Rabu, 20 Juni 2012

Misykat Menghilangkan kesabaranku.

“Ketika aku membaca Dualisme, rasanya sampai disini hilang kesabaranku untuk bersabar memiliki buku ini”


     Awalnya aku membaca buku misykat ini dengan meminjam dari perpustakaan Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS), setiap ada kata-kata yang penting, aku selalu menuliskannya kembali ke dalam buku catatan yang telah ku sediakan. Setiap kali ada kalimat yang mengusik daya nalarku langsung ku tulis tanpa menunggu jeda untuk membaca kalimat sesudahnya, keseriusanku serasa terjun bak air terjun yang melompat bebas menyelusup pada titik poros air yang berpusara.

      Terkadang ingin rasanya jari ini mencoret atau sekedar menggarisinya dengan pensil. Tapi selalu saja ku urungkan. Dengan sangat terpaksa kembali aku bersabar sambil tetap  menulis kata-kata yang kuanggap penting. Semakin lama aku bersabar, rasanya andrenalin di otakkupun semakin kuat menyusun suatu ikatan yang terus bercabang, menyuarakan dan terus berkampanye pada ruang bawah sadarku. Sampai kapankah kau harus tetap seperti ini? Membaca sambil terganggu, (terpaksa berhenti di tengah-tengah kenyamanan membaca), padahal  arus baca militan ini sangat jarang kaudapatkan? (Suara tanya itupun semakin kuat, kuat dan kuat melengking di gendang telingaku.)

      “Untuk kali ini TIDAAAAAAAAAAAAk”, jarit logikaku bebas dari kungkungan. Teriakan animo baca yang meledak-meletup akhirnya berhasil menaklukkan sang kesabaran dari prinsipnya, terpaksa mengalah setelah melihat kesungguhan yang menggebu-gebu dari sang semangat. Pendek kata, sang-kesabaranpun memberi kesempatan kepada hasrat untuk membeli buku ini, itupun setelah sekian lama mampu bertahan dalam kesabaran. :)

      Sebuah buku segar berjudul Misykat yang di tulis oleh: As-Sayyid Dr. Hamid Fahmy Zarkayi M.A, M.Phil.  berisi tentang pengantar terhadap beberapa pemikiran yang sedang gencar-gencarnya merebak saat ini, sekaligus beberapa kritikannya. Dalam louncing pertama di Hall Gedung Robithah Gontor 1, beliau sempat bertutur: "Do'akan semoga buku Misykat yang kedua segera menyusul dimana nanti kita tidak akan berbicara tentang kritik-mengkritiki, akan tetapi lebih kepada solusi." 

sekilas menulis kembali beberapa testimoni yang tertulis di 'cover'  buku misykat ini: 

      "Spektakuler! Kolom Misykat Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi di Jurnal Islamia Republika selama 3 tahun (2009-2012) menjadi kolom yang paling banyak di baca orang. Berciri khas: lugas, cerdas dan bernas. Buku kumpulan Misykat ini membuktikan, Dr. Hamid saat ini merupakan salah satu dari sederet kolumnis terbaik di Indonesia. Selamat membaca!"(testimoni dari Dr. Adian Husaini, selaku Ketua Program Studi Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldung. Bogor)

      Selain itu, Dr. Syamsuddin Arif (Dosen International Islamic University Malaysia) juga berkomentar : "Paduan dari nalar yang tajam dengan ketulusan hati dan tutur yang jernih telah membuat buku ini bernas dan 'gurih'. Bon Lecture!"
                                                                                                 
 ISID Siman, 24/02/2012
                                                                                                                          10.20 WIB

0 komentar :

Posting Komentar