Senin, 01 Desember 2014

Al-Hikam (Ibnu Atha’illah Al- Iskandari)

Al-Hikam Ibnu Athai'llah Al-Iskandari photo al-hikamIbnuAthaillahAl-Iskandari_zps86421c60.jpg
Al Hikam adalah salah satu buku turos (kitab klasik) yang merupakan hasil dari tulisan yang di lahirkan oleh imam sufi besar abad ke-7 yang juga dikenal sebagai seorang da’i (penceramah) ulung, kiai tarekat, ahli hadits, dan ahli fikih mazhab maliki. Abu Al-Fadl Ibnu Athaillah Al-Iskandari, begitulah nama lengkapnya.

AL HIKAM, Kitab Tawauf Sepanjang Masa  TERLENGKAP YANG PERNAH DI TERBITKAN ini merupakan hasil kumpulan dari pada ulasan Ibnu Atha’illah yang di bagi menjadi 5 sub bagian. Pada setiap isi buku ini memiliki keterangan dan penjelasan masing-masing. Terhitung mulai pengantar penerbit, prolog, dilanjutkan dengan bab awal yang bertuliskan “Buku Pertama”, bagian kedua bertuliskan “Buku ke dua” di bagian ketiga bertuliskan “Surat-Surat Ibnu Atha’illah untuk sahabat-sahabatnya” di bagian keempat bertuliskan “Doa-Doa Ibnu Atha’illah” dan di bagian terakhir bertuliskan “Teks Arab Al Hikam Ibnu Atha’illah” dan kesemuaannya megandung ulasan singkat padat dan jelas dari Syeikh Abdullah Asy-Syarqawi Al-Khalwati (seorang Grand Syeikh Universitas Al-Azhar Mesir dan Mufti Mazhab Syafi’i) dalam penjelasannya beliau selalu meruntutkan logika berfikirnya secara argumentatif sistematik (meminjam istilah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi M.A M.Phil)  sehingga buku yang terlihat tebal diawal tidak menjadikannya angker karena ketebalannya, akan tetapi menjadi ringan dengan konten isi yang begitu familiar untuk di cerna, tulisan dalam buku ini tidak lebih dari sebuah kata mutiara yang di jelaskan satu persatu menurut kelasifikasinya masing-masing.

Sama halnya dengan buku La Tahzan (jangan bersedih) karya Aidh bin Abdullah al-Qarni yang dalam penjelasan bukunya, beliau juga sering mengawali tulisannya dengan sebuah kata bijak, puisi, hadits ataupun potongan dari ayat suci al-Qur’an yang kemudian di jelaskan secara lebih gamblang lagi dengan bahasa beliau sendiri yang secara konseptual dan kontekstual sangat sesuai dengan zaman kita saat ini.

Mungkin ada sebagian kelompok masih bertanya siapa sebenarnya Ibnu Athaillah itu? Mengapa kata-katanya dapat menjadi ulasan menarik sehingga dapat di cetak dalam buku setebal ini? Dan apa sih sebenarnya isi kandungan isinya? Untuk menjawab keraguan ini semua.  Maka, berikut adalah petikan isi yang ada di dalam buku ini, kerap dapat mendeskripsikan bagaimana bentuk isi buku tersebut:

Dalam hal berteman Ibnu Atha’illah pernah bertutur kepada murid-muridnya (Lih. Hal. 70 )
Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik di matamu karena persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk dari pada dirimu.
Artinya, BERTEMAN dengan orang yang kualitas kebaikannnya berada di bawahmu amat berbahaya karena bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kau bangga dengan amalmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kau rela hati dan selalu melihat kebaikan-kebaikanmu. Itu adalah pangkal segala keburukan.
Boleh saja kau berteman dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu.
Disini Ibnu Atha’illah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang-orang ‘arif terbagi menjadi dua: pertemanan yang didasari keinginan dan pertemanan yang mengharap berkah.
Pertemanan yang didasari keinginan ialah pertemanan yang harus memenuhi syarat-syaratnya. Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan syeikh atau gurunya seperti seonggok mayat di tangan para pemandi mayat.
Adapun pertemanan untuk mengharap berkah ialah pertemanan yang tujuannya masuk ke satu kaum dan berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Disini tidak perlu ada syarat-syarat pertemanan. Yang paling penting adalah bagaiman ia berpegang pada batasan-batasan syara’. Diharapkan dari pertemanannya dengan kaum itu, ia akan mendapatkan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yang telah mereka raih. 
Dalam catatan yang lainnya Ibnu Atha’illah juga menerangkan zikir sebagai jalan terdekat menuju Allah. (Lih. Hal. 74)
Janganlah kau meninggalkan  zikir (mengingat Allah) hanya karena ketidak hadiran hatimu di hadapan Allah saat berzikir! Kalalainmu dari zikir kepada-Nya lebih buruk dari pada kelalaianmu di saat berzikir kepada-Nya. Semoga Allah berkenan mengangkatmu dari zikir yang disertai kelalaian menuju zikir yang disertai kesadaran; dari zikir yang disertai kesadaran menuju zikir yang disertai hadirnya hati menuju zikir yang mengabaikan selain yang diingat (Allah). “Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar,”
 (QS. Ibrahim[14]: 20)
 –Ibnu Atha’illah al-Iskandari-



