PHILOSOPHY

"Wonder is the feeling of the philosopher, and philosophy begins in wonder." [Plato]

KEPESANTRENAN

"Knowledge is an ocean without bound or shore; the seeker of knowledge is the diver in seas. Though his life be a thousand years, never will he become weary of seeking."

CHANCE TO MEET

Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. and Irwan Haryono Sirait, S.Fil.I., M.Pd

MY BOOKS

Try to Read

ABOUT ME

Hasil adalah kumpulan dari kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas,tanpa mengenal lelah

Minggu, 17 Juli 2022

Kenaikan Kelas Santri; Proses Pendidikan Lanjutan


Anak-anakku saat ini kamu telah duduk di kelas 5, ada yang duduk di kelas 5B, 5D, 5F, 5H dan seterusnya… Sadarlah kamu masih anak baru di kelas 5 ini, berperilakulah selayaknya anak baru yang sedang belajar, pahami seluruhnya, berhati-hati dalam melangkah, dan jaga dirimu sebaik-baik yang kamu bisa. Mandirilah!

 

Kelas 5 adalah kelas yang sakral, ibaratkan pohon kelapa, saat ini kamu sudah berada di puncak, mesti ada tugas akhir yang harus kamu selesesaikan, ialah mempersiapkan diri untuk menghasilkan ‘degan’ yang manis, kelak semakin bijaknya kamu, akan semakin tua kelapa tadi, dan kamupun semakin bersantan. Kamu Istimewa!

 

Anak-anakku, kemarin kami ragu akan kelulusanmu, namun hari ini kami bangga denganmu, karena telah berhasil melewati ujian kemarin, tapi ingat, baru saja lulus dari satu ujian, di hadapanmu ada ujian baru yang harus kamu lewati; bisa jadi lebih sulit, bisa jadi lebih rumit, maka persiapkanlah dirimu sejak saat ini.

 

Anak-anakku, kamu terlahir untuk menjadi lebih baik dari kami, jika kamu terlahir tidak lebih baik dari kami, lebih baik kamu tidak usah dilahirkan dan kami tidak usah mati, karena hanya akan mengurangi jatah beras. (Kyai Hasan Abdullah Sahal)

 

Kini bersiaplah untuk menjadi yang terbaik, kami menuggu masa menontonmu dari balik layar tv, ketika kamu harus mengetuk palu keputusan akan sidang istbat, menunggu komando dari seorang panglima, menunggu pembelaan dari seorang pengacara, bahkan menunggu pembaharuan dan terobosan dari president-president di masa akan datang. Siapa orangnya? Kamulah orangnya. Catat ini baik-baik dan realisasikan segera. Kami tunggu masa itu! 

Sabtu, 16 Juli 2022

Mengenang Wafatnya Ust. H. Mukhlis Mubarrak Dalimunthe, Lc., M.S.I



Mengenang Wafatnya

Ust. H. Mukhlis Mubarrak Dalimunthe, Lc., M.S.I 
(Husnul Khotimah Aamiin.)

 

Medan, Jum’at, 15 Juli 2022/15 Dzul Hijjah 1443 H

 

___  


Assalamu’alaikum wr wb.

 

Pagi ini aku terkejut mendengar kabar duka atas meninggalnya sosok ustadz yang mulai ku kenal dekat, sejak setahun belakangan ini, ialah  Ust. H. Mukhlis Mubarrok Dalimunthe, Lc., M.Si.,

 

Ntah bagaimana ku gambarkan hati ini, tapi rasanya sesak, sedih, mengganggap ini tidak mungkin terjadi, dan bahkan masih belum yakin hal ini benar-benar terjadi.

 

Masih lekat terbayang beberapa kali moment kebersamaan bersama beliau, saat duduk bareng di kantor, makan barang di dapur, bahkan saat santai menunggu rapat guru di aula pertemuan, tidak jarang kami membuka bicara dengan pembicaraan ringan mengasyikkan, sesekali ada guyonan membuat ceritanya berirama dan berasa.

 

Agar lapang hatiku, agar hilang sesak di dada ini, izinkan aku menuliskan dan menceritakan beberapa hal yang aku alami selama mengenal beliau. 

 

**

Cerita pertama, teringat satu kali aku pernah duduk bareng, bercerita santai dengan beliau, ngalor-ngidup pembahasan hingga akhirnya, sampailah pembicaraan pada topik “bersyukur”.

 

Masih ku ingat kata-kata beliau: 

“Menurutku wan, hidup seperti kita inilah hidup yang sangat menyenangkan, kita masih merasakan hidup dengan segala rasa yang sempurna; capek mengajar pulang ke rumah kita istirahat, rasa capeknya terasa, rasa pulih setelah istirahat juga terasa. Punya uang di akhir bulan, meskipun tidak banyak, tapi bisa untuk keluarga bahkan cukup juga untuk keliling tamasya bersama keluarga, momentnya dapat, rasa puas berlibur juga dapat. Inilah sebaik-baik hidup menurutku.”

