Aku dan Rasa

Mencari Ketenangan lewat suasana itu tidak abadi, sebab tenang berasal dari dalam hati. Kesendirian adalah upaya yang dicari, berlibur usaha kedua menjadi antisipasi; timbul pertanyaan apasih yang dicari? Kejernihan jiwa? kemurian niat? nilai harga diri? atau satu cita yang tak pasti?

Bahasa Sebagai Bukti Kehebatan Intelektual

Selama bahasa yang digunakan seseorang adalah bahasa dari planet bumi. Maka kau pasti bisa menguasainya.

Menulis dengan Teori Keseimbangan

Menulis adalah keseimbangan. Ialah menyatukan antara akal, bacaan dan pemahaman.

Qur'an Hamparan Lautan Ilmu

Sejauh mata memandang itulah pemandangan. Sejauh akal membaca itulah pemahaman. Sejauh otak mengingat itulah Rahmat. Qur'an bukan sekedar baik bacaannya tapi ia adalah obat; tuntunan dan pesan. Maka Cari dan Temukanlah!

Deru Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam.Itulah musik hakiki kehidupan.

Minggu, 10 Maret 2019

Gadis 12 Rakaat; Agama Selalu Ada di Atas Cinta


Gadis 12 Rakaat; Agama Selalu Ada di Atas Cinta
(Sebab rasa, hati dan perasaan itu sendiri milik sang mahakuasa)

            Assalamu’alaikum wr. Wb..
     
 Salam sebagai pembuka awal komentar terhadap karya berharga seorang Ma’mun tercinta... (Alahai, belom apa-apa udah lebai), untuk kali keberkian kalinya aku berhasil menuntaskan novel terbaru sang novelis muda ini... “Gadis 12 Rakaat” tuntas sak komentar-komentarnya. Hehehehe... .

      Awalnya ku coba baca epilog di kulit belakang novel, tertulis “Cinta berbeda agama adalah sebuah pilihan rumit. Satu sisi ingin bersatu, di sisi lain agama tak merestui. Fashihah dan Bagus terjebak dalam dilema itu.” Merasa kurang mendapatkan informasi, ku lanjutkan bacaanku ke kata pengantar, ku amati daftar isi, hingga fokus mata ini terhenti pada judul ke-22 yang tertulis “Gadis 12 Raka’at”, spontan membuat bola mataku membulat besar, ingin rasanya segera membaca judul ini, tapi kuurungkan niatku agar hikmat perjalanan bacaku. Tersimpan penasaran kecil mengapa sub judul ini menjadi judul novel, apa hebatnya judul ini! Sekilas hati kecilku bertanya.

      Novel ini menceritakan 2 pemeran inti yang sudah kita ketahui bersama, Bagus dan Fashihah. Dua sosok yang sama-sama memiliki kisah sedih, sama-sama memiliki kelebihan di atas rata-rata orang awam pada umumnya dan juga sama-sama terlahir menjadi pemeluk agama yang benar-benar taat, sayangnya satu perbedaan yang membuat mereka terpisah jauh, mereka berbeda keyakinan.

      Bagus Pradana, sosok pemeran pertama, lahir di Manado, tanpa tahu siapa ayah dan ibunya. Hidup sebatangkara sebagai gelandangan yang kehilangan orang tua, lalu dipungut gereja karena di anggap memiliki talenta, di besarkan hingga akhirnya terpilih menjadi sosok yang sering berdo’a, dan membacakan puji-pujian suci kepada Tuhan di gereja dengan suara merdunya.

       Pemeran inti kedua, Aisy Fashihah Ilma, nama yang cukup indah, seindah parasnya. Fashihah adalah pujaan di Pondok Pesantren Sabilul Huda, memiliki suara syahdu dalam mengaji, belum ada yang dapat mengalahkannya dalam MTQ cabang Qira’atul Qur’an, cara berbicaranya santun, menjadi juara pesantren, certas, cantik dan terlahir dari keluarga terpandang dan kaya raya, khusus urusan kepribadian Fashihah mendalami makna keanggunan dan kebaikan dengan filosofi yang dalam. Sungguh sangat luar biasa hawa yang tergambar menjadi pemeran utama di novel ini.
***
       Novel pink ini agak berbeda dengan novel bang ma’mun sebelumnya, dahulu halamannya sampai 400-san dan khusus yang terbaru ini hanya 272 halaman, itupun sudah dengan galeri novel beliau beserta testimoni pembaca setia karyanya. Kalau dulu tebal minta ampun, sekarang tipisnya bukan main,  di ramu lebih minimalis, heheh.. Udah macem dekorasi rumah aja.
         
       Selaku pembaca, komentar adalah makanan favoritnya, dan coretan blog menjadi lahan aplikasi hasil cerna bacaannya. Jadi kiranya wajar jika pembaca sedikit mengomentari novel terbaru yang berada di tangan ini, secara singkat komentar saya pribadi meliputi 5 hal yang penting, diantaranya: Dari sudut alur cerita, kesamaan dengan novel penulis lain, kesamaan dengan novel bang ma’mun sendiri, khas tulisan ala Ma’mun Affany, dan Kekhasan novel ini. Dan tentu saja di tutup dengan sedikit harapan dari pembaca miskin ilmu ini pastinya.



