Iklan Multipleks Baru

Sunday, July 23, 2023

Pengalaman Nyantri Berkesan: Saat Santri Ingin Jadi Wartawan di Pesantren

 Saat Santri Ingin Jadi Wartawan di Pesantren

Menjadi salah satu santri yang terpilih dalam dunia jurnalistik adalah hal yang mahal pada masa kami menjadi santri dulu. Dari mulai seleksi yang sangat ketat, sampai pada seleksi perseorangan dengan diinterview satu persatu oleh penguji. Ketika mendaftar deg-degan, waktu mengisi form pendaftaran juga was-was, memenuhi persyaratannya ketar-ketir, sampai akhir menuggu pengumuman ketakutan tidak lulus bukan main. Genap rasanya overthinking memenuhi kepala ketika itu. Dan pada akhirnya betapa bangganya bisa terpilih dalam organisasi ini, serasa benar-benar orang pilihan yang terpilih.

 

Masing-masing kami yang jadi jurnalis muda pada saat itu, pasti memiliki ceritanya masing-masing, pengalamannya pasti juga berbeda-beda, dan yakin juga jauh diplosok negeri sana, mereka juga tetap ingat kejadian ini, bahkan mungkin juga menuliskannya dalam platform yang berbeda. 

 

Lain dengan kisah teman-temanku, lain juga dengan kisahku, untuk ini coba kuurutkan menjadi tiga poin penting, moment saat mendaftar, saat mengikuti ujian dan terakhir saat menunggu pengumuman. 

 

Tidak udah lebih panjang lagi dipenjelasan awal, mari kita masuk fase per fase langsung:


  • Pertama, mendaftarkan diri dengan mengambil form pendafaran dari panitia.

 

Mengenang masa itu, ketika selebaran ditempelkan di papan madding, bertuliskan: “Membuka pendaftaran bagi calon tim RDP (Raudhah Pos) baru, segera daftar diri Anda sebelum kuota penuh.”

 

Bukan main senangnya membaca informasi ini tertempel, siang setelah membaca pengumuman tersebut, langsung bergegas ke kantor panitia siang itu juga. Form pendaftaran pun ku baca perlahan sambil berjalan menuju dapur untuk makan siang, di dapur kubaca form berulang-ulang, shalat ashar dibawa ke masjid, waktu mandi masih dipikirkan, dan maghrib masih dibawa juga selembaran tadi ke masjid, sambil tukar pikiran dengan teman-teman lainnya. Sehingga mantaplah hati untuk mendaftarkan diri, menjadi kru RDP. Tetap setelah shalat isya form pendaftaranpun kukumpulkan ke meja panitia. Dan menunggu intruksi selanjutnya.

 

Tepat diakhir masa pendaftaran ditutup. Melalui bagian informasi, diumumkan sebuah pengumuman dari toa, bahwa seluruh santri yang mendaftar menjadi wartawan pesantren harap datang malam ini di masjid dengan memakai pakaian rapi, sambil membawa alat tulis, karena akan diadakan tes ujian masuk wartawan pesantren, familiar disebut kru RDP.

 

  • Kedua, ujian masuk ekskull yang sangat unik tak terpikirkan.

 

Kumpulnya tidak lama, singkat, padat, cepat. 

 

Untuk sebuah ekstrakulikuler, ini kali pertamanya kami mengikuti ujian. Pada tes ini seluruh peserta terdaftar dikumpulkan di masjid guna mendapatkan penjelasan seputar prosesi penerimaan tim RDP baru. Ini masih biasa namun ada yang tidak biasa ketika seorang ‘musyrif’ (pembimbing) membuka acara seleksi dengan salam, lalu kemudian bertanya:

 

“Apakah ada yang ingin mengundurkan diri? Sebelum masuk pada masa penyelksian, Jika ada yang tidak siap dengan kehidupan ala wartawan, silahkan kembali ke rayon sekarang!”

 

Sebuah 'muqoddimah' yang tak terpikirkan sebelumnya.

 

Sekilas kulihat sekelilingku, ternyata semua peserta masih bertahan di tempat duduknya masing-masing, akupun tak bermaksud bergerak lagi. Kuat dengan posisi, ingin tetap mengikuti awal seleksi sampai batas pengumuman. Dalam hati berharap besar, semoga bisa lulus.

 

Sampai tibalah waktu pembagian selembar kertas seleksi yang diberikan panitia kepada kami, berisi serentetan tugas, dan menariknya pada note merah di bawah kertas. Diharap menyelesaikannya dalam waktu 2x24 jam sejak saat kertas ini dibagikan.

