Selasa, 18 Oktober 2016

SATU JODOH DUA ISTIKHARAH


         Kemarin, Senin siang, 17/10/16. 13.30, kiriman buku ini sampai di pos tempat kerjaku. Ku ambil bukunya, tanpa membuang waktu ku buka lembaran awal, setelah ku baca prolog di belakang kulit buku ini pastinya. Hari ini, Selasa, 18/10/16. 10.15wib, ku tuliskan catatan kecil tuk berbagi kepada teman yang kiranya belum sempat membacanya.

       Kelihaian bang Ma’mun menjadikan pembaca betah menghabiskan buku hanya dalam satu kali duduk itu tidak bohong. hal yang sama selalu ku nikmati dari awal membaca novel-novelnya. Hingga detik ini tidak ada satu novelpun yang luput dari pembacaanku terkait karya bang. Ma’mun Affany.

            Awal melihat judul “Satu Jodoh Dua Istikharah” fitrah rasanya akalku berfikir kalau tidak pria, ya wanita yang beristikharah untuk mendapatkan keyakinan satu dari dua pilihan. Namun apa yang ku terka ternyata berbeda setelah selesai membaca. Tidak hanya keajaiban shalat yang di ceritakan di dalamnya tapi lebih kepada hakikat langkah nyata yang dilakukan setelah shalat istikharah yaitu ‘amaliah’ keyakinan. Sejauh yang ku tahu Ishtikharah bukan memilih satu dari dua kebimbangan, tapi memperkuat pilihan yang telah diyakini; bermohon  pilihan yang diambil  mendapatkan keridhaan  Allah swt, untuk hidup di dunia hingga akhirat nantiya.

Bercerita latar Surabaya serasa sangat tak asing bagiku, Surabaya, Gubeng, Bungurasih, adalah tempat yang selalu aku lewati ketika awal keberangkatan dari kota Batak Medan menuju kota Jawa Surabaya untuk bertolak ke Ponorogo. Kental aroma kota sangat tergambar, hiruk pikuk kehidupan kota dengan sekian gemerlapnya juga tak lupa. Aku serasa kembali ke Surabaya ketika membaca novel ini, serasa kembali mengunjungi taman bungkul, hingga ke lamongan,  melewati seluruh ruas jalanan kota bahari.

Salman, Walda, Fatimah, Tania, Ahmad, Wisam, Salim, masing-masing memiliki karateristik yang jelas untuk menduduki satu peran dan lakon di dalam novel ini. Terbayang kuatnya cinta salman membuat seluruhnya heran bukan kepalang, setianya Walda memberikan perhatian tanpa balasan, Fatimah yang terlanjur cinta mati namun tak pernah patah arang, Tania yang merasa hina setelah bertemu pria yang benar-benar cinta padanya, Wisam yang dulunya menjadikan Salman teladannya, kini berbalik roda menjadi tuan di tempat cafe yang dibangun sesuai petuah salman sebelumnya, hingga kakak kandungnya Salim, merupakan kakak yang bersedia merawat detik-detik akhir, ketika adiknya tak mampu lagi berbuat apa-apa selain terkulai lemas dan tak mampu berbuat apa-apa selain hanya pasrah menanti ajal dalam sisa umurnya.

Seandainya umat muslim diperbolehkan berandai, aku berandai memiliki wanita yang benar-benar tulus cintanya terhadap pria seperti Fatimah yang setia pada Salman. Tak kenal lelah, tak kenal putus asa, tak peduli kata-kata miring para sahabat, tak di gubris semua cibiran, hingga ajakan orang tua untuk mengakhiri hubungannya dapat diyakinkannya dengan kelembutan tutur dan caranya mempertahankan keputusan; menjaga hati yang masih bersemi cinta, dan bertanggungjawab untuk semua kesalahan yang mungkin itu bukan kesalahannya sepenuhnya. 

Sekilas terkesan berlebihan jika pembaca sampai membawa cerita ini kedalam kehidupan nyata, tapi apa daya pembaca yang terhipnotis oleh kelihaian tinta bang Ma'mun, menggores kertas, menghasilkan cerita cinta. Jikalau boleh berandai kedua kalinya aku ingin karakter Fatimah hidup di seluruh wanita Jagad Raya agar tiada pria yang putus asa. Agar tiada pria yang tak mengenal arti cinta sebenarnya. Agar pria benar-benar belajar cinta dari wanita yang penuh dengan ketulusan cinta setelah tumbuh dewasa. Hup... Maaf kalau bermimpi disiang bolong.. 

         Jikalau tidak kuberhentikan catatanku ini, aku yakin tidak akan berhenti sampai disini, mungkin akan berlanjut sebanyak halaman novel ini di tulis, bahkan mungkin lebih. Sebagai pembaca aku punya penilaian, aku punya catatan, aku punya pemikiran dan itu pasti aku bumbuhkan di dalam catatanku jika aku mengomentarinya, bukan tidak mungkin aku membuat catatan yang sama tebalnya hanya untuk mengungkapkan betapa luar biasanya buku yang barusan aku baca ini.

         Kehidupan dalam novel ini, menceritakan awal jual-beli, berawal dari tempat segala jasa di perjual belikan, bahkan tubuhpun memiliki label harga. Namun demikian, buku ini memiliki syarat hikmah membacanya dan penawar jitu bagi siapa saja yang putus asa, tenggelam karena masa lalu, pembaca sendiri baru tahu jika cinta sudah berbicara “Tidak ada kekurangan yang tidak bisa di tutupi dan tidak ada kesempurnaan yang tidak semakin menjadi-jadi” “Cinta adalah keingingan dan Jodoh adalah anugrah” kata bang Ma'mun di dalam novel ini, lantas bagaimana jika cinta berakhir jodoh sehingga menjadi anugrah walau menempuh beribu ujian dan cobaan? Intinya cinta yang di gambarkan novel ini bukan sekedar keinginan, tapi anugerah yang harus tetap disikapi dengan penuh hikmah dan kesabaran.

Akhir kata sebelum ku tutup cerita-menceritakan sekelumit dari novel ini. Menurutku Ini adalah novel Penggugah Rasa dan Cinta yang mengambil alur kisah remaja dan orang tua. Alangkah baiknya jika novel ini di konsumsi anak kuliah keatas bukan abg kebawah, sebab menurutku standar umur segitulah yang mampu membedakan mana benar-mana salah, mana penasaran mendatangkan ilmu, dan mana penasaran yang mendatangkan keingingan mencoba dan mencontoh tanpa menyaring manfaat dan mudharatnya. (Na’uzubillah).

Silahkan baca novelnya! Saran ku, sebelum lembaran novel terakhir habis, pilih tempat yang sunyi, sediakan tissu agar ia menjadi saksi ketika anda berkaca-kaca, dan ikhlaslah meninggalkan akhir episode dari kisahnya. 

Penutupku, bagaimanapun penilaian anda setelah membaca novel ini, tokoh “Fatimah Itu Luar Biasa; Siapapun Anda Jika Anda Wanita Anda Pasti Bisa Seperti Dia Bahkan Lebih”. Dengan Penuh Keyakinan Aku bersuara

0 komentar :

Posting Komentar