Pertama: Dari sudut alur cerita.
      
      Judul pertama masih berbicara bagaimana sosok Bagus, siapa dia, bagaimana dia, apa saja rahasia yang ia miliki termasuk keahlian khususnya yang tidak dimiliki sembarang orang. Memasuki judul kedua mulai timbul masalah, dengan penugasannya untuk mendekati seorang gadis muslimah taat yang terjaga aman di Pesantren Sabilul Huda, putri dari bapak Husein, tokoh tersohor Singosari, Malang, Jawa Timur. Aisy Fashihah Ilma namanya. Misi utama Bagus, bagaimana membuat Fashihah murtad dari agamanya. Ia gunakan jurus menuntut ilmu, seakan dia tahu bahwa pesantren sangat berat menolak santri yang tulus niat ingin belajar ke pondok. singkat cerita Bagus pun di terima oleh Gus Ali Pimpinan pesantren, dan kesehariannya menngabdikan diri pada beliau, apa saja dikerjakannya mulai, bersihkan rumah, nyuci mobil, nyapu halaman dan lain sebagainya. Fokusnya hanyalah pada Fashihah.
    
     Sementara di waktu bersamaan, Bagus juga sudah memiliki kedekatan khusus dengan Yuna, seorang dokter muda cantik, pintar dan juga perhatian yang terang-terangan siap untuk setia, tidak mau ditinggalkan, walaupun konseksuensi keberhasilan misi Bagus sampai menikahi gadis muslimah tersebut, Bagus tak tega, namun Yuna masih kokoh pada pendiriannya. “Aku tetap bersamamu, jalankan tugasmu, jangan lupakan aku. Cinta wanita seperti akar, menghujam dalam. Kalau dicabut dan dipindah, akan kering kerontang, aku tetap disampingmu. Jika sudah selesai, kembalilah padaku, aku hadir untukmu...”tampak berat yuna mengucapkan kata-katanya barusan.“Tidak ada yang bisa menolakmu, tapi aku takut tak bisa setia. Hidupku hanya untuk Tuhan...” jawab Bagus sejujurnya. “Aku semakin cinta padamu...” tutup Yuna kagum. Begitulah kira-kira sedikit cuplikannya...
        
   Di buka di awal dengan permasalahan perasaan, selanjutnya apakah masih seputar perasaan atau kejadian, atau pemberontakan atau tentang logika sebuah tindakan...? Penasaran? Monggo... di lanjutkan bacanya.... hehehe... yang Aku suka dari novel abangku yang satu ini ya... dari cara penulisan masalah inilah, amunisi ampuh menggaet pembaca untuk segera menuntaskannya.

Kedua: Dari kesamaan dengan cerita novel penulis lainnya

     Sejauh yang aku kenal, bang Ma’mun tidak pernah membaca novel lain selain karya buya Hamka, itupun novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” jadi mungkin beliau tidak mengira ada kesamaan cerita dengan novel lainnya.

   Dalam adegan perkelahian mengejar maling yang masuk pondok, sepintas tergambar adegan perkelahiannya khas ramuan kang Abik dalam “Ayat-Ayat Cinta”, ketika Fakhri berkelahi dengan Bahadur, apalagi ketika si maling mengeluarkan pisau, hampir persis tapi tetap tidak sama pastinya, bak kata pepatah: lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, masing-masing tetap masih memiliki sisi identitas yang melekat erat pada masing-masing cerita. Ehm...... Mantap
  
     Disisi lain novel ini juga mengajarkan risalah Islamiyah, seperti nasehat keagaan namun diramu dengan dialog interaktif mengalir, sehingga pembaca tanpa terasa telah mengkonsumsi nasehat, Seperti cerita Azam yang mengajar konsep ibadah pada Fadhil di novel “Ketika Cinta Bertasbih”, “Mendahulukan orang lain dalam ibadah itu tidak boleh, tapi dalam mu’amalah itu keharusan” agak sedikit mirip dengan situasi Bagus ketika menjumpai Gus Ali untuk meminta nasehat dan bersyahadat. Keduanya memiliki emosi alur cerita yang sangat berdekatan.

Ketiga: Kemiripan dengan novel bang Ma’mun yang lainnya
  
     Pertama, pada halaman: 145 mencerminkan gambaran penasaran perasaan dan hati wanita yang iri dengan wanita yang lainnya, mengingatkan pembaca dengan karya beliau “Kehormatan di Balik Kerudung”.

   Kedua, pada halaman: 196 bercerita tentang kehilangan, mencari-cari kabar berita, mencari-cari alamat orang, hingga meyakinkan pasangan kembali atas cinta suci yang tiba-tiba menghilang di telan hilangnya ingatan, samar-samar mengantarkanku pada novel “29 Juz Harga Wanita”disana tak terbayang betapa luar biasanya perjuangan sosok seorang lelaki untuk menumbuhkan kembali bibit cinta sang istri yang tiba-tiba menghilang begitu saja dalam waktu yang lama.