 

Tanpa dibuka pintu untuk bertanya, beliau lalu salam dan pergi, berlalu begitu saja, membiarkan kami terpaku di tempat duduk kami, membiarkan kami berinisiatif untuk mengerjakan tugas dengan pola kemampuan nalar masing-masing. Sungguh menantang ujarku dalam hati.

 

Sambil duduk bersila lekat-lekat ku membaca ulang apa saja berkas persyaratan yang mesti disiapkan dalam waktu 2 hari ke depan ini. Isi soalnya:

 

a) Buatlah esai bebas yang menarik standar seperti “chicken soup”

b) Tulislah minimal 1 berita seputar pesantren mengikut kaedah 5 W 1 H.

c) Lakukan interview dan buat laporan hasilnya:

        1. Interview kepada seorang santri dengan tema bebas

        2. Interview kepada seorang guru dengan tema bebas.

 

Hanya tiga soalnya, hanya tiga tugas yang satu beranak satu jadi seperti empat tugas. Mulailah otak berfikir keras untuk bisa menyelesaikan tugas ini sebagai liputan pertama, terbayang tantangan pertamanya semua liputan interview, berita seputar pesantren dan esainya harus ditulis tangan di atas kertas folio. Terbayang akan berlipat-lipat gandalah kerjaan jika ditunda, maka tidak boleh ada penundaan.

 

Malam itu kondisi kamipun sudah banyak yang mulai bervariasi, ada yang memilih untuk mengundurkan diri, ada yang memilih untuk mendo’akan yang lanjut ada juga yang mencoba sebisanya, kalau tidak bisa tidak apa, dan ada juga yang bertaruh harga mati, harus bisa lulus, harus bisa masuk, harus bisa menjadi wartawan pesantren, masing-masing memiliki aninonya sendiri-sendiri.

 

Berpacu dengan waktu malam sebelum tidur terpikirkanlah ide-ide segar untuk merampungkan semua tugas, menjadi sebuah laporan yang menarik. 

 

Untuk esai rencana tulisannya tentang: “1 Muharram sebagai Awal Kalender Hijriah dan Sekaligus Momentum Ulang Tahun Pondok.” 

 

Untuk berita pesantrennya: “Memberitakan Kemeriahan Peringatan Apel Tahunan Pesantren”. 

 

Terakhir interview: Pertama ditujukan pada santri yang berprestasi mendapatkan beasiswa. Apa rahasianya, kok bisa dapat beasiswa, bisa berbagi tips cara belajar dan menghafalkan pelajaran, waktu-waktu enak menghafal, dan banyak persolan yang berkembang setelahnya.

 

Kedua kepada guru, tema tentang berbagi pengalaman hidup guru yang awalnya adalah seorang santri kemudian, diterima di Gontor, lalu menjadi guru di Gontor, lalu pulang ke Pesantren menjadi guru juga yang sangat berkharisma. Tips menjadi guru yang diidolakan, agar supaya tampil menarik dan juga percaya diri, dan berbagai persoalan lainnya.

 

Malam itu kebetulan mata sulit dipejamkan, pikiran masih terus berputar, maka malam itu juga semua yang terpikirkan langsung dicoretkan, di atas beberapa lembar kertas akhirnya segala bentuk ulasan, pertanyaan, peta konsep seluruhnya tertuang di sana. Sehingga keesokan harinya tinggal bertanya dan mencari narasumber saja, sambil berdo’a semoga narasumber yang ditargetkan bisa dijumpai seluruhnya. “Alhamdulillah akhirnya sebelum mata mengantuk oret-oretan besokpun sudah selesai.” Puasku menghela nafas.

 

**

  • Hari Pertama,


Pagi mulai bergegas masuk kelas lebih pagi, agar ada jeda waktu untuk membaca dan menulis esai, dilanjutkan tambahan referensi dengan mengunjungi perpustakaan pada istirahat pertama dan kedua, dan disela-sela itu, masih terus memperbaiki tulisan, hingga jam 2 siang selesailah tugas esai. 

 

Mulai habis ashar pergi interview guru yang mudah-mudahan saja ada di kamarnya, karena sistem asrama maka di pesantren guru bisa ditemui kapan saja, dimana saja, selama bukan jam istirahat maka sangat mungkin bisa dijumpai, terutama guru muda.

 

Dan sekali lagi “pucuk dicinta ulam pun tiba” mulai habis ashar hingga menjelang magrib prosesi interview berjalan lancar, sambil mencatat semua poin penting dengan tangan, tanpa ada recorder, tanpa ada alat pembantu kecuali, hanya pulpen, dan ingatan otak yang terus berkejaran dengan jari yang terus menulis di atas kertas acak-acakan. Memburu informasi dari narasumber yang dengan lugas dan cepatnya menceritakan tentang pertanyaan yang diajukan.

