1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Senin, 14 Oktober 2019

Bukan kamu Lagi

Aku disini bukan kebetulan
Impian tinggiku bukan juga dadakan
Proses yang ku jalani juga bukan instan
Semua prosesnya benar-benar penuh kesadaran

Jika Aku tidak berubah Aku akan sama
Jika Aku sama Aku merugi
Jika sudah tahu merugi mengapa di jalani
Aku hidup bukan untuk merugi berkali-kali

Dalam bekerja, gunakan target dan profesionalitas kerja
Dalam berkarya lahirkan Hasil prima, inovatif, dan inspiratif
Dalam etos kerja, berikan bentuk maksimal seluruh jiwa raga
Dalam prinsip tanamkan sikap baja nan kokoh pondasinya.

Jika terlintas untuk mengeluh, katakan itu bukan kamu lagi
Jika lewat rasa sedih, katakan itu juga bukan kamu lagi
Jika seketika kehilangan arah, juga sampaikan itu bukan kamu lagi

Sebab kamu yang saat ini adalah kamu yang mandiri, 
Sebab kamu yang saat ini adalah kamu yang riang, supel mudah beradaptasi
Sebab kamu yang saat ini adalah jiwa yang memiliki visi dan misi


Ingat… Bukan Kamu Lagi

Minggu, 13 Oktober 2019

Penaku Solusiku

Penaku lebih menggelegar dari teriakan pita suaraku
Penaku lebih tulus, dari dalamnya hati ibaku
Penaku lebih hebat dari orasiku
Penaku adalah sebaik-baiknya ungkapan nuraniku

Jika Aku dan engkau bersatu, suaraku cukuplah mengiyakan
Sebab tintaku adalah kamu, Penaku adalah suaramu

Sabtu, 12 Oktober 2019

Jurnal Perjalananku

Sabtu, 15/12/18 & Ahad, 16/12/18
.

* 20.00 wib
Dari Lumut Aku melangkah meninggalkan Pesantren dengan travel andalan Sibolga, Flores namanya, yang bikin aku senang, travel ini lambangnya lumba-lumba, mengingatkanku pada satu moment penting dalam hidupku di kala itu.

** 22.00 wib
Persinggahan pertama di rumah makan Padangsidimpuan, jalan yang sering ku lewati tapi rasanya baru kali ini Aku sadar disini ada rumah makan ini. Kecil, imut tempatnya, plus ada masmbak (1/2 mas 1/2mbak) yang lincah gemulai, rautnya pria penampilan dan gerak-geriknya kewanitaan banget, dan ampunnya lagi dia senyum-senyumin aku… wah gaswat .. Ampun ndoro. 

*** 16/12/18. 04.00 wib
Kedua kali tempat Aku berhenti di rumah makan bundo, tidak terlalu jelas letaknya di jalan apa, tapi sudah dekat Bukit Tinggi kata supirnya, begitulah yang Aku tahu.

**** 06.00wib
Aku tida di Bukit Tinggi, pertama kali dalam hidupku menyusuri jalanan penjang di waktu subuh di tempat yang asing, baru Perdana di kunjungi, tepatnya sebuah simpang lapangan parkiran bus-bus aku berjalan kaki menyusuri temaram lampu jalan yang masih terlihat jelas sisa-sisa malam.

Menuju Jam Gadang Bukit Tinggi, berjejer kursi tunggu ku lalui, unik rasanya, di tengah kota, di pinggiran jalan besar ada bangku panjang seperti di taman, tak ku temukan sisa-sisa sampah hasil keramaian, penuh hikmat ku lalai, damai melihat kota yang masih sunyi, dari jalan besar ku menaiki taman pahlawan ada patung pahlawan disana, ku turuni taman masuk ke lorong jalan lebih kecil, mencari masjid yang buka untuk menunaikan shalat subuhku, hingga akhinya ku berhenti di satu masjid “Nurul Haq” namanya. Shalat subuh disana, dan kembali ku susuri jalanan yang mulai berisi angkutan kota. 
.
.
Tampak ada sebuah tangga mengarah ke atas, tertulis di atas prasastinya “Janjang Pasanggrahan” Hanya puluhan anak tangga memang tapi lumayan pegel jugalah… Teringat baru 2 hari yang lalu usai mendaki anak tangga makam papan tinggi, tangga makam seribu, begitu juga orang-orang biasa bilang.

