KETELADANAN KYAI DAN GURU

"Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan. [KH. Ahmad Sahal]

WAJAH PENDIDIKAN PESANTREN

"Prioritas pendidikan pesantren adalah menciptakan mentalitas santri dan santriwati yang berkarakter kokoh. Dasarnya adalah iman, falsafah hidup dan nilai-nilai kepesantrenan. "

NILAI-NILAI KEDISIPLINAN

"Pekerjaan itu kalau dicari banyak, kalau dikerjakan berkurang, kalau hanya difikirkan tidak akan habis. [KH. Imam Zarkasyi] "

GAGASAN KEMAJUAN UMAT

"Tidak ada kemenangan kecuali dengan kekuatan, dan tidak ada kekuatan kecuali dengan persatuan, da ntidak ada persatuan kecuali dengan keutamaan (yang dijunjung tinggi) dan tidak ada keutamaan kecuali dengan al-Qur'an dan al-Hadits (agama) dan tidak ada agama kecuali dengan dakwah serta tabligh. [KH. Zainuddin Fananie dalam kitab Senjata Penganjur] "

FALSAFAH DAN MOTTO PESANTREN

"Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. [Trimurti] "

HIKMAH DAN KEBERKAHAN

"Hikmah ialah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. (HR at-Tirmidzi). "

AKHBAR AHWAL SEPUTAR PESANTREN

"Pondok perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). "

Selasa, 06 Desember 2022

Tujuan Adanya Etiket Sebelum Perpulang Santri



 

Menurut pesantren, liburan adalah bagian dari kegiatan santri dan santriwati pesantren, maka dari itu sebelum kegiatan eksternal ini digelar yang langsung dipantau oleh orang tuanya di rumah; perlu kiranya 'dipeketi' (diberi bekal) bagaimana santri mesti bertingkah pola, bagaimana tatakrama berbicara, unggah-ungguh di depan yang lebih tua, cara berpakaian ketika di rumah dan di luar rumah, sopan santun dalam bertamu, sampai kepada menjaga keistiqomahan dalam beribadah terutama shalat 5 waktu adalah hal prioritas yang harus tetap dilaksanakan, dengan banyak pertimbangan tersebutlah maka etiket ini diadakan. Dan oleh karena itu juga tulisan esensi dari etiket sebelum perpulangan santri ini dibuat, agar santri tidak salah paham, akan maksud dan tujuan diadakannya etiket sebelum perpulangan ini bagi mereka.

 

Melihat dari istilahnya, kiranya istilah etiket perlu didudukkan kembali agar benar-benar se-visi dan se-arti dalam memahami maksuda dan tujuan dari kata tersebut. 

 

Pertama, Apa sebenarnya etiket itu?

Ketika kami berselancar di dunia maya, jika yang dicari adalah etiket, maka KBBI Online memiliki 2 (dua) arti, untuk arti pertama etiket adalah /eti·ket/ /étikét/ n carik kertas yang ditempelkan pada kemasan barang (dagangan) yang memuat keterangan (misalnya nama, sifat, isi, asal) mengenai barang tersebut. (Klik di sini)

 

Sedangkan etiket diartikan KBBI online dalam arti kedua adalah /eti·ket/ /étikét/ n tata cara (adat sopan santun, dan sebagainya) dalam masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusianya. (Klik di sini)

 

Dari kedua arti di atas, maka arti yang lebih mendekati dari penjelasan artikel ini adalah pada arti etiket yang kedua. Etiket yang dimaksudkan ialah makna lebih mendalam dari etika. 

 

Dalam kamus filsafat, kata etiket tidak ditemukan secara leterlek (Belanda: ‘Letterlijk’) (Baca: secara harfiah), namun esensinya ada, yaitu etika. Maka lebih dalam dalam lagi mengenai etika, menurut Lorens Bagus dalam kamusnya bahwa etika jika dirujuk dalam arti Yunani ‘ethikos’, ‘ethos’ (adat, kebiasaan, praktek). Arti ini kemudian digunakan Aristoteles mencakup ide “karakter” dan “disposisi” (kecondongan). 

 

Dari beberapa arti yang dimaksudkan di atas, maka yang penulis ingin sampaikan bahwa: Etiket di sini adalah maklumat, nasehat, imbauan, arahan, dan pengingat bagi seluruh santri dan santriwati tentang karakter yang harus mereka tunjukkan di masyarakatnya ketika liburan, apa saja kegiatan yang harus tetap dijaga selama berlibur dari pesantren, sampai bagaimana orang-orang akan menganggapnya.


