Senin, 15 Mei 2023

Pintar-Pintarlah Memahami Kondisi dan Posisi

Tiga buah petikan mutiara kata, menyelami pesan KH. Hasan Abdullah Sahal yang mengajari diri ini tentang arti kehidupan, dan kemudian hadir sebagai ide, kutipan insipiratif, bagi kita sebagai pembaca, Insya Allah… Aamiin.

............................................................................

 ............................................................................

............................................................................


“Aku hanyalah…,”

 itulah ungkapan para Nabi dan Rasul Allah.

 

“Aku adalah…,”

itulah ungkapan Fir’aun dsb, musuh para Nabi dan Rasul Allah.

 

[KH. Hasan Abdullah Sahal, “Kehidupan Mengajariku Jilid II” hal. 19]

 

 

Betapa indah ajaran Islam yang mengajari umatnya untuk paham akan kondisi dan posisi. Selayaknya manusia biasa, hanyalah hamba. Manusia adalah pelaksana yang diberi maziyah akal dan hati oleh Allah. Manusia adalah sosok yang pada dasarnya lemah, selalu membutuhkan sesama, namun memiliki Tuhan yang maha kuasa. Sehingga bentuk lemahnya tertutupi dengan kekuasaan dan kehendak Allah azza wajalla.

Maka dari itu, manusia seyogyanya berhati-hati, ketika secara ‘de facto’ terpilih menjadi pemimpin di dunia yang fana.  Maka tak boleh ragu baginya untuk terus berdo’a dalam setiap usahanya, sebab begitulah kondisi dan posisi yang seharusnya. Jika kemarin lupa, maka sekarang mulailah mawas diri, ketika menerangkan siapa Anda, sebab jika salah-salah kata, bisa terpeleset menjadi pengikut Fir’aun dan seterusnya. Na’uzubillah.

 

............................................................................

............................................................................

............................................................................

 

“Pembekalan siswa dan mahasiswa, sampai dengan pengirimannya ke luar negeri, diadakan untuk menyempurnakan persyaratan sebagai mundzirul qaum

 

[KH. Hasan Abdullah Sahal, “Kehidupan Mengajariku Jilid II” hal. 20]

 

Sebagai lembaga wakaf, pesantren kudu harus siap menegakkan falsafah “Patah tumbuh hilang berganti, belum patah sudah tumbuh, belum hilang sudah berganti”. Menunjukkan kesiapan yang sangat matang dalam mengemban amanah mengurusi lembaga wakaf, sebab pertanggungjawabannya tidak pada perseorangan, tapi pada jama’ah, tidak kepada pemimpin dunia tapi kepada Allah swt. Maka berhati-hatinya tidak dua kali lipat, tapi beribu-ribu kali lipat, semoga kita selalu dalam lindungan-Nya.

 

Terhadap setiap pergerakan pengurusnya harus berbarengan dengan tulus dan ikhlas. Langkah demi langkah penuh pertimbangan; hari ke hari mesti dipikirkan matang; minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, sampai puluhan tahun ke depan, bahkan untuk sebuah keabadian, pondok harus tetap hidup. Walau pengurus berganti, pondok harus tetap jaya berdiri. Walau masa semakin tahun mengalami perubahan dan pergeseran namun pondok harus tetap tegak, istiqomah hingga akhir masa Allah menghendaki. Maka dari itu, demi persiapan keseimbangan ini lah, kader diutus sebagai persiapan mundzirul qaum. Wallahu musta’aan. Aamiin.


............................................................................

............................................................................

............................................................................

 

“Pandai-pandailah menyikapi perbedaan. Bijaksanalah menyikapi ketidaksamaan, ketidakberhasilan, dan kegagalan.”

 

[KH. Hasan Abdullah Sahal, “Kehidupan Mengajariku Jilid II” hal. 21]

 

Saat ini banyak kesalah pahaman yang mengundang huru-hara berkepanjangan, mungkin saja masalahnya ada, namun penyelesaiannya yang tidak ada. Bisa jadi dapat diselesaikan dengan segera, namun terlalu lamban menindaklanjuti permasalahan, sehingga sempat berdiam lama menoreh luka. Agaknya jika ego mulai diturunkan, masing-masing tahu akan posisi, tahu akan hak dan kewajiban, tahu akan hakikat dari amanah yang diberikan, mungkin saja semua ketidaksamaan, ketidakberhasilan dan kegagalan dapat dihadapi dengan pikiran terbuka, lapang dada lagi bijaksana.

Begitu juga sebaliknya, akan tetap bersarang, dan menjadi luka serius, ketika ego menempati posisi yang tak seharusnya. Maka bijak-bijaklah menata hati, pintar-pintarlah menghadapi perselisihan, sebab adanya perbedaan untuk membuat pelengkap dalam keseimbangan dunia. Usikum wa iyya ya nafsi bi taqwa allah. 

 

Pada akhirnya, hikmah adalah barang temuan muslim yang tercecer di setiap tempat, diberbagai kondisi. Jika bertemu dengannya ambillah, sebab sejatinya itu harta karun umat Islam sedunia. Wallahu a’alam.

0 komentar :

Posting Komentar

Terima kasih telah berkenan mengunjungi situs ini.