Sampai di ujung tangga teratas, menurut arah berdiriku ke kiri ke arah kebun Binatang dan ke kanan ke Arah Masjid Raya Bukit Tinggi,.. Perlahan ku pilih arah ke masjid, terpaku sejenak lurus tepat di depan gerbang masuknya, sambil lirih suara hatiku bergemuruh “ini nyata, sungguhan, Aku telah tiba di Bukit Tinggi” menolehku ke arah kiri, Tampak jelas Jam Gadang berdiri kokoh lebih menjulang tinggi mengalahkan bangunan tinggi di sekitarnya. 
Syukurku bukan kepalang, senangku tak terhingga, tapi gelisahku tidak kunjung reda, ku pilih memasuki masjid raya, sejenak ku sujudkan hati yang lara, berharap ketenangan pelipur lara dari sejak dhuha saat diri ini tiba, hingga hari-hari selanjutnya,..  Curahan keluh kesah, barisan ayat-ayat cinta tertumpah dan tertanam di sana, dinding shaf pertama bagian kiri masjid menjadi saksi diri pernah beri’tikaf disana. 

“Semoga perjalanan ini membuka mata hati dan mata batinku… Aamiin..” Do’aku mengawali petualanganku yang masih berlanjut hingga malam… :-)


Jumat, 11 Oktober 2019

Dunia Hobi dan Skill



Hobi dalam KBBI berarti: Kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Itulah arti yang tertulis di KBBI online, bayangkan apa jadinya jika kesenangan kita berubah menjadi ladang pendapatan? Kita senang bernyanyi dengan bernyanyi kita mendapatkan uang. Kita senang melukis, dengan lukisan kita mendapatkan penghasilan, kita senang menulis dengan tulisan kita menabung, kita cinta mengajar, kita gebar kotak-katik youtube, kita senang up to date vidio, kita senang dengan perangkat komputer, kita tergila-gila dengan bahasa pemprograman, jika semua kegemaran itu, kesengangan itu, kecintaan itu dijadikan pekerjaan utama, pekerjaan yang difokuskan, pekerjaan yang di konsistenskan, bagaimanakah jadinya?

Mari kita coba sepakat untuk menggabungkan antara hobi dan skill, jika hobi dimaknai sebagi suatu pekerjaan yang kita lakukan dengan penuh suka cita, rela, senang dan gembira, maka ada keterkaitan erat dengan skill biasanya. Yaitu sebuah dorongan yang terus memicu kita untuk bisa menjadi lebih baik, berkembang lebih aktif dalam hobi yang sudah mulai merayu simpati kita.

Adanya hobi mengundang rasa keingintahuan, begitu tahu timbul semangat untuk terjun lebih dalam, setelah terjun ternyata semakin bisa di nikmati prosesnya, ujung-ujungnya semua yang di jalani terasa sangat nikmat, sampai-sampai keluar ungkapan, “seandainya pun hobi yang di lakukan ini tidak dibayar, tidak apa-apa, sebab inilah hobi saya, dibayar atau tidak dibayar saya tetap akan melakukan ini.”. Nikmat bukan? dan akhirnya sampailah makna skill sebagai “The ability to do something well; expertise.” Kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik; sesuai keahlian.

Dengan hiruk pikuk cobaan dunia, dengan beranekaragam masalah kehidupan, dan yang lebih dekat dengan kesimpangsiuran berita dan pengalihan isu, masih inginkah kita kehilangan waktu hanya untuk itu? Terbuai dengan isu yang sangat nyata dibuat-buat, terbawa alur ombak gosib yang itu sengaja di buat pasang, termakan kabar bohong yang jelas-jelas tidak bernutrisi, akankah itu terus di konsumsi?  Tidak… Cukupkanlah… Sudah cukup membuang-buang waktu selama ini untuk itu semua.

Sekarang saatnya berfikir bagaimana hobi bisa semakin berkembang, dan kemudian memperbanyak uji coba bakat-kemampuan yang terpendam. Kelak ketika hobi sudah menjadi skill yang diakui orang banyak, nilai kita akan sebading dengan kebermanfaatan kita. 

