Jumat, 01 Januari 2021

PENGHASILAN JUTAAN DARI MENULIS (Resensi part 1)


 PENGHASILAN JUTAAN DARI MENULIS (Resensi part 1)

Oleh: Irwan Haryono Sirait

 

 

Aku tak mengerti melihat fenomena kemiskinan di mana-mana. Di negeri subur nan kaya terhampar kemelaratan di berbagai sudut kota. Pertanyaannya apakah lapangan pekerjaannya yang benar-benar telah tiada, atau Dunia yang sudah tua sehingga tidak bisa diolah? Ataukah orang-orang Dunia yang malas berfikir dan bekerja? Atau malah rakyat Dunia ini sengaja dimiskinkan tak berdaya? Sehingga menjadi kaum papa pengharap tanpa berusaha? Beragam terka-menerka mengawali sebuah tulisan dibalik layar di tengah kota. 


Pertanyaannya, benarkah ini fakta kongkrit lapangan, atau bagian fana yang tak harus diperbincangkan, sehingga miskin-kaya bukan lagi wacana tapi tersistem terencana, yang miskin akan tetap miskin yang kaya akan tetap kaya.  


(Hah… Apanya kamu ini wan, gayamu ingin membahas dunia, mengatur jadwal sendiri saja kebingungan kamu,.. husst tak usah membahas terlalu jauh… kembali ke titik fokus awal. Rensensi saja buku ini!)    


Apa iya kejauhan ya….. hehehehe Asshiap kawan. J


Padahal ingin mencoba menulis serius, tapi kok kayaknya terlalu ngelantur ya, ok siap aku mulai dari ucapan terima kasih saja kali ya.


-------------------

----------------------------


Sungguh terhormat dan tersanjung sekali rasanya mendapatkan hadiah buku dari sang guru. Tak berujung kata mengucap terima kasih tiada tara, tak terlepaskan tangan menyambut ikhlasnya pemberian, seraya lisan terus berucap syukur tak henti-hentinya, haru karena bahagia; mendapat berkah ilmu melimpah ruah di balik lembaran setiap  yang tersusun dibalik buku bersampul merah.


Dimana-mana murid yang selalu memberikan hadiah pada guru, tapi seiring pergeseran zaman nampaknya guru-guru saat ini sudah menjelma menjadi malaikat kebaikan, yang serta merta selalu menginginkan kebaikan dan ikut serta menjadikan impian anak didiknya menjadi kenyataan. 


Pada kesempatan kali ini, bang Ma’mun Affany tidak menulis novel, tidak juga mengukir bahasa indah mendeskripsikan keadaan, waktu, dan raut paras seorang hawa. Tidak-tidak sama sekali, tapi lebih kepada tulisan ringan kontemporer, tidak tahu apakah karena covid 19 maka novel sedang di lockdown juga, ataukah memang hasil ramalan bintang menunjukkan peluang terjatuh pada tulisan penghasilan. bisa jadi kebutuhan masyarakat pembaca saat ini, hanya terdapat pada hal praktis bukan imajinasi lagi? apakah ini fakta atau masih terka-terka ya, tapi kayaknya fakta, wong sosok penulis buku ini seorang dosen kok, selain jago menulis juga jago meneliti beliaunya, alumni pengamat isu-isu dan ekonomi negeri, yang kurang lebih tahu arah, perhitungan, dan tujuan pasar.


(Hahaha… sekarang menjadi ahli nujum sayanya,…  gimana ceritanya 2019 sudah bicarain covid 19 di Indonesia.... Maaf kakak, abang-abang pembaca, ngelantur lagi sayanya)


 

Sekilas inginku deskripsikan buku yang baru kudapatkan ini: 


Berjudul          : Penghasilan Jutaan Dari Menulis

Penulis            : Ma’mun Affany

Penerbit          : Kanzun Books

Tahun              : September, 2019

Tebal               : 168 hlm

Harga              :    -        (sorry I tak tahu price book ni lah, sebab saye dapat ni, free gift dari cekgu tu)…. Hemm… dah sok melayu pulak lagi ni kawan..… udah dong wan, serius donk.

 

***
ok siap, ni serius ni kali ini… J


***


Buku Penghasilan Jutaan Dari Menulis (PJDM) ini adalah buku yang terlahir dari penulis kawakan yang telah melanglang buana belasan tahun berkutat di dunia penerbitan indie, dalam waktu terhitung singkat, Bang Ma’mun Affany dapat menjual ratusan novelnya dengan sangat mudah, hingga tiba pada momentum terbaik salah satu karyanya ditayangkan dilayar lebar ibu pertiwi, sungguh sebuah prestasi yang mudah-mudahan dapat ditiru generasi penerus ini. 


Buku bersampulkan pensil yang memiliki dollar dan pounterling ini, memiliki daftar isi yang merupakan daging semua, cocok bagi mereka yang lapar, empuk bagi mereka yang mencari-cari inpirasi, terkhusus bagi penulis pemula yang mandek menulis, karena tidak tahu akhir tujuan dari tulisannya, berhenti karena tidak tahu arah sebenarnya dari pelayaran tulisan tinta di dunia kepenulisannya. Di sini bang Ma’mun mengulasnya dalam 10 Bab, di mana masing-masing babnya memiliki sub judul yang syarat penuh keakraban dalam dunia pembaca. Terasa bukan penulis yang menulis, tapi adalah pembaca yang tiba-tiba terilhami untuk menulis.


Berikut rangkuman singkat yang Aku sarikan dari sekian sub judul yang semuanya sangat-sangat bagus dikonsumsi tanpa sisa. Secara singkat dan sederhana berikut 10 bab beserta beberapa sub judul yang aku angkat dalam tulisan ini. 