 

Mulai magrib hingga waktu tidur disibukkanlah diri ini, dengan tugas menyalin ulang hasil interview tadi sore dengan laporan hasil wawancara yang lebih tertib, rapi poin perpoin, pertanyaan dan jawaban, pertanyaan dan jawaban. Singkat cerita sebelum tidur malam itu tugas yang kedua selesai.

 

**

  • Hari Kedua,

Keesokan harinya mulailah membuat berita dan kemudian menginterview teman berprestasi, meguak bagaimana dia bisa mendapatkan beasiswa berkali-kali, makan apa dia, baca buku apa dia, vitamin apa yang diberikan orang tuanya, semua kupertanyakan, karena memang dia teman sendiri, jadi agak lebih amatiran bertanya nya. 

 

Dengan berakhirnya interview ini sebelum dhuhur, maka sangat lapanglah waktunya hari kedua ini untuk menyelesaikan tugas.  Menjelang ashar, seluruh tugaspun tuntas dikerjakan.

 

Saat pukul 6 menandakan waktu berangkat ke masjid, kali itu aku sudah di masjid 15 menit lebih awal. Mulailah membaca ulang seluruh tugas, seluruh laporan, seluruh tulisanku, takut-takut kalau ada tugas yang terlewat sehingga dapat menjadikan kurang nilai atau bahkan tidak lulus.

 

Menunggu malampun rasanya dengan penuh do’a. seusai shalat isya’ akupun bergegas mengantarkan tugasku di kantor RDP dan sambil terus berdo’a. 

 

  • Ketiga, pengumuman kelulusan keesokan malamnya.


Tidak lama menunggu saat pengumuman hanya berselang satu hari dari masa kami mengumpulkan tugas, malam ini kami kumpulkan, besok malam kami semua sudah berkumpul kembali di masjid dengan seragam rapi, sambil duduk rapi, kami dipanggil satu persatu untuk mengambil amplop yang masing-masing bertuliskan namanya, tidak boleh dibuka sampai aba-aba dimulai membuka baru boleh dibuka.

 

Sambil jantung yang terus deg-degan, ‘musyrif’ (pembimbing) RDP pun sedikit menjelaskan:

“Dalam kertas itu ada 2 keterangan tulisan. Diterima atau ditolak. Jika diterima, maka kamu adalah tim RDP yang baru mulai malam ini. Namun jika di kertas itu tulisannya kamu ditolak, maka dengan terpaksa kami sampaikan, kamu belum berkesempatan menjadi kru RDP. Dan silahkan meninggalkan tempat ini dengan segala kebesaran hati dan sikap sportif.”

 

Singkat, padat, cepat, lugas, ciri khas beliau, sungguh sangat menyeramkan. 

 

Nah, sekarang, silahkan dibuka:

 

Kurang lebih beginilah tulisan inti penerimaannya:

 

.

.

.
Ananda 

Atas Nama: Irwan Haryono S

Kelas: 4 B

Dinyatakan: LULUS

 

Selamat Bergabung sebagai kru Raudhah Pos (RDP).

Apapun yang terjadi “the show must go on”

.

.

.

 

Kurang lebih, begitulah ini kalimat di dalam surat tersebut yang masih aku ingat.

 

Alhamdulillah bukan kepalang senangnya diterima menjadi anggota inti santri yang berprofesi sebagai wartawan pesantren. Setelahnya banyak aktivitasku selama di dalam organisasi kecil ini. Mungkin akan kuceritakan dalam catatan berikut. Jika teman-teman pembaca tertarik untuk membacanya.

 

Terima kasih sudah membaca hingga sejauh ini. 

 

1 comments :

  1. oo, ternyata mantan RDP juga toh,,
    kami generasi pertama RDP,, dulu dalam membentuk RDP yang digunakan nilai Mata Pelajaran Bahasa Indonesia,
    Jadilah anggota RDP digenerasi pertama dan kedua tahun 2003 sampai 2004 pertengahan semester awal,,

    Begitu juga dgn matla, pengesahan namnya sebelum kami tamat sekitaran bula maret-mei oleh Ustadz Wahid,, Matla Gazette

    ReplyDelete

Terima kasih telah mengunjungi dan berkomentar bijak di situs ini.

Subscribe Us

Dalam Feed


*PENGALAMAN NYANTRI: Menikmati Setiap Detik Proses Kelak Menjadi Pengalaman Beresensi