1 Dekade 1809

10 Tahun setelah alumni banyak yang berubah; tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri.

Rihlah Islamiyah RH 2 ke Barus

Satu-satunya Alat Penghubung Terbaik Antar Manusia adalah KOMUNIKASI YANG BAIK.

Menulislah dengan Sepenuh Jiwa dan Ragamu!

Menulis adalah aktifitas keseimbangan. Sebab ia menyatukan antara bacaan, akal, dan pemahaman.

Deburan Ombak Senja

Irama tidak mesti bersumber dari alat musik. Melodi juga tidak selalu dari getaran jari yang lihai. Keduanya berasal dari Alam. Itulah musik hakiki kehidupan.

Thawalib Padang Panjang

Rindu ini serasa bersambut, ketika pelukan sejuk Padang Panjang menyapaku disini. Tempat guru-guruku menuntut ilmu, tempat para pecinta ilmu mengkaji islam untuk lebih mengenal Allah dan Kekasih-Nya.

Jazakumullah Khoir Ustadzi

Gontor Kampungku, Unida Lahan Penggodokanku, jika tidak karena mereka aku bukanlah apa-apa dan bukanlah siapa-siapa.

Kota Perantau

Bukit Tinggi - Jam Gadang Kota Penuh Sejarah. Tokohnyakah itu! Perantaunyakah itu! Kebahagiaannyakah itu! dan/ataupun Keikhlasannyakah itu!

Sabtu, 28 September 2019

Aku Merasa Rugi Ilmu

Kerugian yang paling merugi saat ini adalah kerugian ilmu. Dan yang membuat kerugian itu semakin mengalami tekanan ketika diri terpengaruh dengan orang lain. Disana sebenar-benarnya penyesalan dan kerugian. Seyogyanya berpikir bahwa  “Kuliahku bukan karena orang lain. kuliahku untuk konsumsiku, untuk konsumsi akalku, sebagai bekalku terjun di masyarakat luas nanti.” Bukan karena dosennya tidak hadir sebagian makanya aku tidak hadir, bukan karena teman banyak yang izin membuat semangatku surut dan tidak pasang lagi, bahkan ekstrimnya harus berfikir seandainyapun dosennya tidak hadir semuanya, semangatku harus tetap hadir, dan harus selalu siap untuk  belajar, sebab hakikat kuliah bukan karena orang lain, namun karena memang ingin kuliah.

Meskipun kuliah tidak harus tatap muka dan duduk di dalam kelas, tapi interaksi ilmu bersama guru langsung, bagiku sangat penting dan itulah hakikat ilmu yang bersanad menurutku.

Ada penyesalan dalam hati ketika dengan sengaja mengorbankan tidak masuk kuliah hanya karena ingin memberi pelajaran kepada orang lain. Seharusnya Aku sadar filosofi lilin, seharusnya aku ingat filosofi pensil, berkorbanlah tapi jangan jadi korban, namun disini aku menjalani keduanya. Seandainya aku ingat, pasti tidak keputusan ini yang Aku ambil. Astaghfirullahal’azim..

Mulanya sudah termindset di kepala untuk mengikuti perkuliahan di setiap hari sabtu. Namun sepanjang sore sampai malam terdengar kabar ketidakhadiran dosen, konfirmasi dosen yang belum ada, segala info ketidak pastian tersebar dan lain sebagainya via WA. Seketika membuat pikiran dan hati berbolak balik, bimbang mengikuti perkuliahanlah ujungnya. Instink malas mulai melogikakan jarak tempuh kuliah, otak bisnis mulai memikirkan untung rugi tenaga yang dikeluarkan, perasaan baperpun mulai terusik dengan beberapa kasus yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, membuat akal pendek mengambil keputusan untuk tidak hadir perkuliahan.

Mulailah alasan beranak pinak hingga ke cucu, menghasilkan pilihan yang beraneka ragam. Ada alasan penugasan, tugas dadakan, acara penyambutan tamu, menguji ujian, dan alasan kesibukan lainnya, walaupun itu benar-benar sedang dihadapi pasti ada yang prioritas yang harus di kedepankan seharusnya.


Pelajaran yang ku petik dari kejadian hari ini adalah: Ternyata tidak hadir kuliah dengan tanpa alasan syar’i sungguh penyesalan yang nyata.
Cukup kali ini adalah kali pertama dan terakhir mejalani pengalaman keilmuan yang menyedihkan ini. Kedepannya harus berpikir 1000 kali lipat untuk meninggalkan perkuliahan. Terbayang wajah para kakek Alm hamka dan Alm. Habibie melirikku, mengisyaratkan untuk tidak mengulanginya kembali. Samar-samar pesan mereka kembali tergiang bahwa “Kita ini terlahir dari bangsa baik, terbesarkan untuk menjadi bangsa besar, memiliki pikiran besar, dan bercita-cita tinggi menjulang ke angkasa."

