri,
Solusinya, tanamkan tekat, bermanfaat untuk umat
Solusinya, jadilah manusia tanpa batas; Jadilah mata air.


Irwan Haryono S
SUMUT – INDONESIA
Saturday, January 21, 2017


Selasa, 18 Oktober 2016

SATU JODOH DUA ISTIKHARAH


         Kemarin, Senin siang, 17/10/16. 13.30, kiriman buku ini sampai di pos tempat kerjaku. Ku ambil bukunya, tanpa membuang waktu ku buka lembaran awal, setelah ku baca prolog di belakang kulit buku ini pastinya. Hari ini, Selasa, 18/10/16. 10.15wib, ku tuliskan catatan kecil tuk berbagi kepada teman yang kiranya belum sempat membacanya.

       Kelihaian bang Ma’mun menjadikan pembaca betah menghabiskan buku hanya dalam satu kali duduk itu tidak bohong. hal yang sama selalu ku nikmati dari awal membaca novel-novelnya. Hingga detik ini tidak ada satu novelpun yang luput dari pembacaanku terkait karya bang. Ma’mun Affany.

            Awal melihat judul “Satu Jodoh Dua Istikharah” fitrah rasanya akalku berfikir kalau tidak pria, ya wanita yang beristikharah untuk mendapatkan keyakinan satu dari dua pilihan. Namun apa yang ku terka ternyata berbeda setelah selesai membaca. Tidak hanya keajaiban shalat yang di ceritakan di dalamnya tapi lebih kepada hakikat langkah nyata yang dilakukan setelah shalat istikharah yaitu ‘amaliah’ keyakinan. Sejauh yang ku tahu Ishtikharah bukan memilih satu dari dua kebimbangan, tapi memperkuat pilihan yang telah diyakini; bermohon  pilihan yang diambil  mendapatkan keridhaan  Allah swt, untuk hidup di dunia hingga akhirat nantiya.

Bercerita latar Surabaya serasa sangat tak asing bagiku, Surabaya, Gubeng, Bungurasih, adalah tempat yang selalu aku lewati ketika awal keberangkatan dari kota Batak Medan menuju kota Jawa Surabaya untuk bertolak ke Ponorogo. Kental aroma kota sangat tergambar, hiruk pikuk kehidupan kota dengan sekian gemerlapnya juga tak lupa. Aku serasa kembali ke Surabaya ketika membaca novel ini, serasa kembali mengunjungi taman bungkul, hingga ke lamongan,  melewati seluruh ruas jalanan kota bahari.

Salman, Walda, Fatimah, Tania, Ahmad, Wisam, Salim, masing-masing memiliki karateristik yang jelas untuk menduduki satu peran dan lakon di dalam novel ini. Terbayang kuatnya cinta salman membuat seluruhnya heran bukan kepalang, setianya Walda memberikan perhatian tanpa balasan, Fatimah yang terlanjur cinta mati namun tak pernah patah arang, Tania yang merasa hina setelah bertemu pria yang benar-benar cinta padanya, Wisam yang dulunya menjadikan Salman teladannya, kini berbalik roda menjadi tuan di tempat cafe yang dibangun sesuai petuah salman sebelumnya, hingga kakak kandungnya Salim, merupakan kakak yang bersedia merawat detik-detik akhir, ketika adiknya tak mampu lagi berbuat apa-apa selain terkulai lemas dan tak mampu berbuat apa-apa selain hanya pasrah menanti ajal dalam sisa umurnya.

Seandainya umat muslim diperbolehkan berandai, aku berandai memiliki wanita yang benar-benar tulus cintanya terhadap pria seperti Fatimah yang setia pada Salman. Tak kenal lelah, tak kenal putus asa, tak peduli kata-kata miring para sahabat, tak di gubris semua cibiran, hingga ajakan orang tua untuk mengakhiri hubungannya dapat diyakinkannya dengan kelembutan tutur dan caranya mempertahankan keputusan; menjaga hati yang masih bersemi cinta, dan bertanggungjawab untuk semua kesalahan yang mungkin itu bukan kesalahannya sepenuhnya. 