Keempat: Khas karangan yang dimiliki seorang Ma’mun (sosok penulis kawakan)

     Kemampuan mengibaratkan dan menvisualkan wujud paras seseorang adalah khas Ma’mun yang hampir dibumbuhi secara merata pada setiap buah penanya.“Fashihah tercipta dari puing-puing keindahan yang berserakan dari banyak makna kecantikan. Disatukan dalam sosok wanita penuh kebahagiaan dan kelembutan. Melihat Fashihah seperti melihat keajaiban Tuhan.” Begitulah satu contoh singkatnya.
    
     Selain dari pada itu, kemampuan menceritakan perpindahan waktu dari masa ke masa terasa mengalir begitu saja. Tergambar pada saat Perpindahan tahun 1 -6 tahun pernikahan tidak terasa. Belum lagi saat menyambungkan antara satu episode cerita ke cerita setelahnya, tepat pada episode 20 “Tetap Mandul” ke episode 21 “Tak Ada Yang Sempurna” terasa alur emosi pembaca terbawa suasana hingga akhir cerita.

     Selanjutnya kemampuannya memilah-milih kata menjadikan sesuatu sederhana menjadi istimewa, tepatnya saat menceritakan keanggunaan Fashihah “Bajunya tidak mahal, tapi serasi, bahkan sampai sepatu. Fashihah pintar memadukan kesederhanaan menjadi keistimewaan.”
                
      Akhirnya sampai pada  bagian terindah novel ini yang tidak boleh dilewatkan adalah saat ada dialog rayuan cerdas, benar-benar menggelitik perut, membuatku senyum-senyum sendiri... Jangan kira aku gila sendiri ya.... berikut salah satu dari banyak petikan rayuan cerdas lainnya, tergambar saat Bagus sahut-sahutan dengan Fashihah, “Kau pandai sekali menggembirakan wanita. Kau pasti laki-laki buaya” ucap Fashihah, Bagus tersenyum “Aku tidak punya daya apa-apa. Wanita sekarang sering melihat keturunan dan kekayaan. Aku laki-laki biasa.” “Kau baik, itu sudah menjadi obat wanita paling mujarab di dunia” Fashihah membalas. “Aku kira hanya laki-laki yang pandai memuji, ternyata wanita dihadapanku lebih pandai” Bagus menunduk. Hahai... Jadi malu.... J

Kelimat: Ciri khusus novel ini
       
      Secara kekhususannya novel ini berbeda dengan novel bang Ma'mun yang lainnya, disini nampak cerita yang ingin di angkut adalah nikah beda agama, namun tidak cukup hanya disitu, ada banyak pesan moral, nasehat kebijaksanaan, rahasia pendidikan dan cara bersikap serta mengambil keputusan yang diajarkan disini, sehingga tanpa terasa pembaca juga terbawa masuk ke dalam inti nasehat yang sangat luar biasa.
      
     Selain dari pada itu, novel ini membocorkan beberapa rahasia pendidikan pondok, dimana sosok kyainya adalah sosok yang tidak terlalu silau dengan kemewahan dunia, beliau sederhana namun di kagumi masyarakat, cirinya selalu mampu mengambil kehidupan dunia sebutuhnya, santrinya terbiasa hormat, taat dan patuh pada kyai, dan berkerja seikhlas serta semaksimal yang ia mampu lakukan.

    Berikut berberapa pesan moral yang langsung di kutip dari novel tersebut tanpa ada perubahan redaksi, agar asli yang di tampilkan, agar lapang ruh penulis masuk kedalam relung hati pembaca setia lainnya.

    Pesan moral pertama: Tentang kerukunan dalam beragama, baik dalam berkeyakinan maupun bersikap dan berinteraksi. Pesan tersebut tergambar jelas dari nasehat Gus Ali Kepada Bagus: “Islam itu intinya ibadah dan muamalah. Ibadah kepada Allah, dan muamalah kepada manusia dengan baik. Bahkan kamu menyingkirkan duri dari jalan itu sebuah tanda keimanan. Mengikat tali saudara sesama muslim juga tanda iman. Jangan kamu sakiti orang lain. Bahagiakan selalu orang lain. Kalau kamu tidak mampu berbuat baik, paling tidak jangan menganggu.” Begitu jelas bukan pesan yang disampaikan?

    Pesan moral kedua: Yang di tanamkan novel ini bahwa wanita itu mahal, harus bisa jaga kehormatan diri. tersirat dalam dialog Fahsihah dengan Bagus: “Kata ibu aku cantik, aku sangat menarik bagi laki-laki. Aku sejujurnya takut sekali. Aku yakin diamanati kecantikan ini bukan sebagai hiburan. Aku yakin ini untuk dijaga. Aku yakin masih banyak laki-laki baik. Yang aku khawatirkan laki-laki yang tak baik. Aku belum bisa jaga diri meski sudah sebesar ini” Fashihah menarik nafas panjang.
    
     Pesan moral ketiga: Bahwa ibu adalah tempat curahan hati gadis sebelum ia menikah, sebab ibu yang paling tahu tentang anaknya dan tahu mana yang tebaik untuk putrinya. kembali nasehat murni khas orang tua pada anak gadisnya tersirat pada dialog ibunya Fashihah kepadanya jauh sebelum ibunya meninggal dunia: “Menilai laki-laki mudah, laki-laki baik selalu menghormati wanita dan tidak menjerumuskannya dalam bahaya dunia dan alam baka. Dia akan memuji tapi bukan menggoda, dia akan meninggikan tapi tidak mengada-ada.” Ehem..... udah pada baper belom...? hehehehe....

