Senin, 22 Desember 2014

Al-‘Alaq Mengajarkan Ilmu pada Masyarakat.

 photo 37b075b1-e986-4889-895c-fba1227018fe_zps76eb800c.jpg

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)

Dr. Ratib an-Nabulsi mengatakan bahwa di dalam bahasa Arab jika sebuah kata kerja dalam suatu kalimat tidak memiliki objek, maka kata kerja itu bermakna mutlak. Artinya, objek membaca di sini bisa sangat luas maknanya. Jika dihubungkan dengan ayat diatas, maka pengertian membaca disini bisa berarti membaca kitab Allah, penjelasan Rasulullah, atau alam semesta ciptaan Allah. Sebagai contoh seperti seorang turis membaca peta untuk mengetahui jalan; seorang nelayan membaca bintang mencoba memahami cuaca atau musim; seorang politisi menganalisis pesan, dari pidato kePresidenan atau bahkan seorang dokter membaca tekanan darah untuk mengetahui penyakit pasien. Semua aktifitas tersebutlah cara dan upaya manusia membaca untuk mendapatkan ilmu. Sebagaimana Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas pernah menyebutkan pengertian ilmu adalah  Sampainya makna ke dalam jiwa atau sampainya jiwa pada makna. Namun sayangnya, ilmu ini belum banyak dipraktekkan umat muslim alih-alih dijadikan tradisi Barat.

Salah satu contoh kasus, kaum Yahudi. Mereka adalah kaum yang paling tinggi minat bacanya.  Menurut majalah Reform Jewish, 70% orang Yahudi Amerika membelanjakan uangnya untuk membeli buku hardcover, 39 % membeli 1-5 judul buku, 9 % membeli 6-9 judul buku, dan 17 % membeli lebih dari 10 judul buku pertahun. (penjelasan lebih lengkap lihat K.H. Toto Tasmara, “YAHUDI, Mengapa Mereka Berprestasi” hal. 120)

Kebiasaan membaca ini hanya dapat dikalahkan oleh orang-orang Jepang yang sama gilanya dalam membaca buku. Orang Jepang diperkirakan melahap buku bacaan rata-rata 12 buku dan 35 majalah setiap tahun, dan tentu saja mereka pun makhluk yang keranjingan membaca surat kabar. Orang jepang belanja buku hampir mencapai 1 triliun yen bahkan lebih pertahunnya. Seiring demikian, K.H. Toto Tasmara seakan memprediksi masa depan, bahwa  dari tradisi ini muncullah hukum universal yang berlaku umum, yaitu:

“Siapa yang gemar membaca, mereka mendapatkan informasi.
Siapa yang mendapatkan informasi, mereka mendapatkan pengetahuan.
Siapa yang menguasai pengetahuan, mereka menguasai teknologi.
Dan siapa yang menguasai informasi, pengetahuan, dan teknologi.
Maka bersiaplah untuk jadi ‘raja dunia!’
Dan itu semua diawali dengan satu kata perintah,
“Bacalah (Iqro’)!
Kita gemar MENGHAFAL dan MENGUCAPKANnya sementara bangsa lain gemar MELAKSANAKAN dan MEMBUKTIKANnya.”


Untaian kata diatas mengungkapkan kelalaian dan kelemahan kita selama ini. Karena MEMBACA Barat bisa sukses. Lantas bagaimana dengan ‘kita’? “Bukankah Membaca”Iqro” adalah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada kita lewat nabi Muhammad! “Mari kita bangkit dan mengejar ketertinggalan.” Wallau’alam.


0 komentar :

Posting Komentar