 

“Di luar sana banyak orang yang berlimpah uangnya, bergelimang hartanya, tapi  ada satu nikmat yang dicabut oleh Allah dari mereka, yaitu nikmat merasa. Dengan ada uang, mereka bisa ke mana aja kapan suka; dengan harta yang tak habis, mereka bisa membeli apa saja yang mereka inginkan seketika itu juga. Lantas apa yang dinikmati kalau hidup semuanya serba ada? Silahkan tanyakan ke mereka, yakinku mereka mulai tidak dapat merasakan nikmatnya menunggu, lupa bagaimana nikmatnya mengumpulkan uang hingga terkumpul, bahkan tidak ingat nikmatnya menjalani hari-hari seperti penuh keluh kesah namun berakhir dengan sebuah kebahagiaan. 

 

Maka untuk hidup yang seperti ini, dengan dinamika harian seperti ini, benar-benar aku nikmati, banyak hal yang perlu disyukuri dari setiap apa yang telah Allah beri.”

 

**

Cerita kedua, di waktu istirahat pertama usai mengajar 3 les, begitu sampai di kantor, beliau membuka bicara: 

 

“Tadi malam Aku merasa terhenyuk, sampai meneteskan air mata ana wan,” “ah antum, macem betul aja,”balasku sambil meragukan ucapannya. Iya benaran, balasnya meyakinkanku. waktu membaca postingan di WA grub asatidzah, ketika Ust. Dr. H. Rasyidin Bina, MA, mengatakan melihat ada pesawat terbang lewat malam ini tepat melintasi langit pesantren, kemungkinan ini adalah pesawat yang dinaiki anaknya, yang di waktu bersamaan sedang berangkat ke Negeri pyramid Mesir, untuk melanjutkan studinya. Tidak lah mungkin ini pesawatnya, aku tahu itu, tapi yang aku tangkap, begitulah rasanya orang tua yang benar-benar rindu pada anaknya, ana ketika membaca itu, seakan berada di posisi beliau, merasakan sedihnya tidak bisa melepas keberangkatan anaknya, ungkapan rindu harunya di grub itu, benar-benar membuat ana terharu membacanya. Menangis ana.

 

**



 

Cerita ketiga, adalah kejadian yang aku alami 5 hari yang lalu, tepat hari senin, 11 Juli 2022, bertepatan 11 Dzul Hijjah 1443 H, mendengar kabar Ust. Mukhlis Mubarrak sudah kembali ke rumah, Senin usai maghrib Aku diajak Ust. Radinal dan ditemani Ust Yusuf Habibie, berencana mengunjungi beliau. Berhubung tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari pesantren, kurang dari 15 menit kami sudah tiba di depan rumahnya.

Dengan sopan Ust. Radinal mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum” yang keluar dari rumah ada dua orang ibu, yang satu terlihat sedikit lebih tua dari yang satunya lagi, kami sampaikan, bahwa kami dari teman mengajarnya di pesantren ingin menjenguk beliau, jawaban si Ibu: “Iya kemarin memang sudah pulang ke rumah, bahkan kemarin, Ahad, sempatpun mengisi menjadi khotib Khutbah Idul Adha, tapi tadi pagi sekitar jam 06. 00 wib, dibawa lagi ke rumah sakit, karena tidak tahan lagi rasa dia” 

 

Beliau menjadi khotib di Idul Adha kemarin buk? Bukannya baru aja selesai operasi? Tanya kami keheranan.

 

“Iya, kemarin ditemani dengan temannya bapak-bapak di perumahan ini juga, udah dicari pengganti tapi tidak dapat juga, karena udah merasa agak baikan dan lagi takut jama’ah kecewa, diisilah sama beliau, sempat menggigil juga katanya sambil berkhutbah kemarin.”

 

“Ooh Kalau begitu, kami izin pamit pulang ibu, Assalamu’alaikum.”

 

Sepanjang jalan pulang dari rumah beliau, kami terdiam sejenak tidak ada bercerita, tertegun, kagum, sekaligus tidak habis pikir, sebegitunya beliau memaksakan dirinya menjaga agar jama’ahnya tidak kecewa, dalam hati Aku kagum dan salut melihat beliau, semoga Allah segera menyembuhkan antum ust, banyak jama’ah yang merindukan antum. Do’aku dalam hati.

 

**

 

Dari waktu ke waktu, perihal Kesehatan beliau terus diberitakan di grub para guru, hingga sampailah kabar serius dikabarkan bahwa beliau dalam kondisi kritis, kusaksikan betapa banyaknya teman-teman guru yang benar-benar besar inisiatifnya dalam usaha mendo’akan kesembuhan beliau, kami berdo’a bersama saat rapat kamisan guru-guru, disebarkan link zoom untuk do’a kesembuhan sampai dibuatlah list untuk menghatamkan qur’an sebagai do’a untuk kesembuhan beliau. Kamis malam Jum’at List dibuat, dan Jum’at pagi juz 30 lengkap diisi oleh para pembaca. Namun sekitar pukul 09.00 (pagi) lebih kurang, semua kami sontak terkejut, mendengar kabar duka, atas meninggalnya beliau, tidak percaya, sedih, tak tahu harus berkata apa.

.

.

 

Dari perjalanan wafatnya beliau hari ini, banyak ilmu yang aku dapatkan. Bahwa orang baik sampai kapanpun akan tetap baik. Orang baik, tanpa meminta pengakuan akan tetap diakui dia baik. Orang baik tanpa meminta bantuan, orang suka rela membantunya. Orang baik dipertemukan dengan orang baik pula. Orang baik dijemput Allah dengan cara yang baik pula, dan dengan kesan yang baik dan di hari yang terbaik pula.

