Jumat, 28 November 2014

Berbelas Kasih; Proses Penyatuan Agama Pluralis

resensi compassion photo compassion_zps4b9edd0a.jpgKata bahasa Inggrisnya (copmpassionnate) sering di persamakan dengan “kasihan” dan dikaitkan dengan kebajikan sentimental yang tidak kritis: Oxford English Dictionary, misalnya, mendefenisikan “Compassionate” sebagai “Pritieous” (“memilukan”) atau “Pitiable” (“Menyedihkan”). Persepsi compassion seperti ini tidak hanya meluas, tetapi telah tertanam. Ketika Karen Amstrong memberi kuliah di Belanda baru-baru ini, dia dengan tegas menyatakan bahwa belas kasih tidak berarti merasa kasihan kepada orang lain, tapi terjemahan Belanda atas teks karen disurat kabar De Volkskrant secara konsisten menerjemahkan “compassion” sebagai “Pity”. Tapi, “Compassion” sebagian diturunkan dari parity latin dan pathin Yunani, yang berarti “menderita, menjalani atau mengalami”. Jadi, “Compassion” berarti “menanggungkan [sesuatu] bersama orang lain”, menempatkan diri kita dalam posisi orang lain, untuk merasakan penderitanannya seolah-olah itu adalah penderitaan kita sendiri, dan secara murah hati masuk kedalam sudut pandanganya. Itulah sebabnya belas kash secara tepat diringkas dalam Kaidah Emas, yang meminta kita untuk melihat kedalam hati kita sendiri, menemukan apa yang membuat kita tersakiti, dan kemudian menolak, dalam keadaan apa pun, untuk menimbulkan rasa sakit itu pada orang lain. Belas kasih, oleh karena itu, dapat didefinisikan sebagai sikap altruisme konsisten yang berprinsip. (Lihat hal. 15)
Inti dari hidup dalam setiap agama dapat di saksikan adalah bermuara pada satu titik hati yang tentram, damai dan suka membantu. Mengingat jawaban dari guru bijak cina Konfusius (551-479 SM) ketika di tanya mana diantara ajarannya yang bisa dipraktikkan muridnya “sepanjang hari dan setiap hari” menjawab: “mungkin perkataan tentang shu (‘tenggang rasa’). Jangan pernah melakukan apa-apa kepada orang lain yang kau sendiri tidak ingin mereka lakukan untukmu.” Menurutnya ini adalah inti sari yang terdapat dalam seluruh metode spiritual yang disebutnya jalan (dao). Perbandingannya jika kita lihat dan kita saksikan bersama disana terdapat perbedaan yang luar biasa signifikan dengan pernyataan dari nabi yang meletakkan kata-kata pasti pada setiap umatnya. Jika mengikutinya akan tetap pada jalan yang lurus sedang sebaliknya jika ingkar maka tinggal menunggu waktu kehancuran. Bukankah dalam hal ini seorang muslim mempertaruhkan keimanannya dengan kata-kata pasti’. Dalam hadist, nabi pernah bersabda yang berarti: Tidak beriman seseorang, sebelum kecintaannya terhadap saudaranya seperti kecintaannya terhadap dirinya sendiri.”  
Betapa jelas namanya Islam tidak pernah mengenal kata mungkin’ tapi selalu mengenal kata jaminan “pasti”, sebab sudah terang di jelaskan bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Akibatnya juga tidak sembarangan apalagi kebohongan. Akan tetapi kenyataan yang bisa dipertanggungjawabkan. “karena Allah tidak pernah ingkar janji” Maka berbahagialah mereka yang tetap teguh dalam satu ikatan suci dan selalu bertobat dari penyimpangan jalan kebenaran.
Buku ini merupakan salah satu karya Karen Amstrong selain Sejarah Tuhan (kisah 4000 tahun pencarian Tuhan dalam agama-agama manusia), dan Masa Depan Tuhan (sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme). Yang semua buku tersebut adalah hasil buah pikir Karen sendiri. Dia bukanlah seorang peneliti, tapi dia maneliti dengan begitu sangat handal. Sikap ilmuan yang berhasil membentuk dirinya sehingga dapat memaparkan kebenaran dengan begitu sangat objektif. Selalu menjaga keotentikan karya yang akan dituliskannya sehingga di cetak banyak; tanpa dia sadari karyanya menjadi buah tangan yang fenomenal; dengan serta merta dia dinobatkan sebagi penulis best seller dan juga sebagai peneliti yang tidak berat sebelah karena setiap katanya bernash memiliki bukti nyata serta rujukan langsung dari kitab suci tiap agama.
