Jumat, 02 Januari 2015

FEMINISME DAN FUNDAMENTALISME ISLAM


Dalam buku ini Moghissi menolak pendapat yang menyatakan bahwa dengan bercadar perempuan mendapat perlindungan dari hasrat seksual laki-laki. Di samping itu ia juga mengemukakan tentang kritisismenya terhadap fundamentalisme dan posmodernisme sekaligus. Posmodernisme dan fundamentalisme, bukanlah jalan terbaik untuk memecah kebekuan. Lalu, buku ini memberikan perspektif bagaimana kebekuan itu supaya mencair. Sehingga upaya membangun dan mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan kaum perempuan menjadi lempang.
Buku ini mengemukakan 3 poin yaitu. Pertama adalah soal pandangan Moghissi terhadap fenomena anti orientalisme –poskolonialisme akibat pengaruh Edward Said di dalam kajian Islam dan gender di negara-negar Timur Tengah, (tak terkecuali hal ini juga merambah Indonesia). Kedua, pandangan Kritis Moghissi atas persoalan fundamentalisme Islam yang menurutnya mendapat supportive thingking dari posmodernisme. Ketiga adalah pandangan Moghissi mengenai feminis Islam, mengulas tentang kemungkinan-kemungkinan dan batasan-batasan feminisme Islam.
Ide penulisan tentang feminisme dan fundamentalisme Islam ini muncul oleh kegelisahan yang dialaminya selama beberapa tahun sejak dia menyaksikan dan mendengarkan perbedabatan-perdebatan akademis seputar tema feminisme dan fundamentalisme Islam. Salah satu gugatan Haideh Moghissi yang dipahat kuat dalam pengantar buku ini, adalah:
 “Selama berabad-abad lamanya, seksualitas dan tingkah laku perempuan menarik perhatian laki-laki (Muslim); kepentingan-kepentingan dan tulisan-tulisan dari laki-laki telah membatasi kehidupan perempuan dan partisipasi penuh mereka dari urusan –urusan publik….”

 Pada kajian sederhana buku ini tidak salah kiranya Haideh Moghissi curhat tentang apa yang ia rasakan sebagai penduduk  asli yang disuruh hengkang. Seorang perempuan Iran yang harus meninggalkan hak dasarnya untuk hidup (right to live and life) di negerinya sendiri beralasan karena hak dasar yang dimikikinya dianggap bertentangan dengan misi syari’ah Islam. Disini yang perlu diluruskan adalah bagaimana dasar yang dia inginkan, dan bagaimana dasar yang di syariatkan dalam Islam. Sebab dari penjelasan di buku ini, jelas tergambar hal yang biasa natural dan disayariatkan dalam Islam seperti seorang istri tinggal di rumah menjaga rumah, harta suami dan anak menjadi permasalahan bagi mereka, bagaiamana ceritanya, jika terjadi begini lantas Islam yang disalahkan bukankah ini penyimpangan yang harus di luruskan maknanya.
Oleh sebab itu buku ini tidak layak sebagai rujukan, hanya cocok sebagai bacaan ringan mengetahui curhatan seorang wanita yang mengharapkan keadilan dan kesamaan menurutnya sendiri. Boleh jadi baginya ini masalah besar karena menyangkut tentnag perasaan dan kesedihan yang mendalam. Dan butuh sambungan tangan hangat sebagai pembelaan. Namun bagi kita ini hanyalah hal biasa. Sebelum membaca buku ini saran kami, mari buka mata terlebih dahulu untuk menangkap sisi yang janggal dari penjelasan nya yang mengkritisi syariat Islam yang telah sangat indah mengatur agama kita. Jangan serta merta menerima.

Sebab tampaknya kaca mata yang digunakan untuk melihat ini tampaknya kaca mata hitam, ditambah pisaunya pisau tumpul untuk menganalisis permasalahan secara lebih mendalam.

Judul buku    : FEMINISME DAN FUNDAMENTALISME ISLAM
Pengarang       : Haideh Moghissi
Penerbit           : Yogyakarta: LKIS
Cetakan           : Pertama, Januari 2005

Tebal               : 288 Hlm, 14,5x21 cm

*Sumber Foto: https://ecs3.tokopedia.net/newimg/cache/300/product-1/2014/10/1/201801/201801_9be0cf46-4948-11e4-9231-38b74908a8c2.jpg

1 komentar :