Harapan untuk terbitan Novel Berikutnya
     Tidak mengerti apakah kisah novelnya yang mudah tertebak atau karena pembaca sudah membaca karya beliau berkali-kali, sehingga terbaca betul alur cerita dan ujung ceritanya.


    Pertama, terbaca pada saat Fashihah mengadukan Bagus pada Nyai pondok karena telah memasuki areal putri karena mengejar maling, sampai akhirnya Fashihah yang memiliki hati lembut bak sutra itu, merasa iba karena bagus mendapat hukuman berat oleh karena aduannya, serasa hukuman tidak setimpal dengan kebaikan yang telah ia kerjakan di waktu yang bersamaan pula dan karena Bagus menjalani hukuman dengan lapang dada, serta menikmatinya, secara berkala timbul benih-benih simpati Fashihah yang datang begitu saja.
   
    Kedua, sosok Bagus yang memiliki suara bagus bakalan di pertontonkan di depan jama'ah ketika membaca al-Qur'an, sangat terbaca karena memang tujuannya hadir ke Pesantren adalah untuk bisa mendapatkan Fashihah, belajar bahasa Arab dan Mengaji, dan satu-satunya langkah yang memang masuk akal untuk bisa di kenal banyak orang, dan di kagumi santriwati adalah dengan tampil memukau dengan kelebihan yang sangat matang.
  
   Ketiga, bagiku pada saat digambarkan wanita hamil berjalan keluar dari gereja bersama Santo, hampir menggambarkan jalan cerita novel ini sampai akhir, tidak seperti novel "Kehormatan Dibali Kerudung" dan "29 JUZ Harga Wanita" yang penasarannya poool...

    Agar tidak berkurang cita rasanya, akan lebih baik jika pembaca menyudahi bacaannya sampai Hakim pengadilan usai ketuk palu, tanda kasus usai dan di tutup. Setelah menemui Bagus Fashihahpun menghampiri, dan memeluk Yuna. Saranku, jangan melanjutkan bacaanya.... Jangan tanya kenapa ya,.. Ikuti saja...

   Akhir Kata, “Kesempurnaan itu tak pernah hadir pada manusia. Manusia selalu diberikan kekurangan agar kesombongannya tak berlebihan.” apabila ada salah kata, salah ketik, membuat penulis novel dan pembaca setia novel ini marah, sakit hati, dan dongkol hati dengan saya. Dengan tulus hati saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semuanya.
    
       Selanjutnya ....... Selamat membaca .....
      
       Wassalamu’alaikum wr. Wb..
Lumut... 
Ahad, 10-03-2019 (22.25 wib)


Selasa, 22 Januari 2019

Terima Kasih Telah Merindu


Rindu ungkapan bebas yang setiap orang berhak untuk mengatakan, mengungkapkan bahkan sampai menyembunyikannya. Mana yang paling membuatmu nyaman silahkan rasakan dan jalankan.

Selama hidupmu menginginkan sesuatu yang belum ada pada dirimu tanpa usaha terpadumu, semuanya akan menjadi berat, namun tidak demikian hasilnya jika kamu menikmatinya. Sampai pekerjaan yang paling tidak mungkin sekalipun akan menjadi sangat mungkin, dan Insya Allah akan kamu dapatkan jika totalitas menjadi sikapmu saat menjalani proses tanpa hitungan waktu.

Sebagai contoh, selalu menghabiskan waktu dengan menunggu terasa lebih panjang, dari pada menjalani waktu tanpa menunggu; selalu menghitung-hitung energi dalam bekerja, menjadikannya berat dari pada menjalani pekerjaan tanpa hitungan dan pekalian untung rugi. Semuanya akan terlihat dan tergambar persis sebagaimana yang kamu rasa.

RINDU, lima huruf yang memiliki mantra luar biasa dalam ikatan dan kemesraan,.. Rindu pada Allah swt akan mendorongmu giat dalam ibadah lillah, rindu pada nabi akan menjadikan shalawat padanya setiap waktu tanpa henti, sedang rindu pada ciptaan Allah, seorang makhluk ciptaan Allah, biasanya akan berujung pada 2 kemungkinan, apakah itu akan abadi selamanya, atau hanya seperti udara, sepoi sesaat, hilang sedetik kemudian. Begitulah rindu yang saat ini kupahami.

Ada 5 turunan dari kata rindu yang ku tafsirkan sendiri:

Pertama: Rasa, merupakan irama terkecil dalam hati yang slalu hadir seiring bergantinya waktu, bisa setiap tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, bahkan detik, tergantung bagaimana rasa yang di pupuk, di rawat dan di jaga bagi setiap individunya. Tidaklah berbeda antara rasa dan suara jika keduanya dapat di utarakan, namun sayangnya sering kali salah satu tidak transparan.