Untuk ini, ada artikel penulis yang bisa dibaca pada link berikut: Liburan Telah Tiba Hati-Hati di Jalan Ya Nak; Sampaikan Salam Kami Kepada Orang Tuamu.

 

Perihal ahwal sudah 'diwanti-wanti' oleh guru kepada mereka, dengan harapan anak didiknya siap untuk menjadi generasi yang siap menjalani hari-harinya tetap dalam kawasan pemahaman bahwa apa yang dilihat, didengar dan dirasakan dan dilaksanakan adalah pendidikan.

 

 


Kedua, Siapa yang ingin dibentuk karakternya?

 

Dalam hal ini santri dan santriwati adalah objek terpenting dalam penanaman etika tersebut. Ada banyak hal yang perlu diingatkan untuk mereka. Hal ini yang mendasari mengapa selalu dijaga kualitas karakternya, harapannya merekalah yang dikader untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan, maka pesantren memandang bahwa mempersiapkan bibit unggul tidak bisa ringkas, semua dilewati dengan proses panjang, untuk itu semoga usaha membentuk karakter selama liburan ini berhasil. Dengan tetap harus dievaluasi sepulangnya mereka ke pondok pesantren usai dari liburan sekejap mata.

 

Ketiga, Bagaimana Etiket ini berjalan?

Etiket berjalan dengan adanya pembicara, materi yang ingin disampaikan dan santri dan santriwati yang mendengarkan. Secara singkat dan ringkas 3 (tiga) komponen ini yang dibutuhkan untuk berjalannya sebuah etiket. 

 

Namun lebih dalam lagi, etiket itu bukan bagaimana prosesi pemberian nasehat dan wejangan liburan itu dilaksanakan, tapi tentang bagaimana penanaman nilai itu tetap terjaga caranya dan terjaga nilai materi yang disampaikan. Maka dari itu nilai yang disampaikan bukan nilai biasa, pesan yang disampaikan bukan pesan receh, tapi pesan dari hati yang harapannya dapat merasuk ke dalam nurani. Bukankah segala sesuatu yang memakai ‘ruh muaddib’ tidak ada yang tercerna selain adab dan akhlak? Wallahua'alam.

 

Besar harapan sebelum perpulangan itu dirasakan santri dan santriwati, nilai-nilai pondok sudah terlebih dahulu ter-install di alam bawah sadar pikiran mereka, sehingga liburan mereka juga terjaga. Wallahua’alam.

 

Pada akhirnya, tujuan adanya etiket perpulang santri dan santriwati adalah untuk mengingatkan kepada mereka, bahwa liburan ini bagian dari pendidikan pondok, tidak lepas dari nilai-nilai adab di dalamnya, tulisan “Pesantren” ada di jidat mereka (dahi). Untuk itu semoga santri tetap istiqomah menjalankan ibadah dan menjaga kebaikan akhlaknya. Aamiin, Allahumma Aamiin. 

 


Minggu, 04 Desember 2022

Liburan Telah Tiba Hati-Hati di Jalan Ya Nak; Sampaikan Salam Kami Kepada Orang Tuamu.

Melepaskanmu berlibur bukanlah satu hal yang gampang. Ini adalah prihal sulit yang sungguh sangat rumit sebenarnya nak. Ada ketakutan dalam hati, sepulangnya ke rumah ada perilakumu yang tidak berkenan di hati orang tuamu. Ada karakter burukmu yang kamu bawa, sehingga membuat ibu dan ayahmu tidak berkenan atas karakter itu. Ada juga keragu-raguan atas keistiqomahan hatimu untuk menuntaskan pendidikanmu di sini; khawatir sepekan lebih kamu di rumah dapat menghilangkan rasa keteguhan dan kekokohanmu selama berjuang, belajar dalam satu semester  yang telah lalu. Sebenarnya melepaskanmu liburan adalah simalakama, tapi begitupun kami harus tetap mendo’akanmu dalam setiap perjalananmu, hati-hati di jalan ya nak, sampaikan salam kami ke orang tuamu.

 

Membersamai liburanmu kali ini, ada beberapa pesan kami yang mesti kamu ingat anak-anakku:

 

Pertama: Sesampainya ke rumah, ambil tangan kanan kedua orangtuamu, cium tangannya, cium pipinya, peluk mereka, ucapkan “beribu terima kasih” kepada mereka karena kamu telah dimasukkan ke dalam lembaga pendidikan Islam bernama pesantren ini. Ucapkan itu berulang kali dengan penuh rasa kesyukuran dan kebanggaanmu, dan selanjutnya sampaikan juga salam kami kepada orang tuamu dengan ucapan “Assalamu’alaikum wr wb”.

