Jumat, 25 Mei 2012

Masih bolehkah aku berbicara tentang CINTA?


      Semua teman-teman yang membaca catatan ini.  Maaf jika isinya tidak sesuai dengan makna cinta  yang sebenarnya, maaf juga ku daratkan kepada siapa saja yang berpengalaman penuh dalam lika-liku kehidupan sarat penuh percintaan jika ternyata  catatanku bertentangan dengan Anda.
     Dari sebuah pertanyaan sederhana teman ke padaku. “Seberapa besar dampak positif bagi  seorang pria/wanita yang di motivasi oleh sosok yang ia sayangi? Dan juga, pada usia seperti ini (masa kuliah) mana yang lebih baik antara berteman atau ada hubungan?

     Ditanya seperti ini spontan aku bingung,  terpaku dalam kebisuan ingin menjawab atau hanya ku anggap angin lalu.‘walau berhembus tapi tak terlihat bekasnya.’

Perlahan aku berusaha mencari jalan keluar dan kini aku mendapatkannya.


                                                            *************************

Dalam guratan tinta yang kemudian ku tulis lewat tarian keybord ini. Aku menangkap bahwa makna superior dari cinta adalah kumpulan dari 3 komponen  yang sangat mendasar, yaitu: keikhlasan, kepercayaan dan ketulusan.
Timbul pertanyaan besar, mengapa aku lancang mengatakan demikian????

     Pertama; keikhlasan. Dalam banyak kisah singkat aku pernah mendapatkan intisari dari kata ikhlas tersebut, berawal dari rasa ikhlas tak terhitung berapa banyak kisah cinta tercipta, berawal dari ikhlas juga tak terdata berapa tinta yang telah di bukukan, melalui keikhlasan juga sudah tak terhitung berapa teman biasa berubah menjadi teman sepanjang hidup.
     Semua bermuara pada keikhlasan. Sampai pada titik dimana keikhlasan terpahit yang harus dirasakan; meninggalkan sosok dambaan hati hanya karena keikhlasan melihat dia senang tanpa melihat perasaan sendiri yang terus merundung pilu, itulah makna keikhlasan dalam cinta yang ku tahu.

     Kedua, kepercayaan. Suatu kehormatan jikalau keindahan tiada berujung mana kala kepercayaan ini bersemayam biru dalam rindu dan keharuan, dalam ramai dan kesendirian,  dalam dekat maupun jauh bersebrang pandang untuk memandang.

     Kepercayaan mungkin begitu muda untuk diucapkan, terlalu ringan untuk diobrolkan dan bahkan terlalu renyah untuk  sekedar dihabiskan dalam perbincangan. Tapi kepercayaan yang terjaga, kepercayaan yang begitu erat di dekap dalam dada, hati bahkan melewati jiwa dan raga adalah upaya terbesar untuk mempertahankannya.

Mungkin tak terhitung bagaimana mudahnya orang mendapatkan cinta, tapi adakah mereka setia untuk menjaga cinta?  bukan suatu yang baru jika sedekit menangis karena cinta, 5 detik kemudian terbahak-bahak karena cinta yang kedua muncul sebagai pelipur lara. Tapi apakah begitu wujud dari kepercayaan yang sebenarnya?

     Selalu ada antipati ketika dalam sedih! Selalu ada pelarian lain ketika sedang bertengkar! Bahkan…………. (mudah-mudahan jauh dari harapan), jika menjadikan cinta seolah tambang emas untuk mengkais materi kehidupan.

      Yang ketiga; ketulusan.
Aku belum mengetaui pasti tentang ini, tapi aku mendapatkan penjelasan yang begitu apik dan mendalam terkait bagaimana indahnya cinta didasari dengan ketulusan tanpa harap materi, ketulusan tanpa harap berbalas kasih, ketulusan  tanpa harus bersambut gayung, tanpa harus berbalas senyum, bahkan terlebih teguran manis imbas dari sapaan.
     Makna cinta dalam ketulusan ini tidak ada daya upaya  untuk dapat menuliskannya panjang lebar lagi, karena terlalu indah jika hanya tertulis dalam coretan tinta yang terbatas setiap sisi ujung kertas. Terlalu ringkas jika ingin di ungkapkan dalam satu, dua, tiga paragraph tulisan saja.


     Tiada maksudku untuk menggantung arti makna yang satu ini, sebab maknanya, melebihi dalamnya hidupku yang baru menginjak ke 20 dari asam garam kehidupan di dunia ini.

   Dalam semangat untuk berbagi aku rasa tiada salahnya jika teman-teman meluangkan sedikit waktu untuk bisa membaca sebuah novel menarik berkisah tentang ketulusan cinta insan sejoli; dalam keadaan berbeda kasta, hal, kehidupan, pendidikan, pengalaman, tak sengaja terlilit guratan cinta, yang akhirnya berbalas berjuta hadiah kehidupan dari sudut yang tida di sangka-sangka. Berjudul “29 Juz Harga seorang wanita” karya Bang. Ma’mun Affany(penulis novel kehormatan di balik kerudung).



     Kembali aku titipkan sebuah kata CINTA kepada sang pemilik cinta, aku tak tahu apakah pandanganku menyimpang atau bahkan keluar dari koridor makna cinta yang sesungguhnya, tapi berikutlah yang ku tahu tentang Cinta,  itu juga kalau diriku masih di perkenankan untuk berbicara tentang CINTA.


Untuk selanjutnya jawaban dari pertanyaan di awal rasaku dapat di simpulkan dari catatan singkat yang aku uraikan ini, dan semoga menjadi jawaban/ sekedar hiburan bagi yang sedang mencari arti makna cinta yang sebenar-benarnya.

0 komentar :

Posting Komentar