Untuk itu, semangat juang dan usahaku harus lebih besar dari apa yang telah di contohkan kakek-kakekku. Sebab sadar tidak sadar, mau tidak mau, Aku yang sekarang adalah miniatur bagaimana Aku dimasa akan datang. Maka buatlah miniatur kejayaan bukan miniatur kebobrokan.

Sabtu, 28 September 2019


Minggu, 01 September 2019

Semangat Tahun Baru Islam 1441 Hijriah Semangat Menjadi “Baik”

Pada umumnya peringatan tahun baru Hijriah selalu di rayakan dengan berbagai macam  kegiatan, baik berupa perayaan besar-besaran ataupun kecil-kecilan. Dalam lembaga biasanya diperingati  dengan upacara civitas lembaga, bisa juga dengan parade baris berbaris, ada juga dengan pawai keliling. Dalam peringatan lainnya, secara umum diadakan pameran artefak hijrah rasul, perlombaan keagamaan, dan lomba-lomba lainnya untuk memeriahkan hari tersebut, namun kali ini bukan itu yang saya maksudkan, lebih kepada semangat perubahan menjadi lebih baik, itulah titik fokus coretan ini.

Berawal dari do’a Kyai Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor) yang selalu menyelipkan bait do’a indah ketika memimpin do’a. “Ya Allah jadikanlah kami umatmu yang baik dan perbaikilah umat kami. Jadikanlah kami rakyat yang baik dan perbikilah rakyat kami. Berikanlah kami pemimpin yang baik dan perbaikiah pemimpin-pemimpin kami. Jadikanlah guru-guru Kami guru-guru yang baik dan perbaikilah guru-guru kami. Jadikanlah anak-anak kami anak-anak yang baik dan perbaikilah anak-anak kami. Jadikanlah wali santri kami baik dan perbaikilah wali santri kami” Petikan do’a yang sungguh 5 tahun lamanya tidak saya dengarkan lagi, kali ini serasa beliau ada di sini, saat salah seorang ustadz di pesantren menyelipkan bait tersebut dalam do’anya usai upacara peringatan 1 Muharram 1441 H.

Yang menarik disini, yang membuat saya sadar adalah ‘matan’ (baca: Isi) dari do’a tersebut, sangat sederhana, kita meminta agar supaya ditetapkan Allah menjadi umat yang baik, pribadi yang baik dan insan yang baik,

Bagaimanakah baik itu sebenarnya?

Setelah pertanyaan ini saya layangkan mungkin setiap kita memiliki defenisi sendiri seputar kata baik. Namun dalam kaca mata saya pribadi, baik adalah ketika kita selalu ada untuk membantu orang lain dengan Penuh keikhlasan dan kesadaran tanpa harap kembali, baik itu balasan maupun ucapan terima kasih, itulah baik menurut saya. 

Berbeda pendapat saya, berbeda juga baik jika dilihat dari sudut pandang pesantren yang mengartikan orang baik adalah orang yang siap terjun ke plosok-plosok negeri, mengajarkan ilmu-ilmu agama, walau satu huruf, walau satu bait, di surau-surau terpencil, di masjid-masjid terpencil, itulah orang baik menurut pesantren sejauh yang saya tahu.

Namun pada intinya bagiku menjadi baik itu adalah upaya besar seseorang agar dapat menaiki tangga kehidupan menjadi “insan kamil” (manusia yang sempurna). Jalannya tidak mudah, upayanya juga cukup sulit, tapi selama ada keyakinan kuat lillah semoga ‘insan kamil’ bukan hanya sekedar cita-cita semata, namun dapat menjadi hal nyata pada akhirnya.

Menarik ketika mengenang samar-samar guru dulu pernah berpesan bahwa menjadi sosok manusia sempurna itu tidak mudah, banyak rintangan dan cobaan, ada yang taat Ibadah namun sombong dengan ibadahnya, mengira bahwa dengan ibadahnya itu ia bisa masuk syurga, ujung-ujungnya ibadahnya sia-sia. Oleh sebab itu, boleh jadi di dunia seseorang diangkat begitu sangat mulia namun di akhirat di anggap biasa saja, nauzubillah bila sampai di anggap hina, namun bisa jadi juga kebalikannya, di dunia di pandang hina namun di akhirat begitu sangat mulia bahkan namanya selalu di sebut-sebut oleh seluruh penduduk syurga, wallahu ‘aalam.

Sebagai penutup dari catatan ini, tidak ada harapan diri yang penuh dengan dosa ini selain dari pada perlindungan Allah swt di hari yang tak mampu seorangpun menolong orang lain selain atas izin Allah swt,. Kepada Allahlah saya memohon pertolongan, kepada Allah lah saya memohon ampunan.

Allahumma sholli wasallim ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Muhammad,
Innallaha wa malaa ikatahuu yusolluuna ‘alannabie ya Ayyuhal ladziina Aamanuu, shollu ‘alaihi, wasallimu taslima,

Wallau musta’aan.