Nanti jika sudah dapat uang, menjadi orang kaya raya, jangan lupa semakin kuat doa'anya dan berdo’alah agar hidup kita lebih berguna dan bermanfaat lagi untuk masyarakat yang lebih luas, rakyat Indonesia, negara Indonesia serta dunia dan seisinya.

Jadi fokus coretan kali ini adalah bagaimana agar kita tidak tergerus dan terbawa arus medsos dan isu-isu pengalihan, yang tersajikan bebas di sekeliling kita, tapi sebaliknya yaitu bisa menguasai berita, selektif dengan info yang diterima dan akhirnya menjadikan kita lebih sibuk dengan hobi, pengembangan skill, minat serta bakat sehingga berujung pada kebermanfaatan buat orang banyak.  

Semenarik-menariknya berbicara dunia, lebih menarik berbicara manusia, sisi positifnya tidak akan ada habis-habisnya untuk terus di bahas dan di cerna.  itu menurut saya, bagaimana menurut Anda?

Kamis, 10 Oktober 2019

Sikap


Banyak hal mendasar yang membedakan antara seseorang dengan orang lainnya; salah satunya adalah sikap. Sikap itu sendiri memiliki banyak perbedaan di lapangan. Ada yang di nilai salah dalam bersikap padahal benar, ada yang memang selalu salah dalam bersikap, ada yang yakin dengan sikapnya padahal salah dan ada juga yang ragu-ragu dalam bersikap padahal sudah tepat, terakhir ada yang begitu yakin dengan sikapnya padahal kekeliruan dan keluguan. Pada intinya bukan hanya bentuk paras seseorang faktor utama penilaian orang lain, juga bukan sekedar gaya yang membedakan kita dengan yang lainnya, jadinya apa? Sikaplah jawabannya.

Sikap egois, tidak ambil peduli, atau terlalu peduli, dan atau fokus adalah contoh sikap yang terlahir sekejap seiring permasalahan itu datang. Dan disanalah orang saling menilai satu dengan yang lainnya.

Sikap terbaik yang harus diambil ketika permasalahan itu ada dan timbul adalah dengan menghadapinya. Cara efektifnya menurutku dengan memikirkannya terlebih dahulu secara benar-benar matang, termasuklah di dalamnya keuntungan ataupun kerugiannya, sehingga pada akhirya sampailah pada pengambilan keputusan atas dasar keyakinan total. Dan itupun tidak hanya berhenti disana, masih ada komitmen mempertahankan keputusan yang harus di pegang teguh. Sebelum selesai akan timbul tambahan masalah yang jika mampu di hadapi akan berubah menjadi peluang atau malah menjadi resiko tambahan yang lebih besar. Tergantung bagaimana kita menghadapinya. Dari sanalah kamu mulai benar-benar belajar tentang sikap.

Saran saya, ketika bertemu dengan permasalahan jangan pernah menganggap itu beban dan jangan menyalahkan diri sendiri setelah mengambil keputusan, yakinlah ada sisi positif dari keputusan yang telah kamu ambil. Seminim-minimnya, kamu telah mencoba untuk menjadi dewasa, dan itu sangat positif. Jadi jangan pernah merasa bersalah untuk satu langkah baru dalam hidupmu.


Pada akhirnya, pandai-pandailah bersikap, pandai-pandailah mengevaluasi diri, terutama evaluasi diri dan kegiatan Sebelum tidur malam. Apakah kamu di jalan yang benar atau tidak seharian yang telah dilewati. Jika yakin benar, lanjutkan namun jika salah, cepat-cepatlah bertobat dan kembalilah ke jalan yang benar. Wallau’alam bisshoab

Rabu, 09 Oktober 2019

Masa Lalu

Tidak ada manusia yang hidup tanpa memiliki masa lalu. Bukankah masa kini dan masa depan bentukan dari masa lalu?

Hanya saja, upaya menjadi diri yang maju, diri yang tangguh, diperlukan kesungguhan menjalani hari ini, sebagai pergerakan militan merubah masa lalu untuk masa depan yang lebih bermutu.

Saat ini kamu belum tahu akan menjadi apa…. Belum tahu esok akan terjadi apa, tapi karena dirimu yang biasa itulah, harus memohon pada zat yang luar biasa, sebab di genggamannyalah seluruh alam semesta.