Bab. 1. Mudahnya Menulis. (h. 1) 

    Sub: Mengawali Menulis (h. 2)

·      Ternyata Memulai menulis yang paling baik adalah dengan membaca sebanyak-banyaknya, sesuai tujuan kita. Jika ingin menulis novel yang dibaca jangan buku-buku ilmiah tapi novel. Jika ingin melahirkan buku motivasi, maka bacalah buku-buku motivasi. Sebab pada intinya menulis adalah manifestasi dari apa yang dibaca, disamping itu juga sebagai wadah menyampaikan pesan tulus penulis.


Sub: Tulislah Yang Ada Di Dekat Kita. (h. 13)

·      Menulis yang paling mudah justru pada sesuatu yang memang sangat dekat dengan kehidupan kita. Alasannya, kita benar-benar tahu dan tidak perlu memeras imaginasi untuk membuat cerita, kita hanya butuh merangkai setiap episode yang pernah kita rasakan.

·   Bukankah hidup selalu becermin dari kehidupan orang lain, atau sejarah orang lain untuk dicontoh?


Sub: Jangan Salah Jenis Tulisan. (h. 18)

·    Fiksi basisnya lebih banyak imaginative. Meskipun ada unsur kenyataan, namun ada sisi imaginasinya.

·      Menulis fiksi mengedepankan rasa. Indah dalam berbahasa, dan menghasilkan tulisan yang enak dibaca.

·      Ketika kita menulis fiksi, bukan berarti sama sekali tidak akan bisa menulis opini. Tapi dalami terlebih dahulu satu genre sehingga benar-benar tahu bahwa menulis adalah persoalan rasa dan menyampaikan ide.

·      Kuncinya ada pada bahan bacaan awal yang menjadi nutrisi. Ingin menulis fiksi harus banyak membaca novel. Ingin menulis non fiksi, juga harus banyak membaca non fiksi. Teorinya, ada yang kita tulis sebenarnya hanyalah pantulan dari apa yang dibaca dibumbui sedikit pemikiran kita. Oleh sebab itu menulis juga seberapa kuat kita mampu membaca sebagai asupan wajib bagi para penulis.


Sub: Kesabaran Bukan Kecepatan. (h. 21)

·    Dalam beberapa hal menulis digunakan sebagai terapi kesabaran. Untuk menulis seratus halaman bisa membutuhkan seratus hari. Setiap hari menulis satu halaman, satu halaman, dan satu halaman. Istiqomah dalam menulis akan melatih jiwa sabar

·      Maka yang paling penting dalam menekuni dunia tulis-menulis, adalah adanya passion, sama seperti memperdalami seni-seni yang lainnya.

·      Menulis adalah panggilan jiwa. Filosofinya seperti mengumpulkan cahaya matahari oleh kaca pembesar. Cahaya yang tadinya menyebar dikumpulkan menjadi satu, hasilnya adalah mampu membakar kertas atau daun kering. Begitu juga ketika seseorang sudah terpanggil jiwanya. Gairah dan motivasi terkumpul menjadi energi besar yang menggerakkan untuk terus menulis.


 

Bab. 2. Kendala Menulis. (h. 23)

Sub: Menulis Di Waktu Sibuk. (h. 30)

·      Di dunia ini siapa yang tidak sibuk? Benar. Rasanya semua memiliki pekerjaannya masing-masing, namun ternyata menulis adalah persoalan bagaimana pintar meluangkan waktu dengan rutin walau sebentar.

·      Kuncinya, curilah waktu di mana orang lain belum mengambilnya. Contohnya seperti sebelum subuh. Maka polanya diatur menjadi membiasakan diri menulis sebelum subuh dan tidur lebih dini selepas Isya. Atau juga bisa mengatur waktu menulis satu jam selepas subuh, dan satu jam lagi sebelum tidur, bisa untuk membaca ataupun menulis.


Sub: Tantangan Besar Penulis. (h. 33)

·      Menulis lebih banyak lahir dari hobi yang terus memberikan bahan bakar abadi dan sulit untuk diberhentikan. Sehingga jika benar-benar menjiwai, tidak perlu banyak dukungan cukup dido’akan, anak itu akan melesat seperti pena yang menulis cerita tanpa pernah tahu di mana titiknya.


Sub: Jangan Memaksakan Terbit Lagi. (h. 35)

·      Tulisan hadir bukan sebagai pemuas nafsu penulis itu sendiri, namun untuk membahagiakan pembaca dan memberikan pesan kuat di dalamnya.

·      Menulis sifatnya adalah investasi, maka investasi itu harus ditanam dengan benih bagus agar terus tumbuh, besar, kuat, kokoh, kelak pada masanya juga akan berbuah sangat manis.

·      Jangan memaksakan diri menerbitkan karya tulis dengan kualitas di bawah standar, akibatnya nanti tidak banyak yang membaca, dan akhirnya menjalar kepada rasa putus asa penulisnya.

 

 



Bab. 3. Publikasi Tulisan. (h. 41)

Sub: Hutang Di Buku (h. 63)

· Menjelaskan ini bang Ma’mun Affany membaginya menjadi tiga bagian. Pertama paling tidak penulis memiliki modal untuk cetak tiga puluh persen. Kedua dari pre order. Jika tidak dapat tiga puluh persen, paling tidak dapat dua puluh persen dari porsi keseluruhan. Ketiga meminjam teman dengan porsi sepuluh persen hingga dua puluh persen. Dan Sebelum terakhir, jangan lupa melunasi hutang. Yang pertama harus diselesaikan adalah percetakan. Kedua teman kita. Sisanya sudah menjadi penghasilan yang kita investasikan dalam buku yang telah tercetak.

 

Read next (Resensi part 2) 

Click link here

0 komentar :

Posting Komentar