1. Islamic Philosopher

Philosophy - Education - Pesantren - Psychology - Leadership - Journal.

2. My Books

Biography - Novel - Poetry - Motivation and Reflection - Contemporary Scientific - Compilation and Collective - Da'wah - Philosophy - Textbook

3. Podcasts

ku.isikata - Nilai Pengembara

4. Professor

Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil. and Prof. Dr. Irwan Haryono Sirait, M.Pd.

5. Writerpreneur

Real Writer - Writer's home school - Research home school - Poetry house school - Autism home school - Build an international library - Trillionaire

Senin, 11 Oktober 2021

Penghidupan Itu Ialah Pendirian & Perjuangan (Dari Lembah Cita-Cita)

 “Sebelum mati bukankah hidup? Mengapa kita mesti mengingati mati saja. Padahal kita yakin bahwa sekarang kita hidup? Bukankah sebelum melalui pintu mati, kita mesti menjalani hidup? Pertanyaannya. Hidup seperti apa yang ingin kamu jalani? Hidup seperti apa yang mampu kamu pertanggungjawabkan?”



                    Judul         : Dari Lembah Cita-Cita

Penulis      : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit    : Gema Insani Press

Tempat      : Jakarta

Cetakan     : Pertama, Februari 2016

Tebal         : 102 hlm,; 18,3 cm

ISBN          : 978-602-250-291-3

Harga        : Rp. 33.000,-


**

Di halaman 4 dari buku ini menyiratkan ungkapan menarik ,mengatakan bahwa:“Pemuda itu adalah satu bagian dari gila. Dengan kegilaannya, ia mengadakan yang belum ada, dipahatnya batu, dibelahnya gunung.” 

 

Tidak cukup hanya itu, di halaman 5 tercatat sebuah ungkapan Presiden Soekarno, sejak saat itu kata-katanya menjadi catatan seluruh dunia “Berikan kepadaku 1000 orang tua, aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi berikan kepadaku 10 Pemuda, Aku sanggup mengguncangkan dunia.” Setelahnya Hatta berkata pula berorasi, demi melihat bagaimana semangat pemuda menyelenggarakan revolusi, “Hai Pemuda, kamu adalah pahalawan dalam hatiku”

 

Buku saku berhasil menggambarkan begitu sangat antusias tak terhingganya seorang Buya Hamka, beliau merasa lebih berfaedah ketika berhadapan dengan dua orang pemuda yang bersemangat dan bercita-cita yang senantiasa resah dan gelisah, yang tiada merasa puasa, yang hendak memahat batu yang hendak mengisarkan bukit yang berkata “Inilah saya!”

 

Pada halaman 82 ada logika menarik memahamkan kita bahwa tidak ada yang perlu ditakuti di Bumi Allah ini, sebab siklus hidup sudah terpola dengan rapi, tinggal kita mengikuti pola yang mana, atau tinggal kita ingin memasuki pola yang mana, semua pilihan ada dalam hidup kita. “Kalau tidak ada kejahatan, mana orang tahu memilih kebajikan. Kalau tidak ada kejahatan, di mana akan dapat dibuktikan bahwa setan itu ada. Kewajiban kita ialah berlomba menegakkan keadilan, di samping setan mempropagandakan kejahatannya; menegakkan budi di tengah-tengah kesesatan manusia; dan menghidupkan cahaya Allah di dalam jiwa kita masing-masing. Itulah ia perjuangan, itulah ia hidup, “Wal Aqibatu lil muttaqiin” Kemenangan akhir akan diberikan Allah swt bagi orang yang bertakwa kepada-Nya.”

 

Buku ini lebih cocok dibaca ketika dalam kondisi sedang dalam jatuh-jatuhnya semangat diri, sebab isi dalamnya begitu sangat menyulutkan emosi, meningkatkan semangat diri, di halaman 86 sebelum akhir bercerita tentang pendirian dan perjuangan “tegaklah pada pendirianmu di dalam hidup ini dan berjuanglah. Sesungguhnya, penghidupan itu ialah pendirian dan perjuangan. Untuk apa kita diberi Allah SWT akal dan pikiran? Supaya kehidupan kita berbeda dengan makhluk yang lain. Sebab itu, tiap-tiap pikiranmu bertambah, tiap-tiap mata bernyalang, pandanglah alam ini dengan pandngan sendiri. Jangan dibiarkan segala sesuatu berlalu di hadpaanmu dengan selalu -lalunya saja, tetapi pertalikanlah dengan dirimu. Karena segenap alam ini bertali senantiasa dengan manusia.”

