Sabtu, 29 September 2012

Merasa bersalah adalah satu langkah lebih maju.


Teman-teman Publikasi Kampus ISID SIMAN
Berawal dari perkumpulanku dengan teman-teman redaksi publikasi yang berdomisili di kampus Institut Studi Islam Darussalam (ISID) SIMAN-PONOROGO; dalam pertemuan awal selepas pembukaan tahun ajaran baru ini kami bermaksud ingin membicarakan lebih lanjut tentang proker-proker ke depan. Sebagaimana kumpul-kumpul sebelumnya. Tapi malam ini terlihat ada satu hal yang aneh sehingga akupun berusaha mengingat-ngingat kembali ungkapan gamlang dari seorang teman yang juga kakakan kelasku yaitu Mr. Halim. Bukan karena ingin dilaporkan sebagaimana halnya wartawan mengejar berita membuat aku benar-benar bait demi bait perkataanya. Melainkan hanya ingin mendokumentasikan hasil perkumpulan dalam bentuk tulisan yang bisa di share bersama. (Dengan sedikit meninggikan intonasi suara beliau mengatakan:


Begitu ada kesepakatan untuk mengadakan acara, jangan tunggu-tunggu sampai esok. Ada konsep acara langsung lakukan.

Semakin lama kita mengambil keputusan/ berfikir, itu otaknya juga semakin lamban juga.

Kalau mau cepat, kita harus jalan cepat dari sekarang

Merasa bersalah adalah satu langkah lebih maju.

Selepas berakhir perkumpulan tersebut Mr. Halim mengajakku berdialog santai, dengan gorengan tersaji yang tak tersentuh dari tadi mulai kami nikmati kelezatannya dilidah satu demi satu. Dengan santai perbincangan yang menarikpun mulai mengalir diantara kami, sampai akhirnya  beliau pun menceritakan sebab awal mengapa beliau begitu marah di saat perkumpulan tadi.

“Wan dulu ketika ana kumpul seperti ini, untuk membuat buku kecil sebesar note book biasa aja, sampai ‘jidal kalam’ (berlaga argumen) antar teman. Ana dengan alasan agar cetakan bukunya benar-benar komplit meminta agar percetakan buku tersebut di undur 3 hari lagi, bayangkan hanya 3 hari loo,…. Tapi teman ana gak mau,  tetap teman ana bersikeras untuk mencetak buku tersebut. Akhir kata tercetaklah buku tersebut dan memasuki masa penjualan ternyata buku-bukunya laris terjual, penjualan surplus, buku-bukunya terjual dengan amat sangat memuaskan.


       Sejak saat itu ana mengambil keputusan bahwa ternyata “Berfikir Cepat dan Bergerak Cepat Itu Perlu”, tanpa di minta untuk mengaku bersalah ana juga telah merasa bersalah yang harus ente ketahui; merasa bersalah adalah satu langkah lebih maju wan” dan satu lagi wan, dengan jari jemari mulai menggenggam stik PS, dia pun berujar;“hal yang paling enak dalam hidup adalah menyimpulkan segala sesuatu sesuka kita”.

0 komentar :

Posting Komentar