 

Banyak lingkaran pertemanan, lingkaran dakwah, lingkaran jama’ah yang seluruhnya mendo’akannya, dengan sangat tulus dan ikhlas, tidak terbayang berapa ribu jama’ah yang telah menshalatkan ghoib di hari Jum’at ini. Di hari yang mulia ini, semoga ini menjadi tanda bahwasannya beliau meninggal Husnul Khotimah ya Allah. Aamiin.

 

Ust. Mukhlis, ana hanyalah orang biasa, jauh diri di bawah Antum dari segala sisi. Dari sisi ilmu pengetahuan, kiprah di masyarakat, serta kebaikan hati dan niat. Masih sagat perlu belajar banyak dari antum, namun jika ana dimintai kesaksian oleh malaikat-malaikat Allah swt, bahkan jika Allah sekalipun menanyakan kesaksianku, maka dengan tanpa ragu, ana jawab, selama Ana mengenal beliau, yang ana kenal beliau adalah orang baik, taat, lebih suka menginstrospeksi diri dari pada menyalahkan orang lain. Ana bersaksi bahwa beliau adalah orang baik ya Allah. Maka tempatkan beliau di sebaik-baik tempat di sisi Engkau ya Rab.

 

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

 

Aku bersaksi ya Allah bahwa beliau adalah orang baik.

*) Catatan Pribadi Irwan Haryono Sirait

 

Wassalamu’alaikum wr wb.

Senin, 21 Februari 2022

Tradisi Mengumbar Aib

 

Adalah suatu tradisi keliru ketika seorang mengumbar aib orang lain dengan tanpa merasa bersalah. Perbuatan yang sangat menjijikkan, sama menjijikkannya seperti memakan daging bangkai dari saudaranya yang sudah meninggal. Tidak muntahkah dia? Jika tidak muntah, mungkin akan lebih baik segera mengunjungi klinik terdekat atau bahkan ke rumah sakit, periksakan segera indra penciumanmu dan indra perasamu, kali saja semuanya telah tidak berfungsi. Karena jika tidak, lambungmu yang akan merasakan derita, dan menahan pedih dan jijiknya dari makanan yang kamu makan.

 

Satu ilustrasi di atas dibuat menyikapi suatu tradisi buruk yang telah dianggap maklum. Mengumbar kesalahan adalah pemakluman yang keliru rasanya, sebab yang beredar adalah energi negative. Coba dibalik dengan memberikan solusi positif, ambil solusi dari kesalahan yang diperbuat oleh orang terkait, setelah semuanya selesai terkendali, lalu tanyai secara personal alasannya, kemudian sampaikan pemakluman, jika kebetulan alasannya syar’I (dapat diterima), sampaikan kita paham akan kondisinya, namun tetap jelaskan bahwa di waktu yang sama perbuatan ini adalah kesalahan. Jika disampaikan kepada orang yang bermasalah tanpa harus mengumbarnya di depan umum, rasanya lebih membuatnya arif, bijak dan cukup untuk bisa disegani. Bah terlalu lambat! Memang begitulah seni memimpin. Melelahkan! Mendidik memang pekerjaan besar yang melelahkan, memang demikianlah adanya.

 

Barometernya adalah dirimu. Senangkah engkau jika hal yang sama diperlakukan terhadapmu? Lebih terima diperlakukan sebagaimana manusia terhormat atau diperlakuan sebagai orang yang paling berdosa? Ada banyak hal yang perlu dijaga dalam setiap pengumbaran, entah itu dirinya yang kebetulan memiliki alasan yang jauh lebih penting dari pada yang kewajiban yang harus dia lakukan, atau menjaga dirimu; sebab tanpa kamu sadari aktifitas mengumbarmu mengundang orang lain untuk membacamu, bisa jadi borokmu jauh lebih banyak dan lebih parah dari orang yang dibongkar aibnya denganmu. Mari bersama mawas diri.

 

Pada akhirnya, silahkan membaca, tapi tidak semua yang dibaca harus dibacakan. Silahkan menilai, namun tidak semua yang dinilai mesti disampaikan. Pembacaan dan penilaianmu cukup disimpan untuk bekal dirimu, agar tidak pernah kamu ulangi di sepanjang hidupmu nantinya. Dan terakhir, berhati-hatilah sebab bola yang dilemparkan, akan kembali menyerang orang yang melempar. Teori boomerang itu berlaku pada kebaikan dan keburukan.

 

Minggu, 20 Februari 2022

Ta’lim dan Tarbiyah Satu Koin Dua Wajah




**

“Hendaklah perjalan hidupmu (pendidik) bersama murid-muridmu dengan lurus dan pertengahan. Tidak berlebih-lebihan dan tidak berkurang-kurangan. Beri mereka pengajaran menurut kepantasan penerimaan mereka. Jangan dibiarkan mereka merendahkan derajat ilmu, supaya jangan pula rendah derajatmu sendiri. Dan jangan menunjukkan sembarang ilmu atau adab, kalau tidak pada tempat dan waktunya, supaya jangan menjemukan.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Abdul Malik (yang kelak dikenal dengan HAMKA) lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908. Sebagai putra Haji Abdul Karim Amrullah, ulama besar dan salah seorang pelopor gerakan tajdid di Minangkabau, Abdul Malik kental dengan didikan agama yang ditimbanya di Sumatera Thawalib (sekolah beraliran pembaruan yang didirikan san Ayah) dan dari para kiai di surau atau masjid (aliran tradisional).