Sekilas terkesan berlebihan jika pembaca sampai membawa cerita ini kedalam kehidupan nyata, tapi apa daya pembaca yang terhipnotis oleh kelihaian tinta bang Ma'mun, menggores kertas, menghasilkan cerita cinta. Jikalau boleh berandai kedua kalinya aku ingin karakter Fatimah hidup di seluruh wanita Jagad Raya agar tiada pria yang putus asa. Agar tiada pria yang tak mengenal arti cinta sebenarnya. Agar pria benar-benar belajar cinta dari wanita yang penuh dengan ketulusan cinta setelah tumbuh dewasa. Hup... Maaf kalau bermimpi disiang bolong.. 

         Jikalau tidak kuberhentikan catatanku ini, aku yakin tidak akan berhenti sampai disini, mungkin akan berlanjut sebanyak halaman novel ini di tulis, bahkan mungkin lebih. Sebagai pembaca aku punya penilaian, aku punya catatan, aku punya pemikiran dan itu pasti aku bumbuhkan di dalam catatanku jika aku mengomentarinya, bukan tidak mungkin aku membuat catatan yang sama tebalnya hanya untuk mengungkapkan betapa luar biasanya buku yang barusan aku baca ini.

         Kehidupan dalam novel ini, menceritakan awal jual-beli, berawal dari tempat segala jasa di perjual belikan, bahkan tubuhpun memiliki label harga. Namun demikian, buku ini memiliki syarat hikmah membacanya dan penawar jitu bagi siapa saja yang putus asa, tenggelam karena masa lalu, pembaca sendiri baru tahu jika cinta sudah berbicara “Tidak ada kekurangan yang tidak bisa di tutupi dan tidak ada kesempurnaan yang tidak semakin menjadi-jadi” “Cinta adalah keingingan dan Jodoh adalah anugrah” kata bang Ma'mun di dalam novel ini, lantas bagaimana jika cinta berakhir jodoh sehingga menjadi anugrah walau menempuh beribu ujian dan cobaan? Intinya cinta yang di gambarkan novel ini bukan sekedar keinginan, tapi anugerah yang harus tetap disikapi dengan penuh hikmah dan kesabaran.

Akhir kata sebelum ku tutup cerita-menceritakan sekelumit dari novel ini. Menurutku Ini adalah novel Penggugah Rasa dan Cinta yang mengambil alur kisah remaja dan orang tua. Alangkah baiknya jika novel ini di konsumsi anak kuliah keatas bukan abg kebawah, sebab menurutku standar umur segitulah yang mampu membedakan mana benar-mana salah, mana penasaran mendatangkan ilmu, dan mana penasaran yang mendatangkan keingingan mencoba dan mencontoh tanpa menyaring manfaat dan mudharatnya. (Na’uzubillah).

Silahkan baca novelnya! Saran ku, sebelum lembaran novel terakhir habis, pilih tempat yang sunyi, sediakan tissu agar ia menjadi saksi ketika anda berkaca-kaca, dan ikhlaslah meninggalkan akhir episode dari kisahnya. 

Penutupku, bagaimanapun penilaian anda setelah membaca novel ini, tokoh “Fatimah Itu Luar Biasa; Siapapun Anda Jika Anda Wanita Anda Pasti Bisa Seperti Dia Bahkan Lebih”. Dengan Penuh Keyakinan Aku bersuara

Kamis, 25 Februari 2016

Darunnajah Melahirkan Bibit Kreatif, Setelah Pelatihan Optimalisasi Website.

Penutupan dan sekaligus prosesi pemberian sertifikat dan berfoto bersama Dr.KH. Sofwan Manaf, M.Si (Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darunnajah). Jakarta, 22-24 Februari 2016.

Dalam sambutannya beliau menyampaikan: bahwa tidak ada sesuatu yang instan, segala sesuatu butuh proses, maka jangan pernah berhenti untuk berporses. berikut beberapa petikan dari sambutan beliau:

"Ada fenomena perkembangan lembaga akselerasi dengan website socmed dan teknologi. Di pesantren ada sistem rolling personalia, bagus. Hanya  saja kemampuan harus dibangun lagi. Solusinya: Biarkan ahlinya tetap, tapi dia harus kaderisasi terus menciptakan ahli-ahli lainnya."

"Ketua organisasi harus memiliki tim yang baik yang selalu memberi masukan positif dan mengingatkan."

"Lokasi pesantren, ada yang di kota dan ada yang di daerah. Akses berbeda. Internet mampu menembus batas tempat dan waktu, borderless. Informasi dan komunikasi terjadi langsung, realtime."

"Pelatihan website dan media sosial amat sangat penting untuk kalangan pesantren, terlebih lagi yang di daerah."


