1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Rabu, 23 Oktober 2019

Tidak Ada Kata Tua Dalam Diskusi Ilmu Pengetahuan

Dalam belajar Aku suka ungkapan “Tidak ada kata tua dalam diskusi ilmu pengetahuan”, sebuah bius semangat yang selalu dapat menyuntik semangat untuk terus bangkit, maju dan berkembang. Merupakan solusi bagi diri yang cinta akan karya tanpa memandang usia, cinta akan ilmu dan hal baru tanpa ingat akan Batasan waktu semata, disaat kesukaan di kerjakan tanpa melihat batasan disanalah awal keberhasilan, hampir para ahli di bidangnya selalu mengatakan demikian.

Sebagai landasan filosofis kecintaan belajar timbul mana kala teringat kata-kata Imam Ali “Man ‘Afara Nafsahu Faqod Arofa Rabbahu” ungkapan sederhana mengajarkan bahwa jati dirilah kunci utama mengenal zat Allah, mengenal ciptaan Allah agar mencapai takjub akan kuasa-Nya, mengenal seluruh kehendak dan Ridha Allah lewat setiap kejadian yang terjadi setiap harinya. Pada Akhirnya tertata iman dengan keyakinan bahwa Allah itu ESA dengan segala ciptaan dan kuasanya sedang kita lemah, tak mampu berbuat apa-apa selain atas izin Allah swt. “La Haula Wa La Kuwwata Illa Billahil’aliyyil’azim,” tidak ada daya dan upaya manusia biasa ini kecuali atas rahmat dan izin Allah swt yang maha agung maha pencipta.

Dalam hal mengenal jati diri, masing-masing kita mungkin sama dan mungkin juga berbeda, tapi disini setidaknya menjadi lahan kita untuk bertukar pengalaman untuk sama-sama belajar, dan bagiku ada 3 hal penting yang harus selalu kukerjakan sebagai upaya ikhtiar mengenal diri meraih ridho ilahi.

Pertama, Kegiatan Kampus
Dalam hal ini Aku menjadikan kampus sebagai ladang untuk bertukar fikiran dan berdiskusi dengan beragam macam teman dan dosen, dari mulai sudut pandang yang berbeda hingga tindak-tanduk perkembangan kontemporer yang semuanya juga berbeda. Pada intinya disini aku belajar bagaimana, meluapkan ide, gagasan, visi-misi, belajar berfikir dan berlogika hingga akhirnya belajar bagaimana menulis karya tulis ilmiah dengan baik dan benar

Kedua, Kegiatan Pesantren.
Disamping kuliah, pesantren adalah rumahku. Selayaknya rumah yang selalu dirawat, dibersihkan, disapu, dan di perindah. Begitu jugalah pesantrenku ini. Pesantren masih perlu untuk terus di bantu, dibela dan diperjuangkan. 

Makna membantunya harus terus berikhlas ria meluangkan waktu dan mengeluarkan tenaga demi kejayaan Islam yang berawal dari pola didik pesantren. Selanjutnya arti di bela di sini pesantren memiliki jati diri yang tidak biasa, dia unik, dia berkilau, dia tinggi, untuk itu semua selalu ada saja yang iri, maka dari itu jagalah ia dari hati-hati yang busuk lagi merugikan. Terakhir adalah diperjuangkan, jika hidup tidak untuk berjuang, untuk apalagi hidup kita? Dimanapun kamu berada di sanalah lahan perjuanganmu menanamkan islam yang harus diutamakan. Untuk itu jika saat ini pesantren tempatmu, maka jadikanlah ia lahan tuk Perjuanganmu yang tak henti. “Untuk itu aku pribadi memilih mengajarkan bahasa Arab, bahasa Inggris, keterampilan Jurnalistik dan Kajian Filosofis di Pesantren ini, 4 keahlianku yang ku gunakan sebagai wadah perjuanganku.”