 

Kedua: Sebagaimana pendidikan shalat diajarkan di pesantren, sehingga kamu tidak pernah meninggalkan shalatmu, bahkan nyaris selalu berjama’ah. Hal itu jugalah yang harus kamu tegakkan semasa liburanmu! Tidak akan ada kami di sana, tidak akan ada ‘mudabbir/mudabbiroh’ (Pengurus rayon), ‘Qismul Amni’ (Bagian Kemanaan), atau ‘Aqsamul Munazzomah’ (bagian-bagian organisasi) yang akan mengingatkanmu, maka sewaktu itu, ‘muroqobah’mu pada ibadahmu, itulah yang kami harapkan. Di liburan inilah ujian dari aplikasi ‘ibadah qouliyah, dan ‘ibadah fi’liyyahmu sedang diuji, dan kamu harus benar-benar lulus, pada ujian liburan kali ini. Tegakkan shalat meskipun kamu sedang safar, karena kamu telah belajar shalat jama’ dan qoshor, pada intinya kami percaya denganmu nak, maka jagalah amanah dan kepercayaan kami ini, ingat ibadahmu adalah pertanggungjawabanmu dengan 'Rab'mu!


Baca juga tentang manfaat keistiqomahan ibadah: Perbaikilah Ibadah Maka Jalan Kehidupan Akan Membaik.

 

Ketiga: Jaga sikap, karakter, adab dan akhlakmu selama liburan. Tidak hanya dari berpakaian yang harus kamu jaga, tapi juga cara berbicara, bahasa dalam pergaulan, cara bercerita, intonasi tertawa bahagia, cara bertingkah laku, cara berpola di masyarakat, semuanya tunjukkan bahwa kamu santri dan santriwati, tunjukkan bahwa kamu berbeda, tunjukkan bahwa kamu orang terdidik bukan sekedar terlatih. Karena banyak yang berpendidikan belum tentu terdidik, justru yang tidak berpendidikan malah lebih terdidik dan terlatih. Maka berhati-hatilah dalam bersikap dan bertingkah laku. Adab dan akhlakmu menjadi sorotan masyarakatmu, sebab kamu adalah santri dan santriwati, bijak-bijaklah menjaga itu. 


Baca juga tentang akhlak: Jika Melihatmu Rasul Pasti Mencintaimu

 

Keempat: Liburan adalah media pembelajaran untukmu. Maka belajarlah memahami sekelilingmu, sosial, budaya, dan adat kebiasaan lingkunganmu. Di sana akan kamu dapatkan banyak kekurangan dan kelebihan dari daerah yang kamu kunjungi, dengan adanya dirimu di sana, semoga kekurangan mereka bisa kamu lengkapi dengan skill dan kemampuanmu, namun sebaliknya jika ada kelebihan, bisa kamu bawa ke pesantren untuk didiskusikan dengan teman-temanmu, semoga bisa kamu kembangkan dalam kehidupanmu. 

 

Dan kelima: Ketika usai liburan, maka tinggalkan kenanganmu nanti di rumah, persiapkanlah dirimu untuk menimba ilmu kembali, dan bersiaplah untuk kembali merasakan ‘vibe’ belajar santri, agar tidak pecah fokusmu seusai liburan, maka isilah liburanmu dengan hal positif, bukan dengan hal negative lagi tidak bermanfaat.

 

Pada akhirnya, hati-hati di jalan ya nak, sampaikan salam kami kepada orangmu. Liburanmu telah tiba. Ingat liburanmu adalah tentang kamu sebagai santri dan santriwati dengan versi diberi kebebasan sediri untuk mengatur aktivitasmu, maka perjuangkanlah yang terbaik semampu dan semaksimal yang kamu bisa. Kami percaya kepadamu, jaga kepercayaan ini ya nak. 

 


Jumat, 18 November 2022

Apa Saja Ujian di Pesantren Selain Ujian Lisan?

 


    Di pesantren ujian itu banyak, bisa kapan saja, di mana saja, dan dalam hal apa saja. Maka pertanyaan apa saja ujian di pesantren selain ujian lisan, mestilah berujung pada penjelasan sangat panjang yang tak ada ujungnya.  Pastinya keberhasilan dari apa saja, ujian selain ujian lisan yang terdapat di pesantren menjadi bekal seorang santri dan santriwati untuk dapat bersikap proporsional pada permasalahan-permasalahan kehidupan, Maka tak heran jebolan pesantren, terlihat tidak gerusah-gerusuh bila melewati permasalahan demi permasalahan, cobaan demi cobaan yang silih berganti. Sebab sebelumnya mereka telah lulus uji.