Kedua: Indah, bukankah karena hal itu indah menjadi susah untuk dilupakan? atau karena itu terlalu menyedihkan sehingga sulit untuk di hilangkan? Walaupun itu moment sejenak, walaupun bertemu juga hanya sekedar, walaupun tidak menghabiskan waktu seharian, mingguan dan bulanan, namun kenangan waktu pendek tersebut menggelembung menjadi satu kenangan sulit untuk dilupakan, selalu tersimpan dalam, sangat dalam dan begitu dalam.

Ketiga: Nostalgia, apa hal yang paling membuat diri menjadi seorang lembut hatinya, kuat semangatnya, dan pantang menyerah mottonya? salah satunya dengan sering nostalgia,… Bernostalgialah terhadap sesuatu yang mengubahmu ke arah yang lebih baik, ambil hikmah dari setiap tragedi, ambil pelajaran dari setiap kejadian, dan sigaplah ambil peran untuk masa depan, sebab nostalgiamu akan berujung pada satu tindakan, jika kamu bisa menjadikannya pelajaran yang sangat berarti.

Keempat: Dorongan, apakah selain rindu ada hal lain yang mampu mendorong seseorang melakukan sesuatu? Akankah keinginan berjumpa sekali menyebabkan ingin bertemu lagi? Dan setelah berjumpa sekian kali masih bersisa semangat ingin berjumpa lagi? Jika demikian, berhati-hatilah, periksakan hatimu,.. Di takutkan hatimu telah menyukai salah satu ciptaan sang ilahi rabbi,.. Jaga hatimu, semoga dorongan itu selalu suci

Kelima: Umpama, bukan perjumpaan itu yang membuat hatimu bergetar, tapi perjumpaan dipikiranmu yang membuat dirimu tak karuan, jika nanti bertemu harus bagaimana… Kalau sudah duduk ingin bercerita apa… Jika sudah berjalan bersama apakah harus diam atau memulai membuka bicara… Jika nanti tidak sesuai rencana apakah ini akan menjadi perjumpaan terakhir… Umpama ini perjumpaan terakhir akankah hal ini menjadi suka atau duka… Begitulah umpama meniupkan nyawa kehidupan, seakan kita hidup dimana-mana, seakan-akan kita hidup dalam berjuta rasa, dan seakan-akan kehidupan kitalah yang paling memliki sensasi luar biasa.


Umpama pertemuan itu terjadi apakah rindu itu akan berhenti? atau malah sebaliknya? kalau sudah demikian mana yang lebih mendominasi, apakah kegembiraan atau kesedihan? Umpama berjumpa kembali akankah pelukanmu lebih hangat dari sang mentari pagi? Ataukah angan itu terbakar dengan teriknya sang mentari tengah hari? 

Pada intinya, “waktu dan rindu belum bertepi, terima kasih telah merindu.”
.
.
.
.

Irhas el Fata
Lumut, TAPTENG - SUMUT - INDONESIA

Selasa, 22 Januari 2019. 21.35 wib

Selasa, 15 Januari 2019

Jangan Menunda; Realisasikan Rencanamu!




Hidup manusia berjalan sesuai dengan peredaran waktu. Jika mampu memanfaatkan waktu secara maksimal, biasanya hasil akhirnya juga akan maksimal, begitu jugalah sebaliknya. Melalaikan waktu sama saja menelantarkan kesempatan. Maka dari itu segalanya tergantung kebijakan masing-masing dalam mewujudkan semua rencana sesuai dengan waktunya. 

Secerdas mungkin kamu menjauhi kata-kata penundaan, secepat itu juga keberhasilanmu bisa didapatkan. Sebab menunda dan penundaan adalah salah satu faktor yang mampu mengacaukan rencana yang sudah terencana.

Beragam macam hal ku pikirkan dan ku desain sedemikian rupa, namun kesalahan ada di tanganku, aku yang selalu menunda, menunda dan menunda dengan mengalihkan waktu untuk sesuatu yang bukan prioritas, kali ini aku benar-benar keliru…” Pengakuan penunda rencana

Jika kamu cerdik, kamu tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kecuali jika itu memang maumu, dan itu berbeda!

Berapa banyak orang yang memiliki rencana  indah di kepalanya. Namun berakhir dengan satu harapan kosong belaka? Lebih disayangkan lagi jika menghadapi kegagalan sebelum di mulai. Untuk itu sebelum memulai niatkan dalam hatimu untuk tidak berteman dengan penundaan, dan mengubah semuanya menjadi bagian dari perencanaan, bisa rencana A, B, dan rencana C.

Merencanakan keberhasilan akan membuahkan keberhasilan, merencanakan kegagalan akan membuahkan kegagalan, seperti kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Hasil akhir tidak jauh dari niat awal mulanya.

Disamping niat yang kuat perlu juga mental yang membaja. Tidak perlu merasa asing ketika menjalankan rencanamu secara maksimal. Sekilas kamu terlihat aneh bagi orang di sekitarmu, tapi sebenarnya kamu bintang di kejauhan, mereka hanya mampu menatapmu kecil, karena jarak pandang mereka yang terlalu jauh, begitu mereka mendekat, kan didapatinya bahwa bintang itu bersinar lebih besar dari yang ia kira. Bersabarlah dengan proses yang baru kamu mulai.