Ketiga, Kegiatan Harian.
Bertahun-tahun kita hidup selalu di mulai dengan satu hari setiap pergantian bulan ke matahari. Sama halnya dengan kejayaan yang harus di mulai dari langkah pertama, sama dengan perantauan yang harus di mulai dengan ke-nekat-an yang terukur atau bahkan nekat yang 100% tanpa perhitungan tanpa ukuran. Apapun itu kegiatan hariannya, pasti berbuah keberhasilan yang sangat luar biasa jika dilakukan dengan penuh keistiqomahan. Bagiku sendiri dalam keseharian menulis adalah kegiatan wajibku, meskipun terkadang berebutan dan pekerjaan lain dan rasa malas yang terkadang hadir tanpa di undang, heheheh…. Sampai hari ini, alhamduillahnya kegiatan ini dapat terus berjalan, semoga dapat menjadi tradisi dan kebiasaan yang baik. Aamiin.

Keempat, Kegiatan Masa Depan. 
Tidak terlalu banyak masa depan yang dirancang, sebab perancangan terlalu panjang terkadang menyulitkan diri untuk memulainya dari mana. Untuk itu saya cuma punya 9 rencana sederhana ke depan. Rencana menikah, menstabilkan ekonomi, berkarya tanpa henti, melanjutkan kuliah doktoral dan guru besar LN, menjadi orang bermanfaat di masyarakat sebagaimana profesi sebagai ustadz/guru, ahli di bidang bahasa Arab dan Inggris, Penulis produktif, Dosen yang berwawasan luas dan serta memiliki cita rasa hobi musik yang tinggi agar dapat menarik pemuda untuk terus aktif berinovasi.


Kelima, Kegiatan bermanfaat. 
Aku tidak Tahu Persis bagaimana mau membreakdown rangkaian kegiatan yang bermanfaat. Sebab kesemuaannya memiliki kelebihan dan keluasan sendiri dalam memahami konsep dan memberikan perubahan. Yang terpenting yang aku pahami bermanfaat itu mana kala kita mampu membantu orang lain dengan kualitas tuntas yang membuat mereka tersenyum, menangis sehingga tidak mampu berkata apa-apa kecuali tangis yang berlinang sebagai bentuk pengganti kata-kata yang Sudah tidak mampu dirangkai untuk mengucapkan kata lain dari pada terima kasih.

Dari catatan singkat ini, Aku kembali merefleksikan diri bahwa makhluk lemah yang penuh dengan kekurangan dan kealfaan ini, kelak akan menjadi sosok yang luar biasa, jika ia terus belajar, tapi jika tidak, dia bukanlah siapa-siapa.


Akan ada masanya pemikiran kita dipertimbangkan, keputusan kita di cintai dan setiap tindakan kita mendapat dukungan. Meskipun itu sukar, tapi bukan berarti tidak mungkinkan? Tidak ada yang abadi di bumi ini, semuanya silih berganti, sebagaimana dengan awan tebal yang menutupi bulan dan Matahari. Pada akhirnya dia juga akan menghilang sehingga pancaran cahaya menjadi lebih dominan. Orang yang belajar, sama seperti orang yang mengejar cahaya impian, … Ingatkah kamu, Impianmu adalah Dorongan Terhebat yang kamu miliki? Jangan pernah menggap remeh itu!

Selasa, 22 Oktober 2019

Berdamai Dengan Diri Sendiri

“Ketenangan hati adalah berdamai dengan diri sendiri” 
-Irhas el Fata-

Aku disini bukan kebetulan.
Impian tinggiku bukan juga dadakan.
Proses yang kujalani juga bukan instan.
Semua prosesnya benar-benar penuh kesadaran.

Jika Aku tidak berubah aku akan sama
Jika Aku sama Aku akan merugi
Jika Sudah tahu rugi mengapa terus dijalani
Aku hidup bukan untuk merugi berkali-kali.

Dalam bekerja gunakan target dan sikap profesional
Dalam berkarya berikan Hasil inovatif dan fenomenal 
Dalam etos Kerja, berikan bentuk maksimal
Dalam prinsip tanamkan sikap baja pantang membal

Plin-plan bukan kamu lagi
Ragu-ragu bukan dirimu lagi
Menyalahkan diri sendiri berlebihan sudah harus ditinggalkan.
Evaluasi diri dengan perbaikan itulah yang harus di dawamkan.

Kamu adalah keturunan Adam, membawa pesan.