 

    Untuk menjawab pertanyaan dari soal di atas tentang apa saja ujian di pesantren selain ujian lisan, nampaknya perlu di ‘break down’ ke dalam beberapa contoh. 

 

    Pertama, sebut saja ujian keberanian, di pesantren keberanian selalu diuji dengan beragam metode. Persis seperti ingin mengetes kemampuan dari ketahanan suatu barang, agar supaya mendapatkan standar nasional atau internasional harus lulus uji tes berkali-kali. Nah untuk keberanian, santri juga dilatih agar mampu membangkitkan keberaniannya dan memupuknya agar bisa tumbuh subur, apa medianya? Banyak. Bisa lewat berbicara di depan ratusan teman-temannya, bisa lewat keberanian mereka tampil dalam pidato bahasa asing di depan ribuan santri dan santriwati. Hebatnya lagi, bukan saja berbahasa Indonesia, namun juga bahasa Arab dan Inggris. Bukankah hal ini sudah cukup menyatakan bahwa mereka telah lulus uji dari materi keberanian?


Berorasi di depan umum, mengutarakan ide-idenya, adalah aktifitas luar biasa yang nyaris tidak semua orang miliki,  untuk itu, satu bekal calon pemimpin sudah diboyongnya sekaligus oleh santri pesantren, pertama keberanian kedua kemampuan berorasi berapi-api, berani, lugas, lantang dan tak kenal takut. Inilah yang menjadikan alumni pesantren itu barang langka, di tengah-tengah kebutuhan umat agaknya.

 

    Kedua, ada ujian kesabaran, di saat yang lain sudah mulai bersedia menghadapi ujian lisan, seorang santri masih kebingungan menghafal yang tidak masuk-masuk dari kemarin, maka sabarlah dan teruslah belajar; teman-teman yang lain sudah pada dikunjungi orang tuanya, lah seorang santri masih belum bisa dimudifin juga untuk bulan ini, maka sabarlah. Teman-teman yang lain dapat menghadapi ujian dengan keadaan sehat, beberapa santri lainnya kebetulan sakit, maka sabarlah. Yang lain menjalani pendidikan tanpa memikirkan permasalahan keluarganya, lah beberapa santri harus berbagi pikiran, memikirkan masalah di rumah dan kewajiban belajarnya di pesantren, maka bersabarlah. Di saat yang lain memiliki buku pelajaran yang lengkap, alat tulis yang lengkap, bahkan dilengkapi dengan uang jajan yang cukup, sedangkan setengah dari jumlah santri boro-boro uang jajan, untuk membeli buku pelajaran yang dihilangkannya karena keteledorannya kemarin saja sulit, butuh menunggu pergantian bulan ke bulan depan, mengganti bukunya dengan jatah uang tabungannya di awal bulan depan, maka bersabarlah. Nah ujian kesabarannya banyak bukan? Santri dituntut belajar bersabar sejak dini, dalam dinamika kehidupan 24 jam di pondok, membuatnya harus bertahan dalam kondisi yang tidak semuanya sama. tidak semuanya serupa. 


    Do'a dan harapannya pun, mudah-mudahan setumbuhnya ia menjadi remaja nanti, dewasanya nanti, dapat menjadi sosok bijaksana yang arif dan sabar saat menghadapi masalah dan memutuskan putusan. Bukan sesuka hati mengikuti hawa nafsunya, tapi dengan pertimbangan maslahah dan solusi berlandaskan kitab suci dan hadist nabi.

 

    Kiranya ujian keberanian dan kesabaran cukup untuk contoh singkat, menerangkan bahwa ujian di pondok pesantren itu banyak. Untuk itu proses diujinya seorang pesera didik, oleh penyelenggara pendidikan adalah bagian dari sempurnanya pendidikan itu sendiri. 

 

Kebetulan ada artikel berkaitan dengan hal ini, monggo dibaca di sini: 

Kenaikan Kelas Santri; Proses Pendidikan Lanjutan.

 

    Ujian di pesantren bersifat spesial dan sakral dengan memiliki 2 dimensi arti, yaitu dalam arti ujian ruhani dan dalam arti ujian jasadi. Dalam arti ruhani ujian berbentuk abstrak dikendalikan sepenuhnya oleh niat, hati dan pola pikir. Sedang dalam ujian jasadi itu sendiri ada 2 yaitu: Resmi atau tidak resmi. Dan yang resmi itu dipisahkan dalam dua, yaitu ujian lisan dan ujian tulisan. Sedangkan yang tidak resmi ada banyak, beragam, bahkan kehidupan seluruh santri dan santriwati selama tinggal di pesantren, itu sendiri adalah ujian yang tidak resmi yang diuji setiap saat tanpa sadar mereka. Telah diuji berkali-kali.

