Kamis, 01 Januari 2015

Tuhan Menurut Abraham Maslow

 photo 658b5d86-20f1-49e6-adc5-9c73323ef375_zpsf5744aaa.jpg

Pendahuluan
            Permasalahan ketuhanan merupakan permasalahan besar yang muncul sejak manusia mulai menggunakan nalar berfikirnya secara mendalam.[1] Dikatakan permasalahan besar dikarenakan banyak dari kalangan filosof dan teolog yang memiliki perhatian dan perbedaan pandangan secara signifikan. Perbincangannya-pun merupakan diskusi yang usianya seumur keberadaan manusia. Diduga kuat pada diri manusia memang memiliki bakat ber-Tuhan dan potensi untuk beragama (sensus religious).[2]
            Di dunia Barat yang mayoritas Kristen, setelah masa pencerahan (renaissance) yang ditandai dengan bangkitanya rasionalisme dan empirisme, bermunculan para pendobrak bahkan penghujat Tuhan. Di antara tokoh tersebut adalah Abraham Maslow1908-1970).[3]
            Alasan pemilihan Filsafat Abraham Maslow sebagai tema tulisan ini adalah ketertarikan untuk mengetahui lebih banyak tentang Abraham Maslow dan pemikirannya. Terutama adalah untuk mengetahui tentang sejarah kehidupan  Maslow. Bagaimana dia dapat memiliki pemikiran-pemikiran yang menolak filosof-filosof sebelum dirinya dan mengapa dia memliki penolakan yang seakan radikal terhadap Tuhan. Makalah yang sederhana ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut diatas, dengan maksud agar nantinya dapat diketahui bagaimana pemikiran Maslow yang berakhir pada kesimpulan bahwa manusia adalah sama dengan tuhan apabila telah sampai pada pengalaman puncak.

Sekilas Biografi Abraham Maslow
Tokoh dengan nama lengkap Abraham Harold Maslow, lahir pada tanggal 1 April 1908 di Brooklyn, New York, sebagai anak sulung dari tujuh orang bersaudara. Kedua orangtuanya adalah penganut Yahudi tidak berpendidikan yang berimigrasi dari Rusia. Karena sangat berharap anak-anaknya berhasil di dunia baru, kedua orangtuanya memaksa Maslow dan saudara-saudaranya belajar keras agar meraih keberhasilan di bidang akademik. Tidak heran jika semasa kanak-kanak dan remaja, Maslow menjadi anak penyendiri dan menghabiskan hari-harinya dengan buku.
Demi menuruti keinginan orangtuanya, pertama-tama Maslow belajar hukum di City College of New York (CCNY). Setelah tiga semester belajar di sana, dia pindah ke Cornell lalu kembali ke CCNY. Dia menikahi sepupunya, Bertha Goodman, dan pernikahan ini bertentangan dengan keinginan orangtuanya. Maslow dan Bertha dikaruniai dua orang puteri.
Dia dan Bertha kemudian pindah ke Wisconsin agar bisa masuk ke University of Wisconsin. Di sinilah ketertarikannya pada bidang psikologis mulai tumbuh, sehingga perjalanan akademisnya berubah secara dramatis. Setahun setelah lulus, dia kembali ke New York untuk bekerja dengan E. L. Thorndike di Coolumbia dimana dia melakukan penelitian tentang seksualitas manusia.
Dia mulai mengajar full time di Brooklyn College. Dalam periode inilah dia bergaul dengan beberapa pemikir Eropa yang berimigrasi ke AS, khususnya ke Brooklyn, akibat perang yang berkecamuk di sana. Di antara pemikir tersebut adalah Adler, Fromm, Horney dan psikolog-psikolog Gestalt dan Freudian.
Tahun 1951, Maslow menjabat ketua departemen psikologi di Brandels selama 10 tahun. Di sinilah dia bertemu dengan Kurt dan mulai menulis karya-karya teoretisnya sendiri. Di sini, dia juga mulai mengembangkan konsep psikologi humanistik – konsep yang baginya jauh lebih penting ketimbang usaha-usaha teoretisnya.
Dia menghabiskan masa pensiunnya di California, sampai akhirnya dia mengalami serangan jantung dan meninggal pada tanggal 8 Juni 1970.[4]