Perlu kamu sadari tidak semua yang kamu lakukan saat ini, mampu di lakukan orang lain. dan juga tidak semua impianmu mampu tergambarkan di pikiran orang lain, maka dari itu jika kamu memiliki impian, pertahankan dan perjuangkanlah itu sungguh-sungguh. Tidak semua orang mampu merealisasikannya. Hanya dirimu dan keyakinanmulah yang akan melakukannya, dengan kesungguhanmu kelas di atas rata-rata menjadi maqommu.

Jika keinginanmu hanya berbuat biasa dan sederhana, bukan cita-cita luar biasa yang kamu impikan, karena sesuatu yang besar harus di raih dengan usaha yang besar, tidak ingatkah kamu, selama bumi masih berputar, selama itu juga hukum dunia akan terus berlaku. Jangan pernah bermimpi instan, sebab kamu terlahir juga melewati proses panjang, bukan instan. Bangun… Sadarkan dirimu, hidup ini bukan mimpi!

Jangan menunda, mudah-mudahan dengan prinsip hidup tidak menunda, akan mendekatkanmu pada semua angan dan cita-cita.

Terakhir sebelum tulisan ini berakhir, Perlu di ingat bahwa menjalankan rencana, adalah bagian dari kesuksesan kecil yang dapat kamu raih setiap waktu, semakin sering kamu berhasil menjalankan rencanamu, akan semakin dekatlah kesuksesanmu; biasanya kumulatif dari keberhasian kecil itu akan berevolusi menjadi satu hall yang besar, luar biasa dan tak terhingga, untuk itu kamu harus berusaha, totalitas, berdo’a, bersabar dan jangan menunda.

Masa depanmu ada di depan mata!

Selasa, 15 Januari 2019

Selasa, 01 Januari 2019

Apa yang Di Kejar Sebenarnya ?


Dalam banyak kesempatan, kadang diri berlomba mengejar yang tak pasti, memperjuangkan yang belum pernah terjadi, namun apakah itu salah? Jika itu salah, musti ada penjelasannya dan apabila benar pasti ada alasannya. Pada intinya selama semuanya niat ibadah lillah, menjalankannya tidak menyalahi syariah, ku kira hati kecil juga tidak memberontak untuk memberikan kesaksian dan pembenaran.


Apa hal berkata demikian ?

Seiring berjalannya waktu, tubuhku berevolusi menjadi sosok yang lebih dewasa dari waktu ke waktu, wajar agaknya pikiran ini memikirkan akan baik-buruk/benar-salah/cocok tidak cocoknya suatu perbuatan dan apa ganjaran dari setiap kesalahan yang telah dilakukan.

Menahun aku merenung, lumayan panjang ku coba berganti solusi dari satu ke yang lain, hingga pada akhirnya ku memutuskan ingin menjadi penulis. Berharap dengan menulis, tulisanku bisa di baca orang lain, syukur-syukur yang membaca banyak, sehingga bisa memberikan manfaat. Dengan tulisan itu, aku jadikan ia sebuah amalan, berharap ia menjadi amal ibadahku yang bisa menghapus dosa-dosaku. 

Secara hitungan singkat ekonomis, terhitung bahwa aku akan menjadi orang yang beruntung; sebab walaupun Aku Sudah tiada tapi tulisanku ada. Dan berharap selama tulisanku masih terus di baca dan dinikmati banyak orang, maka saat itu juga pahala mengalir padaku. Sehingga dapat menutupi dosa-dosa yang telah ku kerjakan baik itu sengaja maupun tidak di sengaja.

Apakah itu hitungan yang tepat atau keliru aku juga tidak begitu yakin, tapi begitulah pola pikirku beberapa tahun yang lalu.

***

Dihadapkan pada moment pergantian tahun 2018 menjadi 2019 ini, aku seakan tersadar, samar-samar ku dengarkan bisikan suara Kecil ustadzku menyampaikan ceramahnya, akankah kita masuk syurga karena amal kita? Bukankah sebanyak apapun amal kebaikan, jika Allah belum ridho, syurga belum berhak menjadi tempat kita? Mulai pikiran remajaku berkelana mencari jalan kebenaran dari ungkapan samar tersebut,

Kalau memang dengan ridho Allah baru bisa masuk syurga dan mudah menjalani hidup di dunia, harus bagaimana aku menjemput ridho-Nya ?

Pikirku keras mencari jawaban, yang ku tahu, rahmat Allah mendahului azabNya, dan ridho Allah melampaui murkaNya. Pertanyaan baru timbul, terus bagaimana mendapatkan rahmat dan ridhoNya? Bagaimana caranya?

***

Sebelum coretan sore ini berakhir, agaknya bahwa hidup ini harus terus berusaha memperbaharui niat lillah, dan menguatkan tekad istiqomah di jalanNya. Dengan demikian kiranya dapat mengundang rahmat dan ridhoNya. Aamiin ya rab.

Sebagai penutup, pertanyaanku berulang lagi, sebenarnya apakah yang berhak untuk di kejar? 

