Iklan Multipleks Baru

Saturday, February 5, 2022

3 In 1 Dalam Islam


**

“Jangan sampai miliu masyarakat yang adil sampai basi dan bobrok oleh karena perubahan zaman. Masyarakat senantiasa berkembang. Dasar tetap dipegagang, tetapi perkembangan masyarakat tidaklah boleh dipungkiri”

[Buya Hamka]

**

 

Dalam catatan ini, yang menjadi 3 in 1 adalah: Tiga pembahasan dasar tentang seni kepemimpinan dalam Islam, seni keagamaan menjadi perekat umat, serta ekonomi dan politik yang sejahtera. Menjadi satu dalam buku ini, menjadi sebuah Pedoman Hidup Umat Islam kearah yang lebih maju menurut versi Buya Hamka. Lebih jelas untuk penjelasan 3 hal berikut adalah dalam setiap untaian resensi berikut, kiranya dapat menjadi inspirasi dan tambahan perebendaharaan kemajuan dalam setiap kepemimpinan dan pemerintahan para masyaikh keseluruhan. Wallahu musta’aan.

 

 

1.     Seni Kepemimpinan Dalam Islam.

 

Filsafat ajaran Khalifatullah inilah yang menumbuhkan keyakinan dalam hati kaum Muslimin bahwa urusan negara dengan agama tidaklah pernah terpisah.

 

Dalam surah an-Nuur ayat 55 menerangkan bahwa Allah swt berfirman: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah DIa ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 55)

 

Beranjak untuk memahami isi buku ini, perlu kita membaca pengantar buku, pengatar penerbit dan bahkan pengantar penulis, agar tahu apa sebenarnya tujuan melahirkan karya yang saat ini ada digenggaman kita.

Tercatat disana bahwa sesudah perang dunia kedua, muncul 2 kubu yaitu kubu sosialisme dan kubu kapitaslime. Keduanya saling menarik dan open mindset agar kaum muslimin berpihak pada mereka. Dari sini kita paham bahwa penyakit umat Islam saat ini bukan penyakit baru tapi adalah penyakit lama yang telah masuk dalam tubuh muslim beratus tahun yang lalu. Untuk itu tidak heran kini umat muslim dipenuhi dengan penyakit liberalisme, komunisme, faszisme, sosialisme, kapitalisme, dan beragam paham lainnya sudah silih berganti berusaha mengatur kehidupan manusia, perekonomian khususnya. Namun, semua paham itu adalah paham ciptaan manusia yang hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Satu paham digantikan oleh paham yang lain. Tidak tetap dan tergantikan. Begitulah melodinya.

 

Jauh sebelum paham-paham tersebut muncul, Islam sudah mengatur sedemikian rupa, serapi dan seteratur lebih dari yang dapat dibayangkan. Islam mengatur hak-hak ekonomi perseorangan juga masyarakat pada umumnya serta peran negara dan pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial. Selain itu, Islam juga mengatur pintu masuk sumber harta dan pintu keluar kearah mana harta itu disalurkan.

 

Tercipta masyarakat yang adil lewat keadilan sosial dan pemerintahan yang teratur, untuk menciptakan negara yan adil dan makmur.

 

2.     Seni Keagamaan Menjadi Perekat Umat

 

Pada halaman 18 buya menerangkan tentang kejadian manusia perdalam yang akan memimpin dunia. Kuntu kanzan makhfiyah adalah Aku perbendaharaan yang tersembunyi. Maka manusia sekian sehari, setahun seratus ribuan tahun, yang membongkar perbendaharaan itu.

 

Sebelum mendirikan suatu pemerintahan, selama tiga belas tahun, Nabi Muhammad lebih dahulu mematangkan ideologi di Mekah. Hal ini menjadi kesan bahwa pendirian masyarakat atau negara dimulai dari dalam, dari jiwa, dari dhamir yang bersih sehingga kesadaran bernegara bukan hanya dicat dan disemir dari luar, tetapi bermasyarakat dan bernegara timbul dari dalam.