 

    Agak njelimet ya kayaknya, tapi kalau dibaca pelan-pelan, dan dicoba memvisualisasikannya, maka akan terlihat jelas susunan strukturnya In Sya Allah.

 

    Jika boleh menyimpulkan maka apa saja ujian di pesantren selain ujian lisan ‘syafahi’ itu? Ada banyak. Di antaranya ujian kesabaran, ujian keberanian, ujian ketangkasan, ujian kemandirian, ujian keuletan, ujian ketaatan, ujian keistiqomahan, ujian ke… dan ujian ke… yang lainnya, masih sangat panjang jika diurutkan lebih mendalam.


    Di akhir kata, ada ungkapan menarik yang sering orang-orang bilang, setiap kali mereka usai mengunjungi pesantren “Jika pernah sekali meneguk air dari pesantren, ada rasa dahaga yang tidak terlepas hingga membawanya untuk kembali meminum air pesantren itu lagi dan lagi.” Apakah itu ujian bagi mereka? Atau itu malah keberkahan dari Allah untuk mereka? Mereka kecipratan rasa rindu untuk datang lagi. ujiankah itu atau berkah kah itu? Wallahu a'alam.

 


    Semoga para pembaca terhibur dengan catatan singkat ini.

 

    Terima kasih banyak-banyak, kepada seluruh pembaca yang berbaik hati membaca hingga akhir tulisan ini. 

 

    Salam hangat dari blogger yang masih terus belajar ini. 

    Salam cinta menulis, salam ikhlas untuk berbagi.

 

Catatan ke-13 Tentang Pesantren

Oleh: Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I., M.Pd (IHS)

Medan, Jum'at, 18 November 2022, 11.45 wib 



Sabtu, 12 November 2022

Apa Itu Ujian Lisan di Pesantren?

  

  Ujian adalah satu kata yang memiliki beribu makna. Ujian bisa bermakna motivasi, bisa bermakna hukuman, bisa jadi tiket liburan, bisa jadi nikmat, bisa jadi azab, semua tergantung bagaimana yang sedang diuji berpandangan.

 

Dari sekian banyak makna di atas, lantas apa itu ujian di pesantren? 

Apa pula itu ujian lisan di pesantren?

 

    Untuk kali pertama, kita coba untuk menguraikan jawaban dari pertanyaan pertama. Ujian di pesantren memiliki makna yang sangat spesial, ujian adalah cara membaca barometer kemampuan belajar seseorang, setelah ujian di akhir akan dilihat hasilnya, dan hasil inilah yang bisa ditindaklanjuti untuk dievaluasi. “Bil imtihaani yukromul mar'u au yuhanu.” Dengan demikian makna bebasnya adalah dengan ujian membuat seseorang dihormati atau dijengkali.

 

    Untuk itu, ujian di pesantren secara prinsipil adalah bagaimana seseorang bisa konsisten belajar dan siap untuk mengevaluasi diri sendiri dalam setiap aktivitas yang telah dilakukannya secara simultan, untuk mencapai derajat "yukromu" bukan "yuhanu".


    Sedangkan untuk santri dan santriwati, makna ujian di pesantren adalah proses membaca peta langkah kedewasaan dan kemajuan intelektual mereka. Dari sisi muatan materi pendewasaan lebih padat dari anak seusianya di luar dari lembaga pondok. Faktanya di samping belajar tentang ilmu pengetahuan baru, juga belajar mengevaluasi adabnya, disela-sela itu mental dan karakter kemandirian juga dilatih agar semakin kokoh. Fenomenanya pagi mereka bisa betah di pesantren, siang masih tertawa dan bercanda tawa dengan teman-temannya, sore asik olah raga, maghrib tiba-tiba kangen rumah, dan malam menelpon orang tua bilang tidak betah, dan ingin pulang. Itulah kira-kira ujian di pesantren bagi santri maupun santriwati. Dinamika perubahan emosional yang cepat, sering menguji mereka sebelum waktu ujian resmi itu sendiri dimulai.


Ada juga artikel saya tentang ujian, kiranya para pembaca ingin membacanya, boleh klik link berikut:

Jajal Awakmu; Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian.

 

Apa itu ujian lisan di pesantren?