Jika hanya dunia yang kau kejar, sadarkah kau, betapa kecilnya dunia ini tuan?.


Kubur masa lalu kelammu. Kubur masa lalu hancurmu, sekarang bangkitlah menjadi diri yang baru. Sekarang bangkitlah sebagai diri yang kamu ingin di kenal dengan itu.

Sabtu, 28 September 2019

Aku Merasa Rugi Ilmu

Kerugian yang paling merugi saat ini adalah kerugian ilmu. Dan yang membuat kerugian itu semakin mengalami tekanan ketika diri terpengaruh dengan orang lain. Disana sebenar-benarnya penyesalan dan kerugian. Seyogyanya berpikir bahwa  “Kuliahku bukan karena orang lain. kuliahku untuk konsumsiku, untuk konsumsi akalku, sebagai bekalku terjun di masyarakat luas nanti.” Bukan karena dosennya tidak hadir sebagian makanya aku tidak hadir, bukan karena teman banyak yang izin membuat semangatku surut dan tidak pasang lagi, bahkan ekstrimnya harus berfikir seandainyapun dosennya tidak hadir semuanya, semangatku harus tetap hadir, dan harus selalu siap untuk  belajar, sebab hakikat kuliah bukan karena orang lain, namun karena memang ingin kuliah.

Meskipun kuliah tidak harus tatap muka dan duduk di dalam kelas, tapi interaksi ilmu bersama guru langsung, bagiku sangat penting dan itulah hakikat ilmu yang bersanad menurutku.

Ada penyesalan dalam hati ketika dengan sengaja mengorbankan tidak masuk kuliah hanya karena ingin memberi pelajaran kepada orang lain. Seharusnya Aku sadar filosofi lilin, seharusnya aku ingat filosofi pensil, berkorbanlah tapi jangan jadi korban, namun disini aku menjalani keduanya. Seandainya aku ingat, pasti tidak keputusan ini yang Aku ambil. Astaghfirullahal’azim..

Mulanya sudah termindset di kepala untuk mengikuti perkuliahan di setiap hari sabtu. Namun sepanjang sore sampai malam terdengar kabar ketidakhadiran dosen, konfirmasi dosen yang belum ada, segala info ketidak pastian tersebar dan lain sebagainya via WA. Seketika membuat pikiran dan hati berbolak balik, bimbang mengikuti perkuliahanlah ujungnya. Instink malas mulai melogikakan jarak tempuh kuliah, otak bisnis mulai memikirkan untung rugi tenaga yang dikeluarkan, perasaan baperpun mulai terusik dengan beberapa kasus yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, membuat akal pendek mengambil keputusan untuk tidak hadir perkuliahan.

Mulailah alasan beranak pinak hingga ke cucu, menghasilkan pilihan yang beraneka ragam. Ada alasan penugasan, tugas dadakan, acara penyambutan tamu, menguji ujian, dan alasan kesibukan lainnya, walaupun itu benar-benar sedang dihadapi pasti ada yang prioritas yang harus di kedepankan seharusnya.


Pelajaran yang ku petik dari kejadian hari ini adalah: Ternyata tidak hadir kuliah dengan tanpa alasan syar’i sungguh penyesalan yang nyata.
Cukup kali ini adalah kali pertama dan terakhir mejalani pengalaman keilmuan yang menyedihkan ini. Kedepannya harus berpikir 1000 kali lipat untuk meninggalkan perkuliahan. Terbayang wajah para kakek Alm hamka dan Alm. Habibie melirikku, mengisyaratkan untuk tidak mengulanginya kembali. Samar-samar pesan mereka kembali tergiang bahwa “Kita ini terlahir dari bangsa baik, terbesarkan untuk menjadi bangsa besar, memiliki pikiran besar, dan bercita-cita tinggi menjulang ke angkasa."

Untuk itu, semangat juang dan usahaku harus lebih besar dari apa yang telah di contohkan kakek-kakekku. Sebab sadar tidak sadar, mau tidak mau, Aku yang sekarang adalah miniatur bagaimana Aku dimasa akan datang. Maka buatlah miniatur kejayaan bukan miniatur kebobrokan.

Sabtu, 28 September 2019