Buku ini juga memiliki ke khasan sendiri yang dapat di nikmati oleh orang banyak. Diantaranya, saran buku rujukan untuk bacaan lebih lanjut (lihat hal 231) Buku ini tidak sekedar buku yang berani menampilkan opini yang kontropersial sehingga menjadi buah bibir banyak orang; tapi juga mengarahkan pembaca untuk menggali informasi lebih lanjut tentang arti belas kasih itu sendiri. Petikan kata yang dapat langsung kita baca “kita tidak akan pernah cukup belajar tentang belas kasih. Disini, Anda akan menemukan beberapa buku yang akan memberikan wawasan dan akan menyemangati Anda sepanjang menjalani program ini. Telisiklah sampai Anda menemukan penulis yang pendekatannya cocok dengan Anda; beberapa di antara buku-buku ini memuat bibliografi yang luas, sehingga Anda dapat menjelajahi ide-ide penulis favorit anda secara lebih mendalam dan melihat apa yang mereka baca.. Anda mungkin ingin memulai dengan mengeksplorasi mitos dan ajaran tradisi Anda sendiri, tapi akan sangat bermanfaat jika Anda juga menemukan wawasan tentang tradisi lain, yang membantu Anda untuk melihat diri Anda sendiri secara berbeda.” (Lihat hal. 231)
Sebagaimana yang tertulis di ‘cover’ buku. Compassion 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih. Adapun pembahasannya lebih mendetail terdapat pada 12 judul didalamnya. Diantaranya: Pertama, Belajar tentang Belas Kasih. Kedua, Lihatlah Dunia Anda Sendiri. Ketiga, Belas Kasih pada Diri Sendiri. Keempat, Empati. Ke lima, Perhatian Penuh. Keenam, Tindakan. Ketujuh, Betapa Sedikitnya yang Kita Ketahui. Kedelapan, Bagaimana Seharusnya Kita Berbicara kepada Sesama. Kesembilan, Kepedulian untuk Semua. Kesepuluh, Pengetahuan. Kesebelas, Pengakuan. Kedua Belas, Cintailah Musuhmu.
            Semakin dibaca lebih mendalam, ternyata 12 judul kecil dalam buku ini menggambarkan poin penting yang hampir di pastikan terdapat di seluruh agama. Dengan ilustrasi ringan ia berusaha menggambarkan teori-teorinya. begitu ringan dan menarik. Seperti halnya ilustrasi tentang kecakapan mengemudi mobil, tidak dapat dipelajari hanya dengan membaca panduan manual mobil; seorang itu harus masuk kedalam kendaraan itu dan latihan menjalankannya sampai keterampilan yang diperoleh dengan susah payah menjadi watak kedua.
            Sama halnya seseorang tidak dapat belajar berenang dengan duduk disamping kolam renang menonton yang lain melompat-lompat di dalam air; orang tersebut harus mencemplungkan diri dan belajar untuk mengapung. Jika ia tekun, ia akan mendapatkan kemampuan yang pada awalnya tampak mustahil. Sama halnya dengan belas kasih: kita bisa belajar tentang susunan saraf otak dan persyaratan tradisi kita tetapi hanya setelah dan kecuali jika, kita benar-benar mengubah perilaku kita dan belajar untuk berpikir serta bertindak terhadap orang lain sesuai dengan Kaidah Emas, barulah kita akan membuat kemajuan. (lihat hal. 34)
            Inilah satu-satunya buku kompleks tentang agama yang berhasil menjadikannya buku bermuatan fakta objektif, dan terpercaya. Ada buku semisal dengannya berjudul “Menuju Kesempurnaan Akhlak” karya Ibn Miskawaih, isinya hampir sama, memiliki pembagian-pembagian beberapa bagian, hanya saja pembagiannya disini hanya sampai enam, berorientasi pada kesempuranaan akhlak yang itu merupakan orientasi tertinggi dari bidang keilmuan dan keimanan yang dimiliki seorang muslim. Dan juga hampir sama dengan buku yang di tulis oleh’Atif Abdul ‘id berjudul “Membuat Orang Jatuh Cinta dalam 1 Detik” dalam buku ini memaparkan dan menuntun pembaca kepada cara berkomunikasi dan berinteraksi syarat saling memahami. Sehingga dapat menimbulkan rasa kecintaan terhadap sesasama, menarik simpati, dan mempengaruhi orang lain. Pada intinya walaupun mirip tapi tidak sama.
            Buku Compassion karya Karen Amstrong ini seakan menyajikan buku karya Ibn Miskawaih dan ‘Atif Abdul ‘id, secara apik bersamaan. Di kolaborasikan menjadi buku yang sangat komplit dan sistematis. Bahkan lebih komplit dengan penambahan kisah, sejarah, pemikiran, fakta dan realita yang tercantum dibuku ini.
            Mencari kelemahan buku ini, terasa sangat sulit, hampir tidak di dapatkan kekurangannya. Sangat layak dibaca untuk semua kalangan tidak terkecuali. Hanya saja satu yang sangat disayangkan mengapa buku berjudul Compassion ini hanya berakhir di halaman 247, mengapa tidak setebal “Masa Depan Tuhan” 609 halaman, atau “Sejarah Tuhan” 676 halaman. Buku ini serasa 3 kali lipat lebih tipis dibandingakan karya-karya Karen yang lainnya, untuk bahasa buku yang mudah dicerna dan di pahami. Buku ini serasa begitu sangat singkat perlu edisi kedua sebagai lanjutannya.

Akhir kata dari peresensi selamat membaca dan menikmati bukunya.


Judul Buku    : COMPASSION
(12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih)

Penulis            : Karen Armstrong
Penerbit          : PT. Mizan Pustaka
Tahun Terbit : Cet 1, Maret 2013
Tebal              : 247 hal. 15,5x23,5cm
Resensator     :Irwan Haryono S 

0 komentar :

Posting Komentar