 

Di kemudian hari beliau dikenal sebagai salah satu intelektual dan aktivis Islam yang sangat disegani pada masanya, karena kemampuan retorikanya yang tiada bandingan. Ia juga pujangga yang menelurkan berbagai karya kesusastraan bernilai tinggi. Ketajaman pikiran dan keteguhan serta konsistensi beliau dalam memperjuangkan dan menjalankan prinsip, baik dalam dunia pendidikan, politik, maupun kesehariannya, kerap harus ditebus dengan berkali-kali pengunduran diri dari jabatannya, bahkan sampai di Penjara. Namun, ketajaman pemikiran beliau pulalah yang melahirkan serngkaian pengakuan akademis formal dari luar dan dalam negeri (gelar professor dari Universitas Mustopo, Doctor Honoris Kebangsaan Malaysia, 1974) maupun informal dnegan masih dibaca, dikaji, dan dijadikannya berbagai karya beliau sebagai sumber inspirasi dalam memahami dimensi-dimensi keislaman.

 

Buku ini adalah sebuah sumbangsih yang menghadirkan sosok pendidik dan pemerhati dunia pendidikan. Buya Hamka, demikian beliau akrab disapa. Dalam berbagai pemikirannya tentang pendidikan ideal, serta pergulatannya dalam mengharmonisasi serta memperbarui sistem pendidikan Islam traditional, mengharuskannya merancang sistem pendidikan integral yang menggali segenap potensi peserta didik dan menggantikannya menjadi sosok insan kamil.

 

Dalam batasan Hamka tentang makna pendidikan Islam dan Fitrah pesera didik.

Hamka berpusat fokus pada 2 poin penting. Kedua istilah itu adalah; ta’lim dan Tarbiyah.

 

Dimana pengertian ta’lim adalah proses pentransferan seperangkat pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia (Adam). Dengan kekuatan yang dimilikinya, baik kekuatan pancaindra maupun akal, manusia dituntut untuk menguasai materi yang ditransfer. Kekuatan tersebut berkembang secara bertahap dari yang sederhana ke arah yang lebih baik. Hamka memahami kata ta'lim sebagai proses pendidikan dan bukan pada hakikat pendidikan. Padahal wacana pendidikan Islam bukan bukan hanya sebatas proses, akan tetapi meliputi bentuk materi berikut nilai yang tercakup di dalamnya. Dari berabagi aspek penekanan yang diinginkan, pendidik, peserta didik, lingkungan di mana pendidikan dilaksanakan, dan tujuan yang ingin di capai semuanya menjadi peting dalam pola pendidikan Islam.

 

Sedangkan kata tarbiyah memiliki arti mengasuh, bertanggungjawab, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, menumbuhkan, memproduksi, dan menjinakkannya, baik yang mencakup aspek jasmniah maupun rohaniah. Penekanan dalam memahami makna “memelihara” dalam kata tarbiyah sebagai “Perbuatan pemeliharaan yang dilakukan kedua orang tua terhadap anaknya. Proses ini dilakukan dengan sabar dan penuh kasih sayang, guna membantu anak dari ketidak berdayaannya sampai ia mampu mandiri, baik secara fisik, maupun psikis.”

 

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa dalam memosisikan pendidikan sebagai proses, HAMKA cenderung menggunakan kata ta’lim. Sementara dalam melihat pendidikan sebagai transmisi nilai dan misi tertentu, ia kelihatannya lebih cenderung menggunakan kata tarbiyah. Pendekatan yang dilakukan kelihatannya sebagai upaya mengintegralkan makna kedua kata tersebut dalam sebuah kerangka berpikir yang harmonis.

 

Namun bila ditinjau dari sudut terminologi, HAMKA membedakan makna pendidikan dan pengajaran. Menurutnya, pendidikan Islam merupakan “serangkaian upaya yang dilakukan pendidik untuk membantu membentuk watak, budi, akhlak, dan kepribadian peserta didik, sehingga ia tahu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.” Sementara pengajran Islam adalah “upaya untuk mengisi intelektual peserta didik dengan sejumlah ilmu pengetahuan.”

 

Dalam mendefenisiskan pendidikan dan pengajaran, ia hanya membedakan makna pengajaran dan pendidikan pada pengertian kata. Akan tetapi secara esensial ia tidak membedakannya. Kedua kata tersebut merupakan suatu sistem yang saling bekelindan. Setiap proses pendidikan, di dalamnya terdapat proses pengajaran. Keduanya saling melengkapi antara satu dengan yang lain, dalam rangka mencapai  tujuan yang sama. 

 

Tujuan dan misi pendidikan akan tercapai melalui proses pengajaran. Demikian pula sebaliknya, proses pengajaran tidak akan banyak bararti bila tidak dibarengi dengan proses pendidikan. Dengan pertautan kedua proses ini, manusia akan memperoleh kemuliaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Bila dilihat dari dataran filsafat, batasan definisi pendidikan Islam yang dikemukakannya dapat dipandang sebagai ontologi pendidikan Islam.