Dalam akalmu ada ucapan yang wajib ditunaikan
Dalam fuadmu ada tekat yang harus diperjuangkan
Dalam jiwamu ada seni yang mesti dituangkan

Jika jiwamu yang membara, jaga agar tidak surut apinya
Jika senimu yang terus bersuara; dengarkan dan catat semua curhatannya
Antara akal, fuad dan jiwa hanya berbelah keinsyafan. 

Nanti juga damai membelah keheningan. 

Senin, 21 Oktober 2019

'Ghirah' Cemburu Karena Allah

Judul Buku: 'ghirah' Cemburu Karena Allah

Penulis: Prof. Dr. HAMKA

Penerbit: Gema Insani, Depok

Cetakan: Ketiga, Rabi’ul Akhir 1438H/Desember 2016 M

Tebal: 154 hlm; 18,3 cm

Resensator: Irwan Haryono S., S.Fil.I


"Hilangnya 'ghirah' agama pada diri seorang Muslim adalah awal dari hilangnya Islam dari dirinya, dan hilangnya Islam dari seorang Muslim adalah awal hilangnya Islam dari masyarakat dan bangsa"


Membahas tentang ''ghirah'' serasa kesadaran diri, dan jiwa yang lemah ini sedang babak belur di hujami kata-kata buya. Terbayang sosok tangguh buya hamka sejak tahun 1982 silam menasehati tanpa henti. Beliau telah mengingatkan berulang-ulang akan pentingnya menjaga 'ghirah', dan lebih hebatnya lagi, apa yang beliau katakan 36 tahun yang silam serasa masih segar, bahkan seakan nasehat kemarin sore yang masih hangat terdengar di telinga menyikapi fenomena negeri yang terjadi belakangan ini
Lebih jelas mari kita perhatikan bagaimana buya hamka mengartikan 'ghirah' demi menanamkan nilai-nilai keislaman yang sangat kental untuk masa depan bangsa Indonesia terkhusus umat muslim.
'Ghirah' atau cemburu ada dua macam, yakni terhadap perempuan dan agama. Jika adik perempuanmu diganggu orang lain, lalu orang itu kamu pukul, pertanda padamu masih ada 'ghirah'. Dan jika agamamu, nabimu, dan kitab suci al-Qur'anmu di hina, dilecehkan, direndahkan, dan disepelekan sedangkan kamu hanya berdiam diri saja, jelaslah 'ghirah' telah hilang dari dirimu.
Jika 'ghirah' atau siri dalam bahas Orang bugis, Makssar, Mandar dan Toraja tidak dimiliki lagi oleh bangsa Indonesia, niscaya bangsa ini akan mudah di jajah oleh asing dalam segala sisi. Jika 'ghirah' telah hilang dari hati, gantinya hanya satu, yaitu kain kafan tiga lapis. Sebab kehilangan 'ghirah' sama dengan mati!
Keras beliau memberikan himbauan, bukan hanya pada umat muslim namun juga 'mewanti-wanti' (baca: diperingatkan berkali-kali) pada bangsa Indonesia agar berhati-hati dalam melangkah jika tidak ada ghirah di dalam dada, sebab langkah tanpa rasa cemburu yang positif, di takutkan langkah lunglai tanpa arah, jauh tertinggal dari semangat leluhur bangsa Indonesia yang kokoh, siap dengan lantang menyuarakan kemerdekaan berkobar semangatnya dan terpatri erat nilai ilahi dalam hatinya.
