Rabu, 23 Oktober 2019

Tidak Ada Kata Tua Dalam Diskusi Ilmu Pengetahuan

Dalam belajar Aku suka ungkapan “Tidak ada kata tua dalam diskusi ilmu pengetahuan”, sebuah bius semangat yang selalu dapat menyuntik semangat untuk terus bangkit, maju dan berkembang. Merupakan solusi bagi diri yang cinta akan karya tanpa memandang usia, cinta akan ilmu dan hal baru tanpa ingat akan Batasan waktu semata, disaat kesukaan di kerjakan tanpa melihat batasan disanalah awal keberhasilan, hampir para ahli di bidangnya selalu mengatakan demikian.

Sebagai landasan filosofis kecintaan belajar timbul mana kala teringat kata-kata Imam Ali “Man ‘Afara Nafsahu Faqod Arofa Rabbahu” ungkapan sederhana mengajarkan bahwa jati dirilah kunci utama mengenal zat Allah, mengenal ciptaan Allah agar mencapai takjub akan kuasa-Nya, mengenal seluruh kehendak dan Ridha Allah lewat setiap kejadian yang terjadi setiap harinya. Pada Akhirnya tertata iman dengan keyakinan bahwa Allah itu ESA dengan segala ciptaan dan kuasanya sedang kita lemah, tak mampu berbuat apa-apa selain atas izin Allah swt. “La Haula Wa La Kuwwata Illa Billahil’aliyyil’azim,” tidak ada daya dan upaya manusia biasa ini kecuali atas rahmat dan izin Allah swt yang maha agung maha pencipta.

Dalam hal mengenal jati diri, masing-masing kita mungkin sama dan mungkin juga berbeda, tapi disini setidaknya menjadi lahan kita untuk bertukar pengalaman untuk sama-sama belajar, dan bagiku ada 3 hal penting yang harus selalu kukerjakan sebagai upaya ikhtiar mengenal diri meraih ridho ilahi.

Pertama, Kegiatan Kampus
Dalam hal ini Aku menjadikan kampus sebagai ladang untuk bertukar fikiran dan berdiskusi dengan beragam macam teman dan dosen, dari mulai sudut pandang yang berbeda hingga tindak-tanduk perkembangan kontemporer yang semuanya juga berbeda. Pada intinya disini aku belajar bagaimana, meluapkan ide, gagasan, visi-misi, belajar berfikir dan berlogika hingga akhirnya belajar bagaimana menulis karya tulis ilmiah dengan baik dan benar

Kedua, Kegiatan Pesantren.
Disamping kuliah, pesantren adalah rumahku. Selayaknya rumah yang selalu dirawat, dibersihkan, disapu, dan di perindah. Begitu jugalah pesantrenku ini. Pesantren masih perlu untuk terus di bantu, dibela dan diperjuangkan. 

Makna membantunya harus terus berikhlas ria meluangkan waktu dan mengeluarkan tenaga demi kejayaan Islam yang berawal dari pola didik pesantren. Selanjutnya arti di bela di sini pesantren memiliki jati diri yang tidak biasa, dia unik, dia berkilau, dia tinggi, untuk itu semua selalu ada saja yang iri, maka dari itu jagalah ia dari hati-hati yang busuk lagi merugikan. Terakhir adalah diperjuangkan, jika hidup tidak untuk berjuang, untuk apalagi hidup kita? Dimanapun kamu berada di sanalah lahan perjuanganmu menanamkan islam yang harus diutamakan. Untuk itu jika saat ini pesantren tempatmu, maka jadikanlah ia lahan tuk Perjuanganmu yang tak henti. “Untuk itu aku pribadi memilih mengajarkan bahasa Arab, bahasa Inggris, keterampilan Jurnalistik dan Kajian Filosofis di Pesantren ini, 4 keahlianku yang ku gunakan sebagai wadah perjuanganku.”

Ketiga, Kegiatan Harian.
Bertahun-tahun kita hidup selalu di mulai dengan satu hari setiap pergantian bulan ke matahari. Sama halnya dengan kejayaan yang harus di mulai dari langkah pertama, sama dengan perantauan yang harus di mulai dengan ke-nekat-an yang terukur atau bahkan nekat yang 100% tanpa perhitungan tanpa ukuran. Apapun itu kegiatan hariannya, pasti berbuah keberhasilan yang sangat luar biasa jika dilakukan dengan penuh keistiqomahan. Bagiku sendiri dalam keseharian menulis adalah kegiatan wajibku, meskipun terkadang berebutan dan pekerjaan lain dan rasa malas yang terkadang hadir tanpa di undang, heheheh…. Sampai hari ini, alhamduillahnya kegiatan ini dapat terus berjalan, semoga dapat menjadi tradisi dan kebiasaan yang baik. Aamiin.

Keempat, Kegiatan Masa Depan. 
Tidak terlalu banyak masa depan yang dirancang, sebab perancangan terlalu panjang terkadang menyulitkan diri untuk memulainya dari mana. Untuk itu saya cuma punya 9 rencana sederhana ke depan. Rencana menikah, menstabilkan ekonomi, berkarya tanpa henti, melanjutkan kuliah doktoral dan guru besar LN, menjadi orang bermanfaat di masyarakat sebagaimana profesi sebagai ustadz/guru, ahli di bidang bahasa Arab dan Inggris, Penulis produktif, Dosen yang berwawasan luas dan serta memiliki cita rasa hobi musik yang tinggi agar dapat menarik pemuda untuk terus aktif berinovasi.


Kelima, Kegiatan bermanfaat. 
Aku tidak Tahu Persis bagaimana mau membreakdown rangkaian kegiatan yang bermanfaat. Sebab kesemuaannya memiliki kelebihan dan keluasan sendiri dalam memahami konsep dan memberikan perubahan. Yang terpenting yang aku pahami bermanfaat itu mana kala kita mampu membantu orang lain dengan kualitas tuntas yang membuat mereka tersenyum, menangis sehingga tidak mampu berkata apa-apa kecuali tangis yang berlinang sebagai bentuk pengganti kata-kata yang Sudah tidak mampu dirangkai untuk mengucapkan kata lain dari pada terima kasih.

Dari catatan singkat ini, Aku kembali merefleksikan diri bahwa makhluk lemah yang penuh dengan kekurangan dan kealfaan ini, kelak akan menjadi sosok yang luar biasa, jika ia terus belajar, tapi jika tidak, dia bukanlah siapa-siapa.


Akan ada masanya pemikiran kita dipertimbangkan, keputusan kita di cintai dan setiap tindakan kita mendapat dukungan. Meskipun itu sukar, tapi bukan berarti tidak mungkinkan? Tidak ada yang abadi di bumi ini, semuanya silih berganti, sebagaimana dengan awan tebal yang menutupi bulan dan Matahari. Pada akhirnya dia juga akan menghilang sehingga pancaran cahaya menjadi lebih dominan. Orang yang belajar, sama seperti orang yang mengejar cahaya impian, … Ingatkah kamu, Impianmu adalah Dorongan Terhebat yang kamu miliki? Jangan pernah menggap remeh itu!

0 komentar :

Posting Komentar