 

Dengan bekal dan modal ilmu pengetahuan yang didalami dan dikuasainya, Hamka menjadi penulis produktif yang pernah dimiliki Indonesia. Ia telah menulis puluhan buku, novel, cerpen, artikel, maupun tafsir Al-Qur’an. Salah satu karya monumentalnya adalah Tafsir al-Azhar, yang dia tulis semasa dipenjarakan oleh Presiden Soekarno. Pemikiran-pemikirannya dalam berbagai bidang dapat diketahui, dikaji, dan dipahami melalui berbagai buku karya yang ditulisnya.

 

Dan buku ini adalah salah satunya buku terbaik yang perlu dibaca oleh kita semua, agar kaya khazanah keilmuan kita, dengan penjelasan Prof. Samsul Nizar, maka kitapun tercerahkan akan banyak ulasan konsep dan teori di dalam buku ini, guna sebagai wawasan dan kelak menjadi amalan yang dapat diterapkan dalam lingkungan, terkhusus pendidikan.

 

Buku ini sangat cocok bagi guru, dosen, mahasiswa dan santri pesantren, guna penambahan perbendaharaan kata, teori, konsep, dan istilah serta pemahaman. Akhir kata, semoga terinspirasi dan selamat membaca J

 

 

 

**

Judul Buku      : Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran HAMKA tentang Pendidikan Islam

Penulis              : Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.Ag

Penerbit          : Kencana Prenada Media Group, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Februari 2008 M

Tebal               : xx + 262 hlm; 23 cm

ISBN                : 978-979-1486-13-2

Genre              : Pemikiran Pendidikan

Harga              : Rp. -

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

Sabtu, 19 Februari 2022

Tegaklah Mempertahankan Pendirianmu

**

“Kehidupan adalah pergantian di antara musim panas dan musim dingin. Lautan ialah pergantian di antara pasang naik dan pasang turun. Siang dengan malam terus bergilir. Hanya satu yang tetap tidak berubah yaitu Allah. Ke sanalah tujuan kita, lurus tidak pernah bengkok, walaupun jalan ke sana menurun dan mendaki, iman wajib dipelihara terus sehingga jiwa hidup terus.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Badan-Jasmani dijiwai oleh jiwa atau nyawa. Namun, jiwa itu sendiri wajib dijiwai lagi oleh nur yang dipancarkan Tuhan dari langit. Kalau nur tidak ada, hidup itu sendiri tidak ada artinya. Sebaliknya, kalau nur telah ada, mati pun pada hakikatnya adalah hidup. Oleh karena itu, Nabi mengajarkan tegasnya bahwa satu rangka dari ajaran Islam itu adalah Ibadah. Pertama kali diajarkan bahwa hidup itu adalah ibadah, langsung kepada Allah, bukan kepada benda dan bukan kepada alam.

 

Ketakukan dan kecemasan hanya timbul apabila tidak mengerti hakikat hidup dan hakikat mati. Orang yang penakut ialah yang masih menyangka bahwa kehidupan sejati itu ialah pada tubuh yang kasar ini. Kalau hanya pada tubuh yang kasar ini terkumpul arti kehdiupan, lalu lantaran itu takut menghadapi kematian, akan dapatkah mati itu dielakkan? Kalau orang tidak mati karena mempertahankan ‘sabilillah’ (jalan Allah), ia pasti mati juga, tetapi dalam keadaan yang hina. Misalnya hanya karena mempertahankan perut. Orang yang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur karena takut dikejar musuh, ia akan mati ketakuan di bawah kolong tempat tidur itu.

 

Namun orang yang mengorbankan hidupnya demi mempertahankan keyakinannya kepada Tuhannya yang tunggal; matinya itu adalah mati syahid atas kebenaran pendiriannya. Karena kematian lantaran mempertahankan Aqidah. Pada hakikatnya walaupun jasad telah mati, akal pikiran (paham) yang diperjuangkan tidaklah mati karena kematian seseorang. Ajaran inilah yang diungkapkan oleh Ahmad Syauqi berupa syair.

 

قِفْ دُوْنَ رَأْيِكَ فِي الْحَيَاةِ مُجَاهِدًا، إِنَّ الحَيَاةَ عَقِيْدَةٌ وَجِهَادٌ (شوق بك)

“Tegaklah mempertahankan pendirianmu di dalam hidup ini dalam keadaan berjuang. Karena hidup ini adalah aqidah dan perjuangan.”

 

Di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a disebutkan bahwa Radulullah pada suatu hari didatangi oleh seorang laki-laki, lalu orang itu bertanya kepada Nabi saw., yang artinya:

 

“‘Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu jika datang seorang laki-laki bermaksud hendak mengambil hartaku?’  Nabi menjawab, ‘Jangan berikan hartamu!’ Orang itu bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau ia hendak mengambil dengan kekerasan?’ Nabi menjawab, ‘Pertahankan!’ Orang itu bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau Aku dibunuhnya?’ Nabi menjawab, ‘Engkau mati syahid.’ Orang itu bertanya lagi, ‘Bagaimaan kalau aku yang membunuh ia?’ Nabi menjawab, ‘Ia masuk neraka.’” (HR. Muslim dan Nasa’i)

 

Sesudah itu datang pula sabda Rasulullah saw. Yang lebih umum tentang hak-hak asasi manusia itu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Zaid r.a.