Dalam hal memahami do’a buku ini juga menjelaskannya secara gamblang, dengan megutip kata-kata Ibnu Atha’illah berjudul “Penolakan Bisa Jadi adalah Pemberian” (Lih. Hal. 131)
“Ketika Dia memberimu, Dia mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasanya-Nya. Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan mendatanganimu lewat kelembutan-Nya.”
–Ibnu Atha’illah al-Iskandari –
KETIKA MEMBERIMU, Allah menampakkan sifat-sifat kebaikan-Nya, berupa kemuliaan, kemurahan, kebaikan, kelembutan, kasih sayang, dan sebagainya. Ketika Dia menolak memberimu, Dia menampakkan sifat-sifat kuasa-Nya yang mengandung keperkasaan, keunggulan, paksaan, kesombongan, kekerasan, dan ketidakbutuhan-Nya. Dalam dua kondisi itu, Allah mendekatimu dan menghadapimu untuk mengenali-Nya.
Kita pun demikian. Bila ingin dikenal orang lain, kita bisa memberi pemberian kepada orang itu, bisa juga menyiksanya. Kedua cara tersebut menjadi sebab kita di kenal oleh orang lain.
Maka pahamilah, dengan kedia cara itu, Allah mendekatimu. Karena pengetahuanmu tentang sifat-sifat kebaikan dan kuasa-Nya merupakan karunia dan kasih sayang terbesar Allah untukmu. Oleh sebab itu, kau harus mensyukurinya.
Kesimpulannya, yang di tuntut dari para hamba adalah agar mereka mengenali  Tuhannya melalui sifat-sifat dan nama-nama baik-Nya. Tak ada jalan lain untuk mengenali-Nya, Kecuali Allah sendiri yang mengenalkan diri-Nya kepada mereka.
Caranya, bisa dengan menurunkan musibah-musibah dan cobaan-cobaan-Nya, bisa pula dengan menganugerahkan pemberian-pemberian-Nya yang sesuai atau berbeda dengan keinginan mereka. Siapa yang mengenal tuhannya dengan baik, ia tidak akan terlena oleh kepentingan diri sendiri. Ia tidak akan membedakan antara pemberian dan penolakan Allah karena masing-masing merupakan jalan yang membawanya menuju makrifat tentang sifat Allah, baik itu yang berhubungan dengan sifat-sifat baik-Nya maupun  dengan sifat-sifat kuasa-Nya.
Buku ini sejatinya adalah buku pemikiran yang tidak semua isinya dapat di nikmati dengan begitu mudah, tapi tidak menutup kemungkinan untuk dapat di pahami bagi semua kalangan asalkan membacanya tidak cukup hanya sekali akan tetapi berulang kali agar dapat menemukan inti titik point pentingnya. Jika dipraktekkan demikian, tidak berlebihan rasanya jika diibaratkan makanan ringan yang benar-benar sangat renyah untuk dikunyah, bukan karena buku ini tebal terkesan angker, bukan karena penerbitnya, turos maka buku ini harus di baca layaknya kitab-kitab Turos (kitab kuning-Arab gundul yang tidak memiliki harakat/barisnya) yang harus memakai qowaid (tata bahasa) nahwu dan shorof[1] Yang karenanya buku ini bagaikan banker nasehat tanpa menggurui, pusat media untuk mengingatkan tanpa memakai kekerasan tapi dengan kepiawan sarah dari Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi  Al-Khalwati menjadikan kata-kata Ibnu Atha’illah Al-Iskandari  jauh lebih hidup, dan terasa nilai tersiratnya, sungguh sangat berpotensi, menghanyutkan pembaca untuk terus melanjutkan bacaannya lembar demi lembar hingga tuntaslah semua halamannya.
Di penghujung sebagai penutup resensi ini Ibnu Athaillah dalam buku ini juga menjelaskan bahwa “rahasia jiwa” menurut kaum sufi ialah keadaan hati, bukan mata hati. Perjalanan menuju Allah dalam pandangan mereka adalah salah satunya; menjaga diri dari syahwat, dan amarah bissuk. Oleh sebab, itu mereka memperbanyak berdzikir kepada Allah dengan upaya agar dapat fokus pada sifat-sifat terpuji, biasanya sifat ini tidak tumbuh kecuali dari banyaknya berzikir.




Judul               : Al-Hikam (Ibnu Atha’illah Al-Iskandari)
Penyusun         : Syaikh Abdullah Asy-Syarqawi Al-
                          Khalwati
Penerbit           : Turos Pustaka           
Cetakan           : Pertama, Maret 2012
Tebal               : 558 hal; 15,5 X 24 cm
Resensator       : Irwan Haryono S




[1] Nahwu: secara bahasa (arab) berarti: Ilmu yang mempelajari tentang asal usul kalimat arab  yang di dalamnya mengandung i’rob dan bina’. Berfungsi sebagai Sebuah tanda baca, qoidah dalam memahami tulisan yang bercetak Arab, yang karenanya kita mampu memahai artinya sesuai dengan arti makna yang sebenarnya, seab jika salah saja dalam harakat/baris dalam bahasa arab, itu dapat menyebabkan perbedaan arti dan maksud dari makna sebenarnya. Sedangkan Shorof: secara bahasa (arab), berarti : Ilmu yang mempelajari tentang asal usul kalimat arab  yang di dalamnya tidak terkandung i’rob dan bina’. Berfungsi sebagai alat untuk memahami arti dari sebuah kata, yang selalu berubah-ubah bentuknya dari bentuk yang satu menjadi bentuk yang lainnya dengan beberapa pergeseran bentuk menjadikannya terkadang sebagai subjek, prediket, objek, atau pun keterangan dan lain sebagainya.

0 komentar :

Posting Komentar