Website adalah rumah kita di dunia maya, didalamnya terjadi banyak interaksi dan transfer informasi. Media sosial adalah media untuk mempublikasikan konten kita ke masyarakat luas.

Demikian sambutan Pimpinan Darunnajah kepada 43 peserta utusan dari 43 pondok pesantren se-Indonesia. Mengajarkan para pesertanya agar dapat terus aktif, kreatif dan inovatif. Sebab hanya mereka yang kreatiflah yang mampu menghadapi hiruk-pikuk dan dinamika kehidupan sosial bermasayarakat di masa akan datang. 

Selasa, 05 Januari 2016

Cita-cita terbesarku ingin menjadi lelaki sholeh hingga ku mati.

    Tak tahu mengapa; kok kelihatannya  indah sekali hidup memperhatikan orang sholeh.  ku pandangi gerak-gerik mereka, santai tapi bersahaja, damai tutur katanya, indah prilakunya, indah perkataannya, tentram melihat pakaiannya, dan kuyakini inilah pancaran keimanan mereka.

    Apakah masih ada pintu untuk gerbang menjadi sosok yang sholeh? kalau masih ada, bolehkah aku izin memasukinya? 

    Kilas balik kehidupan, dalam kurun waktu 24 tahun ini, ntah apa saja yang telah ku lakukan, sekian dosa; ringan ku kerjakan, mungkin karena ku belum tahu imbas/ ganjaran dari perbuatanku. Sebagian kesalahan sengaja ku kerjakan karena menganggap azab Allah tidak akan pernah turun padaku, sebab Allah pasti sayang padaku. Terkadang sikap PDku terlalu berlebih disaat maksiatku jalani, padahal itu kesalahan terbesar yang seharusnya aku malu mengerjakannya.

    Mundur kebelakang, memuhasabahi kehidupanku. terkadang senyum ini indah untuk menatap masa depan tapi kecut melihat masa lalu kelam-gelap yang tersimpan dalam kenangan. Tapi cukuplah yang ada di masa lalu, hanya untuk memoriam masa lalu, sedang masa depan adalah masa untukku berpacu semakin ke depan.

    Tak banyak inginku, tak banyak cita-citaku, rasanya hati ini tak sanggup menahan kerinduan. Hati ini benar-benar rindu pada sosok keshalehan. Jika gerbang masuk shaleh masih terbuka izinkanlah hambamu yang kecil ini memasukinya ya Allah. hamba ini merindukan lindungan Engkau yang hakiki, hamba ini mendambakan pengajaran ilmu langsung dari Engkau ya Ilahi Rabbi, tidak ada keraguan hamba untuk Islammu Ya Allah. Uhibbullah Rabbal'alamiin.

    Ya Allah, Ya Rabbi, cita-cita terbesarku, ingin menjadi lelaki sholeh hingga Engkau memanggilku. Hingga Akhir hayatku di dunia ku ingin slalu menghambakan diri pada Engkau ya Allah. Ridhoilah hamba tuk selalu berjalan di jalanmu, mudahkanlah diri hamba tuk selalu taat padamu, sayangilah hamba sebagaimana Engkau menyayangi orang-orang shaleh sebelumnya, Ya Allah janganlah Engkau timpakan cobaan yang hamba tak mampu menerimanya dan janganlah engkau azab hamba dan keluarga hamba dengan sesuatu yang membuat kufur atas nikmat Engkau, mudahkanlah jalan kami untuk meniti syurgamu, mudahkanlah fokus kami untuk mengejar rahmat dan ridhomu, kepada Allah swt, hamba berserah diri, kepada Allah hamba memohon pertolongan, dan kepada Allahlah hamba pasrahkan hidup mati hamba.

Rumah- Medan Sunggal-, Selasa, 05 Januari 2016.

Sabtu, 26 September 2015

Buya Hamka; engkaulah kakekku.