 

مَنْ قَتَلَ دُوْنَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَمَنْ قَتَلَ دُوْنَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَ مَنْ قَتَلَ دُوْنَ دِيْنِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ وَ مَنْ قَتَلَ دُوْنَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ. (رواه أبو داود، والترمذي والنساء وابن ماجة. وقال ترمذي حديث حسن وصحيح) 

 

“Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan harta bendanya maka matinya adalah mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena mempertanakan darahnya maka matinya mati syahid. Dan barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka matinyapun mati syahid.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’I, dan Ibnu Majah. Berkata at-Tirmizi bahwa hadist ini hasan dan shahih)

 

Dalam buku ini, kita akan menemukan bahwa deislamisasi dan indoktrinasi serta westernisasi bukanlah isu dan gerakan kekinian. Sejak zaman Buya Hamka. Pergulatan Islam dengan kelompok anti-Islam telah berlangsung, bahkan benih-benihnya telah ditanam sejak masa kolonial Belanda, masuk ke Nusantara dengan semangat gold, glory dan gospel-nya.

 

Lalu, sejak berakhirnya Perang Dingin antara Barat dengan komunisme, Islam ditentukan sebagai musuh utama Barat menggantikan komunisme. Clash of Civilization (perang, perdaban) antara Barat (Kristen) dan Timur (Islam) berdasarkan teori Samuel  Huntington menjadi kenyataan.

 

Islam sebagai satu-satunya peradaban yang pernah menguasai Barat dalam kurun waktu 700 tahun dianggap pula sebagai satu-satunya kekuatan yang perlu diwaspadai dan harus dihancurkan jika Barat ingin tetap menguasai dunia.

 

Buku yang ada di hadapan Anda ini merupakan kumpulan tulisan Buya Hamka yang pernah dimuat di majalah Islam Panji Masyarakat dalam rubrik Dari Hati ke Hati selama kurun waktu 14 tahun (1967-1981).

 

Dalam buku ini, Hamka meyoroti segala permasalahan yang berhubungan dengan agama, politik, dan sosial budaya, di dalamnya termasuk masalah toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia pada kurun waktu tersebut. Agaknya ada beberapa istilah yang secara umum digunakan pada masa beliau hidup, juga beberapa penjelasan mengikuti zaman waktu itu, namun hal ini bukan menjadi hal yang serius terkait dengan nilai yang terkandung dalam buku ini.

 

Dengan membaca buku ini, umat Islam diajak untuk kembali menghidupkan ghirah keislamannya, mendalami Islam dengan sebenar-benarnya dan memperjuangkan Islam yang rahamtan lil ‘almin. Sampai akhir hayat, serta menyadari adanya tantangan besar terhadap Islam sepanjang masa.

 

Semoga Terinspirasi dan Selamat membaca J

 

**

Judul Buku      : Dari Hati Ke Hati

Penulis             : Prof. Dr. Hamka

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Kedua, Sya’ban 1437 H/Mei 2016 M

Tebal               : x + 256 hlm; 23 cm

ISBN                : 978-602-250-286-9

Genre              : Aqidah

Harga              : Rp.-

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 18 Februari 2022

Sudah Terjawabkah Pertanyaanmu?


**

“Tidak perlu kita tahu apa yang akan terjadi nanti. Yang kita perlukan hanyalah satu perkara, yaitu menguatkan hati dengan iman, menebalkan perasaan dengan sabar, menimbang ukuran budi dengan syukur. Sekiranya “Pendirian” ini sudah ada pada hidup kita, apa perlunya lagi kita mengetahui apa yang akan terjadi dikemudian hari? Bukankah kita wajib berani menempuh hidup, sebagaimana orang-orang yang putus asa berani menempu mati. Sebab itu, yakin sajalah bahwa di dalam medan hidup ini kita harus bertemu kesusahan, penderitaan, keluhan, ratapan, dan tangisan. Namun, semua liku onak, dan duri itu, amat sedikit jika dibandingkan dengan nikmat yang dilimpahkan Allah swt kepada kita!”
[Prof. Dr. Hamka]

**

Buku 1001 soal kehidupan merupakan gabungan dari dua buku yang pernah diterbitkan, yakni buku Membahas Kemusykilan Agama dan 1001 Soal-Soal Hidup. Buku ini tidak hanya berisikan hukum-hukum agama dalam menyikapi berbagai persoalan yang diajukan, melainkan juga menyinggung tentang kemasyarakatan, sejarah, dan kebudayaan. 

 

Buku 1001 Soal Kehidupan dihadirkan dengan harapan agar pembahasan-pembahasan yang terdapat di dalamnya dapat menjadi tambahan ilmu dan menjadi rujukan kala kita menemukan persoalan yang sama dalam keseharian kita. Buku ini berisi kompilasi dari jawaban-jawaban Buya Hamka atas pertanyaan-pertanyaan pembaca yang disampaikan di Majalah Gema Islam dan Majalah Panji Masyarakat. Berbagai pertanyaan masih relevan dengan isu, dengan persoalan kontemporer yang marak terjadi saat ini, seperti persolaan Ahmadiyah, ilmu-ilmu kebatinan, meramal nasib dan pergi ke dukun, perceraian dan poligami, termasuk janji-janji yang “dipaksakan” saat kampanye politik berlangsung.

