Selasa, 15 Februari 2022

Saya Pun Turut Meratap Dalam Ratapannya

**

“Apabila perasaan cinta telah bersemi, tidak ada makhluk yang sanggup menghalanginya karena cinta ialah perasaan hati yang merdeka dan bebas.”
[Prof. Dr. Hamka]

**

 

Di Dalam Lembah Kehidupan adalah kumpulan air mata, kesedihan dan rintihan yang diderita oleh segolongan manusia di muka bumi ini. Air mata mereka itu sudah sampai masa penghasbisan, telah mengalir ke tanah, dan hilang lenyap dalam pasir. Orang lain tidak akan peduli terhadap hal itu. Bagaimana mungkin orang akan peduli sebab orang-orang sedang dirintangi oleh kesenangan dan kemewahan!

 

Di Dalam Lembah kehidupan adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Buya Hamka pada tahun 1930-1940-an. Dalam buku ini terdapat dua belas cerita pendek yang berkisah tentang roda kehidupan manusia yang terus berputar. Yang tidak selamanya menempatkan manusia pada posisi di atas, tetapi juga di bawah. Yang terkadang memposisikan manusia pada suasana keberuntungan dan kebahagiaan, juga kesusahan dan kesedihan. Yang tidak setiap waktu memberikan manusia harapan sesuai yang diinginkan. Buya Hamka dalam kumpulan cerita pendek ini menyoroti kehidupan manusia ketika roda kehidupan membawanya ke kondisi menyedihkan.

 

Dari kumpulan cerita pendek ini, salah satunya yang dapat kita maknai, yakni bahwa masih ada kehidupan orang-orang nyang jauh dari sorot lampu panggung kehidupan, yang jarang diketahui orang, dan ternyata mereka menyimpan kepiluan dan kesedihan yang mendalam karena berbagai kesusahan dan cobaan hidup. Kita juga diajak untuk lebih bersyukur atas nikmat hidup yang diberikan Allah swt kepada kita dan kita dapat lebih berempati kepada saudara-saudara kita yang sedang mendapat ujian hidup berupa kesengsaraan, kekurangan, dan kelemahan hidup.

 

Sesungguhnya kumpulan cerita pendek yang diberikan judul Di Dalam Lembah Kehidupan ini adalah kumpulan air mata kesedihan dan rintihan yang diderita golongan manusia di muka bumi ini. Air mata mereka sudah jatuh, mengalir ke tanah, dan lenyap dalam pasir. Dalam lembah dan jurang kehidupan ada sekumpulan makhluk yang merintih. Saya datang ke sana sebab memang saya tinggal di sana. Saya lihat air mata jatuh, saya lihat air mata itu diiringi oleh darah. Karena itu, saya susunlah penderitaan itu jadi gubahan untuk bangsa dan nusa saya, sambil berkhidmat kepada bahasa ibu saya. Dari sini saya ketahui betul tidak sedikit makhluk yang kecewa dan melarat, yang sudah patah sayapnya sebelum terkembang, tergari dan jatuh sehingga tidak dapat bangkit lagi. Ungkap Buya Hamka dengan penuh kesadaran diri.

 

Padahal di dalam lembah yang sangat dalam, di dalam jurang yang tidak ditempuh itu, yaitu dalam lembah dan jurang kehidupan, ada sekumpulan manusia yang merintih. Tidak banyak orang yang mendengar rintihan itu dan tidak tahu.

 

Berharap terbangun kesadaran bahwa di balik kehidupan ini ada manusia-manusia yang kesusahan dan kesulitan menghadapi situasi dan kondisi kehidupan. Manusia-manusia yang sudah patah sayapnya, bahkan sebelum mereka belajar terbang, lalu terkulai, dan jatuh. Berharap perlindungan dan pertolongan Allah swt untuk senantiasa menguatkan mereka.

 

Ciri khas bahasa sumatera barat yang indah, sangat terkam betul dalam catatan ini, pengikat rasa tulisan, bumbu dan penyedap rasa novel ini dari novel-novel yang lainnya.