Samar-samar dari ujung surau seakan terdengar suara beliau memberi petuah kembali, menceritakan bagaimana 'ghirah' itu dimaknai sebagai syaraf, rasa malu, nyawa dan harga diri. Sampai keluar satu ungkapan hebat dalam pribahasa pemuda minangkabau: "Arang tercoreng di Kening. Malu tergaris di Muka", (Kalau rasa malu menimpa diri, tidak ada penebusnya kecuali nyawa.
Begitu dahsyatnya orang tua minang mendidik putra-putrinya sebagai generasi minang yang kental akan jati diri. Selain itu juga di antara pesan yang sering di ulang-ulang kepada anak-anaknya adalah agar menjaga syarat dan menghidupkan 'ghirah'. Kembali  Pesan orang tua minang pada anak lelakinya "Jaga adikmu. Ingatlah, semua yang memakai kutang dan berambut panjang adalah saudaramu dan ibumu." Pesan leluhur yang harus selalu diingatkan pada pemuda kampungnya untuk menjaga saudara seadat sekampung setanah air, dapat dilihat di awal buku ini tepatnya di halaman 4 pada paragraf kedua.
Bila setiap jiwa memiliki 'ghirah' demi menjaga muruah pada diri, keluarga, agama, serta bangsa dan negara; negeri kita pasti akan aman dari pengaruh luar yang menginginkan negeri ini bobrok dan jauh dari pembodohan masal yang menginginkan negeri tetap terbelakang, untuk itu pembentengan diri yang kuat dengan nilai-nilai Islam itulah salah satu solusinya.
Untuk itu walaupun istilah 'ghirah' terlahir dari konsep Islam namun dalam pengaplikasiannya 'ghirah' bukan hanya milik orang Islam yang sering di cap fanatik oleh bangsa Barat namun 'ghirah' atau Syarah (Arab) juga milik setiap jiwa manusia, bahkan masing-masing daerah atau negara memiliki istilah sendiri untuk menyebutnya, sebab dalam ghirah terkandung visi dan misi untuk menjaga muruah pada diri, keluarga, agama dan negaranya. 
Bukankah 'Ghirah' juga milik Mahatma Gandhi yang terkenal dengan berpemahaman luas dan berperikemanusiaan tinggi, sampai ia bersedia melakukan apa saja untuk mencegah adik Yawaharlal Nehru, Viyay Lakshmi Pandit, dan Anaknya, Motial Gahndhi, Keluar dari Agama Hindu.
Untuk itu ghirah yang terangkum dalam buku saku ini, di tulis secara global untuk seluruh masayarakat yang dihatinya terdapat semangat perjuangan mempertahankan harga diri, negara tumpah tanah air, namun secara spesifik menanmkan nilai-nilai perjuangan kaum muslimin yang sesungguhnya.
Sebagai pendalaman materi dan perluasan wawasan kiranya, pembaca dapat menghabiskan bacaraan buku mini ini, sebab hadirnya kini ibarat obor di tengah malam yang gelap, petunjuk jalan di tengah-tengah negara yang tak tahu arah, dan penasehat bijak di antara hoax dan berita bohong yang beterbangan liar di angkasa ibu pertiwi.
Secara ringkas kami sampaikan bawah buku ini di susun dalam 8 sub. Judul Pertama: 'ghirah' (cemburu). Kedua: Cemburu Karena Agama. Ketiga: Cemburu dan Pribadi. Keempat: 'Ghirah' pada Gandhi. kelima: Al-Ghazwul Fikri. keenam: Untuk kita pikirkan bersama. Ketujuh: Siri, dan terakhir kedelapan: Pandangan Islam terhadap Siri.