Dalam posisi memberanikan diri untuk menjawab, kiranya ada 5 hal yang mudah-mudahan dapat mengundang datangnya rahmat dan ridho Allah pada kita. Yaitu: 

Pertama: Bertakwa kepada Allah swt. Tinggalkan apa yang dilarang Allah dan kerjakan apa yang di perintahkan Allah. Mudah-mudahan Allah swt akan membukakan jalan keluar dari setiap kesusahan dan memberikan rizki dari arah yang tiada di sangka-sangka.

Kedua: Yakin sepenuh hati akan semua janji dan Ancaman Allah itu nyata. Islam itu jelas, lukas dan tegas, tidak ada keraguan di dalamnya, bahkan tingkat keyakinan padanya harus diletakkan pada derajat tertinggi, sebab hakikat dari semua kebenaran adalah Islam dengan segala ajaran dan keyakinanya. Dengan demikian mudah-mudahan kita akan terus menjadi generasi muslim yang kuat beragama tidak kehilangan identitas diri.

Ketiga: Bahagiakan dan wujudkan keinginan orang tua. Ku kira hadist yang menerangkan bahwa keridhoan Allah terdapat pada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah terdapat pada kemurkaan orang tua, merupakan hal yang sudah finish, tanpa butuh diskusi dan perdebatan panjang untuk yang satu ini.

Keempat: Tulus membantu orang lain karena Allah swt (lillah). Bukankah Allah selalu menolong siapapun dari hambaNya selama ia selalu menolong sesamanya dengan tulus hati? Yakinilah bahwa janji Allah itu pasti, karena sesungguhnya Dia tidak pernah ingkar janji.

Kelima: Hindari hutang perbanyak sedekah. Sebab Hutang menimbulkan kecemasan di malam hari dan ketakutan di siang hari, sedangkan sedekah hadir sebagai solusi, walau dalam keadaan mepet sekalipun, bagi Allah tidak ada yang mustahil, “Jika Dia katakan terjadilah, maka terjadilah!”  .

Berhentilah sejenak, mari meluangkan waktu luang waktu tuk membaca pesan tersirat Allah di balik alamnya,… Bukankah jika ridha Allah yang di kejar, Insya Allah semuanya akan lapang? semuanya akan mudah, semuanya akan terlewati dengan baik? Berlaku juga sebaliknya.
“Mulai tahun ini… Aku ingin mengejar ridho Allah swt lewat ridho orang tuaku!” 
Tidak salah kiranya itu menjadi contoh ungkapan awal resolusi 2019 ini.

Waalahu’alam bisshoab.

#Renungan Pergantian tahun
#edisilembaranbaru
#2019membawaperubahankearahyanglebihbaik


Selasa, 01 Januari 2019, 18.46 wib

Minggu, 23 Desember 2018

BUKIT TINGGI PENUH ARTI

Perjalanan Mencari Hidayah dan Petunjuk

Jika langkah kaki kesana merupakan awal dari hidayah, keinginganku hidayah itu tidak selesai hanya sekedar kehangatan namun juga berakhir dengan sebuah kebahagiaan. 

Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya, sama halnya juga aku, sampai pada ujungnya kita menyimpulkan bahwa dunia ini tidak terlepas dari hal-hal yang sifatnya materi dan secret, apa yang di yakini belum tentu itu terjadi, bisa saja yang tak terpikirkan itu yang terealisasi, atau bahkan sebaliknya, atau juga mungkin semakin parah, semua memiliki porsinya masing-masing.

“Jika mentok dalam satu urusan maka bergeraklah, jika mentok dalam satu tempat maka berpindahlah, jika mentok pada satu permasalahan maka diskusikanlah, jika telah terang jalanmu, tidak ada lagi yang mampu menolongmu selain usahamu.”

Dukungan eksternal akan selalu ada di luar, datang dari luar, bersifat luar dan berbanding terbalik dengan semangat internal. Maka dari itu, mulai saat ini datangkan semangat itu dari dalam diri, yakini semua niat baik adalah aplikasi dari wahyu ilahi, tidak ada ujung dari dunia ini selain keinginan mencapai tujuan suci, bersama mimpi, mati menghadap ilahi dan di dampingi bidadari, aku mencintai bukit tinggi yang penuh arti.

Irwan Haryono S
BackpackerIndonesia
16 Desember 2018 (06.00.34)

Kamis, 06 Desember 2018

Manusia Minus 3


Manusia adalah makhluk kompleks yang memiliki daya pilh dan daya fikir. Kebebasannya memilih menentukan nilai dirinya, sebab hanya orang penting yang tahu akan kepentingan dan hanya orang bernilai yang menghargai nilai dari satu pilihan, apapun pilihannya manusia benar-benar bebas untuk memilih jalan hidup terbaiknya. 

jika sekedar menentukan pilihan manusia bisa mendapat gelar bijaksana mungkin tidak akan ada kata ‘bingung’, di kamus besar Bahasa Indonesia, dan mungkin tidak akan ada ajaran shalat Istigharah dalam Islam, namun sayangnya untuk menjadi bijaksana manusia harus menggunakan akalnya untuk berfikir. 