Menangis hati membaca tulisanmu, bergelora jiwa menikmati setiap kata dari untaian manis kitab-kitabmu, laksana air hujan turun di tengah teriknya siang, lantunan irama tulisanmu menghilangkan dahaga yang mendera.
Rindu rasa hati ingin mengikuti pengajianmu. Ku dengarkan lantunan bait-bait syahdu perkataanmu, ku kumpulkan semua kisah kehidupanmu, sampai kini ku tahu kau adalah adalah insan sholeh yang di turunkan Allah untuk kami yang semoga bisa meniti jejak langkah kakimu.
Pesanmu akan ku jadikan pengobat jiwa kek. Masih ku ingat bait demi bait: "yang diobat ialah yang sakit. Kesehatan jiwa tak ubah dengan kesehatan tubuh kasar jua, diukur panas dan dinginnya. Misalnya, panas manusia yang biasa ialah 36-37, lebih dari itu terlalu panas, dan kurang dari itu terlalu dingin. lebih atau kurang dari 36-37 menunjukkan kesehatan badan telah hilang. Haruslah cukup pada jiwa 1 kesehatan: 
1. Syaja'ah, berani pada kebenaran, takut pada kesalahan.
2. 'Iffah, pandai menjaga kehormatan bathin.
3. Hikmah, tahu rahasia dari engalaman kehidupan.
4. 'Adaalah, adil walaupun kepada diri sendiri"
(4 sifat inilah pusat dari segala budi pekerti dan kemuliaan. dari yang 4 inilah timbul cabang yang lain-lain. Dan itulah  keempat-empatnya yang dinamai keutamaan)"  p. 149
Ingin ku lihat langsung raut wajahmu. Ku baca guratan ketegaran dalam tulisanmu. ku saksiakan sosok karang yang bertahan di tengah tabrakan badai ombak yang terus berganti menghujam, ku ingin belajar dan terus belajar darimu kek. tentang semua bekal kehidupan yang seharusnya aku gunakan untuk menghadapi dunia dengan segala dinakamikanya.
Karyamu indah, jiwamu hidup walaupun kau telah tiada. Itulah kehebatan dan luar biasanya dirimu, engkau adalah suri tauladan yang tak lekang oleh waktu. 
Kek, dari harta peninggalan buku dan tulisanmu aku belajar pemikiran dan pola pikirmu. semoga aku kelak bisa sepertimu dari lahir dan batinku, dari semangat dan juangku, dari ibadah dan ketaatanku, dari lubuk hati terdalam aku ingin bercerita tentangku diatas pangkuanmu kek.
Kek, cucumu boleh bertanya padamu kek? Apakah boleh ku habiskan masa mudaku untuk mengejar semua angan dan impianku kek? Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi seperti yang aku inginkan. Aku ingin mengejar apa yang aku cita-citakan, aku ingin menjalani hidupku sesuai yang selama ini aku rencanakan. Cucumu merindukan engkau yang luar biasa.


Medan Sunggal, 26 September 20
15
cucu rindu kakek.

Sabtu, 12 September 2015

Aku bukan penulis, hanya ingin bercerita.