Pandangan Tentang Ketuhanan.
            Barat kesulitan untuk mendefenisikan apa Tuhan itu. Keimanan Barat hanya berdasarkan kepada keyakinan buta yang harus di terima begitu saja. Ada yang berpedoman kepada Tertulian yang mengatakan “credo quia absurdum”, atau “saya percaya karena dogma agama tidak masuk akal”.[5]
            Dalam bentuk yang lain orang di tuntut untuk mempercayai wahyu yang kemudian menjadi tahu akan apa yang diyakini. Sayangnya, wahyu tersebut tidak bernuansa pengetahuan, tidak epistemologis. Wahyu tidak dapat berirama dengan akal. Sedangkan akal dipaksa untuk mempercayai berbagai hal yang tidak masuk akal dalam wahyu. Pandangan seperti ini diyakini merujuk kepada St. Anselmus yang mengatakan “credo ut Inteligam”, atau saya percaya karena saya paham.[6]

            Pandangan yang kedua ini masih memberikan ruang bagi akal manusia untuk berkreasi. Akal masih bisa menganalisa berbagai realitas demi mencapai kebenaran. Tapi akhirnya, tetap harus bersesuaian dengan dogma agama, meskipun tidak masuk akal.
Jika kedua pandangan tadi sama-sama dipakai untuk mendefenisikan Tuhan, maka hasilnya adalah Tuhan yang belum tentu memuaskan manusia, karena hanya berlandaskan atas wahyu yang tidak epistemologis. akhirnya, manusia kesulitan dalam mendefiniskan konsepsi Tuhan.
Kesulitan dalam mendefenisikan Tuhan juga dialami oleh Maslow. Menurutnya, definisi Tuhan yang di utarakan oleh para teolog cenderung menafikan konsepsi manusia akibat mengalami Tuhan. Ada kejanggalan dalam konsepsi Tuhannya, yang terlihat dalam asumsinya dalam membuat definisi tersebut. Dia mengingikan agar defenisi itu juga dapat merangkul orang-orang atheis yang tidak percaya Tuhan secara transenden-esoteris. Karena itu, Maslow mengatakan:
“Jika Tuhan di defenisikan dengan “ada dengan sendirinya”, atau “prinsip integrasi alam” atau “keseluruhan segala sesuatu”, atau “kebermaknaan kosmos” maka apalagi yang akan di tolak oleh atheis? Mereka akan menyetujui bahwa Tuhan adalah “Prinsip integrasi” atau ‘prinsip harmoni’.[7]
Dalam bagian lain, Maslow mengatakan:
Pada akhirnya, “Tuhan” menjadi keputusan yang arbitrer dan pengikutsertaan secara individual yang ditentukan dengan sejarah, ketersingkapan dan mitos seseorang yang semuanya di dapat secara individual… yang menjadi perhatian kita adalah situasi sekarang ini, seperti yang ada pada ajaran Budha tentang “perhatian tertinggi” dan pandangan Paul Tillich tentang “dimensi kedalaman” itu lebih menghubungkan para agamawan kepada orang-orang agnostic ketimbang orang beragama lainnya yang memandang agama sebagai kebiasaan dan adat dan memahaminya secara konvensonal, superficial…[8]
            Melalui penjelasan ini, jelaslah sudah bahwa Tuhan dalam pandangan Abraham Maslow adalah yang ada dengan sendirinya, atau prinsip integrasi di alam ini, atau cakupan ‘segala sesuatu’, atau Tuhan sebagai kebermaknaan kosmos yang inti dari semuanya adalah prinsip keharmonisan. Nampaknya Maslow –berdasarkan perkataannya di atas setuju dengan pandangan yang terakhir. Jadi tuhan dalam pandangannya bukan ‘yang sakral’ yang ada pada level transenden esoteris sekaligus imanaen yang kehadirannya dapat diraskan pada level eksoteris, karena –nantinya – dia tidak terjangkau oleh manusia, menjadi terpisah dengan keduniaan dan kekinian dan bahkan bisa menjadi musuh manusia.
Pandangan ketuhanan yang demikian di dasari oleh dominannya subyektifitas kemanusiaan yang menafikan sisi kemanusiaan sebagai ketidak berartian di mata Tuhan. Manusia di pandang yang paling unggul, bahkan ukuran segalanya, hingga akhirnya mencoba mengukur Tuhan sebatas prinsip keharmonisan. Cara pandang seperti ini memang biasa diutarakan oleh para humanis yang cenderung sekuler.
Definisi Maslow tentang Tuhan cenderung menjadi bagian dari sekularisasi.[9] Dia mengatakan: Jika tuhan berada diluar alam dunia dan manusia maka akan terpisah dari yang profane dan sekuler dan tidak ada apa-apa untuk dilakukan dengan mereka dan bahkan bisa menjadi musuh mereka.[10]
Salah satu gambaran Tuhan yang disebutnya sebagai prinsip harmoni tadi terlihat dalam implikasi pengalaman puncak yang menurutnya adalah jalan menuju keilahian. Melalui pengalaman puncak, seseorang bisa mencapai derajat keilahian, atau menjadi Tuhan. Bagi Maslow, Pengalaman Puncak bisa menjadikan seseorang “The gods who can contemplate and encompass the whole of being”, sebab sifat orang yang mengalami pengalaman puncak memiliki kesamaan dengan sifat Tuhan yang tidak memiliki kebutuhan, atau kehendak, tidak ada kekurangan, kelemahan senantiasa dalam kesenangan, dan tidak memiliki motifasi. Dia mengatakan “kita harus ingat bahwa tuhan-tuhan itu tidak memiliki kebutuhan atau keinginan, tidak ada kekurangan, kelemahan dan selalu senang dalam berbagai hal”. Jika seperti itu maka Maslow meyakini kemampuan manusia menjadi Tuhan yang secara eksistensial tidak mungkin, karena apabila manusia menjadi Tuhan maka akan ada yang menyamai Tuhan.