 

 

Buku ini merupakan salah satu saksi sejarah perjuangan Hamka menyebarkan semangat pada generasi muda, di awal-awal masa kemerdekaan, supaya mereka berjuang mengisi dan mempertahankan kemerdekaan dengan memakai dasar yang kukuh dalam jiwa mereka.

 

Pembahasan Buya Hamka mengenai tauhid, ibadah, iman, negara, perjuangan, dan cita-cita dalam buku ini mampu mengajak kita kembali merenungi diri, merenungi iman, Islam , cita-cita dan hidup kita. Sekukuh apa jiwa kita menjadikan Islam sebagai pedoman dan penggerak hidup kita dan sebesar apa cita-cita kita terhadap kehidupan dunia dan kehidupan setelah dunia ini.

 

Drs. Zainul Yasni dan satu temannya, yang awalnya menerima petuah-petuah dalam buku ini secara khusus dari Buya Hamka merasa sangat perlu menyebarkan ilmu yang mereka peroleh kepada seluruh generasi muda Indonesia. Sehingga, dengan izin Buya Hamka, mereka berhasil membukukan kumpulan materi yang mereka dapat dari Buya Hamka menjadi sebuah buku saku, meskipun ringkas insya Allah memiliki bobot yang sangat besar bagi jiwa yang membacanya.

 

Dalam buku ringkas ini terdapat 13 judul inti menjadi pembahasa menarik dari buku ini. Diantaranya: Dua Orang Pemuda Bertanya; Zaman Jahiliyah; Tauhid; Ibdah; Iman; Pembalasan; Iman dan Negara; Cita-Cita; Mencapai Cita-Cita; Khutbah Socrates; Pendirian dan Perjuangan; Tidakkah Tuan Takut?; Menyesali Zaman Lalu. Demikian rentetan daftar isi yang beberapa dari judulnya menggelitik rasa penasaran diri untuk terus melahapnya segera.

 

 

**

Sebagai akhir dan penutup beberapa petikan kata-kata Buya Hamka, kiranya dapat menutup bacaan kita dengan penuh rasa semangat: 

 

Selidiki, periksa, dan alami. Buah dari penyelidikan, pemeriksaan, dan pengalaman, itu ia pendirian. Pertahankanlah pendirian itu dan bawalah berjuang, tetapi kamu harus menang sebab itulah ia hidup!

 

Lautan hidup itu amatlah dalam. Kalau hanya dengan kail yang sejengkal saja, tidaklah lautan itu akan dapat diduga.

 

Kiranya penutup singkat dari ucapan Buya Hamka di atas. Dapat menutup tulisan ini, semoga bermanfaat, ingin lebih mendapatkan ruhnya, silahkan miliki buku tersebut, dan silahkan baca isinya segera, tidak perlu buru-buru, perlahan, terhayati lebih baik dan lebih menentramkan hati. 

 

Akhir kata selamat menikmati.

 

Medan, Senin, 11 Oktober 2021: 3:59 wib

Minggu, 10 Oktober 2021

Hanya Ingin Menulis


Ahad, 10 Oktober 2021


 


Pagi.

Gemericik air kran membawaku berkhawal akan pagi buta beberapa tahun lalu, dengan setengah mata terbuka, berderu pukulan gagang kayu di depan pintu, membuatku harus bergegas memakai sarung sambil terus mengembalikan nyawa yang belum Kembali sempurna. Sayup-sayup mata terbuka tertutup, langkah kakipun terus melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga satu persatu dan berjalan menuju kran air, sedikit putaran kekanan mengeluarkan hembusan air kencang, hawa air segar deras mengalir masuk kedalam paru-paruku, basuhan pertama, mata mulai terbuka, basuhan ke dua badan mulai merasa dingin, basuhan ketiga ingin segera menyudahi wudhu,… ‘piyuuuuuhh’…. Semburan angin dingin serasa menusuk tulang sum-sum membuat sekejap mengingil kedinginan.

Ceritaku dulu; ketika berwudhu hampir setiap subuh ketika masih menjadi santri.

.

Banyak hal ingin diceritakan sebenarnya, namun apakah itu terkesan biasa, atau menjadi kesan luar biasa, tidak ada yang tahu benar adanya, yang ada hanya kisah berbeda selalu memberikan hikmah yang berbeda pula.

.