 

    Ujian lisan di pesantren adalah kemampuan seorang anak mempertahankan seluruh kemampuan intelektual dan mental beraninya di depan gurunya. Sedangkan bagi guru ujian lisan adalah ujian keikhlasan guru mengecek kemampuan anak didiknya secara verbal, harapannya guru tahu sampai mana kesiapan anak didik untuk menghadapi ujian tulis dan juga tahu sampai di mana letak kekurangan anak didiknya sebagai bahan evaluasi ke depannya. Dari proses ujian lisan ini, dengan serta merta anak yang diuji akan mendapatkan hasil evaluasi dari gurunya, terkhusus dari wali kelasnya. Untuk selanjutnya perubahan arah lebih baiklah yang dicita-citakan.

Menurut guruku, Ust. Zulfikri, dalam orasi ilmiahnya dihadapan seluruh guru-guru, memamparkan tentang ujian lisan, ada banyak titik penting yang disodorkannya, ringan-ringan pembahasannya, tapi perlu banyak penekanan, sebab karena ringan terkadang bisa begitu cepat terbang dibawa angin, jadi perlu ada penekanan agar yang mau terbang, kembali terpatri di atas permukaan Bumi. Syukur-syukur masuk di akal, terngiang di telinga, dan tertanam dalam hati nurani. 

    Ungkap beliau bahwa: "Ujian lisan bagi santri itu adalah cara santri mengekspresikan keilmuan, skill dan pola komunikasinya, diharapkan dalam aktivitas ini pendidikan mental ini dapat dijadikan bekal awal menghadapi orang lain dalam ujian serupa seperti ini nantinya. Selain dari pada itu, ujian lisan di pesantren juga sebagai gambaran perkiraan bentuk-bentuk soal yang akan diujikan ketika ujian ‘tahriri’ (ujian tulis) nantinya."

 

    Lain bagi santri lain juga bagi guru, sedang ujian lisan di pesantren bagi para guru adalah "Bagaimana sikap guru dalam menjaga wibawa ujian masih tetap terjaga, kemampuan guru menahan kesabaran ketika menghadapi keadaan santri yang beraneka ragam, jika pintar anaknya. 'Alhamdulillah' ucap guru sambil bersyukur dalam hatinya. Jika agak lambat anaknya, "ya Allah mudahkanlah anakku ini memahami pelajarannya, lembutkanlah hatinya untuk konsisten belajar, dan kuatkanlah ingatannya dalam menghafal pelajaran, semoga Allah meridhoi setiap langkah perjuangannya." seyogyanya do’a guru untuk murid dalam hatinya."

 

    Tergambar jelas masa-masa ketika melihat anak yang begitu awal masuk ruang ujian dan  sudah "style silent" (diam tanpa sepatah katapun selain hanya senyum), gurupun harus lebih banyak berujar, bertanya, berpetuah bijak, berikhlas ria, berbicara tanpa ada balasan kata, beretorika mesti pada akhirnya tak mengerti apakah anak memahami soalnya atau tidak, tapi anggukan dan senyuman positifnya cukup untuk meyakini bahwa dia paham.

Bisa baca juga artikel lainnya: Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

 

    Dari celotehan ini, kiranya pertanyaan apa itu ujian lisan di pesantren, bisa terjawab dengan baik, jika belum terjawab juga, nampaknya bisa sambil minum 2 "Raudhah Water Cup" dengan 3 kue mika, bisa menjadikan diskusi tentang ini bertahan 3 jam ke depan. :) 

 

Terima kasih buat para pembaca yang berbaik hati membaca hingga akhir tulisan ini. 

 

Salam hangat dari penguji yang menguji lisan dari awal sendiri sampai akhir. 

Tapi tidak kesepian karena peserta ujian yang datang silih berganti, memberikan nuansa keseruan sendiri.


***

Catatan Apa Itu Ujian Lisan di Pesantren?

Oleh: Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I., M.Pd

Sabtu, 12 November 2022


Jumat, 11 November 2022

Tere Liye Membongkar Rahasia Menulisnya; Santri Merangkumkannya.

 


 

Jika menulis mengejar harta, mengejar kaya apakah boleh? Boleh saja mengapa tidak. Jika menulis mengejar terkenal, apakah boleh? Boleh saja mengapa tidak. Namun saya tidak yakin kalian akan memiliki amunisi yang cukup banyak untuk bisa tetap konsisten menulis jika motivasinya itu.

 

Ada sebuah analogi menarik, Bang Tere menceritakan kisah seekor pipit, penyu dan sebuah pohon kelapa, hidup di permukiman kecil di pinggir pantai parangtritis, begitulah kira-kira; singkat cerita, perhari itu mereka berpisah dalam kurun waktu cukup lama, setelah 3 tahun mereka bertemu lagi di tempat yang sama, maka berceritalah masing-masing dari mereka.