Untuk selanjutnya kami sampaikan..... Selamat membaca 

Senin, 14 Oktober 2019

Bukan kamu Lagi

Aku disini bukan kebetulan
Impian tinggiku bukan juga dadakan
Proses yang ku jalani juga bukan instan
Semua prosesnya benar-benar penuh kesadaran

Jika Aku tidak berubah Aku akan sama
Jika Aku sama Aku merugi
Jika sudah tahu merugi mengapa di jalani
Aku hidup bukan untuk merugi berkali-kali

Dalam bekerja, gunakan target dan profesionalitas kerja
Dalam berkarya lahirkan Hasil prima, inovatif, dan inspiratif
Dalam etos kerja, berikan bentuk maksimal seluruh jiwa raga
Dalam prinsip tanamkan sikap baja nan kokoh pondasinya.

Jika terlintas untuk mengeluh, katakan itu bukan kamu lagi
Jika lewat rasa sedih, katakan itu juga bukan kamu lagi
Jika seketika kehilangan arah, juga sampaikan itu bukan kamu lagi

Sebab kamu yang saat ini adalah kamu yang mandiri, 
Sebab kamu yang saat ini adalah kamu yang riang, supel mudah beradaptasi
Sebab kamu yang saat ini adalah jiwa yang memiliki visi dan misi


Ingat… Bukan Kamu Lagi

Minggu, 13 Oktober 2019

Penaku Solusiku

Penaku lebih menggelegar dari teriakan pita suaraku
Penaku lebih tulus, dari dalamnya hati ibaku
Penaku lebih hebat dari orasiku
Penaku adalah sebaik-baiknya ungkapan nuraniku

Jika Aku dan engkau bersatu, suaraku cukuplah mengiyakan
Sebab tintaku adalah kamu, Penaku adalah suaramu

Sabtu, 12 Oktober 2019

Jurnal Perjalananku

Sabtu, 15/12/18 & Ahad, 16/12/18
.

* 20.00 wib
Dari Lumut Aku melangkah meninggalkan Pesantren dengan travel andalan Sibolga, Flores namanya, yang bikin aku senang, travel ini lambangnya lumba-lumba, mengingatkanku pada satu moment penting dalam hidupku di kala itu.

** 22.00 wib
Persinggahan pertama di rumah makan Padangsidimpuan, jalan yang sering ku lewati tapi rasanya baru kali ini Aku sadar disini ada rumah makan ini. Kecil, imut tempatnya, plus ada masmbak (1/2 mas 1/2mbak) yang lincah gemulai, rautnya pria penampilan dan gerak-geriknya kewanitaan banget, dan ampunnya lagi dia senyum-senyumin aku… wah gaswat .. Ampun ndoro. 

*** 16/12/18. 04.00 wib
Kedua kali tempat Aku berhenti di rumah makan bundo, tidak terlalu jelas letaknya di jalan apa, tapi sudah dekat Bukit Tinggi kata supirnya, begitulah yang Aku tahu.

**** 06.00wib
Aku tida di Bukit Tinggi, pertama kali dalam hidupku menyusuri jalanan penjang di waktu subuh di tempat yang asing, baru Perdana di kunjungi, tepatnya sebuah simpang lapangan parkiran bus-bus aku berjalan kaki menyusuri temaram lampu jalan yang masih terlihat jelas sisa-sisa malam.

Menuju Jam Gadang Bukit Tinggi, berjejer kursi tunggu ku lalui, unik rasanya, di tengah kota, di pinggiran jalan besar ada bangku panjang seperti di taman, tak ku temukan sisa-sisa sampah hasil keramaian, penuh hikmat ku lalai, damai melihat kota yang masih sunyi, dari jalan besar ku menaiki taman pahlawan ada patung pahlawan disana, ku turuni taman masuk ke lorong jalan lebih kecil, mencari masjid yang buka untuk menunaikan shalat subuhku, hingga akhinya ku berhenti di satu masjid “Nurul Haq” namanya. Shalat subuh disana, dan kembali ku susuri jalanan yang mulai berisi angkutan kota. 
.
.
Tampak ada sebuah tangga mengarah ke atas, tertulis di atas prasastinya “Janjang Pasanggrahan” Hanya puluhan anak tangga memang tapi lumayan pegel jugalah… Teringat baru 2 hari yang lalu usai mendaki anak tangga makam papan tinggi, tangga makam seribu, begitu juga orang-orang biasa bilang.

Sampai di ujung tangga teratas, menurut arah berdiriku ke kiri ke arah kebun Binatang dan ke kanan ke Arah Masjid Raya Bukit Tinggi,.. Perlahan ku pilih arah ke masjid, terpaku sejenak lurus tepat di depan gerbang masuknya, sambil lirih suara hatiku bergemuruh “ini nyata, sungguhan, Aku telah tiba di Bukit Tinggi” menolehku ke arah kiri, Tampak jelas Jam Gadang berdiri kokoh lebih menjulang tinggi mengalahkan bangunan tinggi di sekitarnya. 
Syukurku bukan kepalang, senangku tak terhingga, tapi gelisahku tidak kunjung reda, ku pilih memasuki masjid raya, sejenak ku sujudkan hati yang lara, berharap ketenangan pelipur lara dari sejak dhuha saat diri ini tiba, hingga hari-hari selanjutnya,..  Curahan keluh kesah, barisan ayat-ayat cinta tertumpah dan tertanam di sana, dinding shaf pertama bagian kiri masjid menjadi saksi diri pernah beri’tikaf disana. 