 

Dari dua belas cerita pendek yang tertulis dalam buku ini, aku tertarik dengan judul ke enam berjudul Gadis Basanai (Hikayat Lama di Salida). Sekelumit akan ku kutip dan kusajikan kepada pembaca, kiranya menjadi barometer untuk menikmati beragam cerita pendek selanjutnya.

 

Singkat cerita..

 

Basanai tumbuh menjadi penyemangat rumah besar itu. Basanai tumbuh menjadi cantik jelita dan menjadi penghibur hati mamak dan mentua (istri mamaknya). Setelah cukup usianya 16 tahun, mulai pemuda berdatangan,  enam kali pemuda datang, enam orang bujang berganti, semuanya ditolak.

 

Namun, dari semua permintaan pinangan orang lain, ada seorang yang telah menanamkan cinta di dalam hatinya terhadap Basanai. Cinta yang membukakan harapan di zaman yang akan datang. Cinta tidak membeda-bedakan derajat. Orang itu ialah Asam Sudin sendiri. Adapun Basanai tidak tahu bahwa saudara sepupunya itu menaruh cinta padanya.


“Apabila perasaan cinta telah bersemi, tidak ada makhluk yang sanggup menghalanginya karena cinta ialah perasaan hati yang merdeka dan bebas.”

 

Asam Sudin tahu pula, jika sekiranya dia hendak meminta suatu tanda mata kepada Basanai, saat ia meninggalkan daratan, mulai bermuara berhari-hari, bahkan berbulan-bulan ditengah gelombang lautan yang tak tentu arah. Pasti tidak akan diberinya. Sebab itu disimpan saja rambut itu untuk dijadikan azimat dan obat jernih pelerai demam. 

 

Rambut itu digulungnya baik-baik, dimasukkan ke dalam puan ibunya. Setelah itu, dibungkusnya dengan ikat kepala putih. Apabila tengah malam dan bulan terang-benderang, kerap kali dia berdiri ke tepi pantai, melihat ombak memecah karang dan angin laut berembus. Lalu dikeluarkan puan tersebut dari sakunya dan ditangisinya,

 

Anak gagak dilesung cinta 

Makan berulang ke perahu

Hati hendak bagiakan bahagia

Tapi membilang tidak tahu.

 

**

Sampai tibalah waktu berlayar Asam Sudin berkata, “Ibuku, belum tentu Ananda akan kembali pulang, tidak dapat ditentukan kehendak Allah. Kalau untung baik, selamat Ananda pulang pergi. Kalau kehendak takdir telah tersurat, entah hilang Ananda di laut lepas, entah ditelan ombak tujuh, kehendak Allah siapa tahu?”

 

Hanya sedikit Ananda meninggalkan pesan jaga wasiat ini erat-erat. Di atas kepala pintu yang menghadap ke laut, Ananda letakkan sebuah puan perak terbungkus kain putih. Di dekat puan itu ada pula sebuah cermin. tiada seorangpun boleh memegang dan mengambil barang itu, sebelum Ananda kembali. Barangsiapa yang memegangnya, tentu dia akan melanggar pantangan. Kelak jika nama Ananda saja yang pulang, barulah boleh Ibu mengambil kedua barang itu.”

 

“Baiklah,” Jawab ibunya. “Wasiatmu akan Bunda pegang erat-erat, berlayarlah dengan selamat, anakku.”

 

Diliriknya Basanai dengan suduh mata yang muram, seraya berkata, “Selamat tinggal, Basanai.”

 

…..

 

“Bukankah sudah Bunda katakan? Engkau melanggar pantangan. Jangan dekati barang itu Basanai, kata Bunda. Engaku dekati juga, sekarang jadi seperti  ini…”

 

“Oh, Mentua, mintakan saya ampun jika Kak Asam pulang, mohonkan maaf saya kepadanya. Saya mengakui kesalahan saya, digantung saya tinggi, dibuang saya jauh. Apa pun keputusan Kak Asam saya ikut, untuk menebus dosa saya.”

