Kamis, 25 Oktober 2012

Sekolah Menulis (Part 1)

Sekolah Menulis
 Bersama: “Mr. Ma’mun Affany”



       Selasa malam, 09 Oktober 2012 adalah menjadi awal pembukaan kursus sekolah menulis bersama Mr. Ma’mun Affany. Bertempat di perpustakaan CIOS awal calon peserta penulis berkumpul, dan akhirnya berkumpul kembali di tempat yang sama untuk tatap muka perdana. Dalam kesempatan kali ini peserta yang hadir berjumlah 17 orang, terdiri dari 15 orang peserta semester 1 dan 2 orang peserta semester 5. Perkumpulan tersebut berlangsung sejak pukul 20.00WIB hingga 21.00WIB tepat. “Dalam pertemuan/ pemberian materi saya usahakan tidak menyita banyak waktu. Karena sebenarnya yang di perlukan adalah latihan yang lebih banyak dan terus-menerus."  Tutur Mr. Ma’mun Affany selaku pelatih kepenulisan.

        “Bebaskan pikiran dan imajinasi kalian, jika melihat suatu benda, coba bertikir dua kali lipat dari orang biasa"  maksud yang kami tangkap dari apa yang beliau sampaikan adalah gambaran bagaimana suatu objek benda tidak langsung dikatakan bentuk aslinya. Akan tetapi lebih kepada ciri-ciri benda tersebut, bertujuan agar orang dapat mengetahui dengan detail akan benda yang di gambarkan. Satu contoh, ketika melihat nenek-nenek apa yang tergambar di benak kalian?"  Tanya beliau kepada para peserta. Dari sekian jawaban ada yang menjawab, rambutnya putih beruban, jalannya bungkuk, pandangan matanya sayu, kulitnya keriput, giginya ompong, tongkatnya menyanggah tubuh.

        Dari sekian ciri-ciri si nenek beliau menggambarkan point-point penting tersebut ke dalam sebuah kalimat aktif yang kira-kira begini: Sejenak aku tertegun ketika melihat seorang nenek berjalan melintasi jalanan, tubuhnya bungkuk, meski tongkatnya kokoh tapi tidak bisa membantunya untuk berdiri tegak seperti dulu, ditambah kulit keriput dan uban yang telah memdominasi menjadikan beliau tampak lebih tua dari perkiraanku sebelumnya." [1] Begitulah kira-kira kursus awal yang di berikan dari pada beliau. Selanjutnya peserta di suruh aktif untuk menuliskan tulisan bebas yang corak awalnya sama dengan yang  telah di sampaikan, tidak usah memakai seluruh panca indra dulu; tidak mesti harus menjelaskan bagaimana suasana yang ia rasakan, dengarkan, atau ia tangkap dari panca indranya yang laen. Jadi sebagai langkah dasar hanya cukup dengan mencoba menulis berdasarkan apa yang di dapat ketika melihat suatu objek.

       Dalam waktu 20 menit, proses latihan perdanapun usai di kerjakan. Mulai dari peserta menuliskan latihan seperti di contohkan sebelumnya, mengumpulkannya dan kemudian di koreksi  beliau. Dari setiap kertas tertulis beragam catatan khusus, salah satu catatan yang paling familiar adalah:"Kurang Fokus!! Pilih satu objek dulu.”  Hal terpenting dari latihan itu kata beliau, “Mencoba terus jangan takut salah. Pertemuan selanjutnya akan kita adakan, jika tulisan kalian untuk sesi pertama ini sudah mencapai batas yang bisa di bilang cukup. Dan hasil nilainya itu akan kalian lihat setiap setelah isya’setelah  setiap paginya kalian mengumpulkan tulisan di tempat yang telah di sediakan secara berkala dan tepat waktu. Latihan akan terus berlanjut hingga nilai perindividunya mendapatkan 9.

Sebelum akhir dari pada pertemuan. Beliau mengevaluasi bahwa:

       “Dari hasil latihan perdana tadi, perlu di ketahui bahwa membedakan bentuk fisik, sifat dan sikap dari satu objek itu perlu, berimajinasilah yang sebanyak-banyaknya, luas tanpa batas karena imajinasi adalah satu modal utama menjadikan tulisan kalian memiliki rasa dan isi sehingga dapat menarik pembaca, karena jika tidak tulisan terasa hambar.”

      “Dalam menggambarkan suasana/objek jangan berpindah ke objek yang lain sebelum hal itu benar-benar tergambar dengan detail dan jelas”
  
       “Pertanyaannya mengapa terkadang orang menulis itu tidak focus? Dan kekurangan bahan?"
(sejenak tampak suasana berfikir para peserta untuk menjawab soal beliau, tapi pada akhirnya beliau sendirilah yang menjawab pertanyaannya tadi) karena hasil imajinasi kita yang sedikit dan proses kepekaan untuk menangkap beragam macam hal di luar dari pada pikiran orang biasa;  itu yang masih minim."

Akhir kata sebagai penutup beliau berpesan:

       “Kalau ada orang lain mengajarkan fiksi dengan cara yang berbeda dari cara ini. Saya katakan  bahwa yang demikian itu juga benar. Sebab, setiap orang memiliki metode masing-masing dalam proses kepenulisannya.”

       Demikian yang bisa kami tulis dalam perjumpaan perdana kali ini. Adapun catatan kedua akan menyusul pada perjumpaan selanjutnya.








[1] Di karenakan tidak sempat menulis kalimat yang langsung dirangkai beliau. Jadi kami mencoba merangkai ulang point-point tersebut semirip tulisan beliau semampu yang kami ingat. Semoga tidak menghilangkan esensi dari pada tujuan kepenulisannya.

0 komentar :

Posting Komentar