Hanya pola pikir yang benar yang dapat menghasilkan pilihan yang benar, dan pilihan yang benar tentu saja belum tentu lulus dari ujian, keseimbangan melewati penilaian miring, kemampuan menghadapi ujaran sinis dan sambutan sadis adalah ujian pertama yang harus di lewati, oleh sebab itu berfikir sebelum memilih, berfikir sebelum bertindak, berfikir sebelum berbicara adalah cara tepat mempertanggungjawabkan pilihan. Sebab hasil akhir pilihan terbaik adalah ketika manusia mampu mempertahankan pilihannya dengan sekian alasan tulus dan realistis dari hatinya.

Kini telah hadir transformasi manusia baru, sebut saja Manusia Minus 3, sebuah upaya besar menciptakan generasi bijaksana. Dengan adanya manusia minus 3 semua pekerjaan dapat terkondisikan dengan maksimal, jika berhasil menjadi manusia minus 3 keuntungan kontan yan di dapatkannya adalah pikiran yang selalu tenang, diri yang tidak terikat waktu dan jiwa yang terbebas dari ikatan janji, dealine dan tagihan oknum.

Pertanyaannya, siapakah manusia minus 3 itu? 

Dia adalah manusia yang selalu menuntaskan pekerjaannya 3 hari sebelum deadline waktu di tentukan tiba. 

Bayangkan jika manusia minus 3 ada di dalam satu perusahaan? Jika ia hidup di lembaga pendidikan? Jika dia berkembang di dalam satu komunitas? Jika ia tumbuh dari rahim organisasi kepemudaan? Bukankah ia anak emas yang merupakan aset alam paling alami yang pernah terlahirkan?

Dengan keputusannya memilih untuk menyelesaikan semua tugas dan tanggungjawab 3 Hari sebelum deadline, bukankah ia memakai akal untuk berfikir? Jika satu-satunya alasan pilihan adalah demi kemaslahatan apakah itu satu kebijaksanaan?

Kini bijaksana bukan hanya pilihan semata, bukan juga pilihan mata buta, namun bijaksana satu pilihan dari manusia yang selalu berfikir untuk kebahagiaan bersama. Jika tidak untuk bahagia untuk apa kita hidup berjama’ah?


Have fun for your choice

By: Irhas el fata

Sabtu, 01 Desember 2018

Sirait Pulang Kampung

Pulang kampung itu nikmat tak terkira. Dikala semangat diri redup - distrum kembali oleh orang tua. ketika semangat Juang menurun kembali di pompa oleh sanak-saudara. Bercerita masa kecil hingga tukar pikiran menyambut masa depån. Kemajuan mereka menjadi tolak ukur bersama, bahwa kita juga harus berhasil bersama meski dengan bidang yang berbeda. Berguna dengan sekian skill yang ada. Bukankah begitu tujuan hidup kita? Bukankah menyebar manfaat di Bumi Allah ini goal dari kehidupan sebenarnya?

Nikmatnya pulang kampung ketika mampu berbagi keceriaan, mendermakan sebagian rizki, menjenguk sesama dan memperkuat ukhuwah.

Terkadang orang yang jauh di rantau, lama meninggalkan kampung halaman lupa akan niat awal keberangkatan. Hiruk pikuk persaingan melupakan nilai dari kejujuran dan ketulusan, dinamka persaingan melupakan identitas diri yang sebenarnya, untuk itu pulang kampung penting sebagai 'tajdid ruh'.


Rasakan perasaan haru anak kecil saat berlari ke arah Ibu, mengadu atas masalahnya. Tataplah gadis tanggung menangis di pangkuan Ibu seraya bercurah hati pada sang bunda, tétang perasaan yang berkecamuk di pikirannya. Perhatikanlah remaja muda ketika menjumpai ayah, memohon do'a seraya menunggu nasehat berharga sebagai pompaan semangat demi perjuangan yang lebih prima. Adakah ketulusan di sana? Jika ada, itu satu dari sekian banyak defenisi tulus yang kaya akan makna.

Tanah ini tanah batak, Tanah ini tanah kelahiranmu, di bumi ini kamu dibesarkan, setelah dewasa besarkan jugalah kampungmu, binalah wargamu dan rawatlah orang lemah diantara mereka. Jangan seperti kacang lupa akan kulitnya, jangan juga seperti ilalang yang lupa akan tanahnya. Kamu adalah adalah sosok yang tak lupa asal dan muasal diri 'Insya Allah'.

Semangat Putra Tanah air tidak mengenal waktu, kinerja putra bangsa tidak sekedar lisan saja, pergerakan anak negeri tak kenal harı tanpa visi dan misi.

Selama kaki masih berpijak di bumi, di situ juga ladang amal di gali.

Selama nafasmu masih berhembus, semangat tak boleh mati. Selama nyawa masih bersanding dengan jasad upaya tidak boleh surut. Harus terus berinovasi! Kembangkan daya, upaya dan inovasi menuju improvisasi. Yakinlah... Jika mampu berimprovisasi, cita-citamu bukan mimpi.

Kamu adalah apa yang kamu perjuangkan harı ini!

Waktumu sempit, kesempatanmu sedikit. Jika suatu saat kamu merasa sempit, ingatlah kampung halaman, pulangkan pikiranmu sejenak, ingat tujuan perjuangan awal, jangan pulang jika tidak berhasil tapi pulanglah jika keberhasilanmu mampu menginspirasi.

by: Irhas El Fata