 

Si pipit bercerita aku sudah terbang ke sana ke sini, dan dari atas ku perhatikan seluruh keindahan alam di atas bumi, ada Gedung-gedung pencakar langit, hijaunya hutan, lautan, sungai dan keindahan dunia yang lainnya dapat ku saksikan dari atas. Waw cerita yang sangat menarik. (ucap penyu dan pohon kelapa sambil mendengarkan). Selanjutnya kedua, Penyupun bercerita yang sama, dia menceritakan keindahan dasar laut, keindahan lautan berbeda selat, ternyata lautan lebih luas dari daratan, ternyata lautan berbeda suhu dinginnya di setiap musim, dia pernah mendapati musim panas, musim semi, musim dingin sekalipun, seluruhnya sangat luar biasa. (semua yang mendengarkan ceritanya pun terkagum). Dan terakhir pohon kelapa ditanya kemana saja 3 tahun terakhir, maka jawabannya tidak ada, dia hanya disitu saja. 

 

Disini letak keadilan itu ada. Mengapa adil? Karena pohon kelapa yang tidak kemana-mana itu; qodarullah memiliki buah yang luar biasa lebat, begitu matang sudah saatnya dipanen dia jatuh, di bibir pantai, lambat laun terbawa ombak, terdampar di tengah lautan dan berhenti di daratan China, Afrika, Hindia, Jepang, Kanada, Australia, Inggris, bisa jadi kelapa yang tumbuh di sana adalah berasal dari kelapa tua di sini. (sambut penyu dan pipit saat melihat pepohonan ketika mereka mengelilingi dunia).

Dari kisah singkat di atas, yang ingin digarisbawahi adalah adanya sudut pandang yang berbeda dari sisi penulis, seyogyanya berfikir layaknya sudut pandang pohon kelapa. Bahwa walaupun tidak kemana-mana, namun karyanya bisa kemana-mana. Walaupun dia tidak dapat hadir di banyak tempat, tapi karyanya dapat merubah banyak orang. Cukup dengan memberikan inspirasi, dapat menjadikan kita lebih berarti di mata orang lain. Maka perlu ditanamkan pemahaman bahwa menjadi penulis itu pada hakikatnya adalah aktifitas mencemplungkan 1 (satu) demi satu buah kebaikan. Dan semoga kebaikan itu bisa dibawa dan disebar luas sebagaimana kelapa dibawa ombak berkeliling dunia.

 

Begitulah kira-kira keterangan Bang Tere Liye yang dia sampaikan dalam rekaman youtube dengan chanel bijak tv yang barusan saja saya tonton, dengan judul: Tere Liye II Motivasi Tere Liye Menulis II Bijak TV berikut linknya, slilahkan diklik: Tere Liye Membongkar Rahasia Menulisnya.


Selain itu ada juga tulisan saya yang mungkin bisa teman-teman kunjungi di link berikut: Saatnya Menulis Sekarang! Bukan Besok Tapi Sekarang. 


Atau bisa juga mengunjungi link tulisan saya selanjutnya yang berjudul: Tulislah Buku yang Kamu Sendiri Suka Membacanya.  Inspirasi dari buku mas Ahmad Rifa'i Rif'an. 


Sampai di sini, sejenak saya tertegun dan terdiam, rasa-rasanya, cukup kisah dan penutup tadi menjadi akhir dari tulisan ini. Terima kasih bang Tere sudah berbagi dan menginspirasi. Jazakumullah khoir.

 

 

 

 

 

Rabu, 19 Oktober 2022

Setelah Memperingati 40 Tahun Kesyukuran; Apalagi?

 


Taharrak Fa Inna Fil Harokati Barokatun.


Alamiah alam adalah perubahan, alamiahnya perubahan itu adalah berubah, maka jika ditanya apa sesuatu yang absolut di dunia ini? Selain Allah swt sang maha pencipta, yang abadi adalah perubahan itu sendiri.

Maka perubahan yang dipicu oleh pergerakan harus dipahami betul, bentuk dan arahnya. Harapannya dengan itu, dapat menjadi bangsa yang supel akan perubahan dan akrab dengan penyesuaian, untuk wajah yang lebih baik di masa depan.