 

Dalam Islam harta benda itu perlu. Sangat perlu. Orang Islam mesti kaya raya karena dengan kekayaan itulah dia akan dapat mempertinggi kemuliaan budinya, kebudayaannya, keagamaannya, dan pembangunannya seperti yang dahulu telah kita nyatakan: Kefakiran dan kemiskinan adalah pintu menuju kekufuran.

 

Akan tetapi dalam beberapa Ayat Al-Qur’an juga dijelaskan dengan sangat gamblang bahwa harta benda itu adalah alat, bukan tujuan. Wasilah, bukan ghayah! Tujuan yang sebenarnya adalah ingat kepada Allah, menuju ridha Allah dan menegakkan jalan Allah (Sabilillah). Jangan sampai alat dijadikan tujuan. Jangan sampai kecintaan kepada harta benda melalaikan kita dari mengingat Allah.

 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munaafiquun: 9)

 

 

3.     Ekonomi & Politik Yang Sejahtera

 

Urusan-urusan pemerintahan, ekonomi, sosial, kebudayaan, kecerdasan pendidikan, dan lain-lain sebagainya, dinamai al-Amr. Pengangkatan kepala negara, pemerintahan, bernama khalifah, atau Amirul Mu’minin, atau Sultan atau apa pun namanya, termasuklah kepada al-Amr. Al-Amr yang melingkungi beribu-ribu persoalan sepanjang hidup, janganlah diputuskan sendiri, tetapi musyawarahkanlah!

 

Terlalu banyak permasalahan umat menghadapi permasalahan yang silih tak berganti seputar hidup, dimana awal perseteruan kurang lebih ada pada masalah ekonomi yang kemudian membangun sudut pandang perpolitikan untuk menyelesaikannya, ada dengan praktis ekonomi maju atau dengan praktis ekonomi mandek. Antara keduanya memiliki posisi menarik untuk memutar roda kehidupan.

 

Dalam hal ini Islam hadir tidak hanya untuk mengatur kehidupan umat muslim tetapi mengatur kehidupan manusia seluruhnya. Dari setiap lini kehidupan di atur, diberikan pedoman berupa al-Qur’an dan Hadist, dan dalam praktis juga diberi patokan baik itu secara perseorangan atau keseluruhan masyarakat. pada intinya Islam adalah rahmatan lil alamaiin. Rahmat bagi seluruh alam.

 

**

 

Selain dari pada itu, dalam catatan sejarah, masih banyak lagi beberapa isi Al-Qur’an yang belum sempat direalisasikan dalam kehidupan di masyarakat.

 

Apakah sebabnya?

 

Sebabnya bukanlah karena Al-Qur’an tidak cukup isinya, melainkan perkembangan masyarakat yang belum matang untuk menerima perjalanan yang digariskan sekaligus berbarengan. Sebab yang kedua adalah kemerdekaan berpikir yang digariskan oleh Al-Qur’an. Kemerdekaan berpikir menimbulkan banyak cabang pikiran. Sehingga menjadikan manusia susah fokus, menjadi bias. Bahkan menjadi kebablasan atas kebebasan yang diberikan ini, menjadi bebas tak terarah. Maka dari itu, jika suatu masyarakat belum dapat memakai Al-Qur’an sekaligus, bukanlah berarti bahwa telaga dan sumber Al-Qur’an telah kering airnya. Syekh Muhammad Abduh, pembuka pikiran baru dalam Islam pernah mengatakan bahwa Al-Qur’an masih tetap perawan.

 

Terlebih lagi dalam susunan negara. Amat besar kebebasan yang diberikan Nabi Muhammad terhadap umat-Nya dalam menghadapi urusan perkembagan bernegara. Sabda Nabi, “Kamu lebih tahu urusan duniamu.”Adalah anak kunci yang senantiasa dapat digunakan sehingga titah al-Qur’an dapat dipakai dalam segala zaman dan segala tempat. Ketika beliau akan menemui ajalnya, beliau tidak meninggalkan satu pernyataan politik yang tidak boleh diubah. Bahkan ketika ada sahabat yang mendesak supaya meninggalkan wasiat dalam susunan pemerintahan, yang akan dapat dipedomani, beliau menggelengkan kepalanya.