“Semoga perjalanan ini membuka mata hati dan mata batinku… Aamiin..” Do’aku mengawali petualanganku yang masih berlanjut hingga malam… :-)


Jumat, 11 Oktober 2019

Dunia Hobi dan Skill



Hobi dalam KBBI berarti: Kegemaran; kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama. Itulah arti yang tertulis di KBBI online, bayangkan apa jadinya jika kesenangan kita berubah menjadi ladang pendapatan? Kita senang bernyanyi dengan bernyanyi kita mendapatkan uang. Kita senang melukis, dengan lukisan kita mendapatkan penghasilan, kita senang menulis dengan tulisan kita menabung, kita cinta mengajar, kita gebar kotak-katik youtube, kita senang up to date vidio, kita senang dengan perangkat komputer, kita tergila-gila dengan bahasa pemprograman, jika semua kegemaran itu, kesengangan itu, kecintaan itu dijadikan pekerjaan utama, pekerjaan yang difokuskan, pekerjaan yang di konsistenskan, bagaimanakah jadinya?

Mari kita coba sepakat untuk menggabungkan antara hobi dan skill, jika hobi dimaknai sebagi suatu pekerjaan yang kita lakukan dengan penuh suka cita, rela, senang dan gembira, maka ada keterkaitan erat dengan skill biasanya. Yaitu sebuah dorongan yang terus memicu kita untuk bisa menjadi lebih baik, berkembang lebih aktif dalam hobi yang sudah mulai merayu simpati kita.

Adanya hobi mengundang rasa keingintahuan, begitu tahu timbul semangat untuk terjun lebih dalam, setelah terjun ternyata semakin bisa di nikmati prosesnya, ujung-ujungnya semua yang di jalani terasa sangat nikmat, sampai-sampai keluar ungkapan, “seandainya pun hobi yang di lakukan ini tidak dibayar, tidak apa-apa, sebab inilah hobi saya, dibayar atau tidak dibayar saya tetap akan melakukan ini.”. Nikmat bukan? dan akhirnya sampailah makna skill sebagai “The ability to do something well; expertise.” Kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik; sesuai keahlian.

Dengan hiruk pikuk cobaan dunia, dengan beranekaragam masalah kehidupan, dan yang lebih dekat dengan kesimpangsiuran berita dan pengalihan isu, masih inginkah kita kehilangan waktu hanya untuk itu? Terbuai dengan isu yang sangat nyata dibuat-buat, terbawa alur ombak gosib yang itu sengaja di buat pasang, termakan kabar bohong yang jelas-jelas tidak bernutrisi, akankah itu terus di konsumsi?  Tidak… Cukupkanlah… Sudah cukup membuang-buang waktu selama ini untuk itu semua.

Sekarang saatnya berfikir bagaimana hobi bisa semakin berkembang, dan kemudian memperbanyak uji coba bakat-kemampuan yang terpendam. Kelak ketika hobi sudah menjadi skill yang diakui orang banyak, nilai kita akan sebading dengan kebermanfaatan kita. 

Nanti jika sudah dapat uang, menjadi orang kaya raya, jangan lupa semakin kuat doa'anya dan berdo’alah agar hidup kita lebih berguna dan bermanfaat lagi untuk masyarakat yang lebih luas, rakyat Indonesia, negara Indonesia serta dunia dan seisinya.

Jadi fokus coretan kali ini adalah bagaimana agar kita tidak tergerus dan terbawa arus medsos dan isu-isu pengalihan, yang tersajikan bebas di sekeliling kita, tapi sebaliknya yaitu bisa menguasai berita, selektif dengan info yang diterima dan akhirnya menjadikan kita lebih sibuk dengan hobi, pengembangan skill, minat serta bakat sehingga berujung pada kebermanfaatan buat orang banyak.  

Semenarik-menariknya berbicara dunia, lebih menarik berbicara manusia, sisi positifnya tidak akan ada habis-habisnya untuk terus di bahas dan di cerna.  itu menurut saya, bagaimana menurut Anda?