Memperingati kesyukuran adalah kebahagiaan yang tiada tara bagi civitas di dalam pondok, tidak terkecuali bagi semua yang merasa memiliki pondok ini, namun perlu diingat kiranya jika nikmat terus disyukuri maka akan diberi nikmat yang lebih lagi, sudah siapkah diri dengan nikmat yang lebih besar? Jangan-jangan tidak siap, jangan-jangan tidak kuat, jangan-jangan bisa berubah niat, jangan-jangan berubah ketulusan, berubah orientasi pemikiran, berubah hal yang telah baik dari pakem sebelumnya. Na’uzubillah tsumma Na’uzubillah.

Maka menurut penulis sendiri untaian kata “Taharrak Fa Inna Fil Harokati Barokatun.” Kiranya hadir sebagai jawaban bijak, syarat kental value kepesantrenan,  memiliki nilai luhur yang mudah diterapkan bagi mereka yang khusyu’.

Ibaratkan lari marathon peringatan 40 tahun ini adalah garis start yang telah dibuka. Maka sedetik disahkan ulang tahun pondok; saat itu juga lari marathon sudah harus dimulai! Jangan tertinggal dengan peserta lain, sebab kita mulai di garis start yang sama, meski lambat pastikan tetap berlari. Meski berjarak pastikan terus bergerak. Meski kebingungan, insafkanlah diri untuk terus rajin bertanya pada guru yang mumpuni. Jangan malu bertanya karena itu nisyful ‘ilmu, dan jangan congkak tak ingin bertanya, seolah mampu mengatasinya sendiri. Sadarlah di atas langit masih ada langit, jangan merasa di atas langit, tidak ada manusia yang memiliki sayap, sehingga bisa terbang bebas di langit, yang ada kaki, maka sadarlah kaki masih memijak Bumi. Bersikaplah membumi, bukan melangit nan tinggi.

Sebelum akhir, kiranya penulis bertanya kembali. SETELAH MEMPERINGATI 40 TAHUN KESYUKURAN, APALAGI?

Jawaban tuan-tuan, jawaban puan-puan adalah jawaban terbijak yang kiranya bisa memberikan banyak perbubahan dan perbaikan bersama. Semoga... Aamiin... Waallahu A’alam.

 

 

 

Selasa, 18 Oktober 2022

Kesyukuran 40 Tahun Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah


 

Medan. Selasa, 18 Oktober 2022. Selamat Ulang Tahun Ar-Raudlatul Hasanah, selamat ulang tahun pondok kami, pondok seluruh umat muslim se-dunia, semoga panjang umur, sehat selalu raga dan jiwamu. Do’a kami tulus demi kejayaan dan kesuksesanmu. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

 

Di hari penuh kesyukuran ini, pesantren memperingatinya dengan perayaan yang melibatkan seluruh lini, baik internal maupun eksternal, dengan mengundang Gubernur Sumatera Utara, seraya meminta arahan dan nasehatnya sekaligus memohon kesediaan untuk peletakan Batu Pertama Gedung Cordoba. Gedung yang diproyeksikan sebagai klinik Kesehatan santri dan santriwati dilantai satu, Gedung 

 

Mengusung tema: “Berkhidmat Untuk Negeri, Menggapai Ridho Ilahi.” “Berkhidmat” dalam artian ibadah; beribadah mesti ada ketaatan dan kecintaan. Sebab tidak disebut sempurna satu ibadah tanpa rasa cinta, dan tidak akan disebut totalitas, jika rasa cinta ada, namun tidak ada ketaatan. Keduanya harus beriringan tidak bisa dipisahkan, demikianlah arti khidmat yang dimaksudkan, diartikan sebagai bentuk sikap taat dan cinta tanah air, syarat membela dan memperjuangan negeri ini.   “Menggapai Ridho Ilahi” adalah tujuan awal dan akhir hidup manusia. Dimulakan dengan mengucapkan nama Allah dan ditutup dengan nama Allah. Semoga khusnul khotimah. 

 

Ada hal yang menjadi tagline dari peringatan kesyukuran 40 tahun pondok pesantren Ar-Raudlatul Hasanah ini, terangkum dalam 5 Indikator keberhasilan. Pertama: Introspeksi dan refleksi diri. Kedua: Silaturrahim dan Publikasi Internal dan Eksternal Pesantren. Ketiga: Menunjukkan prestasi kerja dan keunggulan yang telah dicapai pesantren. Keempat: menjaring dan mengidentifikasi masukan dari dalam dan luar pesantren. Kelima: Menunjukkan kinerja masing-masing unit kerja dalam memenuhi tujuan yang telah ditetapkan. Dengan berbenah dari 5 (lima) aspek di atas berharap pesantren dapat menjadi lebih baik lagi ke depannya.