Satu yang bisa ku lakukan hanya bercerita. Aku berkisah tentang banyak kejadian, tlah ku alami beribu halang rintang, tidak satupun yang aku tahu maknanya. Sampai ku putuskan untuk mencari makna dari setiap hidup yang telah aku jalani yang kini telah 24 tahun berlalu.
Ku cari-cari apakah kelebihanku, ku cari lagi dimanakah kelebihanku, sampai akhirnya aku menganggap yang ada di dalam diriku semuanya biasa, aku bukanlah siapa-siapa, tidak ada yang bisa di banggakan dari diriku, tidak mampu memberi apa-apa selain hanya sebuah hal yang biasa, lama aku bergelut dengan prasaan yang semraut ini, tapi lambat laun aku sadar dan tahu bahwa apa yang aku kerjakan ini adalah kesalahan besar yang sama sekali tidak boleh aku tumbuh kembangkan.
Ada sebuah istilah yang berucap “Air laut asin sendiri, kalau tidak mengasini sendiri siapa lagi” sebuah hipotesa dari perjalanan hidupku yang baru sesaat, ternyata hidup ini, tidak lebih dari perjuangan yang harus memiliki sikap mental percaya diri yang kuat. Orang minder akan melihat orang yang percaya diri itu sombong, tapi orang yang memiliki semangat juang dan jiwa kompetisi akan mengatakan itu adalah sikap modal pertama keberhasilan.
Sampai saat ini aku juga tidak mengetahui apa sebenarnya aku, dimanakah letak kelebihanku, yang aku tahu aku hanya suka menulis, suka merangkai puisi, mendokumentasikan sesuatu yang ku anggap unik, mengunjungi pantai, menikmati suasana hening damai, aku suka desain, aku suka menggambar, aku suka gitar, aku suka buku-buku motivasi, aku suka movie survival dan banyak hal yang aku suka, sampai aku sendiri bingung dimana letak kelebihanku sebenarnya.
Sekarang karena aku bukan siapa-siapa, sudihkan pembaca membantu aku untuk menilai dan memberikan aku masukan, sebenarnya siapakah aku? Apakah kelebihanku? Dimanakah bidang yang bila ku kembangkan akan membahagiakan orang di sekelilingku? Apakah yang harus aku lakukan agar setiap yang mengingat namaku selalu bangga pernah mengenal diriku?
Banyak hal yang aku dapatkan diatas perahu yang telah berlayar 24 tahun ini. Satu diantaranya pelajaran yang sangat berarti bagiku. Bahwa sehebat apapun kita, sekaya apapun orang tua kita, seluas apapun ilmu yang kita punya, tetap selama label manusia masih tertempel di kening kita, seyogyanya tidak boleh berhenti belajar dan tidak henti-henti untuk mencari jati diri. Sebab jati diri itu bukan harga mati yang harus dijunjung tinggi, melainkan proses dari sikap mental yang harus dimuhasabahi, karena boleh jadi selama ini kita salah menempatkan diri, sehingga menghasilkan out put yang juga masih ambigu. Menurutku jati diri harus terus di upgrade setiap hari. ialah kelak yang akan menentukan bagaimana nilai diri ini, pada akhirnya nilai diri tersebutlah yang harus di pertahankan sampai mati. Biasa di sebut orang-orang “Harga Diri”
Sebagian ada yang berteriak, aku telah menemukan jati diriku, inilah aku dengan segenap kekurangan dan kelebihanku. Kalau itu memang benar adanya, syukur alhamdulillah selalu kita senandungkan. Namun jika tidak, segeralah sadar, perjalan hidup masih panjang; belum terlambat jika ingin memutar arah sambil terus berdo’a semoga ajal tidak segera menjemput nyawa.
Faktanya banyak dari kita masih berkutat dalam identitas bukan jati diri.  Bukankah identitas kita selalu berubah seiring bertambahnya usia? Sejak awal lahir berstatus bayi; memiliki keahlian tangis yang membuat orang-orang sekeliling perhatian, berubah ke identitas anak-anak, remaja, berkeluarga; mulai memiliki identitas baru. Suami/istri, punya anak mulai menyandang kata-kata ayah/ibu, sampai memiliki cucu, menjadi kakek dan nenek, dan kelak ketika menerima jemputan malaikat Izrail menjadi sebutan almarhum/almarhumah. Ketika itu identitas kita berhenti sebagai makhluk yang telah menyelesaikan misi hidupnya sebagai identitas yang selalu berubah di bumi ini.
Jika aku katakan aku bukan penulis, aku hanya ingin bercerita, apakah aku boleh bercerita untuk kisahku yang berbeda?


Kamis, 12 Februari 2015

Ada Apa dengan Rasa?

Ku tak berani berbicara tentang cinta, sebab cinta tidak pernah bersuara dengan kata
Ku terkadang tak berani mengambil sikap, karena aku tak mengerti apa sebenarnya merana.
Sampai saat ini, sampai saat tinta saja tak berubah warna, Sampai ketika awan juga tidak berubah rupa
Aku masih terus bertanya-tanya sampai kapan keyakinan benar-benar ada,menghentikan segala keraguan yang pernah ada
Tak tau kapan, apakah sampai mentari berubah wajah. Atau sampai hujan air berubah emas. Aku tersenyum dengan segala kemungkinan yang mengada-ada

Ada rasa tak biasa tapi ku usahakan menjadi hal biasa.
Ada rasa aneh, berbalut canggung yang merana mengelana
Tak penting siapa dan bagaimana, tapi itulah pertanyaan yang liar berkelana
Tak mengerti kapan semua drama akan berakhir dari semua kata fana

Ku berharap rembulan bersedia bercerita jika telah tiba masanya.
Matahari berkenan berbincang jika telah lengkap dan sempurna sinarnya
Bahwa kebingungan, keresahan, ketakutan, keragu-raguan ini tidak akan lama
Setangkai bunga sebagai tanda sempurna sebuah rasa.



Asrama Haji Sukolilo Surabaya, 12 Februari 2015. 01.23 WIB

Sumber Foto:http://i.ytimg.com/vi/56Sx2I1SRfA/hqdefault.jpg