Iklan Multipleks Baru

Sunday, February 18, 2024

Pengalaman Nyantri Berkesan: Pertemuan Santri Dengan Abang Stempel

 Pertemuan Santri Dengan Abang Stempel

 


Suatu sore santri mendatangi sebuah toko stampel, sambil menunggu stampel selesai dibuat, abang stampel bertanya: 

“Bang, stampel apa ini?” santri menjawab:

“Stampel untuk salah satu kegiatan yang aku pimpin dari organisasiku bang”

“Ada duitnya dari sini bang?” Tanya si abang stempel lagi.

“Kalau untuk kegiatan ini ada, tapi kalau untuk pribadiku nggak ada bang.” Jawab santri.

 

“Terus, kalau nggak ada duitnya, ngapain dikerjakan bang?” Tanya abang stampel dengan wajah heran.

 

“Karena kegiatan ini adalah ideku, dan kebetulan disetujui, jadi aku wujudkanlah bang.” Jawab santri santai.

 

“Bang kita tinggal di Indonesia bang, ide tidak dihargai, lain kalau abang keluar negeri sana, ide dihargai dan dianggap.” Timpal abang stampel sambil menatapku dengan tatapan wajah semakin keheranan.

 

“Oo begitu ya” Jawab santri pendek.

 

“Iya bang, saranku baik abang kerjakan yang menghasilkan duit” Nasehat abang stampel. 

 

“Kenapa gitu bang?” Tanya santri penasaran alasannya.

 

“Kasihan badan abang, mengerjakan sesuatu yang tak ada duitnya. Baik abang kerjakan sesuatu untuk keluarga abang, kasihan kan keluarga, abang menghabiskan waktu tapi tidak menghasilkan.” Jawabnya dengan penuh yakin, akan realitas di lapangan yang menurutnya mengharuskan pelakunya berpikir realistis.

 

**

Perbincangan masih berlanjut panjang, tapi kita hentikan sampai di sini ya, untuk mengambil hikmahnya.

**

 

Ada hal yang sangat menusuk pikiranku, ini bukan sekedar pertemuan yang kebetulan. Rasanya ini adalah pertemuan yang telah ditakdirkan dan juga obrolan yang mesti dibicarakan, karena memang itu bagian dari pembahasan jika realistis menjadi temanya. Oleh karenanya aku tertarik untuk menuliskannya dalam catatan kali ini.

 

Ada 5 poin penting yang aku garis bawahi dalam perbincangan singkat tersebut:

 

Pertama: Di luar sana, manusia beragam macam bentuknya.

 

Banyak orang idealis, banyak orang realistis, banyak orang opurtunis, banyak orang sinis, banyak ‘orang mukhlis’ (ikhlas), dan lain sebagainya, pandai-pandailah membawa diri, semoga tidak terjerumus di dalam satu pergaulan saja dan lalu fanatik. Sehingga membutakan mata untuk memandang mana benar, mana salah. Mana baik dan mana yang buruk.

 

Pertemuan kemarin membuat aku tersadar bahwa pola pikir manusia memang tidak bisa dipaksakan, semua apa yang ada disekelilingnya mendasari dari sifat dan sikapnya dalam prilaku kesehariannya.

 

 

Kedua: Realistis menjadi warna saat ini.

 

“Jika tidak menghasilkan untuk apa dikerjakan”, kalimat logis singkat dan juga sangat akrab di telingaku, hampir kemana-mana aku berpijak, ketika menyinggung tentang pembahasan bab keikhlasan, selalu ditutup dengan kalimat di atas, “jika tidak menghasilkan untuk apa dikerjakan”.

 

Padahal dalam hidup ini ada dua hal yang perlu kita penuhi dan jaga. Dunia dan akhirat, dhahir dan batin, realistis dan abstrak. Boleh jadi semua yang tak nampak sekarang bekasnya, akan tampak jelas sebagai tabungan akhirat. Nantinya boleh jadi yang saat ini terlihat tidak menguntungkan padahal berupa deposito atau asuransi multiguna yang dapat diambil ketika kondisi terdesak dan dibutuhkan.

 

Ketiga: Kasihan badan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak menghasilkan.

 

Secara fisik memang iya, ada benarnya ungkapan di atas, ditambah lagi penguatan argumentasinya, di waktu yang seharusnya tubuh ini bisa mengembangkan beragam kegiatan lain; terpaksa harus meluangkan waktu untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya sukarelawan.

 

Sebuah niat benar-benar tulus, mulia ingin membantu tanpa pamrih. Bagi sebagian orang dipandang perlu dan harus memang demikian. Tapi ternilai tidak tepat guna bagi kaum realistis. Karena dasar melakukan sesuatu harus ada benefitnya. Kita beribadah juga karena mengharap surga dan takut neraka. Namun bagi sebagian yang lain mungkin berbeda lagi pandangan dan pendapatnya, sebab apapun hal yang terjadi, akan berpulang kepada kemampuan nalarnya mengolah informasi. Dengan hal tersebut, hati seseorang, akan terasa damai dan tentrem jika yang dilakukannya senada dengan apa yang dipikirkan dan diyakininya sebagai suatu kebenaran. Biasanya demikian.

 


Keempat: Kasihan harus mengorbankan keluarga untuk hal sia-sia.

 

Satu posisi memang kasihan badan karena harus mengerjakan hal baru sehingga menyita waktu bersama keluarga, kolega dan bahkan target bisnis dan pekerjaan lainnya, namun perlu diketahui bahwa yang perlu dihidupkan dari dalam diri ini tidak melulu tentang fisik, ada psikis yang juga harus peka untuk menjadikannya tetap hidup, ada hati yang sifatnya abstrak, mesti dilatih agar dhomirnya tetap berfungsi dengan baik. Patokan berfungsi atau tidaknya hati adalah ketika hatinya mampu untuk merasa simpati, empati dengan sekitarnya. Maka untuk itu upaya berpartisipasi dalam kegiatan yang sifatnya sukarelawan adalah upaya memberikan psikis dan hati makan, agar hidupnya juga sama baiknya dengan fisik.


 

Kelima: Ikhlaslah jika keikhlasakanmu diuji, berusaha luluslah dalam setiap ujian yang terus berganti-ganti.

 

Orang ikhlas akan selalu diuji dengan keikhlasannya, baik itu lewat ujian peristiwa, maupun kata-kata. Terkadang ujian berperan luar biasa menghancurkan iman di dada, semua amal yang telah dirintis sedari awal menjadi taruhannya. Akan selalu ada cobaan yang tak henti-hentinya dalam setiap tindakan manusia dan sebaik-baik santri adalah yang mampu melewati itu semua dengan predikat lulus, menjadi insan kamil.

 

Pada akhirnya menurut pengalaman kali ini, perbedaan antara kaum realistis dan abstrak adalah: Realistic menganggap semua yang pasti-pasti sajalah yang harus dikerjakan, sedangkan kaum abstrak, semua yang tak tampak, jika dikerjakan dengan ikhlas adalah sebuah kekuatan yang efeknya memperkuat atom-atom dalam diri, menciptakan energi baru yang menarik hal-hal positive lainnya untuk mendekat.

 

Yah begitulah pengalaman santri berkesan kali ini, semoga dapat menginspirasi para teman-teman pembaca.

 

Wallahu’alam.

Wal’afwu.

 

0 comments :

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi dan berkomentar bijak di situs ini.

Subscribe Us

Dalam Feed


*PENGALAMAN NYANTRI: Menikmati Setiap Detik Proses Kelak Menjadi Pengalaman Beresensi