 

Tapi, mengapa rambut Basanai ada di dalam lipatan kain putih ini bunda, dan mengapa cermin ini memancarkan wajah Kak Asam Sudin, diliriknya kaca itu oleh Bunda, “tidak anakku cermin itu masih sama seperti cermin biasa,” kembali dilihat Basanai ke arah cermin, wajahnya yang terpantul, yang sebelumnya dia sadar betul berkali-kali dilihatnya kaca tersebut, berkali-kali wajah Asam Sudin yang muncul, seketika itu barulah ia tersadar bahwasannya pria yang selalu bersamanya dalam diamnya; telah menyimpan perasaan cinta terdalam untuk dirinya, hal yang sama sekali tidak ditangkap oleh hatinya sebelumnya.

…..

…..

…..

 

“Ooo, Mentua, tidak tertanggung, tak tertahan. Malam haram mataku tidur, siang haram dudukku senang. Ingatan kepada orang di Pagai saja.”

…..

…..

…..

 

“Mentua, jika gadis Basanai mati muda, panggil tunangan keenamnya, berdua suruh merobek kafan, berdua menggali kubur, berdua menshalatkan. Mandikan jenazahku oleh Mentua. Kuburkan jenazahku di atas puncak Gunung Ledan, di bawah naungan pohon delima, di dekat kemuning hijau. Tegakkan di atas kuburku bendera dua juntai, sejuntai hadapkan ke rumah almarhumah ibuku, sejuntai hadapkan ke laut supaya terlihat oleh biduk orang dari Pagai.”

…..

…..

…..

“Wahai, Nak! Sebab dia telah tahu bahwa engkau cinta kepadanya maka dia sampai begitu. Pantangan dilanggarknya, dibukanya bungkus pantangan, dalam bungkusan itu ditemuakn olehnya tanda-tanda yang menunjukkan engkau cinta kepadanya. Sejak itu hatinya tidak senang lagi, dia henak bertemu juga hendak meyampaikan kepada engkau bahwa di pun cinta kepadamu. Ada satu wasiatnya, yaitu dia tidak sanggup lagi menunggu engkau di dunia. Oleh sebab itu, ditunggunya engkau di akhirat, disuruhnya engkau ziarah ke kuburnya, tubuhnya yang halus menunggu kedatangan engkau di sana.”

 

Cerita masih berlanjut, keajaiban terjadi saat Asam Sudin pergi di malam purnama menziarahi makamnya Basanai, dilakukannya sebagaimana yang disarankan leluhur dikampung, selepas dikerjakan suruhannya ia pun tersungkur di atas pusara Basanai, malam itu juga ajal menjemputnya, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya di atas puasara Basanai.

 

Sebuah cerita pendek yang memiliki nuansa berbeda dari cerita pendek biasa, buku ini menghadirkan cerita yang tak tertebak oleh pikiran untuk lanjutan ceritanya, menjadikannya tampak lebih misterius, serasa 12 cerita masih kurang, agaknya perlua ada jilid kedua yang mampu dilahirkan, entah itu mungkin dari perebendaharaan lama yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, untuk kembali dinikmati bagi para pembaca.

 

Cerpen ini sangat cocok bagi siapa saja yang baru meranjak ingin mengenal sosok Hamka, bisa jadi melalui lembar sastra ini kamu terpikat untuk mendalami tentang beliau, atau bisa jadi dari sastra beliau akan muncul kisah sastra darimu. Apapun itu, karya beliau sangat fenomenal, membacanya membuat kamu beruntung.

 

Akhir kata, semoga terinspirasi, Selamat membaca.

 

**

Judul Buku      : Di Dalam Lembah Kehidupan

Penulis             : Prof. Dr. Hamka

Penerbit          : Gema Insani, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Ramadhan 1438 H/Juni 2017 M

Tebal               : x + 194 hlm; 20,5 cm

ISBN                : 978-602-250-390-3

Genre              : Novel

Harga              : Rp. 54.000,-

Resensator      : Irwan Haryono S., S.Fil.I

**

 

 

 

 

 

0 komentar :

Posting Komentar