 

Sebagai contoh pada halaman 467 dijelaskan tentang tanya jawab seputar fitnah. Bagaimana bersikap terhadap fitnah? 

 

Adapun fitnah yang diartikan dengan banyak maksud seperti percobaan, hura-hura, perebutan kekuasaan dan politik, layaknya ombak besar dan gelombang besar, yang selalu pasang naik dan pasang turun semuanya itu adalah bagian dari kebiasaan dunia ini. Terutama dunia jahiliyah; baik itu jahiliyah lama maupun jahiliyah modern. Karena itu ia adalah gejala dari insting naluri manusia yang tidak usah mengherankan kita. Sudah biasa dalam pencaturan dunia ini bahwa orang yang jujur selalu tersingkir dari pengadu nasib dalam mencoba peruntungannya.

 

Nabi Muhammad saw. Pun meninggalkan pesan pula bila terjadi hal seperti itu. Kaum Anshar demikian besar jasanya kepada Islam. Mereka yang menyambut Rasulullah dan Muhajirin ketika hijah ke Madinah. Segala yang murah dan yang mahal, merkea korbankan, tetapi pada akhirnya jasa-jasa mereka tidak dihargai orang lagi, mereka seakan-akan dilupakan, Nabi saw. Telah meramalkan hal itu ketika beliau masih hidup.

 

Beliau berkata kepada kaum Anshar.

“Sesudah aku tak ada lagi, kalian akan mendapati kelobaan.”

 

Lalu beberapa Anshar bertanya kepada beliau, apa sikap yang harus mereka perbuat. 

Baginda Rasulullah saw. Bersabda,

أَدُّوْا الَّذِيْ عَلَيْكُمْ وَسَلُوْا اللهَ الَّذِى لَكُمْ

 

“Lakukan kewajibanmu, dan mohon langsung kepada Allah tentang apa hak kamu.”

 

Tidak boleh termenung, melainkan terus bekerja melakukan kewajiban yang dipikulkan Allah ke atas bahu sebagai Mukmin. Selama hayat masih dikandung badan, kerjakan apa yang dapat dikerjakan, dan jangan harapkan balasan dari manusia atas kewajiban yang telah dilakukan itu, melainkan harapkanlah janji Allah, karena Dia tidaklah memungkiri janji.

 

Cuplikan di atas merupakan satu gaya cara beliau mengulas jawaban dari sekian banyak pertanyaan yang terangkum dalam buku ini, sekurangnya ada sekitar 96 persoalan dan jawaban yang sangat runut dan objektif dalam pendekatan jawabannya. Namun agaknya sedikit membutuhkan bahasa yang lebih lugas untuk menyatakan suatu ketetapan jawaban, jika A adalah A dan B adalah B. Sebab dengan demikian akan timbul rasa yakin bagi pembaca untuk membacanya agar kelak bacaan ini menjadi satu pedoman dalam menghadapi permasalahan yang ada di masyarakat.

 

Selanjutnya buku ini sagai sesuai sebagai perbendaharaan, sekaligus pedoman, kiranya buku ini layak untuk dibeli, dibaca, dan menjadi rujukan bagi para pembaca. Semoga terjawab soal kehidupan yang saat ini sedang dideru, semoga bertemu jawaban untuk persoalan hidup yang selama ini belum ketemu. 

 

Semoga terinspirasi, dan selamat membaca J

 

**

Judul Buku      : 1001 Soal Kehidupan

Penulis             : Prof. Dr. Hamka

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Rabi’ul Akhir 1437 H/Februari 2016 M

Tebal               : xii + 480 hlm; 23 cm

ISBN                : 978-602-250-289-0

Genre              : Umum

Harga              : Rp. 115.000,-

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

Kamis, 17 Februari 2022

Seimbangkanlah Hidupmu; Maka Kau Akan Bahagia


**

“Apabila seseorang telah bersyahadat  dengan kalimat tauhid, maka baginya pantang menundukkan muka kepada yang selain Allah.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Dalam buku ini, Buya Hamka menegaskan bahwa pertanda kosongnya jiwa serta binasanya hati yaitu ketika seorang Muslim sekadar mengaku beriman tapi ia enggan dan lalai mengerjakan amal-amal saleh secara berkelanjutan. Padahal untuk menyeimbangkan hidup sesuai tuntunan Islam maka harus ada keterpaduan (keharmonisan) antara iman dan amal saleh. Artinya, seorang Muslim tidak cukup saja mengaku beriman, tapi ia juga harus kontinu melaksanakan dan menggiatkan ibadah dan amal-amal salehnya. Dengan begitu, maka keimanan seorang Muslim bisa dikatakan telah sempurna. Sebab, Islam adalah agama yang syamil, sempurna. Agama yang sesuai dengan fitrah manusia, harmonis, dan tidak memberatkan manusia.

 

Karya emas Buya Hamka ini, memberikan deskripsi dan perspektif bagaimana seharusnya menempatkan porsi iman dan amal saleh secara tepat sesuai tuntunan syariat. Sehingga ketika mengerjakan perintah agama, merasa tenang hatinya, itulah tandanya hati itu baik. Dan hati bisa tenang adalah gambaran keimanan yang kokoh, telah berdiri pada pilar yang seharusnya.