Penutup
Tuhan dalam pandangan Maslow adalah yang ada dengan sendirinya, atau Tuhan sebagai kebermaknaan kosmos yang inti dan semuanya adalah prinsip keharmonisan. Salah satu gambaran Tuhan yang disebutnya sebagai prinsip harmoni tadi terlihat dalam implikasi pengalaman puncak yang menurutnya adalah jalan menuju keilahian. Melalui pengalaman puncak, seseorang bisa mencapai derajat keilahian, atau menjadi Tuhan.[11]



             






DAFTAR PUSTAKA

A Loen, Arnold. 1967. Secularization: Science Without God?. London: SCM Press.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1985. Islam, Secularism, and The Philosophy of The Future. London: Mansell Publishing Limited.
_______. 1993. Islam and Secularism. Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC.
_______. 1993. Prolegomena to The Metaphysic of Islam: an Exposition of The Fundamental Elements of The Worldview of Islam. Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC.
_______. 1998. The Religions of Islam: Course lecture. Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC.
_______. 2001. Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC.
Boeree, George. 1997. Personality Theories: An Introduction. Psychology Department Shippensburg University.
Ghilab, Muhammad. 1947. Muskilat al-Uluhiyyah. Kairo: Darul Ihya al-Kutub al ‘Arabiyyah.
Keane, John. 2000. The Limits of Secularism, dalam John L Esposito and Azzam Tamimi, Islam and Secularism in the Middle East. London: Hurst & Company.
 Madhofir, Ali. 2001. Kamus Filsuf Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Marx, Karl. Friedrich Engels. 1957.  On Religion. Moscow: Foreign languages Publishing house.
Maslow, Abraham Harold. 1976. Religions, Values and Peak Experiences. New York: Penguin Books.
Nasr, Sayyed Hossein. Knowledge and The Sacred: The Gifford Lectures. Edinburgh University Press.
Wach, Joachim. 1958. The comparative Study Of Religion. New York: Columbia University Press.