Sama seperti hari ini, persis seperti pagi ini, semua memiliki nama hari yang sama, memiliki matahari yang sama, dan memiliki jatah waktu yang sama, hanya dengan sedikit aktifitas yang berbeda membuatnya menjadi beraneka rasa. 

.

Kamu yang sedang berusaha; semoga usahamu tidak sia-sia

Kamu yang sedang menderita; semoga penawarnya segera datang menghapus lara

Kamu yang saat ini sedang sakit; semoga cepat disembuhkan Allah swt

Kamu yang saat ini sedang kehilangan; semoga digantikan orang lain yang bisa menghidupkan senyummu kembali.

Kamu yang saat ini sedang berjuang; yakinilah diujung jalan panjang ada keberhasilan yang akan kamu raih.

Kamu yang sekarang sedang mengejar mimpi-mimpimu, jangan ragu kamu sangat luar biasa untuk itu.

.

Semoga pagi ini menjadi pagi yang berkah dan cerah gembira bagi kita semua.

.

Tidak ada inti dalam tulisan ini, hanya ingin menulis saja.

.

Terima kasih banyak sudah mau membaca 

Jazakumullah khoir 

 

Sabtu, 09 Oktober 2021

Jangan Terlena!

Sabtu, 9 Oktober 2021

 


Terlena memiliki kata lainnya seperti terbawa arus, mengalir mengikuti irama, berjalan tanpa fokus pada tujuan, hingga berbuat sesuka tanpa memikirkan jatah waktu terus berkurang. 

 

Terlena sama seperti penyakit yang tidak mematikan awalnya namun menggerogoti imun tubuh, sampai pada akhirnya ketika kita dalam kondisi lemah, ketika kita dalam kondisi kurang vitamin, habislah tubuh kita…. Tidak mampu menahan kekokohan diri, akhirnya tumbang.

 

Terlena menurutku sama seperti lalai dan tidak bersyukur. Sebagai ilustrasi ketika seseorang diberikan nikmat berupa kemudahan dalam urusan, kemurahan dalam rizki, dan kecepatan dalam hal karier, biasanya banyak manusia yang mulai lupa diri, lupa akan makna kesungguhan dari kerja dan belajar, lupa bagaimana cara untuk bersyukur,  sehingga meninggalkan aktifitas harian dan memulai dengan aktifitas baru jauh dari kebermanfaatan. Begitulah menurutku, hingga akhirnya penyesalan yang ada. Sebab tanpa terasa waktu bergerak lebih cepat dari yang ia kira. Ternyata sudah terlalu lama ia tidak sadarkan diri. Gelap telah berganti terang, terang telah berganti temaram, dan malam Kembali lagi menjadi terang.

 

Bangkit dan sadarlah segera. Cukup kelalaian masa lalu, cukup waktu terbuang di masa lalu, cukup tertutupi dengan sekian banyak hal dulu, biar yang lalu pada tempatnya di masa lalu, sekarang adalah waktu sekarang, nanti adalah gambaran hasil dari sekarang, ingin sukses di masa depan, kuncinya sekarang, bekerja keraslah saat ini. Ingin gelar professor nanti belajar sungguh-sungguhlah sekarang, ingin menjadi penulis terkenal membaca dan menulislah sejak sekarang, ingin membangun pondok yang besar dan terkenal tanamkan jiwa kepemimpinan dan mental baja sejak saat ini, tentang nanti tidak usah berpikir terlalu panjang hingga tanpa sadar menjadi menghayal, tentang nanti biarkan cukup menjadi impian. Biar hari ini bekerja sesuai porsi semaksimal yang ia bisa.

 

Kamu saat ini adalah upaya kerja kerasmu dimasa lalu, 

Kamu nanti adalah upaya kerja kerasmu saat ini, 

Jika kuat kakimu, kokoh pijakanmu maka melangkahlah tanpa ragu,

Sebab yang berbeda akan lebih baik dari yang sedikit lebih baik.

Jangan Lalai_Perjuangkanlah Apa yang sudah kamu mulai!

 

Bersiap siagalah, saat ini garis lintasan ada di depan, tarik nafas dalam-dalam, bersiaplah bermaraton, dan………Bismillah, Langkahkanlah kaki kananmu,… Kesuksesan adalah jalan panjang. 

Bersiaplah untuk terus berlari kecil, dan keluarkan seluruh kemampuanmu jika garis finish sudah mulai terlihat. Aku yakin kamu mampu, Aku yakin kamu terlahir untuk sukses.

 

Tersenyumlah kawan. Kamu PEMENANGNYA.