 

Cuma beliau bayangkan beberapa hal yang akan kejadian. Misalnya, kamu akan bertemu dengan berbagai ragam bangsa. Kamu bertemu bangsa Parsi dengan kemegahannya dan kebudayaannya yang tinggi. Kamu akan bertemu dengan peradaban dan kebudyaaan bangsa Romawi. Suatu masa kamu akan berpecah sesamamu karena pengaruh keduniaan dan perebutan harta, keuntungan, serta pangkat. Kamu akan didesak oleh bangsa-bangsa dari kiri dan kanan. Namun, selama kamu masih berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dua pedoman yang Aku tinggalan, kamu akan selamat. Sebab itu peganglah petaruhku, jangan dilalaikan ajaran-ajaran yang Aku tinggalkan “Adhdhu ‘alaiha bin nawadjizh” gigit teguh dengan gerahammu!

 

Menurut hemat penulis, dalam buku ini buya hamka menjelaskan tentang 3 point penting, dijelaskan lebih mendalam, mendetail dan lebih spesifik. Yaitu dalam hal kepemimpinan, dimana pemimpin harus benar-benar fokus menjalankan roda kepemimpinannya dengan penuh rasa keadilan demi pertanggungjawabannya pada sang pemberi amanah. Dan Agama sebagai tolak ukur, start poin, atau inti yang harus dibela dan dipertahankan ideologinya, sebab agama adalah keterpaduan antara hidup dan matinya manusia. Sedangkan yang terakhir adalah perekenomian serta perpolitikan yang keduanya adalah alat bantu dalam proses kepemimpinan pemimpin saat sekarang ini. Ketiganya diramu apik dalam tulisan yang sangat tepat dan cepat menyentuh inti permasalahan hidup dan sekaligus memberikan pandangan baru sebagai solusi jitu bagi kaum yang membutuhkan solusi inti.

 

Hal yang menarik dan unik dari buku ini, benar-benar dia mengingatkan kita akan akan pesan Bung Karno Jas Merah, jangan lupa akan sejarah. Bagaimana seninya bernegara di Indonesia, sampai kepada sejarah kepemimpinan muslim di masa-masa keemasan dan kejayaannya ketika itu. Banyak tokoh-tokoh yang digambarkan disini seperti:…., sebenarnya sangat ingin penulis tuliskan tapi nampaknya tidak untuk kali ini, sebab disana pula daya jual penasaran yang membuat antum/antunna ingin membaca lebih lanjut,… silahkan dinikmati bukunya, boleh pinjam, tapi lebih baik beli, sebab dapat menjadi rujukan di perpustakaan peribadi sebelum Antum/Antunna terjun dalam dunia yang penuh sandiwara.

 

Semoga kita semua terjaga, semoga kita semua dilindungi Allah swt, semoga kita semua diridhoi Allah dalam setiap aktivitas dan keimanan kita. dengan bertambahnya ilmu semoga menjadikan kita bertambah kedekatan dengan Allah Azza Wajalla. Aamiin ya Rabbal’alamin.

 

 * 

Judul Buku      : Keadilan Sosial Dalam Islam

Penulis             : Prof. Dr. HAMKA

Penerbit             : Gema Insani

Cetakan             : Ke-I, Jakarta, 2015

Tebal                  : viii + 208 hlm; 20,5 cm

Resensator        : Irwan Haryono S., S.Fil.I

0 comments :

Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi dan berkomentar bijak di situs ini.

Subscribe Us

Dalam Feed


*PENGALAMAN NYANTRI: Menikmati Setiap Detik Proses Kelak Menjadi Pengalaman Beresensi