[1] Muhammad Ghilab, Muskilat al-Uluhiyyah, (Kairo: Darul Ihya al-Kutub al ‘Arabiyyah, 1947), cet. Ke-2, p. 13
[2] Joachim Wach, The comparative Study Of Religion (New York: Columbia University Press, 1958), p. 39
[3] Ali Madhofir, Kamus Filsuf Barat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), cet, I, p. 352
[4] George Boeree, Personality Theories: An Introduction, (Psychology Department Shippensburg University, 1997). P. 55
[5] Karl Marx, Friedrich Engels, On Religion. (Moscow: Foreign languages Publishing house, 1957), p. 24
[6] Sayyed Hossein Nasr, Knowledge and The Sacred: The Gifford Lectures, (Edinburgh University Press), p. 36

  [7] Abraham Harold Maslow, Religions, Values and Peak Experiences, (New York: Penguin Books, 1976), p. 44-45. Dalam penjelasan lain, dia mengatakan: “…that leading theologians, and sophisticated people in general, define their god, not as a person, but as a force, a principle, a gestalt-quality of the whole of Being, an integrating power that espresses the unity and therefore the meaningfulness of the cosmos? The “dimension of depth,” etc. lihat p. 55
  [8] Ibid, p. 56

  [9] Arnold A Loen mendefenisikan sekularisasi sebagai proses hstoris yang menghilangkan peran Tuhan dari dunia. Sekularisasi mengembnalikan ke3sadaran manusia untuk mempertanyakan apa dan siapa Tuhan itu. Karna tidak terpecakan maka manusia mempercayai kepda fakta bahwa searang ini dunia berada tnapa Tuhan. Lihat:Arnold A Loen, Secularization: Science Without God?, (London: SCM Press, 1967), p. 7, 27. Proses ini membebaskan dunia dari pemahaman keagamaan, mengesampingkan padnagnan hidup dan penghancuran mitos-mitos supranatural dan symbol-simbol sacral. Di dalam proses ini terkandung proses peniadaan kesakralan pada nilai dan alam, dan juga desakralisasi politik. Lhat: syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC, 1993), p. 12-20. Lihat Juga: Syed Muhammad Naquib ak-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC, 2001), p. 196-198. Lihat juga syed Muhammad Naquib al-Attas, The Religions of Islam: Course lecture, (Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC, 1998), p. 133-134. Lihat juga syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to The Metaphysic of Islam: an Exposition of The Fundamental Elements of The Worldview of Islam, (Kuala Lumpur Malaysia: ISTAC, 1993), p. 21-26. Lihat juga Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam, Secularism, and The Philosophy of The Future. (London: Mansell Publishing Limited, 1985), p. 14-17. Proses sejarah ini juga di pengaruhi oleh pengalaman keagamaan yang individual dan hanya berhubungan dengan apa yang bisa dilakukan dalam kesendirian seseorang berdasarkan demokrasi proses ini menawarkan pemahaman agama secara demokratis yang hingga saat ini gagal untuk menghasilkan pemahaman agama yang demokratis karena selama proses pemahaman ini masih berlandaskan demokrasi maka selama itu juga masih bertentangan. Lihat John Keane, The Limits of Secularism, dalam John L Esposito and Azzam Tamimi, Islam and Secularism in the Middle East, (London: Hurst & Company, 2000), p. 31-32.           
[10] Religions, Values, and Peak Experiences: p. 14-15
[11] Abraham Harold Maslow, Religions, Values and Peak Experiences, (New York: Penguin Books, 1976), p. 64

0 komentar :

Posting Komentar