 

Dalam hal ini  dengan tegas IbnuTaimiyah di dalam fatwa-fatwanya menegaskan tentang arti iman.

 

الإِيْمَانُ عَقِيْدَةٌ وَعَمَلٌ فَهُوَ إِذًا يَزِيْدُ وَيَنْقُصُ

 

“Iman ialah aqidah dan amal. Sebab itu ia bertambah atau susut.”

 

Tafsiran dari fatwa di atas adalah situasi bertambah banyaknya amal dan atau mungkin semakin menyusut ada alunannya. Namun bagaimanapun amal itu tetap ada. Misalnya, satu waktu amalnya naik , sehingga shalat lima waktu ditambahnya dengan rawatib, tahajud, shalat sunnah, dhuha dan lain-lain. Sedangkan gambaran keimanan menyusut tidak mengerjakan apapun ibadah tambahan kecual yang wajib lima waktu itu saja. Namun kalau sudah ditinggalkannya shalat lima waktu itu, walaupun satu waktu dengan sengaja nisacaya bukan mukmin lagi! Tegas Buya Hamka menjelaskan hal ini.

 

Luar biasanya buku ini menceritakan banyak hal yang telah menjadi rutinitas tapi seketika dikupas apa inti dari semua yang dikerjakan sehingga tambah jernih hati dan pikiran untuk menatap hidayah dan cahaya.

 

Pernahkah terpikirkan oleh kita apakah filosofi dari berwudhu’ sebelum shalat?


Imam Ghazali, ahli falsafah dan tasawuf Islam yang amat terkenal itu melukiskan hikmah wudhu yang amat menarik hati. Bagaimana hikmah yang terkandung dalam membasuh muka, kedua tangan, menyapu kepala, dan membasuh kaki. Dibaginya wudhu itu kepada tiga bagian. Pertama, Membasuh anggota wudhu dari kotoran karena pekerjaan kita yang sibuk setiap hari mungkin dihinggapi najis-najis. Kedua, lalu ia masuk ke dalamnya lagi, yaitu membasuh muka. Siapa tahu entah tadi terlihat, terdengar atau terhirup oleh hidung daki-daki dosa yang merusak iman kita. Demikian juga membasuh tangan, entah terjamah dan terpegang barang yang tidak diridhai Allah, entah kepala ini telah penuh dengan panas dan hawa duniawi yang kacau balau, entah mengacau pikiran isi-isi koran dan majalah yang bersimpang siur, sehingga perlulah kepala disapu dengan air supaya dingin. Membasuh kaki, entah terlangkah kepada yang mengganggu jiwa. Akhirnya pada tingkat ketiga, beliau katakan bahwasannya yang menjadi inti dari wudhu ialah membersihkan hati dari pada segala kotoran, dosa besar dan dosa kecil, dan menegakkan ilahi dalam jiwa, tidak bercampur dengan ingatan yang lain.

 

Maka tepat sekali kiranya shalat itu, salah satu manfaatnya dapat memelihara dan memupuk jiwa, supaya jangan sampai sakit, karena hebatnya perjuangan akal batin dengan akal lahir.

 

وَاسْتَعِنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَوةُ، وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الخشِعِيْنَ (٤٥)

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (al-Baqarah: 45)

 

Khusyu artinya mengakui kekuasaan Allah dan tunduk kepada-Nya. Bila pengakuan telah ada kepada-Nya, tidaklah ada yang berat lagi. Semuanya menjadi ringan. Oleh sebab itu, alat penguji kemurnianan batin yang paling praktikal ialah shalat.

 

Sesuai dengan judulnya, Kesepaduan Iman dan Amal Saleh, dalam buku ini Buya Hamka menitik beratkan pembahasan pada kesesuaian antara iman seseorang dengan amal salehnya sebagai aplikasi dari keimanan. Seseorang yang mengaku beriman, tetapi tidak melakukan ibadah dan amal saleh maka diragukan keimanannya.

 

Masih banyak analogi lebih mendalam, anasir-anasir lebih gamblang, dan penjelasan-penjelasan yang lebih mendetail dari sekedar yang tersurat di atas ini, untuk itu menurut saya, bagi para pembaca budiman dapat menjadikan buku ini termasuk daftar list yang harus dibaca berulang-ulang, sebab buku ini memiliki keajaiban-keajaiban sendiri, semakin dibaca, ada saja hal baru yang di dapatkan, seakan magnet yang membuat hati semakin lengket untuk terus mengkajinya ulang, agaknya seirama dengan jawaban Socrates ketika ditanyai tentang bagaimana kesannya ketika menuntut bergai ilmu pengetahuan. Jawaban kesannya adalah “suatu posisi dimana yang dapat saya ketahui, bahwa saya tidak tahu” juga sama seperti jawaban Imam Syafi’I “Tiap-tiap bertambah ilmuku, bertambah pulalah aku insaf bahwa aku tidak tahu.”

 

Semoga terinspirasi, Selamat membaca J

 

 

 

**

Judul Buku      : Kesepaduan Iman Dan Amal Saleh

Penulis                        : Prof. Dr. Hamka

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Jumadil Awwal 1437 H/Februari 2016 M

Tebal               : xiv + 190 hlm; 20,5 cm

ISBN                : 978-602-250-290-6

Genre              : Umum

Harga              : Rp. 50.000,-

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**